Anda di halaman 1dari 32

UNIVERSITAS INDONESIA

PENGEMBANGAN FORMULASI PRODUK HERBAL


SIRUP EKSTRAK DAUN SENNA

MAKALAH
TEKNOLOGI SEDIAAN HERBAL
Dosen Pengampu: Silvia Surini, M. Pharm. Sc., Ph.D

Disusun Oleh:

EEM MASAENAH
1906338573

FAKULTAS FARMASI
PROGRAM MAGISTER HERBAL
DEPOK
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
rakhmat dan karunia-Nya penulis dapat menyusun dan menyelesaikan makalah yang
berjudul “Pengembangan Formulasi Produk Herbal Sirup Ekstrak Daun Senna” ini tepat
pada waktunya. Penyusunan makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi salah satu tugas
yaitu sebagai Ujian Akhir Semester mata kuliah Teknologi Sediaan Herbal.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Silvia Surini, M. Pharm. Sc., Ph.D,
sebagai dosen pengampu mata kuliah Teknologi Sediaan Herbal yang telah membimbing
dalam pembuatan makalah. Terima kasih juga kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyelesaian makalah, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Makalah ini masih jauh dari sempurna sehingga kritik dan saran yang membangun
sangat penulis harapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan bagi
perkembangan ilmu pengetahuan.

Depok, Juni 2020

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................... 2
DAFTAR ISI .................................................................................................... 3
DAFTAR GAMBAR........................................................................................ 4
DAFTAR TABEL ............................................................................................ 5
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... 6

1. PENDAHULUAN ........................................................................................ 7
1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 7
1.2 Tujuan Penulisan ................................................................................. 8

2. ISI DAN PEMBAHASAN ........................................................................... 9


2.1 Pertimbangan Fisikokimia Senyawa Aktif ........................................... 9
2.2 Pertimbangan Biofarmasetika Senyawa Aktif .................................... 13
2.2.1 Efek Farmakologi ................................................................. 13
2.2.2 Efek Farmakokinetika .......................................................... 15
2.3 Pertimbangan Farmasetika dan Formulasi .......................................... 16
2.3.1 Perhitungan Dosis ................................................................ 16
2.3.2 Permasalahan dan Penanganan ............................................. 16
2.3.3 Kriteria Sediaan Sirup Ekstrak Daun Sena ............................ 17
2.3.4 Formula sirup Ekstrak Daun Senna ....................................... 17
2.3.5 Alasan Pemilihan Bahan ....................................................... 18
2.3.6 Parameter Kritis Proses Pembuatan ...................................... 19
2.3.7 Proses Pembuatan Sirup Ekstrak Daun Senna ....................... 19
2.4 Pertimbangan Kualitas Produk .......................................................... 21
2.4.1 Evaluasi Sirup Ekstrak Daun Senna ...................................... 21
2.4.2 Stabilitas Sirup Ekstrak Daun Senna ..................................... 23

3. KESIMPULAN .......................................................................................... 25

DAFTAR REFERENSI .................................................................................. 26

LAMPIRAN ................................................................................................... 28

3
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Contoh Produk Herbal di Pasaran: Sirup Senokot .................................. 8


Gambar 2.1 Daun dan Bunga dari Tumbuhan Senna (Cassia angustifolia)................ 9
Gambar 2.2 Simplisia Daun Senna............................................................................ 9
Gambar 2.3 Struktur Kimia Sennosida .................................................................... 10
Gambar 2.4 Jalur Metabolik Sennosida oleh Mikrobiota Usus ................................ 13

4
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Karakteristik Mutu Ekstrak Daun Senna .............................................. 12


Tabel 2.2 Kriteria Sediaan Sirup Ekstrak Daun Senna ......................................... 17
Tabel 2.3 Formula Sirup Ekstrak Daun Senna ..................................................... 18

5
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Alur Proses Pembuatan Sirup .............................................................. 28


Lampiran 2 Contoh Gambar Maserator dan Tangki Evaporator Skala Industri ........ 29
Lampiran 3 Contoh Gambar Mesin Pencucian dan Pengerian Botol Sirup .............. 30
Lampiran 4 Contoh Gambar Mesin Pencampuran dan Pengadukan Sirup ............... 31
Lampiran 5 Contoh Gambar Bottle Capping Machine dan Climatic Chamber..........32

6
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia memiliki keanekaragaman hayati nomor dua di dunia setelah Brazil
berpeluang sebagai produsen produk dengan bahan baku dari alam. Indonesia memiliki
sekitar 30.000 jenis tumbuhan yang telah diidentifikasi dan 950 jenis diantaranya
diketahui memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai obat, suplemen makanan,
kosmetika dan farmasi nutrisi (nutraceutical). Lebih kurang 180 jenis tumbuhan telah
digunakan oleh industri di bidang obat tradisional (Badan POM RI, 2012).
Obat tradisional sudah diakui bermanfaat dalam menunjang sistem pengobatan
modern. Bahkan memasuki era globalisasi ini, perkembangan teknologi dan bentuk
pemanfaatan tumbuhan obat di Indonesia berkembang sangat pesat. Keadaan ini
merupakan peluang dan tantangan bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
kefarmasian di Indonesia. Dengan tetap memenuhi persyaratan keamanan dan mutu
bahan baku herbal yang berlaku, produsen dituntut kreatif dalam inovasi teknologi
formulasi serta bentuk sediaan, agar obat tradisional dapat diterima dan menjadi bagian
dari gaya hidup masyarakat. (Badan POM RI, 2012).
Sebagaimana diatur dalam Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan
Makanan Republik Indonesia Nomor KH.00.05.41.1384 tahun 2005, maka sediaan obat
tradisional diantaranya dapat berupa sediaan cair oral dalam bentuk sediaan sirup, larutan,
emulsi, dan suspensi (Badan POM RI, 2012).
Menurut Farmakope Indonesia (FI) V (2014), sirup adalah larutan oral yang
mengandung sukrosa atau gula lain kadar tinggi. Bentuk sediaan cair lain yang dibuat
dengan pengental dan pemanis, termasuk suspensi oral. Sedangkan menurut Faramkope
III (1979), sirup adalah sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa. Kecuali
dinyatakan lain, kadar sakarosa, C12H22O11, tidak kurang dari 64,0% dan tidak lebih dari
66,0%.
Salah satu produk herbal yang beredar di pasaran yaitu sirup senna, sebagai obat
pencahar. Dari banyak produk sirup senna yang beredar dengan berbagai merek,
diantaranya “Senokot Syrup”, dengan klaim sebagai pencahar untuk menghilangkan
sembelit sesekali atau non-persisten. Setiap 5 ml sirup Senokot mengandung kalsium

7
sennosides yang setara dengan 7,5 mg total sennosides (dihitung sebagai sennoside B).
Bahan tambahannya yaitu: Natrium sorbat E202, metil parahidroksibenzoat E218, profil
parahidroksibenzoat E216, cairan maltitol E965, gum xantan, anti-busa (Medical C),
prune flavour, asam sitrat anhidrat, dan purified water.

Gambar 1.1 Contoh Produk Herbal di Pasaran: Sirup Senokot


Mengacu kepada produk “Senokot Syrup” tersebut, penulis tertarik untuk
merancang formula sirup ekstrak daun senna, dimulai praformulasi sampai pembuatan
dan evaluasi mutu produk serta uji stabilitasnya.

1.2 Tujuan Penulisan


Membahas rancangan formulasi sirup dari ekstrak daun senna sebagai pencahar
dengan mempertimbangkan:
a. Sifat fisikokimia senyawa aktif yang terkandung dalam ekstrak daun senna
b. Biofarmasetika senyawa aktif yang terkandung dalam ekstrak daun senna
c. Farmasetika dan formulasi, meliputi rancangan formulasi dan prosedur pembuatan
d. Kualitas produk, meliputi evaluasi mutu produk dan uji stabilitas sirup ekstrak daun
senna

8
BAB 2
ISI DAN PEMBAHASAN

2.1 Pertimbangan Fisikokimia Senyawa Aktif


2.1.1 Gambaran Umum Simplisia Daun Senna (Sennae Folium)
Sennae Folium yaitu daun dari tanaman Cassia senna L. Suku Caesalpiniaceae.
Tumbuh di daerah tropis dan subtropis di seluruh benua kecuali benua Eropa. Sebagian
besar varietas berasal dari Amerika Utara, Tengah, dan Selatan. Nama Sinonim Cassia
angustifolia Vahl., dan Cassia acutifolia Delile. Nama asing dikenal dengan alexandrian
senna, indian senna, khartoum senna, dan tinnevelly senna (Badan POM RI, 2007).

Gambar 2.1 Daun dan Bunga dari Tumbuhan Senna (Cassia angustifolia Vahl)

Gambar 2.2 Simplisia Daun Senna

9
2.1.2 Kandungan Kimia Daun Senna
Dalam daun senna ditemukan senyawa-senyawa yg secara kimia mirip glikosida
hidroksiantrakuinon (di samping glikosida hidroksiantron dan hidroksidiantron).
Mengandung 2,5–3,5% glikosida hidroksiantrakuinon (Badan POM RI, 2007),
dihitung sebagai sennosida B (C42H38O20; Mr 862,75). Kadar yang paling besar yaitu
sennosida A dan sennosida B merupakan sepasang isomer yang aglikonnya adalah rein-
diantron (senidin A dan senidin B). Kandungan lain yang lebih kecil kadarnya sennosida
C dan D. Kedua aglikon antrakuinon larut etanol sedangkan glikosida larut air.
Konstituen aktif adalah anthranoids, sebagai dianthrones (75 - 80%) dan sebagai
anthones (20 - 25%). Mengandung sejumlah kecil diglycosides dianthrone lainnya,
glikosida monoanthraquinone dan aglikon. Jumlah aglikon meningkat selama
penyimpanan. Glikosida naftalena tanpa signifikansi farmakologis (EMA, 2017).

Gambar 2.3 Struktur kimia sennosida

10
2.1.3 Identifikasi Antrakuinon
2.1.3.1 Reaksi Borntrager
Reaksi Borntrager digunakan untuk mendeteksi aglikon antrakuinon dalam
ekstrak. Asam klorida (2M) ditambahkan ke sampel dan campuran dipanaskan pada
penangas air panas selama 15 menit, kemudian didinginkan dan disaring. Filtrat
diekstraksi dengan kloroform. Lapisan kloroform dipisahkan dan dikocok dengan larutan
kalium hidroksida 10%. Lapisan air atas menjadi merah muda sampai merah,
menandakan positif mengandung antrakuinon (Gritsanapan & Mangmeesri, 2009)

2.1.3.2 Kromatografi Lapis Tipis (KLT)


KLT dapat digunakan untuk mengidentifikasi senyawa yang terkandung dalam
ekstrak senna. Sampel disiapkan dalam metanol. Sistem pelarut yang digunakan n-
propanol: dietil eter: metanol (4: 4: 3). Fasa diam yang digunakan adalah pelat KLT yang
dilapisi dengan Silica gel. Kromatografi asenden digunakan sebagai teknik pemisahan.
Diikuti oleh KLT, analisis ultra violet dari tempat-tempat tergores dilakukan pada
panjang gelombang 276 nm. Semua konsentrasi ekstrak Senna yang diperkaya yaitu 50%,
70%, 80% dan 100% v / v dianalisis (Dhoble et.al., 2019).

2.1.4 Penetapan Kadar Total Antrakuinon


2.1.4.1 Spektrofotometri UV-Vis
Penetapan kadar total antrakuinon dapat menggunakan spektrofotometri UV-Vis.
Penelitian Abdo, BM. (2017), menjelaskan sampel sebanyak 0,5 g direfluks dengan 250
ml metanol 99,7% selama 1 hari. Disiapkan larutan standar Sennosida B. Dicari panjang
gelombang maksimal antara 200-800 nm. Diperoleh panjang gelombang maksimal 276
nm. Dengan mengukur absorbansi dan dibuat persamaan regresi diperoleh kadar total
antrakuinon yang dihitung sebagai sennosida B.

2.1.4.2 Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)


Penetapan kadar total antrakuinon dapat menggunakan KCKT. Dapat digunakan
KCKT jenis UFLC Shimadzu, SPD-M20A dengan PDA Detector. Kolom analitik C18
(Spinchotech Pvt. Ltd. Enable). Fase gerak dalam botol pelarut tertutup, disonikasi selama
±20 menit. Fase gerak gradient terdiri atas metanol dan air (90:10), menghasilkan resolusi
puncak terbaik pada waktu retensi yang lebih rendah untuk Sennosida B dengan laju
aliran 1,0 ml / menit. Penentuan panjang gelombang maksimum Sennosida B (diperoleh

11
λmax 276 nm). Larutan standar Sennosida B digunakan dalam urutan 10 ppm (0,1 mg /
ml) kemudian difiltrasi menggunakan filter minipore (0,22 mm). Larutan standar dan
sampel (sirup) yang disiapkan diinjeksi menggunakan jarum suntik Hamilton.
Kromatogram dicatat untuk standar dan sampel. Dihitung kadar Sennosida B yang
terkandung dalam sirup (Dhoble et.al., 2019).

2.1.5 Karakteristik Mutu Ekstrak Daun Sena


Metode ekstraksi dan pelarut pengekstrak yang digunakan mempengaruhi
kuantitas dan kualitas ekstrak. Metode ekstraksi yang tepat dapat menghasilkan jumlah
komponen aktif yang tinggi, juga akan menghasilkan karakteristik mutu ekstrak yang
memenuhi persyaratan. Di bawah ini karakteristik mutu ekstrak kental daun senna hasil
maserasi dengan pelarut etanol 70% (Ramchander et.al., 2017). Diperoleh kandungan
total sennosida tidak kurang dari 2,5% b/b yang dihitung sebagai sennosida B.

Tabel 2.1 Karakteristik Mutu Ekstrak Kental Daun Sena


No Parameter
1 Deskripsi
Warna : Coklat kekuningan
Bau : Berkarakteristik
Rasa : Pahit dan berkarakteristik
2 pH (1% b/v dalam air) 7-9
3 Kandungan total Sennosida (%b/b) tidak kurang dari 2,5
4 Kadar air tidak lebih dari 5
5 Kelarutan ekstrak dalam air tidak lebih dari 70
6 Abu total (%b/b) tidak lebih dari 35
7 Abu tidak larut asam (%b/b) tidak lebih dari 3
8 Ukuran partikel (dapat melewati 30 #) tidak kurang dari 95
9 Kepadatan massa (g/cm3) (50 tapping) tidak kurang dari 0,45
10 Susut pengeringan (%b/b) tidak lebih dari 5
11 Analisis Mikroba
Total Bacterial Count(cfu/g) tidak lebih dari 5000
Total Yeast / Mould Count(cfu/g) tidak lebih dari 100
Enterobacteriaceae Count(cfu/g) tidak lebih dari 100
Escherichia coli (cfu/g) negatif
Salmonella species (cfu/g) negatif

12
Staphylococcus aureus (cfu/g) negatif
Pseudomonas aeruginosa (cfu/g) negatif
12 Cemaran Logam
Arsen tidak lebih dari 10 ppm
Cadmium tidak lebih dari 0.3 ppm
Timbal tidak lebih dari 10 ppm
Mercuri (Raksa) tidak lebih dari 1 ppm
(Sumber: Ramchander et.al., 2017)

2.2 Pertimbangan Biofarmasetika Senyawa Aktif


2.2.1 Efek Farmakologi
2.2.1.1 Indikasi dan Mekanisme Kerja
Senna alata (L.) Roxb. atau Cassia angustifolia adalah tanaman obat yang
daunnya telah lama digunakan sebagai obat pencahar (Gritsanapan et.al., 2009).
Kandungan utama dua glikosida antrakuinon yaitu sennosida A dan sennosida B (tidak
kurang dari 2,5%) bertanggung jawab atas sifat pencahar (Dhoble, et. al., 2019;
Srivastava, et.al., 2010).
Mekanisme kerja sennosida sebagai pencahar yaitu meningkatkan pergerakan
usus, mengurangi waktu transit usus, dan meningkatkan porsi feses encer (Mehmood
et.al., 2019). Snnosida dan glikosida antron yang terkandung dalam daun senna, jika
sendiri tidak memiliki aktivitas pencahar dan tidak mudah diserap oleh usus kecil setelah
pemberian oral. Bahan aktif nyata adalah senna aglikon, yang diproduksi melalui
hidrolisis sennosida oleh enzim d-glukosidase yang disekresikan oleh biobakterobia usus.
Bersama-sama, mereka dapat memainkan peran pencahar setelah diserap oleh usus kecil.
Di antara mereka, rhein anthrone memiliki aktivitas pencahar yang kuat (Zu et. al.,
2018).

Gambar 2.4 Jalur Metabolik Senosida oleh Mikrobiota Usus


(Sumber: Zu et.al., 2018)

13
Menurut Balasankar (2013), kerusakan glikosida antrakuinon dalam saluran
pencernaan dapat terjadi karena salah satu dari dua cara. Flora usus menghidrolisis
dengan cara yang mirip dengan aglikon aktif bebas. Cara yang kedua dapat terjadi karena
adanya empedu dan gula menyebabkan aglikon bebas dapat diserap ke dalam aliran darah
dan kemudian disekresikan ke usus besar, mengakibatkan peningkatan kontraksi otot
usus. Selain itu, kandungan lendirnya mengurangi penyerapan cairan tubuh yang
mengarah ke peningkatan tindakan pencahar.
Menurut Ramchander et.al. (2017), senna adalah pencahar perangsang tipe
antranoid. Efek pencahar ini disebabkan oleh aksi sennosida dan metabolit aktifnya,
rhein-anthrone, di usus besar. Ada dua mekanisme aksi yang berbeda:
1. Pengaruh pada motilitas usus besar:
Efek pencahar diwujudkan dengan menghambat penyerapan air dan elektrolit dari
usus besar, yang meningkatkan volume dan tekanan isi usus. Hal ini akan
merangsang motilitas usus besar yang menghasilkan kontraksi propulsi.
2. Pengaruh pada proses sekresi:
Stimulasi sekresi klorida aktif meningkatkan kadar air dan elektrolit usus.
Perubahan dalam transpor elektrolit aktif ini bergantung pada kalsium permukaan
serosa. Tindakan pencahar senna sebagian melalui stimulasi cairan kolon dan
sekresi elektrolit, dan sekresi ini dimediasi oleh stimulasi pembentukan
prostaglandin E2 endogen.

2.2.1.2 Dosis dan Pemberian


Dosis harian normal sennosida sebagai pencahar 20-40 mg (Badan POM RI
2007). Menurut monograf WHO, dosis sennosida sebagai pencahar 10 – 30 mg dalam
sehari. Dosis harian maksimum konstipasi 15-30 mg sennosida (Ramchander, et.al.,
2017). Younes et.al. (2018) melaporkan penggunaan sennosida 15 mg per hari dihitung
sebagai sennosida B. Asupan harian yang direkomendasikan tidak melebihi 18 mg
(dinyatakan sebagai sennosida B)

2.2.1.3 Kontraindikasi dan Peringatan


Dapat menyebabkan kerusakan usus, stenosis, atomi, radang, colonopathiesf
appendisitis, status dehidrasi, konstipasi kronik. Penggunaan berlebih dapat
menyebabkan kejang perut (spasmodic gastrointestinal) (Badan POM RI, 2007).

14
Tidak dianjurkan digunakan selama kehamilan dan menyusui. Tidak boleh
digunakan untuk anak-anak dibawah 2 tahun. Dosis untuk pasien lanjut usia setengah
dari dosis normal (Badan POM RI, 2007).
Produk yang mengandung antrakuinon glikosida tidak boleh digunakan selama
lebih dari 1 minggu, karena kemungkinan timbulnya ketidakseimbangan elektrolit.
Selain itu, penggunaan zat-zat ini dikontraindikasikan selama kehamilan atau menyusui,
kecuali di bawah pengawasan medis, setelah mengevaluasi manfaat dan risiko.
Penggunaannya dikontraindikasikan pada anak di bawah 10 tahun. Jangan diberikan
kepada anak-anak (<12 tahun); berkonsultasi dengan dokter selama kehamilan dan
menyusui; tidak ada penggunaan jangka panjang tanpa saran professional (Younes et.al.,
2018)

2.2.1.4 Interaksi Obat


Adanya interaksi dengan glikosida jantung (digitalis, strophantus) dapat berakibat
peningkatan ekresi ion kalium. Pada hipokalemia karena penggunaan laksatif jangka
panjang) dapat terjadi peningkatan efek obat antiaritmia (seperti misalnya kinidin).
Demikian pula halnya dengan penggunaan obat lain yang menginduksi terjadinya
hipokalemia seperti tiazida, adrenokortikosteroid dan Liquiritiae Radix (Badan POM RI,
2007).

2.2.1.5 Efek yang Tidak Diinginkan dan Toksisitas


Penggunaan jangka panjang atau panggunaan yang salah dapat mengakibatkan
kehilangan elektrolit (terutama ion kalium) serta dapat menjadi penyebab albuminuria,
deposisi pigmen pada mukosa usus dan kerusakan pada myenteric plexus (Badan POM
RI, 2007). Gejala yang timbul akibat over dosis adalah diare yang hebat, sehingga ada
kemungkinan kekurangan cairan dan elektrolit (Badan POM RI, 2007).

2.2.2 Efek Farmakokinetika


Waktu aksi sennosida berkisar antara 8-10 jam (Badan POM RI, 2007), sehingga
sebaiknya diminum pada waktu malam. Hasil uji klinis (EMA/HMPC, 2017)
penyerapan rhein & rhein bebas yang dilepaskan sennosida oleh metabolisme bakteri,
puncak maksimum 3 - 5 jam dan 10 - 11 jam setelah pemberian oral. Sennosida sedikit
diserap pada bagian alas saluran pencemaan. Hasil uji klinis, setelah 3 hari terapi senna
pasien mengalami buang air besar (EMA/HMPC, 2017)

15
Rhein antrone dioksidasi menjadi rhein & sennidin, ditemukan dalam darah,
terutama dalam bentuk glukuronida dan sulfat. Setelah pemberian sennoside secara oral,
3-6% dari metabolit diekskresikan dalam urin; beberapa diekskresikan dalam empedu.
Sebagian besar sennosides (90%) diekskresikan dalam tinja sebagai polimer
(polyquinones) bersama dengan 26% dari sennosida, sennidins, rheinanthron & rhein
yang tidak berubah (Ramchander et.al., 2017).
Dalam studi farmakokinetik pada manusia, diberi 20 mg sennosida per oral selama
7 hari, konsentrasi maksimum rhein dalam darah (100mg/ml). Akumulasi rhein tidak
teramati. Metabolit aktif, seperti rhein lewat dalam jumlah kecil (0,01% dari jumlah total
yang dikonsumsi ibu) ke dalam ASI. Pada ibu menyusui, prinsip aktif dapat muncul dalam
ASI tetapi dalam jumlah yang tidak cukup untuk menyebabkan diare pada bayi yang
diberi ASI (Ramchander et.al., 2017).

2.3 Pertimbangan Farmasetika dan Formulasi


2.3.1 Perhitungan Dosis
a. Bahan aktif yang digunakan ekstrak kental daun senna. Ekstrak hasil maserasi
dengan pelarut etanol 70%.
b. Dosis per hari diusulkan 15-22,5 mg sennosida B, untuk dewasa dan anak usia
lebih dari 12 tahun.
c. Dibuat sirup ekstrak daun sena: dalam 5 ml sirup mengandung 7,5 mg sennosid B
d. Aturan pakai untuk anak umur 12 tahun ke atas dan dewasa: sehari 1 kali 2-3 sdt
(10-15 ml) diminun di malam hari.
e. Dari data klinis, 3 hari sudah memberikan efek. Jadi dibuat kemasan terkecil: 15
ml x 3 hari = 45 ml ≈ dibuat sirup 60 ml, sebagai kemasan terkecil
Maksimal penggunaan 1 minggu = 15 ml x 7 hari = 105 ml ≈dibuat 100 ml.
f. Ekstrak kental daun senna mengandung tidak kurang dari 2,5 % Sennosida B.
Dalam 5 ml sirup mengandung 7,5 mg sennosida B. Jika akan dibuat 100 ml sirup
diperlukan sennosida B sebanyak: 7,5 mg x 20 = 150 mg = 0,15 g
Untuk 100 ml sirup dibutuhkan ekstrak kental daun senna sebanyak: 375 mg =
0,375 g setara dengan 0,15 g sennosida B

16
2.3.2 Permasalahan dan Penanganan
Masalah dari sirup ekstrak etanol daun senna yaitu kelarutanya dalam air.
Idealnya pelarut yang digunakan untuk pembuatan sirup sama komposisinya dengan
menstruum yang digunakan untuk pembuatan ekstrak. Dalam hal ini ekstrak daun sena
memakai etanol 70%. Akan tetapi karena sirup yang dirancang untuk tidak memakai
pelarut alkohol maka penanganannya dengan menambahkan propilen glikol, sebagai
peningkat kelarutan. Propilen glikol juga sebagai bahan untuk menghindari terbentuknya
benang–benang atau endapan kristal yang terdapat pada leher dan tutup botol karena
sering membuka dan menutup botol sediaan.
Kadar gula sebagai pemanis dari sirup akan mempengaruhi sediaan akhir. Kadar
gula dalam sirup pada suhu kamar 65% sukrosa berfungsi sebagai pengawet. Bila lebih
tinggi akan terjadi pengkristalan, tetapi bila lebih rendah dari 60% sirup akan rusak karena
mikroba. Penanganannya, kadar sukrosa yang digunakan 65% dan tetap diberikan juga
pengawet metil paraben. Penambahan pengawet mencegah tumbuhnya mikroba karena
dikuatirkan kadar sukrosa tidak dapat dipertahankan di 65%.
Terbentuknya gula invert menjadi masalah karena sirup akan menjadi encer
mudah ditumbuhi mikroba. Penanganannya, pada proses pembuatan pemanasan diatur
suhunya (50-700C).
Rasa dan bau ekstrak senna yang kurang enak akan mempengaruhi sediaan sirup,
tidak cukup dengan penambahan pemanis saja, sehingga ditambahkan flavour prune dan
asam sitrat untuk menghasilkan aroma dan rasa sirup yang enak.

2.3.3 Kriteria Sediaan Sirup Ekstrak Daun Senna


Tabel 2.2 Kriteria Sediaan Sirup Ekstrak Daun Senna
Parameter Sirup Kriteria Evaluasi yang Diharapkan
Organoleptik Warna: Coklat kekuningan Warna: Coklat Kekuningan
Bau : Aromatik prune manis Bau : aromatik prune manis
asam asam
Rasa : Manis asam prune Rasa : Manis asam prune
pH 3,6-6,0 (Sheikh et al, 2014) 5-6
Berat jenis 1,25 – 1,35 g/cm3 1,3 g/cm3
Viskositas 190-195 m.P.as 190 mP.as
(mudah dituang) (mudah dituang)
Kadar Senosida B 90 – 110 % 99 -110 %

17
2.3.4 Formula Sirup Ekstrak Daun Senna
Tabel 2.3 Formula Sirup Ekstrak Etanol Daun Senna
No Bahan Konsentrasi Skala Lab Skala Industri Fungsi
(%b/v) 100mlx1000btl
1 Ekstrak Kental 0,375 g (setara 0,375 kg Bahan aktif
Daun Senna 0,15g sennosid B)
2 Asam sitrat 0,5% 0,65 g 0,65 kg Antioksidan & perasa
3 Propilen glikol 20 % 26 g 26 kg Kosolven, pencegah
kristalisasi
4 Sukrosa 65 % 84,5 g 84,5 kg Pemanis & pengawet
5 Metil paraben 0,25 % 0,325 g 0,325 kg Pengawet
6 Prune flavour 0,35 % 0,455 g 0,455 kg Pemberi rasa & aroma
7 Purified water Sampai 100% 17,695 ml 17,695 L Pelarut

Perhitungan:
Bobot jenis sirup 1,3 g/cm3, sehingga bobot total sirup 100% x 1,3 = 130 ml.
Persentase setiap bahan tambahan dikalikan 130 ml. Air yang ditambahkan hasil
pengurangan 130 ml dengan jumlah total bahan.

2.3.5 Alasan Pemilihan Bahan


a. Dipilih ekstrak kental daun sena hasil maserasi dengan pelarut etanol 70%,
mengandung sennosida B yang terukur tidak kurang dari 2,5%, bersifat sebagai
pencahar. Mudah dalam mengkonversi dosis.
b. Sukrosa sebagai pemanis umum digunakan dalam sirup. Kadar 65% sukrosa
dapat berfungsi sebagai pengawet.
c. Purified water. Air sebagai pembawa dan pelarut utama dalam sirup. Untuk
melarutkan zat aktif & bahan-bahan lainnya. Tidak berasa, bebas dari iritasi dan
kerusakan aktiftas farmakologi membuatnya ideal untuk digunakan sebagai
pelarut dalam sirup, dengan kemurnian yang tinggi
d. Pemilihan propilen glikol berguna sebagai zat pembasah yang umum digunakan
dalam sediaan sirup. Menghindari terbentuknya benang–benang atau endapan
kristal yang terdapat pada leher dan tutup botol karena sering membuka dan
menutup botol sediaan. Rasanya manis dapat menambah rasa manis sirup. Dapat
meningkatkan aktivitas pengawet metil paraben.

18
Pada suhu dingin, stabil dalam wadah tertutup, pada suhu tinggi, di tempat
terbuka, ia cenderung mengoksidasi. Secara kimiawi stabil saat dicampur etanol
(95%), gliserin, atau air; larutan berair bisa disterilisasi dengan autoklaf.
Konsentrasi untuk larutan oral 10-25%. (Rowe, 2009)
e. Metil paraben sebagai pengawet dengan rentang pH yg luas dan spektrum luas
untuk aktivitas mikroba. Metil paraben menunjukkan aktivitas antimikroba
dengan pH 4-8. Khasiat pengawet meningkat dengan penambahan propilenglikol
2-5% (Rowe, 2009)
f. Asam sitrat selain sebagai antioksidan berfungsi sebagai perasa menutupi bau
ekstrak yang kurang sedap dan memberikan rasa segar.
g. Pemilihan prune flavor disesuaikan dengan warna sediaan yaitu coklat
kekuningan. Dengan rasa buah yang harum dan penambahan asam sitrat
menambah kesegaran di rasa dan aroma sirup

2.3.6 Parameter Kritis Proses Pembuatan


a. Parameter yang mempengaruhi proses pembuatan sirup adalah karakteristik bahan
baku yang digunakan, peralatan, prosedur pencampuran dan pengisian ke dalam
wadah.
b. Bahan baku yang digunakan dalam proses pembuatan sediaan sirup harus sesuai
dengan spesifikasi yang telah ditentukan harus bisa menjamin ciri-ciri,
kemurnian, homogenitas, dan bebas dari kontaminasi mikroba yang berlebihan.
Selain bahan aktif, air juga merupakan faktor yang sangat kritis dalam proses
pembuatan sediaan sirup, karena merupakan komponen terbesar. Air yang
digunakan harus benar-benar murni dan dimasak terlebih dahulu sebelum
digunakan.
c. Prosedur pencampuran, kecepatan pengadukan dan suhu akan mempengaruhi
homogenitas sirup.
d. Pengisian sirup ke dalam wadah (botol) dipengaruhi oleh viskositas

2.3.7 Proses Pembuatan Sirup Ekstrak Etanol Daun Senna Skala Industri
2.3.7.1 Penyiapan Simplisia dan Ekstraksi Daun Senna
Dipilih daun senna yang berwarna hijau tua. Pengambilan/pemanenan di pagi hari

19
pukul 9 -10 WIB diperkirakan saat fotosintesis terjadi. Selanjutnya dilakukan tahapan
sortasi basah, pencucian, penirisan, (tidak dilakukan perajangan karena ukuran daun
senna kecil). Selanjutnya dikeringkan dengan oven. Setelah kering dilakukan sortasi
kering, selanjutnya dihaluskan dengan blender dan diayak dengan pengayak ukuran 40
mesh. Disimpan dalam botol gelap tertutup rapat, sebelum dilakukan ekstraksi.
Dipilih ekstraksi secara maserasi menggunakan etanol 70%. Berdasarkan
penelitian Ramchander et.al. (2019), karakteristik mutu ekstrak etanol 70% yang
dihasilkan dengan metode maserasi memenuhi persyaratan dan kadar sennosida B yang
terekstrak tidak kurang dari 2,5%.
Ke dalam maserator dimasukkan satu bagian serbuk simplisia daun senna
ditambah sepuluh bagian etanol 70%, direndam selama 6 jam sambil sekali-kali diaduk,
kemudian didiamkan hingga 24 jam. Maserat dipisahkan dengan separator dan proses
diulangi 2 kali dengan jumlah dan pelarut etanol 70% yang sama. Kemudian semua
maserat dikumpulkan. Proses maserasi dan remaserasi dapat dicek dengan reaksi
Bontragers.
Maserat yang terkumpul selanjutnya diuapkan pelarut etanol 70% menggunakan
tangki rotary evaporator pada suhu 500C, sampai diperoleh ekstrak kental. Selanjutnya
dihitung rendemen ekstrak. Penelitian Gritsanapan & Mangmeesri (2019), dari 10,0 g
simplisia serbuk diekstraksi dengan etanol 80% diperoleh ekstrak kasar 3,09 g.

2.3.7.2 Pembuatan Sirup Ekstrak Daun Senna Skala Industri


a. Air murni (purified water) yang akan digunakan dimasak terlebih dahulu hingga
matang.
b. Dalam mesin double jacket, Sukrosa dilarutkan di dalam air murni (purified
water) yang telah dimasak, pada suhu 50-700C dengan pengadukan hingga larut,
kemudian didinginkan hingga suhu 30oC. Selanjutnya disaring
c. Ke dalam mixing tank dimasukan larutan gula, propilen glikol, dan ekstrak diaduk
dengan kecepatan 100 rpm selama 10 menit.
d. Ditambahkan asam sitrat dan metil paraben diaduk kembali dengan kecepatan 100
rpm selama 10 menit, dialirkan ke super mixer melalui vakum.
e. Terakhir dimasukkan prune flavour (dilarutkan dahulu dalam etanol) dan diaduk
selama 10 menit.
f. Dialirkan secara berulang campuran yang telah dibuat melalui filter penyaring

20
(Filter Nybolt mest) secara vakum, sehingga didapat filtrat yang homogen.
g. Dialirkan filtrat ke storage tank melalui vakum, diberi label “quarantine” untuk
dilakukan IPC oleh QC.
h. Dimasukan sirup ke dalam botol kemudian ditutup menggunakan Bottle Capping
machine.
i. Diuji stabilitas sediaan menggunakan Climatic chamber.

2.4 Pengembangan Kualitas Produk


2.4.1 Evaluasi Sirup Ekstrak Daun Senna
Evaluasi yang dilakukan untuk sediaan sirup ekstrak daun senna yaitu:
a. Pemeriksaan Organoleptik (FI V, 2014)
Pemeriksaan dengan menggunakan panca indera terhadap sediaan sirup ekstrak
senna meliputi, warna, rasa dan bau. (Hasil yang diharapkan: warna coklat
kekuningan, bau aromatik prune, dan rasa manis asam prune)

b. Tingkat Keasaman/pH (FI V, 2014)


Pengukuran pH menggunakan pH meter yang telah dikalibrasi. pH meter
dicelupkan ke dalam larutan buffer pH 7, lalu dibilas aquadest. Kemudian pH
meter dicelupkan ke dalam sediaan sirup uji, didiamkan beberapa waktu dan
hasilnya terlihat pada angka yang muncul di layar (pH yang diharapkan 5,0-6,0)

c. Bobot Jenis/Bj (FI V, 2014)


Pengukuran Bj menggunakan piknometer yang bersih dan kering. Piknometer
kosong (W1) ditimbang dan diisi air suling. Bagian luar piknometer dilap sampai
kering dan ditimbang (W2). Selanjutnya air suling tersebut dibuang, piknometer
dikeringkan kemudian diisi dengan cairan yang akan diukur bobot jenisnya pada
suhu yang sama pada saat pengukuran air suling, dan ditimbang (W3). Bobot
jenis cairan dihitung.
Rumus perhitungan bobot jenis : r x = b – a/c – a
Keterangan: r x = Bobot jenis sampel
a = Berat pikno kosong
b = Berat sampel sebelum diuji
c = Berat sampel air
(Bj sirup ekstrak daun senna yang diharapkan sebesar 1,3)

21
d. Viskositas (FI V, 2014)
Pengukuran viskositas menggunakan Viskometer Kapiler/Ostwold. Prinsip kerja
mengukur kecepatan bola jatuh melalui cairan dalam tabung pada suhu tetap
dengan cara menghitung waktu yang dibutuhkan oleh bola untuk menetukan jarak
tertentu melalui cairan pada tabung. Viskositas sediaan uji dihitung
menggunakan rumus sebagai berikut (Sinko, 2006).

Keterangan:
η = viskositas air suling
Ρ = bobot jenis larutan pada 250C (g/mL)
t = waktu yang dibutuhkan larutan untuk mengalir pada 250C (detik)
(Viskositas yang diharapkan sekitar 190 mP.as /sirup mudah dituang )

e. Volume Terpindahkan (BPOM, 2019; FI V, 2014)


Untuk penetapan volume terpindahkan, dipilih tidak kurang dari 30 wadah, dan
selanjutnya, isi dari 10 wadah satu persatu dikocok.
Prosedur:
Disiapkan botol 100 ml yang sebelumnya telah di kalibrasi. Sedian sirup yang
telah jadi kemudiaan dimasukan ke dalam 100 ml sampai batas kalibrasi. Isi
dituang perlahan-lahan dari tiap wadah ke dalam gelas ukur kering terpisah
dengan kapasitas gelas ukur tidak lebih dari dua setengah kali volume yang diukur
dan telah dikalibrasi, secara hati-hati untuk menghindari terbentuknya gelembung
udara pada waktu penuangan dan didiamkan selama tidak lebih dari 30 menit.
Jika telah bebas dari gelembung udara, volume dari tiap campuran diukur
Syarat:
Volume rata-rata sirup yang diperoleh dari 10 wadah tidak kurang dari 100 %, dan
tidak satupun volume sirup yang kurang dari 95 % dari volume yang dinyatakan
pada etiket.

f. Penentuan kadar alkohol (BPOM, 2019)


Batas maksimum etil alkohol yang diizinkan dalam Obat Tradisional dengan
kadar tidak lebih besar dari 1% (satu persen) dalam bentuk sediaan cairan oral.

22
Penentuan kadar alkohol dengan cara destilasi atau kromatografi gas.

g. Penentuan Kadar Sennosida B (Dhoble et.al., 2019)


Kadar sennosida B dalam sirup ekstrak daun senna dapat diukur dengan
menggunakan:
1) Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Pembanding yang digunakan Sennosida B
Fase diam: Silica gel; Fase gerak: n-propanol : dietil eter : metanol (4:4:3)
Teknik pemisahan: Kromatografi asenden
Analisis bercak dengan sinar UV pada panjang gelombang 276 nm.
2) Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)
a) Persiapan peralatan. Dapat digunakan KCKT jenis UFLC Shimadzu,
SPD-M20A dengan PDA Detector. Kolom analitik C18 (Spinchotech
Pvt. Ltd. Enable).
b) Fase gerak dalam botol pelarut tertutup, disonikasi selama ±20 menit.
Fase gerak gradient terdiri atas methanol dan air (90:10), menghasilkan
resolusi puncak terbaik pada waktu retensi yang lebih rendah untuk
Sennoside B dengan laju aliran 1,0 ml / menit.
c) Penentuan panjang gelombang maksimum Sennoside B (diperoleh λmax
276 nm)
d) Larutan standar Senosida B digunakan dalam urutan 10 ppm (0,1 mg /
ml) kemudian difiltrasi menggunakan filter minipore (0,22 mm)
e) Larutan standar dan sampel (sirup) yang disiapkan diinjeksi
menggunakan jarum suntik Hamilton
f) Kromatogram dicatat untuk standar dan sampel
g) Dihitung kadar Senosida B yang terkandung dalam sirup

2.4.2 Stabilitas Sirup Ekstrak Daun Senna


Pengujian stabilitas sirup meliputi stabilitas fisika, kimia, mikrobiologi,
farmakologi, dan toksikologi (Kemkes RI., 2014). Sirup ekstrak daun senna dikatakan
stabil jika dapat bertahan dalam spesifikasi yang diterapkan sepanjang periode
penyimpanan dan penggunaan untuk menjamin identitas kekuatan, kualitas dan
kemurnian produk.

23
Uji stabilitas dipercepat dapat digunakan untuk memperoleh nilai kestabilan sirup
dalam waktu yang singkat. Pengujian ini dimaksudkan untuk mendapatkan informasi
yang diinginkan pada waktu sesingkat mungkin dengan cara menyimpan sampel pada
kondisi yang dirancang untuk mempercepat terjadinya perubahan yang biasanya terjadi
pada kondisi normal. Jika hasil pengujian suatu sediaan pada uji dipercepat selama 3
bulan diperoleh hasil yang stabil, maka sediaan tersebut stabil pada penyimpanan suhu
kamar selama setahun. Uji stabilitas pada suhu tinggi dilakukan pada suhu 40±20C
selama 8 minggu, kemudian dilakukan pengamatan terhadap kondisi fisik sirup setiap 2
minggu (Djajadisastra, dkk, 2009)

2.4.2.1 Uji Freeze-thaw cycling


Sirup ekstrak senna dievaluasi dengan beku-cair secara bergantian pada suhu 4°C
dan 40°C (selama 24 jam pada setiap suhu) selama 14 hari.
Parameter : Tidak ada presipitasi dan tidak ada perubahan secara organoleptik

2.4.2.2 Uji stabilitas dipercepat dari sirup


Menggunakan Climatic chamber.
Sirup ekstrak senna diuji stabilitas kimia di kondisi suhu tinggi (40°C) / RH 75% untuk
jangka waktu 3 bulan (12 minggu). Dilakukan pengamatan kondisi sirup setiap 2 minggu
(Djajadisastra dkk, 2009).
Parameter uji: Viskositas, pH, identifikasi, dan penentuan kadar sennosida B

24
BAB 3
KESIMPULAN

Rancangan formula sirup ekstrak sena sebagai obat pencahar menggunakan


ekstrak kental daun senna. Ekstraksi dilakukan secara maserasi dengan pelarut etanol
70%. Kadar sennsida B sebagai zat aktif terkandung dalam ekstrak kental daun senna
tidak kurang dari 2,5 %.
Dirancang dosis per hari untuk dewasa dan anak lebih dari 12 tahun adalah 15-
22,5 mg senosida B. Dalam formulasi untuk 100 ml sirup digunakan ekstrak kental daun
senna sebanyak 0,375 g, setara dengan 0,15 g sennosida B. Dibuat tiap 5 ml sirup
mengandung 7,5 mg sennosida B. Diminum sehari sekali di malam hari. Takaran
pemberian disesuaikan dengan dosis.
Pembuatan disesuaikan dengan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik.
Dilakukan kontrol kualitas untuk menjamin khasiat dan keamanan sediaan sirup ekstrak
etanol daun senna.

25
DAFTAR REFERENSI

Abdo BM. (2017). Sennosides Determination of Ethiopian Senna alexandrina Mill


Accessions. Nat Prod Chem Res 5: 293. doi: 10.4172/2329-6836.1000293
Agoes, Goeswin. (2009). Teknologi Bahan Alam (Serial Farmasi Industri-2) ed. Revisi.
Bandung: ITB.
Ansel, H. C. (1989). Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, diterjemahkan oleh Ibrahim, F.,
Edisi keempat, 607-608, Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Balasankar, D. et.al. (2013). Senna-A Medical Miracle Plant. Journal of Medicinal Plants
Studies. Vol 1: 41-47
Badan POM RI. (2019). Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan No.32 thn 2019
tentang Persyaratan Keamanan dan Mutu Obat Tradisional.
Badan POM RI. (2012). Pedoman Teknologi Formulasi Sediaan Berbasis Ekstrak.
Volume 1. Jakarta: Badan POM RI
Badan POM RI. (2007). Acuan Sediaan Herbal. Volume Ketiga. Edisi Pertama. Jakarta:
Badan POM RI
Chairul. (2003). Identifikasi secara cepat bahan bioaktif pada tumbuhan di lapangan.
Berita Biologi. Vol. 6 (4).
Dhoble, LR. et.al. (2019). Formulation, development and evaluation of sennoside
enriched Senna extract tablets of different concentrations. Journal of
Pharmacognosy and Phytochemistry 2019; 8(2): 2043-204
Dirjen POM. (1979). Farmakope Indonesia, Edisi III, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta
EMA/HMPC/228759/2016 . (2017). Assessment report on Senna alexandrina Mill.
(Cassia senna L.; Cassia angustifolia Vahl.)1, folium and fructus Draft revision.
Kemkes RI. (2014). Farmakope Indonesia Edisi V 2014. Jakarta :Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia. 2014
Ramchander, et. al. (2017). Recent advances on senna as a laxative: A comprehensive
review. Journal of Pharmacognosy and Phytochemistry 2017; 6(2): 349-353
Rowe, R.C., Sheskey, P.J. and Quinn, M.E. (2009) Handbook of Pharmaceutical
Excipients. 6th Edition, Pharmaceutical Press.

26
Shmygareva, A.A. et.al. (2016). Fourier Transform Infrared. IJPPR, Volume 8(9): 1479
Srivastava, M. et.al. (2010). Chemical Standardization of Cassia angustifolia Vahl seed.
Phcog J. Vol 2(13): 554-560.
Voight, R. (1994). Buku Pengantar Teknologi Farmasi, 572-574, diterjemahkan oleh
Soedani, N., Edisi V, Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada Press
Younes, M. et.al. (2018). Safety of hydroxyanthracene derivatives for use in food. EFSA
Journal 2018;16(1):5090
Zu, X. et.al. (2018). Application of Intestinal Flora in the Study of TCM Formulae.
Systems Biology and its Application in TCM Formulas Research. Pages 97-112
https://doi.org/10.1016/B978-0-12-812744-5.00005-9

27
Lampiran 1. Alur Proses Pembuatan Sirup

28
Lampiran 2. Contoh Gambar Alat untuk Ekstraksi dan Penguapan Pelarut Ekstrak

Maserator

Tangki Evaporator

29
Lampiran 3. Contoh Gambar Mesin Pencucian dan Pengeringan Botol Sirup

Bottle Washing
Alat untuk pencucian botol

Oven Double Door


Alat untuk mengeringkan botol setelah pencucian

30
Lampiran 4. Contoh Gambar Mesin Pencampuran dan Pengadukan Bahan Sirup

Double Jacket Ultra Thurax Mixer


Alat untuk memanaskan dan mendinginkan sirup Alat untuk mencampur bahan

Super Mixing Tank


Alat untuk mencampur bahan

31
Lampiran 5. Contoh Gambar Bottle Capping Machine dan Climatic Chamber

Bottle Capping Machine


Mesin untuk menutup botol sirup yang sudah terisi

Climatic Chamber
Alat untuk menguji stabilitas

32