Anda di halaman 1dari 6

NAMA : MUH ARWAN

NIM :B1A119082
RESPON TUBUH TERHADAP AGEN MENULAR
I. PENDAHULUAN
Dewasa ini dengan melihat era globalsasi yang semakin maju, masih ada pula sisi
lain yang negative. Diantaranya kurangnya pengetahuan tentang kesehatan. Pada
masyarakat awam sering kali kita jumpai orang yang acuh tak acuh terhadap masalah
kesehatannya dan menganggap remeh jika terkena suatu peyakit. Apalagi pada
kumpulan masyarakat yang tingkat ekonominya rendah. Maraca ingin berobat saja
merasa malas karena biaya rumah sakit dan prawatannya yang sangat mahal serta
tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh sehari-hari.

Dengan keadaan lingkungan yang memiliki sanitasi rendah dan kurangnya


pengetahuan tentang sanitasi lingkungan di sekitanya, sering kali mereka terkena
penyakit-penyakit akibat terinfeksi mikrooganisme, bakteri, jamur ataupun kuman
yang terdapat di lingkungan sekitar mereka. Penyakit-penyakit seperti itu disebut
penyakit infeksi.

Jadi, kesimpulannya penyakit infeksi adalah Masuknya kuman penyakit kedalam


tubuh hingga menimbulkan gejala-gejala penyakit. Atau juga dapat diartikan sebagai
invasi dan pembiakan mikroorganisme pada jaringan tubuh terutama yang
menyebabkan cidera seluler local akibat kompetisi metabolism, toksin, replikasi
intraseluler atau respon antigen-antibodi.

Terjadinya penyakit infeksi bisa terjadi karena adanya tiga unsure yaitu factor
mikroorganisme, factor hospes pada infeksi dan reaksi hospes dengan
mikroorganisme.

II. TUJUAN & CAPAIAN


A. TUJUAN
Mengetahui respon tubuh terhadap agen menular
B. CAPAIAN
1. Mengetahui faktor hospes pada infeksi
2. Mengetahui faktor mikroba pada infeksi
3. Mengetahui cara interaksi hospes dan mikroba
4. Mengetahui infeksi oportunistik
III. TELAAH LITERATUR
A. FAKTOR HOSPES PADA INFEKSI
Syarat timbulnya infeksi adalah bahwa organisme yang menular harus mampu
melekat, menduduki, atau memasuki hospes dan berkembang biak paling tidak sampat
taraf tertentu. Karena itu tidaklah mengherankan, bila dalam perjalanan evolusi,
spesies hewan termasuk manusia, sudah mengembangkan mekanisme pertahanan
tertentu pada berbagai tempat yang berhubungan dengan lingkungan.
Kulit Dan Mukosa Orofaring
Batas utama antara lingkungan dan tubuh manusia adalah kulit. Kulit yang
utuh memiliki lapisan kertain atau lapisan tanduk pada permukaan luar, dan epitetel
terlapis gepeng sebagai barier mekanis yang baik sekali terhadap infeksi. Biasanya
sulit sekali bagi jasad renik untuk menembus barier mekanis ini. Namun jika terjadi
luka iris, abrasi atau maserasi (seperti pada lipatan tubuh yang selalu basah) dapat
memungkinkan agen menular masuk. Selain sebagai barier sederhana, kulit juga
mempunyai kemampuan tertentu untuk melakukan ekontaminasi terhadap dirina
sendiri. Jadi organism yang melekat pada lapisan luar kulit (dengan anggapan bahwa
organisme tidak mudah mati bila menjadi kering) akan dilepaskan pada waktu lapisan
kulit mengelupas. Selain dekontaminasi fisik, juga terdapat dekontaminasi kimiawi
yang terjadi dengan cara berkeringat dan sekresi kelenjar sebsea yang membersihkan
permukaan kulit. Akhirnya, kulit juga memiliki flora normal yang dapat berpengaruh
terhadap dekontaminasi biologis.dengan menghalangi pembiakan organism-
organisme lain yang melekat pada kulit.
Lapisan mulut dan sebagian besar faring serupa dengan kulit karena terdiri
dari epitel berlapis yang erupakan bagian barier mekanis untuk mencegah invasi
mikroba. Namun, barier mekanis ini memiliki kelemahan disepanjang gusi dan
didaerah tomsil. Mukosa orofaring juga didekontaminasi oleh aliran saliva yang
dengan mudah menghanyutkan partikel-partikel yang ada. Selain itu, terdapat zat-zat
dalam saliva yang menghambat mikroorganisme tertentu. Akhirnya, mulut dan faring
juga memiliki flora normal yang dapat bekerja untuk menghalangi pertumbuhan
kuman yang potensial.
Saluran Pencernaan
Mukosa lambung adalah tipe kelenjar dan bukan merupakan barier mekanisme
yang baik. Sering terjadi luka-luka kecil atau erosi pada lapisan lambung, tetapi tidak
mempunyai pada proses infeksi, sebab suasana lambung sendiri sangat tidak sesuai
untuk banyak mikroorganisme. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh keasaman
lambung. Selain itu, lambung cenderung memindahkan isinya ke usus halus dengan
proses yang relative cepat. Gerakan peristaltik untuk mendorong isi usus berlangsung
cepat sekali, sehingga populasi bakteri dalam luman dipertahankan tetap sedikit. Bila
mutilitas usus terganggu, maka jumlah jasad renik dalam usus halus akan meningkat
dengan tajam, dan kemudian dapat menginvasi mukosa. Ada beberapa hal lain yang
membantu proses pendorongan jasad renik secara cepat m elewati usus halus. Sel-sel
lapisan usus halus secara terus menerus mensekresi mucus yang banyak sekali,
sehingga membentuk selimut yang kental pada permukaan usus, menangkap bakteri
dan mendorongnya ke distal oleh gerakan peristaltic. Selain itu adanya antibody
didalam secret usus halus akan menghambat perlekatan bakteri pada permukaan
mukosa.
Saluran Pernafasan
Trakea merupakan gambar mikroskopik permukaan mukosa yang khas untuk
bagian saluran-saluran permukaan pernapasanlapisan hidung, lapisan esofaring,
trakea, dan bronkus. Epitel terdiri dari sel-sel tinggi, beberapa diantaranya
mengeluarkan mucus, tetapi sebagian besar dilengkapi dengan silia pada permukaan
lumennya. Silia-silia ini bergetar seperti cambuk dengan gerakan yang mengarah kea
rah luar tubuh. Sel-sel yang mengeluarkan mucus tersebut menghasilkan selimut
lengket yang bergerak di atas silia dan meluncur secara kontinu keatas. Jika terhirup,
mikroba cenderung akan mengenai selimut mukosa tersebut, dan kemudian
digerakkan keluar dengan cara dibatukkan atau ditelan. Antibody yang terdapat di
sekresi akan meningkatkan kerja perlindungan ini. Jika beberapa agen terhindar dari
pertahanan ini dan mencapai ruang-ruang udara dalam paru, maka akan selalu
terdapat makrofag yang merupkan barisan pertahanan lain.
Saluran Pertahanan Lain
Perumukaan lain dala tubuh dilengkapi dengan mekanisme-mekanisme
pertahanan yang serupa. Dalam saluran kemih, lapisan epitelnya adalah epitel berlapis
banyak yang memiliki barier mekanis, tetapi salah satu pertahanan utama saluran
kemih adalah kerja aliran kemih dalam menghalau mikroba keluar. Semua hal yang
mengganggu kelancaran aliran emih yang normal, apakah itu penyumbatan ureter atau
hanya kebiasaan buruk menaapat mempermudah terjadinya infeksi. han kencing d.
konjumgtiva sebagian mata dilindungi secara mekanis dan yang lain oleh air mata.
Mukosa vagina merupakan epitel yang kuat, berlapis banyak,dan sifat pertahanan
mekanisnya diperkuat oleh adanya flora normal yang berjumlah banyak dan sekresi
mukus.

B. RADANG SEBAGAI PERTAHANAN


Jika agen yang menular berhasil menembus salah satu barier tubuh dan
memasuki jaringan, maka barisan pertahanan berikutnya adalah reaksi peradangan
akut. Reaksi peradangan adalah suatu keadaan saat aspek humoral (antibodi) dan
aspek selular pertahanan tubuh bersatu. Efek opsonisasi antibody dan komponen-
komponen komplemen misalnya, akan meningkatkan aktivitas fagosit antimikroba.
Contoh lain, mekanisme kekebalan selular dapat meningkatkan kerja pertahanan yang
dimiliki makrofag.
Jika reaksi peradangan akut tidak sanggup mengatasi kuman itu, infeksi
tersebut dapat menyebar lebih luas keseluruh tubuh. Biasanya penyebaran terjadi
secara pasif bila dipandang dari kerja mikroba, biasanya mikroorganisme tersebut
dibawa oleh cairan tubuh.
C. PEMBULUH LIMFA PADA INFEKSI
Aliran limf dipercepat pada keadaan radang akut. Sayangnya, hal ini berarti
bahwa agen-agen menular kadang-kadang juga ikut menyebar dengan cepat sepanjang
pembuluh limf bersamaan dengan aliran limf tersebut. Kadang-kadang
mengakibatkan terjadinya limfangitis, tetapi lebih sering agen-agen menular itu
langsung terbawa ke kelenjar limf, disini agen tersebut dengan cepat difagositosis
oleh makrofag. Pada keadaan ini, maka cairan limf yang mengalir tanpa melewati
kelenjar limf mungkin dapat terbebas dari agen-agen menular tersebut.
D. PERTAHANAN TERAKHIR
Jika penyebarannya agen menular tidak terhenti pada kelenjar limfe atau jika
agen tersebut langsung memasuki vena pada saat pertama kali, maka dapat terjadi
infeksi pada aliran darah. Ledakan bakteri dalam aliran darah dapat terjadi, dan
peristiwa yang dinamakan bakteremia ini biasanya ditangani secara cepat dan efektif
oleh makrofag dari system monosit makrofag. Namun jika organism yang masuk itu
berjumlah sangat besar dan jika organisme tersebut cukup resisten, maka system
makrofag dapat ditaklukkan. Hal ini mengakibatkan organism tersebut dapat menetap
dalam darah, dan menimbulkan gejala-gejala malese, kelemahan, dan tanda-tanda
demam, menggigil dan sebagainya. Keadaan ini dinamakan septicemia atau sepsis
atau sering juga disebut keracunan darah.
E. FAKTOR MIKROBA PADA INFEKSI
a. Daya Transmisi
Pemindahan secara langsung. Faktor yang penting dalam terjadinya infeksi
adalah cara masuknya agen menular hidup ke dalam tubuh. Cara pemindahan
infeksi yang mungkin paling jelas adalah pemindahan secara langsung dari
satu orang ke orang lain. Misalnya melalui batuk, bersin, dan berciuman.
b. Daya Infasi
Masuknya mikroorganisme ke dalam hospes baru. Agen mikroba harus
mampu bertahan di dalam tubuh hospes tersebut untuk dapat menimbulkan
infeksi.
c. Kemampuan Untuk menimbulkan penyakit
Beberapa organisme sebenarnya menyebabkan cedera pada hospes, sebagian
besar melalui cara imunologis. Misalnya basil Tuberculosis yang tidak
memiliki toksin sendiri.
F. CARA INTERAKSI HOSPES & MIKROBA
Sering dianggap bahwa interaksi antara hospes dan agen menular merupakan
suatu peperangan dengan seluruh kemampuan yang ada atau ‘’pertarungan samapi
mati’’.Ada kecenderungan besar yang menganggap agen menular sebagai benda yang
‘’buruk’’ secara intrinsik karena ditakdirkan untuk menimbulkan penyakit. Namun
secara biologi, sebenarnya setiap agen yang hidup bukan untuk menimbulkan
penyakit, melainkan untuk menghasilkan agen yang jenisnya sama..Jika hubungan
antara hospes dan agen menular tidak saling menyerang, maka jenis interaksi ini
disebut komensialisme. Jika interaksi memberikan beberapa keuntunganbagi kedua
belah pihak, maka interaksi ini disebut mutualisme.Komensialisme dan mutualisme
merupakan hasil yang paling sering terjadi akibat interaksi infeksi dialam dan
timbulnya penyakit menular dalam arti evolusi (dan ternyata banyak sekali)
merupakan penyimpangan dari keadaan ini. Interaksi yang kompleks dari hospes dan
faktor-faktor lingkungan menentukan timbulnya infeksi. Virulensi atau patogenisitas
mikroorganisme tertentu berkaitan dengan status hospes.
G. INFEKSI OPORTUNISTIK
Konsep infeksi oportunistik menunjukan kenyataan bahwa banyak organisme
yang tidak terpikirkan akan berbuat banyak terhadap individu sehat, tetapi dengan
adanya lingkungan yang sesuai, organisme itu akan berubah dan menimbulkan
penyakit menular. Organisme-organisme semacam itu disebut sebagai oportunistik,
sebab kelihatannya mengambil keuntungan pada keadaan tertentu dari hospes.
Sebagian besar oportunistik adalah organisme yang secara tetap tinggal dalam hospes,
dan keadaan ini kadang-kadang disebut sebagai agen menular endogen. Beberapa
agen eksogen juga bertingkah laku oportunistik.
Infeksi oportunistik timbul jika beberapa faktor atau sekelompok faktor
membahayakan mekanisme pertahanan intrinsik hospes atau dengan cara mengubah
ekologi mikroba penghuni normal. Leukimia dan berbagai bentuk kanker lainnya
tercantum dalam urutan atas daftar penyakit-penyakit yang timbul akibat infeksi
oportunistik. Demikian pula dengan agen farmakologi yang dipakai untuk mengobati
penyakit-penyakit tertentu dapat memiliki efek samping yang tidak diinginkan yaitu
berupa penekanan kekebalan atau penekanan reaksi peradangan, sehingga
memudahkan timbulnya infeksi oportunistik. Terapi antimikroba kadang-kadang juga
dapat menimbulkan infeksi oportunistik, terlihat dengan adanya supresi sebagian flora
mikroba normal. Terapi antimikroba juga dapat mengubah keseimbangan ekologi
yang kritis sehingga anggota lain dari flora tersebut dapat muncul dan tumbuh
melebihi flora lainnya, dan dengan demikian timbul penyakit. Terapi antimikroba
dapat juga membuat hospes lebih mudah terkena beberapa agen yang biasanya tidak
mendapatkan tempat berpijak akibat adanya flora mikroba normal.
Terdapat banyak faktor linkungan di dalam masyarakat luas yang cenderung
lebih menguntungkan organisme tertentu daripada hospesnya. Contoh dari faktor
lingkungan semacam itu adalah penderita penyakit akibat kerja, sperti pajanan debu
silika membuat penderita tersebut mudah menderita tuberkulosis. Seluruh populasi
masyarakat dapat pula terserang secara bersamaan, misalnya pada keadaan
kekurangan makanan, depresi yang merupakan respon hospes dapat mengakibatkan
epidemi berbagai penyakit seperti tuberkulosis. Akhirnya perubahan cuaca dapat pula
mempengaruhi insiden penyakit menular.

DAFTAR PUSTAKA

Price A. Syvia & Wilson M. Lorraine.,2002. ”Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses


Penyakit”. Jakarta : Buku Kedokteran EGC