Anda di halaman 1dari 11

BAB l

PENDAHULUAN

Sepsis merupakan penyakit yang mengancam nyawa seseorang, penyebabnya adalah


respon tubuh terhadap infeksi. Sepsis adalah infeksi darah, tetapi dengan tingkat keparahan
yang tinggi, sehingga dapat menyebabkan gagal organ vital, termasuk hati, paru-paru, dan
ginjal, dengan cepat. Kondisi ini juga dikenal sebagai sindrom respons inflamasi sistemik.

Menurut Centers  for  Disease  Control  and  Prevention, ada lebih dari 1 juta kasus
sepsis setiap tahun. Jenis infeksi ini membunuh lebih dari 255.000 orang Amerika per tahun.
Pada dasarnya, setiap infeksi dapat memicu sepsis, tetapi jenis infeksi seperti pneumonia,
infeksi perut, infeksi ginjal, dan infeksi aliran darah, berpeluang lebih besar menyebabkan
sepsis.

1
BAB ll

PEMBAHASAN

A. Sejarah HIV AIDS


Kasus AIDS pertama kali ditemukan oleh Gottlieb di Amerika Serikat pada
tahun 1983 dan virusnya di temukan Luc Montagnier pada tahun 1983. AIDS pertama
kali dilaporkan pada tanggal 5 juni 1981, ketika Centers for Disease Control and
Prevention Amerika Serikat mencatat adanya Pneumonia pneumosistis (sekarang
masih diklasifikasi sebagai PCP tetapi diketahui disebabkan oleh Peneumocystis
Jirovecii) pada lima laki-laki homoseksual di Los Angeles.
Penyakit AIDS dewasa ini telah terjangkit hampir setiap didunia (pandemi),
termasuk diantaranya Indonesia. Hingga November 1996 diperkirakan telah terdapat
sebanyak 8.400.000 kasus didunia yang terdiri dari 6,7 juta dewasa dan 1,7 anak-
anak. Di Indonesia berdasarkan data-data yang bersumber dari Direktorat Jendaral
P2M dan PLP Depertemen Kesehatan RI sampai dengan 1Mei 1998 jumlah penderita
HIV/AIDS sebanyak 685 orang yang dilaporkan oleh 23 provinsi di Indonesia. Data
jumlsh penderita yang sebenarnya. Pada penyakit ini berlaku teori “Gunung Es”
dimana penderita yang kelihatan hanya sebagian kecil dari yang semestinya. Untuk itu
WHO mengestimasikan bahwa 1 penderita yang terinfeksi telah terdapat kurang lebih
100-200 penderita HIV yang belum diketahui.
Penyakit AIDS telah menjadi masalah internasional karena dalam waktu
singkat terjadi peningkatan jumlah penderita dan melanda semakin banyak negara.
Dikatakan pula bahwa epidemic yang terjadi tidak saja mengenal penyakit (AIDS),
virus (HIV) tetapi juga reaksi/dampak negative berbagai bidang seperti kesehatan,
social, ekonomi, politik, kebudayaan dan demografi. Hal ini merupakan tantangan
yang harus diharapi baik oleh negara maju maupun negara berkembang.

B. Defiinisi HIV AIDS

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang dapat menyebabkan


AIDS. HIV termasuk keluarga virus retro yaitu virus yang memasukan materi
genetiknya ke dalam sel tuan rumah ketika melakukan cara infeksi dengan cara yang
berbeda (retro), yaitu dari RNA menjadi DNA, yang kemudian menyatu dalam DNA
sel tuan rumah, membentuk pro virus dan kemudian melakukan replikasi.

2
Virus HIV ini dapat menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah
putih yang bernama sel CD4 sehingga dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia
yang pada akhirnya tidak dapat bertahan dari gangguan penyakit walaupun yang
sangat ringan sekalipun.
Virus HIV menyerang sel CD4 dan merubahnya menjadi tempat berkembang
biak Virus HIV baru kemudian merusaknya sehingga tidak dapat digunakan lagi. Sel
darah putih sangat diperlukan untuk sistem kekebalan tubuh. Tanpa kekebalan tubuh
maka ketika diserang penyakit maka tubuh kita tidak memiliki pelindung. Dampaknya
adalah kita dapat meninggal dunia akibat terkena pilek biasa.

C. Penyakit AIDS
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan dampak atau efek
dari perkembang biakan virus HIV dalam tubuh makhluk hidup. Virus HIV
membutuhkan waktu untuk menyebabkan sindrom AIDS yang mematikan dan sangat
berbahaya. Penyakit AIDS disebabkan oleh melemah atau menghilangnya sistem
kekebalan tubuh yang tadinya dimiliki karena sel CD4 pada sel darah putih yang
banyak dirusak oleh Virus HIV.
Ketika kita terkena Virus HIV kita tidak langsung terkena AIDS. Untuk
menjadi AIDS dibutuhkan waktu yang lama, yaitu beberapa tahun untuk dapat
menjadi AIDS yang mematikan. Saat ini tidak ada obat, serum maupun vaksin yang
dapat menyembuhkan manusia dari Virus HIV penyebab penyakit AIDS.

D. Bahaya Aids
Orang yang telah mengidap virus AIDS akan menjadi pembawa dan penular
AIDS selama hidupnya, walaupun tidak merasa sakit dan tampak sehat. AIDS juga
dikatakan penyakit yang berbahaya karena sampai saat ini belum ada obat atau vaksin
yang bisa mencegah virus AIDS. Selain itu orang terinfeksi virus AIDS akan
merasakan tekanan mental dan penderitaan batin karena sebagian besar orang di
sekitarnya akan mengucilkan atau menjauhinya. Dan penderitaan itu akan bertambah
lagi akibat tingginya biaya pengobatan. Bahaya AIDS yang lain adalah menurunnya
sistim kekebalan tubuh. Sehingga serangan penyakit yang biasanya tidak berbahaya
pun akan menyebabkan sakit atau bahkan meninggal.

3
E. Pengertian AIDS DENGAN SEPSIS
Sepsis adalah bakteri umum yang masuk ke aliran dalam darah (Donna L.
Wong, 2003). Sepsis neonatorum atau septikemia neonatal didefinisi sebagai infeksi
bakteri pada aliran darah bayi selama empat minggu pertama kehidupan (Bobak,
2004). Sepsis adalah infeksi bakteri generalisata yang biasanya terjadi pada bulan
pertama kehidupan. (Mary E. Muscari, 2005).

Sepsis neonatorum adalah semua infeksi bayi pada 28 hari pertama sejak dilahirkan.
Infeksi dapat menyebar secara menyeluruh atau terlokasi hanya pada satu organ saja
(seperti paru-paru dengan pneumonia). Infeksi pada sepsis bisa didapatkan pada saat
sebelum persalinan (intrauterine sepsis) atau setelah persalinan (extrauterine sepsis)
dan dapat disebabkan karena virus (herpes, rubella), bakteri (streptococcus B), dan
fungi atau jamur (candida) meskipun jarang ditemui. (John, 2009). Sepsis dapat
dibagi menjadi dua, antara lain:

1. Sepsis dini: terjadi 7 hari pertama kehidupan. Karakteristik : sumber organisme


pada saluran genital ibu dan atau cairan amnion, biasanya fulminan dengan angka
mortalitas tinggi.
2. Sepsis lanjutan/nosokomial : terjadi setelah minggu pertama kehidupan dan
didapat dari lingkungan pasca lahir. Karakteristik : Didapat dari kontak langsung
atau tak langsung dengan organisme yang ditemukan dari lingkungan tempat
perawatan bayi, sering mengalami komplikasi. (Vietha, 2008)

F. Etiologi
Sepsis yang terjadi pada neonatus biasanya menimbulkan manifestasi klinis
seperti septikemia, pneumonia dan miningitis berhubungan dengan imaturitas dari
sistem imun dan ketidakmampuan neonatus untuk melokalisasi infeksi. Penyebab
neonatus sepsis/sepsis neonatorum adalah berbagai macam kuman seperti bakteri,
virus, parasit, atau jamur. Sepsis pada bayi hampir selalu disebabkan oleh bakteri.

a) Bakteri escherichia koli


b) Streptococus group B
c) Stophylococus aureus
d) Enterococus
e) Listeria monocytogenes
4
f) Klepsiella
g) Entererobacter sp
h) Pseudemonas aeruginosa
i) Proteus sp
j) Organisme anaerobik
Berdasarkan mulai timbulnya gejala klinis, sepsis dibagi menjadi 2 yaitu :

1) Early Onset : gejala mulai tampak pada hari-hari pertama kehibupan (rata-rata 48
jam), biasanya infeksi berkaitan dengan faktor ibu (infeksi transplasenta, dari
cairan amnion terinfeksi, waktu bayi melewati jalan lahir, dll). Berkembangnya
gejala pada early onset pada umumnya sangat cepat dan meningkat menuju
septik shock.
2) Late Onset : Timbul setelah satu minggu pada awal kehidupan neonatus tanpa
kelainan perinatal, infeksi didapat dari lingkungan atau dari rumah sakit
(nosokomial) sering terjadi komplikasi pada susunan syaraf pusat.

G. Tanda dan Gejala


Menurut Arief, 2008 tanda dan gejala dari sepsis neonatorum, antara lain:

1.  Umum : panas (hipertermi), malas minum, letargi, sklerema


2.  Saluran cerna: distensi abdomen, anoreksia, muntah, diare, hepatomegali
3.  Saluran nafas: apnoe, dispnue, takipnu, retraksi, nafas cuping hidung, merintih,
sianosis
4.  Sistem kardiovaskuler: pucat, sianosis, kulit lembab, hipotensi, takikardi,
bradikardi
5.  Sistem syaraf pusat: iritabilitas, tremor, kejang, hiporefleksi, malas minum,
pernapasan tidak teratur, ubun-ubun membonjol
6.  Hematologi: Ikterus, splenomegali, pucat, petekie, purpura, perdarahan.

Gejala sepsis yang terjadi pada neonatus antara lain bayi tampak lesu, tidak kuat

menghisap, denyut jantungnya lambat dan suhu tubuhnya turun-naik. Gejala- gejala
lainnya dapat berupa gangguan pernafasan, kejang, jaundice, muntah, diare, dan perut
kembung. Gejala dari sepsis neonatorum juga tergantung kepada sumber infeksi dan
penyebarannya:

5
a. Infeksi pada tali pusar (omfalitis) menyebabkan keluarnya nanah atau darah darI
pusar
b. Infeksi pada selaput otak (meningitis) atau abses otak menyebabkan koma,
kejang, opistotonus (posisi tubuh melengkung ke depan) atau penonjolan pada
ubun-ubun
c. Infeksi pada tulang (osteomielitis) menyebabkan terbatasnya pergerakan pada
lengan atau tungkai yang terkena
d. Infeksi pada persendian menyebabkan pembengkakan, kemerahan, nyeri tekan
dan sendi yang terkena teraba hangat
e. Infeksi pada selaput perut (peritonitis) menyebabkan pembengkakan perut dan
diare (Asrining, 2007)

H. Patofisiologi
Penyakit yang ada pada ibu karena adanya bakteri dan virus pada neonatus
(bayi). Kemudian menyebabkan terjadinya infeksi yang menimbulkan sepsis. Faktor
infeksi yang mempengaruhi sepsis, antara lain faktor maternal yaitu adanya status
sosial-ekonomi ibu, ras, dan latar belakang yang mempengaruhi kecenderungan
terjadinya infeksi dengan alasan yang tidak diketahui sepenuhnya. Ibu yang berstatus
sosio-ekonomi rendah mungkin nutrisinya buruk dan tempat tinggalnya padat dan
tidak higienis. Status paritas (wanita multipara atau gravida lebih dari 3) dan umur
ibu (kurang dari 20 tahun atau lebih dari 30 tahun. Kurangnya perawatan prenatal,
ketuban pecah dini (KPD), dan prosedur selama persalinan. Faktor Neonatal, pada
bayi dengan prematurius ( berat badan bayi kurang dari 1500 gram), merupakan
faktor resiko utama untuk sepsis neonatal.

Umumnya imunitas bayi kurang bulan lebih rendah dari pada bayi cukup
bulan. Transpor imunuglobulin melalui plasenta terutama terjadi pada paruh terakhir
ketiga. Setelah bayi lahir, konsentrasi imunoglobulin serum terus menurun sehingga
menyebabkan hipergamaglobulinemia berat. Imaturitas kulit juga melemahkan
pertahanan kulit. Kemudian adanya defisiensi imun. Neonatus bisa mengalami
kekurangan IgG spesifik, khususnya terhadap streptokokus atau Haemophilus
influenza. IgG dan IgA tidak melewati plasenta dan hampir tidak terdeteksi dalam
darah tali pusat.

6
Faktor Lingkungan, pada bayi mudah terjadi defisiensi imun yaitu cenderung
mudah sakit sehingga sering memerlukan prosedur invasif, dan memerlukan waktu
perawatan di rumah sakit lebih lama. Penggunaan kateter vena atau arteri maupun
kateter nutrisi parenteral merupakan tempat masuk bagi mikroorganisme pada kulit
yang luka. Bayi juga mungkin terinfeksi akibat alat yang terkontaminasi. Paparan
terhadap obat-obat tertentu, seperti steroid, bisa menimbulkan resiko pada neonatus
yang melebihi resiko penggunaan antibiotik spektrum luas, sehingga menyebabkan
kolonisasi spektrum luas, sehingga menyebabkan resisten berlipat ganda. Kadang-
kadang di ruang perawatan terhadap epidemi penyebaran mikroorganisme yang
berasal dari petugas ( infeksi nosokomial), paling sering akibat kontak tangan. Pada
bayi yang minum ASI, spesies Lactbacillus dan E.colli ditemukan dalam tinjanya,
sedangkan bayi yang minum susu formula hanya didominasi oleh E.colli.

I. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan mikrokopis maupun pembiaakan terhadap contoh darah air kemih,
jika diduga suatu meningitis, maka dilakukan fungsi lumbal.
2. Bila sindroma klinis mengarah ke sepsis, perlu dilakukan evaluasi sepsis secara
menyeluruh. Hal ini termasuk biakan darah, fungsi lumbal, analisis dan kultur
urin:
a) Leukositosis (>34.000×109/L)
b) Leukopenia (< 4.000x 109/L)
c) Netrofil muda 10%
d) Perbandingan netrofil immature(stab) dibanding total (stb+segmen)atau I/T
ratio >0,2
e) Trombositopenia (< 100.000 x 109/L)
f) CRP >10mg /dl atau 2 SD dari normal

J. Penatalaksanaan
Penatalaksaan AIDS-Sepsis dengan hanya mengandalkan pemberian antimikroba saja
teryata tidak sepenuhnya berhasil. Untuk mengatasi AIDS-Sepsis, antiretroviral
(ARV) dan antimikroba lain mempunyai peranan begitu penting. ARV diharapkan
mampu menekan replikasi dan mengeliminasi HIV, antimikroba lain dapat
memusnahkan mikroorganisme penyebab infeksi sekunder (virus lain,
bakteri,jamur,protozoa). Tetapi perlu disadari bahwa upaya mengeliminasi HIV dan
7
mikroorganisme penyebab infeksi sekunder empiris menunjukkan bahwa angka
kematian akibat AIDS-Sepsis masih sangat tinggi. Hal tersebut dimungkinkan akibat
berbagai faktor yaitu status imun yang sangat terganggu, kurang idealnya panduan
kombinasi ARV, kurang tepatnya pemilihan antimikroba, munculnya resistensi, efek
dari berbagai mediator, sitokin, serta ROS yang ikut memengahruhi HIV-AIDS-
sepsis.
Pada AIDS Sepsis skala prioritas penatalaksanaan segera ditentukan, prioritas
pertama,mengantisipasi instabilitas hemodinamik (hipotensi, hipoperfusi organ,
penurunan distribusi oksigen). Prioritas kedua, segera menentukan penyebab sepsis
(anamnesis dan pemeriksaan fisik secara seksama, pemeriksaan lab (darah lengkap,
urine lengkap, PPT,APTT,K,Na,BUN,serum kreatinin,SGOT,SGPT, albumin, GDA,
Analisis gas darah.
Didalam penatalaksaan modern untuk mengatasi AIDS-Sepsis memerlukan strategi
pendekatan termasuk melibatkan peran imunoterapi. Akhir-akhir ini imunoerapi
mendapat perhatian para pakar.imunoterapi sangat diperlukan guna membantu
mendongkrak peran respons imun bawan maupun didapat, termasuk imunitas humoral
dan seluler.
 Imunoterapi pada aids sepsis
AIDS-Sepsis merupakan kondisi gawat darurat karena mengancam jiwa.
Implementasi terapi efektif dalam aplikasi reaksi imunologis pada aids sepsis
adalah stabilitas hemodinamik, eliminasi kausal, tata laksana sumber infeksi,
suportif dan imunoterapi. Imunoterapi berperan pada pencegahan agar infeksi
HIV tidak berkembang ke AIDS-sepsis tidak menjadi syok septik dan MODS.
Imunoterapi mempunya peran penting dalam menghambat atau menurunkan
respons proinflamatori sedini mungkin (efek antivirus, anti bakteri, antitoksin,
meningkatkan peran fagositosis)
 Terapi antiendotoksin
Antibodi antitoksin digunakan untukmencegah dampak dari endotoksin dan
eksotoksin akibat pengaruh aktivasi sistem imun host.

K. Pencegahan
Didalam penatalaksanaan HIV & AIDS sepsis, upaya pencegahan penting dilakukan.

1. Mencegah agar infeksi HIV tidak berkembang ke AIDS.


8
2. Agar AIDS tidak tidak berkembang ke sepsis.
3. Sepsis tidak menjadi syok septik dan MODS.

Pencegahan dilakukan melalui 2 fase yaitu fase resusitasi dan fase perawatan
intensif.fase resusitasi meliputi: menjamin kecukupan cairan dan elektrolit,
monitoring resusitasicairan dan koreksi gangguan keseimbangan asam-basa, evaluasi
pasien dan hindari kelambanan maupun kesalahan diagnosis. Fase perawatan intensif:
suport nutrisi sedini mungkin, pasang alat bantu pernapasan bila ada indikasi, berikan
ARV dan antimikroba yang tepat, minimalkan transfusi kecuali ada indikasi kuat dan
imunoterapi.

BAB lll

PENUTUP

A. Kesimpulan

9
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang dapat menyebabkan AIDS
dengan cara menyerang sel darah putih yang bernama sel CD4, sehingga merusak
sistem kekebalan tubuh manusia yang pada akhirnya tidak dapat bertahan dari
gangguan penyakit walaupun yang sangat ringan sekalipun. HIV terdapat dalam
cairan tubuh seseorang seperti darah, cairan kelamin (air mani/ sperma atau cairan
vagina yang telah terinfeksi) dan air susu ibu yang telah terinfeksi.
B. SARAN
Sebagai tenaga kesehatan kita harus membarikan penyuluhan terutama kepada remaja
tentang HIV/ADIS an menghimbau agar tidak melakukan seks bebas, sehingga
kesadaran individu terhadap bahaya seks diluar nikah, yang dapat menyebabkan
penyakit menular seksual dan harus adanya peran orang tua dalam mengontrol
anaknya agar tidak melakukan pergaulan bebas. 17

DAFTAR PUSTAKA

10
1.http://www.deherba.com/hiv-aids-penyakit-yang-belum-teratasi-namun-
bisadicegah.html#ixzz2dWHMXVwf
2.http://www.deherba.com/hiv-aids-penyakit-yang-belum-teratasi-namun-
bisadicegah.html
3.http://www.gen22.net/2013/04/penyakit-hiv-gejala-penularan-virus-hiv.html 4.
http://penyakithivaids.com/ 18

11