Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

ISOLASI SOSIAL
Disusun untuk memenuhi tugas Praktik Klinik Keperawatan Jiwa
Dosen Pembimbing : Ns. Rufaida Nur Fitriana, S.Kep, M. Kep

Di susun oleh :

Rika Manggalasari
NIM.S17096

PRODI SARJANA KEPERAWATAN DAN PROFESI NERS


UNIVERSITAS KUSUMA HUSADA SURAKARTA
2019/2020
A. KONSEP PENYAKIT
1. Definisi
Isolasi sosial merupakan keadaan dimana seseorang individu mengalami
penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain
disekitarnya. Pasien isolasi sosial mengalami gangguan dalam berinteraksi dan
mengalami perilaku tidak ingin berkomunikasi dengan orang lain disekitarnya,
lebih menyukai berdiam diri, mengurung diri, dan menghindar dari orang lain
(Yosep, Sutini, 2014)
Menarik diri merupakan suatukeadaan dimana seseorang menemukan
kesulitan dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain (Townsend
M.C dalam Muhith A, 2015). Sedangkan, pennarikan diri merupakan suatu
tindakan melepaskan diri baik perhatian ataupun minatnya terhadap lingkungan
sosial secara langsung yang yang dapat bersifat sementara atau menetap (Depkes
RI, dalam Muhith A, 2015). Jadi menarik diri adalah keadaan dimana seseorang
menemukan kesulitan dalam membina hubungan dan menghindari interaksi
dengan orang lain secara langsung yang dapat bersifat sementara atau menetap

2. Etiologi gangguan jiwa


a. Faktor predisposisi
Menurut Stuart G.W & Lararia, M.T, (2011) ada beberapa faktor pedisposisi
penyebab isolasi sosial, meliputi :
1.) Faktor perkembangan
Sistem keluarga yang terganggu dapat berperang dalam perkembangan
respon sosial maladaptif. Beberapa orang percaya bahwa individu yang
mengalaminmasalah ini adalah orang yang tidak berhasil memisahkan
dirinya dari orang tua. Norma keluarga mungkin tidak mendukung
hubungan dengan pihak diluar keluarga.
2.) Faktor sosiokultural
Isolasi sosial merupakan faktor utama dalam gangguan hubungan. Hal ini
akibat dan transiensi ; norma yang tidak mendukung pendekatan terhadap
orang lain atau tidak menghargai anggota masyarakat yang kurang
produktif, seperti lanjut usia(lansia), orang cacat, dan penderita penyakit
kronis. Isolasi dapat terjadi karena mengadopsi norma, perilaku, dan
sistem nilai yang berbeda dari yang dimiliki budaya mayoritas. Harapan
yang tidak realistis terhadap hubungan merupakan faktor lain yang
berkaitan dengan gangguan ini.
3.)Faktor biologis
Faktor genetik dapat berperan dalam respons sosial maladaptif. Bukti
terdahulu menunjukkan keterlibatan neurotransmiter dalam perkembangan
gangguan ini, namun tetap diperlukan penelitian lebih lanjut.
b. Faktor presipitasi
Menurut Direja, (2011) ada beberapa faktor presipitasi isolasi
sosial, meliputi sebagai berikut :
a. Faktor eksternal
Contohnya adalah stressor sosial budaya, yaitu stress yang
ditinggalkan oleh faktor sosial budaya seperti keluarga.
b. Faktor intrnal
Contohnya adalah stressor psikologis, yaitu stress yang terjadi
akibat ansietas atau kecemasan yang berkepanjangan dan
terjadi bersamaan dengan keterbatasan kemampuan individu
untuk mengatasinya. Ansietas ini dapat terjadi akibat tuntutan
untuk berpisah dengan orang terdekat atau tidak terpenuhnya
kebutuhan individu.

3. Manifestasi Klinis
Menurut Townsend, M.C, 1998 (dalam Muhith, A. 2015), tanda
dan gejala isolasi sosial meliputi :
a. Kurang spontan.
b. Apatis (acuh tak acuh terhadap lingkungan).
c. Ekspresi wajah kurang berseri (ekspresi sedih).
d. Afek tumpul
e. Tidak merawat dan memperhatikan kebersihan diri
f. Tidak ada atau kurang terhadap komunikasi verbal.
g. Menolak berhubungan dengan orang lain.
h. Mengisolasi diri (menyendiri)
i. Kurang sadar dengan lingkungan sekitarnya.
j. Asupan makan dan minuman terganggu.
k. Aktivitas menurun.
l. Rendah diri.

4. Patofisiologi

Menurut Dalami (2011), salah satu gangguan berhubungan sosial dengan


diantaranya menarik diri atau isolasi sosial yang disebabkan oleh perasaan tidak
berharga,dengan latar belakang yang penuh dengan permasalahan, ketegangan,
kekecewaan, dan kecemasan. Perasan tidak berharga menyebabkan semakin sulit
dalam mengembangkan hubungan dengan orang lain, akibatnya menjadi regresi
atau kemunduran, mengalami penurunan dalam aktifitas dan kurang perhatian
terhadap penampilan dan kebersihan diri. Perjalanan dari tingkah laku masa lalu
serta tingkah laku menyendiri yaitu pembicaraan yang austitik dan tingkah laku
yang tidak sesuai dengan kenyataan, sehingga berakibat lanjut menjadi halusinasi

Pohon masalah
Resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi

Isolasi sosial: menarik diri

Core problem

Gangguan konsep diri: harga diri rendah

5. Pemeriksaan penunjang
Menurut Direja 2011 :
a. Elektroencephalogram (EEG) suatu pemeriksaan yang bertuuan memberikan
informasi penting tentang kerja dan fungsi otak
b. CT Scan untuk mendapatkan gambaran otak tiga dimensi
c. Single Photon Emision Tomography (SPECT) melihat wilayah otak dan
tanda-tanda abnormalitas pada otak dan dapat menngambarkan perubahan
aliran darah yang terjadi
6. Pengobatan
Menurut Muhith, A. 2015
a. Terapi kelompok
Terapi kelompok merupakan suatu psikoterapi yang dilakukan kelompok klien
bersama-sama dengan jalan berdiskusi satu sma lain yang dipimpin atau
diarahkan oleh seorang terapist atau petugas kesehatan jiwa. Terapi ini
bertujuan untuk menstimulus klien dengan gangguan interpersoanl.
b. Terapi lingkungan
Manusia tidak dapat dipisahkan dari lingkungan sehingga aspek lingkungan
harus mendapatkan perhatian kusus dalam kaitanyya untuk menjaga
memelihara kesehatan manusia. Lingkungan berkaitan erat dengan stimulus
psikologis seseorang yang akan berdampak pada kesembuhan, karena
lingkungan tersebut akan memberikan dampak baik pada kondisi fisik maupun
kondisi psikologis seseorang.

B. ASUHAN KEPERAWATAN

1. Masalah yang mungkin muncul


a. Isolasi sosial
DS : paisen mengatakan ingin sendirian, merasa tidak aman ditempat
umm
DO : pasien tampak menarik diri, tidak minat bersosialisasi
c. Harga diri rendah kronis
DS : pasien mengatakan tidak percaya diri
DO : pasien tampak menyendiri
d. gangguan persepsi sensori
Ds : pasien mengatakan seolah melihat/ mendengar sesuatu
DO : pasien tampak melihat sesuatu

2. Diagnosa Keperawatan

Menurut SDKI 2016 :


a. Isolasi sosial (D.0121)
Definisi : ketidakmampuan untuk membina hubungan yang erat, hangat,
terbuka, dan interdpenden dengan orang lain
Gejala dan tanda mayor
Subjetif
1) Merasa ingin sendirian
2) Merasa tidak aman ditempat umun
Objektif
1) Menarik diri
2) Tidak berminat/ menolak berinteraksi dengan orang lain atau lingkungan
Gejala dan tanda minor
Subjektif
1) Merasa berbeda dengan orang lain
2) Merasa syik dengan pikiran sendiri
3) Merasa tidak mempunyai tujuan yang jelas
Objektif
1) Afek sedih
2) Afek datar
3) Riwayat ditolak
4) Menunjukan permsuhan
5) Tidak mampu memenuhi harapan orang lain
6) Kondisi di fabel
7) Tindakan tidak berarti
8) Tidak ada kontak mata
9) Perkembangan terlambat
10) Tidak bergairah/lesu
b. Harga diri rendah kronis (D.0086)
Definisi : evaluasi atau perasaan negatif terhadap diri sendiri atau kemampuan
klien seperti tidak berarti, tidak berharga, tidak berdaya yang berlangsung
dalam waktu lama dan terus menerus
Gejala dan tanda mayor
Subjektif
1) Menilai diri negatif
2) Merasa malu atau bersalah
3) Merasa tidak memiliki kelebihan atau kemampuan positif
4) Menolak penilaian positif tentang diri sendiri
Objektif
1) Enggan mencoba hal yang baru
2) Berjalan menunduk
3) Postur tubuh menunduk
Gejala dan tanda minor
Subjektif
1) Merasa sulit berkonsentrasi
2) Sulit tidur
3) Mengungkapkan keputusasaan
Objektif
1) Kontak mata kurang
2) Lesu dan tidak bergairah
3) Berbicara pelan dan irih
4) Pasif
c. Gangguan persepsi sensori (D.0085)
Definisi : perubahan persepsi terhadap stimulus baik internal maupun eksternal
yang disertai dengan respon yang berkurang, berlebihan atau terdistorsi.
Gejala dan tanda mayor
Subjektif
1) Mendengar suara bisikan atau melihat bayangan
2) Merasakan sesuatu melalui indera perabaan, atau pengecapan
Objektif
1) Distorsi sensori
2) Respond tidak sesuai
3) Bersikap seolah melihat, mendengar, mengecap, meraba, atau mencium
sesuatu
Gejala dan tanda minor
Subjektif
1) Menyatakan kesal
Objektif
1) Menyendiri
2) Melamun
3) Konsentrasi buruk
4) Disorientasi waktu tempat orang, atau situasi
5) Curiga
6) Melihat ke satu arah
7) Modar mandir
8) Bicara sendiri

3. Rencana tindakan keperawatan


Diagnosa SLKI SIKI
Keperawatan
Isolasi sosial (D.0121) Setelah dilakukan tindakan 1. Promosi Sosialisasi ( I.13498)
keperawatan selama 3x24 jam O:
diharapkan masalah dapat 1) Identifikasi kemampuan melakukan
teratasi dengan tujuan dan interksi dengan orang lain
kriteria hasil: 2) Identifikasi hambatan melakukan
Keterlibatan Sosial (L.13115) interaksi dengan orang lain
1) Minat interaksi meningkat dari T:
skala 2 (cukup menurun) 1) Motivasi meningkatkan keterlibatan
menjadi skala 4 (cukup dalam suatu hubungan
meningkat) 2) Motivasi kesabaran dalam
2) Verbalisasi isolasi meningkat mengembangkan suatu hubungan
dari skala 2 (cukup meningkat) 3) Motivasi dalam berpartisipasi dalam
menjadi skala 5 (menurun) aktivitas baru motivasi berinteraksi di
3) Verbalisasi ketidakamanan di luar lingkungan
tempat umum meningkat dari 4) Diskusikan kekuatan dan keterbatasan
skala 2 (cukup meningkat) dalam berkomunikasi dengan orang lain
menjadi skala 5 (menurun) 5) Diskusikan perencanaan di masa depan
4) Perilaku menarik diri 6) Berikan umpan balik positif dalam
meningkat dari skala 2 (cukup perawatan diri
meningkat) menjadi skala 4 7) Berikan umpan balik positif pada setiap
(cukup menurun) peningkatan kemampuan
E:
1) Anjurkan berinteraksi dengan orang
lain secara bertahap
2) Anjurkan ikut serta kegiatan social dan
kemasyarakatan
3) Anjurkan berbagi pengalaman dengan
orang lain
4) Anjurkan meningkatkan kejujuran diri
dan menghormati hak orang lain
5) Anjurkan penggunaan alat bantu (mis.
Kacamata dan alat bantu dengar)
6) Anjurkan membuat perencanaan
kelompok kecil untuk kegiatan khusus
7) Latih bermain peran untuk
meningkatkan ketrampilan komunikasi
8) Latih mengekspresikan marah dengan
tepat
Harga diri rendah Setelah dilakukan tindakan Intervensi keperawatan pada standar
kronis (D.0086) keperawatan selama 1x24 jam intervensi keperawatan indonesia (SIKI),
diharapkan masalah harga diri 2018 :
rendah kronis dapat teratasi Manajemen perilaku (I.12463)
dengan kriteria hasil : Observasi
Harga diri (L.09069) 1) Identifikasi harapan untuk
1) Penilaian diri positif mengendalikan perilaku
meningkat dari skala 2 (cukup Terapeutik
menurun) menjadi skala 4 1) Diskusikan tanggung jawab terhadap
(cukup meningkat) perilaku
2) Perasaan memiliki kelebihan 2) Jadwalkan kegiatan terstruktur
atau kemampuan positif dari 3) Ciptakan dan pertahankan lingkungan
skala 2 (cukup menurun) dan kegiatan perawatan konsistem setiap
menjadi skala 4 (cukup dinas
meningkat) 4) Tingkatkam aktivitas fisik sesuai
3) Penerimaan penilaian positif kemampuan
terhadap diri sendiri 5) Batasi jumlah pengunjung
meningkat dari skala 2 (cukup 6) Bicara dengan nada rendah dan tenang
menurun) menjadi skala 4 7) Lakukan kegiatan pengalihan terhadap
(cukup meningkat) sumber agitasi
4) Minat mencoba hal baru 8) Cegah perilaku pasif dan agresif
meningkat dari skala 2 (cukup 9) Beri penguatan postif terhadap
menurun) menjadi skala 4 keberhasilan mengendalikan perilaku
(cukup meningkat) 10) Lakukan pengekangan fisik sesuai
5) Postur tubuh menampakkan indikasi
wajah meningkat dari skala 2 11) Hindari bersikap menyudutkan dan
(cukup menurun) menjadi menghentikan pembicaraan
skala 4 (cukup meningkat) 12) Hindari sikap mengancam dan berdebat
6) Berjalan menampakkan wajah 13) Hindari berdebat atau menawar batas
meningkat dari skala 2 (cukup perilaku yang telah di tetapkan
menurun) menjadi skala 4 Edukasi
(cukup meningkat) 1) Informasikan keluarga bahwa keluarga
7) Perasaan malu meningkat dari sebagai dasar pembentukan kognitif
dari skala 2 (cukup
meningkat) menjadi skala 4
(cukup menurun)
8) Perasaan bersalah meningkat
dari dari skala 2 (cukup
meningkat) menjadi skala 4
(cukup menurun)
9) Perasaan tidak mampu
melakukan apapun meningkat
dari dari skala 2 (cukup
meningkat) menjadi skala 4
(cukup menurun)
10) Meremehkan kemampuan
mengatasi masalah meningkat
dari dari skala 2 (cukup
meningkat) menjadi skala 4
(cukup menurun)

Gangguan persepsi Setelah dilakukan tindakan Manajemen Halusinasi ( I. 09288)


sensori (D.0085) keperawatan selama 3x24 jam O:
diharapkan masalah dapat 1) Monitor perilaku yang mengindikasikan
teratasi dengan tujuan dan halusinasi
kriteria hasil: 2) Monitor dan sesuaikan tingkat aktivitas
Presepsi Sensori (L.09083) dan stimulasi lingkungan
1) Verbalisasi mendengar bisikan 3) Monior isi halusinasi
membaik dari skala 2 (cukup T:
meningkat) menjadi skala 5 1) Pertahankan lingkungan yang aman
(menurun) 2) Lakuka tindakan keselamatan Ketika
2) Verbalisasi melihat bayangan tidak dapat mengontroll perilaku
membaik dari skala 2 (cukup 3) Diskusikan perasaan dan respon
meningkat) menjadi skala 5 terhadap halusinasi
(menurun) 4) Hindari perdebatan tentang validitas
3) Verbalisasi merasakan sesuatu halusinasi
melalui indera perabaan E:
membaik dari skala 2 (cukup 1) Anjurkan memonitor sendiri terjadinya
meningkat) menjadi skala 5 halusinasi
(menurun) 2) Anjurkan berbicara pada orang yang
4) Verbalisasi merasakan sesuatu dipercaya untuk memberi dukungan
melalui indera penciuman dan umpan balik korektif terhadap
membaik dari skala 2 (cukup halusinasi
meningkat) menjadi skala 5 3) Anjurkan melakukan distraksi
(menurun) 4) Ajarkan pasien dan keluarga cara
5) Verbalisasi merasakan sesuatu mengontrol halusinasi
melalui indera pengecapan K:
membaik dari skala 2 (cukup 1) Kolaborasi pemberian obat antipsikotik
meningkat) menjadi skala 5 dan ansietas, jika perlu
(menurun)
6) Distorsi sensori membaik dari
skala 2 (cukup menurun)
menjadi skala 5 (meningkat)
7) Perilaku halusinasi membaik
dari skala 2 (cukup menurun)
menjadi skala 5 (meningkat)
8) Respon sesuai stimulus
membaik dari skala 2 (cukup
memburuk) menjadi skala 5
(membaik)

DAFTAR PUSTAKA

Budi, Anna Keliat, 2010, Model Praktik Keperawatan Professional Jiwa, EGC, Jakarta.
Dalami, E. 2011. Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta:TIM.

Direja, Ade. 2011 Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Nuha Medika.

Muhith, A. 2015. Pendidikan Keperawatan Jiwa (Teori dan Aplikasi). Yogyakarta: Andi.

PPNI. 2016. Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI). Cetakan ke III:Jakarta.

PPNI. 2018. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). Cetakan ke II: Jakarta.

PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). Cetakan ke II. :Jakarta.

Stuart. G.W & Sundeen. S.J, 2010. Buku Saku Keperawatan Jiwa (terjemahan).Edisi 3,
EGC, Jakarta.
Townsend, M.C. 2010. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Psikiatri (terjemahan),Edisi 3,
Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
Yosep, H.I., dan Sutini. 2014. Buku Ajar Keperawatan Jiwa dan Advance. Mental Health
Nursing: Bandung

Anda mungkin juga menyukai