Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN MIKROBIOLOGI

PRAKTIKUM II
“PEMERIKSAAN MIKROBIOLOGI PADA MAKANAN”

Disusun Oleh :
Nama : Thessa Norsantika
NIM : 18.71.019313
Kelas : Farmasi D

PROGRAM STUDI D-III FARMASI


FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKARAYA
2020
PRAKTIKUM II
“PEMERIKSAAN MIKROBIOLOGI PADA MAKANAN”

I. TUJUAN
Melakukan pemeriksaan dan mengetahui angka kuman pada makanan dan
minuman dengan metode Pour Plate.

II. DASAR TEORI


Mikrobiologi dalam bahasa Yunani diartikan mikros yang berarti kecil, bios
yang artinya hidup, dan logos yang artinya kata atau ilmu. Mikrobiologi
merupakan suatu istilah luas yang berarti studi tentang mikroorganisme, yaitu
organism hidup yang terlalu kecil untuk dapat dilihat dengan mata telanjang dan
biasanya bersel tunggal (Budiyanto, 2002). Mikrobiologi dalam konteks
pembagian ilmu modern mencakup studi tentang bakteri (bakteriologi), jamur
(mikologi), dan virus (virologi) (Budiyanto, 2002).
Mikrobiologi pangan adalah salahsatu cabang mikrobiologi yang mempelajari
bentuk, sifat, dan peranan mikroorganisme dalam rantai produksi pangan baik
yang menguntungkan maupun yang merugikan seperti kerusakan pangan dan
penyebab penyakit bawaan pangan (Sopandi dan Wardah, 2014).
Rantai produksi pangan yang dimaksud diatas adalah sejak pemanenan,
penangkapan, penyembelihan, penanganan, penyimpanan, pengolahan, distribusi,
pemasaran, penghidangan hingga pangan siap untuk dikonsumsi. Bidang
mikrobiologi pangan sebelum tahun 1970 dikenal sebagai suatu aplikasi ilmu yang
terlibat dalam control kualitas mikrobiologis pangan. Bidang mikrobiologi pangan
tidak hanya menyangkut aspek mikrobiologi kerusakan, penyakit bawaan, dan
control efektif pengolahan pangan, tetapi juga menyangkut informasi dasar
ekologi, fisiologi, metabolisme, dan genetika mikroba (Sopandi dan Wardah,
2014).
Kelompok mikroorganisme dalam pangan terdiri atas beberapa spesies dan
strain bakteri, khamir, kapang, dan virus yang berperan penting dalam pangan
karena kemampuannya. Kemampuan tersebut menyebabkan kerusakan dan
penyakit bawaan pangan, serta digunakan untuk produksi pangan dan aditif
pangan. Menurut Sopandi dan Wardah (2014) di antara 4 kelompok
mikroorganisme pangan, bakteri merupakan kelompok terbesar. Hal itu
disebabkan karena bakteri dapat berada di hamper semua jenis pangan dengan laju
pertumbuhan yang tinggi, bahkan pada pangan yang tidak dapat ditumbuhi oleh
khamir dan kapang. Bakteri juga merupakan kelompok mikroorganisme paling
penting yang menyebabkan kerusakan pangan dan menimbulkan penyakit bawaan
pangan (Sopandi dan Wardah, 2014).
Analisis mikrobiologi pangan adalah analisa yang digunakan untuk
mengidentifikasi mikroorganisme pada sampel uji pangan melalui pengujian
laboratorium. Pengujian laboratorium dilakukan dalam rangka pengawasan mutu
secara mikrobiologis untuk menghitung jumlah koloni, mengisolasi, dan
mengidentifikasi cemaran bakteri patogen yang mungkin ada (Sudian, 2008).
Pengujian sampel makanan akan selalu mengacu kepada persyaratan makanan
yang sudah ditetapkan. Secara umum, beberapa parameter uji mikrobiologi pada
makanan yang dipersyaratkan terdiri dari:
1. Uji angka lempeng total;
2. Uji angka kapang khamir;
3. Uji angka bakteri termofilik;
4. Uji angka bakteri pembentuk spora;
5. Uji angka bakteri anaerob;
6. Uji angka Staphylococcus aureus;
7. Uji angka Enterobacteriaceae;
8. Uji MPN Coliform;
9. Uji MPN fekal Coliform;
10. Uji MPN Escherichia coli;
11. Uji angka Escherichia coli;
12. Identifikasi Escherichia coli;
13. Identifikasi Staphylococcus aureus;
14. Identifikasi Salmonella; dan
15. Identifikasi Shigella (Sudian, 2008).

MenurutSudian (2008) metode-metode yang digunakan untuk pengujian


mikrobiologi pangan yang ditentukan oleh persyaratan yang diacu adalah sebagai
berikut.
1. Metode Kuantitatif (Enumerasi)
Pengujian secara kuantitaif yaitu menggunakan penghitungan jumlah
mikroorganisme dan interpretasi hasil berupa koloni per ml/g atau koloni per
100 ml. Metode ini digunakan untuk mengetahui jumlah mikroorganisme yang
ada pada suatu sampel, umumnya dikenal dengan angka lempeng total atau
total plate count (ALT/TPC) dan Angka Paling Mungkin atau most probable
number (APM/MPN). Uji angka lempeng total (ALT) dan lebih tepatnya ALT
aerob mesofil atau anaerob mesofil menggunakan media padat dengan hasil
akhir berupa koloni yang dapat diamati secara visual dan dihitung, intepretasi
hasil berupa angka dalam koloni (cfu) per ml/g atau koloni/100ml. Cara yang
digunakan antara lain dengan cara tuang, cara tetes, dan cara sebar. Angka
paling mungkin (MPN) menggunakan media cair dengan tiga replikasi dan
hasil akhir berupa kekeruhan atau perubahan warna dan atau pembentukan gas
yang juga dapat diamati secara visual, dan interpretasi hasil dengan merujuk
kepada tabel MPN. Dikenal 2 cara yaitu metode 3 tabung dan metode 5
tabung. Metode kuantitatif dilakukan dengan beberapa tahap yaitu
omogenisasi sampel, tahap pengenceran, tahap pencampuran dengan media
(padat/cair), tahap inkubasi dan pengamatan, dilanjutkan dengan interpretasi
hasil.
2. Metode Kualitatif (Pengkayaan)
Pengujian secara kualitatif dengan metode pengkayaan (enrichment) yaitu
isolasi, identifikasi mikroorganisme, dan interpretasi hasil berupa negatif per
25 gram atau per 100 gram/ml. Identifikasi mikroorganisme pathogen dapat
dilakukan dengan cara konvensional maupun dengan pengujian cepat (rapid
test). Pada metode kualitatif dilakukan perbanyakan terlebih dahulu dari sel
mikroorganisme yang umumnya dalam jumlah yang sangat sedikit dan bahkan
kadang-kadang dalam kondisi lemah. Metode kualitatif dilakukan dalam
beberapa tahap yaitu tahap pengkayaan, tahap isolasi pada media selektif,
tahap identifikasi dengan reaksi biokimia, dan dilanjutkan dengan analisa
antigenic atau serologi atau immunologi dan bila diperlukan dapat juga
dilakukan identifikasi DNA bakteri dengan metode PCR (Polymerase Chain
Reaction).

III. ALAT DAN BAHAN


ALAT
1. Timbangan analitik
2. Petridish/cawan petri berdiameter 15 cm dan 20 cm
3. Hot plate
4. Stirer/batang pengaduk
5. Tabung Erlenmeyer 250 ml
6. Beaker glass
7. Gelas ukur
8. Oven
9. Autoclave
10. Lampu spiritus/Bunsen
11. Laminar air flow (BSC)
12. Pisau steril

BAHAN
1. NaCl 9,0%
2. Nutrient agar/Plate Count Agar
3. Aquadest

IV. PROSEDUR KERJA

Siapkan 6 tabung reaksis teril , susun pada rak tabung

Masing-masing tabung secara berurutan di beri tanda10−2 , 10−3 , 10−4 , 10−5 ,

sebagai kode pengenceran dan tanggal pemeriksaan

Siapkan pula 6 petri dish steril dan 5 petri diberi tanda pada bagian

belakangnya sesuai dengan kode pengenceran . satu petri dish lainnya di beri

tanda “ kontrol “

Pada tabung kedua sampai dengan ke lima , di isi dengan 9 ml garam

phisiologis atau aquades atau larutan garam phosphate , untuk pemeriksaan

bacillus cereus harus menggunakan larutan garam buffer phosphate .


Kocok bahan specimen dalam labu ukur Erlenmeyer sebanyak 25 kali sampai

homogen

Ambil 10 ml masukkan pada tabung kesatu

Pindahkan 1 ml bahan dari tabung kesatu kedalam tabung kedua dengan


pipet ukur steril , cairan di buat sampai homogen

Demikian seterusnya dilakukan sampai tabung kelima

Pengenceran yang di peroleh pada kelima tabung


adalah 10−1 ,10−2 ,10−3 ,10−4 ,10−5 sesuai dengan kode pengenceran yang
telah tercantum sebelumnya

Dari masing – masing tabung di atas dimulai dari tabung kelima dengan
menggunakan pipet steril , diambil 1 ml dimasukkan kedalam masing –
masing petri dish steril , sesuai dengan kode pengenceran yang sama

Kemudian kedalam masing-masing petri dish dituang plate count agar /


nutrient agar cair yang telah dipanaskan dalam waterbath kuranglebih 45°C
sebanyak 15-20 ml .

Masing-masing petri dish digoyang perlahan-lahan hingga tercampur


merata dan dibiarkan hingga dingin dan membeku
Masukkan dalam incubator 37°C selama 1×24 jam dalam keadaan
terbalik

Kontrol dibuat dari cairan garam phisiologis atau aquades atau larutan
garam buffer phosphate steril . untuk pemeriksaan bacillus cereus harus
menggunakan larutan garam buffer phosphate , dimasukkan kedalam
petri dish “kontrol” dan dituangi plate count agar/ nutrient agar cair
seperti tersebut diatas sebanyak 15-20 ml

Pembacaan dilakukan setelah 1×24 jam dengan cara menghitung jumlah


kaloni yang tumbuh pada tiap-tiap petri dish

Cara pembacaan hasil dan laporan

Hitung koloni yang tumbuh pada tiap-tiap petri dish

Koloni-koloni yang bergatung menjadi satu atau


pembentuk satu atau membentuk satu deretan/koloni yang
terlihat sebagai garis tebal atau jumlah koloni
meragukandihitung sebagai 1 (satu) koloni kuman.

Hitung jumlah koloni yang tumbuh pada petri dish


berisi kontrol

Bila jumlah koloni pada petri dish control lebih besar


dari 10, pemeriksaan harus diulang karena sterilisasi
dianggap kurang baik

Pemeriksaan ulang harus menggunakan nutrient agar /


plate count agar dari pembuatan baru
Pelaporan:
Pelaporan berdasarkan pada perhitungan angka kuman yang diperoleh.
Perhitungan hanya dilaksanakan pada petri dish yang menghasilkan jumlah koloni
antara 30-300 serta jumlah pada petri dish control lebih kecil dari 10.
Jumlah koloni masing-masing petri dish ini harus terlebih dahulu dikurangi
dengan jumlah koloni pada petri dish kontrol.
Contoh perhitungan :
Jumlah koloni yang tumbuh pada petri dish :
Control : 1 koloni
Pengenceran 10-1 : 326 koloni
Pengenceran 10-2 : 157 koloni
Pengenceran 10-3 : 94 koloni
Pengenceran 10-4 : 37 koloni
Pengenceran 10-5 : 28 koloni

(𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒌𝒐𝒍𝒐𝒏𝒊−𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒌𝒐𝒍𝒐𝒏𝒊 𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒌𝒐𝒏𝒕𝒓𝒐𝒍) ×𝑷𝒆𝒏𝒈𝒆𝒏𝒄𝒆𝒓𝒂𝒏


Angka Kuman = 𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒑𝒆𝒕𝒓𝒊𝒅𝒊𝒔𝒉 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒉𝒂𝒔𝒊𝒍𝒌𝒂𝒏 𝒋𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒌𝒐𝒍𝒐𝒏𝒊 𝟑𝟎−𝟑𝟎𝟎
(157−1) × 100 + (94−1) × 1000 + (37−1)× 10.000
Angka Kuman = 3
15.600 +9 3.000 + 360.000
=
3
468.600
= 3

= 156.200 kuman tiap gram atau ml

V. HASIL PENGAMATAN
(𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒌𝒐𝒍𝒐𝒏𝒊−𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒌𝒐𝒍𝒐𝒏𝒊 𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒌𝒐𝒏𝒕𝒓𝒐𝒍) ×𝑷𝒆𝒏𝒈𝒆𝒏𝒄𝒆𝒓𝒂𝒏
Angka Kuman = 𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒑𝒆𝒕𝒓𝒊𝒅𝒊𝒔𝒉 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒉𝒂𝒔𝒊𝒍𝒌𝒂𝒏 𝒋𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒌𝒐𝒍𝒐𝒏𝒊 𝟑𝟎−𝟑𝟎𝟎
(157−1) × 100 + (94−1) × 1000 + (37−1)× 10.000
Angka Kuman = 3
15.600 +9 3.000 + 360.000
= 3
468.600
= 3

= 156.200 kuman tiap gram atau ml

Tidak memenuhi syarat Dimana menurut SNI 7388 tahun 2009 tentang batas
maksimum cemaran mikroba dalam pangan dalam kategori daging olahan dan
daging ayam batas maksium Angka Lempeng Total adalah 1 𝑥 105 𝐾𝑜𝑙𝑜𝑛𝑖/
𝑔𝑟𝑎𝑚.

VI. PEMBAHASAN
Dalam praktikum ini, untuk sampel yang digunakan adalah daging ayam,
karena sampel dengan konsistensi setengah padat, digerus terlebih dahulu agar
menjadi butiran-butiran sekecil mungkin (menjadi suspensi) menggunakan mortir,
kemudian ditimbang sesuai ukuran yang telah ditentukan dan kemudian
dimasukkan ke dalam wadah (gelas beaker).
Homogenisasi dilakukan untuk memperoleh penyebaran bakteri yang sebaik
mungkin dan merata. Sehingga meskipun bahan yang diperiksa sedikit, hasil
pemeriksaannya dapat mewakili keadaan sampel untuk keseluruhan.
Homogenisasi dalam praktikum ini dilakukan sebelum dan sesudah sampel
ataupun hasil pengenceran dipindahkan ke tabung/tempat lain.
Sebelum ditanam pada media pembenihan, dilakukan pengenceran 10 -1,
10 -2, 10 -3, 10 -4, 10 -5 , 10-6 terhadap sampel daging ayam tersebut
menggunakan PZ (Physiologic Zoid). Penentuan besarnya atau banyaknya
tingkat pengenceran tergantung kepada perkiraan jumlah mikroba dalam
sampel.
Fungsi pengenceran pada tahap ini antara lain :
1. Memperkecil atau mengurangi jumlah kuman yang tersuspensi dalam
cairan sehingga dapat memberikan kesempatan hidup pada kuman.
2. Meningkatkan viabilitas kuman dari kondisinya yang tidak
menguntungkan di dalam sampel sebab dalam suatu bahan makanan dan
minuman, kuman masih menempel pada komponen-komponen makanan
dan minuman tersebut yang membuatnya tidak bebas.
3. Mempermudah pengamatan dan perhitungan angka kuman sebab koloni
yang tumbuh padat akan mengganggu pengamatan.

Teknik Inokulasi (penanaman bakteri) merupakan kegiatan memindahkan


bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru dengan tingkat ketelitian
yang sangat tinggi. Medium yang baru harus nutrisi yang berkembang biak
dengan baik.
Pada praktikum ini, alat yang akan digunakan sebelumnya harus disterilisasi
terlebih dahulu agar semua alat dan bahan yang akan digunakan steril/tidak ada
mikroorganisme penganggu sehingga tidak akan mempengaruhi hasil pemeriksaan
akhir. Sterilisasi adalah suatu proses untuk mematikan semua organisme yang
terdapat pada atau di dalam suatu benda.
Teknik inokulasi yang dilakukan dalam praktikum ini, yaitu dengan metode
Angka Lempeng Total secara pour plate (cawan tuang). Metode pour plate
(cawan tuang) adalah teknik penanaman dengan cara mencampurkan sampel yang
mengandung sel mikroba dengan media pertumbuhan (agar) sehingga sel-sel
tersebut tersebar merata dan diam baik di permukaan agar atau di dalam agar.
Media yang digunakan adalah media Nutrient Agar. Media Nutrient Agar
merupakan media pertumbuhan umum, media pemerkaya dan termasuk media
non-selektif. Artinya pada media Nutrient Agar, kuman apa saja dapat tumbuh
dengan bebas.
Inokulasi dilakukan dengan cara memipet masing-masing 1 mL hasil
pengenceran kedalam plate, kemudian dituangkan 15-20 mL media NA (Nutrient
Agar). Setelah itu, diputar-putar sehingga antara sampel dan media NA homogen
dan bakteri menyebar secara merata. Selain itu disiapkan pula media kontrol yang
berfungsi sebagai acuan.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam inokulasi kuman ini antara
lain :
1. Semua alat dan bahan yang akan digunakan harus dalam keadaan steril.
2. Dalam memipet dan pemindahan bakteri :
a. Sebelum dan sesudah memipet, pipet difiksasi terlebih dahulu untuk
membasmi bakteri yang menempel pada pipet.
b. Ketika akan memindahkan hasil pengenceran kedalam plate, pipet tidak
boleh menyentuh atau terlalu dekat dengan api bunsen. Hal ini disebabkan
karena kuman pada makanan dan minuman akan mati jika terlalu dekat
dengan sumber api.
c. Ketika akan memipet dan memindahkan isi tabung kedalam plate, harus
selalu diusahakan agar mulut tabung tidak terkontaminasi oleh tangan.
d. Pipet diusahakan agar tidak menyentuh meja/terkontaminasi sebelum
selesai digunakan (terutama ujung pipet).
e. Pipet yang masih steril sebaiknya dibuka dari kertas pembungkusnya saat
detik-detik akan digunakan, untuk menghindari kontaminasi dari kuman-
kuman di dalam ruangan tempat praktikum.
f. Pengerjaan praktikum harus selalu dilakukan secara aseptis, di dekat api
bunsen (dengan catatan tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh).

Setelah penanaman bakteri pada media, kemudian diinkubasi pada


inkubator pada suhu 37°C selama 1 x 24 jam untuk memberikan kesempatan
kepada bakteri memanfaatkan media untuk pertumbuhannya. Pada saat
inkubasi, setiap sel mikroorganisme hidup dalam sampel daging ayam yang
diperiksa akan tumbuh menjadi satu koloni. Setelah diinkubasi, dilakukan
penghitungan jumlah koloni untuk memperkirakan jumlah mikroorganisme
dalam sampel daging ayam tersebut.
Pada praktikum ini, dihitung jumlah kuman secara umum, jadi kuman yang
ingin dihitung belum diidentifikasi. Lain halnya jika telah menentukan
perhitungan angka kuman bakteri tertentu, media yang digunakan juga harus
media yang khusus untuk menumbuhkan bakteri tersebut. Perhitungan kuman
ini mengunakan alat coloni counter.
Sebelum dihitung jumlah koloni pada media yang telah ditanam bakteri,
sebelumnya diperiksa jumlah koloni pada media kontrol. Jika jumlah koloni
pada media kontrol >10, maka semua media kultur dianggap gagal, sebab
telah terjadi kontaminasi. Jika jumlah koloni pada media kontrol <10, maka
perhitungan jumlah koloni media yang telah ditanami bakteri dapat dilakukan.
Syarat koloni yang ditentukan untuk dihitung adalah sebagai berikut :
 Satu koloni dihitung 1 koloni.
 Dua koloni yang bertumpuk dihitung 1 koloni.
 Beberapa koloni yang berhubungan dihitung 1 koloni.
 Dua koloni yang berhimpitan dan masih dapat dibedakan dihitung 2
koloni.
 Koloni yang terlalu besar (lebih besar dari setengah luas cawan) tidak
dihitung.
 Koloni yang besarnya kurang dari setengah luas cawan dihitung 1
koloni.Plate yang dihitung hanya plate yang mengandung 30 – 300 koloni.
Berdasarkan data hasil pengamatan, dalam pemeriksaan angka kuman
pada sampel daging ayam adalah 156.200 kuman tiap gram atau ml. Dimana
hal ini tidak memenuhi syarat dikarenakan menurut SNI 7388 tahun 2009
tentang batas maksimum cemaran mikroba dalam pangan dalam kategori
daging olahan dan daging ayam batas maksium Angka Lempeng Total
adalah 1 × 105 koloni/gram.

VII. KESIMPULAN
1. Teknik perhitungan angka kuman dalam sampel daging ayam dilakukan
dengan tahapan : preparasi sampel, homogenisasi, pengenceran,
penanaman/inokulasi ke dalam media NA, inkubasi, dan perhitungan kuman
pada colony counter.
2. Dalam pemeriksaan angka kuman pada sampel daging ayam adalah 156.200
kuman tiap gram atau ml. Dimana hal ini tidak memenuhi syarat dikarenakan
menurut SNI 7388 tahun 2009 tentang batas maksimum cemaran mikroba
dalam pangan dalam kategori daging olahan dan daging ayam batas maksium
Angka Lempeng Total adalah 1 × 105 koloni/gram.
DAFTAR PUSTAKA
Budiyanto, M.A.K., (2002), Dasar-dasar Ilmu Gizi, Malang: UMM Press.
Sudian S. 2008. Pengujian mikrobiologi pangan. Jurnal Info POM 9(2): 1-9
Sopandi,T dan Wardah.2014. Mikrobiologi Pangan Teori dan Praktik. Maya(ed).Yogjakarta:
ANDI Yogyakarta