Anda di halaman 1dari 38

PROPOSAL SKRIPSI

HUBUNGAN VERBAL ABUSE ORANG TUA DENGAN STATUS


EMOSIONAL REMAJA DI SMKN 1 SLAWI

DISUSUN OLEH
NUR LAILATUL MAHFUDAH
C1016102

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN DAN NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BHAKTI MANDALA HUSADA
2020
PROPOSAL

HUBUNGAN VERBAL ABUSE ORANG TUA DENGAN STATUS EMOSIONAL


REMAJA DI SMKN 1 SLAWI

DISUSUN OLEH
NUR LAILATUL MAHFUDAH
C1016102

Disusun untuk memenuhi syarat memperoleh gelar


Sarjana keperawatan pada Program Studi Sarjana Keperawatan dan Ners
Di STIKes BHAMADA Slawi
2020
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan rahmat, hidayah serta inayah-Nya,
sehingga peneliti dapat menyelesaikan proposal skripsi dengan judul “Hubungan
Verbal Abuse Orang Tua dengan Status Emosional Remaja di SMKN 1 Slawi” tepat
pada waktunya. Proposal skripsi ini disusun untuk memenuhi syarat memperoleh
gelar sarjana keperawatan pada Program Studi Sarjana Keperawatan & Ners STIKes
Bhamada Slawi.

Dalam penyusunan proposal ini peneliti banyak mendapatkan bimbingan dan


pengarahan dari kedua pembimbing. Oleh karena itu, peneliti mengucapkan terima
kasih kepada Ibu Susi Muryani, MNS selaku pembimbing I yang telah membimbing
penyusunan proposal penelitian ini dengan penuh kesabaran, memberikan masukan
yang bermanfaat demi kelancaran dan hasil yang baik dalam penelitian yang akan
peneliti lakukan. Kemudian peneliti ucapkan terima kasih kepada Bapak Nurhakim
Yudi Wibowo, M. Kep. selaku pembimbing II yang telah memberikan bimbingan
kepada peneliti dengan penuh kesabaran, memberikan kritik dan saran serta
pengarahan yang baik dalam penyusunan proposal ini.

Selama penyusunan proposal ini penulis mendapatkan banyak bantuan dari berbagai
pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini perkanankan peneliti mengucapkan
terima kasih kepada :

1. Dr. Risnanto selaku Ketua STIKes Bhamada yang telah memberikan izin
kepada peneliti untuk melakukan penelitian.
2. Dwi Budi Prastiani, M. Kep. Ners selaku Ketua Prodi yang telah
memberikan izizn kepada peneliti untuk melakukan penelitian.
3. Kepada Drs. Sufian, M. Eng selaku Kepala Sekolah SMKN 1 Slawi yang
telah memberikan iziz untuk melakukan penelitian di Sekolah SMKN 1
Slawi.
4. Seluruh dosen Program Sarjana Keperawatan dan Ners STIKes Bhamada
Slawi yang telah banyak memberikan ilmu teori maupun praktek lapangan
dan telah memberikan pendidikan moral serta selalu memberikan nasehat
dalam perkuliahan.
5. Untuk bapak, Ibu, Kakak, dan Adik-adik di Cilacap yang selalu
memberikan doa serta semangat kapada peneliti meski jarak kita jauh kalian
tetap memberikan dukungan
6. Untuk Bapak Ade Yusuf dan Ibu Galuh Rahma Esti di Brebes yang selalu
mendukung dan memberikan doa kepada peneliti.
7. Untuk sahabat-sahabatku yang selalu memberikan semangat saat penulis
benar-benar jatuh dan selalu menghibur saat penulis sedih.
8. Serta semua pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan yang
tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu, semoga kebaikan kalian dapat
dibalas oleh Allah SWT.

Slawi, Februari 2020

Nur Lailatul Mahfudah


DAFTAR ISI

DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR SINGKATAN
DAFTAR LAMPIRAN
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan Penelitian
1.3 Manfaat Penelitian

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


2.1

BAB 3 METODE PENELITIAN


3.1

DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR GAMBAR

Tabel 2.3 Kerangka Teori


Tabel 2.4 Kerangka Konsep
DAFTAR TABEL

Tabel 3.4.1 Variabel, Definisi Operasional, Alat Ukur dan Skala


Tabel 3.9 Jadwal Penelitian
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian


Abuse merupakan suatu tindakan yang dapat melukai fisik, mental dan batin
seseorang apabila dilakukan secara terus menerus. Abuse biasanya dilakukan dengan
sengaja untuk mencelakakan, mengintimidasi dan menyakiti orang lain, baik secara
langsung atau tidak langsung (Nindya & Margaretha, 2012). Abuse terdiri dari
beberapa jenis, salah satunya adalah verbal abuse atau verbal abuse (Wibowo &
Parancika, 2018). Verbal abuse merupakan bentuk tindakan yang menggunakan
kata-kata atau bahasa yang dipakai untuk merendahkan, meremehkan, atau
memfitnah dan menyakiti orang lain (Paramita, 2012).

Menurut Wibowo dan Parancika (2018), verbal abuse merupakan bentuk manipulasi
langsung dan tidak langsung yang terjadi di lingkungan sosial, budaya, pendidikan,
dan keluarga. Adapun faktor yang melatarbelakangi terjadinya verbal abuse yaitu
faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal lebih mengarah pada
permasalahan yang ada di lingkungan keluarga, sedangkan faktor eksternal lebih
mengarah pada permasalahan yang ada di lingkungan sosial. Verbal abuse umumnya
juga sering dilakukan oleh keluarga, yang disebabkan karena pola komunikasi yang
salah.

Fenomena verbal abuse di dunia khususnya wilayah Asia-Pasifik, dilaporkan bahwa


hampir satu dari tiga anak perempuan (32 %) dan satu dari empat anak laki-laki (27
%) mengalami verbal abuse. Lebih tinggi dibanding dengan physical abuse yang
hanya 17 % pada anak laki-laki, dan 12 % pada anak perempuan. Sementara sexual
abuse sebanyak 10 % pada anak laki-laki, dan 15 % pada anak perempuan.
Sedangkan selebihnya dalam bentuk pengabaian (Fry, 2016). Sedangkan menurut
Scholastica (2017), anak-anak Indonesia cenderung mengalami verbal abuse
dibandingkan physical abuse. Sebanyak 86,65 % anak laki-laki dan 96,22 % anak
perempuan pernah mengalami verbal abuse. Ironisnya, pelaku yang cukup besar
melakukan verbal abuse pada anak adalah orang terdekat, yaitu orang tua sebanyak
73,3 %. Keluarga khususnya orang tua, melakukan verbal abuse kepada anaknya
sebagai bentuk teguran (Wibowo & Pancarika, 2018).

Penelitian yang dilakukan oleh Sekar (2015), menunjukkan bahwa ada hubungan
negatif yang signifikan antara verbal abuse pada remaja dengan kepercayaan diri
(Sekar, 2015). Selain itu penelitian Ummi (2016), juga menunjukkan bahwa ada
hubungan positif yang signifikan antara verbal abuse orang tua dengan kenakalan
pada remaja awal di Banda Aceh (Ummi, 2016). Beberapa penelitian menyebutkan
bahwa verbal abuse mempengaruhi perkembangan kognitif anak dan ada yang tidak
mempengaruhi. Penelitian yang dilakukan oleh Dinda (2017), menunjukkan bahwa
ada hubungan yang signifikan antara verbal abuse orang tua dengan perkembangan
kognitif pada anak prasekolah. Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa
sebanyak 75,5 % ibu sering melakukan verbal abuse, dan sebagai dampak dari verbal
abuse tersebut menimbulkan sebanyak 57,6 % anak memiliki perkembangan kognitif
yang meragukan, serta 12,2 % anak mengalami perkembangan kognitif yang
menyimpang (Dinda, 2017). Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Handayani
(2019), menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara verbal abuse orang
tua dengan kepercayaan diri anak prasekolah. Hasil penelitian pada responden
menunjukkan sebanyak 74,3 % orang tua melakukan verbal abuse, dan dampak dari
verbal abuse tersebut yaitu menimbulkan sebanyak 77,1 % anak mengalami
kepercayaan diri rendah (Handayani, 2019). Sedangkan penelitian yang dilakukan
Yade dan Yuhendri menyebutkan bahwa tidak terdapat hubungan bermakna antara
kejadian verbal abuse orang tua terhadap perkembangan anak usia prasekolah karena
kebanyakan orang tua berpendidikan tinggi sehingga tahu cara mengasuh anak
dengan baik dan benar dengan persentase 54 % orang tua tidak melakukan verbal
abuse pada anak (Yade dan Yuhendri, 2014).
Verbal abuse dimaknai sebagai bentuk abuse yang halus serta tidak akan
menimbulkan dampak secara langsung, tetapi dapat membuat anak menjadi putus asa
apabila dilakukan secara berulang (Nisa & Wahid, 2014). Hal ini sama dengan
pendapat Gunarsa (2010), bahwa verbal abuse menyebabkan gejala yang tidak
spesifik, seperti terganggunya perkembangan kognitif, agresif, konsep diri yang
rendah, gangguan mental, dan kepribadian anti sosial. Begitu juga dengan Rais
(2017), yang mengatakan bahwa abuse yang dialami oleh anak akan berdampak
terhadap fisik maupun psikis anak yang salah satunya akan mempengaruhi emosional
anak.

Menurut WHO (2018), prevalensi gangguan emosional berupa kecemasan dan


depresi pada anak remaja naik dari 3,9 % pada tahun 2004 menjadi 5,8 % pada tahun
2017. Pada kelompok anak usia 5-19 tahun, sekitar 1 dari 12 (8,1 %) mengalami
gangguan emosional. Untuk kelompok usia 17-19 tahun, hampir 1 dari 4 wanita muda
memiliki kelainan emosional berupa kecemasan yang paling sering dilaporkan.
Fenomena di Indonesia, menurut data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun
2018, prevalensi penyimpangan status mental emosional pada remaja berumur lebih
dari 15 tahun sebesar 9,8%. Angka ini meningkat dibandingkan tahun 2013 yang
hanya sebesar 6,0% (Kemkes, 2019). Selain itu, hasil riset berskala nasional yang
dilakukan oleh Karl dan Supa pada tahun 2018, mengungkapkan bahwa remaja
berusia 15 hingga 19 tahun menunjukkan gejala penyimpangan status emosional
berupa cemas dan depresi tertinggi dibandingkan kelompok usia lain (Anindhita,
2019). Begitu juga penelitian yang dilakukan oleh Kivisild dan Sabre (2014), tentang
kualitas hidup terkait kesehatan pada pasien dengan cedera sumsum tulang belakang
traumatis di Estonia yang menggabungkan aspek orientasi hidup, status emosional,
dan dukungan sosial, pada status emosional menunjukkan bahwa 22,5 % dari subyek
memiliki gejala depresi, 33,8 % cenderung memiliki kecemasan, 10 % panik, 47,5 %
kelelahan, dan 50% insomnia.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan tanggal 2 Februari 2020 pada 5
anak remaja di SMKN 1 Slawi, menunjukkan bahwa sebanyak 3 anak pernah
mengalami perlakuan verbal abuse dari orang tuanya berupa omelan, ancaman, dan
dibentak. Dari 3 anak yang mengalami verbal abuse tersebut sebanyak 2 anak
mengatakan saat mengalami verbal abuse dari orang tua biasanya mereka akan
menghindar dari orang tuanya selama beberapa hari, selain itu mereka juga
mengatakan menjadi lebih malas mengerjakan sesuatu. Dan 1 anak lagi mengatakan
saat mengalami verbal abuse dari orang tua biasanya lebih sering mengurung diri di
kamar dan tidak berkomunikasi dengan orang tua sampai orang tua datang
menemuinya dan menunjukkan perhatian padanya. Berdasarkan fenomena tersebut,
peneliti bermaksud untuk meneliti tentang hubungan antara verbal abuse orang tua
dengan status emosional pada remaja di SMKN 1 Slawi.

1.2 Tujuan Penelitian


1.2.1 Tujuan Umum
Mengidentifikasi hubungan verbal abuse orang tua dengan status
emosional anak remaja di SMKN 1 Slawi.
1.2.2 Tujuan Khusus
1.2.2.1 Mengidentifikasi verbal abuse orang tua anak remaja di SMKN 1
Slawi
1.2.2.2 Mengidentifikasi status emosional anak remaja di SMKN 1 Slawi
1.2.2.3 Mengidentifikasi hubungan verbal abuse orang tua dengan status
emosional anak remaja di SMKN 1 Slawi

1.3 Manfaat Penelitian


1.3.1 Manfaat Aplikatif
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada orang tua
mengenai hubungan verbal abuse terhadap status emosional anak.
1.3.2 Manfaat Keilmuan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan ilmu pengetahuan
khususnya untuk keperawatan anak, keperawatan keluarga dan keperawatan
jiwa yang berkaitan dengan verbal abuse orang tua terhadap status emosional
remaja.
1.3.3 Manfaat Metodologi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai verbal
abuse orang tua terhadap status emosional anak, dan dapat digunakan sebagai
referensi bagi penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan verbal abuse
orang tua maupun penelitian lain yang berhubungan dengan status emosional
remaja, serta mengenai proses penelitian yang baik dan benar.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori dan Konsep Penelitian


2.1.1 Pengertian Verbal Abuse
Verbal abuse adalah kekerasan yang berupa tindakan lisan dalam bentuk cacian,
menggunjing, maupun pelecehan dengan cara membentak (Rendro, 2010). Menurut
Rosenthal (1998), verbal abuse adalah komunikasi yang berisi ancaman, perkataan
kasar, atau menghina kemampuan anak yang dilakukan secara terus menerus dan
berakibat trauma pada anak, perasaan malu, takut, dan rendah diri. Tower (2005)
mengatakan bahwa verbal abuse adalah abuse yang sering dilakukan oleh orang-
orang terdekat anak, dimana terdapat ancaman atau penggunaan kata-kata kasar yang
mengakibatkan luka psikologis, trauma dan hal-hal berbahaya lainnya.
2.1.2 Pelaku Verbal Abuse
Menurut Farida (2010), pelaku verbal abuse terhadap remaja yaitu :
2.1.2.1 Orang Tua
Orang tua adalah ayah dan ibu kandung, atau ayah dan ibu tiri, atau ayah dan
atau ibu angkat. Hubungan anak dengan orang tua berlaku seperti hierarki
sosial di masyarakat. Atasan tidak boleh dibantah. Orang tua tentu saja wajib
ditaati dengan sendirinya. Dalam hierarki seperti itu anak-anak bahkan
remaja berada dalam anak tangga terbawah. Mereka tidak punya hak apapun,
orang dewasa dapat berlaku apa pun kepada anak-anaknya.
2.1.2.2 Teman Sebaya
Teman sebaya akan mempengaruhi perilaku serta nilai-nilai individu. Inilah
yang memicu teman melakukan verbal abuse tanpa disadari ketika bermain
bersama.
2.1.2.3 Guru
Verbal abuse yang dilakukan oleh guru merupakan bentuk teguran atau untuk
memperingatkan, terkadang tanpa disadari ketika remaja sedang belajar di
kelas sering tidak mematuhi perintah guru ataupun mematuhi peraturan yang
sudah ditetapkan sekolah, remaja cenderung sering melanggar peraturan yang
sudah ditetapkan sehingga membuat guru melakukan verbal abuse.
2.1.3 Macam-macam Verbal Abuse
Verbal abuse terdiri dari berbagai macam seperti (Rendro, 2010) :
2.1.3.1 Menghina
Tindakan menghina bisa berupa merendahkan misalnya dengan mengejek
nama panggilan atau menuduh dengan kata bodoh.
2.1.3.2 Mengisolasi
Tindakan mengisolasi misalnya melarang atau membatasi kebebasan dan
kontak dengan orang lain.
2.1.3.3 Penolakan
Tindakan penolakan misalnya mengatakan bahwa dia tidak berguna
mengakibatkan tidak menghargai perasaannya.
2.1.3.4 Menakuti
Tindakan dari menakuti misalnya memaksa untuk melakukan sesuatu,
mengajak pada tempat yang berbahaya.

2.1.4 Dampak verbal Abuse


Abuse yang dialami oleh anak dapat mempengaruhi fisik maupun psikologinya
(Mubiar, 2011). Verbal abuse sangat berpengaruh pada psikologi anak, berikut
dampak-dampak psikologisnya (Gunarsa, 2010) :
2.1.4.1 Mengganggu perkembangan
Anak yang mendapatkan perlakuan salah terus menerus akan memiliki
citra diri yang negatif. Khususnya pada perkembangan kognitif,
menyebabkan anak minder atau tidak percaya diri, murung, tidak bisa
memecahkan masalah.
2.1.4.2 Hubungan sosial/lingkungan
Anak hanya memiliki teman sedikit karena kurang dapat bergaul dengan
orang lain. Mereka suka mengganggu temannya maupun orang dewasa
misalnya melempari batu, menendang atau perbuatan kriminal lainnya.
2.1.4.3 Agresif
Komunikasi yang negatif kepada anak dapat mempengaruhi
perkembangan otaknya, sehingga sulit untuk berpikir panjang. Ia tidak
bisa memecahkan masalah yang dihadapinya karena pusat logika atau
bagian otak yang bernama korteks sudah terganggu. Hal ini bisa
dijalankan jika anak dapat berpikir dengan tenang. Sehingga sikap yang
timbul hanya berdasarkan perasaan tanpa dipertimbangkan terlebih
dahulu, akibatnya anak berperilaku agresif.
2.1.4.4 Konsep diri yang rendah
Konsep diri anak akan terpengaruh jika sering mendapatkan perilaku
yang salah. Anak akan merasa dirinya jelek, tidak dicintai, tidak
bahagia, tidak dikehendaki, dan muram. Menjadikan anak kurang
percaya diri atau sebaliknya menjadi pemberontak.
2.1.4.5 Gangguan emosi
Pada gangguan emosi, anak dapat mengkontrol gangguan emosi pada
perkembangan konsep diri yang positif karena sering mendapat
perlakuan salah dari orang tuanya. Selain itu anak juga dapat menjadi
lebih agresif, menjauhi pergaulan, sulit tidur, kesulitan belajar,
hiperaktif, dan gagal sekolah.
2.1.4.6 Kepribadian anti sosial
Perilaku ini dapat terlihat dengan bohong, sering bolos, dan prestasi di
sekolah buruk.
2.1.4.7 Akibat lain
Dalam jangka panjang jika anak terus menerus mendapat verbal abuse
kelak dikemudian hari anak akan melakukan hal yang sama terhadap
orang lain. Maka verbal abuse akan terus berlanjut dan menjadi sebuah
budaya di masyarakat.

2.1.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Orang Tua Melakukan Verbal Abuse


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi orang tua melakukan verbal abuse,
yaitu (Sutjiningsih, 2011) :
2.1.5.1 Faktor Pengetahuan Orang Tua
Orang tua tidak mengetahui informasi mengenai kebutuhan
perkembangan anak, misalnya anak belum mampu untuk melakukan
sesuatu tetapi karena orang tua tidak mengerti maka anak akan dipaksa
kemudian menjadi marah. Serta kurangnya pengetahuan orang tua
tentang pendidikan maupun agama mempengaruhi abusepada anak.
2.1.5.2 Faktor Keluarga
Faktor keluarga terdiri dari karakteristik anak, keluarga, dan orang tua.
Karakteristik anak yang tidak diinginkan misalnya anak lahir prematur,
memiliki fisik yang tidak normal, anak angkat atau tiri, tingkah laku
yang berbeda menyebabkan orang tua melakukan abuse pada anaknya .
Selain itu karakteristik orang tua dan keluarga juga berperan terjadinya
abuse pada anak seperti; keluarga hanya dengan satu orang tua, orang
tua yang agresif, orang tua dipaksa menikah usia belasan tahun sehingga
emosionalnya belum siap.
2.1.5.3 Faktor Pengalaman
Orang tua yang masa kecilnya mendapat perlakuan salah merupakan
salah satu faktor terjadinya abuse pada anak. Semua tindakan kepada
anak akan direkam dalam bawah sadar mereka hingga dewasa, sehingga
anak yang mendapat perlakuan kasar dari orang tuanya akan menjadi
agresif dan akan berperilaku sama terhadap anaknya kelak.
2.1.5.4 Faktor Sosial Budaya
Norma sosial mempengaruhi tindakan orang tua melakukan verbal
abuse karena di masyarakat tidak ada larangan yang mengkontrol
tindakan abuse pada anak. Orang tua tidak boleh dibantah, tentu saja
wajib ditaati dengan sendirinya. Dalam pemikiran tersebut anak-anak
berada dalam anak tangga terbawah. Mereka tidak punya hak apapaun
sehingga orang dewasa dapat berlaku sesukanya kepada anak-anak.
2.1.5.5 Faktor Ekonomi
Faktor kemiskinan dan tekanan hidup yang meningkat, disertai dengan
kekecewaan atau kemarahan pada pasangan karena tidak dapat
mengatasi masalah ekonomi menyebabkan orang tua mudah meluapkan
emosi, kekecewaan dan ketidakmampuannya kepada orang terdekat.
Anak sebagai makhluk lemah dan berada dalam tangga terbawah
menjadi paling mudah menjadi sasaran.
2.1.5.6 Faktor Lingkungan
Lingkungan hidup mempengaruhi beban terhadap perawatan pada anak.
Televisi merupakan media yang paling dominan pengaruhnya dibanding
majalah maupun surat kabar karena sebagai suatu media yang paling
efektif dalam menyampaikan berbagai pesan-pesan pada masyarakat
yang berpotensi tinggi untuk mempengaruhi perilaku abuse oleh orang
tua.

2.1.6 Status Emosional


Menurut Goleman (1994) emosional adalah suatu perasaan yang khas, suatu keadaan
biologis, psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Status
emosional adalah keadaan emosi seseorang yang mencakup faktor-faktor seperti
depresi, kemarahan, kecemasan, dan lain-lain (Douglas, 2006). Status emosional
dapat ditelaah melalui mimik wajah, postur dan gerakan tubuh yang memicu dan
dipicu oleh tindakan (Amanda, 2014).
2.1.7 Macam-macam Emosi
Menurut Safaria dan Saputra (2009), emosi manusia terbagi menjadi dua macam
yaitu emosi positif dan emosi negatif. Emosi positif adalah emosi yang menenangkan
dan menyenangkan seperti ceria, gembira, semangat, senang, rileks, dll. Sebaliknya
emosi negatif adalah emosi yang menyusahkan dan tidak menyenangkan seperti
marah, dendam, kecewa, depresi, putus asa, frustasi.

2.1.8 Penggolongan Emosi


Menurut Goleman (2007), emosi digolongkan sebagai berikut :
2.1.8.1 Amarah : Beringas, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati,
terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan, tindakan abuse
dan kebencian patologis.
2.1.8.2 Kesedihan : Pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri,
kesepian, ditolak, putus asa, depresi berat.
2.1.8.3 Rasa takut : Cemas, takut, gugup, khawatir, waswas, perasaan takut
sekali, khawatir, waspada, sedih, tidak tenang, ngeri, takut sekali, kecut,
sebagai patologi, fobia dan panik.
2.1.8.4 Kenikmatan : Bahagia, gembira, ringan, puas, senang, riang, terhibur,
bangga, kenikmatan indrawi, takjub, rasa terpesona, rasa puas, rasa
terpenuhi, kegirangan luar biasa, senang, senang sekali, dan batas
ujungnya, mania.
2.1.8.5 Cinta : Penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaika hati, rasa dekat,
bakti, hormat, kasmaran, kasih.
2.1.8.6 Terkejut : Terkejut, terkesiap, takjub, terpana.
2.1.8.7 Jengkel : Hina, jijik, muak, mual, benci, tidak suka, mau muntah.
2.1.8.8 Malu : Rasa salah, malu hati, kesal hati, sesal, hina, aib, dan hati hancur
lebur.

2.1.9 Status Emosional Remaja


Menurut Azmi (2014), masa remaja merupakan peralihan antara masa anak-anak ke
masa dewasa. Pada masa ini remaja mengalami perkembangan fisik, mental, sosial
dan emosional. Sebagai individu yang tumbuh dan berkembang remaja mempunyai
semangat dan keinginan yang tinggi dan meluap-luap. Emosi remaja yang meluap-
luap tersebut harus mendapat perhatian dan kesempatan yang memadai untuk dikelola
dan disalurkan. Menurut Asrori (Azmi, 2014), masa remaja beserta karakteristik
emosinya dibagi menjadi empat periode, yaitu : pra-remaja, remaja awal, remaja
tengah, dan remaja akhir
2.1.9.1 Periode Pra-remaja
Periode ini disertai dengan sifat kepekaan terhadap rangssangan-
rangsangan dari luar, responnya biasanya berlebihan sehingga mereka
mudah tersinggung dan cengeng, tetapi juga cepat merasa senang atau
bahkan meledak-ledak.
2.1.9.2 Periode Remaja Awal
Perkembangan fisik yang semakin jelas adalah perubahan fungsi alat-
alat kelamin. Karena perubahan alat-alat kelamin serta perubahan fisik
yang semakin nyata tersebut, remaja seringkali mengalami kesulitan
dalam menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan tersebut.
Akibatnya tidak jarang mereka cenderung menyendiri sehingga tidak
jarang pula merasa terasing, kurang perhatian dari orang lain, atau
bahkan merasa tidak ada orang yang mau mempedulikannya. Kontrol
terhadap diri menjadi semakin sulit, dan menjadi cepat marah dengan
cara-cara yang kurang wajar untuk meyakinkan dunia sekitarnya.
Perilaku tersebut terjadi karena adanya kecemasan terhadap dirinya
sendiri sehingga muncul dalam reaksi yang kadang-kadang tidak wajar.
2.1.9.3 Periode Remaja Tengah
Tanggung jawab hidup yang harus semakin ditingkatkan oleh remaja
seringkali menimbulkan masalah tersendiri bagi remaja. Karena
tuntutan tersebut tidak hanya datang dari orang tua atau anggota
keluarga melainkan juga dari masyarakat sekitar, maka tidak jarang
masyarakat juga terbawa-bawa menjadi masalah bagi remaja. Melihat
fenomena yang sering terjadi di masyarakat yang seringkali
menunjukkan adanya kontradiksi dengan nilai-nilai moral yang mereka
ketahui, maka tidak jarang remaja mulai meragukan tentang apa yang
disebut baik atau buruk. Akibatnya, remaja seringkali ingin membentuk
nilai-nilai mereka sendiri yang mereka anggap benar, baik dan pantas
untuk dikembangkan dikalangan mereka sendiri. Lebih-lebih jika orang
tua atau orang dewasa di sekitarnya ingin memaksakan nilai-nilainya
agar dipatuhi oleh remaja tanpa disertai dengan alasan yang masuk akal
menurut mereka atau bahkan orang di sekitarnya menunjukkan perilaku
yang tidak konsisten dengan nilai-nilai yang dipaksakannya itu.
2.1.9.4 Periode Remaja Akhir
Selama periode ini remaja memandang dirinya sebagai orang dewasa
dan mulai mampu menunjukkan pemikiran, sikap, dan perilaku yang
semakin dewasa. Oleh karena itu, orang tua dan masyarakat mulai
memberikan kepercayaan kepada mereka. Interaksi dengan orang tua
juga semakin baik dan lancar karena mereka sudah memiliki kebebasan
yang relatif terkendali serta emosinya pun mulai stabil. Pilihan arah
hidup sudah semakin jelas dan mulai mampu mengambil pilihan serta
keputusan tentang arah hidupnya juga lebih bijaksana meskipun belum
bisa secara penuh. Mereka juga mulai memilih cara-cara hidup yang
dapat dipertanggungjawabkan terhadap dirinya sendiri, orang tua, dan
masyarakat.

2.1.10 Faktor yang Mempengaruhi Emosi Remaja


Menurut Asrori (Azmi, 2014), faktor yang mempengaruhi emosi remaja yaitu sebagai
berikut :
2.1.10.1 Perubahan Jasmani
Perubahan jasmani ditunjukkan dengan adanya pertumbuhan yang
sangat cepat dari anggota tubuh. Pada permulaan pertumbuhan ini
hanya terbatas pada bagian-bagian tertentu saja yang mengakibatkan
postur tubuh menjadi tidak seimbang. Ketidakseimbangan tubuh
tersebut mengakibatkan perubahan emosi remaja yang tidak terduga.
Tidak semua remaja dapat menerima perubahan kondisi tubuh
tersebut, lebih-lebih jika perubahan tersebut menyangkut perubahan
kulit seperti menjadi kasar dan penuh jerawat. Hormon-hormon
tertentu mulai berfungsi sejalan dengan perkembangan alat
kelaminnya sehingga dapat menyebabkan rangsangan dalam tubuh
remaja dan seringkali menimbulkan masalah dalam perkembangan
emosinya.
2.1.10.2 Perubahan Pola Interaksi dengan Orang Tua
Pola asuh orang tua terhadap anak, termasuk remaja sangat
bervariasi. Ada yang pola asuhnya menurut apa yang dianggap
terbaik oleh dirinya sendiri saja sehingga ada yang bersifat otoriter,
memanjakan anak, acuh tak acuh, tetapi ada juga yang dengan penuh
cinta kasih. Perbedaan pola asuh orang tua yang seperti ini dapat
berpengaruh terhadap perbedaan emosi remaja. Cara memberikan
hukuman misalnya, jika dulu anak dipukuli karena nakal, pada
remaja cara semacam itu justru dapat menimbulkan ketegangan yang
berat antara remaja dengan orang tuanya. Pemberontakan terhadap
orang tua menunjukkan bahwa mereka berada dalam konflik dan
ingin melepaskan diri dari pengawasan orang tua. Mereka tidak
merasa puas jika tidak pernah sama sekali menunjukkan perlawanan
terhadap orang tua karena ingin menunjukkan seberapa jauh dirinya
telah berhasil menjadi orang yang lebih dewasa. Jika mereka berhasil
dalam perlawanan terhadap orang tua sehingga menjadi marah,
mereka pun belum merasa puas karena orang tua tidak menunjukkan
pengertian yang mereka harapkan dari orang tua mereka. Keadaan
seperti ini berpengaruh terhadap emosi remaja.
2.1.10.3 Perubahan Interaksi dengan Teman Sebaya
Remaja seringkali membangun interaksi sesama teman sebayanya
secara khas dengan cara berkumpul untuk melakukan aktivitas
bersama dengan membentuk semacam geng. Interaksi antara anggota
dalam satu kelompok geng biasanya sangat intens serta memiliki
kohesivitas dan solidaritas sangat tinggi. Pembentukan kelompok
dalam geng seperti ini sebaiknya diusahakan terjadi pada masa
remaja awal saja karena biasanya bertujuan positif, yaitu untuk
memenuhi minat mereka bersama. Usahakan menghindari
membentuk kelompok secara geng seperti itu ketika sudah memasuki
masa remaja tengah atau masa remaja akhir. Pada masa ini para
anggotanya biasanya membutuhkan teman-teman untuk melawan
otoritas atau melakukan perbuatan yang tidak baik atau bahkan
kejahatan bersama. Faktor yang sering menimbulkan masalah emosi
pada masa ini adalah hubungan cinta dengan lawan jenis. Pada masa
remaja tengah, biasanya remaja mulai jatuh cinta dengan lawan
jenisnya. Gejala ini sebenarnya sehat bagi remaja, tetapi tidak jarang
juga menimbulkan konflik atau gangguan emosi pada remaja jika
tidak diikuti bimbingan dari orang tua atau orang yang lebih dewasa.
Oleh sebab itu, tidak jarang orang tua justru merasa tidak gembira
atau bahkan cemas ketika anak remajanya jatuh cinta. Gangguan
emosional yang mendalam dapat terjadi ketika cinta remaja tidak
tejawab atau karena pemutusan hubungan cinta dari satu pihak
sehingga dapat menimbulkan kecemasan bagi orang tua dan bagi
remaja itu sendiri.
2.1.10.4 Perubahan Pandangan Dunia Luar
Sejumlah perubahan pandangan dunia luar yang dapat menyebabkan
konflik-konflik emosional dalam diri remaja yaitu sikap dunia luar
terhadap remaja yang tidak konsisten. Kadang-kadang mereka
dianggap sudah dewasa, tetapi mereka tidak mendapat kebebasan
penuh atau peran yang wajar sebagaimana orang dewasa. Seringkali
mereka masih dianggap anak kecil sehingga berakibat timbulnya
kejengkelan pada diri remaja. Kejengkelan yang mandalam dapat
berubah menjadi tingkah laku emosional. Dunia luar atau
masyarakat masih menerapkan nilai-nilai yang berbeda untuk remaja
laki-laki dan perempuan. Jika remaja laki-laki memiliki banyak
teman perempuan, mereka mendapat predikat “popular” dan
mendatangkan kebanggaan. Sebaliknya jika remaja putri mempunyai
banyak teman laki-laki sering dianggap tidak baik atau bahkan
mendapat predikat yang kurang baik juga. Penerapan nilai yang
berbeda semacam ini jika tidak disertai dengan pemberian pengertian
secara bijaksana dapat menyebabkan remaja bertingkah laku
emosional. Seringkali kekosongan remaja dimanfaatkan oleh pihak
luar yang tidak bertanggung jawab yaitu dengan cara melibatkan
remaja tersebut ke dalam kegiatan-kegiatan yang merusak dirinya
dan melanggar nilai-nilai moral ; seperti : penyalahgunaan obat
terlarang, minum-minuman keras, atau tindak kriminal dan
kekerasan. Perlakuan dunia luar semacam ini akan sangat merugikan
bagi perkembangan emosi remaja.
2.1.10.5 Perubahan Interaksi dengan Sekolah
Sekolah merupakan tempat yang amat diidealkan bagi anak-anak
sebelum menginjak remaja. Para guru merupakan tokoh yang sangat
penting dalam kehidupan karena selain tokoh intelektual, guru juga
merupakan tokoh otoritas bagi para peserta didiknya. Oleh karena itu
tidak jarang anak-anak lebih percaya, lebih patuh, bahkan lebih takut
pada guru ketimbang kepada orang tuanya. Posisi guru semacam ini
sangat strategis bila digunakan untuk pengembangan emosi anak
melalui penyampaian nilai-nilai luhur, positif dan konstruktif. Dalam
menuju pembaharuan para remaja sering terbentur pada nilai-nilai
yang tidak dapat mereka terima atau yang sama sekali bertentangan
dengan nilai-nilai yang menarik bagi mereka. Pada saat inilah timbul
idealisme untuk mengubah lingkungannya. Idealisme seperti ini
tentunya tidak boleh diremehkan dengan anggapan bahwa semuanya
akan muncul jika mereka sudah dewasa. Sebab, idealisme yang
dikecewakan dapat berkembang menjadi tingkah laku emosional
yang destruktif. Sebaliknya jika remaja berhasil diberikan
penyaluran yang positif untuk mengembangkan idealismenya akan
sangat bermanfaat bagi perkembangan lebih lanjut sampai mereka
memasuki masa dewasa.
2.2 Kerangka Teori

Pelaku verbal abuse pada Dampak psikologis :


remaja : 1. Mengganggu
1. Orang tua perembangan anak
2. Teman sebaya 2. Hubungan sosial
3. Guru terganggu
(Farida, 2010) 3. Agresif
4. Konsep diri rendah
5. Gangguan emosi
6. Kepribadian anti
sosial
(Gunarsa, 2010)

2.3 Kerangka Konsep Penelitian

Verbal abuse orang tua Status emosional remaja

Variabel bebas variabel terikat

2.4 Hipotesis
Menurut Riyanto (2011), hipotesis berasal dari kata hupo dan thesis, hupo artinya
kebenarannya dan thesis artinya pernyataan, jadi hipotesis adalah pernyataan
sementara yang kebenarannya perlu dilakukan pengujian. Berdasarkan tinjauan
pustaka yang dilakukan peneliti, maka hipotesisnya adalah :
Ho : Tidak ada hubungan verbal abuse orang tua dengan status emosional anak
remaja di SMKN 1 Slawi.
Ha : Ada hubungan verbal abuse orang tua dengan status emosional anak remaja di
SMKN 1 Slawi.
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif, menggunakan metode
deskriptif korelasional dengan pendekatan Cross sectional, dimana variabel verbal
abuse orang tua dan variabel status emosional remaja diukur dalam waktu yang
bersamaan dan sesaat (Notoatmodjo, 2010).

3.2 Alat Penelitian dan Cara Pengumpulan Data


3.2.1 Alat Penelitian
Alat ukur yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini berupa
kuesioner yang meliputi :
Kuesioner A digunakan untuk mengumpulkan data demografi dari responden yang
meliputi nama inisial dan umur responden.
Kuesioner B berisi pertanyaan-pertanyaan untuk mengidentifikasi pengalaman verbal
abuse oleh orang tua yang dialami responden. kuesioner tersebut diadopsi dari
penelitian Astuti tetapi telah dimodifikasi oleh peneliti. Kuesioner sebanyak 18
pertanyaan mengenai perilaku orang tua kepada anak dengan ucapannya yang
mencerminkan verbal abuse. Kuesioner ini menggunakan skala Guttman dan pilihan
jawaban alternatifnya yaitu ; Ya dan Tidak. Skor untuk tiap jawaban yaitu 1 untuk
jawaban Ya dan 0 untuk jawaban Tidak. Interpretasi kuesioner ini yaitu dikatakan
mengalami verbal abuse jika terdapat satu atau lebih jawaban Ya, dan dikatakan tidak
mengalami verbal abuse jika tidak terdapat satupun jawaban Ya.
Kuesioner C untuk mengukur status emosional menggunakan The Emotional State
Questionnaire (EST-Q), yaitu skala penilaian yang dikembangkan di Estonia untuk
skrining depresi sebanyak 8 pertanyaan, kecemasan sebanyak 6 pertanyaan,
agoraphobia-panic sebanyak 5 pertanyaan, kelelahan sebanyak 5 pertanyaan, dan
insomnia sebanyak 4 pertanyaan. EST-Q terdiri dari 28 pertanyaan dan
menggunakan skala likert dengan pilihan jawaban : Tidak pernah, jarang, kadang-
kadang, sering, dan selalu. Dengan skor 0 untuk jawaban tidak pernah, 1 untuk
jawaban jarang, 2 untuk jawaban kadang-kadang, 3 untuk jawaban sering, dan 4
untuk jawaban selalu. Interpretasi kuesioner ini yaitu dikatakan mengalami depresi
jika skor > 11, mengalami agoraphobia-panic jika skor > 6, mengalami kecemasan
jika skor > 8, mengalami kelelahan jika skor > 6, mengalami insomnia jika skor > 6.

3.2.2 Cara Pengumpulan Data


Pengumpulan data adalah langkah yang paling utama dan penting dalam suatu
penelitian karena tujuan utama dari penelitian adalah untuk mendapatkan data. Tanpa
mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data
yang diharapkan dan memenuhi standar data yang ditetapkan (Sugiyono, 2012).

Langkah-langkah dalam penelitian ini dimulai dengan menyelesaikan proposal dan


melakukan sidang proposal, setelah proposal disetujui, peneliti mendapatkan ijin
penelitian dari Ketua Program Studi S1 Ilmu Keperawatan Stikes Bhamada Slawi .
Selanjutnya peneliti mengajukan permohonan ijin penelitian ke Dinas Pendidikan
kota Tegal sebagai surat pengantar yang ditujukan ke sekolah SMKN 1 Slawi.
Kemudian setelah mendapatkan izin penelitian dari kepala sekolah, peneliti
melakukan penelitian terhadap 331 responden di SMKN 1 Slawi pada tanggal 21
April 2020. Pengumpulan data sebanyak 331 responden dilakukan oleh peneliti
sendiri dengan didampingi bagian Humas SMKN 1 Slawi.

Peneliti mendatangi kelas satu per satu. Kemudian memperkenalkan diri sebelum
proses penelitian dimulai. Dilanjutkan dengan menjelaskan tujuan, manfaat, dan
prosedur penelitian kepada calon responden. Selanjutnya peneliti membagikan
lembar informed consent. Calon responden berhak untuk bersedia maupun menolak
menjadi responden dalam penelitian. Calon responden yang bersedia menjadi
responden harus menandatangani lembar informed consent yang sudah disediakan
peneliti terlebih dahulu. Setelah semua responden menyetujui untuk menjadi
responden dan tidak ada pertanyaan yang ingin diajukan maka selanjutnya peneliti
membagikan kuesioner. Waktu yang dibutuhkan untuk mengisi kuesioner kurang
lebih 15 menit. Peneliti mendampingi responden dalam proses pengisian kuesioner ,
sehingga apabila ada pertanyaan yang tidak bisa dipahami dalam kuesioner responden
bisa langsung bertanya kepada peneliti. Setelah selesai mengisi kuesioner peneliti
langsung memeriksa kembali kelengkapan kuesioner yang telah diisi. Setelah semua
kuesioner lengkap terisi peneliti berpamitan dan tidak lupa mengucapkan terima
kasih. Peneliti juga melakukan dokumentasi dalam bentuk foto ketika proses
penelitian berlangsung.

3.3 Populasi dan Sampel


Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMKN 1 Slawi yang berjumlah 1918
siswa. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik
pengambilan sampel yang dilakukan berdasarkan maksud dan tujuan tertentu
(Sugiyono, 2012).

Sampel dalam penelitian ini berjumlah 331 orang. Sampel penelitian diambil dari
seluruh siswa yang ada di SMKN 1 Slawi dengan berdasarkan pada kriteria inklusi
dan ekslusi sebagai berikut :

3.3.1 Kriteria inklusi


Merupakan persyaratan umum yang harus dipenuhi oleh subyek agar dapat
diikutsertakan ke dalam penelitian (Notoatmodjo, 2010). Kriteria inklusi dalam
penelitian ini yaitu :
3.3.1.1 Siswa di SMKN 1 Slawi
3.3.1.2 Bersedia menjadi responden
3.3.1.3 Sehat jasmani dan rohani

3.3.2 Kriteria ekslusi


Merupakan keadaan yang menyebabkan subyek yang memenuhi kriteria inklusi tidak
dapat diikutsertakan dalam penelitian (Notoatmodjo, 2010). Kriteria ekslusi dalam
penelitian ini yaitu :
3.3.2.1 Remaja yang tidak bisa baca tulis
3.3.2.2 Remaja yang mengalami kecacatan fisik
3.3.2.3 Siswa SMKN 1 Slawi yang tidak bersedia untuk menjadi responden

3.4 Besar Sampel


berdasarkan data yang didapat di SMKN 1 Slawi, jumlah siswa sebanyak 1918 siswa.
Teknik sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sample, dengan
memperhatikan kriteria inklusi dan ekslusi (Notoatmodjo, 2010).

Penentuan besar sampel dalam penelitian ini menggunakan pendekatan Slovin


(2010).

N Keterangan :
n=
1+ N d2 n : besar sampel
N : besar populasi
d : tingkat kepercayaan (0,05 atau 5%)

N
n=
1+ N d2
1918
= 2
1+ 1918(0,05)
1918
=
1+ 1918 ( 0,0025 )
= 330,97
= 331
Jadi, besar sampel dalam penelitian ini adalah 331 sampel
3.5 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di sekolah SMKN 1 Slawi. Waktu pelaksanaan penelitian
pada tanggal 21 April 2020.

3.6 Definisi Operasional Variabel Penelitian dan Skala Pengukuran


Variabel Definisi Alat ukur Hasil ukur Skala
operasional
Variabel bebas Merupakan Kuesioner Dikatakan Nominal
: suatu bentuk verbal abuse mengalami
Verbal abuse tindakan terdiri dari 18 verbal abuse jika
orang tua abusedalam item terdapat satu atau
bentuk verbal pertanyaan. lebih jawaban Ya.
yang dilakukan Jawaban Dikatakan tidak
oleh orang tua dikategorikan mengalami
terhadap anak dengan skala verbal abuse jika
Guttman. Bila tidak terdapat
responden satupun jawaban
menyatakan Ya.
Ya, skor =1,
Tidak, skor =0.
Variabel Merupakan Kuesioner The Remaja dikatakan Ordinal
terikat : gambaran Emotional mengalami
Status psikologik State depresi jika skor
emosional yang dapat Questionnaire > 11, mengalami
remaja diukur pada (EST-Q). agoraphobia-
remaja Terdiri dari 28 panic jika skor >
pertanyaan. 6, mengalami
Menggunakan kecemasan jika
skala Likert skor > 8,
dengan pilihan mengalami
jawaban : tidak kelelahan jika
pernah, jarang, skor > 6,
kadang- mengalami
kadang, sering, insomnia jika
dan selalu. skor > 6.
Bila responden
menyatakan
tidak pernah,
skor = 0,
jarang, skor =
1, kadang-
kadang, skor =
2, sering, skor
= 3, dan selalu,
skor = 4

3.7 Teknik Pengolahan Data dan Analisa Data


3.7.1 Metode pengolahan data
Menurut Notoatmodjo (2010), tahapan pengolahan data dalam penelitian
meliputi :
3.7.1.1 Editing
Meneliti kembali kuesioner yang sudah terkumpul. Editing
dilakukan di tempat pengumpulan data, sehingga apabila ada
kekurangan data peneliti dapat meminta responden untuk
melengkapinya.
3.7.1.2 Coding
Mengklasifikasikan jawaban-jawaban yang ada menurut
macamnya. Klasifikasi dilakukan dengan jalan menandai masing-
masing jawaban dengan kode berupa angka kemudian dimasukkan
dalam lembaran table kerja untuk mempermudah pembacaan.
Pemberian kode meliputi :
Verbal abuse orang tua
Mengalami verbal abuse diberi kode 1
Tidak mengalami verbal abuse diberi kode 2

Status emosional remaja


Depresi diberi kode 1
Agoraphobia-panic diberi kode 2
Cemas diberi kode 3
Lelah diberi kode 4
Insomnia diberi kode 5
3.7.1.3 Tabulating
Langkah memasukkan data-data hasil penelitian ke dalam tabel
sesuai kriteria yang telah ditentukan.
3.7.1.4 Entry data
Proses memasukkan data ke dalam kategori tertentu untuk
dilakukan analisis data terkait tentang verbal abuse orang tua dan
status emosional remaja dengan menggunakan bantuan program
komputer.
3.7.1.5 Cleaning
Mengecek kembali data yang sudah dientry untuk memastikan ada
atau tidaknya kesalahan saat memasukkan data ke komputer.

3.7.2 Analisa Data


3.7.2.1 Analisa Univariat
Analisa unuvariat adalah analisa yang digunakan untuk menganalisis variabel
tunggal (Buchari, 2012). Analisis ini digunakan untuk mencari satu variabel
saja. Dalam penelitian ini, variabel yang dianalisis adalah verbal abuse orang tua
dan status emosional remaja. Ringkasan data digunakan dalam bentuk data
kategorik di mana frekuensi atau jumlah tiap kategori (n) dan persentase tiap
kategori (%). Penyajian data dalam analisis univariat disajikan dalam bentuk
tabel maupun diagram kemudian dipresentasikan. Distribusi setiap variabel
dihitung dengan rumus (Danim, 2007) :
f
p= x 100 %
n
Keterangan :
P : presentase
F : frekuensi
100 : bilangan tetap
N : jumlah subjek
3.7.2.2 Analisis Bivariat

Analisis bivariat adalah metode yang digunakan untuk melihat dua variabel yaitu
bebas (independent) dan variabel terikat (dependent). Dalam penelitian ini,
analisis bivariat digunakan untuk mengatahui hubungan variabel indepanden
yaitu verbal abuse orang tua dengan variabel dependen yaitu status emosional
remaja.

Langkah awal peneliti yaitu melakukan uji normalitas data pada variabel yang
diteliti untuk melihat apakah data terdistribusi normal atau tidak. Peneliti
menggunakan perhitungan kolmogorov smirnov karena jumlah sampel besar
(>50) (Dahlan, 2013). Analisa bivariat yang digunakan dalam penelitian ini
adalah uji korelasi Spearman Rho, dengan rumus sebagai berikut (Amalia dan
Siti, 2015) :

2
6 ∑ d❑
rs=1− ❑
n (n¿¿ 2−1) ¿
Keterangan :
R : koefisien korelasi Spearman

∑ d❑2 : total kuadrat selisih antar ranking

n : jumlah sampel penelitian


Ada tidaknya hubungan yang signifikan antara variabel bebas dan variabel terikat
dilihat dengan membandingkan p value dengan tingkat kesalahan alpha sebesar
0,05. Apabila p value < 0,05 maka hipotesis penelitian ini diterima, yang berarti
adanya hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Apabila p value >
0,05, maka hipotesis dalam penelitian ini ditolak, yang berarti tidak ada
hubungan yang signifikan antara variabel bebas dan variabel terikat (Amalia dan
Siti, 2015).

3.8 Etika Penelitian


Etika penelitian merupakan masalah yang sangat penting dalam penelitian
keperawatan karena dalam penelitian ini berinteraksi langsung dengan manusia.
Etika penelitian menjadi suatu kewajiban bagi peneliti karena penelitian yang
dilakukan harus dapat dipertanggungjawabkan dari segi ilmiah, moral, dan etik
yang berdasarkan ketuhanan dan perikemanusiaan. Penelitian diharapkan
menerapkan empat prinsip sebagai berikut (Nursalam, 2008) :

3.8.1 Menghormati harkat dan martabat manusia (respect for human dignity)
Dalam penelitian ini peneliti menghargai hak-hak responden dan
memberikan kebebasan kepada responden untuk berpartisipasi dalam
penelitian atau tidak. Responden yang bersedia maka mengisi dan
menandatangani informed consent. Sebelum meminta persetujuan, peneliti
menjelaskan terlebih dahulu mengenai teknis penelitian.
3.8.2 Menghormati privasi dan kerahasiaan responden (respect for privacy and
confidentiality)
Dalam penelitian ini peneliti menjaga kerahasiaan responden, karena
responden memiliki privasi masing-masing dengan tidak memberitahu
identitas responden kepada orang lain. Dalam penelitian ini, responden
hanya diminta untuk menuliskan inisial dan peneliti juga tidak
memberitahukan identitas responden kepada orang lain.
3.8.3 Keadilan dan keterbukaan (respect for justice and inclusiveness)
Dalam penelitian ini, peneliti menjelaskan terlebih dahulu tentang prosedur
penelitian kepada responden bertujuan untuk menjaga prinsip keadilan,
kejujuran dan keterbukaan. Peneliti memberikan kesempatan kepada
responden untuk menanyakan hal yang dianggap belum jelas dan juga
responden diperlakukan secara sama tanpa membedakan suku, ras, agama,
status ekonomi dan sebagainya.
3.8.4 Memperhitungkan manfaat dan kerugian yang ditimbulkan (balancing
harms and benefits)
Peneliti berusaha untuk memberikan manfaat sebaik-baiknya bagi
masyarakat khususnya responden. Responden diharapkan dapat
mengetahui status emosionalnya. Peneliti tidak merugikan responden
dengan tidak mengganggu waktu aktivitas dan memaksakan kehendak
responden, karena peneliti sudah meminta izin terlebih dahulu sebelum
melaksanakan penelitian.
DAFTAR PUSTAKA

Amanda, R. S. (2014). Entrepreneur dan Otak Kotornya. Jakarta : Elexmedia


Komputindo.

D. Fry. (2016). Preventing Violence Against Children and How this Contributes to
Building Stronger Economies. Kuala Lumpur : Thematic Research Paper for
The 3rd High-Level Meeting on Cooperation for Child Rights in the Asia-
Pacific Region. Diakses tanggal 28 Januari 2020 melalui
https://scholar.google.com/scholar?hl=id&as_sdt=0%2C5&q=studi+D.+Fry
%C2%A0%282016%29+%22Preventing+Violence
%C2%A0Against+Children+and%C2%A0How%C2%A0This
%C2%A0Contributes&btnG=

Rendro DS. (2010). Beyond borders : Comunication Modernity & History. Jakarta :
London of Public

Sutikno RB. (2010). The Power of aq for hr and Company Development. Jakarta : PT
Gramedia Pustaka Utama

Mubiar AS, Erna Wulan. (2011). Bimbingan Konseling untuk Anak usia Dini. Jakarta
: Universitas Terbuka

Gunarsa, Singgih D. (2010). Psikologi Praktis : Anak, Remaja dan Keluarga.


Jakarta : BPK Gunung Mulia

Soetjiningsih. (2012). Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : EGC

Notoatmodjo. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta

Nindya, P. N. dan Margaretha, R. (2012). Hubungan antara AbuseEmosional


pada Anak terhadap Kecenderungan Kenakalan Remaja. Jurnal Psikologi
Klinis dan Kesehatan Mental Vol. 1 No. 2. Surabaya ; Universitas Air Langga

Paramita, Vidya greta. (2012). Emosional Abuse dalam Hubungan Suami Istri. Jurnal
Humaniora Vol. 3 No. 1. Jakarta : Bina Nusantara university

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,


dan R&D. Bandung : Alfabeta
Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta

Dinda, Vera W. (2017). Hubungan Verbal Abuse terhadap Perkambangan Kognitif


Anak Usia Prasekolah di Kelurahan Reban Kabupaten Batang. Semarang :
Departemen Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro

Handayani, Eti. (2019). Hubungan Verbal Abuse Orang Tua dengan Kepercayaan
Diri Anak Prasekolah di TK Miftahul Ulum Desa Kalisapu Kecamatan Slawi.
Slawi : Stikes bhamada

Wibowo, F. dan Parancika, B. (2018). Verbal abuse (Verbal Abuse) di Era


Digital sebagai Faktor Penghambat Pembentukan Karakter. Yogyakarta :
SEMNAS UNY

Douglas, et. all. (2006). Brain Injury Medicine : Principles and Practice. New York
City : Demos medical

Kivisild, A. et. All. (2014). Health-related quality of life in patients with traumatic
spinal cord injury in Estonia. https://www.nature.com/articles/sc201447
diakses 22 Februari 2022

Zamperoni, Victoria. (2018). What New Statistic Show about Children’s Mental
Health. England : Mental Health Foundation.
https://www.mentalhealth.org.uk/blog/what-new-statistics-show-about-
childrens-mental-health diakses 24 Februari 2020

Buchari L. (2012). Metode Penelitian Kesehatan ; Metode Ilmiah Penulisan Skripsi,


Tesis, Disertasi. Jakarta : Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Dahlan MS. (2013). Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta : Salemba
Medika

Danim S. (2007). Riset Keperawatan : Sejarah dan Metodologi. Jakarta : EGC

Amalia, Irwan G dan Siti. (2015). Alat Analisis Data : Aplikasi Statistik untk
Penelitian Bidang Ekonomi dan Sosial. Yogyakarta : CV. Andi Offset

Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan


: Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Jakarta :
Salemba Medika