Anda di halaman 1dari 31

KERACUNAN

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


“Keperawatan gawat Darurat 1”
Koordinator Mata Kuliah Istianah, S.Kep., Ners., M.Kep

Disusun Oleh :

Kelompok 5 Keperawatan 3A

Fajar Taufik 1115018

M. Fahri Al Giffari 1115029

Sri Rosalina 1115039

Imas Siti Kartini 1115049

Dewi Nurfitriani 1115059

Olivia Septyastari.M 1115067

Lelli Astriani 1115080

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN RAJAWALI


PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
BANDUNG
201
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya
makalah yang berjudul “Keracunan ” ini dengan baik dan tepat waktu, meskipun
penyusun mengetahui masih banyak kekurangan di dalamnya. Penyusun juga
sangat berterima kasih kepada dosen mata kuliah Keperawatan Gawat Darurat 1
yaitu Ibu Istianah, S.Kep.,Ners.,M.kep., yang telah memberikan tugas ini dan juga
kepada semua pihak yang telah membantu penyusun selama pembuatan makalah
berlangsung sehingga terealisasikannya makalah ini.

Penyusun sangat berharap makalah ini dapat bermanfaat dalam menambah


wawasan dan dapat digunakan sebagai perbandingan dalam setiap pembahasan
Keperawatan Gawat Darurat 1, khususnya tentang Keracunan. Semoga makalah
ini dapat dipahami dan berguna bagi penyusun sendiri maupun orang lain yang
membacanya. Sebelumnya, penyusun mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata
yang kurang berkenan. Penyusun menyadari sepenuhnya, makalah ini terdapat
kekurangan dan masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penyusun
berharap adanya kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah di
masa yang akan datang.

Bandung, 02 April 2018

Penyusun

DAFTAR ISI

i
KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI..............................................................................................................
BAB I.......................................................................................................................4
PENDAHULUAN...................................................................................................4
1.1. Latar Belakang..........................................................................................4
1.2. Tujuan........................................................................................................5
1.3. Rumusan Masalah.....................................................................................5
BAB II......................................................................................................................6
PEMBAHASAN......................................................................................................6
2.1. Definisi......................................................................................................6
2.2. Keracunan Berdasarkan Rute Penyerapan................................................6
2.3. Keracunan Akut Yang Sering Terjadi.......................................................8
2.4. Manifestasi Klinis Keracunan.................................................................13
2.5. Tata Cara Mencegah  Atau Menghentikan Penyerapan Racun...............19
2.6. Pemeriksaan Diagnostik..........................................................................20
BAB III KONSEP KEPERAWATAN..................................................................21
3.1 Pengkajian...............................................................................................21
3.2 Diagnosa Keperawatan............................................................................27
3.3 Intervensi Keperawatan...........................................................................27
BAB IV..................................................................................................................30
KESIMPULAN......................................................................................................30
4.1 Kesimpulan..............................................................................................30
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................31

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Keracunan memiliki dampak negatif baik terhadap kesehatan maupun
sosial ekonomi. Keracunan akut maupun kronis akan menimbulkan gangguan
kesehatan misalnya kegagalan pernapasan dan paralisis akibat keracunan
insektisida antikolinesterase serta gangguan hepar dan gagal ginjal akibat
keracunan asetaminofen. Gangguan kesehatan yang dialami oleh korban
keracunan secara sosial ekonomi akan mengakibatkan penderitaan (rasa sakit),
penurunan produktivitas dan pendapatan serta peningkatan biaya perawatan
kesehatan (DiPiro,dkk, 2008).
Keracunan adalah suatu kejadian apabila substansi yang berasal dari aam
atau buatan yang pada dosis tertentu dapat menyebabkan kerusakan pada
jaringan hidup yang bisa menyebabkan cedera atau kematian. Racun dapat
memasuki jaringan hidu melalui beberapa cara yaitu termakan, terhirup,
disuntikan, dan terserap melalui kulit (Merriam, W. 2014)
Menurut BPOM pada tahun 2013, di Indonesia terjadi kasus keracunan
nasional yang disebabkan oleh beberapa macam penyebab yaitu binatang,
tumbuhan, obat tradisional, kosmetika, pestisida, kimia, NAPZA, obat,
pencemar lingkungan, makanan, produk suplemen, minuman dan campuran.
Pada negara berkembang angka kematian yang disebabkan oleh keracunan
tetap tinggi dikarenakan beberapa faktor, yaitu kurangnya regulasi terhadap
peredaran obat-obatan dan bahan kimia yang beredar di pasaran, kurangnya
pengawasan dan kontrol terhadap peredaran bahan-bahan beracun, kurangnya
penegakan hukum yang ada, dan akses yang mudah untuk mendapatkan
obatobatan dan bahan kimia yang berpotensi menyebabkan mortalitas dan
morbiditas.(Khodabandeh F et al, 2012).

1
1.2. Tujuan
Mengetahui tentang definisi, , klasifikasi, , manifestasi klinis, pemeriksaan
penunjang/diagnostik, penatalaksanaan, komplikasi dan juga asuhan
keperawatan dari keracunan. Selain itu, sebagai media pembelajaran dan
referensi bagi pembaca mengenai pembahasan keseluruhan tentang keracunan.

1.3. Rumusan Masalah


Bagaimana pembahasan tentang keracunan, yang terdiri dari:
1.2.1. Definisi
1.2.2. Etiologi
1.2.3. Klasifikasi
1.2.4. Manifestasi Klinis
1.2.5. Pemeriksaan Penunjang/Diagnostik
1.2.6. Penatalaksanaan
1.2.7. Konsep Keperawatan

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Definisi
Racun adalah zat atau senyawa yang masuk ke dalam tubuh dengan
berbagai cara yang menghambat respon pada sistem biologis dan dapat
menyebabkan gangguan kesehatan, penyakit, bahkan kematian.
Keracunan sering dihubungkan dengan pangan atau bahan kimia. Pada
kenyataannya bukan hanya pangan atau bahan kimia saja yang dapat
menyebabkan keracunan. Di sekeliling kita ada racun alam yang terdapat pada
beberapa tumbuhan dan hewan. Beberapa contoh keracunan antara lain
keracunan obat dan zat kimia, gigitan ular dan serangga, dan keracunan gas.

2.2. Keracunan Berdasarkan Rute Penyerapan


1. Keracunan melalui ditelan
Keracunan yang melalui mulut atau sistem pencernaan. Gejala:
a. Rasa terbakar dan kesan kotoran terlihat disekitar bibir dan dalam
mulut
b. Nafas berbau
c. Pernafasan tidak normal
d. Berliur dan mulut berbusa
e. Nyeri lambung atau abdomen, muntah dan diare
f. Konvulsi atau hilang kesadaran

Penanganan :

a. Lakukan initial assesment (SRSABC)


b. Hubungi 118 atau ambulans
c. Tetapkan korban agar tidak bergerak
d. Jangan menginduks muntah pada korban
e. Jangan beri minuman pada korban kecuali jika korban tertelan bahan
korosif (beri air susu dalam kuantiti yang sedikit)

3
f. Jika korban tidak sadar, posisikan korban pada posisi pemulihan
g. Pastikan ABC korban
Ambil dokumen /pencatatan tentang bahan yang ditelan korban dan
laporkan ke tim bantuan medis. Serahkan juga bahan-bahan bukti.
( Panacea Tim Bantuan Medis, (2013) )

2. Keracunan melalui inhalasi


Keracunan yang terjadi melalui sistem pernapasan. Gejala :
a. Nafas tersekat dan batuk
b. Iritasi pada mata
c. Epilepsi

Penanganan:

a. Lakukan initial assesment (SRSABC)


b. Hubungi 118 atau ambulans
c. Jika dapat, hilangkan faktor penyebab
d. Pastikan ABC dan berikan bantuan resusitasi jika perlu
e. Dekontaminasi pakaian dengan segera
( Panacea Tim Bantuan Medis, (2013)

3. Keracunan melalui diserap


Keracunan jenis ini terjadi melalui kulit. Gejala:
a. Bingung dan konvulsi atau hilang kesadaran
b. Nyeri abdomen dan kram
c. Pusing, mual
d. Diare
e. Nyeri dan sebal dimulut
f. Syok

Penanganan :

a. Lakukan initial assesment (SRSABC)

4
b. Pastikan keamanan penolong memakai sarung tangan
c. Jauhkan korban dari sumber racun
d. Bilas daerah kulit yang terkena racun dengan air
e. Tanggalkan pakaian atau baraang perhiasan yang terkontaminasi dan
cuci daerah terluka menggunakan air dan sabun ( Panacea Tim
Bantuan Medis, (2013) )

4. Keracunan melalui injeksi


Keracunan yang terjadi melalui darah. Gejala:
a. Terdapat kesan suntikan pada kulit
b. Kulit kegatalan (pruritus)
c. Tidak berdaya dan hilang kesadaran
d. Kesulitan bernafas
e. Pusing

Penanganan

a. Lakukan initial assesment (SRSABC)


b. Hubungi 118 atau ambulans
c. Rawat syok (jika terjadi)
d. Pastikan ABC dan beri bantuan resusitasi jika perlu
( Panacea Tim Bantuan Medis, (2013)

2.3. Keracunan Akut Yang Sering Terjadi


1. Keracunan Salisilat
Keracunan salisilat sering terjadi pada anak kecil dari ingesti tidak sengaja
atau akibat overdosis terapi. Salsilat sering digunakan untuk percobaan
bunuh diri, terutama oleh dewasa muda. Gejalanya tinitus, anoreksia,
demam, muntah, berkeringat timbul kemerahan, hiperventilasi, delirium,
koma, dan konvulsi.
Penanganan :
a. Lakukan initial assesment ( SRSABC) dan panggil bantuan

5
b. Induksi muntah dengan sirup ipekak jika ingesti relatif baru
c. Alkalinasasi urin dengan memberikan natrium bikarbonat IV untuk
mengurangi reabsorpsi salsilat dari urin secara bermakna dan
meningkatkan ekskresi salsilat.

2. Keracunan besi
Keracunan besi dapat terjadi karena tablet besi sering berwarna menarik
sehingga anak-anak sering menyangkanya sebagai permen. Keracunan
besi dalam jumlah yang besar dapat membahayakan nyawa. Gejalanya
muntah, nyeri abdomen, pucat, diare dan dehidrasi. Jarang keracunan yang
bermakna terjadi tanoa disertai dengan gejala-gejala dini. Asidosis dan
syok dapat terjadi.
Penanganan :
a. Lakukan initial assesment ( SRSABC) dan panggil bantuan
b. Induksi muntah dengan sirup ipekak meskipun muntah sudah terjadi
sebelum perawatan
c. Pemberian deferoksamin IV sebagai antidotum spesifik
d. Posisi trendelenburg jika terjadi syok

3. Keracunan Kerosin
Kerosin dan senyawa lainnya yang mengandung hidrokarbon sering
menjadi penyebab keracunan pada anak kecil. Produk-produk yang sering
menjadi penyebab adalah pengilat-furnitur, terpentin, cairan pemantik dan
benzena. Anak-anak ini dapat mengalami pneumonia, pneumonitis dan
edema paru. Gejalanya rasa tercekik dan tersumbat, batuk, nausea, bau
napas yang karakteristik, demam, lemah, dan depresi sistem saraf pusat.
Penanganan :
a. Lakukan initial assesment ( SRSABC) dan panggil bantuan
b. Jika risiko toksitas lebih besar dari pada risiko aspirasi maka emesis
diindikasikan
c. Mungkin diperlukan terapi oksigen

6
4. Keracunan Pestisida
Banyak insektisida yang beracun dan semuanya harus disimpan dan
dipergunakan secara hati-hati. DDT berbahaya jika tertelan dan dapat
menyebabkan sakit pada bagian tubuh, lemasnya otot, serta terkadang
terjadi kejang. Gammexane menghasilkan gejala yang sama. Strychine
kadang-kadang dipergunakan untuk membunuh tikus. Ini merupakan racun
yang sangat berbahaya dan seharusnya tidak disimpan dalam rumah.
Keracunanan oleh strychine dapat menyebabkan nyeri yang sangat hebat
dan spasme otot.
Gejala-gejalanya meliputi penglihatan kabur, sakit kepala, keringat
berlebihan, kram abdomen, mual, dan muntah, gangguan pernapasan,
konvulsi, sianosis, syok, atau koma dapat timbul. Penanganannya :
a. Lakukan initial assesment ( SRSABC) dan panggil bantuan
b. Bilas lambung harus dikerjakan, masukan arang aktif
c. Kulit dan pakaian harus didekontaminasi dengan segera
d. Antikonvulsan mungkin diindikasikan
e. Posisi trendelenburg jika terjadi syok

5. Keracunan Sianida
Sianida tersebar luas di dalam lingkungan kita, misalnya di dalam perut,
karet sintesis, larutan pembersih logam, benih buah, singkong, kentang
dan obat-obatan. Sifat racunnya adalah menghambat sistem oksidase pada
penggunaan oksigen di dalam sel. Gejala-gejalanya mual , muntah, perut
terasa panas, pusing, lemah, pernapasan cepat dan bau badan khas (bitter
almont), kejang, berkeringat, midriasis, mulut berbusa, sianosis.
Penanganannya :
a. Lakukan initial assesment ( SRSABC) dan panggil bantuan
b. Berikan oksigen 100%
c. Mulai dengan inhalasi amil nitrit, 1 ampul tiap 5 menit. Hentikan
hanya jika pasien hipotensi
d. Tunda bilas lambung sampai diberikannya antidotum

7
e. Berikan segera natrium nitrit larutan 3% IV dengan kecepatan 2,5-5
ml/menit, berhenti jika terjadi hipotensi hebat
f. Setelah pemberian natrium nitrit, berikan natrium tiosulfat larutan 25%
IV dengan kecepatan 2,5-5 ml/menit

6. Keracunan alkohol
Istilah intoksilasi secara harfiah berarti keracunan. Namun, pada derajat
sedang dari intoksikasi biasanya tidak diperlukan perlakuan sebagai kasus
keracunan, tetapi jika ada keraguan, mabuk seharusnya di rawat dengan
serius seperti pada jenis keracunan lain. Hal ini sayangnya belum diterima
secara luas dan banyak pemabuk meninggal karena menghirup
muntahannya sendiri akibat dibiarkan telentang begitu saja. Gejala-gejala
hilangnya sebagian atau seluruh kesadaran, pernapasan dalam, muntah,
muka memerah dan berkeringat, napas berbau alkohol, gangguan
penglihatan dan bicara kacau.
Penanganannya :
a. Lakukan initial assesment ( SRSABC) dan panggil bantuan
b. Tangani cedera jika ada cedera
c. Posisikan pasien dalam pasien pemulihan
d. Panggil bantuan jika memang keadaan mengkhawatirkan

7. Keracunan monoksida (CO) dihasilkan dari pembakaran zat-zat organic


yang tidak sempurna. Pembakaran dan gas buangan dari kendaraan
bermotor merupakan sumber CO yang sering ditemukan. Efek umum dari
gas CO terhadap badan adalah disebabkan oleh inhibisi transport oksigen,
pelepasannya dan pemakaiannya. Gejal-gejalanya nyeri kepala seperti
diikat pada daerah frontal dan temporal, lemah, gangguan penglihatan,
mual, muntah, gangguan tingkat kesadaran, koma, konvulsi, kulit merah
cherry.

8
Penanganannya :

a. Lakukan initial assessment (SRSABC)


b. Lepaskan ikatan-ikatan yang kencang pada tubuh
c. Berikan oksigen per inhalasi

8. Keracunan Makanan

Kebanyakan kasus keracunan makanan disebabkan oleh kurangnya


kebersihan di pihak pengolah makanan atau karena makanan yang kurang
matang. Pengolah makanan yang tidak mencuci tangan dengan baik
setelah buang air dapat memindahkan organisme yang berasal dari perut
yang menyebabkan gangguan usus.

Bakteri yang sering menyebabkan keracaunan makanan adalah


staphylococcus dan salmonella. Gejala-gejalanya mual muntah, diare,
nyeri perut, sakit kepala, dan kemungkinan syok.

Penanganannya :

a. Lakukan initial assessment (SRSABC)


b. Beri minum yang banyak
c. Lakukan bilaslambung dan berikan jeli balacmange (jeli putih dari
susu dan tepung jagung) biskuit kering atau sup bening
d. Jika ada nyeri perut, segera rujuk dokter

9. Keracunan Nitrat dan Nitrit

Kembang kol, bayam , brokoli dan umbi-umbian memiliki


kandungan nitrat alami lebih banyak dari sayuran lainnya. Air minum
(+21%) dan dari daging atau produk olahan daging (6%) yang sering
memakai natrium nitrat (NaNO3) sebagai pengawet ataupun pewarna
makanan. Belum ada laporan yang jelas mengenai efek racun dari nitrat.
Selama ini yang diketahui efek racunnya adalah konversi dari nitrit. Efek

9
racun yang akut dari nitrit adalah methemoglobin. Jika konversi ini
melebihi 70% maka akan sangat fatal. Gejala-gejalanya penurunan tekanan
darah akibat vasodillatasi, nausea, vomitus, nyeri abdomen, nyeri kepala,
methemoglobinemia simptomatik pada anak- anak, sianosis.

Penanganan dilakukan untuk menurunkan jumlah nitrit yang


bersifat racun karena nitrat tidak begitu berbahaya :

a. Lakukan initial assessment (SRSABC). Pantau tanda vital, tekanan


darah, pernapasan dan

awitan munculnya sianosis

b. Rangsang muntah atau bilas lambung jika tertelan


c. Berikan oksigen dosis tinggi perinhalasi jika mulai tamoak adanya
methemoglobinemia
d. Metilen blue adalah antidotum spesifik jika terjadi
methemoglobinemia
e. Pasien dengan keracunan nitrat atau nitrit berat harus segera dibawa ke
ICU
( Panacea Tim Bantuan Medis, (2013) )

2.4. Manifestasi Klinis Keracunan

Onset (Masa Gejala Utama Jasad


Awitan) Renik/Toksin
Gejala Saluran Cerna Atas (Mual, Muntah) yang Dominan
< 1 jam Mual, muntah, rasa yang tak lazim di mulut, Garam logam
mulut terasa panas
1-2 jam Mual, muntah, sianosis, sakit kepala, Nitrit
pusing, sesak nafas, gemetar, lemah,
pingsan.
1-6 jam (rerata 2-4) Mual, muntah, diare, nyeri perut. Staphylococcus
Aureus dan

10
enterotoksinnya
8-16 jam (2-4 Muntah, kram perut, diare, rasa mual. Bacillus Cereus.
muntah)
6-24 jam Mual, muntah, diare, rasa haus, pelebaran Jamur
pupil, pingsan, koma. berjenis Amanita.
Radang Tengorokan Dan Gejala Saluran Napas
12-72 jam Radang tengorokan, demam, mual, muntah, Streptococcus
pengeluaran secret dari hidung, terkadang Pyogene
ruam kulit.
2-5 hari Radang tengorokan dan hidung, eksudat Corynebacterium
berwarna keabuan, demam, mengigil, nyeri diphtheria
tengorokan, lemah, sulit menelan,
pembengkakan kelenjar getah bening leher.

Gejala Saluran Cerna Bawah (kram perut, diare) yang Dominan


2-36 jam (rerata 6- Kram perut, diare, diare yang C. perfringens; B.
12) disebabkan Clostridiumperfringens, kadang- cereus; S;
kadang rasa mual dan muntah faecalis; S. 
faecium

12-72 jam (rerata 18- Kram perut, diare, muntah, demam, Salmonella
36) mengigil, lemah hebat, mual, sakit kepala, spp (termasuk
kadang-kadang diare berdarah dan S. Arizonae), E.
berlendir, lesi kulit yang disebabkan Vibrio coli
vulnificuis.Yersinia enteropatogenik,
enterocoliticamenyebabkan gejala yang dan
menyerupai flu apendisitis akut. Enterobakteriacae,
V. cholera (01 dan
non-01),
vulvinicus, V.
fluvialis.

11
3-5 hari Diare, demam, muntah dengan nyeri perut, Virus-virus enterik
gejala saluran nafas
1-6 minggu Diare lengket (tinja berlemak), sakit perut, Giardia lamblia
berat badan menurun
1-beberapa minggu Sakit perut, diare, sembelit, sakit kepala, Entamoeba
mengantuk, kadang tanpa gejala hystolitica

3-6 bulan Sulit tidur, tak ada nafsu makan, berat badan Taenia sanginata
menurun, sakit perut, kadang gastroenteritis dan  taenia solium
Gejala Neurologis (Gangguan Visual, Vertigo, Gell, Paralisis)
< 1 jam Gastroenteritis, cemas, penglihatan kabur, Fosfat organic
nyeri dada, sianosis, kedutan, kejang.
Salvias berlebihan, berkeringat,
gastroenteritis, nadi tak teraratur, pupil
mengecil, bernafas seperti orang asma. Jamur
jenis muscaria

1-6 jam Rasa baal atau gatal, pusing, pucat, Tetrodotoxin


pendarahan perut, pengelupasan kulit, mata
terfiksasi, reflek hilang, kedutan, paralisis
otot.
Rasa baal atau gatal, gastroenteritis, pusing,
mulut kering, otot nyeri, pupil melebar,
pandangan kabur, paralisis otot. Ciguatoxin

2 jam-6 hari (12-36 Rasa mual, muntah, rasa (geli) seperti Chlorinated
jam) dikaruk, pusing, lemah, tak ada nafsu hydrocarbon
makan, berat badan menurun, bingung.
Vertigo, pandangan kabur atau diplobia,
reflek cahaya hilang, sulit menelan,
berbicara dan bernafas; mulut kering,

12
lemah, paralisis pernafasan. Clostridium
botulinum dan
toksinnya.

>72 jam Rasa baal, kaki lemah, paralisis, spastic, Air raksa organic
penglihatan berkurang, buta, dan koma.
Gastroenteritis, nyeri pada kaki, kaki dan
tangan jatuh.
Triortrocresyl
phosphate.
Terjadi Gejala Alergi (Muka Memerah dan Rasa Gatal)
< 1 jam Sakit kepala, pusing, mual, muntah, rasa Scombrotoxin
panas pada mulut, tengorok terasa terbakar, (histamine)
muka sembab dan merah, sakit perut, gatal
dikulit.
Rasa baal disekitar muluit, rasa seperti
digaruk (geli), kemerahan, pusing, sakit 
kepala, mual. Monosodium
Kemerahan, rasa panas, gatal, sakit perut, glutamate (MSG)
edema lutut dan wajah.

Asam nikotinat
Gejala Gastroenteritis Dan/atau Neurologis (Toksin Kerang)
0,5-2 jam Rasa seperti digaruk (geli), terbakar, baal, Saxitoxin
mengantuk, bicara inkoheren, paralisis (paralytic shelifish
pernafasan. poisoning: PSP)

2-5 menit sampai 3-4 Sensasi panas dan dingin bergantian, rasa Brevetoxin
jam geli; baal disekitar bibir, lidah dan (neurotoxic
tengorokan; nyeri otot, pusing, diare, shelifish
muntah. poisoning: NSP)

13
30 menit sampai 2-3 Rasa mual, muntah, diare, sakit perut, Dinophysis toxin,
jam mengigil, demam. okadaic acid,
pectenotoxin,
yessotoxin
(Diarrheic
shelifish
poisoning:DSP)
24 jam  Muntah, diare, sakit perut, bingung, hilang Domoic Acid
(gastrointestinal) ingatan, deisorientasi, kejang dan koma. (Amnestic shelifish
sampai 48 jam poisoning: ASP)
(neurologis)
Gejala Infeksi Umum (Demam, Mengigil, Lemah, Sakit, Pembengkakan Kelenjar
Limfe)
4-28 hari (rerata 9 Gastroenteritis, demam, edema disekitar Trichinella
hari) mata, berkeringat, nyeri otot, mengigil, spiralis
lemah, sulit bernafas.

7-28 hari (rerata 14 Lemah yang hebat, sakit kepala, sakit Salmonella typhi
hari) kepala, demam, batuk, mual, muntah,
sembelit, sakit perut, mengigil, bintik merah
dikulit, tinja berdarah.
10-13 hari Demam, sakit kepala, nyeri otot, Toxoplasma
kemerahan. gondii
10-50 hari (rerata 25- Demam, lemah-lesu, tak ada nafsu makan,
30) mual, sakit perut, kuning (ikterus). Mungkin virus

Bervariasi, Demam, mengigil, sakit kepala atau sendi, Bacillus anthracis,


bergantung pada tipe lemah-lesu, bengkak dikelenjar getah brucella
penyakit bening, dan gejala yang khas untuk penyakit melitensis, B.
lain. abortus, B.
suis, coxiella
bernetti,

14
francisella
tularensis, listeria
monocytogenes,
M. tuberculosis,
mycobacterium sp,
pasteurella
multocida,
streptobacillus
moniliformis,
campylobacter
jejuni, leptospira
SSP.
(Krisanty, dkk. (2011)

2.5. Tata Cara Mencegah  Atau Menghentikan Penyerapan Racun


A. Racun melalui mulut (ditelan / tertelan)
1. Encerkan racun yang ada di lambung dengan : air, susu, telor mentah
atau norit)
2. Kosongkan lambung (efektif bila racun tertelan sebelum 4 jam) dengan
cara:
a. Dimuntahkan: bisa dilakukan dengan cara mekanik (menekan
reflek muntah di tenggorokan), atau pemberian air garam atau
sirup ipekak. 
Kontraindikasi: cara ini tidak boleh dilakukan pada keracunan zat
korosif (asam/basa kuat, minyak tanah, bensin), kesadaran
menurun dan penderita kejang.
b. Bilas lambung:
1. Pasien telungkup, kepala dan bahu lebih rendah.

15
2. Pasang NGT dan bilas dengan : air, larutan norit, Natrium
bicarbonat 5 %, atau asam asetat 5 %.
3. Pembilasan sampai 20 X, rata-rata volume 250 cc.
4. Kontraindikasi : keracunan zat korosif & kejang.
5. Bilas Usus Besar: bilas dengan pencahar, klisma (air sabun
atau gliserin).
B. Racun melalui melalui kulit atau mata
1. Pakaian yang terkena racun dilepas
2.  Cuci / bilas bagian yang terkena dengan air dan sabun atau zat
penetralisir (asam cuka / bicnat encer).
3. Hati-hati: penolong jangan sampai terkontaminasi.
C. Racun melalui inhalasi
1. Pindahkan penderita ke tempat aman dengan udara yang segar.
2.  Pernafasan buatan penting untuk mengeluarkan udara beracun yang
terhisap, jangan menggunakan metode mouth to mouth.
D. Racun melalui suntikan
1.  Pasang torniquet proximal tempat suntikan, jaga agar denyut arteri
bagian distal masih teraba dan lepas tiap 15 menit selama 1 menit
2.  Beri epinefrin 1/1000 dosis: 0,3-0,4 mg subkutan/im.
3. Beri kompres dingin di tempat suntikan
E. Mengeluarkan racun yang telah diserap
Dilakukan dengan cara:
1. Diuretic: lasix, manitol
2. Dialisa
3. Transfusi exchange
(Sartono. (2001). 

2.6. Pemeriksaan Diagnostik


1) Elektrokardiografi

16
2) Radiologi
Banyak substansi adalah radioopak, dan cara ini juga untuk menunjukkan
adanya aspirasi dan edema pulmonal.
3) Analisa Gas Darah, Elektrolit Dan Pemeriksaan Laboratorium Lain
Keracunan akut dapat mengakibatkan ketidakseimbangan kadar elektrolit,
termasuk natrium, kalium, klorida, magnesium dan kalsium. Tanda-tanda
oksigenasi yang tidak adequat juga sering muncul, seperti sianosis,
takikardia, hipoventilasi, dan perubahan status mental.
4) Tes Fungsi Ginjal
Beberapa toksik mempunyai efek nefrotoksik secara lengsung.
5) Skrin Toksikologi
Cara ini membantu dalam mendiagnosis pasien yang Keracunan. Skrin
negatif tidak berarti bahwa pasien tidak Keracunan, tapi mungkin racun
yang ingin dilihat tidak ada. Adalah penting untuk mengetahui toksin apa
saja yang bisa diskrin secara rutin di dalam laboratorium, sehingga
pemeriksaannya bisa efektif

BAB III
KONSEP KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
1. Primary Survery
a) Airway and cervival control
b) Breathing and ventilation
c) Circulation and hemorrhage control
d) Disability
e) Exposure and Environment
a. Pengkajian secara tepat tentang ABC
1) Pernyataan pasien tentang kepatenan jalan nafas.
a. Jalan nafas paten ketika bersih saat bicara dan tidak ada
suara nafas yang mengganggu

17
b. Jika jalan nafas tidak paten pertimbangkan kebersihan
daerah mulut dan menempatkan alat bantu nafas.
2) Apakah pernafasan efektif
a. Pernapasan efektif ketika warna kulit dalam batas normal
dan capillary refill kurang dari 3 detik.
b. Jika pernapasan tidak efektif pertimbangkan pemberian
oksigendan penempatan alat bantu.
3) Apakah pasien merasakan nyeri atau tidak nyaman pada tulang
belakang
a. Immobilisasi leher yang nyeri atai tidak nyaman dengan
collar spine jika injuri kurang dri 48 jam.
b. Tempatkan leher pada C-collar yang keras dan
immobilisasi daerah tulang belakang dengan mengangkat
pasien dengan stretcher.
4) Apakah sirkulasi pasien effective
a. Sirkulasi efektife ketika nadi radialis baik dan kulit hangat
serta kering.
b. Jika sirkulasi tidak efectitive pertimbangkan penempatan
pasien pada posisi recumbent, membuat jalan masuk di
dalam intravena untuk pemberian bolus cairan 200 ml.
5) Apakah ada tanda bahaya pada pasien
a. Gunakan GCS dan AVPU untuk mengevaluasi kerusakan
daya ingat akibat trauma pada pasien.
b. Pada GCS nilai didapat dari membuka mata, verbal dan
motoric.
c. AVPU

A : untuk membantu pernyataan daya ingat pasien,


kesadaran respon terhadap suara dan berorientasi
pada orang, waktu dan tempat.

18
V : Untuk pernyataan verbal pasien terhadap respon
suara tetapi, tidak berorientasi penug pada orang,
waktu dan tempat.

P : untuk pernyataan nyeri pada pasien yang tidak


respon pada suara tetapi respon terhadap
rangsangan nyeri.

U : untuk yang tidak responsive terhadap rangsangan


nyeri.

Penilaian keadaan penderita dan prioritas terapi dilakukan


berdasarka jenis perlakuan, stabilitas tanda tanda vitaldan
mekanisme ruda paksa, berdasar kan penilaian :

A : Airway jalan nafas terkontrol servikal

B : Breathing dan ventilasi

C : Circulation dengan control perdarahan

D : Exposure/ environment control : Buka baju penderita


tetapi cegah hipotermia.

Yang penting pada frase pra-RS adalah ABC, dilakukan


resusitasi dimna perlu, kemudian fiksasi penderitalalu transportasi.

1. Airway dengan control servikal


Yang pertama yang harus dinilai adalah kelancaran
airway. Ini meliputi pemeriksaan adanya obstruksi jalan
nafas yang dapat disebabkan benda asing, fraktur
wajah, fraktur mandibula atau maksila, fraktur laring
atau trakea. Usaha untuk membebaskan jalan nafas
harus melindungi vertebra servikal karena kemungkinan
patahnya yulag servikal harus selalu diperhitungkan.
Dalam hal ini dapat dilakukan Chin lift atau jaw thrust.

19
Selama memeriksa dan memperbaiki jalan nafas, harus
diperhatikan bahwa tidak boleh dilakukan ekstensi,
fleksi atau rotasi dari leher.
Kemungkinan diduga patahnya tulang servikal diduga
apabila :
a. Trauma dengan penurunan kesadaran
b. Adanya luka karena trauma di atas klavikula
c. Setiap multitrauma ( trauma pada region 2 atau
lebih)
d. Juga harus waspada terhadap kemungkinan patah
tulang belakang bila biomekanika trauma
mendukung.

Dalam keadaan curiga fraktur servikal, harus haru


dipakai alai immobilisasi. Bila alat immobilisasi ini
harus di buka untuk sementara, maka kepala harus
dipakai sampai kemungkinan fraktur servikal
dapatdisingkirkan. Bila ada gangguan jalan nafas, maka
sesuai BHD.

2. Breathing
Jalan nafas yang baik tidak menjamin ventilasi yang
baik. Pertukaran gas yang terjadi padasaat bernafas
mutlak untuk pertukaran oksigen dan mengeluarkan CO
dari tubuh. Ventilasi yang baik meliputi: fungsi yang
baik dari paru, dinding dada dan difragma. Setiap
komponen ini harus dievaluasi secara cepat.
Dada penderita harus dibuka untuk melihat pernapasan
yang baik. Auskultasi dilakukan untuk memastikan
masuknya udara kedalam paru. Perkusi dilakukan untuk
menilai adanya udara atau darah dalam rongga pleura.
Inspeksi dan palpasi dapat memperlihatkan kelainan

20
dinding dada yang mungkin mengganggu vnetilasi.
Perlakuan yang baik mengakibatkan gangguan ventilasi
yang berat adalah pneumotoraks, flail chest dengan
kontusio paru, open pneumotoraks dan hemotoraks-
masif.
3. Circulation dengan control perdarahan
a. Volum darah dan jurang jantung (cardiac output)
Perdarahan merupakan sebab utama kematian pasca
bedah yang mungkin dapat diatasi dengan terapi
yang cepat dan tepat di rumah sakit. Suatu keadaan
hipotensi harus disebabkan oleh hipovolemik,
sampai terbukti sebaliknya. Dugaan demikian maka
diperlukan penilaian yang cepat dari status
hemodinamik penderita.
Ada 3 observasi yang dalam hitungan detik dapat
memberikaninformasi mengenai keadaan
hemodinamik yakni kesadaran, warna kulit dan
nadi.
1) Tingkat kesadaran
Bila volume darah menurun, perfusi darah ke
otak dapat berkurang, yang akan mengakibatkan
penurunan kesadaran ( walaupun demikian
kehilangan darah yang dalam jumlah banyak
belum tentu mengakibatkan gangguan
kesadaran).
2) Warna kulit
Warna kulit dapat membantu diagnosis
hipovolemia. Penderita trauma yang kulitnya
kemerahan, trauma pada wajah dan ektremitas,
jarang yang dalam keadaan
hipovolemia.sebaliknya wajah pucat keabu

21
abuan dan kulit ekremitas yang pucat,
merupakan tanda tanda hipovolemia. Bila
memang disebabkan hipovolemia maka ini
menandakan kehilangan darah minimal 30%
dari volume darah.
3) Nadi
Nadi yang besar seperti arteri femoralis atau
arteri karotis harus diperiksa bilateral, untuk
kekuatan nadi, kecepatan dan irama. Pada syok
nadi akan kecil dan cepat. Nadi yang tidak
cepat, kuat dan teratur biasanya merupakan
tanda normo-volomia. Nadi yang cepat dan kecil
merupakan tanda hipovolemia, namun harus
diingat sebab lain yang dapat menyebabkannya.
Nadi yang tidak teratur biasanya merupakan
tanda tanda gangguan jantung. Tidak
ditemukannya pulsasi dari nadi arteri sentral.
b. Control perdarahan

Perdarahan hebat dikelola pada survey


primer. Perdarahaan eksternal dengan penekanan
langsung pada luka jangan di jahit terlebih dahulu.
Spalk udara dapat digunakan untuk mengontrol
perdarahan. Spalk jenis ini harus ditembus cahaya
untuk dapat dilakukannya pengawasan perdarahan.
Tornoquet jangan dipakai karena merusak jaringan
dan menyebabkan distal dari tourniquet. Pemakaian
dari hemostal memerlukan waktu dan dapat
merusak jaringan sekitar saraf seperti syaraf dan
pembuluh darah. Perdarahan dalam rongga toraks,
abdomen, sekitar fraktur atau sebagai akibat dari

22
luka tembus, dapat menyebabkan perdarahan besar
yang tidak terlihat.

4. Disability

Menjelang akhir survey primer dievaluasi keadaan


neurologis ecara cepat yaitu tingkat kesadaran, ukuran
dan reaksi pupil.

GCS adalah system scoring yang sederhana dan


dapat meramalkan kesudahan (outcome) penderita.
Penurunan kesadaran dapat disebabkan perlukaan pada
otak sendiri. Penurunan kesadaran dapat menuntut
dilakukannya pemeriksaan terhadap keadaan perfusi,
ventilasi dan oksigen.

Alcohol dan obat obatan dapat mengganggu tingkat


kesadaran penderita. Walaupun sudah demikian bila
disingkirkan kemngkinan hipoksia tau hipovolemia
sebagai sebab penurunan kesadaran, maka trauma
kapitis dapat dianggap sebagai penyebabnya sampai
terbukti sebaliknya.

5. Exposure/ Kontrol Lingkungan


Exposure dilakukan di rumah sakit, terapi dimna perlu
dapat membuka pakaian, misalnya membuka baju untk
melakukan pemeriksaan toraks fisik. Di rumah sakit
penderita harus dibuka seluruh pakaiannya untuk
evaluasi.

2. Secondary survey
a. Focus assessment
b. Head to toe assessment

23
Survey sekunder dilakukan setelah survey primer selesai, resusitasi
dilakukan dari penderita stabil.
Survey sekunder adalah pemeriksaan head to toe dan pemeriksaan tanda
tanda vital. Survey sekunder hanya dilakukan apabila penderita sudah
stabil.

3.2 Diagnosa Keperawatan

1) Tidak efektifnya pola nafas b.d hipoventilasi/hiperventilasi


2) Resiko tinggi kekurangan cairan tubuh b.d mual dan muntah
3) Tidak efektifnya koping individu b.d kecemasan

3.3 Intervensi Keperawatan

1) Tidak efektifnya pola nafas b.d hipoventilasi/hiperventilasi


Intervensi :

 Jika pernafasan depresi ,berikan oksigen dan lakukan


suction. Ventilator mungkin bisa diperlukan.
 Pertolongan pertama yang dilakukan meliputi : tindakan
umum yang bertujuan untuk keselamatan hidup,mencegah
penyerapan dan penawar racun ( antidotum ) yang meliputi
resusitasi, : Air way, breathing, circulasi eliminasi untuk
menghambat absorsi melalui pencernaaan dengan cara
kumbah lambung, emesis, atau katarsis dan keramas
rambut.
 Perawatan suportif; meliputi mempertahankan agar pasien
tidak sampai demam atau mengigil, monitor perubahan-
perubahan fisik seperti perubahan nadi yang cepat, distress
pernafasan, sianosis, diaphoresis, dan tanda-tanda lain

24
kolaps pembuluh darah dan kemungkinan fatal atau
kematian.
Rasional :
 jalan nafas menjadi lebih efektif atau kembali normal
 merupakan langkah awal dari keselamatan pasien dengan
adanya perawatan suportif, akan lebih memudahkan proses
pemulihan kesehatan pasien

2) Resiko tinggi kekurangan cairan tubuh b.d mual dan muntah


Intervensi :

 Monitir vital sign setiap 15 menit untuk beberapa jam dan


laporkan perubahan segera kepada dokter.
 Catat tanda-tanda seperti muntah,mual,dan nyeri abdomen
serta monitor semua muntah akan adanya darah.
 Observasi feses dan urine serta pertahankan cairan
intravenous sesuai pesanan dokter.
Rasional :
 Untuk lebih memudahkan perawat, dokter, dan petugas
kesehatan lainnya dalam memberikan perawatan kesehatan
kepada klien
 Untuk mengetahui sejauh mana tingkat nyeri yang
dirasakan klien serta perubahan yang terjadi
 Mengetahui pola perkembangan eliminasi 

3) Tidak efektifnya koping individu b.d kecemasan


Intervensi :

 Memberikan penjelasan pada orang tua sehubungan dengan


yang sedang dialami anak

25
 Memberikan health education pada orang tua tentang
penyebab keracunan
 Memberikan teknik relaksasi pada anak.
Rasional :
 Orang tua dapat ikut berperan serta dalam proses perawatan
pada anak sakit
  Menambah pengetahuan atau wawasan orang tua
  Merupakan salah satu cara yang dapat mengatasi rasa
nyeri, membuat klien merasa lebih nyaman dan tenang

BAB IV

KESIMPULAN

4.1 Kesimpulan
Keracunan adalah suatu kejadian apabila substansi yang berasal
dari aam atau buatan yang pada dosis tertentu dapat menyebabkan
kerusakan pada jaringan hidup yang bisa menyebabkan cedera atau
kematian. Racun dapat memasuki jaringan hidu melalui beberapa cara
yaitu termakan, terhirup, disuntikan, dan terserap melalui kulit (Merriam,
W. 2014)
Keracunan memiliki dampak negatif baik terhadap kesehatan
maupun sosial ekonomi. Keracunan akut maupun kronis akan

26
menimbulkan gangguan kesehatan misalnya kegagalan pernapasan dan
paralisis akibat keracunan insektisida antikolinesterase serta gangguan
hepar dan gagal ginjal akibat keracunan asetaminofen. Gangguan
kesehatan yang dialami oleh korban keracunan secara sosial ekonomi akan
mengakibatkan penderitaan (rasa sakit), penurunan produktivitas dan
pendapatan serta peningkatan biaya perawatan kesehatan (DiPiro,dkk,
2008).

27
DAFTAR PUSTAKA

Krisanty, dkk. (2011). Asuhan Keperawatan Gawat Darurat. Jakarta: Trans Info


Media.
Panacea Tim Bantuan Medis, (2013). Basic Life Support Edisi 13. Jakarta : EGC.
Sartono. (2001). Racun dan Keracunan. Jakarta: Widya Medika.
Smeltzer, Suzanne C., & Bare, Brenda G. 2012 . Buku Ajar: Keperawatan
Medikal Bedah, vol: 3. Jakarta: EGC.