Anda di halaman 1dari 3

TUGAS KULIAH ONLINE 12 MANAJEMEN MARKETING – MARKETING KESEHATAN DI

ERA GLOBALISASI DAN MEA (2)

Tugas Online 12, ARS 103 Manajemen Pemasaran RS, Dosen Erlina Puspitaloka Mahadewi, Hasyim
Ahmad, FAHAD, 20180309148, Paska Sarjana MARS, Angkatan 7 kelas B, Universitas Esa
Unggul, 2019

PERTANYAAN
1. Seperti apa Pasar (Market) di Rumah Sakit  & Provider layanan kesehatan masa depan di Era
Marketing Digitalizasi ?
2. Bagaimana cara manajemen Rumah Sakit dan Provider Layanan Kesehatan mengelola
tantangan Pasar MEA kedepan ?
3. Apa saja resiko MEA bagi Manajemen Rumah Sakit dan Provider Layanan Kesehatan ?
4. Seperti apa mengelola Pasar RS di era MEA & Globalisasi ?

JAWABAN
1. Perubahan pasar saat ini mengarah pada perubahan yang sangat cepat yang awalnya bersifat
individual yang hubungannya antara dokter dengan pasien atau rumah sakit dengan pasien
sekarang berubah menjadi hubungan dengan volume yang besar dalam bentuk kelompok atau
komunitas. Komunitas dan kelompok dalam jumlah yang besar ini dapat diraih dengan
bantuan media online atau sosial media dalam melaukan pendekatan marketing. Saat ini
customer memiliki akses yang sangat mudah dalam mencari informasi tentang kebutuhan
pelayanan kesehatan untuk dirinya baik yang bentuknya promotif dan prefentif maupun
dalam bentuk kuratif maupun rehabilitatif melalui sosial media maupun media masa yang
saat ini sangat mudah dijangkau oleh konsumen itu sendiri. Meningkatnya harapan dan
Batasan kepuasan terhadap layanan kesehatan, memaksa provider layanan kesehatan baik
rumah sakit ataupun klinik dapat lebih terstandarisasi dengan meningkatkan kompetensi sdm
maupun membuat dan mempertahankan keterikatan dengan konsumen.
Banyaknya pendatang dari luar negeri menjadikan kompetisi dalam memperubutkan market
secara sehat menjadi lebih baik dimasa yang akan datang, dengan memanfaatkan platform
teknologi yang lebih baik dalam menjalin keterikatan dengan konsumen. Konsumen sudah
menjadi consumers yang lebih detai dalam memilih pelayanan yang layak dengan harga yang
fair atau sesuai dengan harapan mereka dan provider yang dapat diandalkan dalam waktu
yang lama.
2. Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 merupakan realisasi pasar bebas di Asia Tenggara
yang telah dilakukan secara bertahap mulai KTT ASEAN di Singapura pada tahun 1992.
Tujuan dibentuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) untuk meningkatkan stabilitas
perekonomian di kawasan ASEAN, serta diharapkan mampu mengatasi masalah-masalah di
bidang ekonomi antar negara ASEAN. Konsekuensi atas kesepakatan MEA tersebut berupa
aliran bebas barang bagi negara-negara ASEAN, dampak arus bebas jasa, dampak arus bebas
investasi, dampak arus tenaga kerja terampil, dan dampak arus bebas modal.
Mengelola tantangan pasar di era MEA ini kita wajib memiliki business plan atau roadmap
yang terencana dengan baik dan penafsiran scenario dan asusmsi yang tajam terhadap
perubahan yang terjadi sangat kuat diluar khususnya dalam bidang pemasaran. Rumah sakit
akan menghadapi kompetis baik dalam persaingan harga, pengeloalaan manajemen
Salah satu tujuan MEA adalah negara anggota ASEAN akan mengalami pertumbuhan yang
setara. Jika keperawatan Indonesia tidak mampu menyeimbangkan kualitas dengan tenaga
kerja perawat yang ada di ASEAN maka sangat dikhawatirkan tenaga kerja terampil dari luar
akan masuk ke Indonesia dan mengalahkan sumber daya keperawatan dari negara sendiri
(Depkes, 2015).
Penyetaraan kompetensi tenaga medis merupakan hal dasar yang harus difokuskan dalam
menghadapi era perdangangan bebas di ASEAN, selain itu pendekatan teknologi dengan
digitalisasi marketing yang memanfaatkan bigdata harus dijalani sesegera mungkin dan
dengan strategi yang matang.
3. Resiko MEA bagi Manajemen Rumah Sakit dan Provider Layanan Kesehatan sangat terasa
dalam perebutan market dikarenakan kompetisi yang sangat ketat dengan standar pelayanan
yang tinggi, sebagai contohnya rumah sakit di Indonesia mengenal Akreditasi yang
dijalankan oleh KARS dengan kendali mutu dan keselamatan pasien yang dimulai pada tahun
2012 dengan mengacu pada 16 layanan yang masih dapat dipilih sesuai kemampuan rumah
sakit tersebut dan nilai kelulusan sedangkan rumah sakit diluar yang sudah bersaing didunia
internasionalsudah mulai menjalankan standar akreditasi JCI sudah menerapkan elemen
penilaian yang lebih lengkap dan bertaraf internasional, di Indonesia baru 36 rumah sakit
yang terakreditasi JCI dan KARS dari total 2820 rumah sakit, dengan ini standarisasi
pelayananpun menjadi salah satu faktor resiko yang harus dikelola dengan baik. Disisi lain
terdapat resiko akuisisi pihak asing terhadap rumah sakit yang gagal dalam beradaptasi,
dengan masuknya pemodal dari luar negeri maka provider kesehatan lokal dapat
memanfaatkan peluang atau bahkan menjadi ancaman bila gagal melakukan adaptasi
khususnya dalam peningkatan kualitas pelayanan, kelengkapan aturan terkait regulasi
pemerintah dan administrasi maupun dalam pengelolaan market dengan melibatkan teknologi
untuk menjaga loyalitas pelanggan.
4. MEA memberi dampak yang signifikan terhadap banyak sektor, termasuk industri rumah
sakit. Meningkatnya pertumbuhan ekonomi di kawasan ASEAN memberi dampak pada
kesejahteraan masyarakat. Masyarakat yang semakin sejahtera akan menuntut pelayanan
kesehatan yang lebih baik, dan mereka dapat memilih pelayanan terbaik di seluruh kawasan
ASEAN, canggihnya teknologi akan mendekatkan jarak dan memudahkan masyarakat untuk
memperoleh layanan kesehatan yang prima dari manapun, hal ini berdampak pada
meningkatnya persaingan dalam industri pelayanan kesehatan, seperti rumah sakit dan
fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Hal ini berarti akses jasa pelayanan kesehatan semakin
mudah terjangkau dan berdampak semakin ketatnya persaingan di bidang pelayanan
kesehatan.
Pengelolaan pasar yang baik akan membentuk konsumen yang loyal yang akan melakukan
pengulangan pembelian layananan yang ada di rumah sakit tersebut, pengelolaan melalui
berbagai platform operation dengan pola komunikasi marketing yang matang dapat
menghasilkan perkembangan market yang signifikan. Rumah sakit harus menentukan jenis
promosi yang akan ditawarkan kepada konsumen dengan harapan konsumen dapat dengan
mudah memilih layanan mana yang sesuai dari segi kebutuhan maupun dari segi biaya untuk
dirinya sendiri. Rumah sakit juga perlu melihat peluang dan potensi dari pasar dengan
kekuatan brand image yang sudah dibentuk sebelumnya sehingga dapat mengelola pasar
dengan cermat, baik itu pasar yang memang aktif maupun pasar yang pasif.
Meningkatkan kepercayaan pelanggan terhadap sebuah layanan atau bahkan seluruh layanan
yang ada di satu rumah sakit memerlukan kerja tim yang kuat, dengan tujuan meningkatkan
repeat pembelian dari konsumen atau retention rate nya, 5% retention rate meningkatkan
75% dari value lifetime dan profitability yang didapatkan, rumah sakit di Indonesia yang rata-
rata 20% pelanggannya datang akan memberikan 80% revenue bagi rumah sakit atau
provider kesehatan, maka loyalitas pelanggan yang dapat disebut sebagai gold customers ini
lebih baik dikelola dengan baik dibanding kita mencari pelanggan yang baru. Pengelolaan
gold customers dapat menjadi kunci dalam menerapkan efek relationship terhadap rumah
sakit. Penerapan konsep customers loyalty program dapat meningkatkan level pelanggan dari
potensial menjadi partner yang berpengeruh pada pengulangan pembelian dan masukan dari
konsumen dalam pengebangan produk layanan.

DAFTAR PUSTAKA

Bachry, S. Boy. 2015, Kesiapan Indonesia Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean 2015 dari
Perspektif daya Saing Nasional. Jurnal Economika. Vol. 1 No. 1 Januari 2015

Bauer, H. H. / Hammerschmidt, M. / Staat, M. (2002): Analyzing Product Efficiency –


ACustomer-Oriented Approach, Working Paper W 57, Institute for Market-
OrientedManagement, University of Mannheim

Hartono, Bambang. Manajemen Pemasaran Rumah Sakit. Rineka Cipta. Jakarta. 2010

Kotler, Philip., Shalowitz, Joel.,andStevens, Robert J. (2008).Strategic Marketing for Health


Care Organizations.San Fransisco: Jossey-Bass

https://ekonomi.bisnis.com/read/20190509/12/920377/hanya-36-rumah-sakit-di-indonesia-
berstatus-kelas-dunia

https://staff.blog.ui.ac.id/wiku-a/files/2009/02/kesiapan-rs-dlm-menghadapi-globalisasi_edited.pdf