Anda di halaman 1dari 6

TEMU ILMIAH IPLBI 2015

Penataan Permukiman Komunitas Hindu Tolotang sebagai


Kawasan Wisata Budaya
Studi Kasus: Komunitas Hindu Tolotang Kelurahan Amparita Kecamatan
Tellu Limpoe Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan
Dinda Pujiastuti(1), Wiwik W. Osman(2), Mimi Arifin(2)

(1)
Mahasiswa Prodi Pengembangan Wilayah Kota, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin.
(2)
Staf Pengajar Prodi Pengembangan Wilayah Kota, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin.

Abstrak

Kelurahan Amparita memiliki potensi pengembangan kawasan wisata budaya tempat komunitas
HinduTolotang bermukim. Permukiman yang tercipta tidak lepas dari pengaruh budaya lokal.
Kehidupan sosial budaya komunitasnya diwarnai kepercayaan dan religi, termasuk adanya tokoh
yang dipercaya sebagai pemangku adat yaitu Uwatta dan Uwa serta adat istiadat yang khas yaitu
tata cara (tradisi) masyarakat dengan kekerabatan yang kuat. Salah satu tradisi masyarakat
Komunitas Hindu Tolotang yang dilakukan sekali setahun yaitu upacara adatPerrinyameng(ziarah
makam leluhur) dijadikan sebagai objek wisata budaya dalam dokumen Potensi Wisata Kabupaten
Sidrap. Studi ini bertujuan mendeskripsikan kondisi fisik permukiman meliputi jenis permukiman,
tapak rumah adat, kepadatan bangunan, prasarana permukiman dan kondisi sosial budaya sebagai
penunjang wisata budaya yaitu atraksi, amenitas, dan aksesibilitas.Metode penelitian
menggabungkan metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Analisis yang digunakan adalah analisis
deskriptif kualitatif dan kuantitatif, analisis komparatif serta analisis spasial. Hasil studi menunjukkan
kondisi fisik seperti tapak rumah adat, serta kondisi sosial budaya yaitu aktivitas dan tradisi
masyarakat merupakan potensi yang dapat dijadikan sebagai atraksi wisata. Selain itu dihasilkan
arahan penataan permukiman yaitu: penyediaan prasarana seperti akses jalan, parkir dan akomodasi
serta fasilitas penunjang lainnya untuk pengembangan kawasan sebagai kawasan wisata budaya.

Kata-kunci: komunitas hindu tolotang, penataan, permukiman tradisional, wisata budaya.

Pengantar memiliki konsepsi-konsepsi yang dilandasi


kepercayaan lokal, perwujudan budaya, karakter
Pada permukiman tradisionaldijumpai pola atau permukiman sangat ditentukan oleh norma-
tatanan yang berbeda-beda sesuai dengan norma, adat istiadat serta rasa seni yang
tingkat kesakralannya atau nilai-nilai adat dari mencerminkan kebudayaan. Kehidupan sosial
tempat tertentu. Hal tersebut memiliki pengaruh budayanya diwarnai kepercayaan dan religi
cukup besar dalam pembentukan suatu lingku- dengan adanya tokoh yang dipercayai sebagai
ngan hunian atau permukiman tradisional perantara yaitu Uwatta dan Uwa serta adat
(Valentina S, 2011). Dalam permukiman tradi- istiadat yang khas yaitu tata cara (tradisi)
sional terdapat elemen yang disakralkan masyarakat dengan kekerabatan yang kuat.
(disucikan) danlingkungan yang diperadabkan. Salah satu tradisi masyarakat Komunitas Hindu
Agama dan kepercayaan merupakan hal sentral, Tolotang yaitu upacara adat Perrinyameng
ritual-ritual yang mengandung nilai-nilai ke- (ziarah makam leluhur) yang dilakukan sekali
agamaan adalah cara ampuh untuk mengesah- setahun dan dijadikan sebagai objek wisata
kan dan memelihara kebudayaannya. Di Kelu- budaya di Kabupaten Sidenreng Rappang.
rahan Amparita Kabupaten Sidrap Sulawesi Haltersebut merupakan potensi yang cukup
Selatan terdapat suatu komunitas masyarakat besar untuk pengembangan kawasan sebagai
tradisional Hindu Tolotang. Permukiman yang kawa-san wisata budayadi permukiman Hindu
tercipta tidak lepas dari pengaruh budaya, Tolotang, yang akan memberikan kontribusi
Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2015 |C 071
Penataan Permukiman Komunitas Hindu Tolotang Sebagai Kawasan Wisata Budaya

terhadap peningkatankualitas aspek fisik, dan 1. Antara global space dengan element space
berkontribusi terhadap peningkatan aspek eko- dan yang kedua adalah hubungan antara
nomi masyarakatnya. Dalam pengembangan element space itu sendiri
kawasan wisata, aspek fisik dan ekonomi meru- 2. Hubungan mendasar terkait 4 konsep
pakan dua aspek yang mendapat pe-ningkatan struktur spasial yaitu placement space and
dari berkembangnya sebuah kawasan wisata. sequence sebagai hubungan antara global
Aspek fisik adalah sarana dan prasarana; aspek space and element space; interaksi dan
ekonomi adalah pekerjaan/pendapatan masya- hirarki sebagai hubungan antar element
rakat di kawasan wisata budaya. Selain itu, space. Global space didasarkan atas kognisi
pengembangan kawasan wisata budaya akan penduduk desa, tanah, jalan, unitrumah dan
menarik para wisatawan untuk berkunjung fasilitas lingkungan merupakan elemen
melihat ke-budayaandi Permukiman Hindu space (Han, 1991 dalam Valentina S, 2011).
Tolotang.
C. Aspek Perencanaan Prasarana Kawasan
A. Perumahan dan Permukiman Permukiman
Menurut Undang-Undang Nomor 1 tahun 2011 Aspek perencanaan prasarana pada kawasan
tentang perumahan dan kawasan permukiman, (Rustam Hakim & Hardi Utomo (2004) dalam I
bahwa kawasan permukiman adalah bagian dari Ketut (2010) menekankan dari segi aspek
lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik fungsional yang mencakup kegunaan dan
berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan, pemanfaatan, waktu kegiatan, aspek estetika
yang berfungsi sebagai lingkungan tempat mencakup bentuk disain, ukuran/dimensi,
tinggal atau lingkungan hunian dan tempat penggunaanbahan/material, keamanan kons-
kegiatan yang mendukung perikehidupan dan truksi terhadap aksesibilitas pedestrian pejalan
penghidupan. Menurut Djoko Sujarto (1992) kaki, aksesibilitas kendaraan, area parkir, per-
secara harfiah permukiman mengandung arti dagangan dan niaga.
tidak sekedar fisik saja tetapi juga menyangkut
hal-hal kehidupan non fisik. Permukiman pada D. Kepadatan Bangunan
dasarnya merupakan suatu bagian wilayah Kepadatan bangunan: jumlah bangunan di atas
tempat dimana penduduk (pemukim) tinggal, satu luasan lahan tertentu (bangunan/Ha.
berkiprah dalam kegiatan kerja, kegiatan usaha, Tabel 1. Klasifikasi Kepadatan Bangunan
dan berhubungan dengan sesama pemukim
sebagai suatu masyarakat sertamemenuhi Kepadatan
Klasifikasi
Bangunan(Bangunan/Ha)
berbagai kegiatan kehidupannya.
Sangat Rendah <10
Rendah 11-40
B. Permukiman Tradisional Sedang 41-60
Permukiman tradisional merupakan tempat Tinggi 61-80
tinggal yang berpola tradisional dengan perang- Sangat Tinggi >81
kat lingkungan dan latar belakang norma-norma Sumber: Keputusan Menteri PU No. 378/KTSP/1987,
serta nilai-nilai tradisional.Bentuk tata fisik Lampiran No. 22.
lingkungan permukiman atau hunian dapat
dipandang sebagai suatu kesatuan sistem: E. Budaya Masyarakat
spatial system, physical system dan stylistic Menurut Koentjaraningrat (1990), ada tiga
system.Spatial system berkaitan dengan orga- wujud kebudayaan, yaitu:
nisasi ruang mencakup hubungan ruang, 1. Wujud ideal; sebagai salah satu kompleks
organisasi dan pola hubungan ruang dan dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-
sebagainya. Physical system meliputi pengguna- norma, peraturan, disebut sistem budaya.
an sistem konstruksi dan penggunaan material, 2. Wujud perilaku; sebagai suatu kompleks
stylistic system merupakan kesatuan yang aktivitas manusia, disebut sistem sosial
mewujudkan bentuk, meliputi bentuk fasad, 3. Wujud fiksi; sebagai benda hasil karya
bentuk pintu dan jendela serta ukuran-ukuran manusia, disebut kebudayaan fisik.
ragam hias di dalam maupun di luar bangunan.
(Gelebet, 1986 dalam Imam, 2005).Struktur F. Wisata Budaya
spasial permukiman tradisional dapat dikategori- Wisata budaya adalah jenis pariwisata dimana
kan ke dalam dua hubunganyaitu: motivasi orang-orang untuk melakukan per-
jalanan dikarenakan adanya daya tarik seni
C 072 | Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2015
Dinda Pujiastuti
budaya pada suatu tempat atau daerah. Obyek adalah 33 sampel, Segmen 2 (RW 05 dan 06)
kunjungannya berupa warisan nenek moyang adalah 24 sampel, Segmen 3 (RW 02 dan RW
dan benda-benda kuno (Yoeti, 1996 dalam 04) adalah 32 sampel.Variabel penelitian terdiri
Imam, 2005). dari 3 aspek yakni:kondisi fisik permukiman,
wisata budaya dan arahan konsep penataan
G. Destinasi Wisata permukiman.Metode analisisadalah analisis
Menurut Jackson dalamI Gde Pitana (2005) deskriptif kualitatif, kuantitatif, analisis
suatu daerah yang berkembang menjadi sebuah komparatif, analisis spasial.
destinasi wisata dipengaruhi oleh hal penting
seperti: menarik untuk klien; fasilitas-fasilitas Analisis dan Interpretasi
dan atraksi; lokasi geografis; jalur transportasi;
stabilitas politik; lingkungan yang sehat; tidak Wilayah Kelurahan Amparita terdiri atas daratan,
ada larangan/batasan pemerintah. Berbagai kebanyakan penduduk adalah petani. Kelurahan
kebutuhan wisatawan a.l: fasilitas transportasi, Amparita merupakan suatu tempat pertama
akomodasi, biro perjalanan, atraksi (kebudayaan, kalinya dihuni oleh pendatang dari DesaWani
rekreasi, dan hiburan), pelayanan makanan, dan Wajo, dalam perkembangannya telah bercampur
barang cindera mata. Tersedianya berbagai dengan penduduk suku Bugis lainnya. Data
fasilitas kebutuhan yang diperlukan akan mem- Kelurahan Amparita tahun 2014 jumlah
buat wisatawan merasa nyaman, sehingga penduduk sebanyak 4.436 jiwa: 2.092 laki-laki,
semakin banyak wisatawan yang berkunjung. dan 2.344 jiwa perempuan, dengan 1.192 KK.
Salah satu yang menjadi daya tarik terbesar Mayoritaspenduduk Kelurahan Amparita menga-
pada destinasi wisata adalah sebuah atraksi, nut agama Hindu, yang merupakan aliran
baik itu berupa pertunjukan kesenian, rekreasi, kepercayaan Towani Tolotang. HinduTolotang
atau penyajian paket kebudayaan lokal yang yang awalnya bernama Towani Tolotang, me-
khas dan dilestarikan. rupakan suatu komunitas yang mendiami
kelurahan Amparita, menurut asal usulnya
Tujuan mereka bukanlah penduduk asli Amparita. Asal-
usul nenek moyang Tolotang, berasal dari Desa
Tujuan penelitian mengidentifikasi kondisi fisik Wani di Kabupaten Wajo. Istilah Tolotang
permukiman, kondisi sosial budaya masyarakat sepakat dipakai oleh Raja Sidenreng sebagai
dan menyusun arahan konsep penataan per- panggilan kepada pengungsi yang baru datang
mukiman Komunitas Hindu Tolotang sebagai di negerinya. To (tau) dalam bahasa Bugis
kawasan wisata budaya di Kelurahan Amparita, berarti orang, Lotang dari kata lautang yang
Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidrap. berarti sebelah Selatan Amparita, merupakan
pemukiman pendatang. Tolotang artinya orang-
Metode orang yang tinggal di sebelah selatan Kelurahan
Amparita, sekaligus menjadi nama bagi aliran
Metode penelitian adalah penelitian deskriptif kepercayaan mereka. Komunitas Tolotang terba-
mengunakan metode analisis kualitiatif dan gi 2 kelompok yaituTowani Tolotang dan
kuantitatif.Teknik Pengumpulan data dengan Tolotang Benteng. Walaupun Tolotang terbagi 2
observasi, wawancara, dokumentasi, studi kelompok, dalam sistem kepercayaan tidak
literatur, dan penyebaran kuesioner. Jumlah terdapat perbedaan.
responden menggunakan metode cluster ran-
dom sampling. Populasi penelitian adalah A. Analisis Kondisi Fisik Permukiman
masyarakat Hindu Tolotang di Kelurahan Komunitas Hindu Tolotang
Amparita, jumlah kepala keluarga (KK) 790 KK.
Teknik sampel adalah Probability Sampling. 1. Jenis Permukiman
Penentuan jumlah sampel atau subpopulasi a. Masyarakat Hindu Tolotang mayoritas
menggunakan rumus Slovin, yaitu 89 sampel. bersuku Bugis, dalam pembentukan permu-
Penelitian ini membagi segmenb erdasarkan kimannya mengikuti pembentukan permu-
status sosial masyarakat Hindu Tolotang. kiman masyarakat Bugis. Pemahaman terse-
Dimana di RW 01 dan RW 03 dihuni pemangku but berpengaruh terhadap bentuk tampilan
adat (Uwatta), RW 05 dan 06 dihuni masyarakat rumah masyarakat sesuai dengan status
status sosial sedang(tomaradeka), dan di RW 02 sosialnya yaitu pemangku adat (uwatta),
dan 04 dihuni masyarakat biasa ( ata’). Jumlah uwa, dan warga biasa.
sampel populasi Segmen 1 (RW 01 dan RW 03)
Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2015| C 073
Penataan Permukiman Komunitas Hindu Tolotang Sebagai Kawasan Wisata Budaya

b. Status sosial masyarakat Hindu Tolotang


seperti adanya perilaku pembedaan terhadap
masyarakat bangsawan dan masyarakat
biasa, berpengaruh terhadap pemaknaan
fungsi ruang penerima tamu pada rumah
tinggal. Pada rumah pemangku adat
(uwatta) dibedakan antara ruang untuk
menerima tamu terhormat dan orang biasa.
Orang terhormat di terima pada badan
rumah (watangpola) yang lantainya ditinggi-
kan, sedang orang biasa di terima pada
lantai lebih rendah (tamping) atau daerah
lego-lego.

Gambar 3. Peta Analisis Tapak Rumah


PemangkuAdat dan Sketsa Penggunaan Fungsi
(a) (b) Bangunan
Gambar 1.Rumah Pemangku Adat (a) Rumah
3. Kepadatan Bangunan
Warga Biasa (b). Tiang rumah yang bulat &
badan rumah memiliki tamping. Kepadatan bangunan di lokasi penelitian setiap
Sumber: Hasil Survey, 2015 segmen termasuk dalam kategori kepadatan
rendah.Terdapat 11-40 bangunan per hektarnya.
Kepadatan bangunan paling rendah terdapat di
segmen 2 yaitu 31 bangunan/Ha, kepadatan
(a) (b) bangunan sedang terdapat di segmen 3 yaitu 42
Gambar 2. Watangpola (a), danTamping (b)
bangunan/Ha.
Sumber: Hasil Survey, 2015
4. Prasarana
Bentuk tata fisik lingkungan permukiman dan a. Jaringan Jalan
hunian terdiri dari spatial system dan physical Kondisi jaringan jalan di lokasi penelitian sudah
system. Physical system meliputi penggunaan memenuhi standar. Selain itu, sebagai pengem-
sistem konstruksi dan penggunaan material bangan kawasan wisata, kondisi jalan harus
mempunyai kemiripan antara rumah satu lebih baik untuk mendukung akses wisa-tawan
dengan rumah lainnyayaitu jenis rumah pang- dalam melakukan perjalanan wisata.
gung dengan material kayu. Spatial system
berkaitan organisasi ruang mencakup hubungan b. Jaringan Drainase
ruang, organisasi dan pola hubungan ruang, Kondisi drainase berupa drainase terbuka, di
masyarakat memahami bahwa setiap ruang lokasi penelitian telah memiliki saluran drainase.
rumah memiliki makna dan filosofi tersendiri. Pada jalan kolektor sekunder telah memiliki
saluran drainase primer yang langsung
2. Tapak Rumah Pemangku Adat (Uwatta) mengalirkan air ke badan penerima air (sungai).
Berdasarkan observasi dan wawancara, terdapat
22 unit rumah pemangku adat ( Uwatta).Tapak- c. Jaringan Persampahan
tapak rumah pemangku adat (Uwatta) Berdasarkan jumlah penduduk yang ada,
terbangun secara terpusat (konsentris) terletak lingkup rumah (asumsi 5 jiwa per rumah) dan
di Segmen 1. Sebanyak 19 unit berada dalam sarana pelengkap tong sampah jika dikaitkan
satu cluster,sedangkan 3 unit lainnya tersebar di dengan SNI03-1733-2004, maka belum meme-
dekat pusat dan masih berada di bagian wilayah nuhi standar karena tidak terlayani dengan baik,
Segmen 1.Penempatan tapak-tapak rumah kurangnya bak sampah di setiap rumah dan
pemangku adat terletak dekat dari jalan tidak adanya Tempat Pembuangan Sementara
utama.Kondisi ini memudahkan aksesibilitas bagi (TPS) di lokasi penelitian.
pengunjung sehingga tapak-tapak rumah
pemangku adat dapat dijadikan sebagai salah d. Jaringan Air Bersih
satu objek wisata.

C 074 | Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2015


Dinda Pujiastuti
Sumber air bersih untuk kebutuhan minum,
memasak dan mencuci di permukiman
Komunitas Hindu Tolotang berasal dari sumur
bor dan PDAM.

B. Analisis Kondisi Sosial


BudayaKomunitas Hindu Tolotang

1. Atraksi/Kegiatan Budaya Masyarakat


Atraksi budaya adalah segala sesuatu yang
dapat dimanfaatkan dan dikembangkan sebagai Gambar 5. Tradisi Perrinyameng Sumber:Jappih,2013
objek dan daya tarik wisata meliputi museum,
peninggalan sejarah, upacara adat, seni pertun- 6) Mappadendang (Pesta Panen)
jukan dan kerajinan. Beberapa kegiatan budaya
masyarakat Komunitas Hindu Tolotang antara Berdasarkan potensi di atas, terdapat beberapa
lain: kegiatan budaya dan objek-objek yang memiliki
daya tarik yang dapat dikembangkan menjadi
a. Rumah Adat Uwatta (Pemangku Adat) tujuan/destinasi wisata di kelurahan Amparita.
Rumah pemangku adat (uwatta) memiliki
keunikan,yaitu memiliki tiang yang berbeda dari 2. Amenities (Fasilitas Penunjang Wisata)
rumah panggung biasanya. Tiang berbentuk Fasilitas penunjang adalah fasilitas yang
bulat, kayu dari kayu bitti, kayu cendana atau berfungsi sebagai penunjangpengembangan
kayu bayam. Rumah uwatta tidak terdapat kursi kawasan permukiman Hindu Tolotang sebagai
namun terdapat bagian lantai yang ditinggikan kawasan wisata budaya a.l:Akomodasi (hotel/
dan tamping untuk menerima masyarakat. penginapan, restoran, jasa pelayanan& hiburan,
Perbedaan dan keunikan pada rumah uwatta ini toko souvenir; Transportasi (parkir, shelter.
dijadikan sebagai objek wisata. moda transportasi);dan Penunjuk Arah.

b. Aktifitas Masyarakat 3. Aksesibilitas


Usaha Industri rumahtangga jenis kerajinan Lokasi Permukiman Komunitas Hindu Tolotang
tradisional yaitu; pembuatan sarung tenun dapat ditempuh dengan angkutan umum
sutera, pembuatan bakul, pembuatan tas dari ataupun pribadi. Untuk mencapai kawasan ini
plastik, dan pembuatan cobekan batu. Usaha dilalui jalan antar kabupaten menuju Kabupaten
kerajinan ini banyak ditemukan di segmen 1. Soppeng sehingga bus-bus wisata dapat
Usaha kerajinan merupakan dayatarik bagi mengaksesknya dengan mudah.
wisatawan yang ingin melihat proses pembuatan
kerajinan masyarakat dan dapat dijadikan Arahan Konsep
sebagai cinderemata bagi wisatawan.
Arahan konsep dasar perencanaan kawasan
adalah penataan permukiman untuk menunjang
kawasan wisata budaya dengan objek permu-
kiman tradisional, rumah adat bugis dan tradisi
masyarakat Hindu Tolotang.

A. Arahan Kepadatan Bangunan


Arahan yang dapat diterapkan untuk menang-
Gambar 4. Pembuatan Sarung Tenun Sutera Khas gulangi kepadatan bangunan adalah melakukan
Bugis yang dibuat oleh Pengrajin TolotangSumber: regulasi penataan permukiman.
Hasil Survey, 2015
B. ArahanPerencanaan Prasarana Dasar
c. Tradisi Masyarakat Permukiman
1) Ziarah Makam Leluhur (Perrinyameng) Prasarana permukiman yang tidak memadai
2) Massempe’ (Permainan Adu Kekuatan Kaki). adalah jalan dan persampahan, maka dibutuh-
3) Prosesi Pernikahan kan perencanaan pada prasarana jalan dan
4) Menre’ Bola (Upacara Masuk Rumah Baru) persampahan serta pengelolaannya.
5) Maccera Ana’ (Syukuran Kelahiran)
Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2015| C 075
Penataan Permukiman Komunitas Hindu Tolotang Sebagai Kawasan Wisata Budaya

C. Perencanaan dan Penataan Lokasi Fasilitas c. Kondisi kepadatan bangunan yaitu 11-40
Penunjang Wisata Budaya unit bangunan/ha (rendah).
Perencanaan fasilitas penunjang wisata ber- d. Kondisi prasarana jalan berupa jalan
tujuan untuk menunjang objek/atraksi wisata kolektor sekunder, jalan lokal sekunder
yang ada dalam kawasan ini. Fasilitas-fasilitas II, lokal sekunder III sudah cukup baik
yang akan direncanakan dalam kawasan ini dengan material aspal, paving block dan
antara lain: tanah.Perlu pemenuhan kelengkapan
jalan: street furniture& jalur pejalan kaki
 Akomodasi (hotel atau penginapan, restoran e. Kondisi drainase sudah cukup baik.
atau rumah makan, Namun, warga setempat tidak melakukan
 Kantor Informasi Penerimaan (Visitor pengolahan sampah dengan baik.
Information Center), Kebutuhan air bersih warga sudah
 Toko Souvenir (Gallery Shop), memadai, berasal dari PDAM, sumur gali.
 Penempatan Gazebo,
 Transportasi (penataan area parkir, 2.Arahan konsep penataan di Permukiman
perencanaan shelter kendaraan pengganti). Komunitas Hindu Tolotang berupa penye-
diaan fasilitas penunjang wisata untuk
A. Penempatan Penunjuk Arah pengembangan kawasan permukiman seba-
Untuk mempermudah wisatawan dalam menge- gai kawasan wisata budaya dan melakukan
lilingi kawasan wisata, dan penunjuk arah yang promosi kawasan ini dengan memanfaatkan
ditempatkan di simpangan jalan menuju objek media baik media cetak maupun media
wisata yang ada di kelurahan Amparita. elektronik. Strategi promosi lainnya dengan
pameran dan pagelaran wisata budaya.
B. Perencanaan Jalur Sirkulasi Wisata
Perencanaan jalur sirkulasi wisata diarahkan
agar wisatawan memperoleh pengalaman dan Daftar Pustaka
pengetahuan terhadap kekayaan budaya Komu-
Ketut, I. (2010). Pengaruh Revitalisasi Kawasan
nitas Hindu Tolotang. Wisatawan tidak hanya terhadap Kualitas Ruang Publik dan Peningkatan
mengamati obyek dan atraksi yang ditawarkan, Ekonomi Masyarakat di Pelabuhan Padangbai
tetapi juga dapat berinteraksi langsung dengan Kabupaten Karangasem. Program Pascasarjana
masyarakat setempat. Universitas Udayana.
Kuntjaraningrat. (1990). Metode Penelitian Masyarakat.
C. Perencanaan Jalur Promosi Pariwisata PT. Gramedia, Jakarta.
Merik Purnadewi, Ni Kadek dkk. (2013). Permukiman
Strategi promosi dapat memanfaatkan media
Tradisional Sebagai Kawasan Wisata Budaya Di Desa
baik media cetak maupun media elektronik. Batuan Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar.
Strategi promosi lainnya dengan pameran dan Denpasar: Jurnal Jurusan Pendidikan Geografi,
pagelaran wisata budaya. Universitas Pendidikan Ganesha.
Pitana, I Gde dkk. (2005). Sosiologi Pariwisata.
Kesimpulan Yogyakarta: CV Andi Offset.
Standar Nasional Indonesia 03-1733-2004 tentang
Berdasarkan analisis dan pembahasan, maka Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di
Perkotaan.
diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut:
Sujarto, Djoko. (1992). Wawasan Tata Ruang. Jurnal
1. Kondisi fisik permukiman Komunitas Hindu PWK Edisi Khusus Juli 1992.
Tolotang. Sulistianto, Imam.(2005). Perencanaan Lanskap
a. Kondisi fisik permukiman yaitu:spatial Pemukiman Tradisional Segenter , Pulau Lombok,
system dan physical system. Physical Sebagai Kawasan Wisata Budaya: Skripsi Program
system dan Spatial system merupakan Studi Arsitektur Lanskap. Fakultas Pertanian Institut
bagian dari kesatuan sistem dati tatanan Pertanian Bogor.
fisik permukiman tradisional. Syahmusir, Valentina. (2011). Pola Permukiman
b. Letak tapak rumah pemangku adat Tradisional Toraja: Studi Kasus Permukiman
Tradisional Kaero. Makassar: Pusat Kajian Indonesia
(uwatta) sangat strategis, dekat dari Timur, Universitas Hasanuddin.
jalan utama memasuki kawasan permu- Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 2011 tentang
kiman, sehingga rumah-rumah dari Perumahan dan Kawasan Permukiman.
uwatta dapat dijadikan sebagai salah
satu objek daya tarik wisata.
C 076 | Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2015