Anda di halaman 1dari 3

STBM

PENDAHULUAN

Semarang Geliat reformasi pembangunan sanitasi di Indonesia semakin


menunjukan perkembangan yang progresif. Melalui program Sanitasi Total
Berbasis Masyarakat (STBM) yang disinergikan dengan upaya kolaboratif seperti
terobosan pemimpin daerah, kemitraan lintas sektor dan partisipasi aktif
masyarakat, STBM sebagai strategi nasional pembangunan sanitasi perdesaan
telah berhasil meningkatkan akses sanitasi 47% penduduk perdesaan di tahun
2015 serta menurunkan jumlah penduduk perdesaan yang melakukan praktik
buang air besar sembarangan (BABS) tiga kali lipat dari rata-rata 0,6% per tahun
(2000-2008) menjadi 1,6% per tahun sepanjang 2008-2015. Urgensi penyediaan
akses sanitasi yang layak khususnya bagi masyarakat perdesaan baik di Indonesia
maupun di negara lainnya kian mendesak. Hal inilah yang memicu PBB
menetapkan sanitasi sebagai hak azazi manusia pada tahun 2010 silam. Dalam
rangka mendorong dan mempercepat terwujudnya komunitas & desa ODF (Open
Defecation Free) bebas buang air besar sembarangan, Kementerian Kesehatan
didukung dengan lembaga Water and Sanitation Program (WSP) The World Bank
mengembangkan aplikasi STBM SMART untuk mengoptimalisasi interaksi
dalam pemantauan dan pengelolaan program bagi pelaku STBM. Aplikasi yang
terhubung langsung dengan database STBM Nasional diharapkan mampu
mendorong fungsi kontrol dan monitoring agar pelaporan program STBM dapat
lebih optimal. Peluncuran aplikasi STBM SMART yang dilakukan sebagai
kegiatan puncak dalam acara Advokasi & Horizontal Learning (AHL) yang
digelar oleh Kementerian Kesehatan, WSP The World Bank dan Asosiasi
Kabupaten/Kota Peduli Sanitasi (AKKOPSI) pada Senin, 30 Mei 2016 di
Semarang, menjadi momentum pembelajaran yang efektif antar kepala derah
dalam upaya mengoptimalkan penyediaan pembangunan sektor sanitasi yang
layak demi peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia. Sebelumnya
keterbatasan data akses sanitasi dan perilaku kebersihan masyarakat Indonesia
menjadi tantangan pemerintah yang amat berpengaruh pada tahap perencanaan,
implementasi hingga penganggaran.

Saat ini Indonesia masih menghadapi tantangan untuk menuntaskan target


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 yang
menetapkan tarcapainya akses universal 100% air minum, 0% pemukiman kumuh
dan 100% stop bebas buang air besar sembarangan (SBS). Berdasarkan data yang
dirilis oleh sekretariat STBM, hingga 2015 sebanyak 62 juta atau 53% penduduk
perdesaan masih belum memiliki akses terhadap sanitasi yang layak. 34 juta
diantaranya masih melakukan praktik buang air besar sembarangan. Diperlukan
percepatan 400% untuk mencapai target Indonesia stop buang air besar
sembarangan (SBS) pada tahun 2019. Target tersebut hanya dapat terlaksana
dengan menggerakan para pemimpin daerah untuk berinovasi, menelurkan
kebijakan yang mendukung program STBM, mengalokasikan anggaran untuk
mempriortiaskan investasi terhadap program sanitasi serta membangun sistem dan
prasarana monitoring evaluasi untuk mempertahankan keberlanjutan layanan
program STBM di daerahnya. Lambatnya peningkatan akses sanitasi di Indonesia
melalui pendekatan pembangunan sanitasi berbasis kontruksi dan subsidi serta
rendahnya tingkat pemahaman masyarakat untuk menjadikan sanitasi sebagai
kebutuhan, memicu reformasi pendekatan pembangunan sanitasi khususnya di
perdesaan.

PERMASALAHAN

Betapa pentingnya akses sanitasi sehingga tinjauan kesehatan membuktikan


bahwa sanitasi yang tidak layak menjadi faktor penyebab penularan berbagai
penyakit seperti diare, kolera, disentri, hepatitis A, tifus, polio dan terhambatnya
pertumbuhan pada Balita. Saat ini desa gondang masih ada masyarakat yang
BAB sembarangan, dan masih terdapat keluarga yang belum memiliki jamban
sehingga BAB masih ditemukan di sungai. Dan saat ini Indonesia masih
menghadapi tantangan untuk menuntaskan target Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 yang menetapkan tarcapainya akses
universal 100% air minum, 0% pemukiman kumuh dan 100% stop bebas buang
air besar sembarangan (SBS). Berdasarkan data yang dirilis oleh sekretariat
STBM, hingga 2015 sebanyak 62 juta atau 53% penduduk perdesaan masih belum
memiliki akses terhadap sanitasi yang layak. 34 juta diantaranya masih melakukan
praktik buang air besar sembarangan. Diperlukan percepatan 400% untuk
mencapai target Indonesia stop buang air besar sembarangan (SBS) pada tahun
2019.

PERENCANAAN & PEMILIHAN INTERVENSI

Sejak diadopsinya konsep Community-Led Total Sanitation (CLTS) yang telah


dijalankan sejak tahun 2005 oleh Kementerian Kesehatan, pendekatan
pembangunan sanitasi di Indonesia perlahan berubah dari pendekatan berbasis
subsidi dan kontruksi menjadi berbasis partisipasi dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) nomor
852/Menkes/SK/IX/2008 yang kemudian diperkuat menjadi Peraturan Menteri
Kesehatan (Permenkes) Nomor 3 tahun 2014, Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
(STBM) dikukuhkan sebagai strategi nasional pembangunan sanitasi di Indonesia.
STBM merupakan sebuah pendekatan untuk mengubah perilaku higienis dan
sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan. Untuk dapat
mencapi tujuan tersebut, strategi penyelenggaraan STBM fokus pada penciptaan
lingkungan yang kondusif (enabling environment), peningkatan kebutuhan
sanitasi (demand creation) serta peningkatan penyediaan akses sanitasi (supply
improvement).

PELAKSANAAN

Pada hari Rabu tanggal 12 juni 2019 pukul 08.00 WIB – 12.00 WIB, dilakukan
penyuluhan MTBS di desa Gondang, Balogebang. Kegiatan tersebut dihadiri oleh
kepala desa, carik, kader, bidan dari puskesmas gondang dan dokter intrenship.
Seluruh kader dikumpulkan menjadi satu kelompok, dan diberikan penyuluhan
Sanitasi Total Berbasis Lingkungan. Sebelum dilakukan penyuluhan, kader
diberikan pretest sebanyak 15 soal, setelah itu materi STBM diberikan, dan
dilanjutkan dengan post test. Setelah dilakukan postest dilakukan penilaian dalam
bentuk angka, rata-rata kader terdapat peningkatan pengetahuan tentang STBM.

MONITORING DAN EVALUASI

Monitoring dan evaluasi yang dilakukan yakni melihat hasil akhir dari nilai
pretest dan post test, dari hasil pretest dan postest terjadi peningkatan pengetahuan
kader Kesehatan Lingkungan tentang pentingnya STBM. Terutama pentingnya
akses sanitasi sehingga tinjauan kesehatan membuktikan bahwa sanitasi yang
tidak layak menjadi faktor penyebab penularan berbagai penyakit seperti diare,
kolera, disentri, hepatitis A, tifus, polio dan terhambatnya pertumbuhan pada
Balita. Evaluasi yang dilakukan yaitu terwujudnya komunitas & desa ODF (Open
Defecation Free) bebas buang air besar sembarangan di desa Gondang.