Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN KEJANG DEMAM

DI RUANG RAWAT INAP RS. MITRA MEDIKA BONDOWOSO

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas praktek profesi Ners


Mata Kuliah Keperawatan Anak

Disusun oleh:

VIVI AISYAH

NIM : 1932000051

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS

FAKULTAS KESEHATAN-UNIVERSITAS NURUL JADID

PAITON PROBOLINGGO

2020
LEMBAR PERSETUJUAN

Laporan Pendahuluan Kejang Demam

Di Ruang Rawat Inap RS. Mitra Medika

Bondowoso

Oleh :

Vivi Aisyah
NIM. 1932000051

Telah mendapat persetujuan dari pembimbing Klinik dan Akademik

Menyetujui

Pembimbing Klinik Pembimbing Akademik

Umi sayyidah, Amd. Kep Zainal Munir, S.Kep.Ns.M.Kep


NIK. 0723128807

Mengetahui
Kepala Ruang Rawat Inap

Umi Sayyidah, Amd.Kep


LAPORAN PENDAHULUAN

KEJANG DEMAM

A. Definisi Kejang Demam


Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu
38oC. Yang disebabkan oleh suatu proses ekstranium, biasanya terjadi pada usia 3
bulan-5 tahun.
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu
tubuh (suhu mencapai >38C). kejang demam dapat terjadi karena proses intracranial
maupun ekstrakranial. Kejang demam terjadi pada 2-4% populasi anak berumur 6 bulan
sampai dengan 5 tahun (Amid dan Hardhi, NANDA NIC-NOC, 2013).
Kejang demam merupakan gangguan transien pada anak yang terjadi
bersamaan dengan demam. Keadaan ini merupakan salah satu gangguan neurologik
yang paling sering dijumpai pada anak-anak dan menyerang sekitar 4% anak.
Kebanyakan serangan kejang terjadi setelah usia 6 bulan dan biasanya sebelum usia
3 tahun dengan peningkatan frekuensi serangan pada anak-anak yang berusia kurang
dari 18 bulan. Kejang demam jarang terjadi setelah usia 5 tahun. (Dona L.Wong, 2008)

B. Etiologi Kejang Demam


1. Faktor-faktor prenatal
2. Malformasi otak congenital
3. Faktor genetika
4. Penyakit infeksi (ensefalitis, meningitis)
5. Demam
6. Gangguan metabolisme
7. Trauma
8. Neoplasma, toksin
9. Gangguan sirkulasi
10. Penyakit degeneratif susunan saraf.
11. Respon alergi atau keadaan imun yang abnormal.

C. Patofisiologi Kejang Demam

Sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi
CO2dan air. Sel dikelilingi oleh membran yang terdiri dari permukaan dalam yaitu lipoid
dan permukaan luar yaitu ionik. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat
dilalui dengan mudah oleh ion kalium (K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium
(Na+) dan elektrolit lainnya, kecuali ion klorida (Cl–). Akibatnya konsentrasi ion
K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na+ rendah, sedang di luar sel neuron
terdapat keadaan sebalikya. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di
luar sel, maka terdapat perbedaan potensial membran yang disebut potensial membran
dari neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial membran diperlukan energi dan
bantuan enzim Na-K ATP-ase yang terdapat pada permukaan sel.Keseimbangan
potensial membran ini dapat diubah oleh :
a. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraselular
b. Rangsangan yang datang mendadak misalnya mekanisme, kimiawi atau aliran listrik
dari sekitarnya
c. Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan.

Pada keadaan demam kenaikan suhu 1oC akan mengakibatkan kenaikan metabolisme
basal 10-15 % dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada anak 3 tahun sirkulasi
otak mencapai 65 % dari seluruh tubuh dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya
15 %. Oleh karena itu kenaikan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari
membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion kalium
maupun ion natrium akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini
demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel
sekitarnya dengan bantuan “neurotransmitter” dan terjadi kejang. Kejang demam yang
berlangsung lama (lebih dari 15 menit) biasanya disertai apnea, meningkatnya
kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi
hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat disebabkan oleh metabolisme anerobik,
hipotensi artenal disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh meningkat
yang disebabkan makin meningkatnya aktifitas otot dan mengakibatkan metabolisme
otak meningkat

D. Pathway
E. Tanda dan gejala klinis Klinis Kejang Demam
Ada 2 bentuk kejang demam (menurut Lwingstone), yaitu:

1. Kejang demam sederhana (Simple Febrile Seizure), dengan ciri-ciri gejala klinis
sebagai berikut :
a. Kejang berlangsung singkat, < 15 menit

b. Kejang umum tonik dan atau klonik

c. Umumnya berhenti sendiri

d. Tanpa gerakan fokal atau berulang dalam 24 jam

2. Kejang demam komplikata (Complex Febrile Seizure), dengan ciri-ciri gejala klinis
sebagai berikut :

a. Kejang lama > 15 menit

b. Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial

c. Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam.

F. Klasifikasi Kejang Demam

A. Kejang demam sederhana

1) Dikeluarga penderita tidak ada riwayat epilepsi


2) Sebelumnya tidak ada riwayat cedra otak oleh penyakit apapun
3) Serangan kejang demam yang pertama terjadi antara usia 6 bulan – 6 tahun
4) Lamanya kejang berlangsung < 20 menit
5) Kejang tidak bersifat tonik klonik
6) Tidak didapatkan gangguan atau abnormalitas pasca kejang
7) Sebelumnya juga tidak didapatkan abnormalitas neurologi atau abnormalitas
perkembangan
8) Kejang tidak berulang dalam waktu sngkat
9) Tanpa gerakan focal dan berulang dalam 24 jam (H. Nabiel Ridha, 2014)
B. Kejang demam kompleks
Terdapat gangguan kesadaran, walaupun pada awalnya sebagai kejang
parsial simpleks. Dapat mencangkup otomatisme atau gerakan otomatik;
mengecap-ecapkan bibir, mengunyah, gerakan mencongkel yang berulang-ulang
pada tangan, dan gerakan tangan lainnya. Dapat tanpa otomatisme tatapan
terpaku. (Cecily L.Betz dan Linda A.Sowden, 2002)
G. Pemeriksaan Penunjang Kejang Demam
1. Elektro encephalograft (EEG)
Untuk pemeriksaan ini dirasa kurang mempunyai nilai prognostik. EEG abnormal
tidak dapat digunakan untuk menduga kemungkinan terjadinya epilepsi atau kejang
demam yang berulang dikemudian hari. Saat ini pemeriksaan EEG tidak lagi
dianjurkan untuk pasien kejang demam yang sederhana. Pemeriksaan laboratorium
rutin tidak dianjurkan dan dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi.
2. Pemeriksaan cairan cerebrospinal
Hal ini dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya meningitis, terutama
pada pasien kejang demam yang pertama. Pada bayi yang masih kecil seringkali
gejala meningitis tidak jelas sehingga harus dilakukan lumbal pungsi pada bayi yang
berumur kurang dari 6 bulan dan dianjurkan untuk yang berumur kurang dari 18
bulan.
3. Darah
a. Glukosa Darah : Hipoglikemia merupakan predisposisi kejang (N < 200 mq/dl)
b. BUN: Peningkatan BUN mempunyai potensi kejang dan merupakan indikasi
nepro toksik akibat dari pemberian obat.
c. Elektrolit : K, Na
Ketidakseimbangan elektrolit merupakan predisposisi kejang
Kalium ( N 3,80 – 5,00 meq/dl )
Natrium ( N 135 – 144 meq/dl )
4. Cairan Cerebo Spinal : Mendeteksi tekanan abnormal dari CCS tanda infeksi,
pendarahan penyebab kejang.
5. Skull Ray :Untuk mengidentifikasi adanya proses desak ruang dan adanya lesi
6. Tansiluminasi : Suatu cara yang dikerjakan pada bayi dengan UUB masih terbuka
(di bawah 2 tahun) di kamar gelap dengan lampu khusus untuk transiluminasi kepala.

H. Penaktalaksanaan Medis
1. Pengobatan
a. Pengobatan fase akut
Obat yang paling cepat menghentikan kejang demam adalah diazepam yang
diberikan melalui interavena atau indra vectal.
Dosis awal : 0,3 – 0,5 mg/kg/dosis IV (perlahan-lahan).
Bila kejang belum berhenti dapat diulang dengan dosis yang sama setelah 20
menit.
b. Turunkan panas
Anti piretika : parasetamol / salisilat 10 mg/kg/dosis.
Kompres air PAM / Os
c. Mencari dan mengobati penyebab
Pemeriksaan cairan serebro spiral dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan
meningitis, terutama pada pasien kejang demam yang pertama, walaupun
demikian kebanyakan dokter melakukan pungsi lumbal hanya pada kasus yang
dicurigai sebagai meningitis, misalnya bila aga gejala meningitis atau bila kejang
demam berlangsung lama.
d. Pengobatan profilaksis
Pengobatan ini ada dalam cara : profilaksis intermitten / saat demam dan
profilaksis terus menerus dengan antikanulsa setiap hari. Untuk profilaksis
intermitten diberikan diazepim secara oral dengan dosis 0,3 – 0,5 mg/hgBB/hari.
e. Penanganan sportif
1) Bebaskan jalan napas
2) Beri zat asam
3) Jaga keseimbangan cairan dan elektrolit
4) Pertahankan tekanan darah
2. Pencegahan
a. Pencegahan berkala (intermitten) untuk kejang demam sederhana. Beri
diazepam dan antipiretika pada penyakit-penyakit yang disertai demam.
b. Pencegahan kontinyu untuk kejang demam komplikasi
Dapat digunakan :
Penobarbital : 5-7 mg/kg/24 jam dibagi 3 dosis
Fenitorri : 2-8 mg/kg/24 jam dibagi 2-3 dosis
Diazepam : (indikasi khusus)
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN KEJANG DEMAM
A. Pengkajian Keperawatan
1. Anamnesa
a. Aktivitas atau Istirahat
Keletihan, kelemahan umum
Keterbatasan dalam beraktivitas, bekerja, dan lain-lain
b. Sirkulasi
Iktal : Hipertensi, peningkatan nadi sinosis
Posiktal : Tanda-tanda vital normal atau depresi dengan penurunan nadi dan pernafasan
c. Intergritas Ego
Stressor eksternal atau internal yang berhubungan dengan keadaan dan atau penanganan
Peka rangsangan : pernafasan tidak ada harapan atau tidak berdaya Perubahan dalam
berhubungan
d. Eliminasi
1) Inkontinensia epirodik
2) Makanan atau cairan
3) Sensitivitas terhadap makanan, mual atau muntah yang berhubungan dengan aktivitas
kejang
e. Neurosensori
1) Riwayat sakit kepala, aktivitas kejang berulang, pinsan, pusing riwayat trauma kepala,
anoreksia, dan infeksi serebal
2) Adanya area (rasangan visual, auditoris, area halusinasi)
3) Posiktal : Kelamaan, nyeri otot, area paratise atau paralisis
f. Kenyamanan
1) Sakit kepala, nyeri otot, (punggung pada periode posiktal)
2) Nyeri abnormal proksimal selama fase iktal
g. Pernafasan
1) Fase iktal : Gigi menyetup, sinosis, pernafasan menurun cepat peningkatan sekresi
mulus
2) Fase posektal : Apnea
h. Keamanan
1) Riwayat terjatuh
2) Adanya alergi
i. Interaksi Sosial
Masalah dalam hubungan interpersonal dalam keluarga lingkungan sosialnya
2. Pemeriksaan Fisik
a. Aktivitas
1) Perubahan tonus otot atau kekuatan otot
2) Gerakan involanter atau kontraksi otot atau sekelompok otot
b. Integritas Ego
1) Pelebaran rentang respon emosional
c. Eleminasi
Iktal : penurunan tekanan kandung kemih dan tonus spinter
Posiktal : otot relaksasi yang mengakibatkan inkonmesia
d. Makanan atau cairan
1) Kerusakan jaringan lunak (cedera selama kejang)
2) Hyperplasia ginginal
e. Neurosensori (karakteristik kejang)
1) Fase prodomal : Adanya perubahan pada reaksi emosi atau respon efektifitas yang
tidak menentu yang mengarah pada fase area.
2) Kejang umum
Tonik – klonik : kekakuan dan postur menjejak, mengenag peningkatan keadaan, pupil
dilatasi, inkontineusia urine
3) Fosiktal : pasien tertidur selama 30 menit sampai beberapa jam, lemah kalau mental
dan anesia
4) Absen (patitmal) : periode gangguan kesadaran dan atau makanan
5) Kejang parsial
Jaksomia atau motorik fokal : sering didahului dengan aura, berakhir 15 menit tdak ada
penurunan kesadaran gerakan ersifat konvulsif
f. Kenyamanan
Sikap atau tingkah laku yang berhati-hati
Perubahan pada tonus otot
Tingkah laku distraksi atau gelisah
g. Keamanan
Trauma pada jaringan lunak
Penurunan kekuatan atau tonus otot secara menyeluruh

B. Diagnosa Keperawatan
1. Hipertermi Berhubungan dengan proses penyakit
2. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan kerusakan sel neuron otak
3. Resiko tinggi cedra berhubungan dengan spasme otot ektermitas

4. Risiko infeksi b/d penurunan imunitas tubuh


5. Kurang pengetahuan keluarga tentang cara penanganan kejang berhubungan dengan
kurangnya informasi.

C. Rencana Keperawatan

Diagnosa
NO Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Keperawatan
1 Hipertermi Setelah dilakukan tindakan Regulasi Temperatur :
berhubungan keperawatan selama 3 x 24 jam - Monitor suhu bayi/anak
dengan proses diharapkan : sampai stabil (36,5oC –
infeksi Termoregulasi membaik, 37,5oC)
- Monitor suhu tubuh anak
dengan semua indikator SLKI
tiap 2 jam, jika perlu
mencapai skor 5,
- Monitor tekanan darah,
- Menggigil menurun
frekuensi pernafasan,
- Kulit merah menurun
- Kejang menurun nadi
- Suhu tubuh membaik - Monitor warna dan suhu
- Suhu kulit membaik
kulit
- Monitor dan catat tanda
gejala hipo/hipertermi
- Pasang alat pemantau
suhu kontinue jika perlu
- Tingkatkan asupan
cairan dan nutrisi yang
adekuat
- Sesuaikan suhu
lingkungan dengan
kebutuhan klien
- Jelaskan cara
pencegahan hipertermi
karena terpapar udara
dingin
- Kolaborasi pemberian
analgesik, jika perlu

Manajemen Edema Serebral :


- Monitor TTV
Setelah dilakukan tindakan - Monitor edema
- Monitor status
keperawatan selama 3 x 24 jam
pernafasan
2 Gangguan diharapkan :
- Kurangi stimulus dalam
perfusi jaringan Semua indikator SLKI
lingkungan klien
serebral mencapai skor 5, - Catat perubahan klien
berhubungan - Tingkat kesdaran dalam berespon terhadap
dengan meningkat stimulus
- Kognitif meningkat - Hindari valsava
kerusakan
- TIK menurun
maneuver
neuromuskuler - Demam menurun
- Monitor intake dan
- Refleksi saraf membaik
otak
output
- Pertahankan suhu
normal
- Lakukan tindakan
pencegahan terhadap
terjadinya kejang
- Kolaborasi dalam
mentukan obat apa yang
diperlukan dan kelola
menuruut resep /
protokol

Pencegahan Cedera :
- Identifikasi area
lingkungan yang
Setelah dilakukan tindakan menyebabkan cedera
- Sediakan pencahayaan
keperawatan selama 3 x 24 jam
yang memadai
diharapkan :
- Sosialisasikan klien dan
3 Resiko cedera Tingkat Cedera menurun,
keluarga dengan
berhubungan dengan semua indikator SLKI
lingkungan ruang rawat
dengan adanya mencapai skor 5, - Diskusikan mengenai
patogen (spasme - Toleransi aktivitas latihan dan terapi fisik
otot ekstremitas) meningkat yang diperlukan
- Kejadian cedera - Diskusikan bersama
menurun anggota keluarga yang
- Ketegangan otot
dapat mendampingi
menurun
klien
- Pola istirahat / tidur
- Tingkatkan frekuensi
membaik
observasi dan
pengawasan klien, sesuai
Kontrol Kejang membaik,
kebutuhan
dengan semua indikator SLKI
mencapai skor 5,
Manajemen Kejang :
- Kemampuan
- Monitor terjadinya
mengidentifiksi pemicu
kejang berulang
kejang meningkat - Monitor karakteristik
- Kemampuan mencegah
kejang
pemicu kejang - Monitor status
meningkat neurologis
- Kepatuhan minum obat - Monitor TTV
- Baringkan klien agar
meningkat
- Melaporkan frekuensi tidak terjatuh
kejang menurun - Pertahankan kepatenan
jalan nafas
- Longgarkan pakaian,
terutama area leher
- Dampingi selama
periode kejang
- Berikan O2 jika perlu
- Anjurkan keluarga untuk
mnghindari
memasukkan apapun
kedalam mulut klien
selama periode kejang
- Kolaborasi pemberian
antikonvulsan

Pencegahan Infeksi :
- Monitor tanda dan gejala
infeksi lokal dan
sistemik
- Batasi jumlah
pengunjung
- Cuci tangan sebelum dan
Setelah dilakukan tindakan
sesudah kontak langsung
keperawatan selama 3 x 24 jam
dengan klien dan
diharapkan :
lingkungan
Tingkat Infeksi menurun,
- Pertahankan teknik
dengan semua indikator SLKI
aseptik
4 Resiko Infeksi mencapai skor 5, - Jelaskan tanda dan
berhubungan - Nafsu makan menngkat gejala infeksi
- Demam menurun - Anjurkan cara mencuci
dengan
- Nyeri menurun
tangan yang benar
penurunan - Kadar sel darah putih
- Ajarkan etika batuk
imunitas tubuh membaik - Anjurkan peningkatan
- Kultur darah membaik
asupan nutrisi
- Anjurkan peningkatan
asupan cairan
- Kolaborasi pemberian
imunisasi, jika perlu

Edukasi Kesehatan :
- Identifikasi kesiapan dan
kemampuan menerima
informasi
- Identifikasi faktor -
faktor yang dapat
meningkatkan /
menurunkan motivasi
Setelah dilakukan tindakan
perilaku
keperawatan selama 3 x 24 jam
- Sediakan materi dan
diharapkan :
media penkes
Tingkat Pengetahuan membaik, - Jadwalkan penkes sesuai
dengan semua indikator SLKI kesepakatan
- Berikan kesepakatan
mencapai skor 5,
untuk bertanya
5 Defisit - Perilaku sesuai anjuran
- Jelaskan faktor resiko
pengetahuan meningkat
yang dapat
- Kemampuan
keluarga tentang
mempengaruhi
menjelaskan
penanganan
kesehatan
pengetahuan tentang
penderita selama - Ajarkan strategi yang
kejang meningkat
kejang dapat digunakan umtuk
- Perilaku sesuai
berhubungan meningkatkan perilaku
pengetahuan meningkat
dengan kurang - Pertanyaan tentang hidup bersih dan sehat
terpapar masalah yang dihadapi
informasi menurun
- Persepsi yang keliru
terhadap masalah
menurun
- Perilaku membaik
DAFTAR PUSTAKA

Arif, Mansjoer, dkk, (2000). KapitaSelektakedokteran. Edisi 3. MedicaAesculpalus, FKUI.


Jakarta

Carolin, Elizabeth J. 2002. Buku Saku Patofisiologi. EGC: Jakarta.

Carpenito, L.J.,2000, Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktek Klinis, EGC, Jakarta

Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan


dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, alih bahasa; I Made Kariasa, editor; Monica
Ester, Edisi 3. EGC: Jakarta.

DPP PPNI. Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI): Definisi dan Indikator
Diagnostik (1st ed.). Jakarta; 2017

DPP PPNI. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI): Definisi dan Tindakan
Keperawatan (1st ed.). Jakarta; 2018

DPP PPNI. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI): Definisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan (1st ed.). Jakarta; 2019
Hidayat, Azis Alimul. (2005). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak I. Edisi:1. Jakarta:
Salemba medika.

Maeda, Dkk. Lpkejangdemam. 12 mai 2018. https://www.scribd.com/doc/240209755/LP-


Kejang-Demam

Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.


(2007). Ilmu Kesehatan Anak. Edisi: 11. Jakarta: Infomedika

Syaifudin (2006). Anatomi Fisiologi untuk mahasiswa keperawatan. Editor: Monica Ester.
Edisi: 3. Jakarta: ECG

Hidayat, Azis Alimul. (2005). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak I. Edisi:1. Jakarta:
Salemba medika.
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
(2007). Ilmu Kesehatan Anak. Edisi: 11. Jakarta: Infomedika

Syaifudin (2006). Anatomi Fisiologi untuk mahasiswa keperawatan. Editor: Monica Ester.
Edisi: 3. Jakarta: ECG

Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth,
alih bahasa; Agung Waluyo, editor; Monica Ester, Edisi 8. EGC: Jakarta.