Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

DEFISIT PERAWATAN DIRI

Oleh :
ISTIQAMAH
NS0619084

CI Institusi

( Ns.Dahrianis, S.Kep., Ns., M.KeP )

PROGRAM STUDI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
NANI HASSANUDIN MAKASSAR
2020
LAPORAN PENDAHULUAN
DEFISIT PRAWATAN DIRI

I. Konsep Dasar
A. Pengertian
Defisit perawatan diri adalah kemampuan dasar yang dimiliki manusia dalam
melengkapi kebutuhannya dalam kelangsungan hidupnya sesuai kondisi
kesehatannya. (Damaiyanti dan Iskandar, 2012).
Defisit perawatan diri adalah situasi seseorang yang mengalami kelemahan
dalam kemampuan melakukan hal untuk melengkapi aktifitas perawatan diri secara
mandiri (Nita, 2009).
Defisit perawatan diri adalah kurangnya perawatan diri pada pasien dengan
gangguan jiwa terjadi akibat adanya perubahan proses pikir sehingga kemampuan
untuk melakukan aktivitas perawatan diri menurun. Kurang perawatan diri terlihat
dari ketidakmampuan merawat kebersihan diri antaranya mandi, makan minum secara
mandiri, berhias secara mandiri, toileting (BAK/BAB) (Damaiyanti, 2012)
B. Etiologi
1. Faktor prediposisi
a. Perkembangan : Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga
perkembangan inisiatif terganggu.
b. Biologis : Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan
perawatan diri.
c. Kemampuan realitas turun : Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan
realitas yang kurang menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan
termasuk perawatan diri.
d. Sosial : Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri
lingkungannya. Situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan dalam
perawatan diri.
2. Faktor presipitasi
a. Body Image : Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi
kebersihan diri misalnya dengan adanya perubahan fisik sehingga individu
tidak peduli dengan kebersihan dirinya.
b. Praktik Sosial : Pada anak – anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka
kemungkinan akan terjadi perubahan pola personal hygiene.
c. Status Sosial Ekonomi : Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti
sabun, pasta gigi, sikat gigi, shampo, alat mandi yang semuanya memerlukan
uang untuk menyediakannya.
d. Pengetahuan : Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena
pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien
penderita diabetes mellitus ia harus menjaga kebersihan kakinya.
e. Budaya : Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh
dimandikan.
f. Kebiasaan seseorang : Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk
tertentu dalam perawatan diri seperti penggunaan sabun, sampo dan lain –
lain.
g. Kondisi fisik atau psikis : Pada keadaan tertentu / sakit kemampuan untuk
merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya.
C. Jenis-Jenis Defisit Perawatan Diri
Menurut (Damaiyanti, 2012) jenis perawatan diri terdiri dari :
a. Defisit perawatan diri : mandi
Hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan mandi/beraktivitas
perawatan diri sendiri
b. Defisit perawatan diri : berpakaian
Hambatan kemampuan untuk melakukan ata menyelesaikan aktivitas berpakaian
dan berhias untuk diri sendiri.
c. Defisit perawatan diri : makan
Hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas sendiri
d. Defisit perawatan diri : eliminasi
Hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas eliminasi
sendiri.
D. Rentang Respon

Respon Adaptif Respon Maladaptif


Pola perwatan diri Kadang perawatan Tidak melakukan
seimbang diri kadang tidak perawatan diri pada
saat stress
1) Pola perawatan diri seimbang: saat pasien mendapatkan stressor dan mampu ntuk
berperilaku adatif maka pola perawatan yang dilakukan klien seimbang, klien masih
melakukan perawatan diri
2) Kadang melakukan perawatan diri kadang tidak: saat pasien mendapatan stressor
kadang-kadang pasien tidak menperhatikan perawatan dirinya
3) Tidak melakukan perawatan diri: klien mengatakan dia tidak perduli dan tidak bisa
melakukan perawatan saat stresso (Ade, 2011)
E. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala defisit dar menurut (Damaiyanti, 2012) sebagai berikut:
a. Mandi/hygine : Klien mengalami ketidakmapuan dalam membersihkan badan,
memperoleh atau mendapatkan sumber air, mengatur suhu atau aliran air mandi,
mendapatkan perlengkapan mandi, mengerikan tubuh,serta masuk dan keluar
kamar mandi
b. Berpakaian : Klien mempunyai kelemahan dalam meletakan atau mengambil
potongan pakian, menangalkan pakaian, serta memperoleh atau menukar pakaian.
c. Makan : Klien mempunyai ketidak mampuan dalam menelan makanan,
mempersiapkan makanan, menangani perkakas, mengunyah makanan,
menggunakan alat tambahan, mendapat makanan, membuka container,
memanipulasi makanan dalam mulut, mengambil makanandari wadah lalu
memasukan ke mulut, melengkapi makanan, mencerna makanan menurut cara
yang diterima masyarakat, mengambil cangkir atau gelas, serta mencerna cukup
makanan dengan aman
d. Eliminasi : Klien memiliki kebatasan atau ketidakmampuan dalam mendapatkan
jamban atau kamar kecil atau bangkit dari jamban, memanipulasi pakaian
toileting, membersihkan diri setelah BAK/BAB dengan tepat, dan menyiram toilet
atau kamar kecil.
Menurut Depkes tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan diri adalah:
1) Fisik
- Badan bau, pakaian kotor
- Rambut dan kulit kotor
- Kuku panjang dan kotor
- Gigi kotordisertai mulut bau
- Penampilan tidak rapi.
2) Psikologis
- Malas, tidak ada inisiatif
- Menarik diri, isolasi diri
- Merasa tak berdaya, rendahdiri dan merasa hina.
3) Social
- Interaksi kurang
- Kegiatan kurang
- Tidak mampu berperilaku sesuai norma
- Cara makan tidak teratur
- BAK dan BAB di sembarang tempat, gosok gigi dan mandi tidak mampu
mandiri
F. Proses terjadinya masalah
Menurut Tarwoto dan Wartonah penyebab kurang perawatan diri adalah kelelahan
fisik dan penurunan kesadaran. Menurut Depkes, penyebab kurang perawatan diri
adalah:
a. Factor predisposisi
1) Perkembangan
Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga perkembangan
inisiatif terganggu
2) Biologis
Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan perawatan
diri.
3) Kemampuan realitas turun
Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang
menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk perawatan diri.
Pola perawatan diri seimbang.
4) Sosial
Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri lingkungannya.
Situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan diri.
b. Faktor presipitasi
Yang merupakan faktor presiptasi deficit perawatan diri adalah kurang
penurunan motivasi, kerusakan kognisi atau perceptual, cemas, lelah/lemah yang
dialami individu sehingga menyebabkan individu kurang mampu melakukan
perawatan diri. Menurut Depkes, Faktor – faktor yang mempengaruhi personal
hygiene adalah:
1) Body Image
Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri
misalnya dengan adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli
dengan kebersihan dirinya.
2) Praktik Sosial
Pada anak – anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka kemungkinan
akan terjadi perubahan pola personal hygiene.
3) Status Sosial Ekonomi
Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat
gigi, shampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk
menyediakannya.
4) Pengetahuan
Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik
dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien penderita diabetes
mellitus ia harus menjaga kebersihan kakinya.
5) Budaya
Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh dimandikan.
6) Kebiasaan seseorang
Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan diri
seperti penggunaan sabun, sampo dan lain – lain.
7) Kondisi fisik atau psikis
Pada keadaan tertentu / sakit kemampuan untuk merawat diri berkurang dan
perlu bantuan untuk melakukannya.
Dampak yang sering timbul pada masalah personal hygine
1) Dampak fisik
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak
terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik,gangguan fisik yang sering
terjadi adalah: gangguan intleglitas kulit, gangguan membrane mukosa mulut,
infeksi mata dan telinga dan gangguan fisik pada kuku.
2) Dampak psikososial
Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygine adalah gangguan
kebutuhan aman nyaman , kebutuhan cinta mencintai, kebutuhan harga diri,
aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial (Damaiyanti, 2012)
G. Akibat
a. Dampak fisik
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak tidak
terpeliharanya kebersihan perorangandengan baik, gangguan fisik yang seering
terjadi adalah: gangguan integritas kulit, gangguan membrane mukosa mulut,
infeksi pada mata dan telinga dan gangguan fisik pada kuku.
b. Dampak psikososial
Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygine adalah gangguan
kebutuhan aman nyaman , kebutuhan cinta mencintai, kebutuhan harga diri,
aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial (Damaiyanti, 2012)
H. Mekanisme Koping
Mekanisme koping berdasarkan penggolongan di bagi menjadi 2 yaitu:
1. Mekanisme koping adaptif
Mekanisme koping yang mendukung fungsi integrasi pertumbuhan belajar dan
mencapai tujuan. Kategoriini adalah klien bisa memenuhi kebutuhan perawatan
diri secara mandiri.
2. Mekanisme koping maladaptive
Mekanisme koping yang menghambat fungsi integrasi, memecah pertumbuhan,
menurunkan otonomi dan cenderung menguasai lingkungan. Kategorinya adalah
tidak maumerawat diri (Damaiyanti, 2012)
I. Penatalaksanaan
1. Meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri
- Bina hubungan saling percaya
- Bicarakan tentang pentingnya kebersihan
- Kuatkan kemampuan klien merawat diri
2. Membimbing dan menolong klien merawat diri
- Bantu klien merawat diri
- Ajarkan keterampilan secara bertahap
- Buatkan jadwal kegiatan setiap hari
3. Ciptakan lingkungan yang mendukung
- Sediakan perlengkapan yang diperlukan untuk melakukan perawatan diri
- Dekatkan peralatan agar mudah dijangkau oleh klien
- Sediakan lingkungan yang aman dan nyaman

Konsep Dasar Keperawatan


A. Pengkajian
1. Identitas klien meliputi : nama klien, umur, jenis kelamin, status perkawinan,
agama, tanggal MRS (masuk rumah sakit), informan, tanggal pengkajian, No
Rumah Sakit dan alamat klien.
2.  Keluhan utama : Tanyakan pada keluarga/klien hal yang menyebabkan klien dan
keluarga datang ke rumah sakit. Yang telah dilakukan keluarga untuk mengatasi
masalah, dan perkembangan yang dicapai.
3. Faktor predisposisi : Tanyakan pada klien/keluarga, apakah klien pernah
mengalami gangguan jiwa pada masa lalu, pernah melakukan atau mengalami
penganiayaan fisik, seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam keluarga
dan tindakan criminal. Dan pengkajiannya meliputi psikologis,  biologis, dan
social budaya.
4. Aspek fisik/biologis : Hasil pengukuran tanda-tanda vital (TD, Nadi, Suhu,
Pernafasan, TB, BB) dan keluhan fisik yang dialami oleh klien.
5. Aspek psikososial
a. Genogram yang menggambarkan tiga generasi
b. Konsep diri
c. Hubungan social dengan orang lain yang terdekat dalam kehidupan,
kelompok, yang diikuti dalam masyarakat
d. Spiritual, mengenai nilai dan keyakinan dan kegiatan ibadah
6. Status mental : Nilai klien rapi atau tidak, amati pembicaraan klien, aktivitas
motorik klien, afek klien, interaksi selama wawancara, persepsi, proses pikir, isi
pikir, tingkat kesadaran, memori, tingkat konsentrasi, dan berhitung.
7. Kebutuhan persiapan pulang
a. Kemampuan makan klien dan menyiapkan serta merapikan lat makan kembali.
b. Kemampuan BAB, BAK, menggunakan dan membersihkan WC serta
membersihkan dan merapikan pakaian.
c. Mandi dan cara berpakaian klien tampak rapi.
d. Istirahat tidur kilien, aktivitas didalam dan diluar rumah.
e. Pantau penggunaan obat dan tanyakan reaksinya setelah diminum.
8. Mekanisme koping malas beraktivitas, sulit percaya dengan orang lain dan asyik
dengan stimulus internal, menjelaskan suatu perubahan persepsi dengan
mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain.
9. Masalah psikososial dan lingkungan
Masalah berkenaan dengan ekonomi, dukungan kelompok, lingkungan,
pendidikan,  pekerjaan, perumahan, dan pelayanan kesehatan.
10. Pengetahuan Didapat dengan wawancara klien dan disimpulkan dalam masalah.
11. Aspek medik Diagnose medis yang telah dirumuskan dokter, therapy farmakologi,
psikomotor, okopasional, TAK dan rehabilitas.
C. Diagnosa Keperawatan

1. Defisit perawatan diri

Contoh Rencana Keperawatan Defisit Perawatan Diri


Dalam Bentuk Strategi Pelaksanaan
Pasien Keluarga
SPIP SPIK
 Identifikasi masalah perawatan diri:  Diskusi maslah yang dirasakan dalam
Kebersihan diri, berdandan, merawat pasien
makan/minum, BAK/BAB
 Jelaskan pentingnya kebersihan  Jelaskan pengertian, tanda & gejala,
dan proses terjadinya defisit
perawatan diri
 Jelaskan cara dan alat kebersihan diri  Jelaskan cara merawat defisit
perawatan diri
 Latih cara menjaga kebersihan diri :  Latih dua cara merawat: kebersihan
Mandi dan ganti pakaian, sikat gigi, diri dan berdandan
cuci rambut, potong kuku
 Masuk pada jadwal kegiatan untuk  Anjurkan membantu pasien sesuai
latihan mandi, sikat gigi (2 kali jadwal dan memberikan pujian
perhari), cuci rambut (2 kali
perminggu), ptong kuku (satu kali
perminggu)

SPIIP SPIIK
 Evalusi kegiatan kebersihan diri, beri  Evaluasi kegiatan keluarga dalam
pujian merawat/melatih pasien kebersihan
diri, beri pujian
 Jelaskan cara dan alat untuk  Latih dua (yang lain) cara merawat:
berdandan makan & minum, BAB & BAK
 Anjurkan membantu pasien sesui
 Latih cara berdandan setelah jadwal dan memberi pujian
kebersihan diri
 Masukan pada jadwal kegiatan untuk
kebersihan diri dan berdandan
SPIIIP SPIIIK
 Evaluasi kegiatan kebersihan dairi  Evaluasi kegiatan keluarga dalam
dan berdandan. Beri pujian merawat/melatih pasien kebersihan
diri dan berdandan. Beri pujian
 Jelaskan cara dan alat makan dan  Bimbing keluarga merawat
minum kebersihan diri dan berdandan dan
makan & minum pasien
 Latih cara makan dan minum yang  Anjurkan membantu pasien sesui
baik jadwal dan berikan pujian

 Masukan pada jadwal kegiatan untuk


latihan kebersihan diri, berdandan dan
makan & minum yang baik

SPIVP SPIVK
 Evaluasi kegiatan kebersihan diri dan  Evaluasi keluarga dalam
berdandan, makan & minum, beri merawat/melatih pasien kebersihan
pujian diri dan berdandan. Beri pujian
 Jelaskan cara BAB & BAK  Bimbing keluarga merawat
kebersihan diri dan berdandan dan
makan & minum pasien
 Latih BAB & BAK yang baik  Anjurkan membantu pasien sesui
jadwal dan berikan pujian
 Masukan pada jadwal kegiatan untuk
latihan kebersihan diri, berdandan dan
makan & minum yang baik, BAB &
BAK

SPVP SPVK
 Evaluasi kegiatan latihan perawatan  Evaluasi kegiatan keluarga dalam
diri: kebersihan diri, berdandan, merawat/melatih pasien dalam
makan & minum, BAB & BAK. Beri perawatan diri: kebersihan diri,
pujian berdandan, makan & minum, BAB
&BAK. Beri pujian
 Nilai kemampuan keluarga merawat
 Latih kegiatan harian pasien
 Nilai kemampuan keluarga
 Niali kemampuan mandiri melakukan kontrol RSJ/PKM

 Niali apakah perawatan diri telah baik

A. Implementasi
Implementasi keperawatan disesuiakan dengan rencana tindakan keperawatn.Dengan
memperhatikan mengutaman masalah utama yang aktual dan mengancam integritas
klien dan lingkungan.

B. Evaluasi
Evaluasi adalah proses yang berkelanjuatan uantuk emniali efek dari tindakan
keperawatan pada klien. Evaluasi dilakukan terus menerus pada respon klien terhadap
tindakan yang telah dilaksanakan.
Evaluasidapatdilakukandenganmenggunakan SOAP, sebagaipola piker atauacuan.
S : Responsubjektifklienterhadaptindakan keperawatan yangdiberikan
O : Responobjektifklienterhadaptindakankeperawatan yang telahdiakukan
A : Analisaulang atas data
subjektifdanobjektifuntukmenyimpulkanapakahmasalahmasih
tetapataumunculmasalahbaruatauada data yang terkontradiksidenganmasalah
yang ada
P : Perencanaanatautindaklanjutberdasarkanhasilanalisapadaresponklien

C. Hasil Yang Diharapkan Untuk Pasien


1) Menyebutkan pentingnya kebersihan diri
2) Menyebutkan cara membersihkan diri
3) Mempraktekan cara membersihkan diri dan memasukkan dalam jadwal
4) Menyebutkan cara makan yang baik
5) Mempraktekkan cara makan yang baik dan memasukkan dalam jadwal
6) Menyebutkan cara BAB/BAK yang baik
7) Mempraktekkan cara BAB/BAK yang baik dan memasukkan dalam jadwal
8) Menyebutkan cara berdandan
9) Mempraktekkan cara berdandan dan memasukkan dalam jadwal
D. Hasil Yang Diharapkan Untuk Keluarga
1) Menyebutkan pengertian perawatan diri dan proses terjadinya msalah kurang
perawatan diri
2) Menyebutkan cara merawat pasien dengan kurang perawatan diri
3) Menpraktekkan cara merawat pasien dengan kurang perawatan diri
4) Membuat jadwal aktivitas dan minum obat klien dirumah.
E. Terapi Aktivitas Kelompok
Terapi aktivitas kelompok yang dapat diberikan untuk pasien dengan masalah
perawatan diri adalah : TAK stimulasi persepsi: perawatan diri
Sesi I : Manfaat perawatan diri
Sesi II : Menjaga kebersihan diri
Sesi III: Tata cara makan dan minum
Sesi IV: Tata caratoiletting
Sesi V : Tata cara berdandan
DAFTAR PUSTAKA

Damaiyanti Mukhripah,dkk.2012.Asuhan Keperawatan Jiwa.Bandung: PT Refika Aditama


Direja, Ade Herman S. 2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa.Yogyakarta : Nuha
Medica.
Fitria Nita.2009.Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan Dan Srategi
Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP dan SP).Jakarta:Salemba Medika.