Anda di halaman 1dari 14

NAMA : FAHAD

NIM : 2018.0309.148

SOAL A

1. Cara mengukur pasar saat ini di bidang bisnis kesehatan yaitu ada empat cara yaitu
 Menaksir permintaan pasar total
 Menaksir permintaan pasar berdasarkan wilayah
 Menaksir pemanfaatan total dalam industry pelayanan kesehatan
 Menaksir pangsa pasar rumah sakit

Dari 4 cara diatas keseluruhan nya membutuhkan data yang akurat baik itu data didalam
rumahsakit yaitu data pasien dan kunjungan maupun data di instansi terkait seperti data
kependudukan, angka kesakitan atau ibu hamil dari dinas kesehatan, angka kecelakaan dari
dinas perhubungan atau kepolisian dan dllaj, mengambil data dari puskesmas binaan, maupun
data yang kita ambil dari rumah sakit yang ada disekitar kita. Dari data-data internal maupun
eksternal tersebut kita dapat mengukur dan meramalkan juga memilih pasar mana yang
potensial untuk diraih sebagai konsumen yang akan ditingkatkan loyalitasnya, dengan
tambahan pilihan media penyampaian dan penawaran yang menarik kepada konsumen.

Sebagai contohnya ditempat saya mengambil data pasien manula dari puskesmas binaan kita
untuk diedukasi dan disosialisakian tentang penyakit degeneratif yang mengidap sebagian
besar manula yaitu katarak, dengan itu kita bisa mengajak calon customer kita untuk
melakukan pemeriksaan mata dan dapat diarahkan untuk dilakukan tindakan operasi katarak
di rumah sakit tempat saya bekerja.

2. Era industry 4.0 saat ini rumah sakit harus sangat jeli dalam pemanfaatan media informasi dalam
mencapai tingkat efisiensi untuk menembus pasar kesehatan yang makin ketat. Tantangan yang
sangat besar dalam menghadapi era disruptif ini sangat membutuhkan pengalaman dan
pengetahuan tentang pemanfaatan Big data dan teknologi informasi dalam mengelola pasar.
Contoh yang kongkret yang sudah dilakukan adalah internet marketing melalui sosial media,
dengan pemanfaatan sosial media kita memberikan kuliah singkat dengan satu materi kesehatan
yang kejadian nya paling sering terjadi seperti contohnya typhoid fever atau dengue fever, lalu
dibuka sesi tanya jawab melalui forum sosial media. Dengan ini masyarakat akan lebih mengenal
instansi kesehatan yang melakukan interaktif di sosial media sehingga nama instansi tersebut
akan selalu teringat saat pasien atau keluarga nya sakit.
3. Menilai tren atau pola pemasaran sangat penting bagi pemasaran rumah sakit dalam merespon
perubahan lingkungan dan teknologi, dalam mempertahankan tren dan dan potensi peluang
dibutuhkan penelitian pasar yang kuat dengan pendekatan perubahan demografis, ekonomi, sosial
– budaya, alam, teknologi dan politik – hukum. Misalnya, pertumbuhan populasi (Demografis),
yang mengarah ke penipisan sumber daya lebih banyak, dan polusi (alam), yang mengarah ke
lebih banyak penyakit, yang pada gilirannya menyebabkan konsumen meminta lebih banyak
peraturan dan hukum (politik-hukum). Pembatasan merangsang solusi teknologi baru dan
penawaran (teknologi). Jika penawaran terjangkau (ekonomis), mereka mungkin benar-benar
mengubah sikap dan perilaku (sosial-budaya).
Pemetaan pangsa pasar dengan menggunakan pendekatan demografi, ekonomi, alam, sosial-
budaya, teknologi dan politik hokum sudah seharusnya dilakukan untuk memetakan pasar mana
yang akan dikelola oleh marketing rumah sakit. Sebagai contoh rumah sakit tempat saya bekerja
berada dikota industry yang sebagian besar konsumennya yaitu pegawai pabrik yang memiliki
karakteristik penyakit yang hampir sama dan tingkat sosio-ekonomi yang hampir merata yang
berada dikelas menengah, jadi promosi yang kita berikan kepada calon konsumen kami seputar
penyakit yang berkaitan dengan kesehatan kerja, low back pain dan infeksi saluran pernafasan.
Pendekatan informasi melalui media sosial dikedepankan dalam merespon kemajuan teknologi
yang disesuaikan dengan tingkat ekonomi dan keterdidikan calon konsumen kami, facebook dan
Instagram menjadi sarana pemasaran kami dalam merespon perkembangan teknologi di dunia
pemasaran rumah sakit saat ini.
Proposal Bisnis Customers Relationship

“ One Patient One Mushaf “

RS. DEWI SRI KARAWANG

2019

Program studi manajemen pemasaran

Universitas Esa Unggul

Angkatan 7

Fahad

2018.0309.148
BAB I
LATAR BELAKANG

Kesadaran masyarakat akan pentingnya pelayanan kesehatan bermutu tinggi terus


meningkat seiring dengan perkembangan kemajuan teknologi kesehatan. Pesatnya kemajuan
teknologi informasi turut memacu tuntutan masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan
yang terbaik. Tidak bisa tidak, RS Dewi Sri perlu terus melakukan upaya dalam memperbaiki
mutu pelayanan kesehatannya dan menjaga hubungan yang hangat dengan pelanggan.
Rumah sakit DEWI SRI merupakan rumah sakit swasta Tipe C yang terletak di Jl. Arif
Rahman Hakim No. 1A Kabupaten Karawang berdiri diatas tanah seluas 8000 m2 yang berada di
pusat kota dengan akses yang mudah baik dari barat dan timur kota Karawang. Rumah Sakit
Dewi Sri berada di bawah naungan PT. Dewi Sri Piranti Syifa Persada. Yang didirikan oleh dr.
Yunanto Sam'un Bashor Pada tanggal 1 Juni 1997 mendapatkan ijin mendirikan rumah sakit.
Sejarah serta lokasi yang sangat strategis ini menjadi kelebihan rumah sakit Dewi Sri yang
dikunjungi oleh masyarakat ekonomi menegah ke atas.
Keselamatan pasien dan keterikatan kepada konsumen menjadi fokus rumah sakit Dewi
Sri dalam menjaga kualitas layanan dan kepuasan pasien agar pada saat pasien sehat maupun
sakit dapat tetap mengingat Rumah sakit Dewi Sri ini. setelah dua puluh dua tahun melayani
masyarakat karawang dan jumlah pasien baru dan lama yang terus meningkat, tidak kurang dari
18.000 kunjungan pasien perbulan yang dilayani oleh rumah sakit ini.
Dengan berjalannya sertifikasi syariah di rumah sakit Dewi Sri maka digalakan program
penyembuhan dan penjagaan kesehatan dengan dasar syariah. Pendekatan penyembuhan melalui
sisi kerohanian termasuk penyembuhan secara Qurani menjadi salah satu fokus pelayanan syariah
yang diterapkan oleh rumah sakit Dewi Sri, penjagaan agama adalah salah satu yang wajib
diterapkan dalam setiap proses penyembuhan pasien agar pasien selalu menginggat Allah Sebagai
satu-satunya sumber kesehatan.
BAB II
TINJAUAN KONSEPTUAL

Hubungan antara pasien dengan rumah sakit sebagai sarana pelayanan kesehatan yang
terpadu saat ini sudah menjadi nilai utama dalam pengembangan konsep pemasaran, Menurut
Kotler (2012), nilai yang dipikirkan pelanggan (Customer preceived Value) adalah selisih antara
calon pelanggan atas semua manfaat serta semua biaya yang ditawarkan dan alternatif-alternatif
lain yang dipikirkan. Proses evaluasi tersebut melibatkan apa yang telah dikorbankan (Customer
total cost,Monetary cost dan Non monetary cost yang mencakup biaya, waktu, energi dan
mental).
Sedikit bebeda dari apa yang disampaikan oleh Kotler, Ducoffe (1996) dalam Dahlen,
et.al (2009:156), mengatakan bahwa Customer preceived Value sebagai nilai terhadap produk
atau jasa yang diterima konsumen berdasarkan iklan dari spanduk atau jasa tersebut.
Menurut Moliner (2007) mengatakan bahwa Customer Preceived Value lebih kepada
pengalaman setelah mengkonsumsi, dimana didalamnya termasukpenilaian subyektif dan reaksi
emosional setelah mengkonsumsi sebuah produk atau jasa.
dari pijakan keilmuan ini kami tim marketing Rumah sakit Dewi Sri mengajukan sebuah
proposal bisnis dalam menjaga keeratan konsumen dengan basis syariah dan kekeluargaan.
Dalam Al-Quran Surat Ali ‘Imran ayat 19 yang artinya “ Sesungguhnya Agama disisi
allah adalah Islam”, Maka penjagaan terhadap agama kita kedepankan dalam menjaga
hubungan pasien dengan penciptanya dan pasien dengan sarana kesehatan yaitu rumah sakit
Dewi Sri. Ditekankan dalam Al-Quran Surat Al Isra ayat 82 yang artinya “Dan Kami turunkan
dari al-Qur`an suatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan
al-Qur`an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian”.
BAB III
TUJUAN

Besarnya Volume pasien VIP dan VVIP yang dilayani rumah sakit Dewi Sri menjadi
sebuah potensi yang besar dalam menjalankan program pemasaran berbasis syariah dan
kekeluargaan agar pola marketing “Word of Mouth” dapat memberikan efek terhadap kunjungan
pasien VIP dn VVIP, dengan program ini masyarakat sebagai konsumen dapat tetap merasakan
kedekatan dengan Allah SWT sebagai penyembuh segala penyakit dan merasakan kehangatan
pelayanan rumah sakit Dewi Sri.
Program pemberian hadiah Al Qur’an (Mushaf) untuk pasien rawat inap VIP dan VVIP
berfokus menjadikan sarana promosi yang baik dalam bersyiar dan mempererat tali ikatan anta
pasien dan rumah sakit.
BAB IV
SASARAN PROGRAM

Sebagai sasaran program “ One Patient One Mushaf ” ini adalah pasien rawat inap VIP
dan VVIP atau dapat diberikan ke keluarganya agar dapat dibacakan selama perawatan, sehingga
dapat melaksanakan program penyembuhan melaui bacaan Al- Quran (Mushaf). Dengan Mushaf
bertuliskan identitas rumah sakit dan pesan dari surat Al Isra ayat 82, maka dapat mengingatkan
pasien terhadap penyembuhan secara syariah dan mengingatkan pasien ke Rs. Dewi Sri. Program
ini juga bertujuan meningkatkan kepuasan pelanggan yang mengarah pada promosi “ Word of
Mouth “.
BAB V
METODE PALAKSANAAN

Cara pelaksanaan program “ One Patient One Mushaf ” yang pertama menentukan
ukuran Al-Quran (Mushaf) yang akan dibagikan, Desain mushaf, berapa banyak yang akan
dibuat, biaya yang dibutuhkan, tempat penyimpanan, sistem stok mushaf, cara distribusi ke unit
admission dan edukasi Al-Quran sebagai media penyembuhan yang syariah. Setelah pasien
diberikan Mushaf maka pasien diberikan lembar tanggapan terhadap program ini yang berisi
narasi bagaimana dampak pemberian mushaf ini terhadap kesembuhan pasien VIP dan VVIP dan
bagaimana kepuasan pasien terhadap program ini dan meminta izin agar tanngapan terbaik akan
diunggah di media sosial rumah sakit.
BAB VI
TIM KERJA

Koordinasi pelaksaanaan program “ One Patient One Mushaf ” ini melibatkan :

1. Direktur
2. Kepala Bagian Umum
3. Kepala Bidang Keperawatan
4. Unit Admission
5. Kepala dan Pelaksana Bimbingan Rohani
6. Kepala Instalasi Rawat Inap
7. Kepala Ruangan Rawat Inap VIP dan VVIP
8. Perawat Pelaksana Ruang VIP dan VVIP
BAB VII

PERENCANAAN PRODUK DAN BIAYA

Mushaf yang akan digunakan

Ukuran : 7,5 x 10,5 cm dengan

Warna : Emas

Desain cover :

RS. Dewi Sri

“ One Patient One Mushaf ”

“Dan Kami turunkan dari al-Qur`an suatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-
orang yang beriman dan al-Qur`an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim
selain kerugian” (QS. Al Isra : 82).

Biaya : @ Rp. 13.000,-

Estimasi : Rata-rata Pasien VIP dan VVIP per bulan +/- 250

Kebutuhan : 250 x 13.000 x 12 = Rp. 39.000.000,- / Tahun


BAB VIII

PROSES DAN MEDIA

Proses agar program “ One Patient One Mushaf ” dengan cara pemberitahuan lewat media sosial
resmi rumah sakit (Facebook dan Instagram) dan media reklame yang sudah disediakan di titik-titik
keramaian rumah sakit bahwa dalam mempererat hubungan antara pasien dengan Rs.Dewi Sri,
penyebaran program ini dengan cara pasien yang dirawat inap di ruang VIP dan VVIP akan diberikan
satu Mushaf (Al-Quran) dengan harapan dapat dibaca dan jadi media penyembuhan lain selain perawatan
dan obat-obatan yang diberikan.
BAB IX

EVALUASI PENCAPAIAN

Proses evaluasi dilakukan bersamaan laporan dari unit rekam medik yang melaporkan jumlah
pasien setiap bulan nya untuk melihat jumlah mushaf yang sudah disebar dan melihat pengumpulan
lembar tanggapan pasien lalu dipilih 3 pasien yang memberi masukan yang bagus untuk diunggah di
media sosial Rs, Dewi Sri.
DAFTAR PUSTAKA

1. Kotler, P. and Keller, K.L. (2012) Marketing Management. 14th Edition, Pearson Education.
2. Dahlen, Micael, Anton Granlund And Grenros, Miekael, 2009, “The Consumer-Perceived Value
of non-traditional media ; effect of brand reputation, appropriateness and expense”., Journal of
Consumer Marketing, Vol.26 No.3. p. 156
3. Miguel A. Moliner, Javier Sánchez, Rosa M. Rodríguez, Luís Callarisa, (2007) "Perceived
relationship quality and post‐purchase perceived value: An integrative framework", European
Journal of Marketing, Vol. 41 Issue: 11/12, pp.1392-1422