Anda di halaman 1dari 7

A.

PENERAPAN PENGETAHUAN DALAM PRAKTIK PELAYANAN


1. Uraikan satu kasus yang Anda sedang atau telah tangani mengikuti pola 5W + 1H (memperhatikan aspek-
aspek: apa kasusnya, kapan dan dimana kasus itu terjadi, siapa pihak-pihak yang terkait dengan kasus
tersebut, mengapa kasus tersebut terjadi, dan bagaimana memecahkan masalah tersebut).

Kasus yang pernah saya tangani yaitu tentang Korban Bullying. SU adalah anak kedua
dari orang tua KPM yang saya dampingi. Orang tua SU bekerja sebagai buruh tani. SU
merupakan anak putus sekolah karena korban bulllying. Sebelumnya SU adalah anak
yang berprestasi akan tetapi karena pergaulan yang tidak baik dilingkungannya, SU
seringkali diajak temannya memalak dan terlibat geng motor yang mengakibatkan SU
mengalami kecelakaan motor. Kasus tersebut saya tangani sejak satu tahun yang lalu,
pada bulan Februari 2018. Kasus tersebut terjadi di Dukuh Bawangan, Desa Tijayan,
Kecamatan Manisrenggo. Saya menangani kasus tersebut bersama dengan rekan
pendamping dari kecamatan dan melibatkan pihak sekolah. kasus tersebut terjadi sejak
SU menderita kerusakan pita suara yang diakibatkan oleh kecelakaan motor, sehingga
SU merasa minder dan menjadi korban bullying oleh teman-teman disekolahnya.
Cara menangani kasus tersebut adalah pendekatan dengan orang tua supaya memberikan
support kepada SU dan pihak sekolah juga supaya memberikan support dan konseling
kepada SU.

2. Berdasarkan kasus 1, jelaskan:

a. Penerapan teori/konsep-konsep yang relevan dan terkait dengan kasus 1 yang ditangani.

1. Sebutkan dan jelaskan setidaknya 3 (tiga) teori/konsep-konsep yang relevan dengan kasus 1
(minimal 150 kata).

Berdasarkan deskripsi diatas, untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab seorang
pekerjaan sosial tentunya dibutuhkan teori yang tepat untuk menunjang setiap
kegiatan yang dilakukan oleh pekerjaan sosial terhadap SUnya. Teori atau konsep
yang cocok digunakan dalam menangani masalah SU adalah teori masalah sosial ,
ketidakberfungsian sosial, dan kasus korban bullying
A. BULLYING
Bullying, secara konsep bisa diartikan sebagai bentuk agresi atau serangan dimana
terjadi ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku (bullies/bully) dengan korban.
Pelaku pada umumnya memiliki kekuatan atau kekuasaan lebih besar daripada
korbannya.

bullying dibagi dalam 4 kategori, yaitu :


1. Bullying Secara Verbal.
Perilaku ini dapat berupa julukan nama, celaan, fitnah, kritikan kejam, penghinaan,
teror, mengintimidasi, dan lain-lain. Bullying dalam bentuk verbal adalah salah satu
jenis yang paling mudag dilakukan dan akan menjadi awal dari perilaku bullying
yang lainnya serta dapat menjadi langkah pertama menuju pada kekerasan yang lebih
lanjut.
2. Bullying Secara Fisik.
Yang termasuk dalam jenis bullying secara fisik adalah memukul, menendang,
menampar, mencekik, menggigit, merusak, meludahi, dan lain sebagainya. Bullying
jenis ini yang paling tampak dan mudah untuk diidentifikasi, namun kejadian bullying
secara fisik tidak sebanyak bullying dalam bentuk yang lain. 
3. Bullying Secara Relasional/Psikis.
Bullying secara relasional adalah pelemahan harga diri korban secara sistematis
melalui pengabaian, pengucilan, atau penghindaran. Perilaku ini dapat mencakup
sikap-sikap yang tersembunyi seperti pandangan yang agresif, lirikan mata, helaan
nafas, cibiran, tertawa yang mengejek, dan lain-lain. Perilaku bullying seperti ini
paling sulit dideteksi dari luar.
4. Bullying Elektronik.
Bullying elektronik merupakan bentuk perilaku bullying yang dilakukan pelakunya
melalui sarana elektronik seperti komputer, handphone, internet, website, chatting, e-
mail, SMS, dan lain sebagainya. Biasanya digunakan untuk meneror korban dengan
tulisan, gambar, ataupun rekaman video yang sifatnya mengintimidasi. Bullying jenis
ini sering dilakukan oleh kelompok remaja yang telah memiliki pemahaman cukup
baik terhadap sarana teknologi informasi dan media elektronik lainnya.

B. TEORI MASALAH SOSIAL

Masalah sosial adalah suatu situasi atau kondisi sosial yang dievaluasi oleh orang-
orang sebagai suatu situasi atau kondisi yang tidak mengenakkan atau situasi
problematic (Pincus & Minahan, 1975).

Dari definisi di atas dapat disimpulkan unsur-unsur masalah sosial yaitu:


 Adanya suatu situasi atau kondisi sosial;
 Adanya sekelompok orang yang mengevaluasi situasi atau kondisi sosial
tersebut;
 Adanya evaluasi terhadap situasi atau kondisi sosial tersebut sebagai tidak
mengenakkan;
 Adanya alasan-alasan mengapa situasi atau kondisi tersebut sebagai tidak
mengenakkan.

Masalah sosial bisa disebabkan oleh faktor sebagai berikut:

 Internal : ketidakmampuan, kecatatan, gangguan jiwa dan sebagainya.


 Eksternal: keluarga, sekolah, lingkungan tetangga, lingkungan kerja dan
lain sebagainya.

C. TEORI KETIDAKFUNGSIAN SOSIAL

Ketidakfungsian sosial adalah terganggunya fungsi sosial, sehingga mempengaruhi


kemampuan memenuhi kebutuhan, dan peranan-peranannya di masyarakat.
Kondisi yang dipandang orang atau masyarakat sebagai situasi yang tidak
diharapkan.

Arti lain ketidakberfungsian sosial adalah ketidakmampuan melaksanakan peran


sosial seperti diamanahkan oleh nilai-nilai masyarakat. Peranan merupakan
seperangkat harapan tentang tindakan yang seharusnya dilakukan seseorang,
kelompok, atau masyarakat pada posisi (status) tertentu. Dengan demikian,
keberfungsian sosial dapat didefenisikan sebagai kemampuan seseorang dalam
melaksanakan fungsi sosialnya atau kapasitas seseorang dalam menjalankan tugas-
tugas kehidupannya sesuai dengan status sosialnya.

Masalah dalam bidang kehidupan yang terkait erat dan langsung sebagai penyebab
maupun sebagai akibat ketidakberfungsian sosial, yaitu kemiskinan, rendahnya
pendidikan, rendahnya taraf kesehatan dan buruknya pemeliharaan lingkungan.
Konsep keberfungsian sosial pada intinya menunjuk pada “kapabilitas” individu,
keluarga, atau masyarakat dalam menjalankan peran-peran sosial dilingkungannya.
Konsepsi ini mengedepankan nilai bahwa SU adalah subyek dari segenap proses
dan aktifitas kehidupanya. Dengan demikian, sesunguhnya bahwa SU memilik
kemampuan dan potensi yang dapat dikembangkan dalam proses pertolongan,
bahwa SU memilik dan/atau dapat menjangkau, memanfaatkan, dan memobilisasi
asset dan sumber-sumber yang ada di sekitar dirinya.

2. Uraikan penggunaan teori/ konsep-konsep tersebut dalam pemberian pelayanan pada kasus 1
yang telah atau sedang Anda lakukan (minimal 150 kata)

SU adalah seseorang karena suatu hambatan, kesulitan atau gangguan tidak dapat
melaksanakan fungsi sosialnya, sehingga tidak dapat terpenuhi kebutuhan hidupnya
baik jasmani, rohani dan sosial secara memadai dan wajar maka SU disebut
mengalami masalah sosial dan ketidakfungsian sosial. Hal tersebut disebabkan karena
SU sebagai korban bullying. Korban bullying akan mengalami dampak psikologis
yang besar. Dampak psikologis secara umum adalah:
a. Kecemasan
Merupakan perasaan campuran berisikan ketakutan dan keprihatinan mengenai masa-masa
mendatang tanpa sebab khusus untuk ketakutan tersebut. Kecemasan sendiri dibagi menjadi 2
tingkatan :
- Tingkatan fisiologis
Kecemasan pada tingkat ini sudah mempengaruhi atau berwujud pada gejala-gejala fisik
terutama pada fungsi saraf, diantaranya tidak dapat tidur, perut mual dan keringat dingin
berlebihan.
- Tingkatan Psikologis
Pada tingkat ini kecemasan berupa gejala kejiwaan, sepertikhawatir, bingung, sulit
konsentrasi, dan tegang.
b. Rasa Malu
Merupakan suatu emosi dengan ciri khas adanya perasaan bersalah, hal yang memalukan dan
penghindaran . Ditambahkan pula ungkapan kekuatan rasa malu berasal dari interaksi-
interaksi sosial
c. Ketidakberdayaan
penyebab suatu rasa ketidakberdayaan dalam pengalaman terdiri dari keikutsertaan dalam
pemecahan masalah, respon yang lamban terhadap stress, penyebab perasaan depresi dan
rendahnya upaya untuk keberhasilan-keberhasilan menyelesaikan tugas-tugasnya.
ketidakberdayaan merupakan suatu kondisi yang didapat dari adanya gangguan motivasi, proses
kognisi maupun emosi.
d. Amarah
diri seseorang yang mengalami reaksi fisiologis dapat muncul suatu ekspresi emosional tidak
disengaja yang disebabkan oleh kejadian yang tidak menyenangkan (masalah) atau mungkin
juga dipengaruhi oleh pikiran dan ingatan yang muncul pada sewaktu-waktu.
e. Kesedihan
kesedihan adalah perasaan sedih, duka cita, kesusahan hati. Kesedihan merupakan perasaan hati
yang lebih emosional, menjurus ke kesedihan yang ditandai dengan kepasifan relatif, keadaan
otot yang merosot dengan keluhan tidak jarang mencucurkan air mata
Dari uraian di atas mengenai masalah sosial yang dialami SU, ketidakberfungsian
sosial dan dampak psikologis yang menimpa SU maka penting adanya kerjasama
dengan orangtua, masyarakat, kepolisian dan penegak hukum untuk memberi
pengertian kepada pelajar dan mahasiswa bahwa bullying sangat merugikan.
Peran guru adalah sebagai model dan acuan dalam meningkatkan peran, dalam
pelaksanaan strategi untuk mengatasi perilaku bullying, serta meningkatkan
pengawasan terhadap siswa dan kerja sama dengan orangtua siswa untuk melakukan
kontrol terhadap siswanya
Peran orang tua adalah bekerja sama dengan pihak sekolah dalam mendidik anaknya,
untuk menghasilkan pendidikan yang lebih baik dan bermutu
Sedangkan murid hendaknya lebih meningkatkan rasa kekeluargaan dan lebih
menghargai terhadap teman lainnya, dapat menghargai dan menghormati kekurangan
ataupun kelebihan yang dimiliki oleh orang lain agar terhindar dari perilaku bullying.

3. Sebutkan dasar pertimbangan Anda dalam penggunaan teori/konsep untuk kasus 1 (minimal
150 kata)

Konsep tersebut digunakan karena sesuai dengan kasus yang disampaikan yaitu
mengenai korban bullying dan cocok dengan karakteristik korban bullying yaitu:
a. Karakter Akademik
Secara akademis, korban terlihat lebih tidak cerdas dari orang yang tidak menjadi korban atau
sebaliknya
b. Karakter Sosial
Secara sosial, korban terlihat lebih memiliki hubungan yang erat dengan orang tua mereka.
Sebaliknya pembully memiliki keluarga yang memiliki masalah dengan keuangan dan
kehidupan sosial mereka, struktur keluaga yang tidak bagus, dan memiliki lingkungan yang
tidak peduli, hal inimenyebabkan pembully jauh dari orang tua mereka.
c. Karakter Mental
Secara mental atau perasaan, korban melihat diri mereka sendiri sebagai orang yang bodoh
dan tidak berharga. Kepercayaan diri mereka rendah, dan tingkat kecemasan sosial
mereka tinggi. Tanda-tanda seperti kecemasan, depresi, dan tekanan jiwa sering terdapat dalam
korban
d. Karakter Fisik
Secara fisik, korban adalah orang yang lemah, dan pembully mengambil kesempatan tersebut.
Pembully juga menarget orang yang punya kelemahan fisik tertentu. Pembully sering menarget
korban yang cacat, kelebihan berat badan, secara umum tidak menarik secara fisik. Korban
laki-laki lebih sering mendapatsiksaan secara langsung, misalnya bullying fisik.
Dibandingkan korban laki-laki, korban perempuan lebih sering mendapat siksaan secara tidak
langsung, misalnya melalui kata-kata atau bullying verbal
e. Karakter Antar Perorangan
Secara antar perorangan, walaupun korban sangat menginginkan penerimaan secara sosial,
mereka jarang sekali untuk memulai kegiatan-kegiatan yang menjurus ke arah sosial. Anak
korban bullying kurang diperhatikan oleh pembina, karena korban tidak bersikap aktif
dalam sebuah aktivitas.
Adapun perilaku yang ditunjukkan oleh SU sama dengan gejala yang Nampak pada
seorang anak yang menjadi korban bullying. Anak yang mengalami bullying
umumnya menunjukkan gelaja sebagai berikut:
a. Adanya penurunan minat yang tiba-tiba di sekolah atau tidak mau pergi ke sekolah.
b. Prestasi korban di kelas menurun.
c. Korban merasa sedih, pendiam.
d. Menderita cedera fisik yang tidak konsisten penjelasan akibatnya
e. Mengalami sakit perut, pusing, kepanikan, keadaan sulit tiduratau sangat sering
tidur, kelelahan.
Reaksi yang ditunjukkan SU sebagai korban bullying adalah pelarian. Awalnya korban
SU menghindar dari tempat-tempat tertentu di sekolah misalnya lapangan bola, kantin
karena takut di bully. Kemudian korban SU mengalami penurunan bidang akademik.
Reaksi terburuk yang dilakukan SU adalah tidak mau lagi bersekolah dan menarik diri
dari kehidupan sosial masyarakat setempat.

b. Implikasi penggunaan teori/konsep terhadap capaian praktik Anda sebagai TKS dalam penanganan kasus
1

1. Uraikan implikasi penggunaan pengetahuan dalam praktik pelayanan yang telah atau sedang Anda
lakukan terhadap capain penanganan kasus 1 (minimal 150 kata)

Penggunaan teori/konsep tersebut dalam menyelesaikan kasus ini memberikan dampak


positif berupa :
- Pengetahuan yang bisa digunakan dalam mendalami kasus tersebut.
- Dapat memperkaya khasanah kepustakaan dan akademis khususnya dalam terapan
ilmu Psikologi, terkait pengaruh kontrol sosial terhadap perilaku bullying pelajar
- Dapat melihat gambaran seberapa jauh konsep-konsep dan teori-teori yang
dirumuskan secara akademis, dapat diaplikasikan untuk membahas pengaruh kontrol
sosial terhadap perilaku bullying pelajar.
- Bahan masukan bagi kepala sekolah dan guru, untuk melindungi siswanya dari
praktek bullying yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi psikologisnya
- Dapat memberikan manfaat besar bagi para pelajar agar tidak pasrah atau
membiarkan praktek bullying dialami oleh dirinya, dan berani melaporkannya kepada
guru maupun orang tua di rumah
- bermanfaat bagi orang tua murid untuk selalu melindungi anaknya saat berada di
sekolah dari perilaku bullying, dan memberikan perhatian yang besar untuk
perkembangan psikologisnya

2. Uraikan implikasi jika tidak menggunakan pengetahuan dalam praktik pelayanan yang telah atau
sedang Anda lakukan terhadap capaian penanganan kasus 1 (minimal 150 kata)

Apabila tidak menggunakan teori/konsep-konsep tersebut maka masyarakat tidak akan


mengetahui apa yang dialami SU dan dampak terberat yang dapat terjadi pada SU untuk
saat ini dan masa yang akan datang. Karena begitu awam pemahaman masyarakat akan
bullying baik pengertian, karakteriktik, ciri-ciri, dan sampai saat ini bullying masih
dianggap hal yang biasa dalam suatu pergaulan. Bullying sendiri ada yang Nampak jelas
maupun tidak Nampak atau tersembunyi. Apabila tindakan bullying tidak dihentikan
ketika pada tahap awal maka akan memberikan dampak yang lebih besar bagi korban
khususnya bagi SU.
Apabila masyakat tidak diberikan pengertian mengenai hal tersebut maka korban SU
akan mengalami keterpurukan dan ketidakfungsian sosial selamanya yang tentunya akan
memberikan pengaruh yang sangat besar pada masa depan SU dalam hal
penghidupannya. Karena SU tidak akan bisa hidup secara normal sebagai makhluk sosial
dan tidak bisa mencari nafkah secara layak. Maka ke depan kesejahteraan sosial SU akan
terganggu.
Akibat yang bisa timbul apabila tidak menggunakan konsep ini maka bisa jadi akan
timbul korban-korban bullying yang lain selain SU.