Anda di halaman 1dari 17

WAKAF TUNAI

Ditulis dan Diajukan untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah


Lembaga Keuangan Syariah Non Bank

Dosen Pengampuh:
Dr. Hj. Rahmawati Muin, M.Ag

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 10

➢ Mega Lestari (90100118011)


➢ Riskayanti (90100118027)
➢ Rizky Rozalddin (90100118041)

JURUSAN EKONOMI ISLAM


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
TAHUN AKADEMIK 2020
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita Rahmat dan
Hidayah-Nya sehingga makalah yang berjudul “WAKAF TUNAI” ini dapat
diselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Salawat dan salam kepada Nabi
Muhammad SAW.

Terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan


makalah ini, khususnya kepada Dosen Mata Kuliah Lembaga Keuangan Syariah
Non Bank, IbuDr. Hj. Rahmawati Muin, M. Ag.. Semoga Allah membalas semua
kebaikannya. Aamiin yaa rabbal ‘alamiin.

Dalam penulisan makalah ini, disadari bahwa masih jauh dari kata
sempurna. Maka dari itu, kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat
dibutuhkan. Dan semoga makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran
di masa yang akan datang.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Gowa, Juni 2020

(penulis)

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ i


DAFTAR ISI...................................................................................................................... ii
BAB I .................................................................................................................................. 1
PENDAHULUAN ............................................................................................................. 1
A. LATAR BELAKANG ........................................................................................... 1
B. RUMUSAN MASALAH ....................................................................................... 1
C. TUJUAN PENULISAN ........................................................................................ 1
BAB II ................................................................................................................................ 3
PEMBAHASAN ................................................................................................................ 3
A. PENGERTIAN DAN DASAR HUKUM WAKAF............................................. 3
B. RUKUN DAN SYARAT WAKAF....................................................................... 5
C. KONSEP DAN PENGELOLAAN WAKAF TUNAI......................................... 7
D. FATWA WAKAF TUNAI.................................................................................. 11
BAB III............................................................................................................................. 13
KESIMPULAN ............................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 14

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Wakaf telah disyariatkan dan telah dilaksanakan oleh umat Islam


sejak masa Nabi Muhammad Saw. Namun wakaf yang sangat populer di
kalangan umat Islam, khususnya di Indonesia masih terbatas pada seputar
persoalan tanah dan bangunan yang diperuntukkan untuk tempat ibadah dan
pendidikan, atau bangunan sosial lainya. Belakangan baru ada wakaf yang
berbentuk uang tunai, atau benda bergerak yang manfaatnya untuk
kepentingan pendidikan, riset, rumah sakit, pemberdayaan ekonomi lemah
dan lain-lain. Wakaf tunai bagi umat Islam Indonesia relatif masih baru,
sehingga pelaksanaannya belum maksimal dan belum dirasakan secara nyata
oleh masyarakat banyak.

Wakaf tunai bagus sekali untuk dikembangkan bagi kepentingan umat. Hal
ini sangat relevan dengan aspek manajemen keuangan secara Islami. Dalam uraian
ini, pemahaman harta dalam bentuk uang tunai untuk diambil manfaatnya
haruslah sesuai dengan ajaran Islam atau lebih dikenal dengan kontrak mudarabah
dan menghindari praktek ribawi dalam implementasinya.

B. RUMUSAN MASALAH

Pada makalah ini rumusan masalah yang diangkat adalah:

1. Apa pengertian dan dasar hukum wakaf ?


2. Apa saja rukun dan syarat wakaf tunai ?
3. Bagaimana konsep dan pengelolaan wakaf tunai ?
4. Apa saja fatwa wakaf tunai ?

C. TUJUAN PENULISAN

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata
kuliah Lembaga Keuangan Syariah Non Bank. Selain itu, tujuan lainnya berupa:

1
1. Mengetahui pengertian dan dasar hukum wakaf
2. Mengetahui rukun dan syarat wakaf tunai
3. Mengetahui konsep dan pengelolaan wakaf tunai
4. Mengetahui fatwa wakaf tunai

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN DAN DASAR HUKUM WAKAF
a. Pengertian Wakaf

Secara etimologi, kata wakaf berasal dari kata waqafa-yaqifu-waqfan,


yang mempunyai arti berdiri tegak, menahan. Istilah fikih semakna dengan wakaf
antara lain, al-habs dan as-sabiil, maka tidak heran di dalam kitab Imam Syafi’I
dan al-Kutub as-Sittah menyebut wakaf dengan menggunakan lafaz al-habs.

• Imam Hanifah memaknai wakaf dengan ‘ain (pokok) asset yang berstatus
tetap milik wakif dan menyedekahkan manfaatnya untuk kebaikan.
Berdasarkan definisi ini, Imam Hanifah memosisikan wakaf sebagai
sedekah sebagai ‘ariyah (pinjam meminjam).
• Imam Malik menyatakan, wakaf merupakan perbuatan wakif yang
menyerahkan manfaat asset wakafnya, baik berupa hasil atau sewa, dengan
sighat (ucapan penyerhan) dalam jangka waktu yang dikehendaki oleh
wakif.
• Jumhur Ulama mengartikan wakaf adalah menahan suatu benda yang
dapat dimanfaatkan, sementara ‘ain asset tetap, tidak hilang atau
berkurang, karena diambil benefit-nya sepanjang penggunaan harta itu
diperbolehkan menurut hukum Islam.

Dari definisi wakaf yang telah disebutkan, dapat disimpulkan bahwa yang
dimaksud dengan wakaf adalah penyerahan aktiva seseorang atau badan hukum
sebagai manifestasi kepatuhan terhadap agama dengan menggunakan manfaat
benda wakaf untuk kepentingan umat sedangkan subtansi aktivanya kekal dan
tidak berkurang serta harta telah beralih hak kepemilikan menjadi milik Allah
SWT.1

1
Nurul Huda dan Mohamad Heykal, Lembaga Keuangan Islam Tinjauan Teoritis dan
Praktis, (Jakarta: Kencana, 2015), hlm. 308-311.

3
b. Dasar Hukum Wakaf
1) Al-Qur‟an

Di dalam al-Qur‟an tidak disebutkan secara eksplisit dan jelas, serta


tegas tentang wakaf. A1-Qur'an hanya menyebutkan dalam artian umum,
bukan khusus menggunakan kata wakaf. Tetapi para ulama fikih menjadikan
ayat-ayat umum itu sebagai dasar hukum wakaf dalam Islam, seperti ayat-
ayat yang membicarakan tentang kebaikan, ṣadaqah, infāk dan amal jāriyah.
Para ulama menafsirkan bahwa wakaf sudah tercakup dalam cakupan ayat-ayat
umum itu, antara lain:

• Q.S. al Hajj:77

ْ ُ‫ُواربَّ ُك ْم َوا ْف َعل‬


َ‫واال َخي َْرلَ َعلَّ ُك ْمت ُ ْف ِلحُون‬ َ ‫ُواوا ْعبُد‬ ْ ‫۩ يَاأَيُّ َهاالَّذِينَآ َمنُوا‬
َ ُ‫ار َكع‬
َ ‫واوا ْس ُجد‬

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu,


sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat
kemenangan.”

• Q.S. al-Baqarah:261

َ ُ‫س ْنبُلَة ٍِمائَةُ َح َّب ٍة ۗ َواللَّ ُهي‬


ۗ ‫ضا ِعفُ ِل َم ْنيَشَا ُء‬ ُ ‫سنَابِلَ ِفي ُك ِل‬ َ ْ‫يُلللَّ ِه َك َمثَ ِل َحبَّ ٍةأ َ ْنبَتَت‬
َ َ‫س ْبع‬ َ ‫َمث َ ُُللَّذِي َنيُ ْن ِفقُونَأ َ ْم َوالَ ُه ْم ِفي‬
ِ ‫س ِب‬
‫َواللَّ ُه َوا ِسعٌعَ ِلي ٌم‬

Artinya : “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang


menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang
menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat
gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas
(karunia-Nya) lagi Maha mengetahui).”

4
• Q.S. Ali „Imrān: 92

‫ش ْيءٍ فَإِنَّاللَّ َهبِ ِهعَ ِلي ٌم‬ ِ ُ‫وام َّمات ُ ِحبُّونَ ۚ َو َمات ُ ْن ِفق‬
َ ‫وام ْن‬ ْ ُ‫لَ ْنتَنَال‬
ِ ُ‫واالبِ َّر َحت َّ ٰىت ُ ْن ِفق‬

Artinya : “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang


sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai dan
apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya.”

• Q.S. al-Hadīd:7

ٌ ‫وام ْن ُك ْم َوأ َ ْن َفقُوالَ ُه ْمأَجْ ٌر َك ِب‬


‫ير‬ ِ ُ‫وام َّما َج َعلَ ُك ْم ُم ْست َْخلَ ِفينَ ِفي ِه ۖ فَالَّذِينَآ َمن‬
ِ ُ‫سو ِل ِه َوأ َ ْن ِفق‬
ُ ‫ِآمنُوا ِباللَّ ِه َو َر‬

Artinya : “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah


sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka
orangorang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari
hartanya memperoleh pahala yang besar.”2

2) Hadist

Dari Abu Hurairah r.a., Nabi SAW bersabda yang artinya “Apabila
manusia meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal yaitu sedekah
amal jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya.” (HR.
Bukhari dan Muslim).3

B. RUKUN DAN SYARAT WAKAF

Dalam wakaf terdapat rukun dan syarat yang harus dipenuhi agar amalan
ini sesuai dengan aturan agama Islam. Yang termasuk ke dalam rukun wakaf dan
syarat-syaratnya adalah:

2
Dosen IIQ Jakarta, Wakaf Uang Dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum Positif di
Indonesia, Waratsah. Vol. 1 No. 2, Desember 2016, hlm. 5.
3
Nurul Huda dan Mohamad Heykal, Lembaga Keuangan Islam Tinjauan Teoritis dan
Praktis, (Jakarta: Kencana, 2015), hlm. 312.

5
No. Rukun Syarat-Syarat

1. Al-Wakif Orang yang melakukan perbuatan wakaf.


• Hendaklah wakif memiliki secara penuh
hartanya,
• Berakal dan dalam keadaan sehat rohaninya,
tidak dalam keadaan terpaksa atau dalam
keadaan jiwa yang tertekan,
• Baligh,
• Orang yang mampu bertindak secara hukum
(rasyid).

2. Al-Mawquf Harta benda yang akan diwakafkan.


• Harta harus jelas wujudnya atau zatnya dan
bersifat abadi (barang berharga).
• Diketahui jumlah/ kadarnya,
• Dimiliki penuh oleh orang yang berwakaf,
• Hartanya berdiri sendiri, tidak bercampur
atau melekat kepada harta lain.

3 Al- Mawquf ‘alaih Sasaran yang berhak menerima hasil atau manfaat
wakaf. Dapat dibagikan kepada wakaf khairy dan
wakaf dzurry. Wakaf Khairy adalah wakaf dimana
Al-Wakif tidak membatasi sasaran wakafnya untuk
pihak tertentu, tetapi untuk kepentingan umum.
Wakaf Dzurry adalah wakaf yang al-Wakif
membatasi sasaran wakafnya untuk pihak tertentu,
yaitu keluarga keturunannya.

6
4. Sihghah Pernyataan pemberian wakaf, baik secara lafadz,
tulisan maupun isyarat.
• Ucapan mengandung kata-kata yang
menunjukan kekalnya amalan wakaf
tersebut (ta’bid),
• Ucapan direalisasikan segera (tanjiz),
• Ucapan bersifat pasti,
• Ucapan tersebut tidak diikuti oleh syarat
yang membatalkan amalan wakaf.4

C. KONSEP DAN PENGELOLAAN WAKAF TUNAI

a. Konsep Wakaf Tunai

Kalangan ulama fikih masih kerap kali memperdebatkan apa hukumnya


mewakafkan uang tunai. Ada yang membolehkan dan ada pula yang tidak
membolehkan berwakaf dengan uang tunai. Hal ini disebabkan oleh cara yang
biasa dipakai oleh masyarakat dalam mengembangkan harta wakaf berkisar hanya
pada penyewaan harta wakaf, seperti tanah, gedung, rumah dan sejenisnya.
Diantara alasan beberapa ulama tidak membolehkan berwakaf uang yaitu:

1) Uang bisa habis zatnya dalam sekali pakai. Uang hanya dimanfaatkan
dengan membelanjakannya, sehingga bendanya lenyap. Padahal inti dari
ajaran wakaf adalah pada kesinambungan hasil dari modal dasar yang
tetap dan kekal. Oleh karena itu, ada persyaratan agar benda yang akan
diwakafkan itu adalah benda yang tahan lama, tidak habis dipakai.
2) Uang seperti dirham dan dinar diciptakan sebgai alat ukur yang mudah,
orang melakukan transaksi jual-beli, bukan untuk ditarik manfaatnya
dengan mempersewakan zatnya. 5

4
Asep Dadan Suganda, Konsep Wakaf Tunai, Agustus 2014, hlm. 7-8
5
Ibid.

7
Wakaf uang atau tunai dianggap sebagai sebuah solusi menjadikan wakaf lebih
produktif. Karena ternyata uang bukan hanya alat tukar-menukar, namun dapat
diproduksi ke dalam bentuk manajemen yang dapat membuatnya menjadi lebih
berkembang. Namun, terdapat banyak sekali konsep wakaf tunai yang terdapat
prespektif ekonomi Islam, diantaranya :

a) Sertifikat wakaf uang


Sertifikat wakaf uang atau sertifikat wakaf tunai (Cash Waqf Certificate)
adalah salah satu konsep wakaf tunai yang bersifat fleksibel. Yakni hanya
dengan mengalokasikan hartanya dalam bentuk wakaf. Wakaf ini tidak
membutuhkan jumalh uang besar dan dapat diberikan ke dalam satuan yang
kecil. Wakaf dengan sertifikat memiliki beberapa keuntungan diantaranya :
✓ Sasaran pemberi wakaf menjadi luas
✓ Sertifikat tersebut dapat dibentuk menjadi beberapa pecahan sesuai dengan
segmen muslim yang memiliki kemampuan dan kemauan beramal tinggi
✓ Umat lebih mudah berkontribusi tanpa menunggu jumlah besar
✓ Memudahkan masyarakat kecil untuk menikmati pahala abadi wakaf
b) Modal usaha
Imam Az-Zuhri menjelaskan pendapatnya mengenai wakaf tunai berupa dinar
dan dirham dapat diwakafkan yakni dengan menjadikan kedua mata uang
tersebut untuk modal usaha dan kemudian disalurkan keuntungannya dalam
bentuk wakaf.Madzhab Hanafi juga menjelaskan wakaf dijadikan dalam
bentuk modal usaha melalui mudharabah dan keuntungan diberikan kepada
pihak wakaf.
c) Dana publik
Seperti kita ketahui bahwa wakaf tunai adalah wakaf yang dananya
dikumpulkan dari masyarakat luas dengan sukarela dimana wakaf tersebut
dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat. Pengelolaan dana wakaf tunai
harus secara profesional, selalu transparan dan dipertanggung jawabkan.

8
d) Pinjaman tanpa biaya
Madzahab Maliki, Hanbali dan Syafi’i menjelaskan bahwa wakaf tunai tidak
hanya pada materi saja, namun juga pada pemanfaatannya.Bahkan manfaat
wakaf tunai inilah yang menjadi unsur penting. Abu Hanifah menjelaskan
bahwa wakaf bukan hanya terbatas pada berpindahnya harta, namun cukup
dengan pemnfaatan kegunaan harta kepada pihak yang membutuhkan.
Ulama Maliki menjelaskan bahwa wakaf tunai dapat dilakukan melalui
pembiayaan gedung atau sarana umum lain yang bersifat sebagai pinjaman
tanpa biaya kecuali biaya administrasi.Dan pemakai bangunan tersebut
akhirnya dapat mengembalikan pinjaman tersebut untuk program-program
yang lain.
e) Saham atau deposito
Bentuk wakaf tunai yang lain adalah saham atau deposito di perbankan
syari’ah yang keuntungannya disalurkan dalam bentuk hasil wakaf. Dengan
bentuk saham atau deposito, nilai u6ang dapat terpelihara dan bermanfaat
dalam jangak waktu lama.

b. Pengelolaan Wakaf Tunai

Dalam pengelolaan wakaf tunai terdapat beberapa pihak yang dapat


dijadikan sebagai pengelola harta wakaf, diantaranya yaitu bank syariah dan
lembaga swasta.

Wakaf Tunai Dikelola Oleh Bank Syariah

Berikut adalah beberapa keuntungan yang didapatkan apabila dana wakaf


tunai dikelola oleh bank syariah:

1. Jaringan kantor bank syariah.


2. Kemampuan bank syariah sebagai Fund Manager.

6
Redaksi dalam Islam , "Konsep Wakaf Tunai Dalam Prespektif Ekonomi Islam", diakses
dari https://dalamislam.com/hukum-islam/ekonomi/konsep-wakaf-tunai-dalam-prespektif-
ekonomi-islam, pada tgl 07 Juni 2020 pukul 20.26.

9
3. Pengalaman, jaringan informasi dan peta distribusi yang luas
4. Memiliki citra positif

Dengan memanfaatkan jaringan yang dimiliki bank syariah yang tersebar


di berbagai daerah diharapkan dapat mengelola dana wakaf tunai baik sebagai
penerima dana dari al-wakif maupun sebagai penyalur dana wakaf untuk
dibagikan kepada al-mawquf ‘alai Didukung dengan kemampuan dan citra positif
bank syariah sebagai fund manager, diharapkan dapat mengelola dana wakaf tunai
dan berpotensi menambah nilai pokok uang yang diwakafkan setelah dialokasikan
kepada usaha-usaha halal, sehingga semakin lama semakin bertambah. Imbasnya,
dana yang disalurkan kepada yang berhak menerima pun semakin besar. Untuk
meminimalisir kerugian yang terjadi, pihak bank syariah dan fungsi pengelola
dana wakaf tunai yang dilakukan oleh lembaga lain (misal Badan Wakaf
Nasional) bekerja sama dengan lembaga penjamin.

Wakaf Tunai Dikelola Oleh Lembaga Swasta

Selain dikelola oleh bank syariah, dana wakaf tunai juga dapat dikelola
oleh lembaga swasta. Misalnya lembaga swasta yang bergerak di bidang
pendidikan. Keunggulan yang didapat apabila dana wakaf tunai dikelola oleh
swasta antara lain adalah:

1. Sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat


2. Ada kontrol langsung oleh masyarakat
3. Menumbuhkan solidaritas masyarakat

Lembaga pendidikan swasta mengelola dana wakaf tunai yang diterimanya


dengan sistem musyarakah atau mudharabah tanpa mengurangi nilai pokok (asset)
wakaf. Setelah itu, keuntungan yang diterima dihitung berdasarkan atas sistem
bagi hasil dan akan diterima oleh lembaga pendidikan sebagai keuntungan usaha
dan diterima wakaf tunai sebagai tambahan asset. Dari keuntungan yang
diperoleh, menjadikan asset wakaf semakin bertambah dan bisa digunakan.

10
D. FATWA WAKAF TUNAI

Pada tahun 2002 Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia telah menetapkan
Fatwa tentang Wakaf Uang. Isi fatwa tersebut adalah :
1. Wakaf uang (cash wakaf/waqf al-nuqud) adalah wakaf yang dilakukan
seseorang, kelompok orang, lembaga atau badan hukum dalam bentuk uang
tunai.
2. Termasuk ke dalam pengertian uang adalah surat-surat berharga.
3. Wakaf uang hukumnya jawaz (boleh).
4. Wakaf uang hanya boleh disalurkan dan digunakan untuk hal-hal yang
dibolehkan secara syar’iy.
5. Nilai pokok wakaf uang harus dijamin kelestariannya, tidak boleh dijual,
dihibahkan, dan atau diwariskan.7

Fatwa uang tersebut ditetapkan setelah memperhatikan :

1. Pendapat Imam Az-Zuhri bahwa mewakafkan dinar hukumnya boleh, dengan


cara menjadikan dinar tersebut sebagai modal usaha kemudian keuntungannya
disalurkan kepada mauquf’alaih.
2. Mutaqaddimin darai ulama mazhab hanafi yang membolehkan wakaf uang
dinar dan dirham sebagai pengecualian, atas dasar istihsan bil ‘urf.
3. Pendapat sebagian ulama mazhab Syafii: Abu Tsaur meriwayatkan dari Imam
Syafii tentang kebolehan wakaf dinar dan dirham (uang).

Apabila dilihat dari tata cara transaksi, maka wakaf uang dapat dipandang
sebagai salah satu bentuk amal yang mirip dengan shadaqah. Hanya saja diantara
keduanya terdapat perbedaan. Dalam shadaqah, baik asset maupun hasil manfaat
yang diperoleh dari pengelolaannya, seluruh dipindah tangankan kepada yang
berhak menerimanya. Sedangkan dalam wakaf, yang dipindahtangankan hanya
hasil/manfaatnya, sedangkan assetnya tetap dipertahankan.

7
Asep Dadan Suganda, Konsep Wakaf Tunai, Agustus 2014, hlm. 17.

11
Wakaf tunai bagi umat Islam tergolong baru.Hal ini bisa dicermati dengan
lahirnya fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang wakaf uang yang ditetapkan
tanggal 11 Mei 2002.Undang-Undang Tentang Wakaf sendiri juga baru disahkan
oleh Presiden pada tanggal 27 Oktober 2004. Undang-undang ini merupakan
tonggak sejarah baru bagi pengelolaan wakaf setelah sebelumnya wakaf diatur
dalam PP Nomor 28 Tahun 1977 dan Kompilasi Hukum Islam buku III.

12
BAB III
KESIMPULAN
Wakaf adalah penyerahan aktiva seseorang atau badan hukum sebagai
manifestasi kepatuhan terhadap agama dengan menggunakan manfaat benda
wakaf untuk kepentingan umat sedangkan subtansi aktivanya kekal dan tidak
berkurang serta harta telah beralih hak kepemilikan menjadi milik Allah SWT.
Wakaf tunai diimplementasikan dalam bentuk pengelolaan dana wakaf yang
berupa uang dilakukan oleh pengurus lembaga wakaf dan disebut sebagai nadzir.
Mejelis Ulama Indonesia (MUI) juga telah memfatwakan, bahwa wakaf uang
diperbolehkan dengan syarat, bahwa wakaf uang hanya boleh disalurkan dan
digunakan untuk hal-hal yang dibolehkan secara shar'i (‫ )مصرف مباح‬dan harus
dijamin kelestariannya. Fatwa MUI tersebut berdasarkan alQur'an, Hadis dan
pendapat para Ulama.

13
DAFTAR PUSTAKA
Al- Quran

Dosen IIQ Jakarta, 2016. Wakaf Uang Dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum
Positif di Indonesia, Waratsah. Vol. 1 No.02.

Nurul Huda dan Mohamad Heykal. 2015. Lembaga Keuangan Islam Tinjauan
Teoritis dan Praktis. Jakarta: Kencana.

Redaksi dalam Islam , "Konsep Wakaf Tunai Dalam Prespektif Ekonomi Islam", diakses
dari https://dalamislam.com/hukum-islam/ekonomi/konsep-wakaf-tunai-dalam-
prespektif-ekonomi-islam, pada tgl 07 Juni 2020 pukul 20.26

Suganda, Asep Dadan, 2014. Konsep Wakaf Tunai.

14