Anda di halaman 1dari 23

SEJARAH PERKEMBANGAN TASAWUF DARI ZAMAN KE ZAMAN

A. PENDAHULUAN
Timbulnya tasawuf dalam Islam bersamaan dengan kelahiran agama islam
itu sendiri, yaitu semenjak Muhammad SAW diutus Rasulullah untuk segenap
ummat manusia dan seluruh alam semesta. Fakta sejarah menunjukkan bahwa
pribadi Muhammad sebelum diangkat menjadi Rasul telah berulang kali
melakukan tahannuts dan khalwat di Gua Hira disamping untuk mengasingkan
diri dari masyarakat kota Mekkah yang sedang mabuk memperturutkan hawa
nafsu keduniaan. Juga Muhammad berusaha mencari jalan untuk membersihkan
hati dan mensucikan jiwa noda-noda yang menghingapi masyarakat pada waktu
itu. (Muhammad Fauqi H, 2013: 7 ).
Tahannuts dan khalwat yang dilakukan Muhammad SAW bertujuan untuk
mencari ketenangan jiwa dan kebersihan hati dalam menempuh liku-liku
problema hidup yang beraneka ragam ini, berusaha memperoleh petunjuk dan
hidayah dari pencipta alam semesta ini, mencari hakikat kebenaran yang dapat
mengatur segala-galanya dengan baik. Dalam situasi yang sedemikianlah
Muhammad Menerima wahyu dari Allah SWT yang penuh berisi ajaran-ajaran
dan peraturan-peraturan sebagai pedoman untuk ummat manusia dalam mencapai
kebahagiaan hidup didunia dan akhirat.
Segala pola dan tingkah laku, amal perbuatan dan sifat Muhammad
sebelum diangkat menjadi menjadi Rasul meruapakan manifestasi dari
kebersaihan hati dan kesucian jiwanya yang sudah menjadi pembawaan sejak
kecil

1
Dengan turunnya wahyu yang pertama pada tanggal 17 Ramadhan atau
16 Agustus 571 M, berarti nabi Muhammad SAW telah diangkat dan diutus
menjadi Rasul untuk mengembangkan amanat Allah dan menyelamatkan ummat
manusia dari lembah kejahilan dan kesesatan dalam mencapai kebahagiaan hidup
duniawi dan ukhrawi. Demikian juga wahyu yang diturunkan itu Rasulullah
dapat membenahi masyarakat Arab Jahiliyah menjadi masyarakat yang maju
sesuai dengan perkembangan peradaban dan kebudayaan manusia.
Adapun tentang sumber-sumber yang menjadi landasan tasawuf Islam itu
terdapat bermacam-macam pendapat. Diantaranya ada yang menyatakan bahwa
sumber tasawuf islam adalah dari ajaran Islam itu sendiri. Selain itu pula ada
yang berpendapat bahwa sumber tasawuf itu berasal dari persia, Hindu Nasrani
dan sebagainya. (Syamsun Ni'am, 2014: 122).
Orientalis Messignon dalam “Encyclopedie de Islam” berkata tentang
sumber tasawuf bahwa :”ulama-ulama Islam masih bersimpang siur dalam
memecahkan dan mencari sebab-sebab terjadinya perselisihan besar dalam
bidang Aqidah islam diantara pelbagai mazhab didalam Islam, yaitu antara
mazhab tasawuf dan mazhab ahli Sunnah wal-Jama`ah”. Menurut penadapat
merx :”Tasawuf merupakan aliran yang datang kedalam islam yang berasal dari
pendeta-pendeta Syam. Menurut Jones, tasawuf islam itu berasal dari Filsafat
Neo Platonisme atau berasal dari agama Zoroaster Persia atau agama Hindu.
Tentang tasawuf Islam itu berorientasi R.A Nicholson menjelaskan sebagai
berikut : “Menetapkan tasawuf Islam merupakan import ke dalam Islam, tidaklah
dapat diterima, yang sebenarnya ialah kita melihat sejak lahir agama Islam,
bahwa bibit berfikir seperti dasar-dasar tasawuf itu ada yang telah tumbuh
didalam hati setiap keluarga Jama`ah Islam yaitu sewaktu orang islam itu sedang
membaca Al-Qur`an dan Hadist Nabinya”. (Harun Nasution,1990:58).
Dari pendapat-pendapat tersebut diatas jelas adanya perbedaan pandangan
tentang sumber tasawuf Islam itu, namun demikian dapat dinyatakan bahwa para
orientalisten yang kurang jujur berpendapat bahwa tasawuf Islam itu berpendapat
bahwa islam itu sendiri sudah ada benih-benih untuk tumbuh dan berkembang
sesudah disemaikan didalam lubuk hati setiap muslim, karena tidak dapat
dipungkiri lagi ajaran yang menyatakan bahwa: Islam itu tinggi dan tidak ada
yang dapat mengatasinya,” dengan pengertian lain dapat ditegaskan bahwa
kemurnian ajaran islam itu benar-benar mengandung nilai-nilai kerohanian yang
menjadi sumber akhlak bagi setiap muslim, terutama bagi para sufi yang
senantiasa berusaha membersihkan hati dan mensucikan jiwa mereka dan berhias
dengan perangkai terpuji serta menjauhkan diri dari perangai tercela. (Harun
Nasution,1990:58).
Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa sumber dan landasan tasawuf
islam itu sendiri, tetapi dalam perkembangan selanjutnya mendapat pengaruh dari
luar islam. Tasawuf Islam itu dalam perkembangannya mempunyai unsur- unsur
yang jauh. Unsur yang dekat dan unsur-unsur yang jauh. Unsur yang dekat ialah
Al-Quran, Hadist, Sirah Nabi, Sirah Khulafaurrasyidin, Struktur Sosial dan
Firqah-firqah sedangkan unsur jauh ialah pengaruh agama Nasrani, yahudi,
budha dan Persia.
B. PEMBAHASAN
1. Sejarah perkembangan tasawuf dan fase-fasenya
Perkembangan tasawuf dalam Islam telah mengalami beberapa fase, yaitu:
Pada abad pertama dan kedua hijriah, yaitu fase asketisme (zuhud). Sikap
ini banyak dipandang sebagai pengantar kemunculan tasawuf. Pada fase ini
terdapat individu-individu dari kalangan muslim yang lebih memusatkan dirinya
pada ibadah dan tidak mementingkan makanan, pakaian, maupun tempat tinggal.
(Muhammad Fauqi H , 2013: 17).
Tahap pertama, tasawuf masih berupa zuhud dalam pengertian yang masih
sangat sederhana. Yaitu, ketika pada abad ke-1 dan ke-2 H, sekelompok kaum
Muslim memusnahkan perhatian memprioritaskan hidupnya hanya pada
pelaksanaan ibadah untuk mengejar keuntungan akhirat Mereka adalah, antara
lain: Al-hasan Al-Basri (w. 110 H) dan Rabi`ah Al-Adawwiyah (w.185 H)
kehidupan “model” zuhud kemudian berkembang pada abad ke-3 H ketika kaum
sufi mulai memperhatikan aspek-aspek teoritis psikologis dalam rangka
pembentukan prilaku hingga tasawuf menjadi sebuah ilmu akhlak keagamaan.
Pembahasan luas dalam bidang akhlak mendorong lahirnya pendalaman studi
psikologis dan gejala-gejala kejiwaan yang lahir selanjutnya terlibat dalam
masalah-masalah ini berkaitan langsung dengan pembahasan mengenai hubungan
manusia dengan Allah SWT. Sehingga lahir konsepsi-konsepsi seperti Fana`,
terutama Abu Yazid Al-Busthami (w. 261 H)
Dengan demikian, suatu ilmu khusus telah berkembang dikalangan kaum
sufi, yang berbeda dengan ilmu fiqh, baik dari segi objek, metodologi, tujuan,
maupun istilah-istilah keilmuan yang digunakan. Lahir pula tulisan-tulisan antara
lain : Al-Risalah Al-Qusyairiyyah karya Khusairi dan `Awarif Al-Ma`arif karya
Al- Suhrawardi Al-baghdadi. Tasawuf kemudian menjadi sebuah ilmu setelah
sebelumnya hanya merupakan ibadah-ibadah praktis.
Pada abad ketiga hijriah, para sufi mulai menaruh perhatian terhadap hal-
hal yang berkaitan dengan jiwa dan tingkah laku tasawuf pun berkembang
menjadi ilmu moral keagamaan atau ilmu akhlak keagamaan. Pada masa ini
tasawuf identik dengan akhlak (berkembang ± satu abad). Pada abada ketiga
hijriah, muncul jenis – jenis tasawuf lain yang lebih menonjolkan pemikiran yang
eksekutif yang diwakili oleh AL-Hallaj yang kemudian dihukum mati karena
menyatakan pendapatnya mengenai hulul (pada 309 H). Boleh jadi Al-Hallaj
mengalami peristiwa naas seperti ini karena paham hululnya ketika itu sangat
kontraversional dengan kenyataan di masyarakat yang tengah mengandrungi
tasawuf akhlaqi. (Samsul Munir Amin, 2015: 209).
Dari sisi lain, pada abad ke-3 dan ke-4 muncul tokoh-tokoh tasawuf
seperti Al-Juanid dan Sari Al-Saqathi serta Al-Kharraz yang memberikan
pengajaran dan pendidikan kepada para murid dalam sebuah bentuk
jamaah. Untuk pertama kali dalam islam terbentuk tarekat yang kala itu
merupakan semacam lembaga pendidikan yang memberikan berbagai pengajaran
teori dan praktik kehidupan sufisfik, kepada para murid dan orang-
orang yang berhasrat memasuki dunia tasawuf. Demikian juga ajaran tasawuf al-
Suhrawardi, pendiri mazhab isyraqiyyah yang memaklumkan dirinya sebagai
seorang nabi yang menerima limpahan nur Illahi dan berakhir dengan fatwa
ulama bahwa dia adalah seorang kafir yang halal darahnya. Lalu dia digantung di
Aleppo pada tahun 587 H dalam usia 38 Tahun. Demikian pula halnya dengan
Ibn Sab`in yang telah mengambil jalan pintas dengan membunuh diri karena
serangan para ulama yang sangat gencar terhadap ajaran tasawuf yang diajarinya.
Tidak sedikit pila para ulama yang membantah ajaran tasawuf Ibn Arabi yang
mengajar paham pantheisme bahwa Tuhan dan alam merupakan suatu kesatuan
yang dipisahkan. Perbedaannya hanya pada nama, sedangkan pada hakikat
adalah satu.
Dengan banyaknya ajaran yang menyimpang dari syari`at, maka ilmu
tasawuf pada akhirnya mengalami kemunduran yang luar biasa sehingga berakhir
dengan kehilangan peranannya dalam ilmu-ilmu Islam dan telah berubah
wujudnya dalam bentuk pengalaman tarikat yang tidak membawa sesuatu yang
baru dalam ajaran kerohanian Islam selain dari pengagungan para guru atau
mursyid serta warisan ajaran yang mereka terima.
Pada abad ke-5 H Imam Al-Ghazali tampil menentang jenis-jenis
tasawuf yang dianggapnya tidak sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah
dalam sebuah upaya menegmbalikan tasawuf kepada status semula sebagai
jalan hidup zuhud, pendidikan jiwa pembentukan moral. Pemikiran-
pemikiran yang diperkenalkan Al-Ghazali dalam bidang tasawuf dan makrifat
sedemikian mendalam dan belum pernah dikenal sebelumya. Dia mengajukan
kritik-kritik tajam terhadap berbagai aliran filsafat, pemikiran-pemikiran
Mu`tazilah dan kepercayaan bathiniyah untuk menancapkan dasar-dasar yang
kukuh bagi tasawuf yang lebih Moderat dan sesuai dengan garis pemikiran
teologis Ahl Al-Sunnah wal Jama`ah. (Samsul Munir Amin, 2015: 233). Dalam
orientasi umum dan rincian-rinciannya yang dikembangkannya berbeda dengan
konsepsi disebut tasawuf Sunni. Al-Ghazali menegaskan dalam Al-Munqidz min
Al-Dhalal, sebagai berikut: pertama, Sejak tampilnya Al-Ghazali ,pengaruh
tasawuf Sunni mulai menyebar di Dunia Islam. Bahkan muncul tokoh-tokoh Sufi
terkemuka yang membentuk tarekat untuk mendidik para murid, seperti Syaikh
Akhmad Al-Rifa`I (w.570 H) dan Syaikh Abd. Al-Qadir Al-jailani (w. 651 H)
yang sangat terpengaruh oleh garis tasawuf Al-Ghazali pilihan yang sama
dilakukan generasi berikut, antara lain yang paling menonjol adalah, Syaikh Abu
Al-Hasan Al-Syadzili (w.650 H) dan muridnya, Abu Al-Abbas Al-Mursi (w.686
H), serta Ibn Atha`illah Al-sakandari (w. 709 H). model tasawuf yang mereka
kembangkan ini adalah kesinambungan tasawuf Al-Ghazali; Kedua, Pada abad
ke enam hijriah , sebagai akibat pengaruh kepribadian Al-Ghazali yang begitu
besar, pengaruh tasawuf sunni semakin meluas ke seluruh pelosok dunia.Pada
abad ke enam Hijriah,muncul sekelompok tokoh tasawuf yang memadukan
tasawuf mereka dengan filsafat, dengan teori mereka yang bersifat setengah-
setengah . diantara mereka terdapat Syukhrawardi AL-Maqtul (w.549 h), syeikh
Akbar Muhyiddin Ibnu Arabi (w.635 h) dan sebagainya.
2. Macam- macam tasawuf
Jenis tasawuf menurut perkembangannya zaman ke zaman terbagi
menjadi dua, yakni:
a. Tasawuf sunni
Tasawuf Akhlaqi disebut juga Tasawuf Sunni. Tasawuf ini menitik
beratkan pada perbaikan akhlak atau moral pada diri seseorang. Orientasinya
adalah untuk mencari hakikat kebenaran yang dapat mengantarkan manusia
untuk mencapai tingkatan ma’rifat. Ma’rifat adalah bersatunya manusia
dengan Allah dengan metode tertentu yang telah ditetapkan. Tasawuf akhlaqi
ini juga banyak dikembangkan oleh para Ulama Salafussalih. (Samsul Munir
Amin, 2015: 2).
“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah
mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”. (QS
Asy Syams : 7-8)
Dari ayat di atas dijelaskan bahwa manusia memiliki potensi untuk
berbuat baik dan potensi berbuat buruk. Potensi untuk berbuat baik adalah Al
Aql dan Al Qalb. Potensi untuk berbuat baik disebut dengan Nafsu yang
dibantu dibisikkan keburukannya oleh Setan yang tiada henti menggoda
manusia.
Menurut para sufi, untuk masuk kepada tasawuf tentu membutukan
mental dan juga aspek lahiriah yang siap. Pada awal memasuki tasawuf, maka
seseorang harus berkonsentrasi agar dapat menghindarkan diri dari akhlak
buruk atau tercela (mazmumah) dan terus konsisten mewujudkan akhlak yang
baik yaitu mahmudah. (Samsul Munir Amin, 2015: 332).
Ajaran ini, menurut para sufi, melatih manusia untuk dapat menguasai
hawa nafsu, menekan hawa nafsu bagkan sampai pada mematikan hawa nafsu
jika memungkinkan. Tentu saja membutuhkan pelatihan dan pembiasaan yang
ketat.
Para Sufi yang mengembangkan ajaran tasawuf ini diantaranya adalah
Hasan al-Basri (21 H – 110 H), Al-Muhasibi (165 H – 243 H), Al-
Qusyairi (376 H – 465 H), Syaikh al-Islam Sultan al-Aulia Abdul Qadir
al- Jilani (470 – 561 H), Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Gajali (450 H –
505 H), Ibnu Atoilah As-Sakandari. (Samsul Munir Amin, 2015: 141).
Pelaksanaan ajaran tasawuf tentu saja tidak bisa dilakukan hanya satu
atau dua kali untuk mencapai proses tertinggi, yaitu tujuan mendapatkan
ma’rifat. Proses ini dilakukan agar akhlak baik atau mahmudah selalu melekat
kepada manusia. Akhlak tercela dan buruk lainnya akan hilang dan tidak
mengusik atau mengganggu jiwa manusia yang suci.
Jiwa yang buruk atau dipenuhi akhlak tercela tentu akan memudahkan
nafsu manusia semakin banyak mendorong untuk melakukan hal hal yang
buruk. Untuk itu, kesucian jiwa harus dipenuhi dan terus dipupuk. Berikut
adalah proses atau langkah untuk mendapatkan tujuan dari tasawuf akhlaqi.
Takhali adalah proses awal yang dilakukan oleh sufi. Aktivitas Takhali
ini adalah usaha untuk mengosongkan diri manusia dari perilaku yang tercela.
Salah satu akhlak tercela yang disoroti oleh tasawuf adalah
kecintaan manusia yang berlebihan terhadap urusan duniawi, hingga
melalaikan pada kesucian jiwa dan kesiapan untuk kembali kepada Allah.
Takhalli berbeda dengan Tahalli. (M. Hamdani Bakran adz-Dzaky, 2002:
259).
Tahalli adalah proses untuk mengisi dan menghiasi diri manusia
dengan pembiasaan perilaku dan akhlak yang baik. Proses ini dilakukan oleh
para sufi dengan mengosongkan jiwanya dari segala akhlak yang buruk.
Mereka menjalankan ketentuan agama dengan mengintegrasikan ke dalam dan
keluar dirinya. Aspek luar adalah kewajiban seperti shalat, puasa, haji, dan
sebagainya. Sedangkan, untuk yang bersifat ke dalam adalah keimanan,
keaatan, dan kecintaan kepada Allah. (Mustafa Zahri, 1998: 82).
Tajalli adalah proses pemantaapan dan pendalaman materi yang sudah
dilalui pada proses tahalli. Tajalli berarti terungkapnya nur ghaib. Proses ini
adalah memantapkan dan membuat akhlak-akhlak baik tersebut tetap ada
dalam jiwa. Untuk itu, pada proses ini benar-benar menumbuhkan kecintaan
dan kerinduan yang mendalam pada Allah SWT. Praktis tasawuf ini tentu saja
perlu diperhatikan agar tetap mampu menjawab masalah utama manusia yaitu
yang berkenaan dengan Tujuan Penciptaan Manusia , Proses Penciptaan
Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan
Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama yang
terdapat dalam Al-Quran. (Mustafa Zahri, 1998: 245).
b. Tasawuf irfani
Secara etimologis, kata Irfan merupakan kata jadian (mashdar) dari
kata ‘arafa’ (mengenal/pengenalan). Secara terminologis, ‘irfan diindentikkan
dengan ma’rifat sufistik. Ahli irfan adalah orang yang berma’rifat
kepada Allah. Irfan diperoleh seseorang melalui jalan al-idrak al- mubasyir al
wujudani (penagkapan langsung secara emosional), bukan penangkapan
secara rasional.
Sebagai sebuah ilmu, irfan memiliki dua aspek, yakni aspek praktis
dan aspek teoritis. Aspek praktisnya adalah bagian yang menjelaskan
hubungan dan pertanggung jawaban manusia terhadap dirinya, dunia, dan
Tuhan. Sebagai ilmu praktis, bagian ini menyerupai etika. Bagian praktis ini
disebut sayr wa suluk (perjalanan rohani). Bagian ini menjelaskan bagaimana
seseorang penempuh rohani (salik) yang ingin mencapai tujan puncak
kemanusiaan, yakni tauhid, harus mengawali perjalanan, menempuh tahapan-
tahapan (maqam) perjalanannya secara berurutan, dan keadaan jiwa (hal) yang
bakal dialaminya sepanjang perjalanannya tersebut. (Samsul Munir Amin,
2015: 241)
Sementara itu, ‘irfan teoritis memfokuskan perhatiannya pada masalah
wujud (ontologi), mendiskusikan manusia, Tuhan serta alam semesta. Dengan
sendirinya, bagian ini menyerupai teosofi (falsafah ilahi) yang juga
memberikan penjelasan tentang wujud. Seperti halnya filsafat, bagian ini
mendefinisikan berbagai prinsip dan problemanya. Namun, jika filsafat
hanya mendasarkan argumennya pada prinsip-prinsip rasional, ‘irfan
mendasarkan diri pada ketersibukan mistik yang kemudian
diterjemahkan ke dalam bahasa rasional untuk menjelaskannya. (Samsul
Munir Amin, 2015: 241)
Tokoh-tokoh tasawuf irfani adalah Rabi’ah adalah Rabi’ah binti
Ismail Al Adawiyah AL Bashriyah Al Qaisiyah. Dalam perkembangan
mistisme Islam, Rabi’ah Al Adawiyah tercatat sebagai peletak dasar tasawuf
berdasarkan cinta kepada Allah. Rabi’ah Al Adawiyah adalah wanita satu-
satunya dalam Islam yg terkenal kesufiannya. Sebagaimana dikutip oleh Eko
Ariwidodo, B.R.Wolfman menyatakan bahwa : Posisi wanita akan selalu ada di
bawah kedudukan laki- laki. “Kaum wanita tidak dapat diberi kedudukan yang
tinggi, karena tidak tahu bagaimana mengambil keputusan yang sulit’’. (Eko
Ariwidodo, 2016: 333).
Tidak sulit bagi Rabi’ah Al-Adawiyah mengembangkan khazanah
keilmu agamaannya mencapai tingkat mahabbah. Menguraikan secara
feministik rasa tulus ikhlas ke dalam cinta sebenar-benarnya kepada Allah.
Melebihi dari para sufi lainnya yang notabene laki-laki. Sementara generasi
sebelumnya merintis aliran astisketisme Islam berdasarkan rasa takut dan
pengharapan kepada Allah. Rabi’ah pula yang pertama-tama mengajukan
pengertian rasa tulus ikhlas dengan cinta yang berdasarkan permintaan ganti
dari Allah. (Samsul Munir Amin, 2015: 242).
Abu al-Fayd Tauban bin Ibrahim bin Ibrahim bin Muhammad al-
Anshari (772 -860 M) yang dijuluki Sahib al-Hut (pemilik ikan). Ia
dikenal sebagai sufi yang mengembangkan teori tentang ma’rifat. Ma’rifat
dalam terma sufistik memiliki pengertian yang berbeda dengan istilah ‘ilm,
yakni sesuatu yang bisa diperoleh melalui jalan usaha dan proses
pembelajaran. Sedangkan ma’rifat dalam terma sufi lebih merujuk pada
pengertian salah satu metode yang bisa ditempuh untuk mencapai tingkatan
spiritual. Termasuk meyakini bahwa ma’rifat sebenarnya adalah puncak dari
etika baik vertical maupun horizontal. Jadi, ma’rifat terkait erat dengan
syari’at, sehingga ilmu batin tidak menyebabkan seseorang dapat
membatalkan atau melecehkan kewajiban dari ilmu zahir yang juga
dimuliakan oleh Allah. Demikian pula, dalam kehidupan sesama, seorang ‘arif
akan senantiasa mengedepankan sikap kelapangan hati dan kesabaran
dibanding ketegasan dan keadilan.
Ia membagi tingkatan ma’rifat yaitu ma’rifat al-tauhid, yakni doktrin
bahwa seorang mu’min bisa mengenal Tuhannya karena memang demikian
ajaran yang telah dia terima; ma’rifat al-hujjah wa al-bayan, yakni ma’rifat
yang diperoleh melalui jalan argumentasi, nalar dan logika. Bentuk
kongkritnya, mencari dalil atau argument penguat dengan akal sehingga
diyakini adanya Tuhan. Tetapi, ma’rifat kaum teolog ini belum bisa
merasakan lezatnya ma’rifat tersebut; ma’rifat sifat al-wahdaniyah wa al-
fardhiyah, yakni ma’rifat kaum muqarrabin yang mencari Tuhannya dengan
pedoman cinta. Sehingga yang diutamakan adalah ilham atau fadl (limpahan
karunia Allah) atau kasyf (ketersingkapan tabir antara Tuhan dengan
manusia). Karena pada tingkatan ini, sebenarnya yang lebih berbicara adalah
hati dan bukannya akal;
Abu Yazid Tahifur bin Isa dari Al-Bisthami dilahirkan pada
tahun 188 H. di Bistham Khurasan, Persia. Dari berbagai riwayat diketahui
bahwa Abu Yazid adalah seorang faqih, pengikut Abu Hanifah tetapi
kehidupannya berubah dengan memasuki dunia tasawuf. Menurut Abu Yazid,
Wali Allah itu ada tiga macam, seorang zahid karena zuhudnya, seorang Abid
karena ibadahnya, dan seorang Alim karena ilmunya. (Samsul Munir Amin,
2015: 254).
Abul Mubhist Al-Husain Bin Manshur Al-Khallaj di lahirkan di
Baidha Persia pada tahun 244H/858.Al Khallaj selalu hidup berpindah-
pindah dalam pengembaraan yang panjang. Di dalam pengembaraan itu ia
telah tinggal Tustur, Khurasan, Sijistan, Karman, Persia, Ahwaz, Basrah dan
Baghdad. Al-Khallaj juga mengembara ke daerah Timur dimulai dari
Turkistan, Mesir dan beberapa daerah di India. Selama dalam perjalanan ia
mendapat gelaran yang bermacam-macam. Di Baghdad ia digelari dengan
Al-Mushtalam, di Tukistan dengan Al-Mukiths, di India dengan Al- Mugihst
dan sebagainya.
Buku-buku karangannnya antara lain As-Sahaihur Fi Naqshid Duhur,
Kaifa Kana Wakaifa Yakun, Al-Abad Wa Al-Mabud, Kitab Huwa-Huwa,
Sirru Al-Alam Wa Al-Tauhid, Al-Thawasin Al-Azal. Kitab-kitab itu hanya
tinggal catatan, karena ketika hukuman mati dilaksanakan, kitab yang ia
karang pun ikut dimusnahkan, kecuali sebuah yang disimpan pendukungnya
yaitu Ibnu Atha dengan judul Al-Thawasi Al-Azal. Dari kitab ini dan sumber-
sumber muridnya dapat diketahui tentang ajaran-ajaran Al-Khallaj dalam
tasawuf.
c. Tasawuf falsafi
Tasawuf Falsafi secara bahasa bisa kita bagi menjadi dua, yaitu antasa
Tasawuf dan Filsafat. Tasawuf artinya kecintaan terhadap tuhan, sedangkan
ilmu Filsafat Islamadalah yang berkenaan dengan akal atau fikiran. Falsafi
disini adalah cara yang digunakan dalam bertasawuf. (Samsul Munir Amin,
2015: 264)
Tasawuf Falsafi adalah sebuah aliran dalam bertasawuf yang
menggabungkan antara visi mistik dan visi yang rasional. Tasawuf ini
merupakan hasil dari pemikiran-peminkiran para tokoh-tokoh yang
diungkapkan dengan bahasa filosofis.Tasawuf ini tidak bisa dikatakan sebagai
Tasawuf yang murni karena telah menggunakan pendekatan fikiran dan rasio,
namun juga tidak bisa dikatakan filsafat seutuhnya karena didasarkan pada
rasa. Dengan kata lain Tasawuf Falsafi merupakan penggabungan antara rasa
dan rasio.
Secara istilah dapat kita simpulkan bahwa pengertian dari Tasawuf
Falsafi adalah, kajian terhadap tuhan, manusia dan sebagainya yang
menggunakan motode rasio atau akal. Aliran dalam Tasawuf Falsafi terkesan
tidak jelas, karena banyaknya istilah-istilah yang diungkapkan oleh tokoh-
tokkohnya dalam aliran ini yang tidak bisa dimengerti, lantaran menggunakan
istilah Filsafat.
Tokoh-tokoh dalam Tasawuf Falsafi pada umumnya mengerti dan
akrab dengan ilmu Filsafat. Mereka mempelajari Filsafat Barat, Yunani
Kuno,dan Filsafat Islam, serta mengenal para filosof barat seperti, Socrates,
Aristoteles serta pemikiran-pemikiran filosof Islam seperti Al Farabi dan Ibnu
Sina. (Abdul Kadir Riyadi, 2014: 199).
Menurut Ibnu Khaldun dikutip dalam karyanya Al Ma’rifat, objek dari
kajian Tasawuf Falsafi ini ada empat: pertama, Latihan yang bersifat
kebatinan atau rohaniyah dengan menggunakan rasa, intuisi dengan dan
introspsesi diri dengan tingkatan maqam, hal dan rasa; kedua, Kajian tentang
hakekat dari sifat-sifat tuhan, malaikat,arsy, kursy, wahyu, kenabian, roh,
hakekat dari alam ghaib dan yang nyata serta susunan kosmos dan
penciptaannya. Biasanya para filosoh dalam kajiannya dan latihan
rohaniahnya melakukan zikir-zikir dengan meninggalkan keduniaan dan
membuka kekhusukan terhadap Allah; ketiga, Peristiwa yang luar. Kejadian
yang terdapat di alam ini atau kosmos, yang mempengaruhi kekeramatan;
keempat, Pengungkapan teory dengan istilah yang filosofis. Istilah tersebut
tidak bisa dipahami seutuhnya oleh masyarakat awam. Istilah Tasawuf Falsafi
hanya bisa dimengerti oleh para tokoh Tasawuf Falsafi itu sendiri.
Pada intinya, ciri dari Tasawuf Falsafi adalah mengabungan antara
pemikiran atau rasionalitas dengan perasaan (dzuq). Aliran ini mendasarkan
pada dalil naqli dan diungkapkan dalam istilah filosofis. (Achmad Mubarok,
2001: 124).
Tokoh-Tokoh Tasawuf Falsafi lainnya adalah Ibnu ‘Arabi, Nama
lengkap dari Ibnu Arabi yaitu Muhammad bin Ali bin Ahmad bin Abdullah
Ath tha’I Al Haitami. Beliau dilahirkan di Murcia, daerah Andalusia tenggara,
Spanyol. Pada tahun 560 H. Ia tinggal di Hijaz dan wafat di sana, pada tahun
638 H. karya Ibnu ‘Arabi yang paling fenomenal adalah Al Futuhat Al
Makiyah yang ditulis pada tahun 1201 H. (Samsul Munir Amin, 2015: 274).
Ajaran dari Ibnu ‘Arabi ada tiga: Wahdad al wujud – Kesatuan Wujud. Intinya
wujud dari semua makhluk itu adalah satu, yaitu wujud dari khaliqnya;
Hakiqat Muhammadiyah – Lanjutan dari wahdad Al Wujud adalah Hakikat
Muhammadiyah, yang menurut Ibnu Arabi, bahwa penciptaan alam semesta
ini adalah pelimpahan dari wujud yang satu yaitu tuhan. Dari yang satu itu,
Lalu lahirlah semua wujud dengan segala proses penciptaannya; Wahdad Al
Adyan – Turunan ketiga dari Wahdatul Wujud adalah Wahdatul Adyan yaitu
kesamaan agama. Semua agama itu adalah satu yang bersumber dari tuhan.
(Amin Syukur, 2002: 7)
Al Jilli, Nama lengkap Al Jilli adalah Abdul Karim bin Ibrahin Al-
Jilli yang lahir tahun 1365 M dan wafat tahun 1417 M. Baliau lahir di Jilan
propinsi di selatan Kaspi. Tempat lahirnya Jilli (Gilan) yang kemudian
menjadi nama dari Al Jilli. Beliau adalah sufi yang terkenal di Bagdad. Ia
pernah berguru pada tokoh tarekat Qadariyah yaitu Abdul Qadir Al Jailani,
seorang sufi dari India. Ajaran dari Al Jilli adalah: Insan Kamil – Pemahaman
tentang insan kamil atau manusia sempurna sebagai wujud dari tuhan yang
diumpamakan bagai cermin. Seseorang tidak bisa melihat dirinya sendiri
kecuali dengan cermin; Maqamat – Al Jilli merumuskan tahapan atau
tingkatan yang harus dilalui seorang sufi adalah : Islam, Iman, Ihsan, Shalah,
Shahadah, Sidqiyyah dan Qurbah. (Samsul Munir Amin, 2015: 281).
Ibnu Sab’in, Nama lengkap dari Ibnu Sab’in adalah Abdul Haq Ibnu
Ibrahim Muhammad Ibnu Nashr. Beliau lahir tahun 614 H di Murcia. Ibnu
Sabi’in adalah anak dari keluarga bangsawan, yang hidup berkecukupan.
Namun beliau memilih untuk mengasingkan dari segala bentuk kemewahan
tersebut. Beliau mempelajari ilmu-ilmu seperti Bahasa dan Sastra Arab, Ilmu
Agama, Ilmu fiqih (fiqih pernikahan, fiqih muamalah jual beli), Ilmu Filsafat
dan Logika. Ajaran dari Ibnu Sab’in adalah: Kesatuan mutlak – Kesatuan
mutlak adalah ajaran pemahaman tentang wujud itu hanya satu yaitu wujud
tuhan; Menolak paham Aristotelian – Intinya Ibnu Sab’in berusaha menyusun
logika baru yang membantah adanya konsep jamak. Konsep ini disusun untuk
mencapai kesatuan mutlak tadi. Menurut Ibnu Sab’in logika ini menggunakan
penalaran ketuhanan atau ilahi. Pemikiran ini yang membuat manusia melihat
dan mendengar sesuatu yang baru, yang belum pernah dilihat dan didengar
sekalipun. (Mustafa Zahri, 1998: 82-89).

3. Manfaat tasawuf dalam dunia Islam


Tasawuf memiliki banyak manfaat dalam kehidupan dan dunia islam,
di bawah ini adalah 10 manfaat tasawuf yaitu: Dalam bidang kecerdasan
emosional, apabila dapat mengamalkan tasawuf dengan baik maka dapat
mengendalikan emosionalnya dengan baik pula; Dalam bidang kecerdasan
spiritual, tasawuf mengingatkan manusia tentang kemaitian, agar umat
manusia selalu beribadah, beramal shaleh, serta menjauhi perbuatan maksiat
dan kejahatan; Dalam bidang Agama, tasawuf ini sangat diperlukan agar
umat islam bisa mengamalkan teori Islam secara kaffah dan juga untuk
mengembangkan integrasi sosial dan kerukunan hidup dalam beragama serta
bebangsa; Dalam bidang etos kerja, tasawuf dapat memperkuat etos kerja
karena dalam ajaran Islam bekerja itu wajib untuk memenuhi keperluan diri
sendiri, keluarga dan umat. (Amin Syukur, 2002: 7).
Dalam bidang Pendidikan, tasawuf merupakan salah satu mata
pelajaran yang perlu diajarkan di Madrasah dan mata kuliah di Perguruan
Islam untuk mengembangkan kehidupan agama yang komprehensif dan utuh
serta untuk mengembangkan masyarakat dan bangsa yang bersih, sehat dan
maju; Dalam bidang Ilmu Pengetahuan, tasawuf mendidik anggota
masyarakat untuk mengambil keputusan yang bijaksana dan rasional serta
mendidik untuk memiliki tanggung jawab sosial; Sumber Pengingat, apa
yang akan membantu kita terhadap hal ini adalah mengingat Allah bahwa
Allah menjamin kita akan penyediaan, dan pengetahuan dan kekuatan-Nya
sempurna, dan bahwa Dia terlepas dari penciptaan dan jauh dari kelupaan dan
dari ketidakmampuan. Syaikh Ibn Ataillah menulis dalam bukunya The
Abandonment of the Management of Affairs: “Percayakan urusan kita kepada
Allah juga merupakan kualitas yang sangat penting untuk diperoleh. (Mustafa
Zahri, 1998: 82-89).
Landasan Hidup, tanpa pemahaman ini muslim akhirnya lumpuh.
Tapi dengan itu kaum Muslim bebas menjadi budak, yaitu mematuhi dengan
cara tanpa hambatan. Masalah mencoba taat tanpa pengertian adalah bahwa
Anda hanya bisa melakukan apa yang Anda bisa. Tapi untuk menaati
Allah sambil mempercayai Dia adalah untuk meninggalkan semua
keterbatasan praktis, dan untuk memulai pencapaian apa yang telah Allah
perintahkan agar kita lakukan; Pembatas Ilmu Islam, tasawwuf membuat
semua pengetahuan lain tunduk pada pengetahuan tertinggi yaitu La ilaha
illallah. Dengan Tasawwuf kita menyadari bahwa pengetahuan tentang Allah
berada di atas setiap pengetahuan lainnya. Tasawwuf memungkinkan kita
untuk mencicipi La hawla wa la quwwata illa billah seperti tasawuf amali;
Lebih Mencintai Allah, dalam Qur’an, Allah menghubungkan bahwa orang
beriman di antara orang-orang Firaun berkata:” Saya telah mempercayakan
perselingkuhan saya kepada Allah. “Kenyataannya adalah keinginan kita
kepada Allah untuk melestarikan kita dari semua yang memiliki bahaya di
dalamnya dan yang dengannya kita tidak memiliki keamanan. (Abudin Nata
1996: 13).

C. KESIMPULAN
Tasawuf adalah ilmu jalan menuju Allah. Tasawuf adalah ilmu yang
sesuai dengan jalur Islam melalui pengalaman langsung sang Nyata dan bukan
melalui lidah atau belajar dari buku. Ini menyiratkan ditinggalkannya teologi
apapun. Tauhid tidak logis. Dalam hal ini Tasawwuf adalah pelindung
Tauhid: La ilaha illallah. Muslim menegaskan: La hawla wa la quwwata illa
billah. Ini menyiratkan bahwa tidak ada dua kekuatan di alam semesta. La
hawla wa la quwwata illa billah juga berarti ada satu sumber kekuatan. Allah
memberi kita kuasa-Nya dan membimbing kita dengan keterbatasan kita.
Oleh karena itu kita adalah sumber kesengsaraan kita sendiri. Semua
sarana tersedia bagi kita. Dari sinilah datang tawakkul: hasbunullahu wa
ni’mal wakil, “Allah sudah cukup bagi kita dan Dia adalah wali terbaik”
seperti hakikat tasawuf falsafi. Tasawuf tidak menjadi konsumen pasif dan
jinak dalam masyarakat ini dengan malam yang tercerahkan. Tasawuf adalah
transformasi hati Anda sehingga Anda menyadari bahwa Anda bertanggung
jawab atas dunia, dan dunia tidak bertanggung jawab atas Anda.
Hal ini memungkinkan kita untuk memahami bahwa apa yang Allah
perintahkan adalah mungkin, dan ini menunjukkan jalan kita untuk mencapai
tujuan tertinggi kita fisabilillah. Tasawuf memungkinkan kita untuk
memahami bahwa perbuatan hati lebih kuat daripada perbuatan anggota
badan.

DAFTAR PUSTAKA

Ariwidodo, Eko. Kontribusi Pekerja Perempuan Pesisir Sektor Rumput Laut Di


Bluto Kabupaten Sumenep. Jurnal Nuansa :jurnal penelitian ilmu sosial dan
keagamaan Islam. Volume 13. No.2 Juli-Desember 2016. LP2M IAIN
MADURA. Dikutip pada tanggal 27 Juni 2019.

Fauqi H, Muhammad. (2013). Tasawuf Islam dan Akhlak. Jakarta : Amzah.


Mubarok, Achmad. (2001). Psikologi Qur’ani. Jakarta : Pustaka Firdaus.
Munir Amin, Samsul. (2015). Ilmu Tasawuf. Jakarta. Amzah.
Ni'am, Syamsun. (2014). Pengantar Belajar Tasawuf. Jakarta : Ar-ruz Media.
Riyadi, Kadir. (2014). Antropologi Tasawuf. jakarta : LP3ES.
Syukur, Amin. (2002). Menggugat Tasawuf. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Zahri, Mustafa. (1998). Kunci Memahami Ilmu Tasawuf. Surabaya : PT. Bina ilmu.

12

View publication stats