Anda di halaman 1dari 3

MANAJEMEN HATCHERY

Penetasan merupakan bagian dari kegiatan pembibitan yaitu untuk


mempertahankan dan meningkatkan populasi Day Old Chick (DOC) yang berkualitas.
Keberhasilan penetasan dipengaruhi faktor dari tanggung jawab breeding farm dan
tanggung jawab hatchery seperti sanitasi, penyimpanan telur, kerusakan telur,
inkubasi, dan penanganan DOC. Breeder farm berpengaruh besar terhadap hasil di
hatchery dan sangat penting bagi farm dan hatchery untuk bekerja sama secara erat.
Hatching Egg (HE) atau telur tetas yang berasal dari breeder farm akan
ditetaskan di hatchery. Telur tetas dibawa menggunakan truk berkipas yang harus
menyala untuk menjaga sirkulasi yang baik agar embrio tidak mati. Setelah sampai di
hatchery, HE langsung dimasukkan keruang penerimaan untuk dilakukan grading.
Grading dilakukan di bawah sinar lampu yang cukup untuk memisahkan HE yang
berkualitas baik dan buruk. Syarat HE yang baik seperti berwarna coklat, berbentuk
lonjong, bersih, berat lebih dari 50 gram, tidak retak, dan tidak digosok. Telur yang
retak dan digosok akan merusak kutikula sehingga mikroorganisme mudah masuk
melewati pori-pori cangkang. Telur yang tidak memenuhi syarat selanjutnya
dipisahkan agar tidak menjadi sumber kontaminasi bagi telur lainnya. Telur tetas
sebelum dimasukkan ke dalam mesin tetas, diperlukan usaha untuk menghilangkan
bibit penyakit yang menempel pada kerabang, agar bibit penyakit tidak mencemari isi
telur dan unit penetasan (Septiyani et al. 2016). Telur tetas akan di fumigasi selama
kurang lebih 15 menit menggunakan campuran formalin dan PK. Fumigasi adalah
proses pembersihan telur yang bertujuan untuk membunuh atau mengurangi
kontaminasi mikroorganisme yang melekat atau menempel pada permukaan telur
sebelum masuk kedalam mesin.
Telur tetas yang tidak langsung diinkubasi akan disimpan di cooling room
untuk menghambat perkembangan embrio. Telur tetas memiliki batas waktu tertentu
dalam masa penyimpanan yaitu tidak lebih dari 7 hari. Penyimpanan telur tetas yang
lebih dari 7 hari dapat menyebabkan penurunan daya tetas walaupun berada dalam
kondisi terbaik untuk penyimpanan (Hasanah et al. 2019). Telur tetas yang semakin
lama disimpan akan menurunkan kualitas seperti putih telur yang semakin encer, pori-
pori semakin besar yang akan membuat mikroorganisme mudah masuk (Herlina et al.
2016). Lama penyimpanan berbanding lurus dengan penurunan suhu. Semakin lama
disimpan maka suhu yang disetting akan semakin rendah. Untuk menyimpan HE
selama 3-4 hari, suhu yang digunakan 19-20oC. Sebelum memasuki mesin setter
(mesin pengeraman) dilakukan prewarming.
Prewarming adalah tindakan untuk menaikan suhu telur yang berasal dari
cooling room secara bertahap untuk menghindari cold shock pada embrio. Setelah
mencapai suhu ruang 27-28oC HE akan masuk ke mesin setter yang berfungsi seperti
pengeraman induk. Lama HE diinkubasi dalam mesin setter adalah 18 hari. Sirkulasi
udara harus bersih dan lancar didalam mesin. Oleh karena itu, mesin ini dilengkapi
temperatur, humidity, ventilasi O2 dan CO2, serta turning yang berganti per 1 jam.
Turning berfungsi memiringkan HE agar suhu merata pada semua bagian. Sirkulasi
udara dalam mesin tetas sangat diperlukan karena embrio memerlukan O2 dan
mengeluarkan CO2 selama perkembangannya. Ventilasi mesin penetas harus sesuai
agar sirkulasi udara di dalam mesin berjalan dengan baik. Peranan ventilasi yang tidak
baik menyebabkan penumpukan CO2 yang dapat mengganggu pertumbuhan embrio
(Hasanah et al. 2019).

Gambar 1 Perkembangan embrio ayam

Pada hari ke-18 dilakukan transfer HE ke mesin hatcher. Sebelum masuk ke


mesin hatcher HE digrading terlebih dahulu dengan candling menggunakan lampu.
Jika saat di candling telur berwarna terang artinya tidak terdapat embrio atau infertil.
Telur ini kemudian dipisahkan agar tidak masuk ke mesin hatcher. HE yang sudah
berkembang dimasukkan kedalam mesin hatcher selama 2-3 hari sampai menetas.
Mesin ini dilengkapi temperatur, humidity, ventilasi O2 dan CO2. Perkembangan
embrio pada hari ke-19 terlihat paruh ayam sudah mulai siap untuk mematuk selaput
kerabang dalam dan hari ke-20 yolk sudah masuk sepenuhnya kedalam rongga perut,
paruh sudah mulai mematuk kerabang. Pada hari ke-21 DOC sudah dapat keluar dari
kerabang.
Selanjutnya dilakukan pullchick pada chick room yaitu, pemindahan DOC dari
basket hatcher ke box untuk dipisahkan dari HE yang tidak menetas. Saat dipindahkan
DOC di grading terlebih dahulu. Grading dilihat secara external dan internal.
Eksternal dengan cara inspeksi keadaan luar DOC seperti adanya refleks mata,
keadaan kaki yang baik (tidak kering dan merah), warna bulu baik (terang, tumbuh,
cerah, kuning), peruh baik (tidak bengkok dan biru), dan navel (tidak kuning, hitam,
dan terbuka). Internal dengan melakukan evaluasi dari titer maternal antibodi.
Kualitas DOC yang tidak baik akan dipisahkan, selanjutnya akan dimusnahkan atau
menjadi pakan lele. Kualitas DOC yang baik selanjutnya di vaksin. Vaksinasi DOC
umur satu hari menggunakan vaksin ND-IB live melalui spray dan vaksin ND-IB
killed melalui injeksi subcutan. DOC yang telah divaksin akan di packing dan
dimasukkan kedalam truk penganggkut menuju farm costumer. Truk pengangkut di
desinfeksi menggunakan larutan disinfektan untuk menghindari kontaminasi dan truk
juga dilengkapi kipas agar DOC tidak dehidrasi selama perjalanan. Jumlah DOC yang
berada dalam box sebanyak 102 ekor.

DAFTAR PUSTAKA

Hasanah N, Wahyono ND, Marzuki A. 2019. Teknik manajemen penetasan telur tetas
ayam kampung unggul kub di kelompok gumukmas jember. Jurnal Ilmiah
Fillia Cendekia. 4(1): 13-22.
Herlina BT, Karyono R, Novita P, Novantoro. 2016. Pengaruh lama penyimpanan
telur ayam merawang (Gallus Gallus) terhadap daya tetas. Jurnal
Sain Peternakan Indonesia. 11(1): 49-5
Septiani D, Prakoso H, Warnoto W. 2016. Pengaruh sanitasi dengan metode
pengelapan pada penetasan telur itik menggunakan ekstrak daun sirih (Piper
betle L.) terhadap daya tetas dan mortalitas embrio. Jurnal Sain Peternakan
Indonesia. 11(1): 31-38.