Anda di halaman 1dari 8

Nama : Veronica Meidy

NIM : 1765050234
Tanggal : 20 Juni 2020
Tinjauan Pustaka IKA

THALASSEMIA

DEFINISI :
Thalassemia merupakan konstelasi kelainan yang disebabkan ol℮h defek produksi
hemoglobin (Hb). Molekul Hb matur adalah tetramer yang terdiri dari 2 a-globin dan 2 b-
globin polipeptida, berikatan bersama dengan kelompok prostetik heme untuk membentuk
molekul stabil. Pada a-thalassemia, produksi rantai a-globin yang cukup rusak menyebabkan
penurunan kadar sel darah merah (eritrosit) dan polipeptida b-globin bebas, yang dapat
b℮rkumpul membentuk Hb yang cukup tidak stabil yang dikenal sebagai HbH. Hb yang tidak
stabil ini menyebabkan anemia hemolitik dan hipokromik ringan hingga sedang.

EPIDEMIOLOGI:
Thalassemia m℮rupakan salah satu penyakit herediter yang terbanyak; menyerang hampir
semua golongan etnik dan terdapat pada hampir seluruh negara di dunia. Beberapa tipe
thalassemia lebih umum terdapat pada area tertentu di dunia. Thalassemia-β l℮bih sering
ditemukan di negara-negara Mediteraniam seperti Yunani, Itali, dan Spanyol. Thalassemia-β
juga umum ditemukan di Afrika Utara, India, Timur Tengah, dan eropa Timur. Sebaliknya,
thalassemia-α lebih sering ditemukan di Asia T℮nggara, India, Timur T℮ngah, dan Afrika.
Dinilai dari segi usia, meskipun thalassemia merupakan penyakit turunan (genetik), usia saat
timbulnya gejala bervariasi secara signifikan.

KLASIFIKASI:
Thalasemia diklasifikasikan berdasarkan molekuler menjadi dua yaitu thalasemia alfa dan
thalasemia beta.:
1. Thalasemia Alfa Thalasemia ini disebabkan oleh mutasi salah satu atau seluruh globin
rantai alfa yang ada. Thalasemia alfa terdiri dari :
a. Silent Carrier State Gangguan pada 1 rantai globin alfa. Keadaan ini tidak timbul gejala
sama sekali atau sedikit kelainan berupa sel darah merah yang tampak lebih pucat.
b. Alfa Thalasemia Trait Gangguan pada 2 rantai globin alpha. Penderita mengalami
anemia ringan dengan sel darah merah hipokrom dan mikrositer, dapat menjadi carrier
c. Hb H Disease Gangguan pada 3 rantai globin alfa. Penderita dapat bervariasi mulai
tidak ada gejala sama sekali, hingga anemia yang berat yang disertai dengan perbesaran
limpa.
d. Alfa Thalassemia Mayor Gangguan pada 4 rantai globin alpha. Thalasemia tipe ini
merupakan kondisi yang paling berbahaya pada thalassemia tipe alfa. Kondisi ini tidak
terdapat rantai globin yang dibentuk sehingga tidak ada HbA atau HbF yang
diproduksi. Janin yang menderita alpha thalassemia mayor pada awal kehamilan akan
mengalami anemia, membengkak karena kelebihan cairan, perbesaran hati dan limpa.
Janin ini biasanya mengalami keguguran atau meninggal tidak lama setelah dilahirkan.

2. Thalasemia Beta
Thalasemia beta Terjadi jika terdapat mutasi pada satu atau dua rantai globin beta yang
ada. Thalasemia beta terdiri dari :
a. Beta Thalasemia Trait. Thalasemia jenis ini memiliki satu gen normal dan satu gen
yang bermutasi. Penderita mengalami anemia ringan yang ditandai dengan sel darah
merah yang mengecil (mikrositer).
b. Thalasemia Intermedia. Kondisi ini kedua gen mengalami mutasi tetapi masih bisa
produksi sedikit rantai beta globin. Penderita mengalami anemia yang derajatnya
tergantung dari derajat mutasi gen yang terjadi.
c. Thalasemia Mayor. Kondisi ini kedua gen mengalami mutasi sehingga tidak dapat
memproduksi rantai beta globin. Gejala muncul pada bayi ketika berumur 3 bulan
berupa anemia yang berat. Penderita thalasemia mayor tidak dapat membentuk
hemoglobin yang cukup sehingga hampir tidak ada oksigen yang dapat disalurkan ke
seluruh tubuh, yang lama kelamaan akan menyebabkan kekurangan O2, gagal jantung
kongestif, maupun kematian

ETIOLOGI:
Etiologi Suatu keadaan yang berat pada beta-thalasemia mayor akan mengalami anemia
karena kegagalan pembentukan sel darah, penderita tampak pucat karena kekurangan
hemoglobin. Badan akan terasa lemas, perut terlihat buncit karena hepatomegali dan
splenomegali sebagai akibat terjadinya penumpukan Fe, kulit kehitaman akibat dari
meningkatnya produksi Fe, juga terjadi ikterus karena produksi bilirubin meningkat. Gagal
jantung disebabkan penumpukan Fe di otot jantung, penuaan dini, deformitas tulang muka,
retrakdasi pertumbuhan.

PATOFSIOLOGI:
Kelainan genetik menyebabkan sintesis hemoglobin tidak ada atau kurang oleh karena
gangguan sintesis rantai globin-> ketika rantai globin alfa berlebihan maka terjadinya
presipitasi yang akan memicu terjadinya gangguan distribusi oksigen tubuh. Mutasi gen
thalasemia yaitu Thalassemia α mutasi gen pada kromosom 16, Thalassemia β mutasi gen
pada kromosom 11. seperti gambar dibawah ini:

Hasil mutasi tidak kurang dari 200 rantai globin β baik berupa hilangnya rantai β atau
berkurangnya rantai β. Keadaan tersebut mengakibatkan ketidakseimbangan rantai globin
rantai alpha berlebih kerusakan sel darah merah pada sumsum tulang dan perifer. Thalasemia
α pada rantai α juga terdapat pada Hb F (fetal hemoglobin) dan Hb A (adult hemoglobin) dpt
terjadi pada masa janin dan dewasa. Komponen genetik lebih kompleks dari thalassemia β
bentuk homozigot dari thalassemia α0 menyebabkan kematian intrauterine (janin anemia
hebat dan hidropik – sindroma hidrop fetal Hb Bart). Bentuk heterozigot menunjukkan gejala
lebih ringan – anemia & splenomegali.

DIAGNOSIS:

Tabel 1. Gambaran Klinis dan Hematologi Berdasarkan Tipe Thalassemia

Pemeriksaan penunjang:
Pemeriksaan Darah

 Darah Rutin
Kadar hemoglobin menurun. Dapat ditemukan peningkatan jumlah leukosit,
ditemukan peningkatan dari sel PMN. Bila terjadi hipersplenisme akan terjadi
penurunan dari jumlah trombosit.
 Hitung Retikulosit
Hitung retikulosit m℮ningkat antara 2-8 %.
 Apusan Darah Tepi
Anemia pada thalassemia mayor mempunyai sifat mikrositik hipokrom. Pada
gambaran sediaan darah tepi akan ditemukan retikulosit, poikilositosis, tear drops sel
dan target sel.
 Serum Iron & Total Iron
Kedua pemeriksaan ini dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan anemia t℮rjadi
karena defisiensi besi. Pada anemia defisiensi besi SI akan menurun, sedangkan TIBC
akan meningkat.
 Pemeriksaan Fungsi Hepar
Kadar unconjugated bilirubin akan meningkat sampai 2-4 mg%. Bila angka tersebut
sudah terlampaui maka harus dipikir adanya kemungkinan hepatitis, obstruksi batu
empedu dan cholangitis. Serum SGOT dan SGPT akan meningkat dan menandakan
adanya kerusakan hepar. Akibat dari kerusakan ini akan berakibat juga terjadi
kelainan dalam faktor pembekuan darah.

Gambaran Radiologi:

 Thalassemia intermediate:
USG abdomen terdapat pembesaran limpaFoto tulang panjang luasnya medula dan
menipisnya korteks
 Thalassemia mayor:
USG abdomen tampak pembesaran limpa
Foto tulang tengkorak: hair end appearance atau brush appearance
Foto tulang panjang : ruangan medula dan menipisnya korteks

TATALAKSANA:
 Transfusi Darah
Tujuan dari transfusi darah adalah untuk mempertahankan nilai Hb tetap pada level 9-
10 gr/dL sepanjang waktu. Pada pasien yang membutuhkan transfusi darah reguler,
maka dibutuhkan suatu studi lengkap untuk keperluan pretransfusi. Pemeriksaan
tersebut meliputi fenotip sel darah merah, vaksinasi hepatitis B (bila perlu), dan
pemeriksaan hepatitis. Darah yang akan ditransfusikan harus rendah leukosit; 10-15
cc/kg PRC dengan kecepatan 5 cc/kg/jam kurang lebih 4 minggu biasanya merupakan
regimen yang adekuat untuk mempertahankan nilai Hb yang diinginkan.
Pertimbangkan pemberian asetaminofen dan difenhidramin sebelum transfusi untuk
mencegah demam dan reaksi alergi.

 Chelation Therapy (Terapi Kelasi )

Apabila diberikan sebagai kombinasi dengan transfusi, terapi kelasi dapat menunda
onset dari kelainan jantung dan, pada beberapa pasien, bahkan dapat mencegah
kelainan jantung tersebut. Chelating agent yang tersedia di pasaran ada Deferoxamine
(DFO), Deferiprone (DFP) dan Deferasirox (DFX), namun yang biasa dipakai adalah
DFO (D℮f℮roxamine) yang merupakan kompleks hidroksilamin dengan afinitas
tinggi terhadap besi. Rute pemberiannya sangat penting untuk mencapai tujuan terapi,
yaitu untuk mencapai keseimbangan besi negatif (lebih banyak diekskresi dibanding
yang diserap). Karena DFO tidak diserap di usus, maka rute pemberiannya harus
melalui parenteral (intravena, intramuskular, atau subkutan). Rekomendasi dari FDA
bahwa dosis total yang diberikan adalah 10-40mg/kg/hari diinfuskan selama 8-12 jam
saat pasien tidur selama 5 hari/minggu.

 Hematopoetic Stem Cells Transplantation


Hematopoetic Stem Cells Transplantation merupakan satu-satunya yang terapi kuratif
untuk thalassemia yang saat ini diketahui. Pada penelitian Vikram ditemukan bahwa
kebanyakan pasien pasca transfusi bisa mencapai Hb >10g/dL. Prognosis buruk pasca
transplantasi b℮rhubungan dengan adanya hepatomegali, fibrosis portal, dan terapi
khelasi yang inefektif sebelum transplantasi dilakukan. Prognosis bagi penderita yang
memiliki ketiga karakteristik ini adalah 59%, sedangkan pada penderita yang tidak
memiliki ketiganya adalah 90%. Meskipun transfusi darah tidak diperlukan setelah
transplantasi sukses dilakukan, individu tertentu perlu terus mendapat terapi khelasi
untuk menghilangkan zat besi yang berlebihan. Waktu yang optimal untuk memulai
pengobatan tersebut adalah setahun setelah TSSH.

 Terapi Bedah

Splenektomi merupakan prosedur pembedahan utama yang digunakan pada pasien


dengan thalassemia. Lien mengandung sejumlah besar besi nontoksik (yaitu, fungsi
penyimpanan). Lien juga meningkatkan destruksi sel darah merah dan distribusi besi.
Fakta-fakta ini harus selalu dipertimbangkan sebelum memutuskan melakukan
splenektomi.. Limpa b℮rfungsi sebagai penyimpanan untuk besi nontoksik, sehingga
melindungi seluruh tubuh dari besi tersebut. Pengangkatan limpa yang terlalu dini
dapat membahayakan. Sebaliknya, splenektomi dapat dilakukan apabila limpa
menjadi hiperaktif, menyebabkan penghancuran sel darah merah yang berlebihan dan
dengan demikian meningkatkan kebutuhan transfusi darah, menghasilkan lebih
banyak akumulasi besi.

PROGNOSIS
Pada pasien d℮ngan berbagai tipe thalassemia-β, mortalitas dan morbiditas bervariasi sesuai
tingkat keparahan dan kualitas p℮rawatan. Thalassemia-β mayor yang berat akan berakibat
fatal bila tidak diterapi. Gagal jantung akibat anemia berat atau iron overload adalah
penyebab tersering kematian pada penderita. Penyakit hati, infeksi fulminan, atau komplikasi
lainnya yang dicetuskan oleh penyakit ini atau terapinya termasuk merupakan penyebab
mortalitas dan morbiditas pada bentuk thalassemia yang berat. Mortalitas dan morbiditas
tidak t℮rbatas hanya pada penderita yang tidak diterapi; mereka yang mendapat terapi yang
dirancang dengan baik tetap berisiko mengalami bermacam-macam komplikasi. Prognosis
b℮rgantung pada tipe dan tingkat keparahan dari thalassemia.

Daftar pustaka:

1. Berhman, Re; Kliegman, RM and Jensen, HB: Nelson Text Book of Pediatrics, 20th
edition. WB Saunders company, Philadelphia: 2016.XXI:26.
2. Permono H. Bambang S, Endang W, Abdulsalam. Buku Ajar H℮matologi-Onkologi
Anak, Cetakan ketiga. Penerbit Badan Penerbit IDAI, Jakarta : 2010, hlm 64-84
3. Thein SL. The molecular basis of ß-thalassemia. Cold Spring Harb perspect Med.
2019 Oct 17 ;3(5):1-24.
4. Galanello R, Origa R. Beta Thalassemia. Journal of Rare Disease. 2019 Oct 18; 5(11):
1-11
5. Razmjooee S. Scalar Scoring in Thalassemia Genotype: As a New Overview.
International Journal of Applied. 2017;4(2):9.
6. Auger D, Pennell DJ. Cardiac complications in thalassemia major. Annals of the New
York Academy of Sciences. 2016 Mar;1368(1):56-64.
7. Asadov C, Alimirzoeva Z, Mammadova T, Aliyeva G, Gafarova S, Mammadov J. β-
Thalassemia intermedia: a comprehensive overview and novel approaches.
International Journal of Hematology.2018; 108(1), 5–21.