Anda di halaman 1dari 3

KEKOSONGAN DI BULAN RAMADAN

***

Saat aku mulai menulis tulisan ini air mataku tak berhenti mengalir. Sebenarnya agak
gengsi juga sebagai laki-laki aku menangis. Tapi aku tidak peduli. Harus dengan cara apa aku
meluapkan rasa rinduku. Hanya dengan menulis aku dapat menumpahkan semua yang
berkecamuk di dalam dada.

Bulan Ramadan. Bulan yang indah dan penuh kedamaian. Semua orang menanti
kedatangannya. Momen berkumpul keluarga, apalagi seusainya - lebaran. Dan kini ia telah
hadir. Pun denganku sendiri yang tengah berada di ujung penantian. Hal yang paling
kunantikan dari setiap Ramadan adalah kehadiran seorang ayah. Meskipun aku tahu ia takkan
kembali. Sepi. Kosong. Hampa rasanya jika hidup tanpa seorang ayah. Terkadang aku sedih,
iri dan entah kata apa lagi yang mampu mewakili perasaanku, saat melihat orang lain
bercanda dengan ayahnya, curhat masalah kehidupannya, dibimbing dan diajarkan menjadi
lelaki tangguh. Aku hanya bisa memandang, tak bisa merasakan.

Aku memang sempat merasakan kasih sayang seorang ayah. Waktu itu aku berusia
lima tahun. Tidak banyak kenangan yang kuingat saat bersamanya. Aku bahkan lupa
suaranya. Mungkin, jika tidak ada fotonya aku tidak akan mampu mengingat wajah teduhnya,
serta kenangan indah di dalamnya. Kenangan saat aku tidur di tempat kerjanya, saat aku ikut
pergi ke sawah, saat aku dan ayah naik sampan, saat menyambut kedatangannya sepulang
kerja, saat … aku lupa. Hanya itu yang kuingat.

Dulu saat aku kecil banyak orang memegang kepalaku dan berkata ‘Duh, kasihan
sekali kamu, Nak. Masih kecil sudah ditinggal sang ayah’. Aku sangat senang. Aku berpikir
ternyata anak yatim itu menyenangkan. Banyak orang yang mengasihani dan memberiku
uang dan barang-barang. Namun saat beranjak dewasa, rasa kehilangan dan butuh sosok ayah
hinggap di perasaanku. Kala mengingat ayah pun, air mataku selalu mengalir tak terbendung.

Mungkin di luar sana banyak pula orang yang lebih menyedihkan dariku saat
ditinggalkan sang ayah. Termasuk adik bungsuku yang tidak pernah merasakan kasih sayang
seorang ayah. Saat ayahku meninggal ia baru berusia lima bulan. Kesedihan nyaris tak pernah
mampu kubendung saat sang adik bertanya tentang ayahnya. Berbeda dengan ke empat
kakaknya yang sempat meraskan hidup bersama sang ayah.
Aku ingin berkata, jika masih ada ayah mungkin aku dapat belajar menjadi lelaki
yang bertanggungjawab. Jika masih ada ayah mungkin hidupku tak semenyedihkan seperti
ini. Jika ada ayah aku bisa bertukar pikiran. Jika ada ayah mungkin saat aku butuh seorang
pendengar ia siap mendengarkan keluh kesahku. Jika masih ada ayah pasti ia adalah orang
yang pertama kali menasihatiku. Jika masih ada ayah mungkin adikku akan bahagia seperti
teman sebayanya. Jika masih ada ayah mungkin ibu tidak akan sakit-sakitan seperti sekarang.

Jika saja aku diberi kesempatan untuk bertemunya, aku ingin meluapkan emosiku.
Aku membutuhkanmu, Ayah. Adik butuh ayah. Kakak butuh ayah. Ibu butuh ayah. Semua
keluarga membutuhkanmu. Ibu sekarang sering sakit-sakitan, Yah. Jika ayah tidak pergi, ibu
tidak akan pergi ke sawah sendirian siang malam. Ibu tidak akan pusing memikirkan ke lima
anaknya sendirian. Ibu tidak akan kelelahan dan sakit parah seperti sekarang ini. Kini, aku
bahkan tidak mau bercerita panjang dengan ibu, atau sekedar mengadu keluh kesahku. Kata
dokter itu sangat mempengaruhi kesehatannya. Bayangkan saja, mengidap Parkinson selama
tujuh tahun bukanlah kondisi yang baik-baik saja. Iya kan, Yah? Untuk makan, mandi,
memakai baju, bangun dari duduk, dan beberapa kebutuhan pribadi lainnya membutuhkan
bantuan orang lain. Itulah sebabnya ayah harus kembali. Titik.

Astaghfirullahal ‘adzhim ….

Ya, mungkin ini takdir terbaik untukku dan keluargaku. Aku hanya pasrah dan
berusaha menjalani hidup dengan setegar mungkin. Di momen Ramadan ini aku berharap
mampu menjadi sosok ayah bagi adikku. Pasalnya tepat pada bulan Ramadan ayahku
menghembuskan napas terakhirnya. Karena siapa lagi yang bakal menggantikan selain aku,
satu-satunya anak lelaki di keluarga. Semoga ayah tenang di sana dan tersenyum melihat
perjuangan anak-anaknya, istrinya – keluarganya.

Salam rindu dari Isal, Ayah.


BIODATA

Andi Faizal, lahir di Indramayu pada 16 November 1999. Pria yang akrab dipanggil
Isal ini telah menamat pendidikan di SD Negeri Tambi Lor 1, MTs Yapida Tambi dan MAN
2 Indramayu. Selain belajar di sekolah formal ia juga nyantri di Pondok Pesantren Darul
Muslimin Tambi. Saat ini ia tercatat sebagai mahasiswa aktif di STKIP NU Indramayu
melalui jalur bidikmisi.

Bersama teman-temannya ia berusaha membangun peradaban bernuansa literasi di


desanya dengan mendirikan Komunitas Literasi Gembira. Selain itu ia juga ikut bahu-
membahu menjalankan roda organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) di lingkup
kecamatan.

Dalam dunia kepenulisan ia memulai karir dengan mengikuti Kelas Menulis di


daerahnya berkat arahan sang guru, Muhammad Rifqi. Kemudian aktif pada beberapa lomba
menulis tingkat kabupaten hingga nasioanl. Hingga saat ini penulis sudah membuat empat
tulis bersama, di antaranya berjudul Ramadhan Jadul Is Wonderful, Bunga, Pusara, dan
Dada yang Kerontang, dan Cerita Kehidupan yang Menginspirasi dan buku Jeruji Sunyi
(Antologi Cerpen dan Puisi) adalah buku solo pertamanya. Sejalan dengan bakatnya menulis
ia masuk perguruan tinggi mengambil program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia.

Di sela-sela kesibukannya, ia selalu menyempatkan diri untuk menyalurkan hobinya


yaitu membaca dan menulis.

Untuk info lebih lengkap mengenai data penulis silakan meninggalkan pesan melalui email:
andyfaishal0@gamail.com atau Whatsapp 083112715201.