Anda di halaman 1dari 10

NAMA : MASRIYANI

NIM : 1510015047

OSTEOARTRITIS

Osteoartritis (OA) merupakan bentuk artritis yang paling sering ditemukan di


masyarakat, bersifat kronis, berdampak besar dalam masalah kesehatan masyarakat.
Osteoartritis dapat terjadi dengan etiologi yang berbeda-beda, namun mengakibatkan
kelainan bilologis, morfologis dan keluaran klinis yang sama.

Etiopatogenesis
OA terjadi karena degradasi pada rawan sendi, remodelling tulang, dan inflamasi.
Terdapat 4 fase penting dalam proses pembentukan osteoartritis yaitu fase inisiasi, fase
inflamasi, nyeri, fase degradasi.
- Fase inisiasi : Ketika terjadi degradasi pada rawan sendi, rawan sendi berupaya melakukan
perbaikan sendiri dimana khondrosit mengalami replikasi dan memproduksi matriks baru.
Fase ini dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan suatu polipeptida yang mengontrol proliferasi
sel dan membantu komunikasi antar sel, faktor tersebut seperti Insulin-like growth factor
(IGF-1), growth hormon, transforming growth factor b (TGF-b) dan coloni stimulating
factors (CSFs). Faktor-faktor ini menginduksi khondrosit untuk mensintesis asam deoksiribo
nukleat (DNA) dan protein seperti kolagen dan proteoglikan. IGF-1 memegang peran penting
dalam perbaikan rawan sendi.

- Fase inflamasi : Pada fase inflamasi sel menjadi kurang sensitif terhadap IGF-1 sehingga
meningkatnya pro-inflamasi sitokin dan jumlah leukosit yang mempengaruhi sendi. IL-
1(Inter Leukin-1) dan tumor nekrosis faktor-α (TNF-α) mengaktifasi enzim degradasi seperti
collagenase dan gelatinase untuk membuat produk inflamasi pada osteoartritis.
- Fase nyeri: Pada fase ini terjadi proses peningkatan aktivitas fibrinogenik dan penurunan
aktivitas fibrinolitik. Proses ini menyebabkan penumpukan trombus dan komplek lipid pada
pembuluh darah subkondral sehingga menyebabkan terjadinya iskemik dan nekrosis jaringan.
Hal ini mengakibatkan lepasnya mediator kimia seperti prostaglandin dan interleukin yang
dapat menghantarkan rasa nyeri. Rasa nyeri juga berupa akibat lepasnya mediator kimia
seperti kinin yang dapat menyebabkan peregangan tendo, ligamen serta spasme otot-otot.
Nyeri juga diakibatkan oleh adanya osteofit yang menekan periosteum dan radiks saraf yang
berasal dari medulla spinalis serta kenaikan tekanan vena intramedular akibat stasis vena
pada pada proses remodelling trabekula dan subkondrial.

- Fase degradasi : IL-1 mempunyai efek multipel pada sel cairan sendi yaitu meningkatkan
sintesis enzim yang mendegradasi rawan sendi. Peran makrofag didalam cairan sendi juga
bermanfaat, yaitu apabila terjadi jejas mekanis, material asing hasil nekrosis jaringan atau
CSFs akan memproduksi sitokin aktifator plasminogen (PA). Sitokin ini akan merangsang
khondrosit untuk memproduksi CSFs. Sitokin ini juga mempercepat resorpsi matriks rawan
sendi.
Faktor pertumbuhan dan sitokin membawa pengaruh yang berlawanan selama
perkembangan OA. Sitokin cenderung merangsang degradasi komponen matriks rawan sendi
sedangkan faktor pertumbuhan merangsang sintesis (Sudoyo et. al, 2007).
Proses penyakitnya tidak hanya mengenai rawan sendi namun juga mengenai seluruh
sendi, termasuk tulang subkondral, ligamentum, kapsul dan jaringan sinovial serta jaringan
ikat periartikular. Pada stadium lanjut rawan sendi mengalami kerusakan yang ditandai
dengan adanya fibrilasi, fissura dan ulserasi yang dalam pada permukaan sendi. Harus
dipahami bahwa pada OA merupakan penyakit dengan progresifitas yang lambat, dengan
etiologi yang tidak diketahui.
Terdapat beberapa faktor risiko OA, yaitu: obesitas, kelemahan otot, aktivitas fisik
yang berlebihan atau kurang, trauma sebelumnya, penurunan fungsi proprioseptif, faktor
keturunan menderita OA dan faktor mekanik. Faktor risiko tersebut mempengaruhi
progresifitas kerusakan rawan sendi dan pembentukan tulang yang abnormal.
OA paling sering mengenai lutut, panggul, tulang belakang dan pergelangan kaki.
Karakteristik OA ditandai dengan keluhan nyeri sendi dan gangguan pergerakan yang terkait
dengan derajat kerusakan pada tulang rawan.
Osteoartritis saat ini tidak lagi dianggap penyakit degeneratif, namun usia tetap
merupakan salah satu faktor risikonya. Usia diatas 65 tahun, hanya 50% memberikan
gambaran radiologis sesuai Osteoartritis, meskipun hanya 10% pria dan 18% wanita
diantaranya yang memperlihatkan gejala klinis OA, dan sekitar 10% mengalami disabilitas
karena OA nya, maka dapat difahami jika makin bertambah usia, makin tinggi kemungkinan
untuk terkena OA. Seiring dengan meningkatnya usia harapan hidup, menurut WHO pada
tahun 2025 populasi usia lanjut di Indonesia akan meningkat 414% dibanding tahun 1990.
Di Indonesia prevalensi OA lutut yang tampak secara radiologis mencapai 15,5% pada pria
dan 12,7% pada wanita yang berumur antara 40-60 tahun. Penelitian di Bandung pada pasien
yang berobat ke klinik reumatologi RSHS pada tahun 2007 dan 2010, berturutturut
didapatkan: OA merupakan 74,48% dari keseluruhan kasus (1297) reumatik pada tahun 2007.
Enam puluh sembilan persen diantaranya adalah wanita dan kebanyakan merupakan OA lutut
(87%). Dan dari 2760 kasus reumatik pada tahun 2010, 73% diantaranya adalah penderita
OA, dengan demikian OA akan semakin banyak ditemukan dalam praktek dokter sehari-hari.
Sampai saat ini belum ada terapi yang dapat menyembuhkan OA. Penatalaksanaan
terutama ditujukan pada pengendalian/menghilangkan nyeri, memperbaiki gerak dan fungsi
sendi serta meningkatkan kualitas hidup. Penatalaksanaan OA panggul, lutut atau OA pada
tempat lain, meliputi penatalaksanaan secara non farmakologi dan farmakologi. Operasi
pengganti sendi hanya dilakukan untuk penderita dengan OA yang berat dan tidak respons
dalam pengobatan terapi.
Pemahaman yang lebih baik mengenai patogenesis OA akhir-akhir ini diperoleh
antara lain berkat meningkatnya pengetahuan mengenai biokimia dan biologi molekuler
rawan sendi. Dengan demikian diharapkan kita dapat mengelola pasien OA dengan lebih
tepat dan lebih aman.

.Gambaran Radiologis Pada OA Menurut Kellgren & Lawrence


Foto Rontgen Sendi Lutut Normal Posisi AP
Foto Rontgen Lateral Sendi Lutut Normal

- Gambar atas kiri : pandangan anteroposterior menunjukkan menyempitnya celah sendi


(tanda panah)
- Gambar bawah kiri : pandangan lateral menunjukkan sklerosis yang ditandai terbentuknya
osteofit (tanda panah)
- Gambar atas kanan : menyempitnya celah sendi (tanda panah putih) menyebabkan
destruksi padapada kartilago dan sunchondral (tanda panah terbuka)
- Gambar bawah kanan : ditemukan kista subchondral (tanda panah)
Pencitraan radiologis sinar-x pada osteoarthritis panggul
Gambar atas : gambar pertama menunjukkan penyempitan celah sendi pada panggul
(tanda panah putih), sklerosis subchondral (kepala panah putih), dan
terbentuknya kista (kepala panah transparan).
Gambar bawah : gambar kedua diambil 2 tahun setelah gambar pertama yang menunjukkan
semakin menyempitnya celah sendi (tanda panah putih) dan sklerosis
(kepala panah putih).

OA pada jari tangan OA pada jari kaki


Pencitraan radiologis sinar-x osteoarthritis pada lutut
Gambaran radiologis anteroposterior lutut menunjukkan penyempitan ruang sendi, sklerosis, dan pembentukan
osteofit (panah)
Pencitraan radiologis sinar-x osteoarthritis pada pinggul
Kedua gambar di atas menunjukkan penyempitan ruang superolateral sendi, sklerosis, kista subkondral, dan
pembentukan osteofit (panah)

Pencitraan radiologis sinar-x osteoarthritis pada panggul


Rheumatoid arthritis dengan osteoartritis sekunder. Gambaran radiologis panggul anteroposterior menunjukkan
penyempitan ruang sendi setiap sendi panggul. Perhatikan erosi (anak panah) dan osteofit (panah)
Adanya pembentukan osteofit dan penyempitan
Gambaran sendi tungkai normal
celah sendi pada sendi tungkai

Gambaran sendi panggul normal Adanya pembentukan osteofit pada sendi


panggul
Osteofit pada sendi jari tangan (DIP 1) Pembentukan sklerosis subkondral

A. Radiografi Konvensional : B. CT Scan : tampak kista C. MRI : terlihat adanya


tidak tampak tanda tanda subchondral yang kista subchondral
pembentukan kista kecil yang dikelilingi (panah) yang
oleh thin sclerotic memiliki intensitas
halo tinggi
DAFTAR PUSTAKA

American Journal Of Roentgenology, 29 Juni 2006

Jacobson, Ja, Et Al. 2008. Radiographic Evaluation Of Arthritis : Degenerative Joint Disease
And Variation. Radiology. 248(3) : 737-747.

Ls, Daniel, Deborah Hellinger. 2001. Radiographic Assessment Of Osteoarthritis. American


Family Physician. 64 (2) : 279-286

Rekomendasi Ira Untuk Diagnosis Dan Penatalaksanaan Osteoartritis 2014