Anda di halaman 1dari 32

Nama : andini agustin chamelia

NIM : 1702012389

Kelas : 6B Keperawatan

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Identifikasi Masalah

Masih tingginya Penggunaan Kontrasepsi Implant dengan Siklus Dan

Lama Menstruasi di PMB Harnik Amd.Keb Desa Sumberagung Kecamatan

Modo Kabupaten Lamongan.

1.2 Latar Belakang

Fisilogi alat reproduksi wanita merupakan system yang kompleks.Sebagai

pertanda kematangan alat reproduksi wanita, dapat dilihat dari sudah

teraturnya menstruasi atau haid.Dengan interval 28 sampai 30 hari yang

berlangsung lebih kurang 2 sampai 3 hari disertai dengan ovulasi.Sejak saat

ini wanita memasuki masa reproduksi aktif sampai memasuki atau mencapai

mati haid (Manuaba, 2010).Pada wanita, gangguan menstruasi lebih sering

berupa haid yang tidak teratur, terutama 3 tahun pertama setelah datangnya

menarche, kemudian disusul oleh menorhagia dan dismenorea (Biran A,

2014).

Pola menstruasi merupakan serangkaian proses menstruasi yang meliputi

siklus menstruasi, lama perdarahan menstruasi dan disminorea. Siklus

menstruasi merupakan waktu sejak hari pertama menstruasi sampai datangnya

1
2

menstruasi priode berikutnya.Sedangkan panjang siklus menstruasi adalah

jarak antara tanggal mulainya menstruasi yang lalu dan mulainya menstruasi

berikutnya. Siklus menstruasi pada wanita normalnya berkisar antara 21-35

hari dan hanya 10-15% hari yang memiliki siklus menstruasi 28 hari dengan

lama menstruasi 3-5 hari, ada yang 7-8 hari. Setiap hari ganti pembalut 2-5

kali (Wiknjosastro, 2011).Gangguan pola menstruasi merupakan perpaduan

antara kesehatan alat genetalia dan rangsangan hormonal yang kompleks yang

berasal dari mata rantai aksis hipotalamus - hipofisis – ovarie.Beberapa bentuk

kelainan menstruasi pada masa reproduksi aktif.Kelainan tentang banyak dan

lama perdarahan (hiperminorea/menorogia, hipomenorea). Perdarahan di luar

menstruasi (metroragia), keadaan lain berkaitan dengan menstruasi

(ketegangan pra menstruasi, mastodinia, perdarahan ovulasi/ mittelschmer,

dismenorea) (Manuaba, 2010).

Penelitian Anggia dan Mahmudah (2013) didapatkan hasil gangguan

menstruasi yang dialami responden sebelum pemakaian kontrasepsi, setelah,

dan pada saat ini adalah gangguan pola menstruasi 36,5%, gangguan lama

menstruasi 35,3%, dan gangguan siklus menstruasi 45,9%. Penelitian

Maharani (2010) menunjukkan bahwa keluhan yang dirasakan 73% tidak

teratur siklus menstruasinya dan 27% teratur siklus menstruasinya.Amenorea

terjadi pada 30-40% wanita pada akhir tahun pertama pemakaian; perdarahan

tidak teratur terjadi pada sekitar 50% wanita pada pengguna kontrasepsi >1

tahun. penelitian Siswati (2009) didapatkan data sebagian besar responden

mengalami kejadian amenorrhea 54,3%, hal ini dikarenakan pengaruh dari


3

hormon estrogen dan progesteron yang ada di dalam KB hormonal tersebut

sehingga kebanyakan responden mengalami amenorrhea.

Hormone progesterone dapat mempengaruhi panjang dan pendeknya

siklus menstruasi, siklus menstruasi sangat dipengaruhi oleh hormon wanita

yaitu ekstrogen dan progesterone, kedua hormone bersifat fluktuatif (dapat

berubah-ubah), sedikit saja terjadi perubahahan keseimbangan kedua hormone

tersebut maka dapat terjadi ketidakteraturan siklus menstruasi yang berupa

lebih panjang, lebih pendek, jumlah sedikit, jumlah banyak (Baziad, 2014).

Menurut data Kemenkes RI di pada tahun 2016 di ketahui bahwa,

wanita yang mengalami gangguan pola menstruasi tidak normal sebanyak

(61,8%). Sedangkan yang mengalami menstruasi normal sebanyak (38,2%).

Berdasarkan survey awal yang dilakukan pada bulan oktober 2018 di PMB

Harnik, Amd.Keb di Desa Sumberagung Kecamatan Modo Kabupaten

Lamongan, dari 10 responden tersebut yang mengalami gangguan pola

menstruasi sebanyak 8 orang (80%) mengalami ketidakteraturan siklus

menstruasi dan sebanyak 2 orang (20%) yang siklus menstruasi teratur. 80%

tersebut mengalami gangguan menstruasi di antaranya adalah aminorhe,

perdarahan bercak (spotting), hiprmenorea, oligomenorea, Dari data tersebut

dapat diketahui bahwa masih tinggi responden yang mengalami gangguan

pola menstruasi yang tidak teratur.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi gangguan pola menstruasi selain

faktor hormonal yang sudah di jelaskan di atas, faktor lain di antaranya adalah

psikis, emosi, gizi, usia, stress, penyakit ginekologi, jenis kontrasepsi, dan
4

lama penggunaan kontrasepsi (Hestiantoro 2012). Salah satu kontrasepsi yang

dapat mempengaruhi pola menstruasi adalah kontrasepsi implant.Implant

dapat berpengaruh terhadap menstruasi karena adanya hormone progesterone

yang terkandung didalamnya. Progesterone bekerja dengan cara membuat

lendir servik lebih kental, sehingga penetrasi dan transportasi sperma menjadi

sulit, menghambat kapasitas sperma, perjalanan ovum dalam tuba, implantasi

dan menghambat ovulasi melalui fungsi hipotalamus-hipofisis –ovarium (Arif

Manjoer, 2011). Sejumlah pola haid akan terjadi pada tahun pertama

penggunaan, kira-kira 80% pengguna. Perubahan tersebut meliputi interval

antar perdarahan, durasi dan volume aliran darah, serta spotting (bercak-

bercak perdarahan).Oligomenore dan amenore juga terjadi.Tetapi tidak sering.

Kurang dari 10% setelah tahun pertama.Perdarahan teratur dan memanjang

biasanya terjadi pada tahun pertama.Walaupun terjadi jauh lebih jarang setelah

tahun kedua, masalah perdarahan dapat terjadi pada waktu

kapanpun(Hartanto, 2010). Dalam pengguna jangka panjangimplan dapat

menimbulkan kekeringan pada vagina, gangguan emosi, nevorsitas dan

jerawat (Everett, 2010).

Dampak dari hormone progesterone dapat mempengaruhi panjang dan

pendeknya siklus menstruasi. Selain disebabkan oleh hormone bisa juga

kondisi psikis dari penggunaan KB implant juga dapat mempengaruhi pola

menstruasi (Arif Manjoer, 2011).

Implant juga mempunyai keuntungan yaitu Perlindungan jangka panjang

selama 5 tahun, pengembalian tingkat kesuburan secara cepat setelah


5

pencabutan, mengurangi nyeri haid dan melindungi terjadinya kanker

endometrium, dapat di cabut setiap saat sesuai dengan kebutuhan, tidak

memerlukan pemeriksaan dalam (Sulistyawati, 2013). Namun demikian

Implant juga mempunyai kerugian atau kekurangan yang dapat timbul dari

kontrasepsi implant yaitu salah satu nya adalah sering timbul perubahan pola

menstruasi yang tidak teratur dapat terjadi perdarahan bercak atau terus-

menerus pada 6-9 bulan pertama dari pengguna implant, perdarahan yang

lama selama beberapa bulan pertama pemakaian, perdarahan atau bercak

perdarahan di antara siklus haid, lamanya perdarahan, tidak mengalami

perdarahan atau bercak perdarahan sama sekali selama beberapa bulan

(amenorea). Efek samping yang paling utama dari Implant adalah perubahan

pola menstruasi yang terjadi pada hampir 60 persen akseptor dalam tahun

pertama setelah insersi pemasangan(Hartanto, 2010).

Upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisir efek samping pada

penggunaan KB implant terutama pada gangguan pola

menstruasi maka diperlukan berbagai macam upaya di antaranya adalah

aseptor KB agar sering kontrol pada petugas kesehatan setiap waktu yang

diinginkan. Guna memperoleh konseling maupun pemeriksaan secara intensif

tentang alat kontrasepsi sehingga program pemerintah tentang KB dapat

berjalan dengan baik. Selain itu pengetahuan yang baik tentang alat

kontrasepsi perlu di tingkatkan sehingga dapat memberikan pemahaman bagi

aseptor KB sehingga adanya keluhan dari pemakaian aseptor KB implant

dapat sedikit berkurang.


6

Berdasarkan uraian di atas maka dari itu peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian tentang Hubungan Lama Penggunaan Implant Dengan Terjadinya

Siklus dan Lama Menstruasi di PMB Harnik Amd.Keb Desa Sumberagung

Kecamatan Modo Kabupaten Lamongan.

1.3 Rumusan masalah

Apakah ada Hubungan Antara Lama Penggunaan Kontrasepsi

Implant dengan Siklus Dan Lama Menstruasi di PMB Harnik Amd.Keb

Desa Sumberagung Kecamatan Modo Kabupaten Lamongan?

1.4 Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Menjelaskan Hubungan Lama Penggunaan Kontrasepsi Implant dengan

Terjadinya Siklus Dan Lama Menstruasi di PMB Kirang Naning Amd.Keb Desa

Kedali Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan?

2. Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi lama penggunaan kontrasepsi implant di

PMB Harnik Amd.Keb Desa Sumberagung Kecamatan Modo

Kabupaten Lamongan.

2. Mengidentifikasi siklus menstruasi di PMB Harnik Amd.Keb

Desa Sumberagung Kecamatan Modo Kabupaten Lamongan.

3. Mengidentifikasi lama menstruasi di PMB Harnik Amd.Keb

Desa Sumberagung Kecamatan Modo Kabupaten Lamongan.

4. Menganalisis lama penggunaan kontrasepsi implant dengan


siklus
7

menstruasi di PMB Harnik Amd.Keb Desa Sumberagung

1.5 Identifikasi Variabel

1. Pengertian Variabel

Variabel merupakan bagian penelitian dengan cara membentuk variabel-variabel

yang ada dalam penelitian seperti variabel independent, dependent, moderator,

kontrol dan intervening (Aziz Alimul, 2011). Dalam riset, variabel

dikarakteristikan sebagai derajat jumlah dan perbedaan. Variabel dalam penelitian

ini menggunakan dua variabel, yaitu:

1. Variabel Idependent (Bebas)

Variabel idependent adalah variabel yang nilainya menentukan variabel lain.

Suatu kegiatan stimulus yang dimanipulasi oleh peneliti menciptakan suatu

dampak pada variabel dependent

(Nursalam, 2010).Variabel independent dalam penelitian ini adalah lama

pengunaan implant.

2. Variabel Dependent (Tergantung)

Variabel dependent adalah variabel yang nilainya ditentukan oleh variabel lain.

Variabel repons akan muncul sebagai akibat dari manipulasi variabel lain

(Nursalam,2010). Variabeldependent dalam penelitian ini adalah pola menstruasi

yang terdiri dari lama menstruasi dan siklus menstruasi.

2. Definisial Operasional varibel


8

Definisi operasional variabel adalah variabel yang telah didefinisikan perlu

dijelaskan secara operasional, sebab setiap istilah (variabel) dapat diartikan secara

berbeda-beda oleh orang yang berlainan. Penelitian a dalah proses komunikasi dan

komunikasi memerlukan akurasi bahasa agar tidak menimbulkan perbedan

pengertian antar orang dan orang lain dapat mengulangi penelitian tersebut. Jadi

definisi operasional dirumuskan untuk kepentingan akurasi, komunikasi

(Nursalam, 2010 ).

Konsep Dasar

1. Pengertian Kontrasepsi implant

Menurut Baziad, (2011). Implant merupakan metode kontrasepsi hormonal

yang efektif, tidak permanen dan dapat mencegah terjadinya kehamilan antara tiga

hingga lima tahun. Metode ini dikembangkan oleh The Population Council, yaitu

suatu organisasi internasional yang didirikan pada tahun 1952 untuk

mengembangkan teknologi kontrasepsi.

Implant adalah alat kontrasepsi yang berbentuk batang dengan panjang

sekitar 4 cm yang didalamnya terdapat hormone progesterone, implant ini

kemudian dimasukkan ke dalam kulit lengan atas. Hormone tersebut kemudian di

lepas secara perlahan dan implant ini dapat efektif sebagai alat kontrasepsi selama

3 tahun (Margaret A, 2015).

Implant adalah suatu kotrasepsi yang mengandung levonogestrel yang di

bungkus dalam kapsul silasic-silicone (polydimethylsiloxane) dan dimasukan di

bawah kulit (Sarwono Prawidharjo, 2012).


9

Implant adalah metode kontrasepsi yang hanya mengandung progestin

dengan masa kerja panjang, dosis rendah, reversible untuk wanita (Speroff

Leon,2013).

2.1.1 Lama penggunaan KB Implant

Lama adalah proses waktu yang panjang, dan periode waktu yang

melampaui batas.

Menurut Hartanto (2010) lama kerja dari kontrasepsi implant tergantung

dari jenis implant yang digunakan yaitu norplant dengan jangka waktu lima tahun,

implanon dengan jangka waktu tiga tahun, jadena dan indoplant dengan jangka

waktu pemasangan tiga tahun.

Sejumlah pola haid akan terjadi pada tahun kedua penggunaan, kira-kira

80% pengguna. Perubahan tersebut meliputi interval antar perdarahan, durasi dan

volume aliran darah, pola menstruasi serta spotting (bercak-bercak

perdarahan).Oligomenore dan amenore juga terjadi.Tetapi tidak sering.Kurang

dari 10% setelah tahun pertama.Perdarahan teratur dan memanjang biasanya

terjadi pada tahun pertama. masalah perdarahan dapat terjadi pada waktu

kapanpun.

Dari hasil penelitian dari lama pemakaian KB Implan > 1 tahun banyak yang

mengalami spotting yang dikategorikan selalu, sering dan jarang.Ini membuktikan

bahwa hormon dalam tubuh Sangat mempengaruhi gangguan menstruasi. Kadar

FSH yang tinggi dapat mengakibatkan terjadinya stimulasi ovarium yang

berlebihan (hiperstimulasi) sehingga dijumpai kadar estrogen yang sangat

tinggi.Pada pemakaian yang sudah lebih dari 1 tahun ini terjadi karena
10

ketidakseimbangan hormon sehingga endometrium mengalami histologi.Dan yang

tidak mengalami spotting ini dikarenakan hormon dalam tubuh seimbang

sehingga endometrium tidak histologi.Dari hasil penelitian mayoritas akseptor KB

implanyang lebih dari 1 tahun siklus menstruasinya tidak teratur.Hal ini sesuai

dengan teori yang menyatakan bahwa pada tahun kedua setelah pemakaian ini

terjadi karena ketidakseimbangan hormon sehingga endometrium mengalami

histologi, pemakaian KB Implan menyebabkan siklus haid tidak teratur.Dalam

pengguna jangka panjangimplant juga dapat menimbulkan kekeringan pada

vagina, gangguan emosi, nevorsitas dan jerawat (Hartanto, 2010).

Menurut Everett (2012)Dalam pengguna jangka panjangimplan dapat

menimbulkan kekeringan pada vagina, gangguan emosi, nevorsitas dan jerawat.

Sedangkan akseptor KB baru atau kurang dari 1 tahun mayoritas siklus

menstruasi teratur dikarenakan hormon dalam tubuh seimbang sehingga

endometrium tidak histologi. Sedangkan akseptor KB Implan lama yang siklus

menstruasinya tidakteratur dikarenakan kadar FSH yang tinggi dapat

mengakibatkan terjadinya stimulasi ovarium yang berlebihan (hiperstimulasi)

sehingga dijumpai kadar estrogen yang sangat tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa

hormon dalam tubuh sangat mempengaruhi gangguan menstruasi.

2.1.2 Jenis KB Implant

Jenis KB implant Menurut Affandi B, (2014) adalah:

1) Norplant terdiri dari 6 kapsul yang secara total bermuata 216 mg levorgestrel.

Panjang kapsul adalah 3,4 cm dengan diameter 2,4 mm. Kapsul terbuatdari

bahan silastik metodik (polydimethylsiloxane) yang fleksibel dimana dua


11

ujungnya ditutup dengan penyumbat senentik yang tidak mengganggu

kesehatan klien. Setelah penggunaan 5 tahun, ternyata masih tersimpann

sekitar 5% bahan aktif levonorgestrel asal yang belum distribusi kejaringan

instertisial dan sirkulasi Enam Kapsul Norplant dipasang menurut konligurasi

kipas dilapisan subdernal lengan atas.

2) Inplanon (Organon, Oss,Nethelands) adalah kontrasepsi subdermal kapsul

tunggal yang mengandung etonogestrel (3-ketodesogestrel), dengan panjang

kira kira 40mm, dan diameter 2mm. Implanon dirancang khusus untuk

insibisi ovulasi selama masa penggunaan. Karena ovulasi pertama dan

inteinisasi terjadi pada paruh kedua tahun ketiga penggunaanmaka Implanon

hanya direkomendasiakan untuk 3 tahun penggunaan walaupan ada

peneliatian yang menyatakan masa aktifnya dapat mencapai 4 tahun. Dengn

tidak terjadinya kehamilan selama penggunaan pada 70.00 siklus perempuan

maka Implanon dikategorikan sebagai alat kontrasepsi paling efektif dari

yang pernah di buat selama ini.

3) Jadena dan Indoplant

Studi pengembangan implant levonorgestrel dua kapsul (implant) telah

dilakukan sejak 20 tahun yang lalu. Setelah penggunaannya disetujui oleh badan

pengawasan obat inter nasional, implant digunakan di banyak Negara (Eropa,

Asia dan Afrika). Implan Eropa dikenakan sebagai Implan dan kemudian

dipasarkan dengan nama dagang jedelle (Scherling,Berlin). Jadena adalah suatu

kontrasepsi hormonal yang melindungi pemakaian selama 3 tahun.Terdiri dari 2

batang yang diisi dengan 75 mg levorgestrel.


12

2.1.3 Mekanisme Kerja Implant

Implan mencegah terjadinnya kehamilan melalui berbagai cara. Seperti

kontrasepsi progrestin pada umumnya, mekanisme utamanya adalah menebalkan

mucus serviks sehingga tidak dapat dilewati oleh sperma. Walaupun pada

konsentrasi yang rendah akan menimbulkan pengentalan mukus serviks.

Perubahan terjadi segera setelah pasangan implant.Progrestin juga menekan

pengeluaran Follicle Stimulation Hormone(FSH) dan Lutenizing Hormone (LH)

dari hipotalamus.Penggunaan progrestin jangka panjang, juga menjadi penyebab

terjadinya pendarahan ireguler. Hal ini yang barudalam implant ialah cara

pengeluaran hormone levogenestrel di dalam tubuh, yang terjadi secara terus-

menerus dan stabil selama 3 – 5 tahun. Metode Kontrasepsi subdermal ini setara

dengan 1095-1460 pil progestin yang harus diminum tiap hari.

2.1.4 Efektifitas KB Implant

Implant merupakan salah satu kontrasepsi efektif yang pernah dibuat.

Angka kehamilan pada tahun pertama hanya 0,2 per 100 perempuan dan angka

kumulatif pada tahun kelima hanya 1,6. Tidak ada metode kontrasepsi lain yang

secara efektif kontrasepsi subdermal levonorgestrel atau etonogestrel.

2.1.5 Keuntunggan KB Implant

Menurut Affandi B, (2014). Keuntunggan KB implant adalah daya guna

tinggi, perlindungan jangka panjang (sampai 3 tahun dan 5 tahun), pengambilan

tingkat kesuburan yang cepat setelah pencabutan, tidak memerlukan pemeriksaan

dalam, bebas dari pengaruh ekstrogen, tidak mengganggu kegiatan senggama,

tidak mengganggu ASI, tanpa memandang umur ataupun paritas (perempuan


13

muda yang belum pernah hamil dapat aman memakai metode ini). klien hanya

perlu kembali ke petugas kesehatan bila ada keluhan, dapat di cabut setiap saat

sesuai kebutuhan.

2.1.6 Keuntungan Non Kontrasepsi

Menurut Affandi B, (2014). Keuntunggan Nonkontrasepsi KB implant

adalah mengurangi nyeri haid, mengurangi jumlah darah haid, mengurangi atau

memperbaiki anemia, melindungi terjadinya kanker endometrium, menurunkan

angka kejadian kelainan jinak payudara, melindungi diri dari beberapa penyebab

penyakit radang panggul, menurunkan angka kejadian endometriosis.

2.1.7 Efek Samping KB Implant

Pemakaian klinik pada lebih dari 4 juta perempuan di 30 negara (termasuk

dari 1 juta di AS) menunjukkan bahwa tingkat ditoleransi dari sebagaian besar

perempuan terhadap Implan adalah sangat tinggi. Keuntungan utama dari implant

adalah tidak mengandung estrogen yang menyebabkan berbagai efek samping

pada pemakaian pil kontrasepsi. Efek Samping yang paling sering terjadi pada

pemakaian implan adalah perubahan pola perdarahanhaid. Dapat terjadi

pendarahan bercak terus-menerus pada 6 – 9 bulan pertama dari penggunaan

implant, efek samping KB tersebut adalah:

1) Gangguan Menstruasi

(1) Efek samping paling utama dari implant adalah gangguan menstruasi , yang

terjadi kira-kira 60% akseptor dalam tahun pertama setelah insersi.

(2) Yang paling sering terjadi adalah : bertambahnya hari-hari perdarahan dalam

1 siklus, perdarahan bercak (spoting), berkurangnya panjang siklus, amenorea


14

meskipun lebih jarang terjadi dibandingkan perdarahan lama atau perdarahan

bercak.

(3) Pada sebagian akseptor, perdarahan ireguler akan berkurang dengan jalannya

waktu.

(4) Perdarahan yang hebat jarang terjadi.

Terjadinya menstruasi merupakan perubahan hormone yang dapat

menghalangi pengeluaran LH sehingga tidak terjadi ovulasi, mengentalkan lendir

servik dan menghalangi migrasi migrasi spermatozoa dan menyebabkan situasi

endometrium tidak siap menjadi tempat nidasi.Oleh karena itu gangguan

menstruasi dapat terjadi dari kelainan faktor tersebut.2) Berat badan bertambah,3)

Perubahan perasaan (mood) atau kegelisahan (nervousness), 4) Jerawat, 5)

Menimbulka akne, keteganggan payudara, 6) Liang senggama terasa kering,7)

Sakit kepala, 8) Depresi, 9) Lain-lain (mual,perubahan selera makan, payudarah

lembek,bertambahnya rambut di badan atau muka dan jerawat).

2.1.8 Waktu Pemakaian KB Implant

Menurut Affandi B, (2014), waktu pemakaian KB implant adalah:

1) Setiap saat selama siklus haid hari ke-2 sampai ke-7. Tidak memerlukan

metode kontrasepsi tambahan.

2) Insersi dapat dilkukan setiap saat, asal saja diyakini tidak terjadi kehamilan.

Bila di insersi setelah hari ke-7 siklus haid, klien tidak diperbolehkan

melakukan seksul, atau menggunakan metode kontrasepsi lain untuk 7 hari

saja.
15

3) Bila klien tidak haid, insersi dapat dilakukan setiap saat, asl saja diyakini

tidak terjadi kehamilan, jangan melakukan hubungan seksual atau gunakan

metode kontrasepsi lain untuk 7 hari.

4) Bila menyusui antara 6 minggu sampai 6 bulan pasca persalinan, insersi dapat

dilakukan setiap saat. Bila menyusui penuh, klien tidak perlu memakai

metode kontrasepsi lain.

5) Bila setelah 6 minggu melahirkan dan telah terjadi haid kembali, insersi dapat

dilakukan setiap saat, tetapi jangan melakukan hubungan seksual selama 7

hari saja.

6) Bila klien menggunakan kontrasepsi hormonal dan ingin menggantinya

dengan implant, insersi dapat dilakukan setiap saat asal saja diyakini klien

tersebut tidak hamil, atau klien menggunakan kontrasepsi terdahulu dengan

benar.

7) Bila kontrasepsi sebelumnya adalah kontrasepsi suntikan, implant dapat

diberikan pada saat jadwal kontrasepsi suntikan tersebut. Tidak diperlukan

metode kontrasepsi lain.

8) Bila kontrasepsi sebelumnya adalah kontrasepsi non hormonal (kecuali

AKDR) dank lien ingin menggantinya dengan implant, insersi implant dapat

dilakukan setiap saat, asal saja diyakini klien tidak hamil. Tidak perlu

mengganggu sampai datangnya haid berikutnya.

9) Bila kontrasepsi sebelumnya adalah AKDR dan klien ingin menggantinya

dengan implant, norplant dapat diinsersikan pada saat haid hari ke -7 dan
16

klien jangan melakukan hubungan seksual selama 7 hari atau gunakan metode

kontrasepsi lain untuk 7 hari saja. AKDR segera dicabut.

10) Pasca keguguran implant dapat segera diinsersikan

2.1.9 Indikasi Pemakaian Implant

Indikasi pemakaian implant Menurut Affandi B, (2014) adalah:

1) Usia reproduksi, 2) Telah memiliki aak ataupun yang belum, 3) Menghendaki

kontrasepsi yang memiliki efektivitas tinggi dan menghendaki pencegahan

kehamilan jangka panjang, 4) Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi, 5) Pasca

persalinan dan tidak menyusui, 6) Pasca keguguran, 7) Tidak mengginginkan anak

lagi, tetapi menolak untuk sterilisasi, 8) Riwayat kehamilan ektropik, 9) Tekanan

darah < 180/110 mmHg, dengan masalah pembekuan darah, atau anemia bulan

sabit (sickle cell), 10) Tidak boleh menggunakan kontrasepsi hormonal yang

menggandung ekstrogen, 11) Sering lupa menggunakan pil.

2.1.10 Kontraindikasi Pemakaian Implant

Kontraindikasi pemakaian implant Menurut Affandi B, (2014) adalah:

1) Hamil atau di duga hamil, 2) Perdarahan per vagina yang belum jelas

penyebabnya, 3) Benjolan/ kanker payudara atau riwayat kanker payudara, 4)

Tidak dapat menerima perubahan pola haid yang terjadi, 5) Miom uterus dan

kanker payudara, 6) Gangguan toleransi glukosa.

2.1.11 Teknik Insersi/ Pemasangan KB Implant

Pemasangan dilakukan pada bagian dalam lengan atas atau bawah, kira-

kira 6-8 cm di atas atau di bawah siku melalui insersi tunggal, dalam bentuk kipas

dan masukan tepat di bawah kulit (Hanafi Hartanto, 2010).


17

Menurut Sarwono Prawirohardjo (2012) sebelum teknik insersi KB

implant dilakukan maka harus dipersiapkan misalnya: kontrasepsi implant yang

terdiri dari enam kapsul silastik dengan panjang masing-masing 34 cm dan lebar

2,4 mm serta lebih kurang 36 mg levorgestrel, sabun antiseptic, kasa steril, cairan

antiseptik, kain steril, sebuah trokar, sepasang sarung tangan steril, satu set kapsul

implant (6 buah), sebuah skapel dengan ujung yang tajm.

Menurut Hanafi Hartanto (2010) teknik pemasangan implant yaitu:

1) Cuci daerah insersi, lakukan tindakan antiseptik dan tutup daerah sekitar

insersi dengan kain steril.

2) Lakukan anestesi lokal (lidocain 1%)pada daerah insersi, mula mula lakukan

suntikan anastesi pada daerah insersi, kemudian anestesi diperluas sampai

keenam atau kedua daerah sepanjang 4-4,4 cm.

3) Daerah pisau skapel di buat inisiasi 2mm sejajar dengan lengkung siku.

4) Masukkan ujung trokal melalui insisi, terdapat dua garis tanda batas pada

trokal, satu dekat dengan ujung trokal, lainya dekat pangkal trokal, kurang

lebih 4-4,5 cm, trokal dimasukkan sambil melakukan tekanan di atas dan

tanpa merubah sudut pemasukan.

5) Masukkan implant ke dalam trokalnya. Dengan batang pendorong setiap

stasioner, trokal perlahan-lahan di tarik kembali sampai garis batas dekat

ujung trokal terlihat pad insiasi dan terasa implantnya “meloncat keluar” dari

trokarnya. Jangan di keluarkan trokarnya, raba lengan dengan jari untuk

memastikan implantnya sudah berada pada tempatnya dengan baik.


18

6) Ubah arah trokal sehingga implant berikutnya berada 15º dari implant

sebelumnya. Letakkan jari tangan pada implant sebelumnya. Masukan

kembali trokal sepanjang pinggir jari tengah sampai ke garis batas dekat

pangkal trokal, selanjutnya sampai pada batang kelima, ulangi prosedur

tersebut sampai implant dipasang.

7) Setelah semua implant terpasang lakukan penekanan pada tempat luka insisi

dengan kassa steril untuk mengurangi perdarahan lalu kedua pinggir insisi di

tekan sampai berdekatan dan di tutup dengan plaster.

8) Luka insisi di tutup menggunakan plester kemudian lengan dibalut dengan

kasa steril untuk mencegah perdarahan. Daerah insisi dibiarkan kering dan

tetap bersih selama 3 hari.

2.1.12 Teknik Pencabutan KB Implant

Alat yang diperlukan sam dengan alat-alat insisi, hanya ditambah dengan

dua pasang forceps, satu model lurus dan satu model bengkok. Teknik pencabutan

KB Implant menurut Saiffudin (2009) yaitu:

1) Tentukan lokasi inisasi yang mempunyai jarak sama dari ujung bawah semua

kapsul (dekat siku) kira-kira 5 cm dari ujung bawah kapsul. bila jarak

tersebut sama, maka insisi di buat ada tempat waktu pemasangan. Sebelum

menentukan lokasi patiskan tidak ada ujung kapsul yang berada di bawah

insisi lama (hal ini memncegah terpotongnya kapsul pada saat insisi).

2) Pada lokasi yang sudah dipilih, buat insisi melintang yang kecil lebih kurang

4 cm dengan menggunakan skapel, jangan membuat insisi yang benar.


19

3) Mulai dengan mencabut kapsul yang mudah diraba dari luar atau yang

terdekat dengan tempat insisi.

4) Dorong ujung kapsul kearah insisi dengan jari tangan sampai ujung kapsul

tambak pada luka insisi. Masukkan klem lengkung (mosquito atau crile)

dengan kelengkingan jepitan mengarah keatas, kemudian jepit ujung kapsul

dengan klem tersebut.

5) Masukkan klem lengkung melalui luka insisi dengan lengkungan jepitan

mengarah kea arah kulit sampai berada dibawah ujung kapsul dekat siku.

Buka dan tutup jepitan klem untuk memotong secra tumpul jaringan parut

yang megelilinginya.

6) Dorong ujung kapsul pertama sedekat mungkin pada luka insisi, sambil

menekan (fikasasi) kapsul dengan jari tengah. Masukkan lagi klem lengkung

(lengkungan jepit ke kulit) sampai berada dibawah ujung kapsul didekat

ujungnya (5-10 cm) dan secara hati-hati tarik keluar melalui luka insisi.

7) Bersihkan dan buka jringn ikat yang mengelilingi kapsul dengan cara

menggosok-goso kain steril untuk memaparkan ujung bawah kapsul. Cara

lain bila jaringan ikat dibuka dengan cara menggosok-gosok pakai kain steril,

dapat dengan menggunakan skapel secara hati-hati untuk mencegah

terpotongan kapsul, gunakan sisi yang tajam dari skapel waku membersihkan

jarinagn yang mengelilingi kapsul.

8) Jepit kapsul yang sudah terpapar dengan menggunakan klem kedua, lepas

klem pertama, dan cabut secara perlahan-lahan, dan hati-hati dengan klem

kedua. Kapsul akan mudah dicabut karena jaringan ikat yang mengelilinginya
20

tidak melekat pada kawat silicon. Bila kapsul sulit dicabut pisahkan secara

hati-hati sisa jaringan ikat yang melekat pada kapsul dengan menggunakan

kasa dan skapel.

9) Pilih kapsul berikutnya yang tampak paling mudah dicabut, gunakan teknik

yang sama untuk mencabut kapsul berikutnya. Sebelum mengakhiri tindakan,

hitung untuk memastikan keenam kapsul sudah dicabut, tunjukkan keenam

kapsul kepada klien, hal ini sangat penting untuk menyakinkan klien.

2.1.13 Metode Pencabutan KB Implant Teknik “U”

Menurut Affandi B, (2014). Klien yang dipakai mencabut kapsul pada

teknik “U”, merupakan modifikasi klien yang digunakan untuk vasektomita tanpa

pisau dengan diameter ujung klem diperkecil dari 3,5 menjadi 2,2 mm.

Untuk menggunakan teknik, ini raba tempat pencabutan secara hati-hati

untuk menentukan dan menandai kapsul. Selanjutnya cuci tangan dengan pakai

sarung tangan steril atau DTT. Usap lengan dengan larutan antiseptic dan suntikan

obat anastesi lokal seperti yang telah diuraikan sebelumnya (persiapan tindakan

sebelum pencabutan).

1) Tentukan lokasi insisi pada kulit diantara kapsul 3 dan 4 lebih kurang. 5 mm

dari ujung kapsul dekat siku.

2) Buat insisi kecil (4 mm) memanjang sejajar di antara sumbu panjang kapsul

dengan menggunakan skalpel.

3) Masukkan ujung klem pemegang implant Norplant secara hati-hati melalui

luka insisi (dengan tektik ini tidak perlu memisahkan jaringan secara tumpul

seperti pada metode standart).


21

4) Fiksasui kapsul yang letaknya paling dekat luka insisi dengan jari telunjuk

sejajar panjang kapsul.

5) Masukkan klem lebih dalam sampai ujungnya menyentuh kapsul, buka klem

dan jepit dengan sudut yang tepat pada pada sumbu yang panjang kapsul

labih kurang 5 mm diatas ujung bawah kapsul. Setelah kapsul terjepit, tarik

ke atrah insisi (1) dan balikkan pegangan klem 180º ke arah bahu pasien (2)

untuk memaparkan ujung bawah kapsul.

6) Bersihkan kapsul dari jaringan ikat yang mengelilinginya dengan

menggosok-gosok menggunakan kasa steril untuk memaparkan ujung bawah

kapsul sehingga mudah dicabut. Bila tidak bisa dengan kasa, boleh

menggunkan skapel.

7) Gunakan klem lengkung (mosquito dan crile)untuk menjepit kapsul yang

sudah terpapar. Lepaskan klem pemegang Norplant dan kapsul dengan pelan-

pelan dari hati-hati. Taru kapsul yang telah dicabut dalam mangkok kecill

yang berisi 0,5% untuk dekontaminasi sebelum dibuang. Kapsul akan keluar

dengan mudah kerena jarinagn ikat tidak melekat pada kapsul. Bila kapsul

tidak bisa keluar dengan mudah, bersihkan kembali jaringan ikat yang

mengelilinginya dengan dengan menggosok-gosok menggunakan kasa atau

sisi yang tidak tajam dari skapel.

8) Pencabutan kapsul berikutnya adalah yang tampak paling mudah dicabut

guna teknik yang sama untuk mencabut kapsul berikutnya.


22

2.2 Konsep Dasar Pola Menstruasi

2.2.1 Pengertian Pola Menstruasi

Menstruasi adalah suatu keadaan fisiologis yang di alami oleh wanita yang

tidak hamil stiap bulan secara teratur dimana darah keluar dari alat kandungannya

(Rustam Mochtar, 2010).Menurut Hamilton (2009) menstruasi merupakan

pengeluaran cairan darah dari uterus yang disebabkan oleh rontoknya

endometrium dengan siklus 28 hari.

Pola menstruasi adalah serangkaian proses menstruasi yang meliputi siklus

menstruasi, lama perdarahan menstruasi dan dismenorea. Siklus menstruasi

merupakan waktu sejak hari pertama menstruasi sampai datangnya menstruasi

periode berikutnya.Sedangkan panjang siklus menstruasi adalah jarak antara

tanggal mulainya menstruasi yang lalu dan mulainya menstruasi berikutnya.

Siklus menstruasi pada wanita normalnya berkisar antara 21-35 hari dan hanya

10-15% yang memiliki siklus menstruasi 28 hari dengan lama menstruasi 3-5 hari,

ada yang 7-8 hari. Setiap hari ganti pembalut 2-5 kali. Panjangnya siklus ini

dipengaruhi oleh usia, berat badan, aktivitas fisik, tingkat stress, genetic dan gizi

(Wiknjosastro,2011).

2.2.2 Proses Menstruasi

Siklus menstruasi rata rata berlangsung selama 28 hari dengan rentang

normal dari 21 hari sampai 35 hari.Hari pertama siklus, hari pertama menstruasi,

merupakan awal terlepasnya endometrium. Pada paruh pertama siklus (fase

folikuler), Follicle Stimulating Hormon (FSH) dari kelenjar hipofisis bekerja

langsung pada ovarium untuk merangsang perkembangan sampai 30 folikel Graff,


23

dan hanya satu yang akan matang dengan baik untuk mengeluarkan ovum. Folikel

yang akan berkembang ini menghasilkan ekstrogen yang menyebabkan

endometrium berpoliferasi sebagai persiapan implantasi ovum yang sudah

dibuahi. Peningkatan konsentrasi ekstrogen merangsang lonjakan pelepasan

Leutenezing Hormon(LH) dari hipofisis ke pertengahan siklus.Leutenezing

Hormon(LHbekerja pada ovarium untuk merangsang pelepasan

ovum(ovulasi).Pada paruh kedua siklus (fase luteal), sel-sel dari folikel ovarium

yang telah repture mengubah karakteristik mereka untuk membentuk korpus

luteum yang mensekresi progesterone.Konsentrasi progesterone mencapai puncak

sekitar 7 hari setelah ovulasi (pertengahan fase luteal).Progesterone bekerja pada

uterus untuk merangsang perkembangan endometrium fase sekresi, suatu efek

yang esensial bagi keberhasilan implantasi.

Apabila ovum tidak dibuahi, maka konsentrasi ekstrogen dan progesterone

menurun, endometrium tidak lagi dapat dipertahankan sehingga terjadi menstruasi

(Anna Glasier, 2010).

2.2.3 Fase Dalam Menstruasi

Menurut Affandi B, (2014). Fase dalam siklus menstrusi dibagi dalam satu

siklus menstruasi dibagi dalam beberapa fase diantranya:

1) Fase Menstruasi atau Deskuamasi

Pada masa ini endometrium dilapas dari dinding uterus disertai perdarahan

yang langsung selama 3-5 hari.


24

2) Fase Internentruasi atau Proliferasi

Setelah luka sembuh, akan terjadi penebalan pada endometrium ± 3,5 mm.

fase ini berlangsung dari hari ke-5 sampai ke-14 dari siklus menstruasi. Fase

proliferasi dibagi menjadi 5 tahap, yaitu : fase proliferasi dini, terjadi pada hari ke-

4 sampai hari ke-7, fase ini dapat dikenali dari epitel permukaan yang tipis dan

adanya regenerasi epitel. Fase plorifirasi madya, terjadi pada hari ke-8 sampai ke-

10.Fase ini merupakan bentuk transisi dan dapat dikenali dari permukaan yang

berbentuk torak yang tinggi.Fase prolifersi akhir, berlangsung antra hari ke-11

sampai ke-14.Fase ini dapat dikenali dari permukaan yang tidak rata dan di jumpai

banyaknya mitosis.

3) Fase Sekresi

Pada fase ini endometrium mulai bersekresi dan mengeluarkan getah karena

pengaruh hormone progesteron yang dikeluarkan dari corpus luteum.Berlangsung

selama 14-27 hari.

4) Fase Iskemik

Berlagsung selama 27-28 hari.Bila sel telur tidak dubuahi terjadi degenerasi

progesterone, corpus luteum menurun sehingga menjadi vasokontriksi pada

pembuluh darah dan endometrium menjadi mengkerut.

2.2.4 Yang Mempengaruhi Pola Menstruasi

1.Ketidakseimbangan Hormon

Ketidakseimbangan dalam tingkat ekstrogren dan progesterone dapat

menyebabkan perdarahan berat


25

Menurut Ida Bagus Gde Manuba (2010), hormone-hormon yang

mempengaruhi menstruasi anatara lain:

1) Esterogen

Dihasilkan oleh folikel degraff, estrogen menghambat perjalanan ovum dan

implantasi, merangsang ketebalan dari dinding endometrium dan berlangsug

selama 14-15 hari.Sehingga dapat menyebabkan ploriferansi dari edometrium.

2) Progesteron

Dibentuk oleh korpus luteum, setelah terjadi ovulasi.Jika sel telur tidak

dibuahi terjadi degenerasi progesterone, sehingga terjadi vasokontriksi pada

pembuluh darah da endometrium menjadi mengkerut.Selain itu progesterone juga

berfungsi mengentalkan lendir servik.

2.2.5 Hal-Hal Yang Mempengaruhi Menstruasi

Menurut Sarwono Prawiroharjo (2012 ) menstruasi dapat terjadi dengan

teratur dimana hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya:

1) Psikis, wanita yang mengalami gangguan psikis berat, seperti stress hebat

atau depresi, biasanya juga akan mengalami gangguan hormonal. Siklus haid

jadi tidak teratur, tidak ada ovulasi dan sebagainya. Selain faktor fisik dan

psikis, yang juga mempengaruhi keseburan seorang wanita adalah gangguan

siklus haid itu sendiri. Siklus haid yang terlalu pendek (polimenorhea, di

bawah 21 hari) atau siklus haid yang terlalu panjang (oligomenorhea, lebih

dari 35 hari) biasanya tidak menghasilakan ovulsi (unovulasi).


26

2) Gizi, malnutrisi yang paling berat penyebab gangguan siklus menstruasi,

demikian pula penyakit menahun dapat menimbulkan gejalah tersebut.

Obesitas yang berat bisa menyebabkan aminorea karena peningkatan leptin

sehingga terjadi penurunan sekresi neuropeptida Y, yang berakibat

peningkatan seksresi GnRH dan diikuti peningkatan LH. Disamping itu

perubahan drastic dalam porsi olah raga atau perubahan berat badan yang

drastic juga menyebabkan gangguan pola menstruasi.

3) Usia, bisa menyebabkan terjadinya gangguan pola menstruasi karena pada

usia lebih dari 40 tahun akan tidak terjadi menstruasi yang di sebut juga

menopause.

4) Penyakit ginekologi, penyakit ginekologi juga sangat mempengaruhi pola

menstruasi misalnya endometriosis dan mioma.

5) Jenis kontrasepsi, penyebab gangguan siklus menstruasi karena efek samping

dari alat kontrasepsi yaitu gangguan pola menstruasi terutama amenorea.

Perdarahan bnyak dan lama jarang sekali terjadi. Sebagaian besar

penghentian pemakaian kontrasepsi hormonal disebabkan gangguan pola

perdarahan. Jenis kontrasepsi diantaranya adalah:

(1) Kontrasepsi Implant merupakan suatu kotrasepsi yang mengandung

levonogestrel yang di bungkus dalam kapsul silasic-silicone

(polydimethylsiloxane) dan dimasukan di bawah kulit (Sarwono Prawidharjo,

2012).

(2) Kontrasepsi pil merupakan jenis kontrasepsi oral yang harus diminum setiap

hari yang bekerja mengentalkan lendir serviks sehingga sulit dilalui oleh sperma.
27

Terdapat dua macam yaitu kontrasepsi kombinasi atau sering disebut pil

kombinasi yang mengandung progesterone dan ekstrogen, kemudian kontrasepsi

pil progesterin yang sering disebut dengan minipil yang mengandung hormone

progesterone (Rabe,2014).

(3) Kontrasepsi suntikan merupakan kontrasepsi yang diberikan dengan cara di

suntkkan secara intramuskuler di daerah otot pantat (gluteus maximus)

(Siswosudarmo, 2011).

(4) Kontrasepsi akdr merupakan alat kontrasepsi yang dimasukkan dalam rongga

rahim wanita yang bekerja menghmbat sperma untuk masuk ke tuba fallopi

(Saiffudin 2009).

(5) Kontrasepsi mantap (KONTAP) merupakan suatu cara permanen baik pada

pria dan wanita, dilakukan dengan tindakan operasi kecil untuk mengikat atau

menjepit atau memotong saluran telur (wanita), atau menutup saluran mani laki-

laki (Siswosudarmo, 2011).

6) Lama Penggunan Kontrasepsi

Lama adalah proses waktu yang panjang, dan periode waktu yang lama.

Hormon pada kondisi tubuh remaja yang belum stabil menyebabkan

menstruasi kadang datang kadang tidak. Pada kelainan hormonal terjadi

proses gangguan hipotalamus-hipofisis, ovarium dan rangsangan ekstrogen

progesterone sehingga memungkinkan terjadinya gangguan pola menstruasi.

Salah satunya yaitu lama penggunaan kontrasepsi implant


28

(1) Lama pemakaian KB Implan ≤ 1 tahun banyak yang mengalami Perubahan

tersebut meliputi interval antar perdarahan, durasi dan volume aliran darah, serta

spotting (bercak-bercak perdarahan). Oligomenore dan amenore.

(2) Lama pemakaian KB Implan  1 tahun dapat menimbulkan kekeringan pada

vagina, gangguan emosi, nevorsitas dan jerawat.

2.2.6 Gangguan Pola Menstruasi

Apabila mentruasi tidak terjadi pada saat yang sebelumnya, hal ini mungkin

menunjukkan tanda kehamilan.Akan tetapi masa mentruasi yang tidak teratur

menunjukkan tidak mendapat mentruasi yang sering merupakan keadaan yang

wajar bagi banyak remaja yang baru saja mendapatkan mentruasi dan bagi

perempuan yang berusia 40 tahun.Kecemasan dan gangguan emosional dapat

menyebabkan seorang wanita tidak mendapatkan mentruasi.

1) Normal dari siklus menstruasi berlangsung selama 21-35 hari dengan rata rata

pada umumnya selama 28 hari. Gangguan pada mentruasi yang berhubungan

dengan siklus mentruasi digolongkan menjadi 3 macam yaitu:

(1) Polimenorhea

Pada polimenorhea siklus mentruasi lebih pendek dari biasa (kurang dari 21

hari). Dapat disebabkan oleh gangguan hormonal yang mengakibatkan

pengangguan ovulasi, atau menjadi homonual yang pengguaan ovulasi, atau

menjadi pendeknya masa luteal. Sebab lain adalah kongesti ovarium karena

peradangan, endometriosis, dan sebagainya.

(2) Oligomenorhea
29

Sikslus mentruasi lebih panjang, lebih dari 35 hari.Apabila panjang siklus

lebih dari 3 bulan, hal itu sudah mulai dinamakan amenorea, Perdarahan pada

oligomenorhea biasanya berkurang.Pada kebannyakan kasus oligomenorea

kesehatan wanita tidak terganggu.Dan fertilisa cukupbaik.Siklus mentruasi

biasanya juga ovulasi dengan masa preliferasi lebih panjang dari biasanya.

(3) Amenorhea

Amenorhea adalah keadaan tidak adanya mentruasi sedikitnya tiga bulan

berturut-turut.Amenoria primer apabila seorang wanita berumur 18 tahun keatas

tidak pernah dapat mentruasi, sedangkan pada amenorea sekunder penderita

pernah mendapat menstruasi tetapi kemudian tidak dapat algi.Amenorea primer

umunya mempunyai sebab-sebab yang lebih berat dan lebih sulit untuk diketahui,

seperti kelainan-kelainan kogenital dan kelain-kelainan genetic.Adanya amenorea

sekunder lebih menunjuk kepada sebab-sebab yang timbul kemudian dalam

kehidupan wanita, seperti gangguan gizi, gangguan metabolisme, tumor-tumor,

penyakit infeksi, dan lain-lain.

2) Normal dari lama perdarahan umumnya adalah 2-7 hari. Gangguan pada

mentruasi berdasarkan lama perdarahan menstruasinya dapat digolongkan

menjadi2 yaitu:

(1) Hipomenorhea

Hipomenorea adalah perdarahan haid yang lebih pendek dan kurang dari

biasa yaitu kurang dari 3 hari.Hipomenorea disebabkan oleh karena kesuburan

endometrium kurang akibat dari kurang gizi, penyakit menahun

maupaungangguan hormonal. Adanya hipomenorea tidak mengaggu ferilitas


30

(2) Hipermenorhea (Menoragia)

Hipermenorea adalah perdarahan haid yang lebih banyak dari normal, atau

lebih lama dari normal (lebih dari 8 hari). Sebab kelainan ini antara lain karena

hipoplasia uteri (mengakibatkan amenorea,hipomenorea), astbenia (terjadi karena

tonus otot kurang), myoma uteri (disebabkan oleh kontraksi otot rahim kurang,

cavum dekompensio cordis, infeksi (misalnya werlhoff dan hemofili) (Lusa;2010).

3) Perdarahan di luar Haid

Metroragia adalah perdarahan yang terjadi diluar haid dengan penyebab

kelainan hormonal atau kelainan organ genital.

4) Gangguan lain dalam hubungan menstruasi

(1) Disminorea atau nyeri haid mungkin merupakan suatu gejalah yang paling

sering menyebabkan wanita-wanita muda pergi ke dokter untuk konsultasi

dan pengobatan. Terdapat dua bentuk disminore :

(a) Disminore primer : nyeri haid yang di jumpai tanpa kelainan pada alat- alat

genital yang nayata

(b) Disminore sekunder : bila terdapat kelainn organic seperti mioma, polip

endometrial, dan endometriosis.

(2) Premenenstrual Tension (tegangan prahaid) merupakan keluhan-keluhan yang

biasanya mulai satu sampai dua minggu sampai beberapa hari sebelum

datangnya haid, dan menghilang sesudah datangnya haid, walaupun kadang-

kadang berlangsung terus sampai haid berhenti.

(3) Vicarious Menstruation, dimana terjadi perdarahan ekstragenetal dengan

interval periodic yang sesuai dengan siklus haid.


31

(4) Mittelschmerz (rasa nyeri pada ovulasi) terjadi kira-kira sekitar pertengahan

siklus haid, pada saat ovulasi. Rasa nyeri yang terjadi mungkin ringan, tetapi

mungkin juga berat.

(5) Mastalgia adalah rasa nyeri dan pembesaran mammae sebelum haid, sebab

edema dan hipertemi karena peningkatan relative dari kadar ekstrogen

Wiknjosastro, (2011).

2.3 Kerangka Konsep

Kerangka konsep adalah abstraksi dari suatu realita agar dapat di

komunikasikan dan membentuk suatu teori yang menjelaskan keterkaitan antar

variabel (baik variabel yang diteliti maupun tidak diteliti) yang membantu peneliti

dalam menghubungkan hasil penelitian dengan teori (Nursalam, 2010).

Kerangka konsep dalam penelitian ini digambarkan sebagai berikut:

Psikis
Lama menstruasi :
Gizi 1. Hipomenorhea
2. Hipermenorhea
Usia

Penyakit Pola
ginekologi Menstruasi

Jenis Siklus menstruasi:


Kontrasepsi 1. Polimenorea
2. Oligomenorea
Lama 3. Amenorea
Penggunaan
Kontrasepsi
(Implant)
32

Keterangan:

: Diteliti

: Tidak Diteliti

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Hubungan Lama Pengggunaan Implant


Dengan Siklus Dan Lama Menstruasi di PMB Kirang Naning
Amd.Keb Desa Kedali Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan.

Keterangan Kerangka Konsep:

Dari gambar kerangka konsep di atas dapat dinyatakan bahwa pola

menstruasi dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya karena pengaruh

hormonal yaitu, emosi, gizi, usia, jenis kontrasepsi, penyakit ginekologi dan lama

penggunaan kontrasepsi. Pengaruh perubahan hormonal di antaranya termasuk

lama penggunan salah satunya yaitu implant.Pola menstruasi terdiri dari lama

menstruasi dan siklus menstruasi. Lama menstruasi terdiri dari hipermenorea,

hipomenorea sedangkan yang siklus menstruasi terdiri dari polimenorea,

oligomenorea dan amenorea.