Anda di halaman 1dari 10

Nama : Tri Armi Sari Arfan

Nim : 1843000071

Pengertian Pajak Penghasilan

Pasal 4 ayat (1) UU PPh, Pajak penghasilan adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis
yang diterima atau diperoleh WP, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar
Indonesia yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan WP, dengan
nama dan dalam bentuk apapun.

Pajak Penghasilan (PPh) adalah Pajak Negara yang dikenakan terhadap setiap tambahan
kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari
Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk
menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan.  Jadi, Pajak Penghasilan ini bersifat
wajib untuk dikeluarkan oleh semua Pengusaha Kena Pajak (PKP) atas tambahan
kemampuan ekonomis (laba) yang didapatkan dan tarifnya pun telah ditetapkan oleh undang-
undang. Perlu digaris bawahi disini yang bertindak sebagai objek Pajak Penghasilan adalah
laba yang dihasilkan suatu perusahaan, sedangkan subjek dari Pajak Penghasilan adalah
Pengusaha Kena Pajak (PKP).

Pada dasarnya Alokasi Pajak Penghasilan bagi perusahaan sebagai wajib pajak bisa
mencakup dua hal :

A. Alokasi Pajak Penghasilan Intraperiod

Yaitu proses alokasi pajak penghasilan dalam suatu periode akuntansi karena adanya
perbedaan tarif pajak yang dikenakan terhadap tiap-tiap komponen laba atau pendapatan
(Misal : tarif pajak untuk laba sebelum pos luar biasa berbeda dengan tarif pajak untuk laba
atau rugi luar biasa.)

Alokasi pajak intra periode, atau alokasi pajak dalam satu periode, adalah alokasi yang
mengaitkan beban pajak penghasilan (provisi pajak penghasilan) dengan item-item atau pos-
pos tertentu yang mengakibatkan timbulnya jumlah provisi pajak penghasilan itu.

Perusahaan menggunakan alokasi pajak intra periode pada laporan keuangan untuk item-item
berikut:

1. Penghasilan dari operasi (kegiatan usaha) berkelanjutan.


2. Operasi yang dihentikan.

Konsep (prinsip) umum yang mendasari praktik ini adalah “pajak seharusnya mengikuti
penghasilan.”

Dalam menentukan beban pajak yang terkait dengan “Penghasilan dari operasi
berkelanjutan,” perusahaan menghitung beban pajak penghasilan, baik yang terkait dengan
transaksi pendapatan maupun transaksi beban, serta beban pajak penghasilan yang terkait
dengan penghasilan dan beban lain yang digunakan dalam menentukan penghasilan dari
operasi berkelanjutan.

Dengan kata lain, beban pajak terkait penghasilan dari operasi berkelanjutan tidak
memperhitungkan konsekuensi pajak pos-pos yang memang dikeluarkan dalam penentuan
“Penghasilan dari operasi berkelanjutan.”

Selanjutnya, dampak pajak terkait operasi yang dihentikan dihitung dan disajikan terpisah
dari beban pajak penghasilan dari operasi berkelanjutan

Contoh alokasi pajak intra periode

Laba sebelum pajak PT Slamet berjumlah Rp2.500.000.000. PT Slamet juga mencatat


keuntungan dari operasi yang dihentikan sejumlah Rp1.000.000.000. Jika diasumsikan tarif
pajak yang berlaku adalah 30 persen, PT Slamet akan menyajikan informasi sebagai berikut
dalam laporan laba-rubi.

Laba sebelum pajak Rp 2.500.000.000

Pajak Penghasilan 750.000.000

Rp 1.750.000.000

Keuntungan dari operasi dihentikan Rp 1.000.000.000

Dikurangi : Pajak Penghasilan 300.000.000

700.000.000

Laba Bersih Rp 2.450.000.000

Perhatikan, PT Slamet menunjukkan dampak pajak yang terpisah sejumlah Rp300.000.000


terkait dengan “Keuntungan dari operasi dihentikan.”

B. Alokasi Pajak Antar Periode


Alokasi pajak antar periode merupakan alokasi pajak penghasilan antar periode tahun buku yang
satu dengan periode-periode tahun buku berikut atau sesudahnya. Alokasi pajak antar periode
menerapkan hasil penerapan konsep akuntansi akrual yang tercermin dari jumlah beban dan
penghasilan pajak tangguhan yang dilaporkan bersamaan dengan beban pajak kini dalam laporan laba
rugi.

Proses untuk mengasosiasikan pajak penghasilan dengan laba dimana pajak itu dikenakan disebut
alokasi pajak (Hapsari, 2014:9). Alokasi pajak antar periode menurut PSAK 46 merupakan salah satu
elemen pembentuk laba bersih.Alokasi pajak antar periode diawali dengan adanya keharusan bagi
perusahaan untuk mengakui aktiva dan kewajiban pajak tangguhan yang dilaporkan dalam neraca
(Septyana, 2011). Pengakuan aktiva dan kewajiban pajak tangguhan tersebut merupakan pengakuan
tentang konsekuensi pajak di masa mendatang atas efek akumulatif perbedaan temporer pengakuan
penghasilan dan beban untuk tujuan akuntansi dan tujuan fiskal (Septyana, 2011).

Alokasi pajak antar periode merupakan alokasi pajak penghasilan antar periode tahun buku yang
satu dengan periode-periode tahun buku berikut atau sesudahnya. Alokasi pajak penghasilan antar
periode tahun buku ini diperlukan karena adanya perbedaan terhadap jumlah laba kena pajak dan laba
akuntansi. Metode alokasi pajak digunakan untuk mempertanggungjawabkan pengaruh pajak dan
bagaimana pengaruh tersebut harus di sajikan dalam laporan keuangan (Nurhanifah dan Jaya,
2014:114).

C. Perhitungan Beban Pajak Penghasilan

Cara menghitung pajak penghasilan umum dipahami wajib pajak yang punya kewajiban
melapor pajak. Berikut ini kiat agar cara menghitung pajak penghasilan jadi lebih efisien.

Pajak penghasilan merupakan pajak yang dikenakan pada orang pribadi atas penghasilan
yang diterimanya dalam masa tahun pajak.

Pengetahuan tentang cara menghitung pajak penghasilan ini berguna bagi wajib pajak  dalam
proses pelaporan pajak.

Meskipun setiap tahunnya wajib pajak membayar dan melaporkan pajak, masih banyak wajib
pajak yang tidak efisien dalam tata cara menghitung pajak penghasilan.

Berikut adalah tahapan yang sebaiknya dilakukan agar pekerjaan Anda tersebut makin
mudah:

1. Membuat Daftar Atas Penghasilan Anda Setiap Bulan

Pajak penghasilan dikenakan pada penghasilan total yang diterima dalam masa tahun pajak
(satu tahun).

Jika Anda bukan seorang pegawai yang penghasilan per bulannya tetap, maka perlu membuat
daftar atas penghasilan yang Anda terima tiap bulannya.

Besaran penghasilan yang dihitung bukan hanya gaji pokok tapi juga tunjangan-tunjangan
yang Anda terima.

Dengan kata lain, Anda harus menghitung penghasilan kotor selama satu tahun pajak.

2. Menghitung PTKP Anda

Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) adalah pengurangan penghasilan neto bagi wajib
pajak orang pribadi dalam menentukan besarnya penghasian kena pajak (PKP).

Setiap orang memiliki hitungan PTKP yang berlainan karena 2 faktor utama berikut ini:
 Besarnya penghasilan yang berbeda-beda setiap orang.
 Besarnya tanggungan rumah tangga atau tanggungan keluarga.

Berdasarkan Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor: Per-16/PJ/2016, besarnya PTKP


adalah:

 Rp 54.000.000 untuk diri Wajib Pajak orang pribadi.


 Rp 4.500.000 tambahan untuk Wajib Pajak yang kawin.
 Rp 4.500.000 tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam
garis keturuanan lurus serta anak angkat, yang menjadi tanggungan sepenuhnya, paling
banyak 3 (tigas) orang untuk setiap keluarga.

3. Mencari Selisih Antara Penghasilan Kotor dengan PTKP

Penghasilan kotor (bruto) dikurangi PTKP menghasilkan penghasilan neto atau penghasilan
kena pajak (PKP). Setelah nilai penghasilan bruto dan PTKP diketahui, maka proses
perhitungan PKP dapat dilakukan.

Setelah angka atau nilai PKP sudah ada, maka besaran pajak penghasilan sudah dapat
dilakukan.

4. Tahapan Menghitung PPh

Setelah besaran PKP sudah diketahui, Anda dapat langsung menghitung pajak penghasilan
dengan ketentuan berikut ini:

1. Penghasilan bersih yang kurang dari Rp 50.000.000,00 tarif pajaknya sebesar 5%.
2. Penghasilan bersih antara Rp 50.000.000,00 sampai dengan Rp 250.000.000,00 dikenai tarif
pajak sebesar 15%
3. Penghasilan bersih antara Rp 250.000.000,00 sampai dengan Rp 500.000.000,00 dikenai tarif
pajak sebesar 25%
4. Sedangkan untuk penghasilan bersih di atas Rp. 500.000.000,00 dikenai tarif pajak 50%.

Contoh Cara Menghitung Pajak Penghasilan

 Jika Anda memiliki penghasilan per bulan Rp 5.000.000, maka penghasilan kotor per
tahunnya mencapai Rp 60.000.000.
 Bila Anda masih bujangan, maka Anda masuk dalam kategori PTKP poin pertama yakni Rp
54.000.000.
 Penghasilan kotor-PTKP = penghasilan bersih yakni Rp 60.000.000-Rp 54.000.000 = Rp
6.000.000. Penghasilan bersih Anda adalah Rp 6.000.000.
 Dari penghasilan ini, Anda bisa menghitung besarnya pajak yang akan Anda bayarkan. Cara
menghitung pajak penghasilan dengan penghasilan bersih Rp 6.000.000 maka Anda akan
mengikuti poin tarif pajak yang kedua yakni 15%.
 Pajak penghasilan = 15% x Rp 6.000.000 = Rp 900.000. Jadi, pajak penghasilan per tahun
yang harus Anda setor ke negara adalah Rp 900.000 atau Rp 75.000 per bulan.
Hutang Pajak Penghasilan

Utang pajak merupakan pajak yang masih harus dibayar, termasuk sanksi administrasi berupa
bunga, denda atau kenaikan yang tercantum dalam surat ketetapan pajak atau surat sejenisnya
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Utang pajak adalah utang yang timbulnya secara khusus, karena negara (kreditor) terikat dan
tidak dapat memilih secara bebas, siapa yang akan dijadikan debiturnya. Hal ini terjadi
karena utang pajak timbul karena undang-undang.

R. Santoso Brotodihardjo berpendapat bahwa timbulnya utang pajak tidaklah selalu


dinyatakan dengan jelas di dalam undang-undangnya, pada saat manakah terjadi suatu utang
pajak, melainkan dicurahkannyalah semua perhatian kepada timbulnya keharusan untuk
membayarnya. Demikian itu adalah karena dalam praktik sehari-hari, saat yang disebut ini
jauh lebih penting.

Sedangkan saat timbul utang pajak mulai adalah kajian dari hukum pajak untuk
menentukannya, dalam hal ini terdapat dua teori yang membahas tentang timbulnya utang
pajak,

Dilihat dari kondisinya, timbulnya utang pajak dapat terjadi karena dua kondisi, yaitu: 

1. Kondisi Formil 

Dalam kondisi ini, utang timbul karena petugas pajak mengeluarkan surat ketetapan. Contoh:

Pada pelunasan Pajak Bumi Bangunan, KPP merupakan pihak yang mengeluarkan surat
ketetapan pajak berisi besaran pajak terutang setiap tahunnya. Anda sebagai wajib pajak tidak
perlu lagi menghitung pajak terutang melainkan membayar PBB berdasarkan surat yang
diberikan KPP.

Dalam kondisi materiil utang pajak timbul dengan syarat adanya taatbestand, yaitu rangkaian
perbuatan-perbuatan, keadaan dan peristiwa-peristiwa yang dapat menimbulkan utang pajak
seperti :

 Perbuatan : Pengusaha mengimpor barang mewah


 Keadaan : memiliki harta bergerak dan harta tidak bergerak
 Peristiwa : meninggalnya pewaris, maka harta wrisan belum terbagi adalah subyek pajak

Keuntungan dari ajaran ini adalah pajak yang timbul karena undang- undang, tidak perlu
campur tangan aparat pajak untuk ambil bagian, asalkan syarat dari undang-undang
terpenuhi, maka timbulah utang pajak. Sedangkan kelemahan dari ajaran ini adalah saat utang
pajak itu timbul belum diketahui pasti berapa besarnya utang pajak karena wajib pajak belum
mengetahui ketentuan Undang-Undang Pajak.
Berdasarkan ajaran ini diberlakukan pemungutan pajak secara Self Assessment System.
Sistem ini memberikan wewenang kepada wajib pajak untuk menentukan sendiri besaranya
pajak yang terutang. Ciri-ciri dari Self Assessment ialah, wewenang unutk menentukan
besarnya pajak terutang ada pada wajib pajak sendiri, wajib pajak secara aktif menghitung,
menyetor dan melaporkan sendiri pajak yang terutang, fiskus tidak ikut campur dan hanya
mengawasi.

2. Kondisi Materil 

Pada kondisi materil utang pajak timbul karena undang-undang atau karena adanya sebab
tertentu  yang mengakibatkan suatu pihak dikenakan pajak, seperti mendirikan bangunan,
kegiatan impor ekspor, hingga mendapat hadiah undian. Contoh:

Ian merupakan seorang karyawan yang memenangkan hadiah undian dari sebuah acara
televisi. Dalam kasus ini, Ian terutang pajak atas hadiah undian berupa uang tunai yang
diterimanya.

Suatu pihak dapat dibebaskan dari utang pajak karena adanya kondisi-kondisi berikut ini:

 Pembayaran

Utang pajak yang melekat pada wajib pajak akan dihapus karena pembayaran pajak yang
dilakukan ke kas negara.

Berdasarkan pasal 10 Udang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 Pembayaran atau pelunasan


yang dapat menghapus utang pajak adalah pembayaran secara lunas yang telah disahkan oleh
Pejabat kantor penerima pembayaran yang berwenang atau apabila telah mendapatkan
validasi pada instansi-instansi yang ditunjuk seperti Kantor Kas Negara, Kantor Pos maupun
pada Bank-Bank Negara.

 Kompensasi 

Kompensasi dalam kondisi ini merupakan keputusan yang ditujukan kepada wajib pajak yang
memiliki tagihan, di luar pajak tidak diperkenankan dari penghasilan bruto. Seperti dividen
yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan biaya yang
dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang saham. Kompensasi hanya
terjadi apabila wajib pajak memiliki tagihan berupa kelebihan pembayaran pajak.

Kompensasi dilakukan bila terdapat kelebihan pembayaran pajak, baik pajak sejenis pada
tahun yang berbeda ataupun jenis pajak yang berbeda dalam tahun pajak yang sama. Contoh :
Kelebihan pembayaran PPh dengan kelabihan pembayaran PPN,kelebihan pembayaran PPh
pada tahun lalu dengan kekurangan PPh tahun berjalan yang mana diatur lebih lanjut pada
pasal 5 Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER - 7/PJ/2011.

 Kedaluwarsa pajak 
Kedaluwarsa pajak merupakan kondisi dimana masa penagihan pajak telah melampaui waktu
terutang pajak/masa pajak atau tahun pajak bersangkutan. Dalam kondisi kedaluwarsa pajak
biasanya telah tercantum kepastian hukum, kapan utang pajak tidak dapat ditagih lagi. 

Kondisi kedaluwarsa  pajak ini dapat ditangguhkan apabila diterbitkan surat teguran atau
surat paksa untuk melunasi utak pajak.

Fiskus harus memberikan kepastian hukum bagi wajib pajak tentang batas waktu tertentu
untuk penagihan pajak, batas daluarsa yang berlaku saat ini :

 Untuk pajak pusat 10 tahun


 Untuk pajak daerah 5 tahun
 Untuk retribusi daerah 3 tahun
 Sedangkan untuk wajib pajak yang terlibat tindak pidana pajak tidak diberikan batas waktu

 Pembebasan 

Utang pajak tidak berakhir dengan semestinya, tetapi karena ditiadakan oleh salah satu pihak.
Pembebasan biasanya tidak diberikan kepada pokok pajaknya, tetapi terhadap sanksi
administrasi

Dalam hukum pajak ada 2 (dua) pembebasan, yaitu kwijtschelding dan

 Kwijtschelding (Peniadaan utang)


Pajak hapus karena ditiadakan oleh fiskus yang didasarkan pada surat keputusan
Administrasi Pajak. Pajak yang terutang hanya dapat ditiadakan karena sebab tertentu,
misalkan karena sawah terkena musibah bencana lama atau karena dasar
penetapannya tidak benar.

 Ontheffing (Pembebasan)
Pembebasan ini hanya diberikan apabila subyek pajak setelah dikenakan pajak
ternyata memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh undang-undang untuk
diberikan pembebasan pajak. Peniadaan utang ini tidak berlaku dengan
sendiria’uyhjinm,nya atau dianggap berlaku dengan sendirinya, melainkan harus ada
perbuatan positif dari pihak negara (kreditur, Direktorat Jendral Pajak) dan inipun
sering harus didasarkan pada permintaan wajib pajak.

 Penghapusan 

Sifat penghapusan sama dengan pembebasan, tetapi diberikan kepada wajib pajak.
Penghapusan utang pajak bisa disebabkan karena kondisi keuangan wajib pajak atau
kematian
Menurut Keputusan Menteri Keuangan Nomor 68/PMK.03/2012 tertanggal 2 Mei 2012 utang
pajak dihapuskan karena :

 Wajib Pajak dan/atau Penanggung Pajak meninggal dunia dan tidak mempunyai harta warisan
atau kekayaan;
 Wajib Pajak dan/atau Penanggung Pajak tidak dapat ditemukan;
 Hak untuk melakukan penagihan pajak sudah daluwarsa;
 Dokumen sebagai dasar penagihan pajak tidak ditemukan dan telah dilakukan penelusuran
secara optimal sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di bidang perpajakan; atau
 Hak negara untuk melakukan penagihan pajak tidak dapat dilaksanakan karena kondisi
tertentu sehubungan dengan adanya perubahan kebijakan dan/atau berdasarkan pertimbangan
yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

Dasar Hukum PPh Terutang

Semua jenis pajak terutang, termasuk pajak penghasilan, tidak sama dengan utang pajak. Hal
ini dapat dilihat dari dasar hukumnya. Istilah pajak yang terutang dapat Anda temukan pada
beberapa peraturan pajak di bawah ini:

1. UU Nomor 28 Tahun 2007 tentang KUP

Undang-undang ini mengatur ketentuan umum dan tata cara perpajakan (KUP). Pada pasal 10
undang-undang ini dijabarkan bahwa pajak terutang adalah pajak yang harus dibayar pada
saat tertentu dalam masa pajak, tahun pajak, atau bagian tahun pajak.

2. UU KUP Pasal 1 Ayat 10

Deskripsi pajak terutang dalam UU KUP Pasal 1 mirip dengan UU Nomor 28 Tahun 2007.

3. UU Nomor 36 Tahun 2008 tentang PPh

Undang-undang ini merupakan versi lebih baru dari UU Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak
Penghasilan. Pasal 17 dalam undang-undang ini memuat tarif pajak penghasilan untuk orang
pribadi dan badan. Wajib pajak membutuhkan informasi ini untuk menghitung pajak terutang
dari penghasilan kena pajak.

4. PER-4/PJ/2009

Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor 4 Tahun 2009 tidak secara khusus menyebut
pajak penghasilan terutang. Akan tetapi, peraturan ini memuat penjelasan serta petunjuk
untuk melakukan pencatatan pajak penghasilan, khususnya bagi Wajib Pajak Orang

5. PER-32/PJ/2015

Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor 32 Tahun 2015 juga mengatur tarif pajak
penghasilan, dengan fokus pada pajak penghasilan pribadi. Peraturan ini juga membedakan
tarif yang dikenakan pada wajib pajak yang sudah memiliki NPWP dan yang belum. Anda
dapat menemukannya pada bab VII pasal 20.

Berbeda dengan pajak terutang (yang bukan merupakan tunggakan), deskripsi utang pajak
tercantum di dalam Undang-Undang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa (UU PSPP)
khususnya pada pasal 1 Ayat 8. Dengan kata lain, ada unsur sanksi di dalam utang pajak dan
sudah menjadi tunggakan. Anda wajib membayar utang pajak beserta denda, kenaikan, atau
bunga sebagai sanksi keterlambatan.

Rumus Perhitungan Tarif PPh Terutang

Menurut UU No 36 Tahun 2008, terdapat persentase khusus untuk menghitung tarif pajak
penghasilan, tergantung dari jumlah Penghasilan Kena Pajak yang diperoleh. Rumus tarif
untuk wajib pajak orang pribadi adalah:

 5% dari penghasilan kena pajak untuk penghasilan hingga Rp50.000.000/tahun.


 15% dari penghasilan kena pajak untuk penghasilan di atas Rp50.000.000 hingga
Rp250.000.000/tahun.
 25% dari penghasilan kena pajak untuk penghasilan di atas Rp250.000.000 hingga
Rp500.000.000/tahun.
 30% dari penghasilan kena pajak untuk penghasilan di atas Rp500.000.000/tahun.

Perhitungan di atas ini hanya berlaku untuk wajib pajak yang sudah memiliki NPWP. Wajib
pajak tanpa NPWP harus membayar tarif 20% lebih tinggi dari yang wajib dibayarkan
pemilik NPWP.

Ilustrasi Perhitungan Tarif Pajak Penghasilan Terutang

Berikut ini adalah contoh perhitungan PPh terutang:

A adalah karyawan perusahaan yang masih lajang. Dia memiliki penghasilan senilai
Rp6.000.000 per bulan, atau Rp72.000.000 per tahun. Status lajang A membuatnya mendapat
Penghasilan Tidak Kena Pajak sejumlah Rp54.000.000 per tahun. Ini berarti penghasilan
kena pajak si A dihitung dari selisih antara gaji/pendapatan per tahun dan PTKP, yaitu
Rp72.000.000–Rp54.000.000 = Rp18.000.000.

Karena penghasilan si A dalam setahun adalah Rp72.000.000, maka perhitungan tarifnya


menggunakan persentase 15%. Jumlah pajak penghasilan yang harus dibayar dalam setahun
adalah 15/100 x Rp18.000.000 = Rp2.700.000. Ini berarti jumlah uang yang menjadi
potongan pajak A adalah Rp225.000.
DAFTAR PUSTAKA

https://elinzanuars.wordpress.com/2016/05/04/akuntansi-pajak-penghasilan/

https://pajak.warsidi.com/alokasi-pajak-intra-periode/