Anda di halaman 1dari 7

PENGERTIAN PENDAPATAN PERKAPITA

Pendapatan per kapita yaitu pendapatan rata-rata  penduduk suatu negara dalam periode
tertentu (biasanya satu tahun).  Pendapatan per-kapita bisa dihitung dengan cara menggunakan
rumus berikut ini :

CARA MENGHITUNG RUMUS PENDAPATAN PERKAPITA

Ada dua cara untuk dapat menghitung pendapatan per kapita :

1. Berdasarkan harga yang berlaku dan berdasarkan harga tetap atau konstan. Apabila kita
menghitung dengan berdasarkan harga yang berlaku maka hasilnya adalah pendapatan per
kapita nominal.
2. Berdasarkan harga tetap (konstan), maka hasilnya adalah pendapatan per kapita rill

Pendapatan per kapita nominal yaitu pendapatan per kapita yang tidak mempertimbangkan
tingkat kenaikan harga (inflasi). Sedangkan pendapatan per kapita riil yaitu pendapatan per
kapita yang sudah mempertimbangkan tingkat kenaikan harga (inflasi).

Misalkan pada tahun 2000 pendapatan per kapita suatu negara mencapai Rp 1.000.000,-. Lalu
pada tahun 2001, pendapatan per kapita nominal negara itu naik hingga tiga kali lipat menjadi
Rp 3.000.000,-.

Setelah dihitung rupanya pada tahun 2001 daya beli masyarakat masih sama seperti pada
tahun 2000. Sebab walaupun pendapatan per kapita nominal di tahun 2001 naik tiga kali lipat,
harga-harga kebutuhan dan lain sebagainya juga naik tiga kali lipat. Alhasil kenaikan nominal
tidak menaikkan kesejahteraan masyarakat.

Dengan begitu, pendapatan per kapita riil masyarakat tidak berubah. Berdasarkan uraian di
atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa naik tidaknya tingkat kesejahteraan (kemakmuran)
masyarakat dilihat dari pendapatan per kapita riilnya, bukan dari pendapatan per kapita
nominal.

FUNGSI PERHITUNGAN PENDAPATAN PER PAPITA

Adapun kegunaan dari penghitungan pendapatan perkapita adalah sebagai berikut :


 Digunakan untuk menjadi perbandingan kesejahteraan penduduk sebuah negara dari
tahun ke tahun
 Sebagai perbandingan kesejahteraan sebuah negara dengan negara lain. Dengan demikian
bisa kita  lihat tingkat kesejahteraan pada tiap tiap negara
 Digunakan sebagai perbandingan tingkat standar hidup setiap negara dari tahun ke tahun
 Sebagai data pengambilan kebijakan bidang ekonomi. Terdapatnya hasil pendapatan
perkapita akan menjadi suatu pertimbangan bagi para pengambil kebijakan dalam bidang
ekonomi.

PENDAPATAN PERKAPITA NEGARA DI DUNIA

1. China

Per Kapita Tiongkok dilaporkan sebesar 9,776.375 USD pada 2018. Rekor ini naik
dibanding sebelumnya yaitu 8,762.232 USD untuk 2017. Data Pdb Per Kapita Tiongkok
diperbarui tahunan,, dengan rata-rata 329.560 USD dari 1957 sampai 2018, dengan 62
observasi. Data ini mencapai angka tertinggi sebesar 9,776.375 USD pada 2018 dan
rekor terendah sebesar 68.243 USD pada [GDP per Capita.MIN_DATE. Data Pdb Per
Kapita Tiongkok tetap berstatus aktif di CEIC dan dilaporkan oleh CEIC Data. Data
dikategorikan dalam Global Economic Monitor World Trend Plus – Table CN.A002:
GDP: By Industry: Current Price (Annual).

2. Australia
Pdb Per Kapita Australia dilaporkan sebesar 57,821.511 USD pada 2018. Rekor ini naik
dibanding sebelumnya yaitu 54,595.545 USD untuk 2017. Data Pdb Per Kapita
Australia diperbarui tahunan,, dengan rata-rata 17,736.479 USD dari 1960 sampai
2018, dengan 59 observasi. Data ini mencapai angka tertinggi sebesar 68,767.222 USD
pada 2013 dan rekor terendah sebesar 1,828.960 USD pada [GDP per
Capita.MIN_DATE. Data Pdb Per Kapita Australia tetap berstatus aktif di CEIC dan
dilaporkan oleh CEIC Data. Data dikategorikan dalam Global Economic Monitor World
Trend Plus – Table AU.A076: SNA08: Gross Domestic Product per Capita.

3. Inggris Raya

PDB Nominal Inggris Raya dilaporkan sebesar 705.0 USD bn pada 2019-03. Rekor ini
naik dibanding sebelumnya yaitu 689.1 USD bn untuk 2018-12. Data PDB Nominal
Inggris Raya diperbarui triwulanan,, dengan rata-rata 238.3 USD bn dari 1957-03
sampai 2019-03, dengan 249 observasi. Data ini mencapai angka tertinggi sebesar
804.1 USD bn pada 2007-12 dan rekor terendah sebesar 15.2 USD bn pada [Nominal
GDP.MIN_DATE. Data PDB Nominal Inggris Raya tetap berstatus aktif di CEIC dan
dilaporkan oleh CEIC Data. Data dikategorikan dalam Global Economic Monitor World
Trend Plus – Table UK.A002: ESA 2010: GDP: by Expenditure: Current Prices:
Seasonally Adjusted.

4. Perancis

PDB Nominal Prancis dilaporkan sebesar 679.9 USD bn pada 2019-03. Rekor ini naik
dibanding sebelumnya yaitu 678.0 USD bn untuk 2018-12. Data PDB Nominal Prancis
diperbarui triwulanan,, dengan rata-rata 247.2 USD bn dari 1957-03 sampai 2019-03,
dengan 249 observasi. Data ini mencapai angka tertinggi sebesar 780.7 USD bn pada
2008-06 dan rekor terendah sebesar 13.5 USD bn pada [Nominal GDP.MIN_DATE. Data
PDB Nominal Prancis tetap berstatus aktif di CEIC dan dilaporkan oleh CEIC Data. Data
dikategorikan dalam Global Economic Monitor World Trend Plus – Table FR.A002: ESA
2010: GDP: by Expenditure: Current Prices: Base 2014: Seasonally and Working Day
Adjusted.

5. Jerman
PDB Nominal Jerman dilaporkan sebesar 978.4 USD bn pada 2019-03. Rekor ini naik
dibanding sebelumnya yaitu 974.3 USD bn untuk 2018-12. Data PDB Nominal Jerman
diperbarui triwulanan,, dengan rata-rata 304.6 USD bn dari 1960-03 sampai 2019-03,
dengan 237 observasi. Data ini mencapai angka tertinggi sebesar 1,029.8 USD bn pada
2018-03 dan rekor terendah sebesar 17.2 USD bn pada [Nominal GDP.MIN_DATE. Data
PDB Nominal Jerman tetap berstatus aktif di CEIC dan dilaporkan oleh CEIC Data. Data
dikategorikan dalam Global Economic Monitor World Trend Plus – Table DE.A002: ESA
2010: GDP: by Expenditure: Current Price: Seasonally and Working Day Adjusted.

6. Indonesia

PDB Nominal Indonesia dilaporkan sebesar 267.6 USD bn pada 2019-03. Rekor ini naik
dibanding sebelumnya yaitu 256.8 USD bn untuk 2018-12. Data PDB Nominal Indonesia
diperbarui triwulanan,, dengan rata-rata 65.1 USD bn dari 1990-03 sampai 2019-03, dengan
117 observasi. Data ini mencapai angka tertinggi sebesar 267.6 USD bn pada 2019-03 dan
rekor terendah sebesar 21.5 USD bn pada [Nominal GDP.MIN_DATE. Data PDB Nominal
Indonesia tetap berstatus aktif di CEIC dan dilaporkan oleh CEIC Data. Data dikategorikan
dalam Global Economic Monitor World Trend Plus – Table ID.AA001: Gross Domestic Product:
By Expenditure: Current Price.

Sejarah Inflasi Di Indonesia

Sejarah Inflasi Di Indonesia - Tahun 1998 saat Negara kita dilanda krisis keuangan sebagai akibat
dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika, sebagian besar masyarakat kita
secara mendadak mengalami “pemiskinan” atas kekayaan yang mereka simpan dan miliki. Nilai
kekayaan mereka mendadak tidak saja turun, tetapi merosot dan terjun bebas. Harga barang
naik dan terus melambung tak terkendali, sejarah inflasi pun terulang kembali. Sebagai
gambaran jika sebelum krisis, dengan uang sebesar 5 – 7 juta rupiah kita bisa membeli sebuah
sepeda motor baru, maka setelah krisis harga sebuah sepeda motor baru mencapai angka 12 –
15 juta rupiah. Artinya nilai kekayaan kita merosot hingga 50% lebih. Secara sederhana krisis
keuangan yang berimplikasi kepada krisis ekonomi tersebut disebabkan karena tidak
seimbangnya neraca pembayaran kita atas dollar Amerika.
Sejarah inflasi di akhir masa orde lama

Sejarah inflasi tahun 1998 itu diawali dan sudah dimulai sejak awal tahun 90 an. Saat itu ( tahun
1990 an ) ekonomi Negara kita sedang tumbuh dan berkembang dengan hangat-hangatnya.
Ibarat gadis cantik belia, Indonesia menarik mata banyak Negara dan investor dalam
mengembangkan bisnis mereka, dan karena itu tentu saja mereka membutuhkan rupiah untuk
memulai aktifitas bisnis mereka di Indonesia. Jadilah rupiah menjadi primadona dan dicari
banyak pihak. Lalu seorang spekulan valas, George Soros dengan dukungan korporasi
internasionalnya memborong rupiah dalam jumlah besar. Terjadilah kelangkaan rupiah yang
melanda tidak saja dunia tetapi juga di negara kita sendiri. Mencari uang rupiah menjadi sangat
sulit, sementara rakyat membutuhkannya untuk digunakan sebagai alat pembayaran. Lalu
terjadilah apa yang disebut beberapa pengamat sebagai “kesalahan Bank Indonesia”, BI atau
otoritas keuangan yang saat itu masih dibawah pemerintah mencetak ( lagi ) dan mengedarkan
rupiah untuk memenuhi kebutuhan akan rupiah. Namun celakanya, kemudian Soros beserta
kroni-kroninya melepas rupiah yang mereka timbun dan sebaliknya menahan dollar mereka,
rupiah pun membanjiri pasar sementara dollar menjadi langka. Hukum ekonomi pun berlaku,
jika penawaran atau supplai barang melebihi permintaan maka harga barang atau jasa itu akan
cenderung turun. Nilai rupiah pun anjlok dan terus-menerus turun hingga pada puncaknya
sekitar tahun 1998 rupiah mencapai nilai terendahnya terhadap dollar Amerika sepanjang
sejarah, yakni sekitar 22 ribu setiap dollarnya.

Lalu apa hubungannya melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika terhadap sejarah
inflasi yang melanda Indonesia saat itu ? Saya mungkin tidak akan bisa menjelaskan masalah
tersebut secara mendetail karena saya bukan ahli atau pengamat ekonomi. Tetapi mari kita
coba untuk memahami masalah tersebut bersama-sama. Selama beberapa dekade terakhir
negara kita sangat menggantungkan “diri” kepada Amerika. Mari untuk tidak terlalu masuk ke
persoalan politik, tetapi fakta bahwa kondisi dan peristiwa-peristiwa politik di masa lampau
membawa negara kita kepada situasi “ketergantungan” kepada Amerika, adalah benar adanya.
Hampir semua segi kehidupan kita termasuk ekonomi kita tergantung kepada Amerika. Hal
demikian juga ditambah fakta bahwa Amerika, dalam beberapa dekade terakhir ( mungkin
sampai saat ini ) adalah negara yang bisa disebut “menguasai dunia”. Mungkin istilah
“menguasai dunia” terlalu berlebihan, tetapi fakta bahwa hampir seluruh negara dunia
menggunakan dollar Amerika sebagai standar pembayaran neraca luar negeri mereka juga tidak
terbantahkan. Hanya saja, dibanding negara lain, tingkat ketergantungan kita, Indonesia, relatif
jauh lebih besar dan dalam. Karena itu juga tingkat kebutuhan kita terhadap dollar Amerika
juga sangat besar.

Turunnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika berdampak kepada naiknya biaya produksi
barang dan jasa dalam rupiah, karena sebagian besar bahan baku produksi diimpor dari luar
negeri yang pembayarannya dilakukan dengan dollar Amerika. Sebagai akibatnya produsen
mau tidak mau menaikkan harga barang dan jasa yang mereka produksi dan sejarah inflasi di
Indonesia pun terulang kembali. Maka begitulah akhirnya inflasi melanda negeri kita yang
puncaknya terjadi pada pertengahan tahun 1998. Harga barang dan jasa melonjak hingga tiga
kali lipatnya. Sendi-sendi ekonomi runtuh, kesejahteraan masyarakat merosot tajam dan
kondisi sosial politik pun bergolak. Puncaknya pemerintahan yang memimpin selama 32 tahun
pun tumbang.

Sejarah inflasi di masa orde lama

Apakah sejarah inflasi hebat di negara kita hanya terjadi pada ujung masa orde lama ?
Sebenarnya tidak, justru saat berlangsungnya masa orde lama negara kita pernah mengalami
inflasi hebat bahkan angkanya mencapai 650%. Sejarah inflasi hebat atau hyperinflasi tersebut
terjadi sebagai akibat tidak stabilnya kondisi sosiopolitik Indonesia saat itu. Sebagai sebuah
negara yang baru merdeka, Indonesia harus bekerja dengan sangat keras untuk membangun.
Setelah lebih dari 3 abad berada dibawah penjajahan bangsa-bangsa asing yang silih berganti,
banyak persoalan yang membutuhkan penanganan dengan segera. Belum lagi situasi keamanan
negara yang masih berada dalam bayang-bayang dan incaran invansi penjajahan bangsa lain.
Ditambah lagi situasi politik dalam negeri yang carut marut dengan munculnya gerakan
pemberontakan PKI. Kekacauan terjadi dimana-mana, demonstrasi besar-besaran melanda
negeri yang kemudian menghasilkan 3 tuntutan rakyat atau Tritura pada 1966 dengan salah
satu poin isinya yang berbunyi : “ Turunkan harga sandang dan pangan”. Masuknya tuntutan
untuk menurunkan harga sandang dan pangan sudah cukup membuktikan bahwa sejarah inflasi
yang terjadi saat itu sudah masuk dalam kategori hyperinflasi, hingga rakyat tak lagi mampu
untuk membeli bahan makanan.

Uang tidak lagi ada harganya, orang lebih suka menyimpan bahan makanan daripada
menyimpan uang. Ataupun jika mereka bersedia menjualnya, mereka menetapkan harga yang
sangat tinggi. Itulah yang dilakukan para pedagang. Mereka lebih senang menyimpan barang
mereka ketimbang menjual. Sebab inflasi yang terjadi sudah memberikan efek lingkaran setan
yang bisa membuat mereka rugi. Jika mereka menjual barang maka uang hasil penjualan barang
tersebut tidak lagi mencukupi untuk mereka membeli kembali barang dagangan ( kulakan ),
karena harga barang terus saja merangkak naik. Orang-orang yang menyimpan harta kekayaan
mereka dalam bentuk uang menjadi miskin mendadak. Uang yang mereka simpan tidak ada
harganya dan tidak laku. Bahkan seorang pegawai memilih tetap dirumah dan tidak mengambil
gaji di kantornya, karena ongkos angkutan umum yang harus dikeluarkannya lebih mahal
daripada gaji yang akan diterimanya.