Anda di halaman 1dari 20

REFERAT

HORDEOLUM

Diajukan Guna Melengkapi Tugas Kepaniteraan Senior


Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro

Dosen pembimbing dr. Arnila Novitasari Saubig, Sp.M


Residen pembimbing dr. Nur Aini
Dibacakan oleh Annisa Fadhilah Al Hanif
NIM 220101192200XX
Dibacakan tanggal 29 Juni 2020

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
RSUP DR KARIADI SEMARANG
2020

HALAMAN PENGESAHAN

i
Membacakan referat : Hordeolum

Dosen Pembimbing : dr. Arnila Novitasari Saubig, Sp.M

Residen Pembimbing : dr. Nur Aini

Dibacakan oleh : Annisa Fadhilah Al Hanif / 220101192200XX

Dibacakan tanggal : 29 Juni 2020

Diajukan guna memenuhi tugas kepaniteraan senior di bagian Ilmu Kesehatan


Mata Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.

Semarang, 29 Juni 2020

Mengetahui,

Dosen Pembimbing Residen Pembimbing

dr. Arnila Novitasari Saubig, Sp.M dr. Nur Aini

DAFTAR ISI

ii
HALAMAN JUDUL................................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN.................................................................................ii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................iv
BAB I.......................................................................................................................1
1.1 Latar Belakang..............................................................................................1
1.2 Tujuan...........................................................................................................2
1.3 Manfaat.........................................................................................................2
BAB II......................................................................................................................3
2.1 Anatomi Palpebra..........................................................................................3
2.2 Kelenjar Lakrimal.........................................................................................5
2.3 Hordeolum....................................................................................................7
2.3.1 Definisi dan Klasifikasi.........................................................................7
2.3.2 Faktor Risiko.........................................................................................8
2.3.3 Etiologi..................................................................................................8
2.3.4 Patofisiologi...........................................................................................8
2.3.5 Penegakan Diagnosis.............................................................................9
2.3.6 Diagnosis Banding...............................................................................10
2.3.7 Tatalaksana..........................................................................................12
2.3.8 Prognosis.............................................................................................14
BAB III..................................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................16

DAFTAR GAMBAR

iii
Gambar 1. Potongan Sagital Palpebra Superior.......................................................3
Gambar 2. Muskulus Orbikularis dan Frontalis.......................................................4
Gambar 3. Skematik Kelenjar Lakrimal..................................................................6
Gambar 4. Hordeolum Interna.................................................................................7
Gambar 5. Hordeolum Eksterna..............................................................................7
Gambar 6. Kalazion...............................................................................................10
Gambar 7. Granuloma Piogenik............................................................................11
Gambar 8. Selulitis Preseptal.................................................................................12

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Palpebra atau kelopak mata merupakan struktur penting pada mata
yang berfungsi memberikan perlindungan mekanis pada bola mata dan
pendistribusian air mata.1 Palpebra dapat mengalami kelainan mulai dari
infeksi dan radang seperti hordeolum, kalazion, dan blefaritis; deformitas
anatomik palpebra seperti entropion, ekstropion, dan koloboma; hingga
terjadi tumor pada palpebra seperti keratoakantoma, karsinoma sel basal,
dan karsinoma sel skuamosa.2

Hordeolum merupakan masalah umum pada mata yang sering


ditemukan pada fasilitas kesehatan primer. Hordeolum adalah proses
infeksi akut yang dapat terjadi pada kelenjar kelopak mata atas maupun
kelopak mata bawah.3 Sebagian besar hordeolum disebabkan oleh infeksi
stafilokokus, biasanya disebabkan oleh Staphylococcus aureus dan
Staphylococcus epidermidis. Gejala utama dari hordeolum adalah terdapat
pustula di sepanjang palpebra yang berwarna merah dan terasa nyeri. 2,3
Terdapat dua jenis hordeolum, yaitu hordeolum interna dan hordeolum
eksterna. Hordeolum interna disebabkan oleh infeksi pada kelenjar
meibom dan dapat menonjol ke kulit atau ke permukaan konjungtiva.
Hordeolum eksterna disebabkan oleh infeksi pada kelenjar zeis dan moll
dan hanya dapat menonjol ke arah kulit.2

Insidensi dan prevalensi dari hordeolum tidak diketahui.


Hordeolum dapat terjadi pada semua usia, namun jarang pada neonatus.
Tidak terdapat predileksi jenis kelamin pada kasus hordeolum.4 Prognosis
hordeolum umumnya baik, karena dapat mengalami penyembuhan dengan
sendirinya (self-limited). Namun, terdapat juga yang memerlukan
pengobatan khusus seperti obat topikal, antibiotik topikal hingga antibiotik
sistemik.5

1
1.2 Tujuan
Penulisan referat ini bertujuan untuk mempelajari lebih dalam
mengenai pengertian, etiologi, faktor risiko, patofisiologi penegakan
diagnosis, diagnosis banding dan tatalaksana yang digunakan pada pasien
dengan hordeolum.

1.3 Manfaat
Penulisan referat ini diharapkan dapat membantu mahasiswa
kedokteran untuk belajar menegakan diagnosis, melakukan pengelolaan,
dan mengetahui prognosis penderita hordeolum.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Palpebra


Palpebra adalah lipatan tipis yang terdiri atas kulit, otot, dan jaringan
fibrosa, yang berfungsi melindungi struktur mata yang rentan.2 Palpebra memiliki
kulit yang paling tipis di antara kulit di bagian tubuh lainnya dengan ketebalan
rata-rata 0.05 mm sehingga sangat mudah di gerakkan. 1,2 Epidermis palpebra
mengandung beberapa sel khusus, yaitu melanosit dan sel langerhans, namun
tidak mengandung pembuluh darah.1
Tepi palpebra memiliki ketebalan ± 2 mm. Bagian anterior tepi palpebra
ditutupi dengan epidermis kulit yang merupakan tempat terdapatnya bulu mata,
kelenjar zeiss dan moll.1 Bagian posterior tepi palpebra merupakah bagian tarsus,
yaitu lempeng fibrosa kaku yang dihubungkan ke tepian orbita oleh tendo-tendo
kantus medialis dan lateralis yang ditutupi dengan epitel konjungtiva dan terdapat
orifisium duktus kelenjar meibom.1,2
Konjungtiva palpebra adalah membran mukosa yang menutupi permukaan
posterior palpebra dan permukaan anterior bola mata, kecuali kornea. Konjungtiva
palpebral melekat erat dengan tarsus.1

Gambar 1. Potongan Sagital Palpebra Superior.1 (a). Muskulus orbicularis oculi; (b).
septum orbita; (c). Bantalan lemak preaponeurotik; (d). Levator aponeurosis; (e).
Lempeng tarsal; (f). Müller’s supratarsal muscle;(g). Konjungtiva

3
Otot yang terdapat pada palpebra adalah muskulus orbicularis oculi yang
letaknya melekat pada kulit. Muskulus orbicularis oculi berfungsi untuk menutup
palpebra. Muskulus orbicularis oculi terdiri dari bagian orbital, praseptal, dan
pratarsal.1,2 Bagian orbital terdiri dari suatu otot sirkular tanpa insersio temporal
yang terutama berfungsi untuk menutup mata dengan kuat. Otot praseptal dan
pratarsal memiliki caput medial superfisial dan profundal yang berperan dalam
pemompaan air mata.2 Muskulus orbikularis okuli juga bekerja sama dengan
kompleks otot levator - Müller dan otot ekstraokular untuk penyesuaian posisi
yang terkoordinasi.1

Gambar 2. Muskulis Orbikularis dan Frontalis.1 Muskulus orbikularis pars: (a). Pretarsal;
(b). Preseptal; (c). Obital; dan (d). Muskulus frontalis

Pergerakan motorik dari muskulus orbikularis oculi dipersarafi oleh nervus


kranialis fasialis (N VII).1,2 Sensorik palpebra dipersarafi oleh nervus kranialis
trigeminus (N III) pars ophthalmic dan maxillary. Input sensorik palpebra superior
ke nervus kranialis trigeminus pars ophthalmic melalui cabang terminal utamanya,
yaitu nervus supraorbital, nervus supratroklear, dan nervus lakrimal. Nervus
infratroklear menerima input sensorik dari bagian medial palpebra superior dan
inferior. Cabang zygomaticotemporal dari nervus lakrimal menginervasi bagian
lateral palpebra superior dan pelipis. Palpebra inferior mengirim impuls sensorik
ke nervus kranialis trigeminus melalui nervus infraorbital. Cabang

4
zygomaticofacial dari nervus lakrimal menginervasi bagian lateral palpebra
inferior dan cabang infratroklear menerima input dari medial palpebra inferior.1
Pendarahan palpebra berasal dari arkade arterial palpebra. Palpebra
superior disuplai oleh arteri palpebra medial superior dari cabang terminal arteri
ophthalmic dan arteri palpebra lateral superior dari cabang arteri lakrimal.
Palpebra inferior disuplai oleh arteri palpebra medial dan lateral inferior.1

2.2 Kelenjar Lakrimal


Sistem lakrimal adalah struktur kompleks yang memfasilitasi sekresi,
aliran di permukaan mata, dan ekskresi dari air mata. Kelenjar lakrimal memiliki
fungsi penting dalam produksi air mata yang sekitar 95% merupakan lapisan
akuos. Lapisan akuos merupakan air yang di dalamnya terdapat komponen air
mata yang larut dalam air, seperti protein, enzim, elektrolit, oksigen, dan lain-
lain.6
Margo (tepi) palpebra dipisahkan oleh garis abu batas mukokutan (grey
line) menjadi margo anterior dan margo posterior. Margo anterior terdiri dari bulu
mata, kelenjar zeis dan kelenjar moll. Margo posterior memiliki kontak dengan
bola mata, dan di sepanjang margo ini terdapat kelenjar meibom.6

2.2.1 Kelenjar Moll


Kelenjar moll adalah modifikasi kelenjar keringat yang
bermuara ke dalam satu baris dekat bulu mata berbentuk suatu
saluran seperti tabung berukuran kecil yang tak bercabang dan
hulunya berbentuk saluran spiral biasa dan bukan seperti bentuk
glomerulus pada kelenjar keringat. Kelenjar Moll tergolong
kelenjar apokrin. Secara histologis dan fungsi apokrin, kelenjar
moll terbagi menjadi dua jenis, yaitu kelenjar apokrin yang aktif
dan inaktif. Kelenjar moll yang aktif tampak sebagai sel kelenjar
yang tinggi, tebal, dan padat yang tersusun saling berdesakan pada
lapisan myoepitelial sehingga lumen tampak sempit, sedangkan
kelenjar yang inaktif hanya tampak lapisan sel kelenjar tipis pada
lapisan myoepitelial sehingga lumen tampak lebar.6

5
2.2.2 Kelenjar Zeis
Kelenjar zeis adalah modifikasi kelenjar sebaseus kecil
yang bermuara dalam folikel rambut pada dasar bulu mata.
Kelenjar ini berfungsi menyekresikan sebum yang memiliki sifat
antiseptik dan dapat mencegah pertumbuhan bakteri.6
2.2.3 Kelenjar Meibom
Kelenjar meibom merupakan kelenjar sebaseus yang telah
termodifikasi. Kelenjar meibom memiliki lubang-lubang kecil
yang bermuara pada margo posterior (tarsus). Kelanjar ini
berfungsi dalam sekresi lapisan lemak atau lipid (tear film lipid
layer). Fungsi lapisan lemak ini adalah mencegah penguapan dari
lapisan di bawahnya dan membentuk pertahanan di sepanjang tepi
kelopak mata agar air mata tidak jatuh ke kulit.6
2.2.4 Kelenjar lakrimal Krausse dan Wolfring
Kelenjar lakrimal Krausse dan Wolfring terdapat di bawah
konjungtiva palpebra. Kelenjar ini memasok cairan ke kantong
konjungtiva dan kornea. Kelenjar ini berfungsi sebagai sekresi
basal yang menghasilkan air mata secara terus menerus dalam
jumlah yang relatif kecil, yaitu sekitar 30 μl per menit.6

Gambar 3. Skematik Kelenjar Lakrimal6

6
2.3 Hordeolum
2.3.1 Definisi dan Klasifikasi
Hordeolum adalah infeksi akut kelenjar di palpebra. Hordeolum umumnya
tampak sebagai suatu masa nodul atau pustula yang nyeri dan kemerahan di
sekitar margo palpebra.3,6 Hordeolum diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu
hordeolum interna dan hordeolum eksterna.2
2.3.1.1 Hordeolum interna
Hordeolum interna disebabkan oleh infeksi pada kelenjar meibom pada
tarsus. Hordeolum interna dapat menonjol ke arah kulit maupun ke permukaan
konjungtiva.2

Gambar 4. Hordeolum Interna6


2.3.1.2 Hordeolum eksterna
Hordeolum eksterna disebabkan oleh infeksi pada kelenjar zeiss atau moll.
Hordeolum eksterna biasanya lebih kecil dan selalu menonjol ke arah kulit
(superfisial).2

Gambar 5. Hordeolum Eksterna6

7
2.3.2 Faktor Risiko
Kejadian hordeolum dapat meningkat pada keadaan sebagai berikut:3,7
 Pasien dengan kondisi kronis seperti dermatitis seboroik, diabetes,
dan roseola,
 Riwayat hordeolum sebelumnya,
 Pasien dengan blefaritis kronik,
 Pasien dengan higiene mata yang buruk.

2.3.3 Etiologi
Sekitar 90-95% hordeolum disebabkan oleh Staphylococcus aureus
dengan Staphylococcus epidermidis menjadi penyebab paling umum kedua.3
Hordeolum eksterna disebabkan oleh penyumbatan kelenjar sebaceous (Zeis) atau
kelenjar keringat (Moll). Penyumbatan terjadi pada garis bulu mata dan muncul
sebagai daerah bengkak merah yang terasa nyeri kemudian berkembang menjadi
pustula. Hordeolum interna disebabkan oleh penyumbatan kelenjar meibom, dan
pustula terbentuk di permukaan bagian dalam kelopak mata.7

2.3.4 Patofisiologi
Hordeolum terjadi karena infeksi yang disebabkan oleh penebalan,
pengeringan, atau stasis sekresi kelenjar zeis, moll, atau meibom. Kelenjar zeis
dan moll adalah kelenjar siliary mata. Kelenjar zeis menyekresikan sebum yang
memiliki sifat antiseptik dan dapat mencegah pertumbuhan bakteri. Kelenjar moll
menghasilkan imunoglobulin A, musin 1, dan lisosom yang penting dalam
pertahanan kekebalan terhadap bakteri di mata. Saat kelenjar-kelenjar ini
tersumbat, pertahanan mata menjadi terganggu. Stasis dapat menyebabkan infeksi
bakteri dengan Staphylococcus aureus menjadi patogen yang paling sering
menginfeksi. Setelah respons inflamasi terlokalisasi terjadi infiltrasi oleh leukosit,
yang dapat berkembang menjadi kantung bernanah atau abses. 6,7 Perjalanan
alamiah dari hordeolum interna akut dimulai dengan munculnya nanah dan
berakhir dengan drainase spontan dari nanah tersebut yang mana membutuhkan
waktu sekitar satu hinggga 2 minggu.6

8
2.3.5 Penegakan Diagnosis
Diagnosis hordeolum ditegakkan berdasarkan gejala dan tanda klinis yang
muncul pada pasien dan dengan melakukan pemeriksaan fisik mata yang
sederhana. Karena kekhasan dari manifestasi klinis penyakit ini pemeriksaan
penunjang tidak diperlukan.6

2.3.5.1 Anamnesis
Keluhan utama digolongkan menurut lama, frekuensi, hilang-timbul, dan
cepat timbulnya gejala. Lokasi, berat, dan keadaan lingkungan saat timbulnya
keluhan harus diperhatikan, demikian pula setiap gejala yang berkaitan. Obat-obat
mata yang dipakai belakangan ini dan semua gangguan mata yang pernah maupun
yang sedang terjadi harus dicatat. Selain itu, semua gejala mata lain yang
berhubungan perlu dipertimbangkan.2 Pada kasus hordeolum biasanya pasien
datang dengan keluhan munculnya benjolan kecil dengan titik berwarna
kekuningan di tengah benjolan yang kemudian berkembang menjadi nanah dan
melebar di sekitar area tersebut. Gejala utama hordeolum adalah kelopak yang
bengkak dengan rasa sakit dan mengganjal, merah dan nyeri bila ditekan, serta
perasaan tidak nyaman dan sensasi terbakar pada kelopak mata.8 Perlu digali
adanya penyakit yang berhubungan dengan kejadian hordeolum seperti diabetes,
kadar lipid serum tinggi, roseola, dermatitis seboroik, blepharitis, dan riwayat
hodeolum sebelumnya.6
Riwayat kesehatan terdahulu berpusat pada kondisi kesehatan pasien
secara umum dan bila ada penyakit sistemik yang penting. Gangguan vaskular
yang biasanya menyertai manifestasi mata, seperti diabetes harus ditanyakan
secara spesifik. Riwayat keluarga berhubungan dengan penyakit medis seperti
diabetes juga perlu ditanyakan.2

2.3.5.2 Pemeriksaan Fisik Oftalmologi


Sebagaimana penilaian tanda vital merupakan bagian dari setiap
pemeriksaan fisik, setiap pemeriksaan mata harus mencakup penilaian ketajaman
penglihatar; walaupun ketajaman penglihatan tidak disebut sebagai bagian dari

9
keluhan utama. Pemeriksaan mata luar secara umum dilakukan pada adneksa
mata (palpebra dan daerah periokular). Lesi kutit, pertumbuhan, dan tanda-tanda
radang seperti pembengkakan, eritema, panas, dan nyeri tekan dievaluasi melalui
inspeksi dan palpasi.2
Pada kasus hordeolum dapat ditemukan kelopak mata bengkak, merah,
dan nyeri pada perabaan. Nanah dapat keluar dari pangkal rambut (hordeolum
eksterna). Apabila sudah terjadi abses dapat timbul undulasi. 8 Hordeolum dapat
terjadi pada kelopak mata atas maupun kelopak mata bawah. Pembengkakan pada
hordeolum interna dapat menonjol ke arah kulit maupun ke arah permukaan
konjungtiva, sedangkan hordeolun eksterna selalu menonjol ke arah luar.2

2.3.6 Diagnosis Banding


2.3.6.1 Kalazion
Kalazion adalah peradangan granulomatosa kronik yang steril dan
idiopatik pada kelenjar meibom. Umumnya ditandai dengan pembengkakan
setempat yang tidak terasa nyeri dan berkembang dalam beberapa minggu.
Perbedaan kalazion dengan hordeolum adalah pada kalazion tidak terdapat tanda-
tanda radang akut. Jika cukup besar, kalazion dapat menekan bola mata dan
menimbulkan astigmatisme.2

Gambar 6. Kalazion6

10
2.3.6.2 Blefaritis anterior
Blefaritis anterior merupakan radang bilateral kronik yang umum di
tepi palpebra. Gejala utamanya adalah iritasi, rasa terbakar, dan gatal pada
tepi palpebra. Mata yang terkena “bertepi merah”. Banyak sisik atau granulasi
terlihat menggantung pada bulu mata palpebra superior maupun inferior.
Terdapat dua jenis utamanya, yaitu stafilokokus dan seborreik. Pada tipe
stafilokokus, sisiknya kering, palpebra merah, terdapat ulkus-ulkus kecil di
sepanjang tepi palpebra, dan bulu mata cenderung rontok. Pada tipe seborreik,
sisik berminyak, tidak terdapat ulserasi, dan tepian palpebra tidak terlalu
merah.2

2.3.6.3 Granuloma Piogenik


Granuloma piogenik adalah lesi vaskular yang paling sering didapat
yang melibatkan kelopak mata. Granuloma piogenik ditandai dengan massa
yang tumbuh cepat, berdaging, berwarna merah-ke-merah muda. Granuloma
piogenik dapat mengenai kelopak mata atau konjungtiva, yang dapat
berbentuk sessile atau bertangkai. Granuloma piogenik umumnya disebabkan
oleh trauma atau pembedahan pada mata, tetapi juga dapat timbul sebagai
reaksi benda asing. Penutupan luka yang terganggu, aposisi yang tertunda
atau iritasi kronis dapat menyebabkan pertumbuhan berlebih dari jaringan
granulasi ini. 9

Gambar 7. Granuloma Piogenik9

11
2.3.6.4 Selulitis Preseptal
Selulitis preseptal adalah infeksi jaringan lunak kelopak mata yang
ditandai oleh eritema dan edema kelopak mata akut. Selulitis preseptal
umumnya terjadi pada anak-anak daripada orang dewasa. Sumber utama
infeksi dapat berupa trauma kulit lokal, infeksi sinus atau trauma penetrasi,
khususnya yang melibatkan sinus ethmoid. Sebagian besar selulitis preseptal
disebabkan oleh penyebaran lokal dari sinusitis atau dakriosistitis yang
berdekatan, infeksi mata luar, atau setelah trauma pada kelopak mata. Demam
mungkin saja terjadi, namun hiperemia konjungtiva biasanya tidak ada.
Selulitis preseptal dapat berkembang menjadi abses subperiosteal dan orbital
serta dapat menyebar ke posterior septum.10

Gambar 8. Selulitis Preseptal10


2.3.7 Tatalaksana
2.3.7.1 Tatalaksana Medikamentosa6,8
Antibiotik topikal pada umumnya tidak efektif, oleh sebab itu tidak
diindikasikan kecuali terdapat suatu penyerta seperti blefarokonjungtivitis.
Antibiotik sistemik pada umumnya diindikasikan pada kasus-kasus langka seperti
selulitis palpebra sekunder.
 Pemberian terapi topikal dengan Oxytetrasiklin salep mata atau
kloramfenikol salep mata setiap 8 jam. Apabila menggunakan
kloramfenikol tetes mata sebanyak 1 tetes tiap 2 jam.

12
 Pemberian terapi oral sistemik dengan Eritromisin 500 mg pada dewasa
dan anak sesuai dengan berat badan atau Dikloksasilin 4 kali sehari selama
3 hari.
 Jika hordeolum berubah menjadi suatu kalazion dan tidak berespons
terhadap kompres hangat atau pun eyelid hygiene, maka dapat
dipertimbangkan injeksi kortikosteroid intralesi (contoh: triamcinolone 40
mg/ml sebanyak 0,1–0,2 ml) atau insisi dan drainase.

2.3.7.2 Tatalaksana Non Medikamentosa2,6,8


 Mata dikompres hangat 4-6 kali sehari selama 15 menit setiap kalinya
untuk membantu drainase. Tindakan dilakukan dengan mata tertutup.
 Kelopak mata dibersihkan dengan air bersih atau pun dengan sabun atau
sampo yang tidak menimbulkan iritasi, seperti sabun bayi. Hal ini dapat
mempercepat proses penyembuhan. Tindakan dilakukan dengan mata
tertutup.

2.3.7.3 Edukasi6,8
 Hordeolum dapat dicegah dengan memberlakukan pola hidup bersih.
Kebiasaan mencuci tangan dapat menurunkan terjadinya risiko terkena
hordeolum.
 Biasakan tidak menggaruk atau pun menyentuh kelopak mata dengan
tangan yang kotor.
 Pada pasien-pasien wanita dapat disarankan untuk membersihkan dan
menyimpan alat-alat kosmetiknya secara benar. Alat kosmetik yang
terkontaminasi oleh kuman dapat menyebabkan terjadinya hordeolum.
Selain itu tukar menukar alat kosmetik yang berkaitan dengan kelopak
mata dapat meningkatkan risiko penularan kuman penyebab hordeolum
atau pun kuman penyebab infeksi mata lainnya.
 Para wanita pengguna kosmetik mata juga disarankan untuk
membersihkan daerah kelopak mata sebelum tidur, agar sisa-sisa kosmetik
tidak membuntu saluran kelenjar minyak pada tepi kelopak mata.

13
 Apabila pasien memiliki riwayat memakai lensa kontak, disarankan untuk
tidak memakai kontak lensa selama penyembuhan. Penggunaan kontak
lensa dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi pada kornea selama
terjadi hordeolum.

2.3.8 Prognosis
Prognosis umunya baik jika tidak terjadi komplikasi dari hordeolum
seperti infeksi pada bola mata. Hordeolum umumnya dapat sembuh sendiri, dan
membaik secara spontan dalam kurun waktu satu hingga dua minggu. Jika pasien
melakukan manipulasi pada hordeolum seperti tindakan memencet atau menusuk
hordeolum dengan jarum tidak steril, maka infeksi dapat menyebar menuju area
yang lebih luas dan menyebabkan terapi penyembuhan menjadi lebih sulit. Jika
hordeolum muncul berulang-ulang harus dipikirkan diagnosis lainnya seperti
keganasan dan di-follow up dengan melakukan pemeriksaan histopatologis.6

14
BAB III
RINGKASAN

Hordeolum adalah infeksi akut kelenjar di palpebra yang umumnya


tampak sebagai suatu masa nodul atau pustula yang nyeri dan kemerahan di
sekitar margo palpebra. Hordeolum paling sering disebabkan oleh Staphylococcus
aureus dengan Staphylococcus epidermidis menjadi penyebab paling sering
kedua. Hordeolum eksterna disebabkan oleh penyumbatan kelenjar sebaceous
(Zeis) atau kelenjar keringat (Moll). Hordeolum interna disebabkan oleh
penyumbatan kelenjar Meibom, dan pustula terbentuk di permukaan bagian dalam
kelopak mata. Hordeolum dapat terjadi pada kelopak mata atas maupun kelopak
mata bawah. Pembengkakan pada hordeolum interna dapat menonjol ke arah kulit
maupun ke arah konjungtiva, sedangkan hordeolun eksterna selalu menonjol ke
arah luar. Penegakan diagnosis dilakukan dengan anamnesis dan pemeriksaan
fisik. Hordeolum memiliki manifestasi klinis yang mirip dengan kalazion,
blefaritis, granuloma piogenik, dan selulitis preseptal. Tatalaksana utama
hordeolum adalah dengan cara non medikamentosa seperti: kompres dengan air
hangat selama 15 menit 4-6 kali sehari, dan pembersihan kelopak mata dengan air
bersih atau pun dengan sabun atau sampo yang tidak menimbulkan iritasi, seperti
sabun bayi. Antibiotik topikal dan sistemik hanya diberikan sesuai indikasi.
Antibiotik yang dapat diberikan yaitu oxytetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin,
dan dikloksasilin. Selain itu, pasien juga perlu diedukasi terkait eyelid hygiene
seperti: mencuci tangan sebelum memegang kelopak mata, rajin membersihkan
alat kosmetik, membersihkan kosmetik mata sebelum tidur, dan tidak memakai
lensa kontak selama masa penyembuhan. Prognosis hordeolum umumnya baik
selama tidak terdapat komplikasi infeksi pada daerah lainnya.

15
DAFTAR PUSTAKA

1. Dutton, J. J., & Frueh, B. R. 2011. Eyelid anatomy and physiology with
reference to blepharoptosis. In Evaluation and management of
blepharoptosis (pp. 13-26). Springer, New York, NY.
2. Riordan-Eva, P., & Whitcher, J. P. 2008. Oftalmologi umum vaughan dan
asbury. Edisi ke-17. EGC: Jakarta.
3. Willmann,Davis, et al. 2020. Stye. StatPearls Publishing [Internet] &
Treasure Island.
4. Ferri, F. F. (2014). Ferri's Clinical Advisor 2014: 5 Books in 1.
Philadelphia, Pa.: Mosby Elsevier.
5. Kabat, A. G., & Sowka, J. W. 2016. Stye vs. Stye: tips on managing both
external and internal hordeola. Review of Optometry, 153(3), 111-114.
6. Soebagjo, H. D. 2020. Penyakit Sistem Lakrimal. Airlangga University
Press.
7. Bragg KJ, Le PH, Le JK. Hordeolum. In Treasure Island (FL); 2020.
8. IDI. 2014. Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan Primer : Hordeolum edisi Revisi. Jakarta. IDI
9. Ergün, S. S., Kocabora, M. S., Su, Ö., & Demirkesen, C. 2007. Surgical
treatment of giant pyogenic granuloma of the upper eyelid. Annals of
Ophthalmology, 39(3), 264-266.
10. Az-Zahra, N. F., & Himayani, R. 2020. Laporan Kasus: Anak Perempuan
Usia 12 Tahun dengan Selulitis Preseptal. Jurnal Medula, 9(4), 625-630.

16