Anda di halaman 1dari 22

TEKNOLOGI PEMBENIHAN IKAN BERSIRIP

Diktat Kuliah Semester III/TAK/2010-2011


Oleh :
Amyda Suryati Panjaitan

I. Pendahuluan

Usaha penangkapan ikan dari laut maupun dari perairan umum air

tawar, telah menyebabkan menurunnya populasi ikan yang dikuatirkan

cenderung semakin menurun. Sehingga budidaya perikanan sangat penting

dilakukan untuk meningkatkan produksi perikanan dalam rangka

pemenuhan kebutuhan akan sumber protein hewani yang semakin

bertambah. Selain untuk meningkatkan produksi, beberapa ikan tertentu

dari perairan umum ada yang telah menunjukkan gejala terancam punah

yang antata lain akibat penangkapan ikan yang terlalu banyak ( over

fishing). Jenis tertentu yang terancam punah itu harus diupayakan

pembudidayaannya, terutama mengusahakan pembiakannya atau

pembenihan secara buatan dan terkontrol. Oleh karena itu, kegiatan

pembenihan sangat perlu dikembangkan dalam rangka meningkatkan

produksi benih untuk keperluan budidaya secara cukup dan

berkesinambungan serta untuk menjaga kelestarian populasinya.

II. Teknologi Pembenihan Ikan Bersirip:

Kegiatan-kegiatan Pembenihan meliputi :

1. Seleksi induk, pemeliharaan dan penanganan calon induk ikan sampai

matang gonod dan siap untuk dipijahkan.

1
2. Mengadakan pemijahan ikan di dalam kolam pemeliharaan secara

terkontrol, baik dengan rangsangan/suntikan hormon maupun hanya

dengan cara menipulasi lingkungan sedemikian rupa sehingga ikan-

ikan mau/dapat memijah didalam kolam/bak pemeliharaan secara

terkontrol.

Sementara orang menganggap bahwa “pemijahan ikan secara

buatan” itu selalu dengan injeksi hormon. Sebenarnya, pemijahan di

dalam kolam/bak yang diatur oleh manusia dengan cara

meyiapkan/mengadakan tempat bertelur (sarang/kakaban), supaya

ikan menjadi terangsang untuk memijah ; kegiatan seperti itu juga

termasuk pembiakan buatan, karena terjadi diluar lingkungan

alamiahnya.

3. Mengadakan fertilisasi buatan dengan cara stripping yaitu

mengurut perut ikan betina dan jantan, menampung/mencampur

telur dan sperma di dalam suatu wadah, supaya terjadi pembuahan

telur dalam wadah tersebut.

4. Mengumpulkan telur yang telah dibuahi tersebut di dalam tempat

penetasan yang khusus dan terkontrol, agar supaya telur dapat

menetas dengan derajat penetasan setinggi mungkin, karena di

tempat terkontrol itu sifat-sifat kimia dan fisika airnya serba

terkendali sesuai dengan kebutuhan telur untuk menetas (kadar

oksigen tinggi, air jernih, bebas pencemaran, sinar tidak terlalu

kuat, suhu stabil antara 25 – 29˚C dan bebas dari hama/penyakit

yang mengganggu).

2
5. Memelihara larva yang baru menetas dan keadaannya masih lemah

dan belum sempurna itu, agar selalu memperoleh oksigen cukup,

airnya bersih/jernih, suhu stabil terlindung dari sinar matahari

yang kuat, bebas polusi dan hama penyakit.

6. Menyediakan pakan yang memenuhi syarat (kualitas dan

kuantitasnya) sehingga burayak (post larva) ikan dapat menangkap

dan menelan pakan yang tersedia. Di dalam praktek sering terjadi

larva banyak mati ketika kantong kuning telurnya habis terserap,

larva itu mulai makan, tetapi pakan tidak memenuhi syarat (urutan

pakan harus cukup kecil agar dapat ditangkap oleh larva ikan yang

masih lemah geraknya), sehingga larva ikan banyak mati kelaparan.

Inilah masa krisis bagi benih ikan. Disaat ini peternak ikan harus

memelihara benih ikan secara lebih cermat.

7. Memelihara benih kebul (yang ukurannya masih kecil) di dalam bak

kolam pendederan yang kualitas airnya terkendali, cukup pakan yang

memenuhi syarat dalam kualitas dan kuantitas untuk pertumbuhan

anak ikan, bebas dari serangan hama penyakit, sehingga dapat

dihasilkan benih ikan dalam ukuran gelondongan (fingerling) yang

cocok untuk ditebarkan/dipelihara di kolam atau yang sesuai dengan

permintaan/kebutuhan petani yang akan membesarkan benih itu

lebih lanjut.

Aspek biologi ikan yang perlu dipelajari ialah :

1. Pengenalan jenis ikan, menurut sistematika zoologi. Tanda-tanda

pengenalan jenis harus dicocokkan dengan anatomi dan morfologi dari

sesuatu jenis ikan yang hendak dibudidayakan itu, agar nama jenis

3
(spesies) nya tidak salah. Disusul dengan pembedaan ikan jantan dan

betinanya. Kesalahan dalam membedakan jenis kelamin dalam suatu

spesies, akan menyebabkan kegagalan dalam perkawinannya kelak.

2. Daur (siklus) hidup. Seorang peternak ikan harus berusaha untuk

mengetahui bagaimana daur hidup spesies ikan yang diternakannya.

Bagaimana daur hidup jenis ikan itu terjadi di alam aslinya. Kemudian

bagaimana cara pembiakan didalam lingkungan pemeliharaan. Tahapan

(stadia) kehidupan ikan pada umumnya, adalah :

 Tahapan telur yang telah dibuahi. Di daerah beriklim tropika

seperti di Indonesia dimana suhu rata2 berkisar antara 25–30 º C,

telur ikan menetas dalam waktu 24–48 jam (semakin tinggi suhu

semakin cepat menetas).

 Larva (burayak) ialah anak ikan yang baru menetas dari telur. Masih

menyerap kuning telurnya, belum dapat mengambil pakan dari luar.

Bentuk dan organ tubuhnya belum sempuna. Insang, alat pencernaan

dan gelembung renangnya belum berfungsi dan belum dapat

berenang. Waktu lamanya sampai habis kuning telurnya terserap

dan saat metamorfosa menjadi bentuk pasca larva, tergantung dari

suhu air dan speciesnya. Untuk iklim tropika pada umumnya dengan

suhu air 25 – 30 o C masa larva berlangsung selama 24 - 40 jam. Hal

itu harus dipelajari karena untuk berbagai species ikan sifat-

sifatnya berbeda. Jadi memerlukan penanganan yang berbeda pula.

 Pasca larva, disebut burayak yakni anak ikan yang telah melampaui

masa larva, dimana organ-organ tubuh anak ikan tersebut telah

4
sempurna. Pada tahap ini anak ikan telah dapat makan, bernafas

dengan insang dan dapat berenang dengan baik. Pada awal-awal

peralihan dari stadia larva, pasca larva (burayak) ini umumnya

mendapat kesulitan dalam mencari dan menelan pakannya karena

gerakan renangnya masih lemah, dan bukaan mulutnya masih amat

kecil. Pada hari ke 1–4 haruslah disediakan pakan yang butirnya

kecil sesuai dengan bukaan mulutnya. Pakan harus mengandung gizi

yang sempurna karena amat diperlukan untuk pertumbuhan awal.

Untuk itu pakan yang baik adalah pakan alami yaitu binatang

Protozoa dan Rotifera dengan ukuran 2 – 5 mikron. Binatang

Protozoa dan Rotifera yakni zooplankton yang sangat kecil tersebut

harus dikultur secara khusus untuk keperluan pakan burayak.

Apabila pakan buatan perlu diberikan, biasanya diberi pakan buatan

berupa kuning telur ayam yang sudah direbus dan dibuat suspensi.

Tetapi suspensi kuning telur ini cepat menyebabkan airnya menjadi

busuk, karena itu air pemeliharaan harus segera diganti setiap kali

habis diberi pakan. Pakan buatan yang lebih baik untuk burayak

adalah berupa mikropelet yang dibuat khusus untuk post larva ikan

dan udang, dengan komposisi yang ideal. Harganya cukup mahal,

sehingga tidak dianjurkan jika harga ikannya sendiri murah.

Walaupun banyak pakan alami tersedia dalam kolam , jika ukurannya

terlalu besar, burayak ikan tidak dapat menangkap dan menelannya,

akhirnya menyebabkan kematian. Begitupula jika zooplankton

gerakannya terlalu cepat, sedang anak ikan masih lemah, maka tidak

dapat menangkap zooplankton tersebut.

5
 Tahap Yuwana (Juvenile). Post larva akan tumbuh relatif cepat

menjadi benih ikan ukuran 3 – 5 cm, 6 – 8 cm, 10 – 15 cm yang

disebut secara umum (dalam teknik budidaya perikanan) sebagai

benih ukuran gelondongan yang dibedakan pula menjadi gelondongan

kecil – sedang – besar. Anak ikan ukuran gelondongan besar menurut

ilmu biologi disebut tahap Yuwana, yaitu ikan muda yang baru mulai

atau belum berkembang organ seksualnya.

 Tahap dewasa, yaitu ikan yang organ seksualnya telah tumbuh

dengan sempurna. Pada species tertentu organ seks sekunder

(organ seks yang tampak dari luar) tampak jelas, tetapi adapula

species ikan yang tidak menampakkan organ seks sekunder dengan

jelas, sehingga tidak mudah membedakan jenis jantan dan

betinanya. Misalnya ikan discus, bandeng, dan lain-lain. Umur ikan

yang telah mencapai dewasa dan ukuran besarnya ketika dewasa

berbeda pada berbagai species. Ada ikan yang tidak dapat besar

namun telah dewasa dan bertelur ketika ukurannya masih kecil dan

berumur beberapa bulan saja. Misalnya ikan mujair, ikan seribu dan

banyak jenis ikan hias yang kecil-kecil.

Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah :

 Lingkungan Hidup (habitat) yang cocok untuk setiap stadia hidup

ikan. Lingkungan yang bagaimana cocok untuk kehidupan ikan

dewasa, bagaimana lingkungan (habitat) untuk bertelur, dilanjutkan

dengan perkembangbiakan larva, pembesaran benihnya sampai

menjadi dewasa.

6
 Hama dan penyakitnya, agar supaya hal-hal yang membahayakan

kehidupan ikan yang diternakkan itu dapat ditanggulangi.

 Perkembangan kedewasaan kelamin benih kecil/yuwana ikan terjadi

dalam 5 tahapan yaitu :

1. Dara (immature), gonada telah jelas berbentuk kelamin

jantan disebut “testes” dan betina disebut “ovarium”.

2. Dara berkembang atau Pra-dewasa ( developing), dimana

testes atau ovarium sedang berkembang menuju kepada

pembentukan produk seksual yaitu sperma dan/atau telur.

3. Dewasa atau mulai matang (maturing), dimana di dalam testes

atau ovariumnya telah terbentuk sel-sel sperma atau sel

telur pada tingkat sempurna (dormant, fase istirahat atau

disebut juga tahap/fase matang gonad.

4. Matang (mature), dimana sperma dan/atau sel telur didalam

testes atau ovariumnya telah dalam keadaan bersiap untuk

memijah (ovulasi).

5. Salin (spent), yaitu keadaan ovarium atau testes yang kosong

karena telah selesai memijah.

 Perkembangan sel telur dan sperma ikan.

Perkembangan telur di dalam ovarium berlangsung melalui beberapa

stadia sebagai berikut :

Stadia 1 : Bakal sel telur yang masih kecil disebut ovogonium

(archovogonium). Ukuran sel sama kecil dengan sel-sel tubuh

7
lainnya (8 – 12 µ). Sel ini memperbanyak diri dengan pembelahan

mitosis.

Stadia 2 : Sel telur tersebut tumbuh menjadi ukuran 12-20µ dan folikel

mulai terbentuk disekeliling sel telur. Folikel tersebut fungsinya

memberi makanan dan melindungi telur yang sedang berkembang

itu, sehingga diniding sel telur tampak rangkap.

Stadia 3 : Pada stadia ini sel telur tumbuh menjadi lebih besar lagi sampai

sebesar 40-200µ dan tertutup di dalam follikel.

Stadia 1, 2 dan 3 ini merupakan tahapan sebelum pengumpulan makanan

(nutrient) di dalam telur itu (tahap pre-vitellogenesis).

Stadia 4 : Pada stadia ini dimulai pembentukan dan pengumpulan kuning

telur (yolk) yang disebut proses “vitellogenesis”. Sel telur trus

tumbuh menjadi berukuran 200 – 350µ. Di dalam sitoplasmanya

terkumpul butir-butir lemak (lipoid).

Stadia 5 : Menandai fase ke 2 dar vitellogenesis. Sitoplasma sekarang

penuh dengan butir-butir lipoid dan mulailah pembentukan

kuning telur. Ukuran sel telur menjadi 350-500μ.

Stadia 6 : Ini merupakan fase ketiga dari proses vitellogenesis, dimana

lempeng-lempeng kuning telur mendesak butir-butir lipoid ke

tepi sel, sehigga terbentuk dua buah cincin. Nukleoli yang

berperan dalam pembentukan protein da pengumpulan makanan

terlihat menempel pada dinding/membren nukleus. Ukuran telur

sekarang 600 – 900μ

Stadia 7 : Proses vitellogenesis selesai, telur menjadi berukuran 900-

1000µ. Ketika pengumpulan kuning telur berakhir, nucleoli

8
tertarik ke dalam pusat nucleus. Mikropil (yaitu lubang kecil

pada dinding sel telur, sebagai jalan masuk bagi sperma)

terbentuk pada stadia ini.

Stadia 4,5,6 dan 7 disebut stadia vitellogenesis, terbentuk kuning telur

yang berkumpul di dalam sel telur itu. Telur ini sekarang secara material

telah lengkap. Untuk sampai pada stadia ini, ikan betina memerlukan

makanan yang banyak mengandung protein serta suhu lingkingan pada

kisaran yang cocok.

Setelah selesainya stadia 7 itu, telur tetap pada keadaan ini untuk

waktu beberapa bulan tanpa perubahan, dan disebut fase “dormant” atau

“istirahat” atau dikenal sebagai telur matang gonad.

Fase dormant ini akan berakhir dan terjadilah ovulasi jika terjadi

keadaan luar yang cocok, atau sebaliknya telur fase dormant tersebut

akan mengalami kerusakan dan di serap bila kondisi yang cocok tidak

kunjung datang dalam waktu yang cukup lama.

Ovulasi ialah keadaan dimana telur-telur di dalam ovarium telah

lepas dari dinding dan jatuh ke dalam rongga ovarium itu. Jika keadaan ini

telah terjadi, maka bila perut ikan diurut ke arah lubang kelamin, telur-

telur tersebut akan keluar dengan lancar. Proses ovulasi ini dikendalikan

atau dipengaruhi oleh hormon gonadotrofin di dalam tubuh ikan.

Sedangkan proses pembentukan hormon tersebut dipengaruhi oleh kondisi

alam/lingkungan.

9
Sifat dan Perilaku Alamiah Pemijahan Ikan

Proses perkembangbiakannya yang harus dipelajari/dikenali secara

betul oleh seseorang yang hendak menyelenggarakan

pembenihan/pembiakan ikan ialah :

- Pada umur berapa dan ukuran berapa jenis ikan itu menjadi dewasa.

Ada ikan yang sudah dewasa pada ukuran berat beberapa gram saja

(misalnya berbagai jenis ikan hias yang kecil-kecil seperti ikan

seribu (bungkreung), ikan Moly, Platy, Cupang, Barbus, Neon, dsb.)

dan pada umur beberapa bulan saja.

- Kapan musim pemijahannya dan frekuensi pemijahan berapa kali per

– tahun. Didaerah tropika seperti di Indonesia ini kebanyakan ikan

memijah 2 kali setahun ialah pada peralihan dari musim kemarau ke

musim penghujan dan dari musim hujan ke musim kemarau. Misalnya

ikan bandeng, ikan belanak, ikan tawes, dan berbagai jenis ikan dan

udang laut dan ikan perairan umum air tawar. Tetapi ada pula jenis –

jenis ikan yang dapat bertelur/memijah beberapa kali dalam

setahun bahkan setiap bulan, misalnya ikan mujair, ikan seribu, dll

yakni ikan yang bertubuh kecil.

- Sifat lingkungan dimana ikan tsb. biasa memijah secara alamiah

(sifat dari breeding ground). Ada ikan yang memijah di air mengalir

dan jernih (contoh: ikan nilem), ada yang memijah di air tergenang

dengan membuat sarang, misalnya ikan gurame, ikan lele, dsb. Ada

jenis ikan yang memijah ditempat yang baru digenangi air atau

didaerah banjir, seperti ikan mas, ikan tawes.

10
- Dimana ikan meletakkan telurnya? membuat sarang atau tidak?

Ada ikan yang meletakkan telurnya di dalam sarangnya yang dibuatnya

berupa cekungan didasar perairan. Misalnya ikan mujair, ikan nila, dari

marga Tilapia (Oreochromis sp). Setelah terjadi pembuahan atau

fertilisasi, induknya mengulum dan mengerami telurnya didalam rongga

mulut sampai menetas dan barulah induk meninggalkan anaknya setelah

burayak cukup kuat berenang. Pola pengasuh anak didalam mulut

disebut “mouth breeder”. Contoh ikan yang membuat sarangnya ialah

ikan lele (Clarias batracus), ikan gabus (Ophiocephalus striatus), ikan

jambal (Pangasius sp). Ada ikan yang melekatkan telur-telurnya pada

sesuatu benda atau daun tumbuhan dalam air, lalu induknya menunggui

sambil mengipasi telur dengan siripnya agar telur memperoleh air

segar yang banyak mengandung oksigen. Induk akan meninggalkan

anaknya setelah anaknya cukup kuat berenang. Contohnya adalah ikan

manvis (Pterophylum spp) dan lain-lain.

- Berapa banyak telur yang dapat dihasilkan dan seberapa ukuran

telurnya.

Jumlah atau banyaknya telur yang dihasilkan setiap kg berat badan

ikan disebut fekunditas.

Ukuran telur ikan digolongkan menjadi 3 yaitu :

1. Telur ukuran kecil dengan garis tengah 0,3 – 0,5 mm, fekunditasnya

biasanya banyak (100.000 – 300.000 butir) dan tingkat kepedulian

induknya kecil (negative parental care). Contohnya : ikan bandeng

11
(Chanos chanos), ikan tawes (Punctius gonionotus), ikan tuna (Thunnus

sp), dll.

2. Telur ukuran sedang dengan garis tengah 0,8 – 1,1 mm, fekunditasnya

sedang (100.000 – 300.000 butir) dan tingkat kepedulian induknya

sedang. Contohnya : ikan manvis (Pterophylum spp), ikan discus

(Symphysodon discus).

3. Fekunditasnya kecil (5.000 – 50.000 butir) dan tingkat kepedulian

induk besar (Positive parental care). Contohnya : ikan gurame

(Osphronemus gouramy), ikan lele (Clarias spp), ikan nila (Tilapia

niloticus), ikan mujair (Tilapia mossambica).

Dengan mengetahui berbagai sifat dan perilaku alamiah setiap jenis

ikan yang hendak dikembangbiakkan, dapatlah dipersiapkan sebaik mungkin

persyaratan lingkungan tempat ikan memijah dan peralatannya secara

lengkap disesuaikan dengan kebutuhan jenis ikan tertentu. Sebagai

contoh, bila hendak memijahkan ikan mas, haruslah disediakan kolam yang

telah dikeringkan beberapa waktu dan segera diairi. Ini meniru lingkungan

daratan yang terendam karena banjir tempat ikan mas memijah secara

alamiah. Dan harus pula disediakan “kakaban” tempat telur-telur melekat

Bila hendak memijahkan ikan gurame, haruslah menyediakan kolam

yang dalamnya 75 – 100 cm dan menyediakan induk atau rumput-rumput

kering serta tegakan bambu atau kayu dimana ikan gurame itu dapat

membuat sarangnya. Tanpa adanya bahan pembuat sarang, ikan gurame

tidak akan memijah, walaupun ikan gurame tersebut telah mengandung

telur yang matang dan telah ada pejantannya pula.

12
Teknik Hipofisasi

Hipofisasi artinya menyuntikkan hormon yang diekstrak dari

hipofisa ikan donor yang mengandung hormon gonadotrofin yang

diproduksi atau terkandung di dalam kelenjar hipofisa tersebut.

Tujuannya ialah untuk merangsang ikan yang menerima suntikan ( recipient)

agar telur-telur dormant yang dikandungnya melanjutkan perkembangan

sampai ovulasi disusul pemijahan, tanpa menunggu datangnya faktor-

faktor eksternal yang mempengaruhinya

Rangsangan untuk mencapai ovulasi dan pemijahan dengan cara

hipofisasi adalah suatu jalan pintas dari pada proses alamiah yang

biasanya berlangsung lama dan menunggu musim tertentu. Di alam, ovulasi

dan pemijahan ikan diatur oleh hormon gonadotrofin yang diproduksi oleh

ikan itu sendiri yang dihasilkan dan disimpan di dalam kelenjar hipofisa.

Kelenjar hipofisa itu ialah kelenjar endokrin yang berbentuk bulat kecil

sebesar kacang hijau, terletak di bawah otak.

Selain hormon gonadotrofin yang diambil dari kelenjar hipofisa,

dapat juga dipergunakan hormon lain, misalnya :

1. SG (Salmon Gonadotrophin) ialah hormon yang diambil dari hipofisa

ikan salmon, diproduksi secara komersial di Kanada (Syndel

Laboratory, Vancouver). Dijual dalam bentuk serbuk putih dan

harganya tidak begitu mahal.

2. LH – RH (Luteinizing Hormone – Releasing Hormone) ialah hormon

tiruan (sintetis) yang ternyata sangat efektif merangsang kelenjar

hipofisa untuk memproduksi hormon gonadotrofin pada ikan. Hormon

13
buatan ini telah dicobakan pada beberapa jenis ikan dan ternyata

berhasil mendorong ikan untuk memijah. (Harvey dan Hoar, 1979 ).

3. HCG (Human Chorionic Gonadotrophin) ialah hormon yang terdapat di

dalam air seni wanita yang sedang hamil, dengan teknik tertentu dapat

dipisahkan dan dibuat sediaan berupa cairan yang dijual dalam ampuls.

Penyuntikan HCG dilakukan intramuscular dengan dosis 6.000 IU/kg

berat badan untuk ikan belanak, hasilnya cukup baik. Dalam hal ini

dilakukan 2x suntikan dengan jarak waktu 24 – 48 jam tergantung pada

derajat perkembangan telurnya ketika pertama kali disuntik.

4. Ovaprim, suatu hormon buatan yakni salmon gonadrotopin yang

dicampur dengan hormon anti dopamine yang dibuat oleh laboratorium

Syndel Canada. Hormon dopamine sifatnya dapat menggagalkan

perkembangan telur sehingga dengan diberi/dicampur anti dopamine,

jarang sekali terjadi kegagalan proses pematangan gonad.

5. Methyltestosteron

6. Puberogen, dll.

Perlakuan Bagi Ikan yang disuntik Hormon

Setelah ikan yang telah matang gonad disuntik dengan hormon,

diperlukan perlakuan tertentu agar penyuntikan itu berhasil. Antara lain

adalah ikan yang telah disuntik sebaiknya dipisahkan antara jantan dan

betina di bak terpisah agar tidak terjadi pemijahan secara liar.

Suhu air harus stabil dan cocok bagi ikan tersebut (untuk di Indonesia

yang wilayah tropika suhu optimal itu 25-30 oC). Suasana kolam harus

14
tenang, tidak terganggu oleh kegaduhan/gangguan. Sinar tidak terlalu

cerah, sebaiknya bak ditutup dengan bak hitam/gelap.

Fertilisasi Buatan Dan Pemijahan Buatan

Berapa jangka waktu terjadi ovulasi setelah penyuntikan, ini

tergantung/dipengaruhi oleh suhu air dimana ikan itu ditaruh setelah

dilakukan penyuntikan. Semakin tinggi suhu air semakin cepat reaksi

terjadi. Setiap jenis ikan mempunyai suhu optimal untuk perkembangan

ovulasinya. Bagi ikan daerah tropika berkisar antara 22 – 28 C.

Dengan cara teknik penyuntikan hormon itu, memungkinkan dilakukan 2

teknik berbeda pada ikan yaitu :

a. Fertilisasi buatan (pembuahan buatan) dengan cara “stripping”

yaitu mengeluarkan telur dan sperma ditampung dan dicampurkan di

dalam suatu wadah, agar terjadi pembuahan (fertilisasi) secara

buatan di dalam wadh tersebut secara terkontrol. Cara ini disusul

dengan melakukan penetasan telur, pemeliharaan burayak (larva)

menjadi benih ikan kecil (pendederan/pengipukan). Selanjutnya

dibesarkan sampai menjadi benih ukuran glondongan, yang

kesemuanya dilakukan secara terkendali (terkontrol) untuk dapat

melindunginya dari serangan musuh-musuhnya, dari sifat air dan

cemaran yang mematikan dan dari serangn penyakit, sehingga daya

kehidupan anak-anak ikan dapat mencapai lebih tinggi untuk dapat

dihasilkan anak ikan lebih banyak.

b. Pemijahan buatan di tempat terkendali/terkontrol.

15
Pada teknik ini, penyuntikan hormon ditujukan agar ikan mengalami

tahap dimana bila dipertemukan dengan lawan jenisnya, ikan dapat

kawin/memijah seperti lazimnya di dalam tempat tertentu yang

diatur dan dipersiapkan oleh manusia. Selanjutnya dengan akal dan

kemauan manusia/sipenyelenggara dapat melakukan langkah-langkah

agar penetasan telur, pembesaran larva seterusnya menjadi benih

gelondongan dapat dilakukan di dalam wadah dan kolam-kolam

secara terkendali pula.

Faktor-Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Pemijahan

Setelah dilakukan injeksi-injeksi dengan dosis yang diperlukan oleh

setiap spesies, masih diperlukan pula beberapa faktor eksternal agar

ikan berhasil memijah/kawin. Faktor-faktor eksternal tersebut ialah :

a. Suhu air harus dalam keadaan stabil dengan derajat suhu antara

22o-28o C untuk ikan – ikan di daerah tropis seperti Indonesia.

b. Air harus mengandung cukup oksigen terlarut yang selalu cukup (5-

7 ppm) dan cukup mengalir/berganti walaupun tidak terlalu deras.

c. Tempat tidak terlalu cerah oleh sinar langsung. Bak/kolam diberi

atap atau ditutup dengan kain penutup agar gelap.

d. Bak/kolam sebaiknya ditempatkan ditempat terisolasi, jauh dari

keramaian/gangguan kegaduhan.

e. Sebaiknya setelah disuntik, ikan jantan dan betina dipisahkan

didalam bak tersendiri. Nanti bila sudah hampir tiba saatnya

memijah, barulah disatukan didalam kolam pemijahan yang sudah

dipersiapkan sebelumnya.

16
Teknik Penyediaan Induk Ikan

1. Induk ikan dapat diperoleh dari berbagai cara yaitu :

1. Dengan menangkap induk dan calon induk dari alam, lalu diperlihara

di dalam lingkungan perkolaman agar induk-induk tersebut menjadi

benar-benar teraklimatisasi dan sampi mengandung telur yang

matang (matang gonad). Induk yang ditangkap dari alam biasanya

masih bersifat liar, sehingga memerlukan waktu cukup lama untuk

mendomestikasikannya. Misalnya dalam mempersiapkan induk ikan

banding, arwana jelawat, patin dan lain sebagainya yaitu ikan-ikan

yang belum biasa diternakkan.

2. Dapat juga mulai memelihara ikan dari ketika masih benih

kecil/yuwana. Dipelihara di kolam dalam waktu yang cukup lama

sampai mengandung telur/gonad yang matang. Cara ini dilakukan

baik untuk ikan yang sudah biasa dibudidayakan maupun ikan liar

yang baru akan didomestikasikan.

3. Dapat juga induk yang ditangkap dari alam yang memang induk induk

yang sudah matang atau hampir matang gonad.

Teknik Pemeliharaan Induk di Kolam

Cara pemeliharaan induk di kolam merupakan prasyarat untuk dapat

memperoleh induk yang bermutu baik (artinya : sehat, terseleksi

secara genetik dan terkontrol keturunannya, mempunyai fekunditas

yang tinggi dan mutu telurnya baik serta daya tetas yang tinggi pula).

17
Oleh sebab itu faktor yang penting dalam pemeliharaan induk ikan

untuk keperluan perkembangan telurnya ialah kondisi lingkungan yang

baik dan cocok serta pakan dalam kuantitas yang cukup dan

berkualitas baik.

Hampir semua jenis ikan dapat dipelihara di dalam kolam sampai

menjadi tingkat perkembangan gonad pada fase istirahat yaitu telur

pada fase dormant. Hanya saja untuk dapat memijah/kawin, tidak

semua ikan dapat dengan mudah melakukannya, melainkan memerlukan

perlakuan dan penanganan atau rangsangan khusus (induced

spawning). Sebagai contoh, ikan asal sungai seperti grass carp, silver

carp, dimana setelah dipelihara di kolam dan mengalami pematangn

gonada (fase dormant) harus disuntik dengan hormon tertentu agar

dapat mengalami ovulasi atau memijah.

Teknik Penetasan Telur

Persyaratan air untuk penetasan telur adalah:

1. Air harus jernih, sedikit mungkin mengandung lumpur, sebab

lumpur dapat melekat pada telur dan menyebabkan pembusukan

atau tertular bakteri.

2. Air mengalir dan mengandung oksigen terlarut minimum 6 ppm.

Derasnya aliran air di dalam wadah penetasan minimum 1 liter

per detik. Aliran air yang keluar dari wadah akan membuang

bahan-bahan kotoran terlarut yang mengganggu atau

membahayakan kehidupan telur.

18
3. Air tidak mengandung bahan-bahan pencemar, terutama bahan

kimia, logam berat dan pestisida.

4. Suhu dalam keadaan stabil yang berkisar antara 25-28ºC.

5. Wadah untuk inkubasi telur harus dibuat yang sesuai dengan

sifat telur yang ditetaskan.

Teknik Pemeliharaan Larva

Pada umumnya larva ikan mempunyai sifat-sifat sbb:

- Organ tubuhnya yang belum sempurna

- Ukurannya hanya beberapa mm saja (7-10 mm)

- Mulutnya belum terbuka

- Saluran pencernaan dan alat pernapasan belum berfungsi.

Makanannya masih diserap dari sisa kantong kuning telurnya.

- Belum mempunyai gelembung renang yang berisi udara, sehingga

belum dapat mengatur posisi tubuhnya dalam air.

- Gerakannya masih sangat lemah, banyak berdiam di suatu titik,

menempelkan kepalanya pada benda-benda atau pada jenis ikan

tertentu larva tergeletak saja di dasar perairan dan hanya sesekali

menggerakan ekornya.

Larva tidak tahan terhadap sinar ultra violet yang terdapat pada

sinar matahari secara langsung. Karena itu pada pemeliharaan larva

(penderan) kolam harus diberi pelindung terhadap sinar ultra violet.

19
Tempat/Wadah Pemeliharaan Larva

Wadah untuk pemeliharaan larva disebut “pendederan” atau

“ipukan”. Dapat berupa bak dari semen maupun kolam tanah biasa, yang

kedalamannya 30-40 cm saja. Berhubung sifatnya masih lemah, maka bak

atau kolam pendederan perlu diberi pelindung yaitu atap yang tembus

cahaya untuk menghalangi sinar matahari langsung, agar suhu tidak terlalu

berubah-ubah dan tidak terkena air hujan langsung yang dapat merubah

sifat kimia air. Bila pendederan dilakukan di dalam kolam tanah, hendaknya

dalam kolam itu dipasang pelindung dari pelepah daun kelapa yang di

tancapkan di sekeliling kolam maupun di dalam kolam itu sendiri sebagai

tempat berlindung bagi burayak.

Padat penebaran burayak dalam kolam pendederan berkisar antara

50-100 / meter persegi permukaan kolam. Bila dipergunakan bak semen

yang volumenya tidak terlalu besar (10-20 ton), padat penebaran dapat

dipertinggi hingga 500 ekor per meter persegi, tetapi harus dipasang

aerator agar tidak kekurangan oksigen. Burayak peka terhadap

kekurangan oksigen. Kadar oksigen dalam kolam ini hendaknya minimum 5

ppm.

Pakan Burayak

Pada hari pertama mulai makan (2-3 hari setelah menetas) burayak

hanya dapat menangkap makanan yang ukurannya amat kecil dan

gerakannya lambat. Pakan alami yang cocok bagi burayak pertama adalah

Rotifera dan Protozoa.

20
Burayak umur 7-10 hari memakan zooplankton ukuran 100-200

mikron yaitu beberapa jenis cladosera kecil, dapat juga diberi pakan

tambahan berupa katul halus.

Burayak umur 10-20 hari dapat memakan zooplankton ukuran besar

yaitu Cladosera besar dan Copepoda. Disamping itu masih terus memakan

Rotifera maupun Cladosera kecil.

Pemeliharaan benih lanjutan biasanya dilakukan dalam tahap yang

lamanya masing-masing 1-1,5 bulan.

Pembenihan tahap 1 adalah pindahan dari pendederan, setelah benih

umur 3 minggu. Pada akhir masa pembenihan tahap 1 hasil benih ikan

berukuran 6-8 cm, dapat dijual dengan harga yang lebih mahal; dan/atau

dilanjutkan dengan pembenihan tahap 2.

Pembenihan tahap 2 juga dapat dilakukan di dalam kolam tanah atau

petak sawah seperti pembenihan tahap 1 tadi. Lama pemeliharaan 1,5-2

bulan. Pada akhir masa pembenihan benih diperoleh benih ikan ukuran 10-

12 cm dengan berat kira-kira 10-15 gram per ekor. Pada tahap pembenihan

ini, pakan alami dengan pemupukan tak cukup dan penambahan pakan

buatan merupakan keharusan agar benih ikan tidak kekurangan pakan dan

dapat tumbuh pesat. Pakan buatan yang diberikan berupa pakan buatan

pabrik dengan kandungan protein 25-30 % dengan ukuran remah ( crumble)

atau pellet kecil agar dapat ditelan oleh benih ikan itu.

Pemeliharaan selanjutnya adalah pembesaran benih/gelondongan besar

menjadi ikan konsumsi.

21
III. Teknik Pembenihan Beberapa Jenis Ikan Ekonomis Penting

1. Teknik pembenihan Ikan Nila

Is ok!

2. Teknik Pembenihan Ikan Gurame

3. Teknik Pembenihan Ikan Kerapu

4. Pakan Alami dan Buatan

22