Anda di halaman 1dari 14

FORMULASI DAN TEKNOLOGI

RANCANGAN FORMULA

“TABLET SALUT SELAPUT”

OLEH :

NAMA :MUHAMMAD SYAMSIR MURSALI

NIM : O1A1 18 175

KELAS. :C

KELOMPOK : VIII (DELAPAN)

DOSEN : VICA ASPADIAH, S.Farm.,M.S.Farm

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2020
I.RANCANGAN FORMULA
Dalam 325 mg tablet mengandung :
Ranitidin 150mg

Avicel 80mg

Starch 1500 60mg

Mg streat 7,5mg

Aerosil 2,5mg

Salut selaput:

HPMC. 21,5mg

PEG 400. 3,5mg

Master Formula
Nama Produk :RANITIDINE HCl®
Jumlah Produk : 100 tablet
Tanggal Formulasi : 17 Juni 2019
Tanggal Produksi : 17 Juni 2020
No. Registrasi : DKL1921110110A1
No. Batch :0160621
No Nama Fungsi Konsent Perdosis Perbat
Bahan rasi ch

1. Raniti Zat aktif 150mg 150mg 15000


din mg

2. Avicel sebagai pengisi 80mg 80mg 8000m


Alasan: bersifat paling g
kompresibilitas dibandingkan
semua pengisi untuk formula
cetak langsung dan mempunyai
potensial pengenceran yang
tingggi (Raymond,2006).

3. Starch sebagai glidan 60mg 60mg 6000m


1500 Alasan: karena mempunyai sifat g
bebas mengalir, anticaking dan
anticlogging(Raymond,2006).

4. Magne sebagai lubrikan 2,5mg 2,5mg 250mg


sium Alasan: karena mempunyai sifat
streat yang hidrofob (Raymond, 2006

5. Aerosi sebagai pengisi 7,5mg 7,5mg 750mg


l Alasan:bersifat paling
kompresibilitas dibandingkan
semua pengisi untuk formula
cetak langsung dan mempunyai
potensial pengenceran yang
tingggi (Raymond,2006).

6 HPMP Sebagai penyalut 21,5mg 21,5mg 2150m


C g

7 PEG Sebagai penyalut 3,5mg 3,5mg 350mg


400
II.KARAKTERISTIK ZAT AKTIF
A. Mekanisme Ranitidin
Ranitidin termasuk senyawa antagonis reseptor H2 secara kompetitif dan reversible dengan
H2 di sel parietal, menyebabkan berkurangnya produksi sitolitik siklik AMP dan sekresi
histamine yang menstimulasi sekresi asam lambung. Interaksi antara siklik AMP dan jalur
kalsium menyebabkan inhibisi parsial asetikolin dan gastrin yang menstimulasi sekresi asam.
Ranitidin memiliki durasi yang lebih lama dari simetidine. Ranitidin digunakan untuk
profilaksis. Reseptor H2 terdapat dilambung, pembulu darah (menurunkan tekanan darah dengan
menurunkan resistensi perifer, positif kronotropisme, inotropik positif). Antagonis reseptor H 2
menghambat secara sempurna sekresi asam lambung yang sekresinya diinduksi oleh histamine
maupun gastrin, tetapi menghambat secara parsial sekresi asam lambung yang sekresinya
diinduksi oleh asetilkolin. Hal tersebut dapat terjadi dengan melihat kembali mekanisme sintesis
asam lambung di sel parietal. Antagonis reseptor H2 juga menghambat sekresi asam lambung
yang distimulasi oleh makanan, insulin, kafein, dan nocturnal. Antagonis reseptor H 2 mengurangi
volume cairan lambung dan konsentrasi H+. seluruh senyawa yang termasuk antagonis reseptor
H2 efektif menyembuhkan tukak lambung maupun tukak duodenum. Secara umum kekambuhan
setelah diterapi umumnya berhenti 60-100% (Katzung, 1997).
B. Farmakokinetika
Bioavailabilitas ranitidine yang diberikan secara oral sekitar 50% dan meningkat pada
pasien penyakit hati. Masa paruhnya kira-kira 1,7 -3 jam pada orang dewasa, dan memanjang
pada orang tua dan pasien gagal ginjal. Pada pasien penyakit hati masa paruh ranitidine juga
memanjang meskipun tidak sebesar pada ginjal.Pada ginjal normal, volume distribusi 1,7 L/kg
sedangkan klirens kreatinin 25-35 ml/menit. Kadar puncak plasma dicapai dalam 1-3 jam setelah
penggunaan ranitidine 150 mg secara oral, dan terikat protein plasma hanya 15 %. Ranitidine
mengalami metabolism lintas pertama di hati dalam jumlah yang cukup besar setelah pemberian
oral. Ranitidine dan matabolitnya diekskresi terutama melalui ginjal, sisanya melalui tinja.
Sekitar 70% dari ranitidine yang diberikan IV dan 30 % yang diberikan secara oral diekskresi
dalam urin dalam bentuk asal (Ganiswarna, 1995).
C. Farmakodinamik
Ranitidine menghambat reseptor H2 secara selektif dan reversible. Reseptor H 2 akan
merangsang sekresi cairan lambung sehingga pada pemberian ranitidine sekresi cairan lambung
dihambat. Pengaruh fisiologi ranitidine terhadap reseptor H 2 lainnya, tidak begitu
penting.walaupun tidak lengkap ranitidine dapat menghambat sekresi cairan lembung akibat
rangsangan obat muskarinik atau gastrin. Ranitidine mengurangi volume dan kadar ion hidrogen
cairan lambung. Penurunan sekresi asam lambung mengakibatkan perubahan pepsinogen
menjadi pepsin menurun (Ganiswarna, 1995).

D. Efek samping
1. Sakit kepala
2. Susunan saraf pusat, jarang terjadi: malaise, pusing, mengantuk, insomnia, vertigo, agitasi,
depresi, halusinasi.
3. Kardiovaskular, jarang dilaporkan: aritmia seperti takikardia, bradikardia, atrioventricular
block, premature ventricular beats.
4. Gastrointestinal, konstipasi, diare, mual, muntah, nyeri perut. Jarang dilaporkan: pankreatitis.
5. Muskuloskeletal, jarang dilaporkan: artralgia dan mialgia.
6. Hematologik, leukopenia, granulositopenia, pansitopenia, trombositopenia (pada beberapa
penderita). Kasus jarang terjadi seperti agranulositopenia, trombositopenia, anemia aplastik
pernah dilaporkan.
7. Lain-lain, kasus hipersensitivitas yang jarang (contoh: bronkospasme, demam, eosinofilia),
anafilaksis, edema angioneurotik, sedikit peningkatan kadar dalam kreatinin serum (Anonim,
2011).

E. Dosis Ranitidin oral


1. 150 mg 2 kali sehari (pagi dan malam) atau 300 mg sekali sehari sesudah makan malam
atau sebelum tidur, selama 4 – 8 minggu.
2. Tukak lambung aktif 150 mg 2 kali sehari (pagi dan malam) selama 2 minggu.
3. Terapi pemeliharaan pada penyembuhan tukak 12 jari dan tukak lambung Dewasa : 150
mg, malam hari sebelum tidur.
4. Keadaan hipersekresi patologis (Zollinger - Ellison, mastositosis sistemik) Dewasa : 150
mg, 2 kali sehari dengan lama pengobatan ditentukan oleh dokter berdasarkan gejala klinik
yang ada. Dosis dapat ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan masing-masing penderita. Dosis
hingga 6 g sehari dapat diberikan pada penyakit yang berat.
5. Refluks gastroesofagitis Dewasa: 150 mg, 2 kali sehari.
6. Esofagitis erosif Dewasa: 150 mg, 4 kali sehari.
7. Pemeliharaan dan penyembuhan esofagitis erosif Dewasa: 150 mg, 2 kali sehari.
8. Dosis pada penderita gangguan fungsi ginjal Bila bersihan kreatinin < 50 mL / menit: 150
mg / 24 jam. Bila perlu dosis dapat ditingkatkan secara hati-hati setiap 12 jam atau kurang
tergantung kondisi penderita.
9. Hemodialisis menurunkan kadar Ranitidin yang terdistribusi (Anonim, 2011).

F.Uraian zat aktif


Ranitidine (Ditjen POM RI, 1995)
Nama resmi : RANITIDINI
Nama lain : Ranitidin hidroklorida, hidroxypropane, diamine
Nama kimia : asam-5-etil-5 fenilbarbiturat
RM/BM : C13H22N4O3S.HCl/350,87 gram/mol
Rumus struktur :

Pemerian : serbuk hablur, putih sampai kuning pucat;praktis tidak


berbau;peka terhadap cahaya dan kelembapan, melebur
pada suhu lebih kurang 140ͦ disertai peruraian
Kelarutan : sangat mudah larut dalam air, cukup larut dalam etanol dan
sukar larut dalam kloroform.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai zat aktif
III.Alasan pemilihan bentuk sediaan
Didalam formulasi ini, Ranitidine dibuat dengan bentuk sediaan salut selaput karena
Penggunaan formula dengan penyalut berfungsi untuk menjaga kualitas tablet dari pengaruh
kelembaban. Penyalutan tablet dengan selaput akan melindungi zat inti yang bersifat mudah
teroksidasi dan higroskopis sehingga diharapkan kualitas dan kadar zat inti akan stabil dalam
jangka waktu yang lama. Formulasi penyalutan melibatkan polimer, yangmana polimer bertindak
sebagai pembentuk dengan berbagai aditif lain seperti plasticizer, antitack agent dan pewarna
yang larut dengan air sehingga air sebagai pelarut yang sering digunakan dalam formulasi.
(Yunarto, 2017)

IV.Alasan pemilihan zat aktif


Ranitidin Hidroklorida
Ranitidin tablet mengandung ranitidin hidroklorida dengan jumlah setara tidak kurang dari
90% dan tidak lebih dari 110% dari jumlah label dari Ranitidin (USP, 2007).
Alasan menggunakan ranitidine karena ranitidine ini merupakan antagonis
kompetitif histamine yang khas pada reseptor histamine H2 sehingga secara efektif
dapat menghambat sekresi asam lambung, menekan kadar asam dan volume sekresi
lambung (Utama dkk, 2016).

VI.Alasan pemilihan Zat tambahan :


a. Magnesium stearat
Magnesium stearat mengandung tidak kurang dari 6,5 % dan tidak lebih dari 8,5 %
magnesium oksida dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Magnesium stearat mempunyai
pemerian yaitu serbuk halus, berwarna putih, licin dan mudah melekat pada kulit, bau lemah
khas, praktis tidak larut dalam air, dalam etanol (95%) P dan dalam eter P (Anonim, 1979).
b. Microcristaline selulosa atau Avicel
1). Rumus empiris dan berat molekul
(C6H10O5)n  ≈ 36 000
2). Fungsi
Adsorben, suspending agent, pengisi kapsul dan tablet, disntegran pada tablet
3). Aplikasi pada formulasi dan teknologi farmasetik
Microcrystalline cellulose secara luas digunakan sebagai pengisi pada tablet oral dan
kapsulbaik dengan granulasi basah ataupun komprsi langsung. Selain itu, microcriytalline
cellulose juga digunakan sebagai lubrikan dan disintegran yang sangat berguna saat pembuatan
tablet.
4). Pemerian
Microcrystalline cellulose dimurnikan, depolimerasi selulosa sebagian dengan deskripsi;
putih, tak berbau, tak berasa, bubuk  kristal dengan partikel berpori. Secara komersial tersedia
dengan ukuran, tingkat kelembapan berbeda untuk aplikasi yang berbeda
5). Stabilitas  dan kondisi penyimpanan
Microcrystalline cellulose tabil meskipun higrospik. Tempatkan ditempat yang tertutup
dengan baik, sejuk dan kering.
6). Inkompatibilitas
Microcrystalline cellulose inkompatibel dengan agen oksidasi kuat (Anonim, 1986).
c. Pregelatinized starch atau Starch 1500
Starch 1500 merupakan partially pregelatin starch (Kibbe, 2006) Pregelatin starch adalah
hasil modifikasi amilum dengan cara hidrolisis dan penghancuran sebagian butiran amilum.
Sifatnya lebih baik dibandingkan amilum murni (Sulaiman, 2007).
Starch 1500, berdasarkan atas proses perbuatannya, masih tetap membawa sifat hancur dari
amilum jagung. Sifat ini membuatnya dapat digunakan sebagai bahan penghancur baik
penghancur dalam atau penghancuran luar dari formulasi tablet (Bandelin, 1989). Penggunaan
dalam konsentrasi 2 – 10 % mempunyai aktifitas yang sama seperti superdisintegrant (Anonim,
2007)
1). Mekanisme kerja disintegrasi oleh starch
a) Dengan membentuk pathways dalam matriks tablet sehingga air dapat masuk melalui pori
(kapiler) sehingga menghancurkan tablet
b) Starch mengembang ketika terekspos oleh air
c) Saat pengempaan, terjadi distorsi pada bentuk starch; ketika terekspos oleh air, terjadi
rekoveri bentuk starch (Lachman, et all, 1994).
2). Pemakaian
3-15 %, merupakan disintegran yang paling umum digunakan. Pemakaiannya disesuaikan
dengan jenis starch, tekanan pengempaan, dan kandungan air massa cetak
3). Kelarutan
Praktis tidak larut dalam etanol dingin (95%) dan dalam air dingin
4). pH
5,5-6,5 pada 25°C (2% w/v aqueous dispersion of corn starch)
5). Stabilitas dan Penyimpanan
Penyimpanan di tempat yang sejuk, kering, dan dalam wadah kedap udara.
6). Keamanan
Starch merupakan senyawa makanan yang dapat dimakan yang dikenal secara luas
keamanannya.
7). Perhatian khusus
Simpan dalam tempat yang bersih, kering, dan ruang berventilasi baik. Sebelum digunakan,
harus dikeringkan pada suhu 80-90 °C untuk menghilangkan air yang terabsorpsi.
d. Fumed Silica atau Aerosil
1. Nama lain          
koloidal silika, Cab-O-Sil, silika, koloidal silikon dioksida
2. Rumus empiris  
SiO2
3. Berat molekul    
60,08
4. Pemerian 
Aerosil adalah merupakan uap silika submikroskopik dengan     ukuran partikel sekitar 15
nm. Berwarna putih terang, tidak berbau, tidak berasa.
5. Inkompatibilitas 
Dengan dietil stil bestrol
6. Penggunaan  
Absorben anticakeking agent, penstabil emulsi ( emulgator ),   glidan. Suspending agent,
disintegran tablet, peningkat viskositas. (Anonim, 1986)

VII .Cara Pembuatan


Salah satu metode pembuatan tablet yaitu kempa langsung. Metode ini digunakan untuk
bahan-bahan yang memiliki sifat mudah mengalir atau sifat kohesifitasnya tinggi sehingga
memungkinkan untuk langsung dicetak didalam mesin tablet tanpa memerlukan ganulasi
basah/kering (Ansel, dkk, 1999). Cara kempa langsung ini sangat disukai karena banyak
keuntungan, yaitu secara ekonomis merupakan penghematan besar karena hanya menggunakan
sedikit alat, energi, dan waktu (Shangraw, 1989).
Kempa langsung didefinisikan sebagai proses pembuatan tablet dengan langsung
mengempa campuran serbuk (zat aktif dan eksipien), dan tidak ada proses sebelumnya kecuali
penimbangan dan pencampuran bahan. Metode pembuatan tablet secara kempa langsung
merupakan metode yang sangat disenangi. Hal ini karena kempa langsung memberi beberapa
keuntungan diantaranya: tahapan produksinya sangat singkat, peralatan yang dibutuhkan tidak
banyak, membutuhkan tenaga yang sedikit dan karena prosesnya singkat maka stabilitasnya tetap
terjaga (Sulaiman, 2007).
Pembuatan tablet Ranitidin HCL dimulai dari:
1. Timbang semua bahan sesuai dengan jumalh tablet yang diinginkan
2. Campur semua bahan kecuali magnesium stearat dalam Turbula® T2A blender dan blender
selama 10 menit
3. Kemudian tambahkan magnesium stearat dan blender lagi selama 2 menit
4. Kemudian kempa tablet pada (SMI) Piccola (Riva) 10-station, tekan tablet menggunakan
standard concave 9 mm tooling pada 30 RPM.
5. Kemudian lakukan evaluasi tablet meliputi kekerasan, kerapuhan, keseragaman bobot, waktu
hancur, disolusi dan disintegran time

Penyalutan tablet
 Dilarutkan HPMC 21,5 mg dan PEG-400 3,5mg masing-masing dalam air
 Dimasukkan tablet kedalam panci
 Dipasang dan disesuaikan pipa penyemprot agar dapat menyemprot separuh atas tumpukan
tablet
 Larutan yang dibuat, dimasukkan kedalam alat semprot
 Dikocok panic secara berselang-seling ketika tablet masih dalam keadaan panas
 Bila temperatur udara yang keluar 300C, maka dimulai penyemprotan
 Dihasilkan tablet yang telah disalut

VIII.Evaluasi Tablet dan syarat_syaratnya


1. Keseragaman Bobot Tablet
Tablet tidak bersalut harus memenuhi memenuhi syarat keseragaman bobot yang
ditetapkan sebagai berikut: timbang 20 tablet, hitung bobot rata-rata tiap tablet. Jika ditimbang
satu persatu, tidak boleh lebih dari 2 tablet yang masingmasing bobotnya menyimpang dari bobot
rata-ratanya lebih besar dari harga yang ditetapkan kolom A dan tidak satu tablet pun yang
bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih dari harga yang ditetapkan kolom B. Jika
tidak mencukupi 20 tablet, dapat digunakan 10 tablet, tidak satu tablet pun yang bobotnya
menyimpang lebih besar dari bobot rata-rata yang ditetapkan kolom A dan tidak satu tablet pun
yang bobotnya menyimpang lebih besar dari bobot rata-rata yang ditetapkan kolom B (Anonim,
1995).
Tabel 1. Persyaratan Penyimpangan Bobot Tablet (Anonim, 1995)

2. Kekerasan Tablet
Kekerasan merupakan parameter yang menggambarkan ketahanan tablet dalam melawan
tekanan mekanik seperti goncangan, kikisan dan terjadi keretakan tablet selama pembungkusan
dan pengangkutan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kekerasan ini dipakai sebagai ukuran dari
tekanan pengempaan, semakin besar tekanan yang diberikan saat pentabletan maka akan
meningkatkan kekerasan tablet. Kekerasan tablet yang baik mempunyai kekerasan antara 4 - 8kg
(Parrott, 1971).
3. Kerapuhan Tablet
Kerapuhan tablet merupakan ketahanan tablet dalam melawan tekanan mekanik terutama
goncangan dan pengikisan. Kerapuhan dinyatakan dalam persentase bobot yang hilang selama
uji kerapuhan. Tablet yang baik mempunyai nilai kerapuhan tidak lebih dari 1% (Parrott, 1971).
Nilai kerapuhan tablet diatas 0,06% (Colorcon, 2006).

Kerapuhan tablet dapat dihitung dengan rumus


% kerapuhan= 1 x100% w – w1 ……………………………….. (2)
w
Keterangan :
w : berat tablet awal
w1 : berat tablet akhir

4. Waktu Hancur Tablet


Waktu hancur tablet adalah waktu yang diperlukan untuk hancurnya tablet dalam waktu
yang sesuai sehingga tidak ada bagian yang tertinggal diatas kasa. Waktu hancur dipengaruhi
oleh sifat fisik granul dengan kekerasan (Banker dan Anderson, 1994). Waktu yang diperlukan
untuk hancurnya tablet untuk medium yang sesuai kecuali dinyatakan lain tidak lebih dari 15
menit (Anonim, 1995).

5. Disolusi
Didefinisikan sebagai proses melarutnya suatu zat kimia atau senyawa obat dari sediaan
padat kedalam suatu medium tertentu. Uji disolusi berguna untuk mengertahui seberapa banyak
obat yang melarut dalam medium asam atau basa (lambung dan usus halus) (Ansel, 1989).
Tablet efektif dalam melepaskan obatnya untuk diabsorbsi tergantung pada kecepatan
hancurnya dan pecahnya granul. Efek dari suatu tablet dalam melepas obatnya untuk absorbsi
sistemik agaknya bergantung pada laju disintegrasi dari bentuk sediaan dan deagregasi dari
granul-granul tersebut. Tetapi yang lebih penting adalah laju disolusi dari obat padat tersebut
(Martin, dkk, 1993).
6. Uji Penampilan
Tablet diamati secara visual meliputi: warna (homogenitas), bentuk (bundar, permukaan
rata/cembung), cetakan (garis patah, tanda, logo, pabrik), dan lain-lain.

7. Uji Keseragaman Ukuran


Kecuali dinyatakan lain diameter tablet tidak boleh lebih dari 3x dan tidak kurang dari 1 1/3
tebal tablet. Uji diameter dan ketebalan tablet ini dilakukan terhadap 20 tablet. Ketebalan tablet ±
3,59 mm
DAFTAR PUSTAKA

Alebiowu, G dan  Itiola, O.A 2003. The Influence of Pregelatinized Starch Disintegrants on
Interacting Variable that Act on Disintegrant Properties. Pharmaceutical Technology.
Anonim, 1986. Handbook of Pharmaceutical Excipients, American Pharmaceutical Association
and the Pharmaceutical Society of Great Britain. Washington. London.

Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Jakarta.

Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Jakarta.

Anonim. 2007. The United States Pharmacopoeia 30 – The National Formulary 25. United
States Pharmacopoeia Convention, Inc. Electronic version

Ansel HC. 1998 . Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi keempat. UI-Press. Jakarta.

Banker, G.S. dan Anderson, N.R., 1994, Tablet In the Theory and Practice of Industrial
Pharmacy, Ed III. UI Press. Jakarta.

Ganiswarna, Sulistia G., 1995, Farmakologi dan Terapi, Edisi 4, Fakultas Kedokteran UI,
Jakarta

Katzung, B. 1997. Farmakologi Dasar dan Klinik (edisi 4). EGC. Jakarta.

Kibbe, AH. 2000. Handbook of pharmaceutical Excipients. Third Edition. American


Pharmaceutical Association: Washington D.C.

Klingler, dkk., 2006, Pregelatinized Starches and Process for Their Production, US Patent
Lachman L, Lieberman HA, Kanig JL. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Indrustri. Edisi Ketiga.
Vol III. UI Press. Jakarta.

Martin, Swabrick, J., Cammarata, A., 1993, Farmasi Fisil Ed III, UI, Press

Parrot, E.L., 1971, Pharmaceutical Technology Fundamental Pharmaceutics, 3rd Ed, Burger
Publishing Company. Minneapolis.

Raymond C Rowe, Paul J Sheskey, Siaˆn C Owen (ed.). 2006. Pharmaceutical Excipients Edisi
ke lima. Pharmaceutical Press. USA.

Sheth, B. B., Bandelin, F. J., Shangraw, R. F, 1989, Compresed Tablet in Pharmaceuticals


Dosage Farms: Tablet, Vol. I Lachman, L., Lieberman, H. A., (Editor), Marcel Decker inc.,
New York

Skoog DA, West DM, Holler FJ. 1996. Fundamentals of Analytical Chemistry. 7th edition.
Saunders College Publishing. New York.

Sulaiman, T.N.S., 2007. Teknologi & Formulasi Sediaan Tablet, Laboratorium Teknologi
Farmasi Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Uzunovic,Alija and Edina Franic.2007. Effect of Magnesium Stearate Concentration on


Dissolution Properties of Ranitidine Hydrochloride Coated Tablets. Institute for Quality
Control of Medicines, Titova, Sarajevo, Bosnia and Herzegovina.

Yunarto, Nanang., Indah Sulistyowati, Arifayu Addiena Kurniatri1, & Nurul Aini1. 2017.
Pengaruh Penyalutan terhadap Karakteristik Fisika Kimia dan Stabilitas Tablet Fraksi Etil
Asetat Daun Gambir sebagai Agen Antidislipidemia. Media Litbangkes, 27(2):71–78.