Anda di halaman 1dari 136

Andi Faizal

JERUJI SUNYI
Antologi Cerpen Dan Puisi
Jeruji Sunyi

Jeruji Sunyi
(Antologi Cerpen Dan Puisi)

Penulis: Andi Faizal


Editor: Nama Editor
Tata Letak: Nama Layouter
Sampul: Pembuat Cover

Diterbitkan Oleh:
Guepedia
The First On-Publisher in Indonesia

E-mail: guepedia@gmail.com
Fb. Guepedia
Twitter. @guepedia

Website: www.guepedia.com

Hak Cipta dilindungi Undang-undang


All right reserved

2
Andi Faizal

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, ucapan syukur tak terhingga saya


haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan
karunia-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan buku
berisi Antologi Cerpen dan Puisi.
Buku ini merupakan karya tulis solo pertama saya.
Untuk itu saya hanya bisa menyampaikan ucapan terima
kasih kepada semua pihak yang terlibat, sehingga saya
bisa menyelesaikan buku ini. Terutama sekali kepada
penerbit Guepedia yang bersedia menerbitkan karya
saya. Terima kasih dan salam cinta saya berikan kepada
ibu saya yang selalu mendoakan terbaik untuk saya.
Terima kasih juga kepada guru saya, Muhammad Rifqi,
atas pengarahan beliau hingga saya terjun dalam bidang
kepenulisan. Terima kasih juga kepada dosen-dosen
bahasa Indonesia saya di kampus yang telah menambah
cakrawala penulisan saya semakin luas. Dan tidak
ketinggalan juga saya haturkan terima kasih kepada
teman-teman di Gembira dan IPNU yang selalu
mendukung segala pergerakan saya.
Saya berharap karya tulis ini dapat bermanfaat
bagi para penulis khususnya dan para pembaca pada
umunya.

Indramayu, 24 Maret 2020


Penulis

Andi Faizal

3
Jeruji Sunyi

Daftar Isi

Kata Pengantar........................................................ 3
Daftar Isi................................................................. 4

Antologi Cerpen
Primbon Terkutuk................................................... 6
Teror Vampir........................................................... 16
Darah Perdamaian.................................................. 28
Membenci Kerinduan.............................................. 37
Pergi Dan Kembali................................................... 44
Aku Bosan Hidup.................................................... 52
Sejuta Maaf Untuk Ibu............................................ 68
Umur Singkat Bahagia............................................ 75
Milyaran Air Mata.................................................... 84
Pasti Ada Jalan Keluar............................................ 89
Maling..................................................................... 96

Antologi Puisi
Cinta....................................................................... 98
Tanah Air................................................................ 117
Nasihat Kehidupan.................................................. 123

Tentang Penulis....................................................... 136

4
Andi Faizal

5
Jeruji Sunyi

PRIMBON TERKUTUK

“Dimana ini? Aku tidak bisa melihat benda-


benda di sekitarku. Semuanya gelap! Fras, itukah
engkau?” Alea mendengar suara langkah kaki
mendekatinya. Suara kaki itu kian dekat seiring
bertambah kerasnya suara dedaunan kering yang
terinjak langkah itu. Lamat-lamat ia melihat siluet
seorang laki-laki berjalan sempoyongan. Sinar rembulan
sedikit membantu penglihatannya kala itu.

“Fras, kamu di mana? Itukah engkau?” suara


Alea semakin kecil. Keringat dingin membanjiri sekujur
tubuhnya. Seketika tubuhnya menjadi kaku. Ia berusaha
melangakahkan kakinya menjauhi langkah kaki yang
mendekat itu. Namun saat ia sudah berjalan dua
langkah, lengan kanannya ditarik oleh laki-laki yang
sudah berjarak dua langkah darinya. Sentak saja Alea
merasa kaget dan hampir berteriak. Mulutnya menganga

6
Andi Faizal

sambil memjamkan mata. Entah apa yang dipikirkannya,


ia tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat itu. Tanpa
berpikir panjang ia membalikan badannya dan melihat
siapa laki-laki yang menariknya itu. Tetapi sepasang
matanya belum juga terbuka. Terbesit dalam otaknya
bahwa laki-laki itu adalah hantu, rampok, atau penjahat
yang hendak memperkosanya kemudian membunuhnya.
Tubuhnya semakin bergetar dan dia merintih ketakutan.
Sesaat setelah itu, terdengar suara tawa menggelegar
dari mulut laki-laki di depannya.

“FRASTIOO…,” Alea berteriak kesal karena


tingkah sahabatnya itu. “Kau mengagetkanku saja. Aku
pikir kau... kau adalah hantu atau penjahat.” Alea
kemudian memeluk tubuh Frastio karena masih
dirundung ketakutan.

“Hahaha … dari dulu kau memang penakut.


Dassarr! Ngomong-ngomong kita di mana, Al?”

“Nggak tahu.”

“Loh, tadi kan kamu yang membaca


manteranya?”

“Iya sih, tapi waktu aku membaca mantera itu


pikiranku entah kemana. Awalnya aku ingin kita ke
Bandung Kota, tapi kemudian pikiranku berubah. Yang
ada di pikiranku hanya hutan rimbun yang jauh dari
penduduk juga terkenal angker.”

7
Jeruji Sunyi

“Berarti kita ada di tempat yang kau sebutkan


tadi dong?” Frastio mulai panik.

“Kejadiannya cepat begitu saja, Fras. Aku tidak


bisa menghalaunya. Maafkan aku.” Terlihat wajah
bersalah dipertontonkan oleh Alea.

“Sekarang mana bukunya?”

“Enggak tahu, Fras. Aku lupa, entah kutinggal


atau entah jatuh di mana.”

“Terus kita pulangnya bagaimana? Orang kita


ada di sini aja berkat buku itu. Tapi kau masih hapal
kan manteranya?”

Alea hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Walaupun Fras tidak melihat gelengan kepala Alea. Tapi
dia yakin Alya tidak menghafalnya. Dia hanya tahu Alea
diam saja, dan itu ia anggap sebagai jawaban tidak.

Suasana malam itu memang menakutkan. Bunyi


binatang-binatang kecil saling bersautan, kepakan sayap
burung yang terbang serta gonggongan anjing liar yang
sedari tadi mengikuti mereka. Suhu di hutan itu tidaklah
terlalu dingin dan tampaknya Alea membuat tubuhnya
kedinginan dengan peluh yang tak henti-hentinya ia
keluarkan. Tetapi tidak untuk Fras, tak ada rasa takut
pun dalam pikirannya. Ia terlihat seperti orang
kebingungan mencari jalan. Mereka berjalan tanpa
tujuan yang jelas. Mencoba mencari pemukiman yang
terdekat.

8
Andi Faizal

Hutan itu memang persis apa yang Alea katakan.


Bahkan lebih menyeramkan dari apa yang dibayangkan.
Buku yang mereka gunakan adalah sejenis buku
primbon kuno. Buku itu ditemukan oleh Alea di
perpustakaan samping rumahnya. Awalnya dia merasa
buku itu sebagai buku cerita rakyat biasa. Namun di
lembaran terakhir buku itu terdapat sebuah mantera
dan penjelasan mengenai kegunaannya. Dia mencoba
membaca mantera itu untuk pergi ke suatu tempat yang
ingin dikunjunginya. Tetapi percobaan ke dua bersama
Fras pikirannya goyah dan jadilah mereka pergi ke
tempat itu. Sebenarnya mantera itu tidaklah panjang
dan tidak terlalu sulit. Mantera itu berbunyi:

Timur barat selatan utara. Penjelajah waktu


-penjelajah masa. Sunyi – ramai. Gelap – terang. Semua
kehendak di tanganku. Semua akan terjadi saat aku ingin
pergi ke ….

***

Sial, pikir Fras. Mereka diikuti seekor anjing.

“Fras, aku takut.”

“Al, ikuti kata-kataku! Dalam hitungan ke tiga


kita lari. Satu… dua… tiga!” teriak Fras.

Mereka berlari terbirit-birit. Tak menghiraukan


akar-akar di bawahnya yang mungkin saja bisa
membuat mereka tersandung. “Fras. Aku capek.

9
Jeruji Sunyi

Istirahat dulu yah?” ujar Alea sambil membungkukkan


badannya karena tegopoh-gopoh kecapekan.

“Tunggu dulu, aku rasa anjingnya sudah tidak


mengejar kita lagi. Tapi kenapa ya? Padahal tadi udah
deket banget loh.” Fras keheranan dengan perubahan
anjing itu.

“Udaah... nggak usah dipikirin. Yang penting kita


nggak kegigit anjing. Jadi kita mau jalan ke mana nih?”

“Untuk sementara waktu karena kita nggak tahu


arah penduduk terdekat, kita jalan lurus saja. Kali aja
bener.”

Mareka berjalan dengan hati-hati. Terlihat pohon-


pohon besar bertengger. Hampir tidak ada dasauan
angin pun. Sunyi. Senyap. Gelap mencekam. Tiba-tiba
mereka melihat seorang kakek-kakek sedang menimba
air di sumur. Terlihat juga ada gubuk di terangi satu
damar cempor. Lalu mereka mendekatinya dan bertanya
arah penduduk terdekat. Kakek itu tak mengucap
sepatah kata pun. Dia hanya menujuk arahnya saja.
Mereka menuruti petunjuk dari kakek itu. Di bawah
kakek itu terlihat ada seekor anjing yang sempat
mengejarnya. Anjing itu melihat mereka berdua sambil
menjulurkan lidahnya.

Saat masih dalam perjalanan, mereka merasa


keheranan. Kakek yang di sumur tadi sudah ada di

10
Andi Faizal

depan mereka sedang menanak nasi. Kakek itu malah


tersenyum getir. Menyeramkan.

“Kenapa kalian balik lagi?” tanya kakek itu.

“kkiit..tta.. nggak balli..iikk laggii. Kami...


nyass...sarr, Kek.” jawab Alea gugup.

“Kalau begitu alangkah baiknya jika kalian


mampir dulu di sini. Saya sudah masak. Kalian duduk
saja dulu, saya mau buatkan teh untuk kalian.”

“Gimana, Fras? Aku takut.” bisik Alea.

“Nggak baik nolak niat baik orang. Lagipula kita


udah jalan kaki lama banget kan? Istirahat dulu aja,
ngisi tenaga. Engga papa, percayalah.”

Dengan terpaksa Alea menuruti perkataan


Frastio. Sebenarnya dia enggan mampir ke gubuk itu.
Gubuk itu hanya didiami oleh Kakek dan anjingnya saja.
Dengan keadaan sepi di tengah hutan yang jauh dari
penduduk. Di dinding gubuk itu terlihat ada sebuah
lukisan tua. Entah lukisan apa. Yang pasti itu seperti
lukisan iblis yang sangat menyeramkan, dengan dua
bola mata besar melotot. Telinga panjang menjulang ke
atas. Bibir tersenyum getir. Dan gigi runcing yang di
bawahnya seperti ada air liur mengalir keluar dari
mulutnya. Perawakannya seperti badan manusia kurus.

“kau lihat apa?”

11
Jeruji Sunyi

“Lukisan itu sangat menyeramkan.” Alea


menunjuk ke arah dinding.

“Itu hanya lukisan biasa. Kau ngga usah takut.”


Fras berusaha menenangkan. “Bentar dulu yah, aku
mau lihat kakek dulu. Kali aja dia butuh bantuan.”
Lanjutnya.

“jangan lama-lama!”

Sementara itu, kakek yang sedari tadi meyiapkan


teh hangat untuk mereka belum juga selesai. Terlihat
apinya tak kunjung menyala. Hanya asap tipis yang
keluar melayang.

“Sini, Kek! Biar aku coba.”

“Ooh… silakan, Nak.”

Fras masih berusaha menyalakan api sambil


membungkuk. Beberapa kali ia mengucek-ucek matanya
karena pedih. Setelah agak lama berusaha, Fras berhasil
membuat api di tungku itu menyala.

“Nih, Kek, udah nyala.” ujarnya sambil


mambalikkan badan. “Kek, siapa dia? SIAPA KAU!?
Terus golok itu untuk apa? Jangan! Jangan! TIDAKK!”
teriaknya, dan tampaknya Alea tidak mendengar jeritan
tragis tersebut.

***

12
Andi Faizal

“Maaf menunggu lama, Neng.”

“Iyyaa … ng..nggap..papa, Kek.” Alea melanjutkan


“Teman saya kemana yah, Kek?” ia berusaha bersikap
biasa pada si kakek.

“Tadi dia bilang mau pipis. Paling bentar lagi juga


datang.” Senyumnya ramah. Tapi bagi Alea itu sangat
menyeramkan. “Di makan dulu makanannya, Neng. Itu
tehnya juga di minum yah!”

Alea hanya mengangguk dan meminum teh


buatan si kakek. Alea menunggu Fras yang tak kunjung
datang sambil ngobrol dengan kakek dan melihat-lihat
sekitar. Namun, setelah ia memandang lukisan seram di
dinding, ia membalikan tubuhnya dan apa yang terjadi.
Si kakek berubah menjadi sosok menyeramkan seperti
yang ada di lukisan.

“Tidak, tidak! Jangan mendekat! Kubilang


JANGAN MENDEKAT! Sudah kuduga sebelumnya, kau
bukanlah manusia. Mana mungkin ada manusia hidup
di tengah hutan ini,” tukas Alea. “Toloong …, Frass, aku
takut,” lanjut Alea.

“Hahaha … kau belum menyadari juga rupanya.


Baik, akan kuberitahu. Temanmu sudah lenyap. Haha …
dan lihat apa yang kaumakan? Itu adalah tubuhnya.
Dan minumanmu, minumanmu adalah darah segarnya.”
Tawa makhluk itu membuat nyali Alea semakin menciut.
Sungguh tawa yang tak mengenakan di hati. Terlihat liur

13
Jeruji Sunyi

itu mengalir dari rahang monster di depan Alea. Dengan


mata tidak pernah kedip dan selalu melotot. Membuat
Alea hampir pingsan.

Dia melihatnya sendiri. Mangkuk kuah itu


terdapat jari tangan dan bola mata manusia. Sedang di
gelas yang sempat ia minum itu berubah menjadi merah.
Bahkan di mulut dan bibirnya masih tersisa, seperti
sehabis minum darah.

“Kau pasti bohong. Di mana Fras, temanku?”


Tanpa menunggu jawaban, ia berlari keluar dari gubuk
menakutkan milik si kakek satan. Namun di pinggir
pintu gubuk itu, ia melihat sebuh buku. Buku yang tak
asing lagi baginya. Adalah buku primbon yang pernah ia
baca. Ia berhenti sejenak dan mengambil buku tersebut.
Namun kali ini berbeda, yang ada di buku tersebut
semuanya mantera. Tidak ada cerita rakyat satu pun.
Karena sudah hapal letak halaman mantera mesin
waktu, ia langsung membuka lembaran terakhir.
Sebelum mebacanya ia sempat melirik mantera halaman
sebelumnya. Halaman itu berjudul “Penakluk Iblis”. Ia
segera membacanya di hadapan makhluk itu.

“Kau sang durjana. Kau sang penggoda. Kau yang


terkutuk. Kau yang akan musnah. Dengan kekuatan raja
lautan, tenggelamlah kau! Dengan raja daratan,
terkuburlah kau!” ucap Alea dengan bibir bergetar sambil
menunjuk ke arah setan terkutuk itu. Seketika tanah di

14
Andi Faizal

bawah setan itu pun terbuka. Lalu memakannya dan


kembali tertutup.

Alea masih tidak bisa menerima kepergian


sahabatnya. Seolah tak percaya dengan apa yang
barusan ia alami. Kemudian ia berusaha mencari
mantera yang bisa menghidupkan orang mati. Tetapi tak
ada satupun mantera yang bisa menghidupkan orang
yang sudah meninggal. Mungkin ini kehendak Sang
Kuasa.

“Al!”

“Frastio, kau masih hidup?”

“Kau berhasil melenyapkannya. Mungkin itu


penyebab aku hidup kembali. Kau memang pemberani,
Al. Aku salah menilaimu” Fras melanjutkan. “Ya sudah,
Al. Baca gih mantera mesin waktunya, aku udah capek
nih.”

“Yaah … padahal aku mau pergi ke Bandung


Kota.” Alea memelas.

“Ya udah, terserah kamu.”

***

15
Jeruji Sunyi

TEROR VAMPIR

Burung-burung gereja berkicau riang. Embun


yang bening nan elok bergelayut lembut. Begitu tenang
dan menentramkan hati. Mentari pagi menyapa,
tersenyum cerah secerah hati, jiwa dan raga siswa SMA
Cemara Indah. Kali ini, sekolah swasta digegerkan oleh
kedatangan siswa baru dari kota. Selain memiliki wajah
rupawan, ia juga memiliki tubuh yang menawan. Wajar
saja jika seisi sekolah menjadi heboh. Dan jika seseorang
memandangnya pasti akan terhipnotis oleh ketampanan
dan tatapan matanya yang memikat.

“Eh, Rin. Apa itu anak barunya?”

“Iya kali, soalnya gue enggak pernah lihat dia


sebelum ini.”

“Ganteng juga yah, kayak bule-bule gituh.”

“Huh. Dasar, Lo. Muka pucet gitu dibilang


ganteng,” timpal Sarah.

16
Andi Faizal

“Yee... sirik aja, Lo. Kalo suka bilang aja, gak


usah sok-sokan gituh,” jawab Ririn sambil
memanyunkan bibirnya. Sarah hanya tersenyum melihat
kelakuan sahabatnya itu.

Semenjak kedatangan anak baru itu seisi sekolah


menjadi riuh. Bukan hanya kaum siswi, kaum siswa pun
banyak yang ingin dijadikannya anggota geng. Tidak
sedikit pula guru yang terpana melihat ketampanannya.
Kalau bisa dibilang, dia mirip dengan Robbert Pattinson,
aktor film Twilight. Bola matanya yang kecoklatan,
rambut pirangnya yang dibiarkan terurai, serta tubuh
tegak membuat ia menjadi idola di sekolah barunya.
Namanya Erick Ardiansyah, anak dari keluarga yang
entah dari mana asalnya.

Sementara itu, Sarah yang mengaku tidak akan


tertarik pada siswa baru itu, justru sering melamuni
wajahnya. Apa itu berarti Sarah juga suka pada Erick?
Sebelumnya ia tidak pernah merasakan getaran
semacam itu di hatinya. Seperti ada yang selalu
memaksanya untuk berjalan melewati kelas XI IPS 4,
tempat Erick berada. Bahkan tiap kali bertemu, Sarah
selalu memberikan senyuman padanya. Walaupun hanya
sesekali Erick membalas senyuman manis Sarah.

***

17
Jeruji Sunyi

“Rin, gue mau ngomong sesuatu. Mm... Gue suka


sama Erick. Tapi gue bingung harus bilang apa sama
dia.”

“Tuh kan, bener. Udah deh jadi orang tuh jangan


naif,” Ririn melanjutkan. “Kalo boleh usul sih, Lo kirimin
aja dia surat cinta. Jadi, Lo kan nggak usah ngomong
langsung. Gimana?”

“Hmm, ya udah deh. Gue coba. Lo memang


sahabat terbaik gue, Rin,” ujar Sarah sambil mencubit
pipi Ririn.

Ririn agak kesal, namun tersenyum.

Setelah mendapat saran dari Ririn, ia pun mulai


memikirkan kata-kata yang akan ia gunakan untuk
membuat surat cinta. Waktu istirahat ia manfaatkan
untuk menulisnya. Berlembar-lembar ia gunakan,
sampah berserakan di mejanya. Namun belum ada satu
surat pun yang ia lipat. Karena dirasa belum ada yang
sreg di hatinya. Ia menyobeknya dan mulai menulisnya
lagi dari awal. Terhitung sudah sebelas kali ia robek, dan
tulisannya yang ke dua belas itulah yang dianggapnya
sudah sreg.

Jam istirahat ke dua, ia mengajak Ririn


menemaninya mengantarkan surat itu. Ia tidak perlu
memberikan langsung kepada Erick. Ia hanya
menaruhnya di lipatan buku Erick kemudian diletakkan
di atas mejanya.

18
Andi Faizal

Pada jam istirahat Erick memang sering


mengurung diri di kelas. Tetapi ia dan Ririn akan setia
menunggu Erick keluar. Entah mengapa Erick lebih
suka di dalam ruangan. Keluar kelas hanya sekedar
pergi ke toilet. Toiletnya pun kebetulan dekat dengan
kelasnya, hanya disekat oleh laboratorium IPA. Setiap
senin ia tidak pernah mengikuti apel upacara, tidak
mengikuti jam olah raga dengan alasan sakit dan pulang
sekolah selalu menjelang magrib. Selain tidak suka sinar
matahari, ia juga tidak suka – lebih tepatnya takut pada
bawang putih. Namun teman-temannya tidak mau ambil
pusing. Banyak orang yang tidak suka panas-panasan
dan bawang putih. Dan bukan hal aneh lagi di negeri ini.

“SAATNYA JAM KE LIMA DIMULAI.”

Bunyi bel sudah berkoar. Bel yang dirancang


menjadi suara perempuan itu memang tidak asing lagi di
sekolah-sekolah umum. Peraturan di sekolah itu cukup
tertib dan teratur. Walaupun berada di desa, sekolah ini
menjadi sekolah terfavorit di daerah pegunungan
tersebut. Terbukti saat bel berbunyi tidak ada siswa pun
yang berseliweran di luar kelas. Begitu bel berbunyi
semuanya sudah ada di dalam kelas dan sudah siap
menerima pelajaran. Begitu pun dengan Erick, walaupun
ia terbilang baru, ia mampu beradaptasi dengan cepat.
Ini karena kebiasaan di sekolah dulunya dilatih tepat
waktu dan profesional, tentunya selain upacara dan olah
raga.

19
Jeruji Sunyi

Setibanya di kelas, ia melihat amplop pink di


lipatan bukunya. Ia tidak langsung membacanya karena
KBM sedang belangsung. Jadi ia putuskan untuk
menyimpannya di kolong meja.

Setelah KBM berakhir, ia lalu membaca surat itu


secara teliti dengan bibir tersenyum. Melihat Erick
membuka dan membaca suratnya, Sarah merasa
usahanya tidak sia-sia. Ada rasa gembira di hatinya yang
tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hanya bisa
dirasakan dari hati ke hati.

02 Januari,

Tibalah hari terindah bagi Sarah. Sejarah yang


tak mungkin ia lupakan. Kejadian yang selalu dalam
ingatannya. Ulang tahunnya yang ke-17 di rumah
neneknya malam minggu ini. Karena rumah neneknya
lumayan nyaman dan cukup luas untuk menampung
seluruh teman-teman seangkatannya. Hampir semua
undangan hadir. Tidak ketinggalan laki-laki yang
menjadi dambaannya pun turut hadir pada acara itu.
Erick terlihat lebih tampan dari biasanya dengan sweater
dan celana jin hitam yang ia kenakan.

Setelah menyanyikan lagu happy birthday dan


pemotongan kue. Para tamu undangan yang membawa
kado disuruh memberikannya kepada Sarah. Mulai dari
Ririn, ia memberi sebuah kaus yang sama seperti yang
sedang ia kenakan, kaus couple.

20
Andi Faizal

“Maaf yah, kadonya belum sempet aku bungkus,


hehe,” ujarnya.

Disusul beberapa temannya yang lain. Namun,


kado yang Sarah tunggu adalah kado pemberian dari
Erick. Tampak Erick tidak membawa satu kado pun.
Sarah bergeming di depan hadirin sambil menatap lekat
tubuh Erick.

Tiba-tiba Erick mendekati Sarah dan berhenti


tepat di hadapan Sarah. Terkejut bercampur bahagia
lebur menjadi satu. Ia tidak mampu berkata apapun dan
menunggu Erick memulai pembicaraan.

“Selamat yah.”

“iya...”

“Sar, aku sudah membaca suratmu. Sebenarnya


kau tak perlu mengirim surat itu padaku. Karena aku
juga sedang menunggu hari istimewamu ini untuk
mengutarakan perasaanku padamu,” Erick menghela
napas ‘wussh’. Semua hadirin diam dan suasana
menjadi senyap. “Sebenarnya aku juga memiliki
perasaan yang sama sepertimu. Iya, aku suka padamu.
Aku mencintaimu, Sarah. Maukah kau jadi kekasihku?”
imbuhnya.

Sunyi.

Lima belas detik kemudian, dengan wajah


berseri-seri Sarah menganggukan kepalanya penuh

21
Jeruji Sunyi

keyakinan. Sontak para tamu undangan riuh dan


bersorak gembira. Acara pun dilanjutkan hingga pukul
sepuluh malam.

***

“Hah, minggu depan?! Yang bener saja. Kok


dadakan gini yah.”

“Lihat, ini juga tertulis agar siswa segera


melunasi administrasi dan mempersiapkan peralatan
kemah,” ujar Sarah.

Seperti yang telah disepakati oleh guru-guru


bahwa kegiatan kemah akan diselenggarakan jumat
mendatang. Karena dirasa sudah agak telat sekolah itu
menyelenggarakan kegiatan kemah, maka kegiatan
tersebut dilaksanakan secepatnya. Para panitia
pelaksana memberikan kesempatan satu minggu kepada
siswa untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Satu minggu berlalu.

“Apa semuanya sudah siap? Perlatan masak,


tenda, alat mandi, alat shalat dan anggotanya sudah
komplit?” tanya panitia kemah.

“Sudah, Pak,” jawab serentak.

“Oke. Sebelum kita berangkat, alangkah baiknya


jika kita berdoa dahulu supaya dihindarkan dari hal-hal
yang tidak diinginkan. Berdoa dimulai!”

22
Andi Faizal

Perjalanan tidak memakan waktu lama, karena


memang daerah sekolah tersebut termasuk pegunungan.
Hampir seluruh siswa kelas sepuluh dan sebelas
mengikuti kegiatan tersebut. Hanya beberapa saja yang
tidak ikut karena sakit.

Setelah sampai, mereka langsung mendirikan


tenda untuk tidur nanti malam.

Malam harinya, saat binatang kecil bersautan.


Saat serigala mengaung di tengah bulan. Saat dinginnya
malam menusuk kulit. Sarah melihat penampakan sosok
manusia menyeramkan.

“AAHH..!, Pak Budi, Pak Budi, aku takut.”

Pak Budi pun datang seketika itu.

“Barusan aku melihat sosok manusia


menyeramkan bermata merah menyala. Wajahnya
sangat pucat dan di sisi kanan dan kiri mulutnya keluar
taring. Aku takut, Pak.” Sarah mengadu pada pak Budi,
selaku ketua panitia kemah.

“Di mana? Orang di sini nggak ada apa-apa.”

“Di sana, Pak. Di tenda laki-laki,” tunjuk Sarah.

Setelah mendengar berita itu, Pak Budi kemudian


mengumpulkan para siswa. Beliau menceritakan apa
yang barusan terjadi. Namun setelah salah seorang
warga mengatakan tidak ada apa-apa, barulah semua
orang merasa lega.

23
Jeruji Sunyi

“Mungkin murid bapak hanya mengigo.


Sebelumnya, belum ada kejadian penampakan atau hal
semacam itu di sini. Memang kalau orang kecapekan
akan mudah memikirkan hal-hal seperti itu. Apalagi
jauh dari keluarga,” terang warga. “Jangan khawatir,
kalau ada apa-apa langsung hubungi saya. Kebetulan
rumah saya tidak jauh dari sini,” lanjutnya.

Pak Budi kemudian membubarkan anak-anak


dan menyuruhnya untuk segera tidur, karena memang
malam sudah sangat larut.

“Hey, Rik. Dari mana, Lo?”

“Habis dari kamar mandi,” jawab Erick.

“Eh, barusan pak Budi ngomong kalau ada


makhluk seperti vampir di tenda kita. Lo percaya
enggak?”

“Ah, gue sih udah enggak percaya sama hal-hal


begituan.”

“Hufft... ya udah deh, ngapain juga mikirin hal


itu, nggak penting. Hoam ... gue tidur duluan yah,
ngantuk berat nih.”

Erick tidak menjawab.

Sore harinya, setelah kegiatan hari itu selesai.


Para peserta memanfaatkan waktu luangnya untuk
mandi, makan, masak-masak dan bernyanyi dengan
gitar yang mereka bawa. Kala itu, Sarah, Ririn dan

24
Andi Faizal

anggota yang lainnya sedang berkumpul di depan tenda.


Mereka sedang menanak nasi untuk makan malam.
Tiba-tiba Erick datang dengan wajah berseri-seri.

“Hey, Sar, jalan-jalan yuk!”

“Hayuk, kemana?”

“Lihat-lihat pemandangan daerah sini aja.”

“Eh, Guys, gue pergi dulu yah. Bentar doang


kok,” tanya Sarah pada anggotanya.

“Ya-ya-ya. Jangan macem-macem yah!” jawab


Ririn.

“Siap Bos!”

Kemudian sepasang kekasih itu berlalu sambil


bergandengan tangan. Tibalah mereka pada sebuah batu
besar. Mereka duduk di atasnya yang di bawahnya
terdapat aliran sungai kecil tembusan air terjun. Mereka
berdua terlihat sangat bahagia. Tertawa lepas seolah
tanpa beban sedikitpun.

Tiba-tiba Erick merapatkan duduknya. Mula-


mulanya mereka hanya berpegangan tangan. Erick
kemudian berusaha mendekatkan wajahnya ke wajah
Sarah. Sarah pun mengetahui maksud Erick. Ia
berusaha bersikap wajar, karena sebelumnya dia belum
pernah melakukan adegan tersebut. Ia memejamkan
matanya. Agak lama Sarah menunggu serangan Erick.

25
Jeruji Sunyi

Kemudian ia membuka matanya penasaran, “Jangan-


jangan Erick mengerjaiku” pikirnya dalam hati.

Malapetaka menimpa Sarah. Erick yang semula


mendekati wajahnya. Kini berpindah mendekati
lehernya. Ia mendapati Erick dengan wajah yang berbeda
dan menyeramkan. Wajahnya lebih pucat, matanya
merah menyala, serta gigi taringnya keluar dari kedua
sisi mulutnya. Orang itu hendak menghisap leher Sarah.
Tidak diragukan lagi, dialah Vampir semalam.

“Oh, tidak. Apakah dia Erick yang sebenarnya?


Apakah aku mencintai seorang Vampir? Ataukah Vampir
itu menjelma menjadi sosok Erick?” gumamnya. Ia tidak
mengetahui itu siapa. Yang jelas, ia sangat ketakutan
kala itu.

Sarah berusaha mendorongnya. Tetapi


kekuatannya tidak cukup kuat untuk menjatuhkan sang
penghisap darah di depannya. Dan bahkan Vampir itu
memeluk tubuh Sarah hingga Sarah tidak dapat
bergerak. Sarah kalap minta tolong sambil berusaha
melepaskan jeratan itu. Saat taring Vampir itu
menyentuh leher Sarah, seseorang menariknya
kemudian memukul sang Vampir dengan sebuah batu.
Vampir itu terjatuh dan terbangun kembali. Ia dihajar
sekali lagi hingga terjatuh lalu pingsan.

26
Andi Faizal

Setelah melihat orang yang menyelamatkannya


adalah kekasihnya, Sarah kemudian berlari dan
memeluknya.

“Jangan takut, dia tidak akan membunuhmu. Dia


hanya kehausan. Dia adalah Vampir yang selalu
menerorku dan orang terdekatku. Kamu cukup
membawa bawang putih setiap bersamaku. Maaf aku
baru memberitahumu sekarang.”

Sarah tak menjawab. Air matanya meleleh,


tubuhnya bergetar dan pikirannya kalut. Erick kemudian
menenangkan Sarah dengan mengeratkan pelukkannya
dan membenamkan kecupan manis di kening Sarah.

***

27
Jeruji Sunyi

DARAH PERDAMAIAN

Badai menggila menggetar cakrawala, laksana


goncangan bara api keluar dari perut bumi memecah
keheningan malam. Ibunya menenangkannya dengan
pelukan hangatnya. Ia meringkuk di ketiak ibunya. Tetes
demi tetes air hujan menyerbu genteng rumah.
Membasahi daratan bumi pertiwi, hingga terdengar
suara mengganggu gendang telinga. Diringi kerasnya
suara guntur dan kilat petir yang menyilaukan mata.
Malam begitu cepat. Adzan subuh membangunkan dua
insan yang tengah berpelukan. Ialah Mali Abdul Malik,
anak kecil berkulit sawo matang bersama ibunya.

Embun pagi mulai menampakkan


keberadaannya. Ia begitu cantik, bening nan lembut.
Mali kecil berjalan dengan langkah gontai pergi ke
sekolah yang berada di desa seberang. Memang agak
jauh dari rumahnya, namun kaki kurusnya mampu

28
Andi Faizal

berjalan puluhan kilo demi satu kalimat bahkan satu


kata bernilai ilmu.

Di usianya yang ke sepuluh, Mali menduduki


kelas lima sekolah dasar dan selalu masuk peringkat
sepuluh besar di kelasnya. Ia tahu kalau desanya sedang
berseteru dengan desa seberang. Perseteruan ini bermula
dua minggu yang lalu, saat warga desa Ketcrek, desa
Mali, membunuh pedagang desa Gethuk karena merasa
ditipu. Karena itulah ia berangkat ke sekolah melalui
persawahan dan semak-semak. Ia takut warga desanya
mengetahui keberangkatannya. Setelah melewati dedaun
dan reranting kering ia sampai di sekolah dalam keadaan
berkeringat, bau serta sepatu penuh dengan lumpur.
Dilihatnya sekolah tua itu. Dindingnya mulai tak
berbentuk. Lubang sana-sini. Serta cat-nya mulai
memudar dari warna aslinya. Dan mungkin sekolah itu
seumuran dengan kakek buyutnya.

Di kerumunan teman-temannya ia mendengar


berita bahwa salah seorang warga Ketcrek dihabisi oleh
warga Gethuk di persawahan. Menurut anak yang
bercerita barusan, orang itu dihajar dengan batu besar
dan benda tajam. Mayatnya berlumuran darah. Terdapat
juga bekas sayatan golok di punggungnya. Sungguh
mengenaskan. Setelah mendengar berita itu, wajah Mali
memerah seraya mengepalkan tangannya sekuat tenaga.
Namun ia segera sadar bahwa api tidak akan padam oleh

29
Jeruji Sunyi

api. Api akan padam oleh siraman air. Begitu juga dalam
hal ini, Mali menanggapi amarahnya dengan siraman air
kesabaran dan senyuman. Ia sebenarnya tidak sadar
akan sikapnya sendiri. Mungkin itu adalah sikap
alamiah dari seorang Mali.

Sepulang sekolah ia kembali dikejutkan oleh


sebuah bendera kuning di depan rumahnya. Ah ya,
orang yang dihabisi adalah ayahnya. Ia melihatnya
sendiri. Sungguh mengenaskan. Ayahnya ditemukan di
pinggir sungai. Tetes demi tetes air mata menghujam pipi
Mali. Ia menangis dan seluruh keluarganya juga
menangis. Isak tangis yang begitu memilukan. Mali
sadar ia bukan siapa-siapa.  Ia hanya anak kecil seorang
petani bertubuh kerdil, bisa apa. Namun tekadnya begitu
kuat. Cita-citanya sangat mulia. Menyatukan dua desa
yang berseteru. Dua desa yang sedang berkobar oleh
ganasnya api amarah. 

Setelah prosesi pemakaman, kakak Mali,


Syu'aib, mengacungkan sebilah pedang terhunus.
Menyatakan perang ….

Tibalah keesokan harinya. Saat mentari


memunculkan semburat sinarnya.  Warga desa Ketcrek
berbondong-bondong hendak menuju desa Gethuk.
Masing-masing membawa senjata dan batu. Dari
belakang tiba-tiba Mali berlari menuju kakaknya.

30
Andi Faizal

"Kak, sudah Kak …. Biarkan saja.  Kalau kita


membalasnya masalah ini tidak akan selesai dan justru
akan menambah rasa kebencian pada diri kita.  Aku
mohon, Kak!" rajuk Mali sok bijak di sela-sela amarah
kakaknya yang tengah membeludak.

"Kau ini ngomong apa? Apa kau rela ayahmu


dibunuh seperti itu?  Hah? Rela?!" bentak Syu'aib.  
"tapi ....” Belum sempat menyelesaikan
ucapannya, kerah Mali diangkat ke atas kemudian tubuh
kecilnya dilempar ke tanah. Ia tersungkur lalu menangis
lebih kencang.

Ternyata warga Gethuk mengetahui rencana


Syu'aib. Mereka juga sudah menyiapkan pasukan tak
kalah banyaknya. Tanpa isyarat lagi, kedua kelompok itu
melangkah dengan wajah menyeramkan. Dan
peperangan pun terjadi. Sungguh sangat disayangkan.
Dua desa yang sangat disegani oleh desa lain, justru
memberikan contoh yang tidak baik.

'Sleeb'. Sebilah pedang menusuk orang bawaan


Syu'aib. Darah berceceran di jalan. Terlihat lima mayat
tergeletak di sana. Empat di antaranya mayat warga desa
Gethuk. Namun pertarungan Syu'aib belum usai. Ia
memegang pedang tajam, merindik dari arah belakang
warga seberang. Ketika ia hendak menusuk warga
seberang dari belakang, tiba-tiba 'BRAKK!' sebuah batu
besar mengarah kepalanya. Syu'aib tergeletak tak

31
Jeruji Sunyi

berdaya. Melambaikan tangannya. Matanya mulai redup.


Dan tewas.

Dua minggu berlalu. Mali kembali riang bersama


teman-temannya. Mungkin ini berkat gurunya yang
sangat akrab dengannya, ialah Ibu Neneng. Ibu Neneng
selalu mendukung cita-cita Mali walaupun ada banyak
keraguan di benaknya. Suatu hari Mali mendapatkan
sebuah ide untuk mendamaikan dua desa itu. Yaitu
dengan cara mengirimkan surat kepada masing-masing
kepala desa. Suratnya pun berisi tentang permohonan
maaf dan ajakan musyawarah damai. Lalu ia bicarakan
kepada Ibu Neneng. Ibu Neneng menyetujuinya dan
bersedia menuliskan suratnya, walaupun ia tak yakin
dengan cara ini kedua desa tersebut bisa berdamai. Ia
menjanjikan surat itu akan jadi besok. Mali tersenyum
dan mengangguk gembira.  

Sepulang sekolah, seperti biasanya Mali dan


teman-temannya bermain kejar-kejaran. 

"Ned, Ned! Awas di belakang kamu ada Mali tuh!"


teriak Irfan menunjuk ke arah Mali. 

"Haha... Kena kau!" ujar Mali sambil menepuk


pundak Juned. "Sekarang tinggal satu lagi. Fan, kamu
nyerah aja lah. Aku sudah capek nih" teriak Mali dengan
napas terengah-engah. 

32
Andi Faizal

Namun Irfan mengabaikannya. Ia tetap lari tanpa


melihat ke depan. Mali masih mengejarnya dengan
tergopoh-gopoh. 

Tiba-tiba dari arah kanan Irfan, Mali melihat


sebuah kereta api melaju dengan cepat. Sedang Irfan
berlari menuju rel kereta yang tak berpintu itu. Mali
memanggil lebih kencang berusaha memberitahu. Tetapi
Irfan tak mendengarnya. Kemudian ia memutuskan
berlari lebih cepat. Ia dan kereta itu semakin dekat
dengan Irfan. Bahkan keduanya sama-sama berjarak tiga
langkah dari Irfan. Karena Mali yakin ia pasti kalah
cepat, ia memutuskan melompat agar lebih dahulu
sampai. 'berhasil' gerutu Mali dalam hati setelah
mendorong Irfan ke depan dengan kedua tangannya.
Irfan terlempar. Lututnya berdarah menghantam batu.
Kereta api masih terus berjalan dengan suara khasnya.
Setelah sebelumnya mengklakson beberapa kali. Namun
nasib malang menimpa Mali. Setelah melompat dan
mendorong Irfan, tubuhnya tertabrak kereta. Kereta itu
menghantam tepat di kepala Mali. Kepala Mali pecah dan
darahnya berceceran di sekitar rel dan gerbong kereta.
Tubuhnya terpental jauh menghantam pohon. Seketika
Mali tak bergerak. Ia menghembuskan napas terakhirnya
dengan sangat tragis.
Sehari setelah kejadian di rel, kepala Desa
Gethuk serta beberapa pengikutnya mendatangi keluarga
Mali. Ia merasa berhutang budi kepada Mali. Karena

33
Jeruji Sunyi

anak yang ditolong oleh Mali adalah anaknya. Ibu Mali


menyambutnya dengan hangat, tidak seperti warga lain
yang marah dengan kedatangan mereka. Kepala Desa
Gethuk juga membawa sejumlah uang sebagai rasa
terima kasih dan sikap peduli. Ibu Mali menerimanya
dengan berat hati.
Siang itu, saat matahari tepat berada di atas
ubun-ubun. Saat sengatannya membakar kulit.
Beberapa warga tengah berkumpul di rumah Mali
termasuk kepala desa Ketcrek. Ibu Neneng juga ada di
sana. Dan semenjak warga desa mengetahui warga desa
seberang berada di rumah Mali, warga desa berbondong-
bondong mendatangi rumah Mali. Sebagian dari mereka
merasa penasaran dan sebagian lainnya merasa sangat
marah. Percekcokan pun terjadi. Beruntung Ibu Neneng
berhasil mereda amarah para warga desa dengan sedikit
ceramahnya.
"Sebelumnya saya mohon maaf atas kelancangan
saya, tetapi ada hal yang harus saya katakan. Pertama,
apakah kalian harus terus seperti ini? Tak pernah akur.
Tidak malukah kalian? Sungguh saya merasa sangat
perihatin dengan kondisi sekarang ini. Kalian sudah
bukan lagi anak-anak, sudah dewasa bahkan ada yang
sudah tidak muda lagi." Ibu Neneng menghela napas
panjang. "Kedua, ini tentang Mali. Mali adalah salah
satu murid saya yang cerdas di sekolahnya. Tahukah
kalian, anak kecil itu mempunyai cita-cita yang sangat

34
Andi Faizal

mulia. Kalian tahu!? Ia sangat mengimpi-impikan


perdamaian dua desa ini. Dia bercita-cita menyatukan
kita, menyatukan dua desa yang berseteru ini. Dia hanya
anak kecil." Ibu Neneng menyeka ujung matanya. "Tapi,
sikap toleransinya sungguh sangat tinggi. Sementara
kita?" ujar Ibu Neneng sembari menghela napas panjang
'wuss'. "Bukalah hati kalian sedikit saja untuk Mali.
Tunjukkan kedewasaan kalian dan marilah kita
wujudkan cita-citanya." Dia tak mampu lagi
membendung air di matanya.
Setelah mendengar penjelasan Ibu Neneng kepala
desa pun menunduk. Dan semua orang menunduk.
Bahkan tidak sedikit orang yang menitikan air mata
karena terharu dan sadar akan sifat kekanak-
kanakannya.
"Bapak-ibu warga desa Ketcrek dan Gethuk
sekalian. Setelah mendengar penjelasan guru Mali
barusan, memang permusuhan ini tidaklah baik dan tak
ada gunanya. Justru kalau kita berdamai pasti akan
lebih indah dan tentram, bukan. Tanpa darah, tanpa
perang. Hidup rukun bertetengga, membangun
masyarakat yang selalu dihinggapi sikap toleransi. Saya
perwakilan dari desa Gethuk meminta maaf yang
sebesar-besarnya atas perlakuan kami. Saya harap
kalian sudi memaafkan kami dan kembali menerima
kami sebagai tetangga desa kalian," ujar kepala desa
Gethuk.

35
Jeruji Sunyi

Setelah semua saling memaafkan, kedua kepala


desa yang hadir berjabat tangan dan berpelukan.

***

36
Andi Faizal

MEMBENCI KERINDUAN

Aku berdiri di atas jalur layang Ibu Kota.


Menyaksikan hiruk-pikuk nafsu dalam secawan anggur
kebusukan dunia. Aromanya menyengat. Mengundang
pecandu durjana mereguk obat mematikan itu. Penuh
nikmat mereka jalani kehidupan fana ini. Tanpa rasa
peduli ke mana mereka akan kembali. Sebetulnya derita
yang mendera mereka amatlah pedih. Derita terselubung
yang tak pernah mereka pahami.

Merenung adalah cara terbaik menyadarkan diri.


Namun, merenung tak selamanya menyenangkan.
Terkadang aku merasa kesepian adalah hantu. Setiap
detik menakutiku dalam kesendirian. Memang merenung
membutuhkan kesunyian, tapi kali ini berbeda. Hatiku
kosong, jiwaku hampa, dan pikiranku entah kabur ke
mana. Kucoba bercengkerama dengan angin malam.
Kudengar desaunya tanpa kutahu maksudnya. Lalu
kucoba bertanya lagi pada kerikil yang sedang
kumainkan. Mereka tak menjawab. Bisu seperti batu. Ya,

37
Jeruji Sunyi

mereka memang batu. Apakah tak ada seorang pun yang


mau kuajak bicara? Begitu bejatnya kah diriku? Oh,
Tuhan … aku memang bejat. Di mata mereka aku adalah
lelaki paling bejat. Mereka pikir aku rela mengakhiri
hidup ibuku sendiri. Aku bersumpah, sampai akhir
hidupku aku tidak akan pernah memaafkan setan rupa
manusia itu. Bajingan! Aku tahu dia pembunuhnya.
Bukan aku. Bahkan, kakakku sendiri telah terhasut oleh
mulut busuk itu. Bangsat! Tetapi tak seharusnya kau
mengusirku. Aku adikmu, Kak.

Tuhan, hanya Engkau Maha mengetahui, Maha


bijaksana.

***

“Kau tidak sendiri anakku, kau tak pernah


kesepian. Kesepianmu hanya saat kau merasa ibumu tak
ada di sampingmu. Yakinlah, ibumu selalu bersamamu.
Tak perlu kau bersedih. Apa yang sudah kau beri pada
ibumu saja sudah cukup membuatnya bahagia. Maka
tersenyumlah, Roni. Biarkan omongan mereka
tentangmu. Syukur kau tidak sampai masuk sel. Syukur
kau tidak sampai dikeroyok. Tenanglah, aku
bersamamu. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah.”

Roni bingung dari mana datangnya suara itu.


Suara yang tenang juga menyejukkan hatinya. Ia melihat
sekitarnya, hasilnya nihil. Tak ada seorang pun di sana.

38
Andi Faizal

Ia mencoba kembali bertanya pada kerikil dan angin. Tak


ada jawaban. Ia semakin panik.

“Siapa di sana?” teriak Roni.

“Aku di atas sini, anakku.”

“Siapa? Bulan? Kau mau berbicara denganku?” Ia


tersenyum sinis. “Seharusnya kau tak perlu berbicara
padaku,” seketika menunduk. “Aku tahu, pasti kau juga
akan seperti mereka. Awalnya percaya dan
mendukungku. Tetapi, setelah mulut busuk itu berhasil
mengahasut mereka, mereka pun kemudian mencaci-
maki dan mengusirku. Sudahlah, aku lebih suka sendiri
sekarang ini,” lanjut Roni.

Rembulan tertegun mendengar perkataannya.


Sekarang pasti hatinya sedang diguncang badai dan
petir, bukan hanya mendung ataupun hujan. Bahkan
rembulan pun tak mampu membuatnya bahagia.
Secercah senyuman yang hanya sepersekian detik itu
hanya formalitas belaka. Faktanya ia masih didera
nestapa yang mendalam. Bukan karena gunjingan
warga, tetapi ibu yang selalu mendengar keluh-kesahnya
tak bisa lagi memberinya solusi. Ibu yang selalu di
sampingnya kini telah terbaring di tanah.

Rembulan merasa iba kepadanya. Memang


kesendirian itu menyakitkan. Cukupkah rasa kasihan
mengobati duka di hatinya? Cukupkah hiburan yang
kusuguhkan malam ini dapat menghapus kesedihannya?

39
Jeruji Sunyi

Ia tahu, rasa empati dan simpati tidaklah cukup untuk


mencegahnya terjerumus ke lembah hitam penuh
kebohongan. Dia butuh pendamping yang setia. Bukan!
Bukan pacar ataupun seorang istri. Ia hanya butuh
seorang teman yang mengerti perasaannya.

“Aku mengerti keadaan dan perasaanmu, Ron.


Asal kau tahu saja, tiap malam aku sendiri tanpa
seorang teman sama sepertimu.”

“Sama sepertiku kau bilang? Kau masih punya


banyak teman. Matahari, mega dan bintang gemintang
itu buktinya,” kata Roni sambil menunjuk ke angkasa.

“Kau tak tahu. Bintang di sekelilingku hanya


fatamorgana belaka. Faktanya mereka jauh dariku.
Bahkan lebih jauh dari jarakku ke tempatmu saat ini.
Juga matahari yang bersedia menyinariku. Ia sangatlah
jauh, Anakku. Bahkan, hanya sekedar untuk
mengucapkan terimakasih padanya pun aku tak
mampu. Andai saja aku punya kekuatan mengubah
wujudku menjadi manusia, aku pasti akan
menemanimu. Aku janji. Di sampingmu, melukis sejuta
harapan yang telah kau bangun. Anakku, jangan kau
patahkan prinsipmu, jangan kau runtuhkan cita-cita
dan harapanmu hanya karena omongan jelek si
pembawa kayu bakar. Aku tahu kau punya kekuatan
mengubah hidupmu. Lebih hebat dari para penyihir yang
hanya memainkan tongkatnya sambil membaca mantra.

40
Andi Faizal

Kau punya pengalaman. Kau punya bakat melukis.


Lukislah harapanmu hingga ia menjadi sebuah lukisan
hidup yang kemudian menjadi teman saat kegalauan
menghinggapimu. Yakinkan dirimu, kau tidak sendiri.
Kau punya jutaan teman yang mau mendengarkan
keresahanmu. Ibumu. Jangan kau kuatirkan dia. Dia
sedang bahagia saat ini.”

“Rembulan, kau … terima kasih.” Guratan


keputusasaan kini berubah menjadi tampang ketegaran.
Namun ia tak mampu membedung air matanya. Butir
mutiara mata jatuh menerobos pipi keterpurukan. Jatuh
tanpa penghalang hingga hinggap pada dahan kecil.
Kesengsaraan akan segera musnah, dan kebahagiaan
akan segera datang. Ia mengepalkan tangannya dengan
sangat kuat dan penuh ketegaran.

“Terimakaasih, Rembulan. Kau benar, aku harus


terus mengejar cita-citaku. Kelak, aku yakin para
bajingan itu akan bertekuk lutut di depanku mengais-ais
ampunan dariku, dan menarik kembali perkataan –
pembunuh ibu tak pantas tinggal di desa ini. Aku
pastikan kau takkan pernah sukses, anak durhaka! –
busuknya itu,” ujarnya sembari menatap rembulan
penuh keyakinan.

***

Malam berikutnya ia sudah berada di tempat


yang sama. Menatap langit mencari rembulan kemarin.

41
Jeruji Sunyi

Bola matanya menari-nari mengerjap mengelilingi


samudera angkasa. Tetapi malam itu langit tengah
mendung. Awan hitam memeluk dataran Ibu kota
sembari menebar hawa dingin. Merangsek masuk tanpa
kompromi menusuk kulit hingga ke tulang.

Malam berikutnya ia datang lagi. Suasananya


masih seperti kemarin, Mendung, bahkan hujan lebat.
Tak ada sekelebat sinar rembulan pun. Ia bersimpuh di
bawah teras, berteduh menunggu hujan reda. Namun,
sang hujan enggan memenuhi keinginan Roni.

Apakah rembulan menitipkan salam untukku,


wahai Hujan? Apakah kau juga mengerti keadaanku?
Apakah tetesanmu itu tanda kau sedang ikut berduka?
Aku rasa tidak. Kau tak mengerti perasaanku.

Aku butuh teman setia sekarang ini. Rembulan,


kaulah temanku. Tapi kau ke mana? Aku benci kau!

Roni menggerutu. Bola matanya semakin panas


kala ia menyebut kata rembulan. Ia semakin geram.
Diambilnya beberapa kerikil, kemudian ia lemparkan ke
bawah. Tepat di bawah jalur layang itu jalan raya yang
tak pernah sepi pengendara. Ia tak peduli dengan nasib
para pengendara yang terkena lemparannya.

“Kau sudah janji, Rembulan. Kau sama saja


seperti mereka. Tak pernah mengerti perasaanku,”
bentak Roni sembari menatap langit penuh sinis.

42
Andi Faizal

Kekecewaannya kian memuncak. Ia berlari


membelah rintikan hujan sambil menangis. Berusaha
tetap tegar namun tidak bisa. Bayangan akan ibunya
masih terngiang-ngiang dalam benaknya. Sekarang ia
tinggal bersama pamannya, dan hanya pamannya lah
yang percaya padanya.

Lukisan-lukisan berjejeran di kamarnya. Namun


temanya tak pernah berubah, selalu tentang kesedihan
dan penderitaan. Hanya ada satu lukisan yang
membuatnya tersenyum dan bersemangat melanjutkan
hidup, adalah lukisan ibunya.

***

43
Jeruji Sunyi

PERGI DAN KEMBALI

Aku adalah seorang lelaki yang sudah beberapa


tahun ini mengidap penyakit putus asa. Hidupku
dihabiskan untuk merokok, mabuk dan judi. Tetapi
dalam hidupku tak pernah sekalipun menyentuh wanita.
Serius. Maksudku, dalam penderitaan yang menyakitkan
ini aku tidak pernah meniduri wanita manapun. Bagiku
wanita adalah intan yang tak ternilai harganya. Sekali
saja intan itu jatuh kemudian pecah, maka jatuh pula
harganya. Aku sangat menghargai dan menghormati
setiap wanita. Meskipun tak jarang para wanita malam
menawarkan dirinya unutukku. Meskipun ibu dan
kakak perempuanku tak peduli lagi denganku.

Hari terus berjalan, dan aku tak pernah tahu


cara melepaskan jeratan ini dariku. Siang hari
kuhabiskan untuk tidur dan malamnya kulempar dadu
nasib kebohongan sambil mereguk anggur kenikmatan
yang bahkan rasanya sungguh tidak nikmat. Paling tidak

44
Andi Faizal

air sengak itu mampu menghilangkan keresahan yang


selama ini menghantuiku. Keresahan yang tiap saat
kulakukan. Ya, aku merasa resah dengan kegiatanku
selama ini. Tentu, aku ingin kegiatanku kembali normal
seperti dua tahun yang lalu.

Banyak orang yang kecewa dan merasa iba


kepadaku. Mereka membandingkan kehidupanku yang
dulu dan sekarang. Aku tetap tidak peduli dan merasa
mereka tidak tahu apa yang kurasa. Jadi biarlah mereka
berkata apapun tentang diriku dan aku terus
melanjutkan hidup sebagai seorang pecundang.

Suatu malam saat orang-orang mulai


berbondong-bondong ke masjid, saat kokok ayam jantan
saling bersautan aku pulang dengan jalan gontai dan
mata setengah tertutup. Biasanya aku diantar kawanku
sampai ke rumah. Tetapi sekarang aku menolaknya
dengan alasan ingin tahu suasana pemukiman. Dalam
kondisi mabuk aku jatuh dan tertidur di depan rumah
orang yang entah siapa. Kemudian tiba-tiba aku
dikejutkan -lebih tepatnya dibangunkan- oleh seorang
wanita.

“Mas ... mas .., bangun mas. Mas menutupi jalan


keluar mobil.”

Aku tak menghiraukannya.

Wanita itu terus membangunkanku hingga aku


terbangun dan melihat suasana sudah cerah. Orang-

45
Jeruji Sunyi

orang bergurau ria dan sesekali kulihat lelaki


seumuranku sambil membawa anaknya sedang jogging.
Aku pernah melakukan situasi seperti ini. Dan
semuanya hilang. Pergi.

“Maaf, Mas. Bisa minggir dulu tidak? Mobilnya


mau keluar.”

Aku terbelalak. Wanita yang membangunkanku


sungguh sangat cantik. Meski berpakaian sederhana
kecantikannya tidak bisa disembunyikan. Sudah ribuan
kali kutemui wanita-wanita malam dan kuakui mereka
cantik dan menggoda. Tetapi wanita ini berbeda, ada
kedamaian saat aku memandang wajahnya.

Aku pulang sembari memikirkan dia, dan


berencana menemuinya sore hari.

***

Malam demi malam kulalui dan tak ada yang


berbeda kecuali wanita itu. Sore itu aku memang
mendatangi rumahnya. Tetapi waktu itu ia terlihat
sangat terburu-buru dan kami hanya berbincang-
bincang sebentar. Namanya Rahma usianya dua tahun
lebih tua dariku dan dia merupakan kepala rumah
tangga -janda- dan memiliki satu putra berusia lima
tahun. Hanya informasi itu yang kudapat dari pertemuan
pertamaku selain kusodorkan nomor ponselku.

Hampir setiap malam kita bertemu –kecuali saat


hujan- di teras rumahnya. Anehnya, tiap kali ia

46
Andi Faizal

menemuiku ia tidak pernah keluar dari pagar dan hanya


menemuiku di atas jam sebelas. Aku tidak peduli. Yang
terpenting bagiku adalah bertemu dengannya.

Mba Rahma –begitu aku memanggilnya- sangat


terbuka dalam segala perbincangan. Coba saja,
bagaimana aku tidak merasa nyaman, tiap kali
kuutarakan masalahku ia mampu menjawabnya dengan
bijak, tersusun dan telaten dalam memberikan nasihat-
nasihat sejuknya.

“Kamu hanya belum mampu menerima


kenyataan, Mas. Syarat pertama untuk menyelesaikan
masalah adalah dengan menerima masalah tersebut. Tak
ada seorang pun yang menginginkan ditimpa suatu
masalah besar. Kalau Mas mau tahu, dulu saya pernah
mengidap phobia akut. Awalnya saya juga hampir
frustrasi dan enggan meneruskan hidup. Tetapi
kemudian saya mencoba menerimanya, dan belajar
bersahabat dengan rasa mengerikan itu. Saya tidak
pernah memilih untuk hidup seperti itu. Tetapi poin
pentingnya bagaimana saya mampu menjalani hidup
dengan kondisi seperti itu.

“Jika mas sudah mampu menerimanya, langkah


berikutnya Mas harus mulai terbiasa dengan masalah-
masalah. Karena dengan dihujani masalah-masalah
menjadikan seseorang menjadi pribadi yang kuat, tegar
dan lebih dewasa.

47
Jeruji Sunyi

“Setiap manusia pasti pernah melakuan


kesalahan. Aku tahu masalah yang dihadapi Mas
sekarang merupakan masalah yang cukup sulit untuk
Mas maafkan. Tetapi bagaimana pun, ibu tetaplah ibu
dan kakak tetaplah kakak. Kelak, ada masanya semua
kebahagiaan yang kini telah pergi akan kembali
meskipun dalam wujud yang berbeda.”

Awalnya aku paling tidak suka diceramahi atau


dinasihati. Entah mengapa saat menyimak nasihatnya,
pandanganku terhadap semua orang berubah. Bahwa
dalam benakku, semua orang di dunia terlalu apatis
untuk hal-hal yang dianggap bukan tanggungjawabnya.
Padahal ada situasi di mana kita harus
bertanggungjawab terhadap kesalahan orang lain yang
bahkan tidak ada hubungannya dengan kita. Aku
menyimpulkan bahwa ada rasa yang berbeda pada
kondisi ini. Rasa diperbudak dan menerima atas segala
perkataan dan kekurangan – rasa cinta. Apapun yang
kita lakukan pasti akan merasa nyaman jika didasari
dengan cinta, meskipun hal-hal yang bertentangan
dengan kita. Ini berarti nasihat wanita berjilbab itu telah
masuk dalam hati dan mempengaruhi jalan pikiranku.

Sebulan berlalu aku dan Mba Rahma


berhubungan. Memang tidak ada hubungan spesial,
tetapi aku senang karena selalu ada tempat untuk
kucurahkan keluh kesahku. Dan ia bukan hanya
mampu mengubah jalan pikiranku, ia juga selalu

48
Andi Faizal

memotivasiku agar menjalani hidup yang lebih baik.


Yang pada akhirnya aku mulai membuka diri untuk
mencari pekerjaan dan kemudian bekerja di salah satu
proyek pembangunan. Meskipun kebiasaan merokok dan
minum-minuman belum enyah dariku. Paling tidak aku
sudah mampu menghentikan kebiasaan berjudiku.

Satu minggu berlalu aku bekerja dan belum


sempat menemuinya. Ada hasrat sejenis rindu ingin
kusampaikan. Aku berencana sore ini mampir ke
rumahnya walaupun hanya sekadar mengatakan aku
ingin menemuinya malam nanti. Aku ingin berterima
kasih kepadanya atas segala nasihatnya yang mampu
sedikit merubah gaya hidupku.

“Maaf, Mas. Ada yang bisa dibantu?” tanya laki-


laki tua pada sore itu.

“Saya ingin bertemu Mbak Rahma, Pak. Bisa


tolong panggilkan.”

“Maaf, Mas. Mbak Rahma sudah tidak bekerja di


sini sejak seminggu yang lalu.”

Hah ....

Aku merasa terkejut setelah orang itu


mengatakan –sudah tidak bekerja di sini-. Aku baru
menyadarinya kalau sebenarnya dia di sini sedang
bekerja. Mungkin itu alasannya mengapa ia hanya bisa
menemuiku di atas jam sebelas malam.

49
Jeruji Sunyi

Rasanya, untuk ke sekian kalinya aku kehilangan


sumber kebahagiaanku. Pertama, mungkin ini terdengar
seperti kisah-kisah di sinetron. Ayahku dibunuh oleh ibu
dan kakakku demi segenggam harta. Kemudian ibuku
menikah dengan lelaki lain dan kakak perempuanku
hidup bersamanya. Sebenarnya yang membuatku sedih
adalah kepura-puraan perlakuan ibu terhadap aku dan
ayahku. Padahal keluarga kita terlihat biasa-biasa saja,
dan bahkan bisa dibilang keluarga yang harmonis.
Kedua, saat harapanku kembali bangkit. Saat semangat
menjalani hidup kian beranjak. Perempuan pembangkit
jiwaku pergi meninggalkan tanpa jejak. Kutanya pada
orang tua itu, dia berkata tidak tahu alamat rumahnya
aku semakin bingung dan pikiranku mulai kacau.
Rasanya keputusasaanku hinggap kembali dengan
bentuk yang lebih besar. Semua nasihatnya hilang. Aku
hanya butuh dia.

Kekuatan cinta memang sangat besar, sangat


besar hingga nasihat yang kudengar dari bibir manisnya
langsung masuk dalam relung kalbu. Kemudian saat
penasihat itu hilang, hilang pula segala nasihat yang
pernah diucapkannya. Rahma benar, aku belum mampu
menerima masalah dan itu menjadikanku semakin tidak
dewasa. Ini memang salahku. Salah mengartikan
pertemuan yang kemudian menjadi bumerang untukku.

Semua kembali seperti sebelumnya. Aku yang


glamoris terhadap dunia. Bahkan lebih parah dari

50
Andi Faizal

sebelumnya. Rasanya tak ada hal lagi yang harus


diperjuangkan mati-matian. Semuanya pergi, dan aku
tidak pernah ikut dalam perginya suatu kebahagiaan.

Suatu saat ada panggilan tidak dikenal masuk ke


ponselku.

“Assalamu’alaikum, Mas?”

***

51
Jeruji Sunyi

AKU BOSAN HIDUP

Pagi ini hujan sangat deras. Petir seolah


menyuruhku untuk tetap di rumah. Tetapi bagaimana
dengan pekerjaanku? Apa aku harus bolos lagi? Sudah
dua hari ini aku tidak masuk kerja, bukan karena sakit
atau faktor cuaca. Ini karena perasaan bosan
menghinggapiku. Jenuh memang pekerjaan yang sedang
kujalani, seorang satpam di sebuah perusahaan yang
hampir bangkrut. Aku ingin pindah, tetapi aku tidak
mau jika harus berlama-lama mencari pekerjaan.
Kasihan keluargaku di rumah. Syukur aku masih
diterima kerja di tempat itu dengan hanya bermodalkan
tubuh kekar dan sigap.

Namun, tidak sepatutnya seorang anak laki-laki


pertama hanya bermalas-malasan di atas ranjang. Aku
masih punya ibu dan tiga adik. Ayahku meninggal saat
adik ke tigaku berusia dua bulan. Otomatis aku lah
satu-satunya orang yang diharapkan mampu

52
Andi Faizal

memperbaiki ekonomi keluarga yang kini tengah kritis.


Di samping itu, ibu terus mengeluhkan penyakitnya, dan
itu yang membuatku terus bersemangat. Tetapi kali ini
aku terpuruk, pekerjaanku terlalaikan. Aku masih ingin
kuliah. Dilema itu muncul saat geluduk berusaha
menghiburku. Selimut di sampingku kunaikkan ke atas
tubuhku. Mungkin dengan cara ini dapat membuat
keadaanku lebih baik. Ternyata tidak, aku malah
teringat wasiat ayah, “Man, nanti kalau bapak meninggal
kamu yang urus ibu dan adik-adikmu, ya? Jaga mereka.
Jangan mengurus dirimu saja. Bapak tahu kamu ingin
jadi orang besar dan sukses, tetapi kamu harus ingat,
kamu itu tulang punggung keluarga. Bukankah
membiayai adik-adikmu hingga menjadi sukses adalah
hal yang dapat menjadikanmu orang besar dan sukses?
Kesuksesan bukan hanya dilihat dari materi, tetapi saat
kau mensukseskan keluargamu kau berhak mendapat
gelar sukses.”

Kubalikkan badanku hingga telungkup. Kuteriak


sekencangnya pada bantal. Cara ini juga tak berhasil
melegakan suasana hatiku. Aku bimbang. Mengapa
dalam satiap keluarga anak pertama yang harus jadi
tumbal? Andai aku diberi sebuah pilihan, pasti aku akan
memilih jadi anak terakhir. Namun ini sudah takdir,
takdir yang menurutku tidak pernah adil. Aku bosan
dengan semua ini. Hidupku tak pernah bahagia. Selalu
saja ada yang membuat hatiku menangis. Putus asa.

53
Jeruji Sunyi

Apakah perjuanganku hanya sebatas ini? Apakah hidup


itu seperti ini? Tuhan, tolong beri aku petunjuk.

Hari-hariku semakin kacau. Bahkan sekedar


mandi pun enggan. Tak ada yang dapat kumakan selain
mie instan yang sudah kusiapkan sejak pertama nge-
kost. Merantau ke kota adalah pilihan terburuk bagiku.
Mungkin kata sebagian orang, kota identik dengan
sesuatu yang serba mewah dan serba ada. Tetapi bukti
yang aku jalani? Omong kosong. Memang di kota kita
dimanjakan dengan adanya barang-barang atau sesuatu
yang kita butuhkan. Tetapi itu tidak gratis. Merantau ke
kota tidak punya sanak saudara, uang atau pekerjaan,
aku jamin akan sengsara sama seperti yang aku rasakan
saat ini.

Aku keluar hanya untuk membeli rokok. Karena


rokok mampu membuatku lebih segar. Tetapi karena
rokok juga aku menjadi lebih malas. Hampir seminggu
aku tak bekerja, banyak yang bilang aku semakin kurus.
Wajar saja, aku hanya makan dua kali sehari tanpa nasi.

“Herman, sudah dua bulan kamu tidak bayar.


Masih ada orang yang mau menempati tempat ini. Kalau
selama dua hari ini kamu tidak bisa bayar. Ibu mohon
maaf jika harus menyuruhmu pergi dari sini.”

Suara ibu kost memecah lamunanku di teras


rumah. Logatnya memang lembut. Tapi bagiku itu
adalah sebuah teguran keras. Diriku seperti disambar

54
Andi Faizal

petir yang menghujamku berkali-kali. Aku hanya diam


sembari menatap ke arah lain dengan tatapan kosong.
Hatiku gelisah. Jauh-jauh datang dari desa hanya untuk
mempermalukan keluarga, dipecat karena malas bekerja
dan diusir gara-gara tidak punya uang.

“Ya sudah, kamu boleh tinggal di sini selama dua


hari ke depan. Tetapi setelah itu ... ibu tidak punya
pilihan lain, kamu pahamkan maksud ibu,” ucap ibu
kost sambil memberi isyarat kepadaku.

“Terima kasih, Bu.” Hanya itu yang keluar dari


mulutku.

Selang beberapa menit, aku pergi menemui RT


setempat. Pak RT hanya menyuruhku menemui Kyai
Amin. Dan benar saja, Pak Kyai menceramaiku. Dari
dulu aku tidak suka diceramahi, apalagi oleh para
mubalig acara di masjid. Menurutku itu sangat
membosankan, karena tema yang sering dibahas adalah
shalat. Sedang dari kecil aku sudah diajari tentang
shalat. Namun kali ini berbeda, tak ada satu ucapan
dalil pun yang keluar dari mulut Pak Kyai.
Kebijaksanaannya dalam bertutur kata membuatku
terhanyut dalam ucapannya. Mungkin beliau tahu kalau
aku memang sudah ada dasaran agama, jadi belau tidak
menyebutkan satu dalil pun.

Dengan wajah teduh, Pak Kyai menceramahiku,


“Nak Herman, di dunia ini Tuhan hanya memberi kita

55
Jeruji Sunyi

dua pilihan. Dan setiap pilihan mempuyai konsekuen


masing-masing. Jika tidak pilih putih berarti hitam.
Namun hidup bukan hanya soal pilihan, hidup juga
keyakinan. Keyakinan yang kita pilih mampu membawa
kita keluar dari lembah hitam. Tentunya pilihan yang
terbaik di mata Allah. Pilihlah yang membuat Nak
Herman dan orang lain senang. Jika salah satunya tidak
senang, maka ia bersedih atau bahkan membenci Nak
Herman.” Kata-kata Kyai Amin membuatku teringat
kembali kepada sosok ayah. Lalu beliau juga
menawarkanku untuk mengajar di pesantrennya. Aku
ragu, namun beliau memaksa jadi aku iyakan saja.
Lumayan buat nambah-nambah penghasilan, walaupun
niatku untuk mendekatkan diri pada Allah karena sudah
lama aku lupakan. Selain mengajar aku juga ditawari
menginap di pesantrennya. Kata Pak Kyai aku boleh
sambil kerja atau kuliah di luar pesantren, asalkan
malam harinya sudah berada di pesantren. Itu adalah
penawaran yang sangat aku sukai. Dan aku bertekad
akan memaksimalkan tawaran itu.

Hari-hariku di pesantren menjadi lebih percaya


diri, dan mencabut kembali perkataanku kalau takdir itu
tidak pernah adil. Takdir itu selalu adil karena yang
membuat takdir adalah Sang Maha Adil. Adalah hidayah-
Nya yang membuatku semakin lebih baik. Aku
memutuskan kembali ke pekerjaan lamaku, yaitu
satpam di tempat yang sama. Walaupun aku harus

56
Andi Faizal

bertemu lagi dengan kejenuhan. Tapi tak apa lah, toh ini
bagian dari skenario-Nya. Aku yakin di balik ini semua
ada hikmah yang terselubung.

Kembali, kebosanan menghinggapiku. Aku tidak


penah mengerti, apa rasa bosan dan kejenuhan itu salah
satu sifat manusia. Yang jelas aku sangat benci kedua
kata itu. Aku berusaha memaksakan diriku terus
melanjutkan kegiatan harianku seperti biasanya dengan
santai dan keriangan. Namun, hasilnya tetap sama.
Mungkin rasa bosan memang sifat asli manusia.
Keresahan ini pun aku ceritakan kepada Pak Kyai.
Sebenarnya aku sangat malu padanya, karena sudah
sering merepotkannya ditambah aku diperbolehkan
menginap di pesantren dengan cuma-cuma.

“Yup! Itu memang salah satu sifat manusia.


Tetapi solusi terbaiknya adalah kamu harus
menciptakan sesuatu yang baru yang dapat membuatmu
kembali bersemangat. Begini saja ... kalau kamu mau,
saya akan pinjamkan modal untukmu. Nanti kamu coba
buka usaha kecil-kecilan dulu. Kalau kamu lagi bosan
kamu bisa istirahat atau cari sampingan lain, seperti
melukis kaligrafi. Dengar-dengar kamu pandai membuat
kaligrafi, hasilnya lumayan besar loh.”

“Baik, Pak.”

Aku juga bingung apakah hanya aku yang cepat


mengalami bosan. Beruntung aku masih diberi petunjuk

57
Jeruji Sunyi

melalui kyai Amin. Dengan penuh ketelatenan beliau


membimbingku. Aku berjanji akan mengajar di
pesantrennya dengan maksimal. Tawaran itu aku terima
dengan baik. Aku memutuskan membuka warung di
wilayah pesantren itu, tentunya dengan izin beliau.
Warung itu buka dari pagi sampai malam. Aku hanya
menjaga warung dari pagi hingga sore. Setelah itu anak
yang senasib denganku menggantikannya.

Tiga bulan aku jalani usaha ini, dan usaha ini


berkembang hingga aku mampu mengganti pinjaman
Pak Kyai dan membangun warung lebih besar. Dan
anehnya rasa bosan itu tak pernah lagi hinggap pada
diriku. Aku tidak tahu mengapa, mungkin karena doa
dan arahan beliau. Kala warung sepi aku menggambar
kaligrafi seperti arahan beliau, dan benar saja uang yang
aku hasilkan lumayan untuk menambah pemasukanku.
Awalnya aku memasang kaligrafi itu di aula pesantrean
dangan cuma-cuma. Namun lambat laun pesanan kian
berdatangan, mulai dari para santri yang ingin menghias
kamarnya, rumah Pak Kyai hingga orang dari luar yang
sengaja datang untuk membeli kaligrafi dariku. Kaligrafi
aku jual mulai dengan harga dua ratus ribu sampai satu
juta rupiah, tergantung pesanan.

Mungkinkah ini hikmah dari perjalananku.


Terima kasih Tuhan, terima kasih Pak Kyai. Tiap bulan
aku mengirim uang kepada keluargaku. Aku juga sudah
memberi tahu ibu dan adik-adikku kalau aku sekarang

58
Andi Faizal

sedang bekerja−dalam bahasa pesantrennya adalah


ngabdi−di pesantren. Aku juga memasukkan dua adikku
ke pesantren ini, yang satu SMP dan satu lagi SMA.
Sebenarnya aku tidak tega juga meninggalkan ibu
mengasuh adik terkecilku sendirian. Tetapi karena
desakan dari ibu, aku pun menyetujuinya. Syukurku
pada-Mu, keluarga pamanku bersedia menemani ibuku.
Dengan adanya keluarga pamanku, sedikit melegakan
pikiranku.

***

“Assalamu’alaikum,”

“Wa’alaikumussalam.”

“Herman?”

“Oh, mau cari Kang Herman. Tunggu dulu yah!”

“Halo, siapa ya?” sambungku.

“Ini paman, Nak.”

“Iya, ada apa ya? Tumben sepagi ini paman


menghubungiku.”

“Ibumu meninggal tadi malam. Tolong secepatnya


kamu dan adik-adikmu pulang dulu.”

Deg, jantungku seperti berhenti berdetak. Darah


yang semula mengalir kini diam tak berdesir. Tak terasa
air mata jatuh ke pipi. Telingaku seolah ditulikan oleh

59
Jeruji Sunyi

bentakan petir. Suara paman di telepon nyaris tak


terdengar.

“Prakk!” telepon jatuh dan menggantung dengan


kabelnya.

Aku tidak percaya dengan kabar itu. Rasanya


baru kemarin aku kehilangan ayah, dan sekarang ibu.
Karena ada ibu aku bersemangat melanjutkan hidup.
Tetapi kini dia telah tiada. Entahlah, apa aku masih
tersenyum besok atau menangis sampai air mata habis.

Terdengar sayup-sayup suara paman


memanggilku. Kuangkat lagi telapon itu untuk
memastikan semuanya. Dan kabar itu memang benar
adanya. Ibuku meninggal.

“Baiklah, Paman. Kami akan segera pulang.


Wassalamu’alaikum.” Aku menutup teleponnya.

Setelah mendapat izin dari Pak Kyai, aku


langsung menemui kedua adikku. Pesan dari Pak Kyai
agar aku tidak memberitahu kabar ini kepada adikku
aku laksanakan, karena mereka pasti akan syok sekali.
Pukul sembilan kami sudah berada di terminal dan lima
menit kemudian kami naik bis jurusan Merak-Cirebon.

“Kenapa sih, Kak. Kok kakak sedih seperti itu?”


tanya adikku.

“Iya, kenapa juga harus pulang? Kan liburan


masih lama,” tanya adik laki-lakiku.

60
Andi Faizal

“Ciye, perhatian banget sih adik-adik kakak ini.


Hehehe ... kakak hanya merindukan ibu.”

“Aku juga sama, Kak. Aku rindu ... sekali ibu.


Rasanya aku udah ingin memeluknya setelah pulang
nanti.”

Hatiku kembali teriris kala mendengar celetukan


mereka. Air mataku meleleh di depan mereka. Aku
langsung mengusapnya, aku tidak mau terlihat lemah di
depan adik-adikku. Dari kecil aku dididik ayah untuk
menjadi seorang yang tangguh dan tidak cengeng.

“Kenapa kakak menangis? Aku salah bicara ya?


Maaf deh.”

“Enggak, Sayang. Hust ... kenapa kalian ikutan


menangis?”

“Habisnya kakak nangisnya sampai gitu banget


sih. Aku kan jadi terharu,” jawab adik perempuanku.

“Ya sudah, perjalanan kan masih jauh. Kakak


ngantuk, kakak tidur dulu ya?”

Aku hanya pura-pura memejamkan mataku agar


mereka juga ikut tertidur. Bagaimana aku bisa tidur,
kesedihan ini terlalu menyayat hatiku. Aku tak bisa
menahan laju air mataku. Walaupun mataku terpejam,
air mataku tetap mengalir. Terdengar bisik-bisik kedua
adikku. Aku dapat mendengarnya, mereka saling
menyalahkan. Setelah aku mendiamkan keduanya,

61
Jeruji Sunyi

mereka diam dan kusuruh juga mereka untuk tidur.


Pelukan kedua adikku cukup membuat hatiku tenang.
Dalam kesedihanku, aku berdoa semoga adik-adikku
kelak menjadi orang yang sholeh dan sholehah, sukses
dan bahagia.

“Lulu, Imam ... kita sudah sampai. Ayo turun!”

Kemudian kami memesan sebuah becak untuk


mengantarkan kami ke rumah. Dan benar saja,
terpasang bendera kuning di depan rumahku.

“Kak, kok rumah kita rameh? Ada bendera


kuning segala, emang siapa yang meninggal, kak?” tanya
Imam.

Aku tak menjawabnya, hanya menatap ke arah


kerumunan di rumahku. Aku tak mampu berkata apa-
apa. Mulutku seperti ada sebuah lem yang
merekatkannya. Sampai di depan pintu, pamanku
memelukku dengan tangisan pilu. Kedua adikku
kebingungan, kemudian mereka masuk ke rumah dan
melihat ibunya terbaring di sana.

“Ibuu ... Ibuu ..., ini bukan Ibu kan, Kak? Ibu kita
masih hidup kan, Kak?” Lulu sangat syok. Setelah
memeluk ibunya, ia jatuh pingsan. Ia belum bisa
menerima kepergian ibunya. Begitu juga dengan Imam,
ia menangis kemudian berlari menuju pantai yang
berada kurang lebih seratus kilo meter di belakang
rumah. Bahkan si kecil Fatimah pun ikut menangis

62
Andi Faizal

sejak pagi sampai di gendonganku ia baru terdiam.


Mungkin ia juga merasakan apa yang kurasa. Antara ibu
dan anak memang selalu ada kaitan. Bayi pasti ikut
merasakan kala ibunya sedang sakit, bertengkar bahkan
meninggal.

Ibuku dikebumikan setelah zuhur di pemakaman


di desaku dekat makam ayah.

Aku bingung. Aku berasa bosan kembali


kepadaku. Aku bosan hidup. Hidupku tak pernah
bahagia. Baru aku merasakan awan putih itu kemarin,
sekarang ia berubah menjadi hitam dan akan selalu
hitam sehitam kehidupanku. Hingga Sang Awan
menjatuhkan airnya ke bumi−menangis. Baru kemarin
aku tersenyum, dan sekarang air mataku kembali
menyapaku. Bukan hanya menyapa, bahkan ia sudah
seperti sahabatku yang akan selalu menemani di hari-
hariku yang penuh awan hitam. Entah kemana lagi aku
akan mengadu. Pak Kyai sudah banyak membantu. Yah!
Hanya kepada Sang Pencinpta. Akan kuadukan semua
ini pada-Nya. Mengapa Dia menimpakan cobaan ini
kepada kami setelah Dia beri kami nikmat yang begitu
banyak. Memang setiap manusia pasti akan meninggal,
tetapi kenapa sekarang? Saat kami sedang bahagia. Aku
kembali berpikir kalau takdir memang tidak adil.
Ampuni aku Ya Allah ....

63
Jeruji Sunyi

Hari-hariku semakin kacau. Hampa. Seisi rumah


tak ada senyuman pun. Selama seminggu ini aku hanya
berdiam diri di dalam rumah. Kadang keluar hanya
untuk membeli sesuatu. Kebiasaan saat aku bekerja
sebagai satpam pun kulakukan lagi. Pamanku selalu
menasehatiku, “Kamu itu anak pertama, tidak
sepatutnya kamu berlaku seperti ini terus. Apa kamu
ingin mengajari adik-adikmu menjadi orang malas?
Tentunya tidak, bukan. Kamu harus bangkit, Herman.
Jangan terus mengingat ibumu terus.” Tetapi aku tak
pernah menjawabnya. Aku juga ingin sekali bangkit dan
tidak mengingat ibu terus menerus. Aku juga ingin
kembali bekerja membiayai adik-adikku. Tetapi, entahlah
... entah kapan aku harus memulai itu semua.
Semangatku kini telah habis. Entah butuh berapa lama
lagi aku dapat membangunnya dari nol hingga kembali
seratus. Kunci semangat itu adalah ibuku.

Tak ada yang kukerjakan salama delapan hari ini


selain shalat dan tidur. Hingga datang sebuah telepon
dari pesantren Kyai Amin, “Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.”

“Bisa bicara dengan Herman?”

“Iya saya sendiri. Siapa yah?”

“Saya Amin pengasuh pesantren. Apa kabar, Nak


Herman?”

64
Andi Faizal

“Eh, Pak Kyai. Kabar saya baik. Maaf izin saya


terlalu lama, Pak. Insya Allah besok saya akan kembali
ke sana.”

“Enggak apa-apa, Nak. Saya mengerti perasaan


kamu. Kalau kamu besok mau datang ke sini nanti
sekalian bawa keluargamu ya?”

“Memangnya ada apa, Pak?”

“Besok saya mau menikahkan anak saya. Saya


harap keluargamu hadir.”

“Oh, baik, Pak.”

Setelah menutup telepon dengan salam, aku


langsung memberitahu paman dan seluruh keluarga
agar bersedia datang. Karena salah satu cara membalas
budi beliau adalah menyenangkan hatinya. Keluarga pun
setuju. Kami akan berangkat jam tujuh pagi. Sebenarnya
aku masih belum bisa bangkit dari keterpurukan ini.
Tetapi ini adalah pinta Pak Kyai, aku tidak bisa
menolaknya dan tidak mau mengecewakannya. Aku
yakin pernikahan puteri Pak Kyai akan berlangsung
meriah. Mungkin dengan menghadirinya senyumku
kembali merekah indah.

Sesampainya di rumahnya memang terlihat


sangat meriah. Alunan musik shalawat mengiringi
jalannya acara itu. Aku dan keluargaku datang
terlambat, kata Pak Kyai acara dimulai pukul sembilan
pagi. Seiring bertambahnya pengguna kendaraan,

65
Jeruji Sunyi

jalanan macet hingga memaksa kami untuk lebih


bersabar. Suatu keberuntungan bagi kami, acaranya
belum dimulai. Rombongan kami disambut baik oleh Pak
Kyai dan keluarganya.

“Maaf kami terlambat, Pak Kyai.”

“Tidak apa-apa, acaranya juga belum dimulai,”


ucap Pak Kyai dengan senyuman di wajah teduhnya.

“Apa pengantin prianya belum datang juga ya,


Pak?”

Pak Kyai menghela napasnya sejenak, “Jadi,


begini, Nak Herman. Bapak ingin menikahkan Aisyah,
anak bapak dengan Nak Herman. Kamu bersedia kan?”

Deg, jantungku berdebar kencang. Aku seperti


disengat listrik 220 watt. Kali ini bukan soal kesedihan
lagi, tetapi antara kegembiraan dan kebingungan. Aku
tak percaya.

“Pak Kyai serius? Tapi aku bukan siapa-siapa?”

“Kamu anak baik dan bertanggungjawab. Kamu


pantas menikahi anak saya.”

“Tapi, aku ....”

“Ini permintaan bapak, Nak Herman.”

“Baiklah, Pak. Saya setuju.”

Dan akad nikah pun dilaksanakan langsung di


depan Pak Kyai saat itu juga. Aku juga diberi sebuah

66
Andi Faizal

rumah dekat warungku yang setahuku rumah itu


memang untuk puteri dan mantunya. Aku juga
dibolehkan untuk kuliah setelah menikah. Kata beliau
aku juga harus jadi orang berpendidikan, dan itu
merupakan cita-citaku sejak dulu. Terima kasih, Pak
Kyai. Dengan apa aku membalas jasa dan pemberianmu.
Aku sangat malu padamu. Tetapi ini memang jalan
hidupku, jalan hidup yang penuh kebosanan. Karena
setiap perjuangan pasti ada hasilnya. Dan aku sudah
melalui perjuangan itu dan mendapatkan hasilnya.

***

67
Jeruji Sunyi

SEJUTA MAAF UNTUK IBU

Darah tumpah di hadapanku. Aku berhasil


membunuhnya. Dia adalah ketua preman kampung
Batok, namanya aslinya Abdul Halim. Namun ia terbiasa
dengan panggilan Bedul. Dia terkapar tak berdaya bagai
kambing yang disembelih. Tubuh gempalnya kini lunglai
setelah batu runcing berukuran besar menghantam
kepalanya. Batu itu kuambil dari belakang Bedul tanpa
sepengetahuannya.

Aku teringat kisah Nabi Daud yang membunuh


Raja Thalut hanya dengan beberapa batu kerikil.
Memang tak masuk akal, kalau melihat tubuh Raja
Thalut yang besar dan gagah terbunuh oleh anak kecil
dengan ketapelnya. Namun kembali, kuasa Tuhanlah
yang menentukan.

Begitu pun Bedul, walaupun dia ketua preman.


Walaupun dia bertubuh besar. Walaupun dia ditakuti

68
Andi Faizal

banyak orang. Tetap saja dia adalah manusia yang bisa


meninggal kapan saja. Karena maut itu bagaikan tamu.
Ya, tamu yang tak pernah diundang. Kemudian dari
sekian orang yang didatanginya, tamu itu membawa
bermacam hadiah untuk manusia. Bunga, cokelat, atau
bahkan membawa racun. Dengan wajah menyenangkan,
riang, atau menyeramkan. Tergantung bagaimana
manusia menyikapi dan memaknai arti kehidupan.

Selama dua hari aku mengurung diri di kamar.


Memandangi tembok tanpa hiasan, bergurau dengan
bantal, dan berdoa agar umurku segera dicabut. Aku
takut polisi datang dan membawaku ke penjara.
Keluargaku pasti sangat malu. Aku yang setiap magrib
dan isya berada di masjid. Aku yang terkenal dengan
seorang religius. Harus masuk penjara karena nafsu
setan merenggutku. Nafsu yang selama ini berhasil aku
lumpuhkan. Justru sekarang aku yang terlumpuhkan.
Apa kata orang nanti? Namun bagiku itu suatu
keharusan. Ini menyangkut harga diri, tanggungjawab
dan bukti kasih sayang. Tetapi aku tak pernah setuju
dengan konsekuennya. Aku butuh keadilan. Ya Tuhan,
hanya Engkau-lah mahaadil dan sebaik-baik hakim.

Adalah adikku, dari sekian keluarga yang


mengetahui berita itu. Dia pasti sangat syok sekali. Dia
melihatnya sendiri di depan mata dengan mulut
menganga. Itu terjadi saat aku dan adikku pulang dari
masjid seusai sholat isya. Waktu itu jalanan desa sedang

69
Jeruji Sunyi

sepi, hanya ada segerombolan pemuda sedang


nongkrong sambil memainkan gitarnya. Sepertinya
mereka sedang mabuk. Itu aku ketahui saat aku
melewatinya, tercium aroma anggur sengak dari tempat
mereka duduk. Sebenarnya aku merasa risih juga
dengan adanya mereka. Tapi mau gimana lagi. Toh ini
jalur satu-satunya dan sering kulewati. Jadi,
kuberanikan diri untuk melewati para durjana pecandu
anggur kenikmatan itu.

Tiba-tiba, salah seorang dari mereka mendatangi


kami. Dia berdiri di depan kami dan mengajakku bicara.
Perkataannya agak ngawur dan sedikit tidak jelas.
Kemudian disusul dua orang lainnya, mereka menarik
adikku ke pinggir jalan dekat pohon besar. Adikku kalap
dibuatnya. Dia berteriak memanggil-manggil namaku.
Aku semakin gusar. “Lepaskan adikku!” pintaku.

“Hahaha … kau mau adikmu kami lepaskan?


Baiklah. Tapi setelah dia kami goyang. Haha ...”

“BANGSATT!!”

Saat aku berlari mendekati adikku. Dua orang


lainnya menghadangku, bahkan mereka mendorongku
hingga aku jatuh tersungkur. Mereka memukul dan
menendang tubuhku. Saat itu tubuhku tak berdaya
bagaikan pepohonan yang pasrah menerima terpaan
angin topan. Namun aku segera teringat adikku. Adikku
lebih dari terpaan angin topan. Keadaannya lebih

70
Andi Faizal

membahayakan daripada aku. Bagai letusan gunung


merapi hendak menghujamnya. Ini menyangkut harga
diri. Aku tidak boleh tinggal diam. Aku berusaha bangkit
dan segera menyerang dua orang tadi. Kuambil sebilah
kayu di sampingku, dan kuarahkan tepat dipunggung
mereka. Mereka pun terjatuh, satu orang pingsan.

Aku melihat adikku sedang terbaring tak berdaya.


Terlentang dan hendak disetubuhi seorang lelaki bejat.
Sedang dua orang yang tadi menarik adikku, memegang
kedua tangan dan kaki adikku. Aku langsung berlari
menujunya, walaupun dengan sedikit sempoyongan.
Saat lelaki itu hampir menindihi tubuh adikku, aku
sudah berada di belakangnya dan mengambil sebuah
batu besar. Kuarahkan batu itu tepat di kepalanya.
BRAKK!!

***

“Fahri … ada tamu ingin menemuimu,” Ibu


memanggil.

“Iya, Bu.”

Benar saja, tamuku adalah seorang polisi. Bagiku


polisi tak jauh berbeda dengan malaikat pencabut
nyawa. Jantungku berdebar, darahku berhenti berdesir
dan seolah-olahada sebuah paku yang menancap ubun-
ubunku.

“Selamat siang. Dengan saudara Fahri


Hermawan?”

71
Jeruji Sunyi

“Iya saya Fahri Hermawan.”

“Anda kami tangkap karena dugaan pembunuhan


seorang pemuda kampung Batok bernama Abdul Halim.”

Sentak tubuhku bergetar. Ibuku terkejut


setengah mati. Matanya mulai berkaca-kaca dan
genangan air matanya tak bisa tertampung lagi. Entah
apa yang akan kukatakan padanya. Aku tidak sanggup
melihat jika ibu sampai terkena serangan jantung. Lebih
menghawatirkan lagi kalau ibu sampai meninggal gara-
gara mendengar kabar itu. Dan untungnya itu semua
tidak terjadi.

“Tapi … tapi anakku orang baik-baik, Pak. Dia


tidak mungkin melakukan itu,” terang ibu dengan mata
berkaca-kaca.

“Kakakku tidak bersalah, Pak. Dia hanya


berusaha menyelamatkan kehormatanku. Aku hampir
diperkosa laki-laki itu dan teman-temannya,” adikku
berusaha meyakinkan pak polisi. Namun polisi tetap
memanggapku sebagai tersangka kasus pembunuhan.

“Iya, kami sudah mengetahui indikasi kejadian


tersebut. Keempat temannya sudah kami periksa dan
positif bersalah.”

“Jadi kamu sudah tahu, Nur?” tanya ibu kepada


adikku.

72
Andi Faizal

“Maafkan aku, Bu.” Adikku tertunduk merasa


bersalah.

“Hukum tetaplah hukum, Bu. Anak ibu akan


segara kami bawa ke kantor polisi.”

Aku hanya tertunduk malu sambil berlalu


meninggalkan ibu dan adikku. Tidak ada yang bisa
kukatakan. Semuanya sudah jelas dan tidak perlu ada
yang ditutup-tutupi lagi. Aku adalah tersangka.

Maafkan aku, Bu. Aku telah membuat Ibu, Nur


dan seluruh keluarga menanggung rasa malu atas
perbuatanku. Sungguh, aku tidak bermaksud
membunuhnya. Aku hanya ingin adikku tidak kenapa-
kenapa. Aku sayang Nur, Ibu. Ibu tidak usah khawatir,
aku di sini baik-baik, Bu. Semoga ibu juga baik-baik yah?
Aku di sini masih tetap sholat kok, Bu. Bilangin ke Nur ya,
Bu. Jangan sampai istiqomahan jama’ahnya putus.
Jangan mikiran bagaimana aku makan, tidur dan lain-
lainnya. Di sini aku masih bisa makan, Bu. Walaupun
hanya sesuap. Tapi aku tetap bersyukur masih bisa
makan. Aku juga bersyukur punya ibu sepertimu. Karena
ibu selalu mengajariku bersyukur. Ibu mengajariku selalu
menerima keadaan dan kesabaran. Terimakasih, Bu. Aku
sayang Ibu & Nur. Salam hangat dari Fahri Hermawan.

“Pak …Pak … ini buku sama pulpennya! Makasih


yah? Oh iya, ini tolong kasihin ke ibu aku. Bilangin aku

73
Jeruji Sunyi

rindu sama beliau.” Dengan senyum semangat aku


berikan secarik kertas itu.

“Oh, iya iya. Nanti saya kasihkan.”

Aku tahu ibu tidak akan ke sini. Ia tidak sanggup


menyaksikan anaknya dikurung dalam penjara.
Makanya aku kirim surat itu. Walaupun ibu tidak bisa
baca, kan masih ada Nur. Semoga dengan surat itu, ibu
tidak sedih lagi seperti yang dikatakan oleh Nur. Jarang
makan, sering melamun, dan hal-hal yang kuanggap itu
hanya sia-sia dan buang-buang waktu saja. Dalam doa
di setiap sujudku, tak pernah kutinggalkan doa
keselamatan dan panjang umur untuk ibu dan seluruh
keluargaku. Sekali lagi aku minta maaf, Bu. Aku sayang
Ibu.

***

74
Andi Faizal

UMUR SINGKAT BAHAGIA

Darah hangat menetes dari lubang hidungnya.


Bercak-bercak merah menodai kertas putih yang sedang
ia baca di atas meja belajarnya. Alya heran dengan
adanya darah tersebut. Ia panik dan segera lari menuju
kamar mandi. Air mata Alya menggenang. Ia tersengguk-
sengguk sambil menatap wajah yang berlumuran darah
tersebut di cermin. Sekujur tubuh Alya gemetar, ia
merasa pusing dan sangat lemas. Ditambah lagi udara
malam menusuk kulitnya dari balik jendela yang belum
sempat ia tutup. Kemudian ia kembali dan memaksakan
tubuhnya tidur karena memang kondisinya sangat
buruk sekali.

Apa yang terjadi pada diriku, Tuhan? Apa aku


baik-baik saja? Kenapa bisa keluar darah di hidungku?
Aku minta perlindungan-Mu, Ya Tuhan. Hm ..., mungkin
aku hanya kecapean saja. Aku belum istirahat setelah
pulang dari kampus. Suara hati Alya memenuhi otaknya
yang masih mengiang-iang kejadian barusan. Alya

75
Jeruji Sunyi

kesulitan untuk tidur. Namun setelah ia berdoa dan


meminta penjagaan untuknya, ia tertidur dengan pulas.

Keesokan harinya dengan wajah putih pucat agak


kebiru-biruan ia menjalankan rutinitasnya sebagai
mahasiswi di salah satu perguruan tinggi. Tiba-tiba
suara Cecil mengagetkannya dari belakang.

“Ciyee … yang lagi kesemsem sama Haikal. Aku


doain ya biar cepet jadi,” Cecil menggoda sambil jari
telunjuknya ditusukkan ke pingang Alya−menggelitiki.
“Lo kenapa Al? sakit? Lo bener-bener pucat hari ini,”
lanjut Cecil dengan pertanyaan yang agak panik.

“Gue nggak papa kok, Cil. Cuma lagi kecapean


aja. Hehe ... tahu sendirilah gue kan orangnya suka
bertualang,” jawab Alya sambil cengengesan. “Tadi Lo
bilang Haikal? Mana dia? Kok dari tadi gue gak liat dia
sih,” lanjut Alya.

“Hm ... giliran Haikal aja Lo langsung semangat.


Emang si kalo udah jatuh cinta kek gini baru denger
namanya aja udah senengnya minta ampyun. Tadi gue
liat dia ada di perpustakaan. Lagi nyari reverensi
mungkin,” ujar Cecil sambil bibirnya dimanyunkan ke
atas.

“Gue langsung ke kelas aja lah, mau lanjutin


tugas semalem, dah … Cil,” sambil berlalu meninggalkan
Cecil.

“Oke ... good luck, Al!”

76
Andi Faizal

Saat masuk kelas, siku Alya membentur pintu.


Sikunya membiru dan berdarah saat itu juga. Ia
ketakutan akan hal itu. Tiba-tiba hidungnya keluar
darah lagi dan kali ini mulutnya juga mengeluarkan
darah. Lagi, ia berlari menuju toilet dengan mata
berkaca-kaca, menembus semua orang yang
dijumpainya. Berlembar-lembar tisu ia habiskan. Namun
darahnya tak kunjung henti. Ia keluar dengan air mata
masih menggenang. Ia menutup mulut dan hidungnya
dengan sapu tangan. Dengan cepat ia berjalan pulang ke
rumah. Alangkah sialnya, ia terjatuh di depan toilet dan
pingsan seketika. Ketika ia membuka mata, ia keheranan
kenapa ia bisa berada di rumah sakit. Alya dibawa ke
rumah sakit oleh Cecil dan teman lainnya.

“Maaf, Dek Cecil. Teman anda, Alya, tengah


menderita leukima kronis dan sudah tertanam sejak
enam bulan yang lalu. Kenapa baru dibawa sekarang?
Dan mungkin umurnya tidak akan lama lagi. Sekitar
empat bulan lagi ia bisa menikmati hidupnya,” terang
dokter. Cecil terkejut dan bola matanya membesar.

“Saya tidak tahu, Dok. Alya tidak pernah


bercerita soal penyakitnya itu,” jawab Cecil gelisah.

Dari balik pintu kamar, Alya mendengar obrolan


dokter dan Cecil. Sekujur tubuhnya kaku. Gemetar. Air
matanya mengalir deras bak air terjun. Alya sangat
ketakutan. Ia menarik selimutnya lalu ia angkat dengan

77
Jeruji Sunyi

tangannya dan digigitlah jari-jari tangannya. Kemudian


Cecil masuk dihiasi senyuman sepah di bibir tipisnya,
akan tetapi ia tak mampu membendung air matanya
yang terus mengalir. Cecil berusaha menenangkan Alya
dengan mengatakan bahwa ia hanya kecapean. Cecil
kemudian berjalan mengambil air minum untuk Alya
sambil mengusap air matanya. Namun Alya
menampiknya dengan segera dan sedikit membentak
saat Cecil berusaha menyodorkan segelas air putih.

“Lo bohong, Cil, gue mengidap Leukimia kan?!


Gue dengar sendiri perkataan dokter. Ia bilang kalo
hidup gue gak lama lagi. Oh ... Tuhan, apa salahku?
Sehingga Kau berikan cobaan seberat ini.” Alya menangis
sesenggukkan. “Cil, Aku hanya ingin bahagia di sisa
hidupku,” ujar Alya diiringi isak tangis Alya dan Cecil.

Kemudian Cecil mendekatkan tubuhnya ke tubuh


Alya. Ia memeluk sahabatnya itu dengan erat mencoba
menenangkan Alya yang tengah dilanda musibah. Isak
tangis memenuhi ruangan itu. Jam menunjukkan pukul
empat sore, mereka lalu pulang bersama menaiki taksi
yang sedari tadi menunggu mereka berdua.

Empat hari berlalu dan teman kampusnya datang


menjenguknya. Alya hanya berbaring di kamarnya tak
berdaya. Alya sangat terkejut bercampur bahagia
sahabat-sahabatnya terutama Haikal datang saat ia
membutuhkan dukungan dari mereka.

78
Andi Faizal

“Coba tebak kita bawa apa untuk Lo?”

“Emang kalian bawa apaan?”

Salah satu sahabat Alya membuka tasnya dan


memberikan hadiahnya itu. Itu adalah sebuah kaos
lengan panjang berwarna putih bertuliskan ‘Best Friend
Forever’ bertinta hitam. Alya sangat menyukainya. Ia
bahkan memeluk sahabatnya satu persatu sembari
mengucapkan terima kasih kepada mereka. Setelah
berpamitan dengan Alya dan ibunya, mereka pulang
dangan mobil milik Haikal. Tetapi Cecil masih ingin
berlama-lama bersama sahabat terbaiknya. Dalam
suasana seperti itu, rintik-rintik hujan terdengar
menyerbu genteng rumah Alya. Aroma wangi obat-
obatan tercium kental menyengat memikat lubang
hidung. Samar-samar terdengar nyanyian kesedihan
yang tak henti-hentinya ia putar walaupun hujan
semakin lebat. Dalam keheningan itu Alya mengutarakan
keinginanya perihal cintanya kepada Haikal.

“Cil, Lo tau kan kalo gue suka sama Haikal?


Nah ... Lo mau nggak bantuin gue? Di sisa hidup gue
yang singkat ini gue ingin Haikal jadi pendamping gue
sampe malaikat maut menjemput gue. Lo mau kan cil?”
Cecil hanya senyum dan mengangguk menandakan ia
bersedia.

Satu minggu kemudian Haikal menikahi Alya.


Karena mereka berdua selalu bersama, benih-benih cinta

79
Jeruji Sunyi

tumbuh sedikit demi sedikit dihati Haikal. Setiap kali


Alya melakukan kemoterapi, Haikal tidak pernah absen,
seharipun. Ia selalu mendampingi Alya kemanapun Alya
pergi.

Tiba saatnya hubungan mereka genap empat


bulan bahkan lebih tiga minggu. Kondisi Alya sangat
lemas, wajahnya putih pucat serta di kepalanya tidak
ditumbuhi sehelai rambutpun. Rambutnya rontok akibat
pengobatan kemoterapi yang dijalaninya setiap hari
dalam kurun waktu empat bulan terakhir. Sore itu
mereka berada di sebuah pantai terdekat. Alya mengajak
Haykal dengan sedikit memaksa. Mereka sampai di
pantai ketika matahari hendak kembali ke peraduannya.
Angin berhembus menerpa sepasang kekasih yang
sedang berbahagia. Mereka masih duduk di atas batu
besar sambil memandang laut yang damai. Mereka
berdua terlihat sangat mesra sekali. Tangan mereka
bergandengan. Laksana ombak-ombak di laut. Walaupun
mereka berlarian ke sana kemari dengan bersuka ria
tetapi mereka tetap menyatu. Dalam keheningan, tiba-
tiba Alya memulai kata-katanya.

“Hai, jangan kau anggap kematianku ini sebagai


perpisahan yang abadi. Raga kita memang dipisahkan
namun hati kita tetap akan menyatu. Hanya Tuhan yang
mampu mengubah itu.” Darah Alya keluar dari lubang
hidung dan mulutnya tanpa sepengetahuan Haikal.
Kemudian ia melanjutkan kata-katanya.

80
Andi Faizal

“Empat bulan sudah kau mengubah hari-hari


menjadi lebih istimewa dan menemaniku saat aku
bahagia, sedih serta saat aku terpuruk dan butuh
seorang penyemangat di hidupku. Mungkin hari ini hari
terakhirku mengenal dan menatap wajah indahmu. Dan
mungkin aku hanya akan menjadi sisa dari memori
indah yang tertinggal jauh dan akan tertimbun oleh
kebahagian dikehidupan barumu esok nanti,” kata-kata
itu keluar dari mulut Alya begitu saja.

“Tidak Alya, Kita akan selalu bersama. Kita akan


membangun rumah kita, membangun sebuah taman
yang kau impikan, Alya. Agar anak-anak dan cucu-cucu
kita bermain berlarian di sana,” ujar Haikal sambil
memeluk tubuh Alya dengan eratnya. Mata Haikal tak
henti-hentinya mengeluarkan air mata. Hening pun
tercipta. Sunyi tanpa suara yang terdengar hanya riakan
ombak.

“Sudahlah Haikal, simpan semua harapanmu


padaku dan berbahagialah dengan istri baru yang
pastinya lebih baik dariku.

“Terima kasih banyak, Tuhan, berkat penyakit ini


Kau pertemukan kami. Berkat penyakit ini aku dapat
memaknai cinta yang sesungguhnya. Karena cinta yang
sesungguhnya adalah cinta hamba pada Rabbnya. Di
mana cinta abadi dan pasti yang akan bersemi di langit.

81
Jeruji Sunyi

“Dan untukmu, Kekasih. Terima kasih atas cinta


dan kasih sayang yang telah kau berikan serta
pengorbanan dan waktumu untukku … selamat tinggal,
Kekasihku. Aku mencintaimu ...,” Alya mengucapkan
kata-kata terakhirnya. Dan setelah itu ia
menghembuskan napas terakhirnya di bahu kanan
Haikal.

Sentak Haikal terkejut. Pipinya berlinangan air


mata, wajahnya memerah. Ia beberapa kali berteriak
memanggil nama Alya dan menggoyang-goyang tubuh
Alya. Ia bingung harus meminta tolong kepada siapa
karena semua orang yang berada di pantai sudah
pulang. Sepi tanpa penghuni. Haykal menangis pilu
kehilangan sosok wanita kuat yang pernah ia miliki yang
masih dalam pelukannya. Ia kemudian menelepon
mamah Alya dengan cemas dan terburu-buru.

“Halo, Bu, Bu, Alya Bu ... Alya ... cepet Ibu kesini.
Kami ada di pantai.” Telpon singkat Haykal. Belum
sempat ibu Alya menjawab, telepon Haykal sudah
dimatikan. Setelah sampai di pantai ibunya langsung
membawa Alya ke rumah sakit. Namun nyawanya tak
tertolong lagi.

Kini Haykal sudah menjalankan permintaan


terakhir Alya. Ia menikahi seorang wanita cantik
bernama Bunga dan dikaruniai dua orang putri dan
salah satunya ia beri nama Angelina, nama panjang Alya,

82
Andi Faizal

agar ia selalu mengingat Alya dalam setiap detik


kebahagiaannya.

***

83
Jeruji Sunyi

MILYARAN AIR MATA

Selasa, 25 april 1996…

Aisyah membuka mata secara pelan. Tak ada


yang dapat dilihatnya selain tembok ber-cat putih dihiasi
poster-poster lukisan bunga. Ia merasa heran dan
bingung. Disampingnya terdapat peralatan medis
lengkap serta seorang wanita cantik dan manis memakai
baju putih, lengan, rok pendek serta penutup kepala
seperti polisi berwarna putih.

Fajar telah menyingsing di ufuk timur. Terdengar


suara-suara azan berkumandang tanda waktu shalat
subuh tiba. Dinginnya subuh menusuk kulit menembus
sampai ke tulang. Sesaat setelah itu mentari menyapa
bumi bagian barat Indonesia. Menghasilkan kehangatan
dan relaksasi bagi kehidupan dan alam raya.

“Dimana aku?” gumam Aisyah sambil memegang


perban di kepalanya.

“Mbak sekarang berada di Rumah Sakit.


Semalam Mbak kecelakaan, mobil Mbak menabrak

84
Andi Faizal

pohon besar di pinggir jalan,” jawab suster sambil


memberikan segelas air putih kepada Aisyah.

Kemudian Aisyah mengerutkan dahinya,


berusaha mengingat kejadian semalam yang dikatakan
oleh suster.

“Bagaimana dengan keadaan anak dan suamiku,


Sus?”

“Anak Mbak masih sempat kami selamatkan dan


mungkin ia sudah siuman. Sementara suami, Mbak …”
Suster berhenti sejenak untuk sekedar mengambil napas
panjang. “Suami Mbak sudah tidak tertolong saat tim
kami tiba di tempat kejadian. Kakinya terjepit kursi
mobil dan kepalanya membentur setir.”

Aisyah tersentak kaget dan terbangun dari


tempat tidurnya. Tetesan air matanya membanjiri
pipinya yang mungil itu. Merasa tidak percaya apa yang
telah terjadi terhadap keluarganya, Aisyah menggigit-
gigit kecil selimut di tubuhnya yang ikut terangkat saat
ia bangun.

“Apa yang terjadi dengan kaki kiriku, Sus?”

Aisyah merasakan kaki kirinya tidak dapat


digerakan. Terasa berat seperti ditindihi batu besar. Ia
berusaha menggerakan jari-jari kakinya, namun ia tetap
tidak merasakan adanya pergerakan di kelima jarinya.

85
Jeruji Sunyi

“Kaki kiri Mbak mengalami kelumpuhan karena


terjepit kursi mobil.”

Tangis Aisyah tak tertahankan. Ia membuka


perban lengan kirinya. Dengan kasar Aisyah menarik
perban tersebut sehingga mengagetkan dan membuat
suster panik. Segaris darah mengalir di lengan dengan
derasnya bak air sungai yang jatuh dari tebing. Suster
segera mencari tisu untuk mengusap darah tersebut.
Suster berusaha membersihkan darah itu namun apa
yang terjadi, Aisyah malah menampik tangan suster
dengan kasar. Suster semakin panik dan takut hal yang
tidak diinginkan terjadi. Suster pun memanggil dokter
karena merasa tidak mampu menenangakan Aisyah.

“Biarkan aku seperti ini. Gak ada gunanya lagi


aku hidup. Aku hidup hanya akan menyusahkan orang
saja.” Aisyah membentak namun suaranya kurang jelas
karena tangisannya menghalangi ia berbicara.

“Istighfar, Mbaaak …. Istighfar, sabar, kuatkan


hati Mbak,” ujar suster.

Dari awal dimulainya kehidupan, semua ini


diwarnai oleh dua hal yang berlawanan. Ada hitam ada
putih. Ada siang ada malam. Ada cahaya ada kegelapan.
Ada panasnya terik matahari ada sejuknya tempat
berteduh. Ada sedih ada bahagia. Ada tawa ada
tumpahan air mata. Semua ini menandakan bahwa Allah
Maha Pencipta, yang mana penciptaannya ini

86
Andi Faizal

mempunyai maksud dan tujuan tersendiri. Salah


satunya agar saling membutuhkan, saling berusaha dan
saling tolong-menolong.

Tak lama kemudian keluarga Aisyah datang


menjenguknya dengan iringan harmoni kesedihan. Dan
segera saja ibunda Aisyah memeluk. “Sudahlah,
Sayang … semua ini sudah ada yang mengaturnya.
Ikhlaskan saja. Kan masih ada ibu, ayah, ahmad dan
keluargamu yang lainnya,” ujar ibu berusaha
menghibur.

Dua bulan berlalu. Aisyah seperti mendapatkan


keajaiban, ia sembuh total. Karena itu, ia sudah
menjalankan aktivitasnya seperti semula sebagai wanita
karier di salah satu perusahaan ternama di Bandung.
Namun ingatan tentang suaminya masih terngiang di
otaknya. Setiap kali Aisyah memandang wajah putranya,
ia kembali mengingat suaminya. Karena wajah Ahmad
sangat mirip dengan wajah almarhum suaminya.
Suaminya adalah laki-laki yang mempunyai rasa
tanggungjawab yang tinggi, dermawan dan memiliki
wajah yang tampan serta tutur katanya yang baik.

Sabtu sore Aisyah pergi ke halaman belakang


rumahnya yang memang tempat tinggalnya berada di
wilayah pegunungan. Kemudian ia duduk di atas batu
besar yang mentereng gagah. Di sampingnya terdapat
aliran sungai yang jernih dan mempeson, gemuruh air

87
Jeruji Sunyi

yang melompat dari atas tebing dengan tanpa rasa takut


dan tanpa ada beban sedikitpun menghasilkan hujan air
lembut bagai salju dari kutub utara yang membasahinya
serta riakan air sungai semakin menambah suasana
alam di pegunungan. Dengan sedikit menahan tangis, ia
menulis sebuah kata-kata di selembar kertas yang
dibawanya.

Selamat sore, Tuhan

Semoga Engkaumendengar

Tuhan, belum puaskah Engkau menguji hamba-Mu ini

Setelah Kauambil kaki kiriku, Kauambil kekasihku

Kumohon, berilahaku kebahagiaan dengan putraku

Jangan Kauambil dia lagi

Kumohon ..

Hari ini..

Detik ini juga akan kutinggalkan masa laluku. Dan aku


berjanji tidak akan menyia-nyiakan napasku. Aku ingin
membahagiakan putraku dan hidup bahagia dengannya.

Setelah menulis surat itu sebagai doanya, Aisyah


menghanyutkan kertas tersebut ke sungai yang berada
di depannya agar mengikuti arus air. Ia berharap setelah
menghanyutkan selembar kertas itu, masa lalunya
terbawa oleh arus kehidupan dan keinginannya untuk
bahagia bersama putranya tercapai di kemudian hari.

88
Andi Faizal

***

PASTI ADA JALAN KELUAR

Bagi sebagian orang kuliah hanya pantas untuk


orang kaya. Tetapi bagi Andi yang hidup penuh dengan
kesederhanaan kuliah bukan soal kaya ataupun miskin.
Pasalnya tidak sedikit orang yang status sosialnya sejajar
atau bahkan di bawahnya dapat mengeyam pendidikan
di perguruan tinggi.

Andi Faizal, dia adalah mahasiswa penerima


bidikmisi angkatan 2017. Ucapan syukur tidak henti-
hentinya ia ucapkan kepada Tuhan saat diterima pada
salah satu perguruan tinggi dan diterima menjadi
mahasiswa penerima bidikmisi. Haru. Bahagia.
Emosional. Dan merasa tidak percaya melebur dalam
perasaannya.

Menduduki bangku perkuliahan memang impian


Andi semenjak kecil. Namun, ia tidak pernah

89
Jeruji Sunyi

membayangkan impiannya itu dapat terwujud. Karena


begitu banyak persoalan yang bisa saja menghambatnya
untuk melajutkan pendidikan, terutama sekali persoalan
ekonomi. Terlebih ia adalah satu-satunya anak lelaki
dalam keluarga dari lima bersaudara. Itu menjadikannya
begitu semangat sekaligus dilematis.

Di satu sisi ada secercah harapan untuk


mengangkat harkat dan martabat keluarga serta kerabat.
Harapan itu membuatnya semakin semangat menuntut
benih-benih ilmu pengetahuan. Meskipun merasa
terbebani, baginya, beban itu dijadikan sebagai motivasi
agar ia semakin bersemangat menimba ilmu. Semenjak
SMP Andi memang sudah sangat mencintai ilmu
pengetahuan. Bukan hanya pendidikan formal ia lahap.
Sepulang sekolah, pria yang akrab disapa Isal ini juga
menimba ilmu di pesantren setempat. Ia sampai harus
menginap di pesantren untuk fokus belajar agamanya
karena pagi harinya ia disibukkan dengan membantu
orang tua dan sekolah formal. Begitu rutinitasnya dari
SMP hingga SMA. Kendaraan sehari-harinya adalah
sepeda tua. Tidak jarang pula ia berjalan kaki. Beberapa
tetangga sering bertanya kepadanya, “Kamu tidak lelah
apa tiap hari bolak-balik pesantren-rumah-sekolah?” Ia
hanya tersenyum. Jika harus menjawab pun ia akan
menjawab, “Saya senang, Bu, Pak.” Terkadang ia sakit
karena kelelahan. Melihat keadaan sang anak sakit
ibunya iba seraya merayu, “Nak, kalau lagi tidak enak

90
Andi Faizal

badan ke pesantrennya libur dulu saja.” Ia menolak. Ia


masih tetap semangat belajar meski sedang sakit
sekalipun. Sakit, lelah ataupun hujan tidak mengusir
semangatnya.

Memang usaha tidak pernah mengkhianati hasil,


kini ia juga diberikan mandat oleh sang guru untuk
mengajar di pesantren. Kesempatan itu tidak disia-
siakannya. Ia gunakan sebagai ajang pembelajaran
menjadi pengajar dan sebagai bentuk pengamalan ilmu.

Sedangkan di sisi dilematis lainnya, ia adalah


sosok kepala rumah tangga. Sebagaimana sang ayah
telah berpulang saat ia berusia lima tahun. Bahkan sang
ibu sudah tujuh tahun terakhir ini menderita penyakit.
Empat tahun belakangan penyakit yang diderita semakin
kronis. Banyak dokter yang memvonis ibunya mengidap
penyakit struk ringan, saraf terjepit, hingga komplikasi.
Bukan hanya dokter berkata demikian, ahli terapi
tradisional juga ikut memvonis. Bahkan mengkaitkan
dengan mistik, berkata bahwa penyakit ibunya adalah
penyakit ‘kiriman’. Sudah puluhan kali ibunya berobat
ke sana kemari, namun tidak ada perkembangan yang
berarti. Dia hanya punya satu kesimpulan bahwa ibunya
sudah tidak bisa lagi bekerja seperti waktu ia kecil.
Bagaimana ibunya bisa bekerja, untuk melakukan
sesuatu yang bersifat pribadi seperti makan, mandi,
memakai baju, hingga bangun dari duduk pun perlu
bantuan orang lain. Ia dan saudara tidak menyerah

91
Jeruji Sunyi

mencari informasi dari ahli medis yang terpercaya meski


harus membayar mahal. Alhasil sang ibu didiagnosis
mengidap penyakit Parkinson. Penyakit yang sampai saat
ini belum tersedia obat yang dapat menyembuhkan
sepenuhnya. Yang ada hanyalah obat untuk meredakan
gejala dan meningkatkan kualitas hidup si penderita.

Bagaimana ia mampu berdiri tegak jika


kondisinya seperti ini? Mengapa pula Tuhan memberinya
ujian seakan tidak ada hentinya. Berlapis-lapis. Sempat
perasaan ingin menyerah mampir beberapa kali untuk
berhenti kuliah dan bekerja sepenuhnya agar dapat
membiayai kehidupan keluarga dan biaya sekolah
adiknya. Pasalnya sang adik sudah duduk di kelas tiga
SMP dan hendak melanjutkan ke SMA. Tentu perlu biaya
yang tidak sedikit. Ia juga tidak dapat mengandalkan
dua kakaknya lantaran mereka sudah menikah dan
masing-masing dikaruniai satu orang anak. Andi tidak
enak hati membebani mereka yang sudah terlalu sibuk
dengan masalah keluarga kecil mereka. Apalagi sejak SD
hingga SMA dahulu Andi dibiayai oleh mereka. Jika
mengikuti rantai ekonomi keluarga, seharusnya selepas
lulus SMA dialah yang harus melanjutkan perjuangan
kakak-kakaknya dalam menghidupi keluarga. Namun,
rantai itu nyaris terputus saat tanggungjawab beralih
kepadanya.

Makan saja sudah susah, sok-sokan kuliahin


anak.

92
Andi Faizal

Tidak perlu waktu lama menunggu cemoohan


tetangga. Baru menginjak semester pertama salah satu
tetangga Andi mencemooh keluarganya. Kakaknya yang
memberitahu.

“Dek, tahu belum ibu dikatain sama tetangga


kita?” tanya kakaknya dengan mata berkaca-kaca. Andi
hanya menggelengkan kepala dengan raut wajah penuh
tanda tanya. “Tetangga kita bilang sama ibu, ‘makan saja
sudah susah, sok-sokan kuliahin anak’. Dan kamu tahu,
setelah mendengar perkataan itu ibu langsung masuk ke
rumah dan menangis sejadi-jadinya. Sedih tahu, Dek,”
lanjut kakaknya, mulai sesenggukan.

Mendengar penjelasan kakaknya Andi terdiam.


Bingung. Kacau. Sedih. Merasa menjadi anak yang tidak
tahu diri tentang kondisi keluarga. Terlebih kakaknya
yang lain sering mengeluh, merasa kecapaian
menghidupi keluarganya dan ingin segera menikah. Dan
sang ibu pun sering mengeluhkan masalah ekonomi
kepadanya. Kondisi tersebut yang membuatnya selalu
dirundung kegelisahan. Lalu ia berkata, “Kalau seperti
ini lebih baik aku berhenti kuliah saja, Mbak. Aku juga
tidak mau menjadi beban Mbak terus. Aku mau kerja
saja agar bisa membantu Mbak membiayai adik dan
perobatan ibu.”

“Kamu yakin, Dek? Bukankah ada banyak mimpi


yang harus kau gapai? Jika kamu berhenti kuliah, Mbak

93
Jeruji Sunyi

akan merasa bersalah sekali, Dek. Mbak tidak mau


menjadi kakak yang gagal menguliahkan adik-adiknya.
Cukup Mbak saja yang gagal berkuliah. Kamu dan
adikmu, Yuli, harus kuliah sampai wisuda. Mbak akan
sangat bangga jika kamu dan Yuli kelak mengenakan
toga,” kakaknya menyeka air mata.

Hening seketika.

“Sebenarnya aku juga tidak ingin hidup hanya


memangku kesibukan sebagai kuli kemudian meninggal
dunia, Mbak! Aku punya cita-cita tinggi! Aku juga ingin
ibu dan Mbak bangga! Tetapi ….” Ia berhenti berbicara
kemudian menunduk. Ia tidak bisa menyembunyikan
perasaannya.

Mereka berdua bergeming, tidak saling pandang


wajah. Satu di antara mereka sudah dibanjiri air mata.

“Dengarkan Mbak! Kamu harus tetap kuliah.


Jangan memikirkan biaya adik dan ibu! Biar Mbak yang
menanggungnya. Kamu harus fokus pada kuliahmu.
Buktikan kepada mereka bahwa pendidikan itu bukan
hanya milik orang kaya!” Kakaknya mengusap air
matanya yang sedari tadi mengalir deras. Sang kakak
memeluk Andi dengan erat. Air mata Andi pun tumpah
ruah yang semenjak tadi menggenang di pelupuk.
Sebagai lelaki dia gengsi menangis. Tetapi dia tidak akan
menyia-nyiakan momen itu.

94
Andi Faizal

Setelah mendengar nasehat kakaknya Andi


kemudian mencari kerja sambilan dan melamar
pekerjaan di beberapa tempat. Kemudian ia diterima
bekerja pada salah satu tempat cuci motor dan mobil
yang berjarak tidak jauh dari rumahnya. Meskipun hasil
yang didapat tidak terlalu besar, karena ia hanya bekerja
saat tidak ada jam kuliah. Tetapi itu merupakan angin
segar baginya untuk dapat mencukupi uang jajan sang
adik, uang dapur, juga peralaatan mandi keluarga.
Untuk kerja sambilan lainnya ia menjualkan kerupuk
milik guru ngajinya ke warung-warung. Saat uang
bidikmisi turun pun ia tidak pernah lupa membaginya
untuk ibu dan adiknya. Paling tidak beban mental yang
selalu berputar sejak SMA pada pikiran sedikit
berkurang, begitu pikirnya.

Setelah beberapa masalah dan persoalan yang ia


lalui, ia hanya ingin mengambil hikmahnya. Ia masih
bertahan untuk terus berkuliah. Di samping ia juga
bekerja agar dapat membantu keluarga. Dan dia sangat
bahagia menjalaninya.

Sesungguhnya setelah kesulitan pasti ada kemudahan.

95
Jeruji Sunyi

MALING

Suatu malam di sebuah kampung tengah ricuh


dengan keberadaan maling yang hampir tiap malam
beraksi di kampung tersebut. Maling misterius ini lihai
seperti mahkluk halus.

“Sial! Gua kemalingan. Hape dan laptop gua


hilang semalam.”

“Pasti dicuri maling yang sama seperti kemarin


gua kemalingan tv. Udah itu tv mahal. Baru pula.”

“Pokoknya kalau ada warga yang berhasil


menangkap maling itu, saya selaku ketua RT akan
memberikan bonus besar. Yang terpenting kita jangan
pernah lengah, apalagi kamu, Sro.”

“Siap, Pak RT,” saut hansip Busro.

“Iya harus seperti itu dong, Pak RT. Masa pakaian


dalam saya saja dicuri,” ucap wanita janda.

96
Andi Faizal

“Hahaha … berarti malingnya suka sama bu Siska


tuh.”

Seminggu berlalu tak ada warga yang kemalingan


lagi dan suasana kampung kembali kondusif. Namun,
selasa malam kejadian itu terjadi lagi. Korbannya rumah
pak RT.

“Maliiing! … maliiing! … maliing …,” teriak istri pak


RT.

Busro yang mendengar teriakan itu langsung


membunyikan kentongan dan seketika warga
berdatangan berbondong-bondong berlari menuju rumah
pak RT sambil teriak maling.

“Semuanya bawa senjata kalian masing-masing!


Kita kepung rumah pak RT. Bila perlu kita bunuh saja
maling itu,” intruksi Busro terlihat meyakinkan.

Tetapi di balik bilik kamar pak RT berbisik lirih


kapada istrinya.

“Ssuussstss … Maaahh … jangan berisik! Ini


papah, Mah. Ah Mamah.”

97
Jeruji Sunyi

CINTA

sajak cinta

kautahu,

kala kabar darimu tak kunjung datang

ponselku seakan mati

ia laksana sawah kering kerontang di tengah kemarau


panjang

saat jemari ini mencoba menghubungi

ada rasa antara khawatir dan bimbang

kekasih

98
Andi Faizal

saat kutulis perihal dirimu

tak sanggup kutuangkan sesempurna purnama

sebab perangaimu pun terlalu misterius kuterjemahkan

bagaimana mungkin mampu kutulis

jika menatapmu membuatku terpesona dan hilang akal

karena sungguh

kau laksana bidadari surga

kau bagai semburat baskara di fajar buta

kau serupa mentari di senja kala

kau lukisan indah angkasa raya

kau mutiara pada dalamnya samudera

kau sakura di musim semi

kau purnama di malam sunyi

kau lantunan merdu kalam suci

kau putik pada anggrek nan manis

kau nada indah pada alunan biola melankolis

kau sajak cinta pada puisi romantis

kau adalah wanita sebening embun pagi

sesegar stroberi

seharum kasturi

secandu kopi

99
Jeruji Sunyi

sehangat teh tubruk

semanis cokelat-susu

selegit madu

selembut sutra

secantik perhiasan

seindah pelangi

seasri hutan

setenang air danau

sedamai debur ombak

sesejuk subuh

setegar batu karang

sekuat baja

seimut masha

selucu barbie

seanggung putri zein

dan seasik rumput yang bergoyang

sungguh, kekasih

kau bagai reinkarnasi ibu khadijah

kau jelitanya aisyah

kau jelmaan zulaikhah

100
Andi Faizal

kau titisan si cantik layla

lantas, kekasih

izinkan daku untuk berterima kasih

meski belum tahu banyak tentangmu

dirimu akan selalu hadir menemani

meski hanya menjelma

sebuah puisi

untukmu

deburan ombak yang menggulung

tak mampu mewakili asaku

desau bayu menerpa

bukanlah hadiah dariku

hanya sebaris doa kupersembahkan

terbit dari relung kalbu

tersampai kepada Tuhan

terselip dalam sujud di tahajudku

101
Jeruji Sunyi

engkau bagaikan bait-bait puisi

yang takkan pernah bosan untuk kubaca

rona manismu

selalu terbayang dalam lamunku

suaramu yang lembut nan indah

selalu terngiang dalam benakku

kupersembahkan juga cincin janji setia untukmu

sebagai simbol cinta bernaung keluarga

yang di dalamnya terdapat taman-taman cinta

kemudian dialiri sungai kebahagiaan

diterangi lentera kasih sayang

yang takkan pernah redup

sampai izroil menjemput

februari penuh cinta

awal februari kujumpa

membidik sepasang mata indahmu

hingga senyuman di bibirmu membekas hati

102
Andi Faizal

takan terganti senyuman wanita penjuru jagat raya

pertengahan februari kita menyatu

menjalin kasih tanpa tali

tiada hari tanpa temu

kita bersama

akhir februari kudatangi rumahmu

kubawa sejuta kebahagiaan; berbentuk cincin

tuk ikat dua hati; ikrarkan janji suci

cinta; setia; bahagia

menunggumu

aku laksana patung laksmi

berdiri tanpa lelah

menunggu masa itu datang

dan hanya Tuhan yang tahu

103
Jeruji Sunyi

bosan

adalah kata yang ingin kusampaikan

namun kau hanya perlu tahu satu kata dariku

setia

sudah;

tanpa sadar lumut tumbuh di tubuhku

penantian ini sungguh membuatku jenuh

kini usiaku tinggal di ujung senja

bersiap tenggelam menuju malam gelap gulita

tanpa rembulan dan gemintang

berapa lama lagi kuharus menunggu?

di bawah awan jingga

kala senja; kembali

kuteringat wajah elokmu

duduk berdampingan di bawah awan jingga

104
Andi Faizal

menyanyikan lagu; cinta

bersuka ria; mesra

bahagia kurasa

namun, kini kau telah terbenam

terseret mentari senja

tinggalkanku dalam kesunyian

duka mendera jiwa

adalah senja pelipur nestapa

guratan pelipis langit mempesona

tersenyum teduh pikat kalbu

suguhkan lembayung renta di ujung

menenggelamkan masa lalu

terbitkan kebahagiaan baru

penuh cinta bersama sang permaisuri

di atas dermaga

di atas dermaga kita bersua

105
Jeruji Sunyi

meramalkan cinta tuju bahagia abadi

di atas janji suci kita menyatu

terikat dan takkan pernah terpisah

bayang senja memantul segara

membentuk siluet hati, simbol

asmara kita

di samudera cinta

cintamu terpasung dalam dada

terpatri bersama hati

takan sirna

walau badai menerpa sukma

bayu adalah saksi

kapal nelayan berderap melangkah, riuh ombak

berarak

ucapkan lirih;

selamat berjuang menempuh hidup baru

106
Andi Faizal

sial!

pertemuan singkat

siang berganti malam

kemarau kembali hujan

kutunggu selalu janji sucimu

lalui hari demi sebuah pertemuan

jiwa merana; rindu menggebu sirna seketika

haru dan bahagia lebur

saat dua hati saling bertautan

saat tubuh saling berpelukan

dinda, cumbuanmu membuat jiwaku melayang,

desahan kenikmatanmu menaikkan libido dan birahiku,


dinda

aroma keringat khasmu, membius hidungku

hingga membawaku ke surga kenikmatan

namun, apalah arti pertemuan

jika pada akhirnya datang perpisahan

apalah arti kemesraan

107
Jeruji Sunyi

jika pada akhirnya menitikkan air mata

kuharap kau takan melupa

dengan semua kenangan yang kita pahat

dan berjanjilah takan bersebadan

dengan seorang selain saya

api penghianatan

kau beri aku sepucuk bunga

aku bahagia

dari bunga itu

kutanam awal kebahagiaan

namun mengapa setelah itu kau beri aku api?

apakah kau ingin membakar bunga pemberianmu


sendiri?

menghanguskan kepercayaan yang kutanam sejak dini

api darimu laksana racun, dinda

108
Andi Faizal

membunuhku perlahan-lahan

hingga undangan pernikahanmu datang

maafku padamu

kertas dan semua hal darimu kuhempas

seperti kau membakar hatiku

agar kenanganku bersamamu hangus menjadi abu

terbang nun jauh terbawa angin

hilang tak membekas pada kalbu

patah

terima kasih; bidikanmu

tepat sasaran

menancap ulu hati, patah

sakit

berdarah; menjelma air mata

ingin kucabut panah milikmu

agar perih luka mereda

109
Jeruji Sunyi

namun biarlah ia tetap bersamaku

menyatu dengan kalbu

terpatri bersama rasa kecewa

derita rindu

deru ombak menyeruak

menggetarkan ruh tiap insan berbisik

lirih

kepada sang rembulan

sampaikan duka

dalam jiwa

nestapa yang mendera

menghantui jiwa yang kelam

di manakah dikau, kekasih?

hatiku resah tanpamu

mana kebahagiaan

110
Andi Faizal

yang kau tanam di ladang cintamu?

bagaimana aku dapat memetik senyuman

yang merekah indah itu di sana?

ke manakah samudera cintamu yang luas itu?

lama

cintaku tak tenggelam di dalamnya

kekasih,

penuhilah cawan suci ini dengan perasan anggur


kebahagiaan; agar jiwaku mabuk kepayang karenanya

tahukah engkau

rindu ini mencekikku

nafasku hampa tanpa detak cintamu

darahku seakan berhenti mengalir tanpa denyut cintamu

kumohon ...

terangilah hati ini

dengan lentera cintamu

111
Jeruji Sunyi

kekasih, aku rindu ...

bayang-bayang semu

dalam kesendirian aku termangu

lutut bersimpuh bertopang dagu

irama hujan menentramkan kalbu

menahan sesak sejuta rindu

kepada pemilik wajah teduh nan sendu

kesunyian adalah teman

bergurau dengan angin adalah hiburan

namun terkadang kesunyian itu laksana hantu

menakutiku dalam kesendirian

beruntung aku punya dikau

meski bayang semu

secercah senyummu takan pernah bosan lintasi


pikiranku

berharap turun bagai sang bidadari

112
Andi Faizal

hinggap di pundak kananku

tersenyum manis

obati rasa rinduku

tak berbalas

darah berdesir sekujur tubuh

tiupan angin memburuh

hening seketika

;sunyi

kerlip bintang berpijar cerah kiasan hati pecinta

bersorak gembira,

bahagia

rembulan menggantung jubah hitam

nasib pecinta dusta

cahaya malam

temaram

113
Jeruji Sunyi

sendiri bagai patung hidup

angin malam meraup

matapun terkatup

redup

senja

adalah senja penghibur nastapa

rona wajah yang sungguh mempesona

tersenyum teduh, memikat hati

menyuguhkan lembayung renta diujung sana

memang hanya sesaat. namun,

sulit untuk kulupa seperti halnya dirimu

datang sebentar, kemudian pergi seketika

meninggalkan luka

meski tak pernah berjumpa malam; tak bersanding

114
Andi Faizal

sang surya. ia selalu menyemburatkan sinar jingganya


yang menawan

dan berpesan bahwa tak ada keindahan yang abadi;

selain surga

usia di ujung senja

aku ingin hidup seperti mentari di hari cerah

tersenyum ceria tanpa sekelebat mendung pun

meski aku terlahir tak seindah fajar

tetapi,

sebelum menutup usia

kuingin seperti mentari senja

sebelum tenggelam keperaduannya

meninggalkan hingar-bingar dunia

yang menyemburatkan sinar jingganya

lembayungnya menggantung indah di langit

bergelayut lembut; berwajah teduh

penuh wibawa

hingga jendala hari pun ditutup

115
Jeruji Sunyi

sang malam menggulung senja

aku akan tetap tersenyum sampai ajal menjemput

dan berbahagia

di rumah impianku

surga

aamiin ...

116
Andi Faizal

TANAH AIR

tanah air

tanah air mata air; air mengalir

tanah air

air mata

darah mencair kocar-kacir

tanah air

dikau cibir tanah air

tak ada mubadzir mengusir

tanah air

117
Jeruji Sunyi

NKRI takan terganti

adalah diskriminasi

racun yang terhirup kaum intoleran

momok menakutkan, penghancur kedamaian negeri

cukuplah...

dengan melihat sesama makhluk tuhan kita bisa saling


menerima dan memahami

kita bukanlah tentang aku, kau atau dia

kita juga bukan kami atau mereka

karena indonesia menggabungkan aku, kau, dia, kami


dan mereka menjadi kita

kita yang tetap bersatu dengan tujuan yang sama

mempertahankan keutuhan NKRI dengan segenap cinta,


jiwa dan raga

meski berbeda suku, adat, ras dan agama

bhineka tunggal ika akan tetap bersemayam di dada

karena kita tahu, keutuhan NKRI tak sebanding dengan


harga nyawa

118
Andi Faizal

hanya butuh pendidikan

batinku menjerit melihat pendidikan bangsa; gendang


telinga seakan pecah kala mendengar ia sudah merata
dan aku

aku geram saat mereka berkata,

“pendidikan kita sudah maju dan dewasa”

jujur, aku sedih-

selamat! kalian menang olimpiade fisika, atau mungkin


matematika

sedang mereka masih

buta

aksara

alat canggih senantiasa kita bawa

sedang untuk duduk di bangku sekolah saja mereka


sudah sangat bahagia

bagaimana mungkin seketika kita tuli

teriakan pinta gedung baru berharap uluran tangan

sang penguasa

119
Jeruji Sunyi

mereka kandung, tetapi dianaktirikan

untuk apa gedung bermegah-megahan? jika

gubuk reyot masih digunakan

lalu ingatlah

gedung pencakar langit bukan patokan untuk maju

karena untuk maju,

negeri ini butuh pendidikan

terima kasih pahlawan muda bangsa

semilir angin menelisik

sampaikan nada-nada kesemangatan

tulus nan ikhlas

gugah jiwa; bangkitkan gairah

hati tergetar

kocar-kacir, sesaat darah

berhenti berdesir

120
Andi Faizal

kala bait-bait ikrar itu disuarakan

wahai pemuda bangsa, kepalkan

jemarimu

singsingkan

lengan bajumu

jadikan bangsa ini: bangsa yang permberani

janji setia 28 oktober

sumpahmu, sumpah kita bersama

selucu ini

lihatlah

berkampanye; merasa diri paling adil dan bijaksana

menjanjikan pendidikan

tempat tinggal

dan lapangan kerja

untuk apa kalau pada akhirnya mereka berdusta

terjerat; terlena

121
Jeruji Sunyi

nafsu kerakusan tersandung kasus korupsi

menjadi tahanan memalukan

memilukan

lantas apa itu definisi adil dan bijaksana?

122
Andi Faizal

NASIHAT KEHIDUPAN

Pelangi sang guru perdamaian

pelangi lahir kala butiran hujan terbias mentari

berpadu, membentuk garis-garis pendar menakjubkan

warna-warni tersenyum ramah pada dunia

mengajarkan tentang arti perdamaian

menyampaikan sejuta makna keberagaman dengan me-


ji-ku-hi-bi-ni-unya yang menawan

tetapi jika api

haruslah ada yang bersedia menjelma hujan

123
Jeruji Sunyi

yang mampu menyejukkan sekitar

agar menjadi kesatuan yang rukun

menjadi pelangi yang damai nan teduh

bukankah perbedaan itu rahmat?

bukankah pelangi indah karena bannyak warna?

kayuhan roda tiga

mataku panas melihat ayah termangu

menunggu

tubuh hitam legam; kulit terbakar

mengais rupiah

sampai mentari kembali ke peraduan

air mataku meleleh; tak terbendung

kala adik meminta makan

dan ayah berkata, “lagi sepi, nak. ini ada satu bungkus!
ayah masih kenyang”

124
Andi Faizal

batinku tersentak, ingin kuhamburkan tubuhku


padanya

karena baginya; anaklah terpenting

rela menahan lapar dan dahaga

demi anak, meski

nyawa taruhannya

balada kolong jembatan

tubuh kerdil menggigil di bawah jembatan

berselimut sejuk pelukan hujan

meratapi lika-liku skenario kehidupan

mencoba bertahan dari segala terpaan

desauan angin makanan penyambung hidupnya

gemercik hujan pemuas dahaga

jalanan tempat bermain, mencuri

125
Jeruji Sunyi

kian menjadi hobi

siang jam kerja

mengais receh solusi buta

hingga sang senja memanggil

melambai;

pulang ke rumah terbaiknya

berlantai koran, tak berdinding serta beratap jalanan

aku hanya boneka beruang

aku hanya boneka beruang

terbujur lunglai di sudut kamar

tak ada yang harus kukerjakan selain berdiam

aku hanya menunggu seseorang mengajakku bercanda

aku ingin seperti manusia

berkunjung ke sana-kemari

banyak pengalaman dari dunia luar

tuhan, aku ingin hidup

126
Andi Faizal

mimpi panjang

aku berjalan di lorong waktu

menyelusuri tiap sudut kehidupan yang entah di mana

mengikuti kata hati, hingga tersuguh

bentangan lautan api

teriakan,

tangisan,

penyesalan,

dan pintaan tolong bercampur baur

oh tuhan, inikah tempat yang kau janjikan bagi


pendurhaka sepertiku?

sungguh, aku takan sanggup menanggung kebengisan


semacam ini, Tuhan

dalam kesenduan kulangkahkan kaki menjauh darinya

tertumbuk pandangan cahaya benderang menyilaukan


mata

hamparan indah sambut ramah

kedatanganku

127
Jeruji Sunyi

oh Tuhan, inikah tempat

yang kau janjikan bagi mereka yang saleh?

sungguh, aku tak pantas

berada di dalam nirwana-mu yang indah ini

dengan taman-taman yang menawannya

serta sungai-sungai kecil mengalir di bawahnya

aku berserah pada-Mu

dalam dekapan ibu aku terbangun

dari mimpi panjang

dalam riuhnya isak tangis

kukatakan, “maafkan aku, bu”

terimakasih tuhan atas kesempatan kedua ini

khayalan dusta

aku pernah mengimpikan menjadi sesosok rembulan

128
Andi Faizal

bergelayut di cakrawala; bercengkerama dengan


milyaran gemintang

menyaksikan hiruk-pikuk penduduk bumi

serta kemunafikan di dalamnya

lalu kuadukan kepada tuhan

tentang kebusukan mereka

meski kutahu bahwa tuhan lebih tahu

aku hanya ingin tinggi dengan menjatuhkan

;terserah

keparat!

hidayah itu datang

aku menyesal

pernah mereguk anggur kenikmatan

melempar lotre dengan bangganya,

mencium bau anyir darah segar wanita

129
Jeruji Sunyi

hingga menghunus pedang dari perut manusia tak


berdosa

terjerembab ke dalam lembah hitam penuh kebohongan

syukurku pada-mu; ia datang

serupa malaikat namun tak bersayap

wajahnya teduh bercahaya

mendiktekan gambaran surgawi

membimbingku; mengeja kalam suci

menjadikan diriku laksana butiran salju

mengubah sengak mulutku

menjadi aroma surga; menentramkan kalbu

penawar dosa

ketika kesunyian telah hilang

lantunan kalam mengganti tentramkan hati

manusia beramai ke rumah suci

130
Andi Faizal

harap-harap cemas ridha ilahi

tak ada indah selain sepuluh pertamamu

sebuah kasih sayang dari sang khaliq untuk


penikmatmu

tak ada hati berbungah selain sepuluh keduamu

ampunan tuhan yang tak ternilai harganya

apalagi sepuluh terakhirmu

tak ada seorang pun yang tak tergiur tawaran itu

semua orang ingin surga

dan terbebas dari api neraka

bagaimana jika aku tak bertemu dikau?

dosa sepasir laut

bagaimana aku menghitungnya?

apalagi meminta ampunanmu

berapa abad!?

131
Jeruji Sunyi

secercah nasihat dari alam

aku di sini dan

akan terus di sini

hingga ku tak sanggup lagi membuka mata

sampai izroil menjemput nyawa

kubelajar keadilan;

kebijkasanaan

juga belajar

tentang arti kesetiaan dan pengabdian

dalam kebebalan dan kekafiran

kucari tuhanku yang hilang

kutemukan

tangga menuju tuhan

di antara nasihat-nasihat

cacian adalah nasihat mujarab

ibarat sengatan listrik pembangkit jiwa yang resah

132
Andi Faizal

menuju jiwa yang tegar

kulukis kisah dengan secangkir tinta

lalu mulai kugores di atas

‘kanvas kehidupan’

puisi adalah lukisan bagiku

puisi adalah jiwaku

dan puisi adalah aku

selama tulisanku masih memuisi

selama itu juga ruh dalam jiwaku masih bersemayam

namun, jiwa puisiku kian runtuh

bujukan nafsu mendobrak pintu

mereka bersorak; bersuka ria

perlahan; pasti

menggerogoti sajak-sajakku

tanpa kompromi dan belas kasih

133
Jeruji Sunyi

ada saatnya seseorang berada pada titik


kesempurnaannya

adalah kala ia merasa menjelma menjadi luasnya


samudera tanpa daratan

angin kencang tanpa penghalang

megahnya cakrawala tanpa penyangga

namun saat ia berada pada titik terendahnya

ia laksana sampan kecil di luasnya samudera

bagai jatuh dari angkasa kemudian dihujani ribuan


meteor

hingga tidak bisa bangun selain berharap izroil segera


tiba

padi selalu menasihatiku

jika semakin berisi semakin menunduk

pohon kelapa mencontohkan

supaya menjadi manusia sejuta manfaat

anjing penjaga mengajarkan tentang arti kesetiaan dan


pengabdian

134
Andi Faizal

serta gula dalam kopi; mengajarkan keikhlasan

meski sebagai penikmat rasa, ia tak harap pujian

135
Jeruji Sunyi

Tentang Penulis

Andi Faizal, lahir di Indramayu pada 16


November 1999. Pria yang akrab dipanggil Isal ini telah
menamat pendidikan di SD Negeri Tambi Lor 1, MTs
Yapida Tambi dan MAN 2 Indramayu. Selain belajar di
sekolah formal ia juga nyantri di Pondok Pesantren Darul
Muslimin Tambi. Saat ini ia tercatat sebagai mahasiswa
aktif di STKIP NU Indramayu melalui jalur bidikmisi.
Bersama teman-temannya ia berusaha
membangun peradaban bernuansa literasi di desanya
dengan mendirikan Komunitas Literasi Gembira. Selain
itu ia juga ikut bahu-membahu menjalankan roda
organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) di
lingkup kecamatan.

Dalam dunia kepenulisan ia memulai karir


dengan mengikuti Kelas Menulis di daerahnya berkat
arahan sang guru, Muhammad Rifqi. Kemudian aktif
pada beberapa lomba menulis tingkat kabupaten hingga
nasioanl. Buku ini merupakan buku solo pertamanya.
Setelah sebelumnya ia juga membuat tiga karya tulis
bersama, di antaranya berjudul Ramadhan Jadul Is
Wonderful, Bunga, Pusara, dan Dada yang Kerontang,
Kumpulan Dongeng Pengantar Tidur Gembira dan Cerita
Kehidupan yang Menginspirasi. Sejalan dengan bakatnya
menulis ia masuk perguruan tinggi mengambil program
studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Di sela-sela kesibukannya, ia selalu


menyempatkan diri untuk menyalurkan hobinya yaitu
membaca dan menulis.

Untuk info lebih lengkap mengenai data penulis


silakan meninggalkan pesan melalui email:
andyfaishal0@gamail.com .

136