Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Hakikat manusia diciptakan oleh Allah SWT adalah semata-mata
untuk ta’abbudiyaitu penghambaan yang penuh dengan cara beribadah hanya karena
Allah SWT. Beribadah tanpa ilmu tiada guna dan akan sia-sia. Ada tiga komponen yang
saling berkaitan satu sama lain dan sangat urgen untuk dijaga dan diamalkan oleh seorang
hamba. Tiga komponen dasar yang menjadikan sempurnanya predikat hamba disisi
tuhannya. Tiga komponen tersebut adalah Iman, Islam, dan Ihsan.
Seseorang dikatakan beriman jikalau mereka meyakini dan membenarkan adanya
Allah ta’ala tuhan yang maha Esa, adanya Malaikat Allah, adanya Rasul, Kitab-kitab
samawi, hari Kiamat serta adanya Qadla’ dan Qadar. Sedangkan seseorang dikatakan
muslim ketika ia melaksanakan kewajiban dan meninggalkan larangan agama dan
dikatakan muhsin ketika seseorang dapat merasakan manisnya beribadah serta selalu
merasa diawasi oleh Allah SWT, pada ujungnya segala yang diperbuat lillahita’ala hanya
karena-Nya.
Maka dari itu, mengingat betapa pentingnya tiga komponen tersebut, makalah ini
dibuat untuk terlebih dahulu mengetahui apa itu iman, islam dan ihsan, mengetahui
rukun-rukun iman dan islam, mengetahui tingkatan-tingkatan dalam iman maupun islam,
serta korelasi antarketiga komponen tersebut.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pengertian Iman, dan Ihsan?
2.      Bagaimana Rukun-rukun Iman dan Islam?
3.      Bagaimana tingkatan-tingkatan dalam Iman dan pencapaian muhsin?
4.      Bagaimana Korelasi antara Iman, dan Ihsan?

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Iman, Islam, dan Ihsan


1.      Pengertian Iman
Iman adalah kepercayaan kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa.Syahadatain (dua
persaksian: bersaksi bahwa tiada Tuhan yang disembah kecuali Allah dan Muhammad
adalah Rasulullah) merupakan suatu pernyataan sebagai kunci dalam memasuki gerbang
Islam. Pernyataan bahwa hanya Allah (Yang Esa) satu-satunya Tuhan yang wajib
disembah, merupakan pokok ajaran yang menjadi misi segala Nabi yang pernah diutus
oleh Allah ke bumi di sepanjang sejarah kehidupan manusia.
Ar- Raghib al-Ashfahani (ahli kamus Al-quran) mengatakan, iman didalam Al-quran
terkadang digunakan untuk arti iman yang hanya sebatas dibibir saja padahal dalam hati
dan perbuatannya tidak beriman, terkadang digunakan untuk arti iman yang hanya
terbatas pada perbuatannya saja, sedang hati dan ucapannya tidak beriman dan ketiga
kata iman terkadang digunakan untuk arti iman yang diyakini dalam hati, diucapkan
dengan lisan, dan di amalkan dalam perbuatan sehari-hari.[1]
Iman itu perkataan dan perbuatan, yaitu perkataan hati dan lisan, dan perbuatan hati,
lisan, dan anggota badan. Ia bertambah karena ketaatan dan berkurang karena maksiat,
dan orang yang beriman itu bertingkat keimanannya.
Firman Allah
‫ ولكن هللا حبب اليكم اال يمان و زينه في قلوبكم‬...
“… tetapi Allah menjadikanmu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah
dalam hatimu…” (al-hujurat: 7)
Perkataan dan perbuatan adalah makna syahadatain (persaksian tidak ada tuhan
selain Allah dan Muhammad utusan Allah), yang seseorang tidak sah memeluk agama
Islam tanpa dua kalimat syahadat ini. Ia merupakan amalan hati dengan
mengitikadkannya dan amalan lisan dengan mengucapkannya dengan segala konsekuensi.
Allah berfirman,
… ‫وماكان هللا ليضيع ايما نكم‬
“… dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu…” (al- Baqarah: 143)
Yang dimaksudkan oleh “imanmu” dalam ayat ini adalah shalat yang dilaksanakan
dengan menghadap ke Baitul Maqdis sebelum diciptakannya perubahan kiblat.
Di sini, shalat secara keseluruhan disebut iman, karena shalat menghimpun perbuatan
hati, lisan, dan anggota badan. Nabi Muhammad SAW juga menjadikan jihad, ibadah
lailatul qadar, puasa Ramadhan, shalat tarawih, dan shalat lima waktu sebagai iman.
Ketika beliau ditanya tentang amalan yang paling utama, beliau menjawab, “Iman kepada
Allah dan rasul-Nya.”
Berikut ini dalil yang menunjukkan bertambah dan berkurangnya iman
… ‫المؤمنين ليزدادوا ايمانا مع ايمانهم‬
“… supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)
…” (al-Fath: 4)
‫ىهد وزدنهم‬
“… dan kami tambahkan kepada mereka petunjuk.” (al-Kahfi: 13)
“… adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya…” (at-
Taubah: 124)[2]

2.      Pengertian Ihsan
Ihsan, menurut kamus berasal dari kata: ahsana-yuhsinu-ihsan berarti, baik, bagus,
kebajikan atau saleh. Menurut makna istilah, seperti dikemukakan dalam hadits nabi di
permulaan tulisan ialah: “engkau menyembah Allag seakan-akan engkau melihat-Nya,
dan jika engkau tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihat engkau.”[4]
B.     Rukun-rukun Iman dan Islam
1.      Rukun Iman
a.       Iman Kepada Allah
Yakni beriman kepada rububiyyah Allah Swt, maksudnya : Allah adalah Tuhan,
Pencipta, Pemilik semesta, dan Pengatur segala urusan, Beriman kepada uluhiyyah Allah
Swt, maksudnya: Allah sajalah tuhan yang berhak di sembah, dan semua sesembahan
selain-Nya adalah batil, iman kepada Nama-Nama dan Sifat-Sifat-Nya maksudnya:
bahwasanya Allah Swt, memiliki nama-nama yang mulia, dan sifat-sifat-Nya yang
sempurna serta agung sesuai yang ada dalam Al-quran dan Sunnah Rasul-Nya.
b.      Iman Kepada Malaikat-malaikat Allah
Malaikat adalah hamba Allah yang mulia, mereka diciptakan oleh Allah untuk
beribadah kepada-Nya, serta tunduk dan patuh menta’ati-Nya, Allah telah membebankan
kepada mereka berbagai tugas, Diantaranya adalah : Jibril tugasnya menyampaikan
wahyu, Mikail mengurusi hujan dan tumbuh-tumbuhan, Israfil meniup sangsakala di hari
kiamat, Izrail (malaikat maut), Raqib , Atit, mencatat amal perbutan manusia, Malik
menjaga neraka, Ridwan menjaga surga, dan malaikat-malaikat yang lain yang hanya
Allah Swt yang dapat mengetahuinya.

c.       Iman Kepada Kitab-kitab Allah


Allah yang Maha Agung dan Mulia telah menurunkan kepada para Rasul-Nya kitab-
kitab, mengandung petunjuk dan kebaikan. Diantaranya: kitab taurat diturunkan kepada
Nabi Musa, Injil diturunkan kepada Nabi Isa, Zabur diturunkan kepada Nabi Daud,
Shuhuf Nabi Ibrahim dan Nabi Musa, Al-quran diturunkan Allah Swt, kepada Nabi
Muhammad Saw. Allah telah menjamin untuk menjaga dan memeliharanya, karena ia
akan menjadi hujjah atas semua makhluk, sampai hari kiamat.
d.      Iman Kepada Rasul Allah
Allah telah mengutus kepada maakhluk-Nya para rasul, rasul pertama adalah Nuh dan
yang terakhir adalah Muhammad Saw, dan semua itu adalah manusia biasa, tidak
memiliki sedikitpun sifat ketuhanan, mereka adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan
dengan kerasulan. Dan Allah telah mengakhiri semua syari’at dengan syari’at yang
diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw,yang diutus untuk seluruh manusia, maka tidak ada
nabi sesudahnya.
e.       Iman Kepada Hari Akhir
Yaitu hari kiamat, tidak ada hari lagi setelahnya, ketika Allah membangkitkan
manusia dalam keadaan hidup untuk kekal ditempat yang penuh kenikmatan atau
ditempat siksaan yang amat pedih. Beriman kepada hari akhir meliputi beriman kepada
semua yang akan terjadi setelah itu, seperti kebangkitan dan hisab, kemudian surga atau
neraka.[5]

f.       Iman Kepada Qadha’ dan Qadar


Iman kepada qada dan qadar Allah adalah salah satu sendi akidah Islam. Dalam
pembicaraan sehari-hari disingkat dengan sebutan takdir (taqdir). Berbicara tentang
takdir Allah memang bukan sesuatu yang mudah. Sebab yang kita bicarakan langsung
menyangkut kehendak Tuhan terhadap makhluk-makhluk-Nya.
Beriman kepada qada dan qadar Allah adalah rukun keenam dari rukun iman.
Sebagaimana dalam jawaban Rasulullah ketika ditanya oleh Jibril tentang iman, beliau
bersabda:
“Engkau beriman krpada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, hari akhir, dan
engkau beriman kepada qada-Nya, yang baik maupun yang buruk.” (HR.Buhkari dan
Muslim)
Seperti yang dinyatakan dalam Al-Qur’an surah An-Naml [27]: 65 yang artinya
“katakanlah tak seorang pun di laangit maupun di bumi yang mengetahui perkara gaib
kecuali Allah.”[6]
2.      Rukun Islam
a.       2  Kalimat Syahadat
Dua kalimat syahadat itu adalah laksana anak kunci yang dengannya manusia masuk ke
dalam alam keselamatan (Islam). Sebagaimana keterangan Hadits Nabi : “dari Mu’az
berkata, aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: barangsiapa yang akhir katanya laa
ilaaha illallaah, maka dia pasti masuk surga.”
Kalimat “laa ilaaha illallah” tersusun dalam bentuk dimulai dengan peniadaan, yaitu tiada
tuhan, baru kemudian disusul dengan suatu penegasan : “melaikan Allah!”. Ini berarti
bahwa seorang muslim dalam hidupnya harus membersihkan segala macam tuhan,
kepercayaan, keyakinan, aqidah, dan lain-lain sebagainya lebih dahulu. Yang ada dalam
kalbunya hanyalah satu tuhan, satu kepercayaan, satu keyakinan dan satu aqidah ialah
hanya kepada Zat yang bernama Allah s.w.t.
b.      Shalat
Allah telah mensyari’atkan shalat 5 waktu setiap hari sebagai hubunganantara seorang
muslim dengan Tuhannya. Didalamnya dia bermunajat dan berdo’a kepada-
Nya, disamping agar menjadi pencegah bagi muslim dari perbuatan keji dan mungkar.
Dan Alah telah menyiapkan bagi yang menunaikannya kebaikan dalam agama dan
kemantapan iman serta ganjaran, baik cepat maupun lambat. Maka  dengan demikian
seorang hamba akan mendapatkan ketenangan jiwa dan kenyamanan raga yang akan
membuatnya bahagia di dunia dan akhirat.
Shalat terdiri dari :
1)   Shalat wajib
a)      Shalat dzuhur
b)      Shalat ashar
c)      Shalat magrib
d)     Shalat Isya’
e)      Shalat subuh
2)   Shalat sunnah.
a)      Shalat rawatib
b)      Shalat dhuha
c)      Shalat tahajjud
d)     Shalat witir
e)      Shalat gerhana matahari dan shalat gerhana bulan
f)       Shalat 2 hari raya
g)      Shalat istiharah
h)      Shalat tasbih[7]
c.       Puasa
Puasa adalah salah satu Rukun Islam yang mulai disyariatkan pada tahun ke II
Hijriah. Kata puasa berasal dari bahasa arab “ ‫ص ْو ُم‬
َّ ‫ال‬ ” yang berarti menahan (‫)إمساك‬. Jadi,
puasa menurut bahasa artinya “menahan”. Secara Terminologi, Puasa Adalah
‫إمساك عن مفطر بنية مخصوصة جميع نهار قابل للصوم من مسلم عاقل طاهر من حيض و نفاس‬
(menahan dari sesuatu yang membatalkan puasa dengan niat yang khusus pada seluruh
siang harinya orang yang melakukan puasa yang berakal, dan suci dari haidl dan nifas).
Jadi, puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa mulai terbit
fajar sampai terbenam matahari disertai niat dengan syarat dan rukun yang telah
ditentukan. Sesuai firman Allah SWT :
...)187 : ‫ (البقرة‬...‫س َو ِد ِمنَ ا ْلفَ ْج ِر‬ ُ َ‫ش َربُ ْوا َحتَّى يَتَبَيَّنَ لَ ُك ُم ا ْل َخ ْيطُ ااْل َ ْبي‬
ْ َ ‫ض ِمنَ ا ْل َخ ْي ِط ااْل‬ ْ ‫َو ُكلُ ْوا َوا‬
Artinya : “makan dan minumlah hingga nyata bagimu benang putih dari benang hitam
yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah : 187)
Adapun hukum melakukan puasa Ramadlan adalah Wajib/Fardlu ‘Ain,  sesuai firman
Allah SWT yang artinya :
 “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa sebagaimana
telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, supaya kamu bertaqwa.” (Qs. Al-
Baqarah : 183).
Macam-macam puasa:
1)      Puasa wajib
a)      Puasa Ramadhan
b)      Puasa Nazar
c)      Puasa Kafarat
2)      Puasa sunnah
a)      Puasa 6 hari pada bulan syawal
b)      Puasa hari asyura
c)      Puasa pada hari arafah
d)     Puasa pada bulan sya’ban
e)      Puasa daud
f)       Puasa senin-kamis
3)      Puasa makruh
a)      Puasa syak
b)      Puasa pada hari-hari pertengahan bulan sya’ban
4)      Puasa haram
a)      Puasa pada 2 hari raya
b)      Puasa pada hari tasyrik
c)      Puasa sepanjang masa
d)     Puasa wishal
e)      Puasa khusus hari jum’at[8]

d.      Zakat
Menurut bahasa, “zakat” berasal dari kata zakatan-yuzakki-zakkaartinya tumbuh, suci,
atau berkah. Menurut istilah Zakat adalah memberikan harta dengan kadar tertentu
kepada yang berhak sebagai ibadah kepada Allah SWT.
Firman Allah yang memerintahkan kewajiban zakat adalah QS. An-Nisa ayat 77:
‫واقيموا الصلواة واتوا االزكوة‬
Artinya: “… dirikanlah shalat dan tunaikan zakat … ” (QS. An-Nisa :77)
Macam-macam zakat:
1)  Zakat fitrah
2)  Zakat Maal
a)      Emas, perak dan uang
b)      Harta perniagaan
c)      Harta pertanian
d)     Hewan trnak
e)      Hasil tambang
f)       Barang temuan[9]
e.       Haji
Rukun Islam yang ke-5 adalah menunaikan ibadah haji. Setiap orang Islam wajib
menunaikan ibadah haji bila mampu, dan dalam seumur hidupnya hanya dilakukan
sekali. Jika seseorang tidak menunaikan ibadah haji sedangkan ia mamapu, maka ia
bukanlah termasuk orang Islam.
Pengertian haji menurut bahasa dalah ‫القصد‬ artinya menyengaja. Sedangkan menurut
istilah haji adalah mengunjungi makkah (ka’bah) untuk mengerjakan ibadah yang terdiri
dari thawaf, sa’I, wuquf, dan ibadah-ibadah lain sesuai dengan ketentuan haji, guna
memenuhi perintah Allah dan mengharap keridlaan-Nya.
Ibaah haji ini merupakan bagian dari syari’at bagi umat-umat dahulu, semenjak Nabi
Ibrahim. Allah telah menyuruh Nabi Ibrahim a.s membangun baitul Haram di amkkah,
agar orang-orang thawaf di sekelilingnya dan menyebut nama Allah ketika thawaf itu.

C.     Tingkatan-tingkatan dalam Iman dan Islam dan pencapaian muhsin


1.      Tingkatan iman
a)         tingkatan iman pertama disebut dengan ilathitsu, yaitu iman yang dimiliki oleh para
malaikat, dimana tingkatan iman ini tidak pernah berkurang dan tidak pula bertambah
b)         tingkatan iman kedua disebut dengan iman ma’sum yaitu iman yang dimiliki oleh para
Nabi dan Rasul Allah WST. Dimana tingkatan iman ini tidak pernah berkurang dan selalu
bertambah ketika wahyu datang kepadaNya.
c)         Tingkatan iman ketiga disebut dengan makbul yaitu iman yang dimiliki oleh muslim
dimana iman pada tingkatan ini selalu bertambah jika mengerjakan amal kebaikan dan
akan berkurang jika melakukan maksiat.
d)        Tingkatan iman yang keempat disebut iman maohuf yaitu iamn yang dimiliki oleh ahli
bid’ah, yaitu iman yang ditangguhkan diaman jika berhenti melakukan bid’ah maka iman
akan diterima, diantaranya kaum rafidhoh, atau dukun, sihir, dan sejenisnya.
e)         Tingkatan iman yang kelima disebut dengan iman mardud, yaitu iman yang ditolak,
dimana iman ini yang dimiliki oleh orang-orang musyrik, murtad, munafik, kafir, dan
sejenisnya.[10]

2.      Mencapai muhsin
Allah berfirman,
   •‫المحسنين يحب اللهان اواحسبو‬
“… dan berbuat baiklah karena sesunggunya Allah menyukai orang-orang yang berbuat
baik.” (al-Baqarah: 195)

“sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat
kebaikan.” (an-Nahl: 128)
Dan Rasulullah SAW bersabda:
“sesungguhnya Allah mewajibkan ihsan (berbuat baik) atas segala sesuatu.” (HR Ahmad,
Muslim, Imam Empat)
Di dalam sebuah hadits diceritakan dialog Nabi Muhammad SAW, dengan
malaikat Jibril. Jibril berkata kepada beliau,
“terangkan aku tentang ihsan!”
Lalu beliau menjawab,
“yaitu engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak
melihat-Nya, maka engkau yakin benarlah bahwa Allah melihatnu.” (HR Bukhari dan
Muslim)
Nabi Muhammad SAW menjelaskan dalam hadits tersebut bahwa iman itu
mempunyai 2 tingkat. Tingkat yang tertinggi (pertama) ialah beribadah kepada Allah
seolah-olah engaku melihat-Nya. Ini disebut maqam (kedudukan) musyahadah, yaitu si
hamba beramal menurut tuntutan penyaksiannya kepada Allah Ta’ala dengan kalbunya,
yaitu hatinya disinari oleh iman dan mata hatinya menembus pengetahuan sehingga
jadilah yang gaib itu seperti kenyataan. Dan inilah hakikat maqam ihsan. Kedua, maqam
muraqabah, yaitu si hamba melakukan ibadah dengan merasa diawasi oleh Allah serta ia
selalu merasa dekat dengan-Nya. Bila perasaan si hamba dalam melakukan semua amal
adalah seperti itu, dan dia beramal dengan perasaan seperti itu, maka amalnya akan tulus
karena Allah. Perasaan hati yang demikian akan mencegahnya berpaling kepada selain
Allah. Para ahli kedua maqam ini memiliki tingkat berbeda-beda, sesuai dengan
ketajaman hatinya.[11]
Adapun tiga tingkatan tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Tingkat At-taqwa, yaitu tingkatan paling bawah dengan derajad yang berbeda-beda.
2.      Tingkat Al-bir, yaitu tingkat menengah dengan derajat yang berbeda-beda.
3.      Tingkat Al-ihsan, yaitu tingkat paling atas dengan derajat yang berbeda-beda.
Tingkat taqwa
            Tingkat taqwa adalah tingkatan dimana seluruh derajatnya dihuni oleh mereka
yang masuk kategori Al-muttaqin, sesuai dengan derajad ketaqwan masing-masing.
Taqwa akan menjadi sempurna dengan menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi
serta meninggalkan segala apa yang dilarangNya, hal ini berarti meninggalkan salah satu
perintah Allah saja dapat mengakibatkan sangsi, dan melakukan salah satu laranganNya
saja adalah dosa. Dengan demikian puncak taqwa adalah menjalankan semua perintah
Allah serta menjauhi segala laranganNya.
Namun ada satu hal yang harus dipahami dengan benar, yaitu bahwa Allah Swt. Maha
mengetahui mengetahui keadaan hamba-hambaNya yang memiliki berbagai kelemahan,
yang dengan kelemahannya itu seorang hamba melakukan dosa. Oleh karena itu Allah
membuat satu cara penghapusan dosa, yaitu dengan cara bertobat dan pengampunan.
Melalui hal tersebut, Allah akan mengampuni hambaNya yang berdosa karena
kelalaiannya dari menunaikan hak-hak taqwa. Sementara itu, ketika seorang hamba naik
peringkat puncak taqwa, boleh jadi ia akan naik peringkatnya pada peringkat bir atau
ihsan. Peringkat ini disebut martabat taqwa, karena amalan-amalan yang ada pada
derajat ini membebaskannya dari siksaan atas kesalahan yang dilakukannya. Adapun
derajat yang paling rendah dari peringkat ini adalah derajat dimana seseorang  menjaga
dirinya dari kekalnya dalam neraka, yaitu dengan iman yang benar dan diterima oleh
Allah Swt.
Tingkat Al-bir
            Peringkat ini akan dihuni oleh mereka yang masuk kategoi Al-abror, hal ini sesuai
dengan amalan-amalan kebaikan yang mereka lakukan dari ibadah-ibadah sunnah serta
segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah Swt. hal ini dilakukan setelah mereka
melakukan hal yang wajib, yakni yang ada pada peringkat At-taqwa.
Peringkat ini disebut derajat Al-bir (kebaikan), karena derajat ini merupakan perluasan
pada hal-hal yang sifatnya sunnah, sesuai sifatnya semata-mata untuk mendekatkan diri
kepada Allah dan merupakan tambahan dari batasan-batasan yang wajib serta yang di
haramkanNya. Amalan-amalan ini tidak diwajibkan oleh Allah kepada hambaNya, tetapi
perintah itu bersifat anjuran, sekaligus terdapat janji pahala didalamnya.
Akan tetapi mereka yang melakukan amalan tambahan ini tidak akan masuk kedalam
tingkatan Al-bir, kecuali mereka telah melaksanakan peringkat yang pertama, yaitu
peringkat taqwa. Karena melaksanakan hal yang pertama menjadi syarat mutlak untuk
naik keperingkat yang selanjutnya.
Dengan demikian,barang siapa yang mengklaim dirinya telah melakukan kebaikan sedang
ia tidak mengimani unsure-unsur kaidaah iman dalam ihsan, serta tidak terhindar dari
siksaan neraka , maka ia tidak dapat masuk kedalam peringkat ini. (Al-bir). Allah Swt.
telah berfirman,
“Bukanlah kebaikan dengan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi
kebaikan itu adalah taqwa, dan datangilah rumah-rumah itu dari pintu-pintunya dan
bertaqwalah kepada Allah agar kalian beruntung.” (Qs. Al-baqarah: 189).
“ya tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar seruan orang yang menyeru kepada iman,
yaitu berimanlah kamu kepada tuhanmu, maka kamipun beriman. Ya tuhan kami
ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan
kami dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang banyak berbuat baik.” (Al-imran:
193) .

Tingkat ihsan
            Tingkatan ini akan dicapai oleh mereka yang masuk dalam kategori Muhsinun,
mereka adalah orang yang telah melewati tingkat pertama dan kedua (peringkat At-taqwa
dan Al-bir).
Ketika kita mencermati pengertian ihsan dengan sempurna, maka kita akan mendapatkan
kesimpulan bahwa ihsan memiliki dua sisi yaitu : Pertama, ihsan adalah kesempurnaan
dalam beramal sambil menjaga keiklasan dan jujur dalam beramal.
Kedua, ihsaan adalah sensntiasa memaksimalkan amalan-amalan sunnah yang dapat
mendekat diri kepada Allah Swt. selama hal itu adalah sesuatu yang diridhaiNya dan
dianjurkan untuk melaksanakannya.
Untuk dapat naik kemartabat ihsan dalam segala amal , hanya bisa dicapai melalui
amalan-amalan wajib dan amalan-amalan sunnah yang dicintai oleh Allah Swt. serta
dilakukan atas dasar mencari ridha Allah Swt.

D.    Korelasi antara Iman, dan Ihsan


Dimensi-dimensi Islam berawal dari sebuah hadits yang meriwayatkan oleh Imam
Bukhari dan Imam Muslim yang dimuat dalam masing-masing kitab sahihnya yang
menceritakan dialog antara Nabi Muhammad SAW dengan malaikat Jibril tentang trilogy
ajaran Ilahi:
“Nabi Muhammad SAW keluar dan (berada di sekitar sahabat) seseorang datang
menghadap beliau dan bertanya: “Haai Rasul Allah, apakah yang dimaksud dengan
iman?” beliau menjawab: “Iman adalah engkau percaya kepada Allah, malaikat-Nya,
kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, para utusan-Nya, dan percaya kepada kebangkitan.”
Laki-laki itu kemudian bertanya lagi: “apakah yang dimaksud dengan Islam?” beliau
menjawab: “Islam adalah engaku menyembah Allah dan tidak musyrik kepada-Nya,
engkau tegakkan salat wajib, engkau tunaikan zakat wajib, dan engkau berpuasa pada
bulan Ramadhan.” Laki-laki itu kemudian bertanya lagi: “apakah yang dimaksud dengan
ihsan?” Nabi Muhammad SAW menjawab: “engkau sembah Tuhan seakan-akan engkau
melihat-Nya; apabila engaku tidak melihat-Nya, maka (engkau berkeyakinan) bahwa Dia
melihatmu…”(Buhkari, I, t.th: 23).
Hadits di atas memberikan ide kepada umat Islam sunni tentang rukun iman yang enam,
rukun Islam yang lima, dan penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha hadir dalam hidup.
Sebenarnya, ketiga hal itu hanya dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. Antara
yang satu dengan yang lainnya memiliki keterkaitan.
Setiap pemeluk agama Islam mengetahui dengan pasti bahwa Islam tidak abash tanpa
iman, dan iman tidak sempurna tanpa ihsan. Sebaliknya, ihsan adalah mustahil tanpa
iman, dan iman juga mustahil tanpa Islam. Dalam penelitian lebih lanjut, sering terjadi
tumpang tindih antara tiga istilah tersebut: dalam iman terdapat Islam dan ihsan; dalam
Islam terdapat iman dan ihsan, dan dalam ihsan terdapat iman dan Islam. Dari situlah,
Nurcholish Madjid (1994: 463) melihat iman, Islam, dan ihsan sebagai trilogi ajaran Ilahi.
Ibnu Timiah menjelaskan bahwa din itu terdiri dari tiga unsure, yaitu iman, Islam, dan
ihsan. Dalam tiga unsure itu terselip makna kejenjangan (tingkatan): orang yang memulai
dengan Islam, kemudian berkembang kea rah iman, dan memuncak dalam ihsan.
Rujukan Ibnu Taimiah dalam mengemukakan pendapatnya adalah surat al-Fathir [35]
ayat 32: “kemudian kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara
hamba-hamba kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri; dan
di antara mereka ada yang pertengahan; dan di antara mereka ada pula yang lebih cepat
berbuat kebaikan dengan izin Allah … ”
Di dalam al-Qur’an dan terjemahnya yang diterbitkan Departemen Agama dijelaskan
sebagai berikut: pertama, “orang-orang yang menganiaya dirinya sendiri” (fa minhum
zalim li nafsih) adalah orang-orang yang lebih banyak kesalahannya daripada
kebaikannya; kedua, “orang-orang pertengahan” (muqtashid) adalah orang-orang yang
antara kebaikan dengan kejelekannya berbanding; dan ketiga, “orang-orang yang lebih
dulu berbuat keaikan” (sabiq bi al-khairat) adalah orang-orang yang kebaikannya amat
banyak dan jarang melakukan kesalahan.
Dengan penjelasan yang agak berbeda, Ibnu Taimiah menjelaskan sebagai berikut:
pertama, orang-orang yang menerima warisan kitab suci dengan mempercayai dan
berpegang teguh pada ajaran-ajarannya, namun masih melakukan perbuatan-perbuatan
zaim, adalah orang yang baru ber-islam, suatu tingkat permulaan dalam kebenaran; kdua,
orang yang menerima warisan kitab suci itu dapat berkembang menjadi seorang mukmin,
tingkat menengah, yaitu orang yang telah sedang-sedang saja; ketiga, perjalanan mukmin
itu (yang telah terbatas dari perbuatan zalim) berkembang perbuatan kebajikannya
sehingga ia menjadi pelomba (sabiq) perbuatan kebajikannya; maka ia mencapau derajat
ihsan. “orang yang telah mencapai tingkat ihsan,” kata Ibnu Taimiah, “akan masuk surge
tanpa megalami azab.”
Imam al-Syahrastani dalam kitabnya, al-milal wa al-hilal, menjelaskan bahwa islam
adalah menyerahkan diri secara lahir. Oleh akrena itu, baik mukmin maupun munafik
adalah Muslim. Sedangkan iman adalah pemebanaran terhadap Allah, para utusan-Nya,
kitab-kitab-Nya, hari kiamat, dan menerima qadla dan qadar. Integrasi antara Islam dan
iman adalah kesempurnaan (al-Kamal). Atas dasar penjelasan itu, al-Syahrastani juga
menunjukkan bahwa islam adala mabda’ (pemula); iman adalah menengah (wasath); dan
ihsan adalah kesempurnaan (al-kamal).[12]
Islam, Iman & Ihsan adalah satu kesatuan yg tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya.
Iman adalah keyakinan yang menjadi dasar akidah. Keyakinan tersebut kemudian
diwujudkan melalui pelaksanaan kelima rukun Islam. Sedangkan pelaksanaan rukun
Islam dilakukan dangan cara ihsan, sebagai upaya pendekatan diri kepada Allah.
Untuk mempelajari ketiga pokok ajaran agama tersebut, para ulama mengelompokkannya
lewat 3 cabang ilmu pengetahuan. Rukun Islam berupa praktek amal lahiriyah disusun
dalam ilmu Fiqh, yaitu ilmu mengenai perbuatan amal lahiriyah manusia sebagai hamba
Allah. Iman dipelajari melalui ilmu Tauhid (teologi) yg menjelaskan tentang pokok-pokok
keyakinan. Sedangkan untuk mempelajari ihsan sebagai tata cara beribadah
adalah bagian dari ilmu Tasawuf.[13]

BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
1.      Menurut Awaiyatu khoirunnisa
Iman yang sebenarnya adalah hakikat yang tersusun dari: (1) pemahaman tentang
semua perkara yang dibawa oleh Rasulullah dari segi pengetahuan (2) pembenaran
terhadap semua itu dalam bentuk akidah (3)pengakuan terhadap semua itu dalam bentuk
ucapan (yaitu syahadat) (4) ketaatan terhadap semua itu dalam bentuk cinta dan
ketundukan (5) pengamalan terhadap semua itu secara lahir dan batin (6) melaksanakan
dan menyerukaan semua itu sesuai kemampuan.
Dalam iman terdapat terdapat 5 tingkatan yaitu tingkatan iman pertama disebut
denganilathitsu, tingkatan iman kedua disebut dengan iman ma’sum, Tingkatan iman
ketiga disebut dengan makbul, Tingkatan iman yang keempat disebut iman maohuf,
Tingkatan iman yang kelima disebut dengan iman mardud.
Islam adalah engkau bersaksi tiada tuhan selain allah dan Muhammad adalah
utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan
menunaikan ibadah haji ke Baitullah jika telah mampu menunaikannya.

[1] Kaelany, Islam dan Aspek-aspek Kemasyarakatan, PT Bumi Aksara, Jakarta,


2005, hlm.41.
[2] Syekh Hafizh Hakimi, 200 Tanya Jawab Akidah Islam, Gema Insani Press,
Jakarta, 1998, hlm: 37-39
[3] Didiek Ahmad Supadie, Pengantar Studi Islam, Rajawali Pers, Jakarta, 2012,
hlm: 71-72
[4] Syekh Hafizh Hakimi, 200 Tanya Jawab Akidah Islam, Gema Insani Press,
Jakarta, 1998, hlm: 193.

[5] http://serbamakalah.blogspot.com/2013/02/iman-islam-ihsan.htmlDiakses tanggal 14-03-15, 05:24 PM

[6] DidikAhmad Supadie, Pengantar Studi Islam, Rajawali Pers, Jakarta, 2012,


hlm: 195&205
[7] Sa’dullah Rauyan, Risalah, BPPMNU Banat, Kudus, 2007, hlm:

[8] Sutoyo, Fiqih, Al-Kautsar, jepara, 2007, hlm: 18-28


[9] Ibid, hlm: 44-46
[10] http://basicartikel.blogspot.com/2013/07/materi-kultum-5-tingkatan-iman-
manusia.

[11] SyekhHafizh Hakimi, 200 Tanya Jawab Akidah Islam, Gema Insani Press,


Jakarta, 1998.
[12] ATang ABD. Hakim, Metodologi Studi Islam, PT Remaja Rosdakarya,
Bandung, 1999.