Anda di halaman 1dari 8

PERBANKAN INTERNASIONAL

SELASA, 11 MARET 2014

A. Pusat Keuangan Internasional

Pusat keuangan adalah sebuah kota global yang menjadi hubungan perusahaan dan bisnis serta
tempat bagi sejumlah bank dan/atau bursa saham terkenal di dunia. Sebuah pusat keuangan
internasional adalah sebutan umum yang menunjukkan sebuah kota sebagai peserta berpengaruh
dalam pasar keuangan internasional untuk perdagangan aset lintas negara. Sebuah pusat perdagangan
internasional (kadang disingkat IFC untuk International Financial Centre) setidaknya memiliki sebuah
bursa saham berpengaruh dan pasar keuangan lainnya, juga memberi pengaruh besar terhadap bank
internasional. Menurut WEF (World Economic Forum), London telah menggantikan New York sebagai
pusat keuangan dunia meski ada klaim berlebihan dipasar Amerika Serikat dan Eropa karena resesi.

Perbankan internasional terkoneksi di beberapa kota yang sekaligus juga dikenal sebagai pusat-
pusat keuangan dunia. London, Tokyo, dan New York adalah pusat keuangan yang terbesar. Setidaknya
ada 3 jenis transaksi yang terjadi di pusat-pusat keuangan tersebut, yaitu:

1. Menyediakan dana bagi pelanggan domestik, dengan peran klasik menjembatani antara
investor/deposan dan peminjam.

2. Melayani pasar internasional dimana dana domestik disalurkan kepada langganan di luar negeri
disalurkan untuk langganan domestik.

3. Melayani pasar offshore, dimana dana luar negeri disalurkan untuk langganan luar negeri.

Bank Internasional Terbesar di Beberapa Negara Asia (Kecuali Jepang dan China)

Peringkat Dunia

Bank

Negara

Total Kekayaan (juta dolar AS)

74

National Australia Bank


Australia

97. 278

126

Taiwan Cooperative Bank

Taiwan

55. 559

146

Korea Development Bank

Korea

44. 194

193

DBS Bank

Singapura

30. 936

208

May Bank

Malaysia

27. 843

260

Krung Thai Bank

Thailand

22. 185

351

Bank Negara Indonesia

Indonesia
13. 964

392

Bank of East Asia

Hong Kong

12. 037

473

Habib Bank

Pakistan

8. 572

474

Bank of Baroda

India

8. 550

Sumber: KMPG,Top 500 Worldwide Banks 1996, dalam Mohaney, et al. (1998:15)

Offshore Centers

Offshore Centers pada dasarnya merupakan suatu lokasi, biasanya negara atau kota, yang
menawarkan berbagai kemudahan untuk menarik bisnis perbankan internasional. Ciri utama bank
internasional adalah melayani transaksi dengan (Johnson, 1993: 380):

a. Klien domestik yang transaksinya dalam valuta asing

b. Klien asing yang transaksinya didominasi dalam valuta asing maupun mata uang domestik

c. Klien domestik yang transaksinya didominasikan dalam mata uang asing tetapi “dicatat” atau
“dibukukan” di negara lain.

Harus diakui memang London, Tokyo dan New York masih merupakan pasar offshore yang utama
di dunia. Namun ketiga pasar ini bukan merupakan offshore centers. Istilah“offshore centers” biasanya
digunakan untuk lokasi yang memiliki efektivitas-biaya (cost-effective) dimana pasar uang dan modal
relative baru, serta peraturan dan perundangan secara khusus ditujukan untuk menarik perusahaan-
perusahaan keuangan. Contoh offshore centers adalah Bahamas, Cayman Islands, Bahrain, Hong Kong,
Luxembrug, Panama dan Singapura. Beberapa ciri khusus pusat-pusat ini dapat dilihat pada table.
Ciri-ciri Offshore Centers di Karibia

Kemudahan perpajakan

(tax haven provisions)

Bermuda

Bahama

Cayman Islands

Netherland’s Antiles

Tidak ada pajak

Pajak rendah

Terbaik untuk:

Trust

Holding companies

Tidak ada perjanjian pajak

Perjanjian pajak dengan AS

Kerahasiaan bank

Penomoran rekening bank

Bearer shares

Sumber: Johns dalam Johnson (1993: 381)

B. Strategi Internasional Perbankan

Strategi internasional yang dilakukan oleh perbankan umumnya bersifat evolusioner. Tahap
evolusi perbankan internasional, menurut Giddy (1980), adalah:
à Arm’s length international banking

Perpanjangan tangan dari jaringan perbankan internasional terjadi bila bank domestik
meneruskan misi perbankan internasional dari negara asalnya, yaitu menerima deposito dalam valas
dan menyalurkan pinjaman internasional. Langganan utamanya adalah importer, eksportir, turis, dan
bank-bank asing.

à Offshore banking

Dalam tahap ini, bank menerima deposito, menyalurkan pinjaman dan menerima investasi
dariEuro Currency. Contohnya adalah bank-bank di Bahama atau Pulau Cayman atauinternational
banking facilities (IBFs) di USA. Bank jenis offshore aktif dalam membeli dan menyalurkan dana-dana
jangaka pendek, pinjaman sindikasi dan perdagangan valas. Deposan dan kreditur umumnya berada di
negara di luar negeri asal bank tersebut.

à Host country banking (multinational banking)

Pada tahap ini bank menawarkan segala jasa pelayanan di negara lain lewat cabang dari bank
induknya. Bank ini bersaing dengan bank-bank local dalam menarik deposito dan menyalurkan kredit
dalam mata uang local suatu negara.

Perkembangan MEE (Masyarakat Ekonomi Eropa) menjadi Pasar Tunggal Eropa pada awal tahun
1993 terbukti membawa dampak yang signifikan terhadap struktur pasar perbankan di negara-negara
MEE. Single European Act tahun 1985 telah menelorkan apa yang dikenal dengan Single Banking License,
yaitu peraturan yang memperbolehkan bank untuk beroperasi disemua negara anggota MEE tanpa ijin
khusus maupun harus menyuntikan modal bagi cabang-cabangnya.

Negara-negara maju yang tergabung dalam Kelompok Sepuluh (G 10) pada tahun 1998 di
Luxemburg menandatangani persetujuan Basle Accord, yaitu kesepakatan yang menggariskan ketentuan
mengenai permodalan bank secara internasional serta menetapkan standar minimum kecukupan modal.
Permodalan bank dibagi menjadi:

a. modal inti, yang terdiri dari saham milik pemegang saham dan cadangan;

b. modal pelengkap, yang terdiri atas sejumlah surat-surat berharga baik yang berciri utang maupun
equity.

Menurut Basle Accord, kecukupan modal minimum adalah 4% untuk masing-masing kategori
permodalan bank, atau 8% untuk seluruh modal bank, pada akhir tahun 1992.

C. Jenis Perbankan Internasional


1. Bank Koresponden (Correspondent Banks)

Bank koresponden adalah bank yang berlokasi di negara lain dan memberikan jasa kepada bank
lain secara “koresponden”, yaitu lewat fax, telex, surat dan hubungan mutual deposit. Manfaat bagi
kalangan bisnis adalah kemampuan menangani masalah financial di berbagai negara lewat bank local
yang paham betul dengan langganan di negara tersebut. Masalah yang mungkin muncul bila
mengandalkan bank korespoden adalah bank koresponden dapat saja tidak memprioritaskan bank
langganan di luar negeri dan lebih memprioritaskan pada langganan permanen di negerinya.

2. Kantor Perwakilan (Representative Offices)

Kantor perwakilan adalah kantor kecil yang dibuka untuk memberikan jasa konsultasi kepada
bank, langganan, serta bank koresponden. Tujuan suatu bank mendirikan kantor perwakilan di negara
lain terutama untuk membantu langganan bank induk apabila mereka melakukan bisnis di negara
tersebut atau negara tetangga.

3. Kantor Cabang (Branch Banks)

Kantor cabang di luar negeri merupakan bagian operasi dari bank induk dengan dukungan sumber
daya sepenuhnya dari bank induk. Bank semacam ini terkena dua peraturan perbankan. Sebagai bagian
dari bank induk, cabang harus mengikuti peraturan di negara asalnya. Selain itu, cabang juga terkena
peraturan di negara mana dia berada, yang bisa saja mengenakan berbagai pembatasan atas operasi
usahanya.

Manfaat utama menggunakan cabang bank bagi kalangan bisnis adalah bahwa cabang bank tersebut
akan melakukan semua jasa perbankan di bawah nama dan kewajiban hukum dari bank induknya.

4. Banking Subsidiaries

Bank semacam ini merupakan bank yang terpisah namun dimiliki seluruh atau sebagian besar
sahamnya oleh bank induk (asing). Sebagai perusahaan yang terpisah, bank ini wajib tunduk dengan
semua peraturan di negara mana ia berada.

5. Bank Afiliasi (Affiliates)

Bank afiliasi adalah bank yang secara lokal terpisah dan dimiliki sebagian, namun tidak selalu
dikontrol oleh bank asing. Kepemilikan lainnya mungkin saja lokal, ataupun dari bank asing lain.
Keuntungan utama bank afiliasi adalah hubungan patungan antarberbagai kewarganegaraan. Bank ini
menawarkan keahlian dari dua atau lebih pemilik. Bank afiliasi tetap menjaga status sebagai bank lokal
dengan kepemilikan dan manajemen lokal, namun juga terus melanjutkan hubungan permanen dengan
pemilik asing, termasuk kemampuan menyerap keahlia internasional dari pemilik asing. Kerugian
potensial yang mungkin muncul biasanya sama seperti patungan pada umumnya: Beberapa pemilik
tidak setuju terhadap suatu kebijakan.

D. Perbandingan Pelayanan Bank Internasional

ü Sistem Transfer Giro

Kata “giro” berasal dari bahasa Yunani “gyros” , yang berarti lingkaran atau putaran. Sistem giro
adalah jaringan transfer uang, yang biasanya dijalankan oleh kantor pos, yang ditujukan untuk
mempermudah transfer. Rekening giro tidak mendapatkan bunga, perangko gratis, dan biaya transaksi
bisa gratis atau sangat nominal.

ü Menghitung Biaya Bunga

Biaya bunga lokal dapat dihitung dalam berbagai cara. Di Eropa bank cenderung meminjamkan
uang atas dasar overdraft, di mana peminjam menarik uang ”melawan” garis kredit yang telah dilakukan
sebelumnya. Biaya bunga dikenakan pada overdraft balance setiap hari. Peminjam hanya membayar
bunga atas dana yang digunakan.

ü Jasa-jasa yang Ditawarkan

Bank yang beroperasi secara global melayani berbagai macam jasa sebagaimana bank lokal. Bank
internasional biasanya lebih canggih dalam pembiayaan impor dan ekspor serta menangani transaksi
valas, menawarkan bantuan menarik dana, lebih berpengalaman, dan tertarik untuk membantu
pembiayaan industrial dalam jangka menengah dan panjang.

E. Resiko Pinjaman Internasional Kepada Negara Sedang Berkembang

Memperkirakan resiko pinjaman internasional biasanya lebih kompleks dibanding pinjaman


dalam negeri, terutama karena perbankan internasional dilakukan dalam lingkungan hukum, politik,
sosial, dan ekonomi yang berbeda. Pinjaman perbankan bagi NSB (Negara Sedang Berkembang) tumbuh
sangat cepat sejak awal 1980-an. Pada musim panas tahun 1982, pasar-pasar keuangan internasional
digoncang oleh “wabah” berupa tidak mampunya sejumlah NSB membayar utang-utang mereka kepada
sejumlah bank-bank utama. Inilah yang menandai munculnya krisis utang internasional. Akibatnya,
setelah itu pinjaman ke NSB dihentikan secara cepat, setidaknya jauh berkurang dibanding masa
sebelum krisis utang meluas.

Oleh karena itu resiko yang dihadapi oleh pinjaman internasional dapat digolongkan menjadi:

1. Resiko komersial (commercial risk)

Resiko ini terutama berkaitan dengan kemungkinan perkiraan bahwa langganan internasional
tidak mampu membayar utang-utangnya karena alasan bisnis.

2. Resiko negara (country risk)

Resiko ini menunjukan kemungkinan bahwa peristiwa-peristiwa yang tidak diinginkan di suatu
negara akan mempengaruhi kemampuan perusahaan/pemerintah, yang menjadi langganan bank, dalam
melunasi pinjamannya. Resiko negara dibedakan menjadi:

a) Sovereign/political risk, yang muncul karena negara yang bersangkutan menggunakan


kekuasaannya untuk ngemplang utang, atau mungkin melarang perusahaan-perusahaan di negara
tersebut untuk melunasi kewajibannya.

b) Foreign currency risk, yang muncul karena terjadi perubahan yang tidak diharapkan dalam kurs
valas yang pada gilirannya mengubah nilai pembayaran bunga dan pinjaman oleh peminjam
internasional.