Anda di halaman 1dari 28

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA SISTEM

ENDOKRIN ( HIPOGLIKEMI )
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Gawat Darurat
Dosen: Ns. Wijaya Atmaja Kusuma, M.Kep.

Oleh :
Kelompok 7
Congky 2017.C.09a.0829
Helsi wulandari H. M 2017.C.09a.0842
Meitri Trolan 2017.C.09a.0853
Sahrawani J 2017.C.09a.0863
Windari 2017.C.09a.0868

YAYASAN EKA HARAP PALANGKA RAYA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
TAHUN 2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
karuniaNya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas Mata Kuliah Keperawatan
Gawat darurat . Makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan Gawat Darurat
Pada ssistem Endokrin ( Hipoglikemi) ” dapat tersusun hingga selesai. Harapan
kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para
pembaca.

Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam menyusun makalah ini,


Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari
pembaca demi kesempurnaan makalah ini kedepannya.

Palangka Raya, 13 Juni 2020

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................................i
DAFTAR ISI....................................................................................................................ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.............................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah........................................................................................................2
1.3 Tujuan Penulisan.........................................................................................................2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi.........................................................................................................................3
2.2 Etiologi.........................................................................................................................4
2.3 Klasifikasi....................................................................................................................6
2.4 Patofisiologi................................................................................................................10
2.5 Manifestasi Klinis.......................................................................................................11
2.6 Komplikasi....................................................................................................................
2.7 Pemeriksaan Penunjang..............................................................................................12
2.8 Pemataalaksanaan.......................................................................................................13
2.9 Manajemen Asuhan Keperawatan...............................................................................16
BAB 3 PEMBAHASAN
3.1 Konsep Asuhan Keperawatan....................................................................................
3.2 Anamnesa.....................................................................................................................
3.3 Pemeriksaan Diagnostik..............................................................................................
3.4 Data Fokus....................................................................................................................
3.5 Analisa Data.................................................................................................................
3.6 Diagnosa Keperawatan...............................................................................................
3.7 Intervensi Keperawatan..............................................................................................
BAB 4 PENUTUP
4.1 Kesimpulan...................................................................................................................
4.2 Saran.............................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hipoglikemia adalah suatu keadaan dimana kadar glukosa dalam darah dibawah
normal (<70mg/dl) (ADA, 2016). Hipoglikemia adalah efek samping yang paling
sering terjadi akibat terapi penurunan glukosa darah pada pasien DM dan
pengontrolan glukosa darah secara intensif selalu meningkatkan risiko terjadinya
hipoglikemia berat (Gruden et al., 2012). Hipoglikemia lebih sering terjadi pada DM
tipe 1 dengan angka kejadian 10% - 30% pasien per tahun dengan angka kematian
nya 3% - 4% ( Goldman & Shcafer, 2012), sedangkan pada DM tipe 2 angka
kejadiannya 1,2 % pasien pertahun (Berber et al., 2013). Rata-rata kejadian
hipoglikemia meningkat dari 3.2 per 100 orang per tahun menjadi 7.7 per 100 orang
per tahun pada penggunaan insulin ( Cull et al., 2001). Menurut penelitian lain
didapatkan data kejadian
hipoglikemia terjadi sebanyak 30% per tahun pada pasien yang mengonsumsi
obat hipoglikemik oral seperti sulfonilurea (Self et al., 2013). Sebagai penyulit akut
pada DM tipe 2, hipoglikemia paling sering disebabkan oleh penggunaan Insulin dan
Sulfonilurea (PERKENI, 2011).

Federasi Diabetes Internasional dalam Hartono (2011), menyatakan bahwa Tiap


10 detik satu orang meninggal dunia karena diabetes dan World Health Organisation
(WHO) menyatakan bahwa Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar di dunia dalam
jumlah penderita diabetes, tahun 2000 terdapat 5,6 juta penderita & 2006 menjadi 14
juta & 21 juta jiwa tahun 2025. Diantara provinsi yang ada di Indonesia, jawa tengah
memiliki prevalensi diabetes yang cukup tinggi. prevalensi diabetes melitus
tergantung insulin di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 0,09%,
mengalami peningkatan bila dibandingkan prevalensi tahun 2010 sebesar 0,08.

Hipoglikemia merupakan komplikasi yang paling sering muncul pada penderita


diabetes mellitus. Hipoglikemia adalah menurunnya kadar glukosa darah yang
menyebabkan kebutuhan metabolik yang diperlukan oleh system saraf tidak cukup
sehingga timbul berbagai keluhan dan gejala klinik (Admin,2012). Hipoglikemia
berdampak serius pada morbiditas, mortalitas dan kualitas hidup. The diabetes
Control and Complication Trial (DCCT) melaporkan diperkirakan 2-4% kematian
orang dengan diabetes tipe 1 berkaitan dengan hipoglikemia. Hipoglikemia
juga umum terjadi pada penderita diabetes tipe 2, dengan tingkat prevalensi
70-80% (Setyohadi,2011). Hipoglikemia merupakan penyakit kegawatdaruratan
yang membutuhkan pertolongan segera, karena hipoglikemia yang berlangsung
lama bisa menyebabkan kerusakan otak yang permanen, hipoglikemia juga dapat
menyebabkan koma sampai dengan kematian (Kedia, 2011). Maka dari itu penulis
tertarik untuk mengambil kasus tentang hipoglikemia di Instalasi Gawat Darurat
(IGD).
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas penulis tertarik untuk membahas tentang bagaiamana
asuhan Keperawatan Gawat Darurat pada system endokrin dengan kasus
Hopoglikeimia
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan umum
Mahasiswa dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagaimana proses
Asuhan Keperawatan Gawat Darurat pada system endokrin dengan kasus
Hipoglikemia
Tujuan Khusus
a. Mahasiswa dapat melakukan pengkajian secara langsung pada klien dengan
hipoglikemia di Instalasi Gawat Darurat.
b. Mahasiswa dapat merumusakan masalah dan membuat diagnosa
keperawatan pada klien hipoglikemia di Instalasi Gawat Darurat.
c. Mahasiswa dapat membuat perencanaan pada klien hipoglikemia di
Instalasi Gawat Darurat.

d. Mahasiswa mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada klien


hipoglikemia di Instalasi Gawat Darurat.
e. Mahasiswa mampu mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan pada klien
hipoglikemia di Instalasi Gawat Darurat.
1.4 Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan makalah ini bagi mahasiswa adalah menambah
wawasan dan penegatahuan dalam memberikan dan menyusun asuhan
keperawatan pada penderita hipoglikemia mulai dari pengkajian, perumusan
masalah, perencanaan, pelaksanaan sampai dengan evaluasi, dan manfaat bagi
istitusi adalah dapat digunakan sebagai informasi bagi institusi pendidikan dalam
pengembangan dan untuk mengetahui tingkat kemampuan mahasiswa dalam
penulisan asuhan keperawatan dan manfaat bagi pembacaa adalah Menambah
wawasan tentang kesehatan khususnya tentang hipoglikemia.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian
Hipoglikemia merupakan penyakit yang disebabakan oleh kadar gula darah
(glukosa) yang rendah. Dalam keadaan normal, tubuh mempertahankan kadar gula
darah antara 70-11- mg/dl ( Aina Abata, 2014).
Hipoglikemia merupakan suatu keadaan dimana kadar glukosa <60 mg/dl. Jadi
dapat disimpulkan bahwa, hipoglikemia merupakan kadar glukosa darah dibawah
normal yaitu <60 mg/dl (McNaughton, 2011)
Hipoglikemia merupakan salah satu komplikasi akut yang dialami oleh penderita
diabetes mellitus. Hipoglikemia disebut juga sebagai penurunan kadar gula darah
yang merupakan keadaan dimana kadar glukosa darah berada di bawah normal, yang
dapat terjadi karena ketidak seimbangan antara makanan yang dimakan, aktivitas fisik
dan obat-obatan yang digunakan. Sindrom hipoglikemia ditandai dengan gejala klinis
antara lain penderita merasa pusing, lemas, gemetar, pandangan menjadi kabur dan
gelap, berkeringat dingin, detak jantung meningkat dan terkadang sampai hilang
kesadaran (syok hipoglikemia) (Nabyl, 2009).

2.2 Etiologi
Hipoglikemia bisa disebabkan oleh:
1. Pelepasan insulin yang berlebihan oleh pancreas
2. Dosis insulin atau obat lainnya yang terlalu tinggi, yang diberikan kepada
penderita diabetes untuk menurunkan kadar gula darahnya
3. Kelainan pada kelenjar hipofisa atau kelenjar adrenal
4. Kelainan pada penyimpanan karbohidrat atau pembentukan glukosa di hati.
Adapun penyebab Hipoglikemia yaitu :
1. Dosis suntikan insulin terlalu banyak
Saat menyuntikan obat insulin, anda harus tahu dan paham dosis obat yang
anda suntik sesuai dengan kondisi gula darah saat itu. Celakanya, terkadang
pasien tidak dapat memantau kadar gula darahnya sebelum disuntik,
sehingga dosis yang disuntikan tidak sesuai dengan kadar gula darah saat itu.
Memang sebaiknya bila menggunakan insulin suntik, pasien harus memiliki
monitor atau alat pemeriksa gula darah sendiri.
2. Lupa makan atau makan terlalu sedikit
Penderita diabetes sebaiknya mengkonsumsi obat insulin dengan kerja
lambat dua kali sehari dan obat yang kerja cepat sesaat sebelum makan.
Kadar insulin dalam darah harus seimbang dengan makanan yang
dikonsumsi. Jika makanan yang anda konsumsi kurang maka keseimbangan
ini terganggu dan terjadilah hipoglikemia.
3. Aktifitas terlalu berat.
Olah raga atau aktifitas berat lainnya memiliki efek yang mirip dengan
insulin. Saat anda berolah raga, anda akan menggunakan glukosa darah yang
banyak sehingga kadar glukosa darah akan menurun. Maka dari itu, olah
raga merupakan cara terbaik untuk menurunkan kadar glukosa darah tanpa
menggunakan insulin.
4. Minum alkohol tanpa disertai makan
Alkohol menganggu pengeluaran glukosa dari hati sehingga kadar glukosa
darah akan menurun.
5. Menggunakan tipe insulin yang salah pada malam hari.
Pengobatan diabetes yang intensif terkadang mengharuskan anda
mengkonsumsi obat diabetes pada malam hari terutama yang bekerja secara
lambat. Jika anda salah mengkonsumsi obat misalnya anda meminum obat
insulin kerja cepat di malam hari maka saat bangun pagi, anda akan
mengalami hipoglikemia.
6. Penebalan di lokasi suntikan.
Dianjurkan bagi mereka yang menggunakan suntikan insulin agar merubah
lokasi suntikan setiap beberapa hari. Menyuntikan obat dalam waktu lama
pada lokasi yang sama akan menyebabkan penebalan jaringan. Penebalan ini
akan menyebabkan penyerapan insulin menjadi lambat.

7. Kesalahan waktu pemberian obat dan makanan.


Tiap tiap obat insulin sebaiknya dikonsumsi menurut waktu yang dianjurkan.
Anda harus mengetahui dan mempelajari dengan baik kapan obat sebaiknya
disuntik atau diminum sehingga kadar glukosa darah menjadi seimbang.
8. Penyakit yang menyebabkan gangguan penyerapan glukosa.
Beberapa penyakit seperti celiac disease dapat menurunkan penyerapan
glukosa oleh usus. Hal ini menyebabkan insulin lebih dulu ada di aliran
darah dibandingan dengan glukosa. Insulin yang kadung beredar ini akan
menyebabkan kadar glukosa darah menurun sebelum glukosa yang baru
menggantikannya.
9. Gangguan hormonal.
Orang dengan diabetes terkadang mengalami gangguan hormon glukagon.
Hormon ini berguna untuk meningkatkan kadar gula darah. Tanpa hormon
ini maka pengendalian kadar gula darah menjadi terganggu.
10. Pemakaian aspirin dosis tinggi.
Aspirin dapat menurunkan kadar gula darah bila dikonsumsi melebihi dosis
80 mg.
11. Riwayat hipoglikemia sebelumnya.
Hipoglikemia yang terjadi sebelumnya mempunyai efek yang masih terasa
dalam beberapa waktu. Meskipun saat ini anda sudah merasa baikan tetapi
belum menjamin tidak akan mengalami hipoglikemia lagi.

2.3 Klasifikasi
Menurut Setyohadi(2012) dan thompson (2011) Hipoglikemia dapat
diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Hipoglikemi Ringan (glukosa darah 50-60 mg/dL)
Terjadi jika kadar glukosa darah menurun, sistem saraf simpatik akan
terangsang. Pelimpahan adrenalin ke dalam darah menyebabkan gejala
seperti tremor, takikardi, palpitasi, kegelisahan dan rasa lapar.

2. Hipoglikemi Sedang (glukosa darah <50 mg/dL)


Penurunan kadar glukosa dapat menyebabkan sel- sel otak tidak memperoleh
bahan bakar untuk bekerja dengan baik. Tanda- tanda gangguan fungsi pada
sistem saraf pusat mencakup keetidakmampuan berkonsentrasi, sakit kepala,
vertigo, konfusi, penurunan daya ingat, bicara pelo, gerakan tidak
terkoordinasi, penglihatan ganda dan perasaan ingin pingsan.
3. Hipoglikemi Berat (glukosa darah <35 mg /dL)
Terjadi gangguan pada sistem saraf pusat sehingga pasien memerlukan
pertolongan orang lain untuk mengatasi hipoglikeminya. Gejalanya
mencakup disorientasi, serangan kejang, sulit dibangunkan bahkan
kehilangan kesadaran.

2.4 Patofisiologi
Seperti sebagian besar jaringan lainnya, matabolisme otak terutama bergantung
pada glukosa untuk digunakan sebagai bahan bakar. Saat jumlah glukosa terbatas,
otak dapat memperoleh glukosa dari penyimpanan glikogen di astrosit, namun itu
dipakai dalam beberapa menit saja. Untuk melakukan kerja yang begitu banyak, otak
sangat tergantung pada suplai glukosa secara terus menerus dari darah ke dalam
jaringan interstitial dalam system saraf pusat dan saraf-saraf di dalam system saraf
tersebut. Oleh karena itu, jika jumlah glukosa yang di suplai oleh darah menurun,
maka akan mempengaruhi juga kerja otak. Pada kebanyakan kasus, penurunan mental
seseorang telah dapat dilihat ketika gula darahnya menurun hingga di bawah 65 mg/dl
(3.6 mM). Saat kadar glukosa darah menurun hingga di bawah 10 mg/dl (0.55 mM),
sebagian besar neuron menjadi tidak berfungsi sehingga dapat menghasilkan koma.
Diabetes ketoasidosis disebabkan oleh tidak adanya insulin atau tidak cukupnya
jumlah insulin yang nyata, keadaan ini mengakibatkan gangguan pada metabolisme
karbohidrat, protein, lemak, ada tiga gambaran klinis yang penting pada diabetes
ketoasidosis.
1. Dehidrasi
2. Kehilangan elektrolit
3. Asidosis
Apabila jumlah insulin berkurang jumlah glukosa yang memasuki sel akan
berkurang pula, di samping itu produksi glukosa oleh hati menjadi tidak terkendali,
kedua factor ini akan menimbulkan hipoglikemia. Dalam upaya untuk menghilangkan
glukosa yang berlebihan dalam tubuh, ginjal akan mengekskresikan glukosa bersama-
sama air dan elektrolit (seperti natrium dan kalium). Diuresis osmotic yang di tandai
oleh urinaria berlebihan (poliuria) ini akan menyebabkan dehidrasi dan kehilangan
elektrolit. penderita ketoasidosis diabetic yang berat dapat kehilangan kira-kira 6,5
liter air dan sampai 400 hingga mEq natrium, kalium serta klorida selama periode
waktu 24 jam. Akibat defisiensi insulin yang lain adalah pemecahan lemak (liposis)
menjadi asam-asam lemak bebas dan gliseral.asam lemak bebas akan di ubah menjadi
badan keton oleh hati, pada keton asidosis diabetic terjadi produksi badan keton yang
berlebihan sebagai akibat dari kekurangan insulin yang secara normal akan mencegah
timbulnya keadaan tersebut, badan keton bersifat asam, dan bila bertumpuk dalam
sirkulasi darah, badan keton akan menimbulkan asidosis metabolic.
Pada hipoglikemia ringan ketika kadar glukosa darah menurun, sistem saraf
simpatik akan terangsang. Pelimpahan adrenalin ke dalam darah menyebabkan gejala
seperti perspirasi, tremor, takikardi, palpitasi, kegelisahan dan rasa lapar.
Pada hipoglikemia sedang, penurunan kadar glukosa darah menyebabkan sel-sel
otak tidak memperoleh cukup bahan bakar untuk bekerja dengan baik. Tanda-tanda
gangguan fungsi pada sistem saraf pusat mencakup ketidak mampuan berkonsentrasi,
sakit kepala,vertigo, konfusi, penurunan daya ingat, pati rasa di daerah bibir serta
lidah, bicara pelo, gerakan tidak terkoordinasi, perubahan emosional, perilaku yang
tidak rasional, penglihatan ganda dan perasaan ingin pingsan. Kombinasi dari gejala
ini (di samping gejala adrenergik) dapat terjadi pada hipoglikemia sedang.
Pada hipoglikemia berat fungsi sistem saraf pusat mengalami gangguan yang
sangat berat, sehingga pasien memerlukan pertolongan orang lain untuk mengatasi
hipoglikemia yang di deritanya. Gejalanya dapat mencakup perilaku yang mengalami
disorientasi, serangan kejang, sulit di bangunkan dari tidur atau bahkan kehilangan
kesadaran
2.5 Manifestasi Klinis
Tanda  dan  gejala  hipoglikemia menurut Setyohadi (2012) antara lain:
1. Adrenergik  seperti:  pucat,  keringat dingin,  takikardi,  gemetar, lapar,
cemas,  gelisah,  sakit  kepala, mengantuk.
2. Neuroglikopenia  seperti bingung, bicara  tidak jelas, perubahan sikap
perilaku, lemah,disorientasi,penurunan kesadaran,kejang, penurunan
terhadap stimulus bahaya.

2.6 Komplikasi
Komplikasi dari hipoglikemia pada gangguan tingkat kesadaran yang
berubah selalu dapat menyebabkan gangguan pernafasan, selain itu hipoglikemia juga
dapat mengakibatkan kerusakan otak akut. Hipoglikemia berkepanjangan parah
bahkan dapat menyebabkan gangguan neuropsikologis sedang sampai dengan
gangguan neuropsikologis berat karena efek hipoglikemia berkaitan dengan system
saraf pusatyang  biasanya ditandai oleh perilaku dan pola bicara
yang abnormal (Jevon, 2010).
Menurut Kedia  (2011)  hipoglikemia yang berlangsung lama dapat
menyebabkan  kerusakan otak yang permanen, hipoglikemia juga dapat menyebabkan
koma sampai kematian.

2.7 Pemeriksaan Penunjang


1. Gula Darah Puasa
Diperiksa untuk mengetahui kadar gula darah puasa (sebelum diberi glukosa
75 gram oral) dan nilai normalnya antara 70- 110 mg/dl.
2. Gula darah 2 jam PP
Diperiksa 2 jam setelah diberi glukosa dengan nilai normal < 140 mg/dl/2
jam
3. HBA1c
Pemeriksaan dengan menggunakan bahan darah untuk memperoleh kadar
gula darah yang sesungguhnya karena pasien tidak dapat mengontrol hasil
tes dalam waktu 2- 3 bulan. HBA1c menunjukkan kadar hemoglobin
terglikosilasi yang pada orang normal antara 4- 6%. Semakin tinggi maka
akan menunjukkan bahwa orang tersebut menderita DM dan beresiko
terjadinya komplikasi.
4. Elektrolit, tejadi peningkatan creatinin jika fungsi ginjalnya telah terganggu
5. Leukosit, terjadi peningkatan jika sampai terjadi infeksi

2.8 Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Kegawatdaruratan
Gejala hipoglikemia akan menghilang dalam beberapa menit setelah
penderita mengkonsumsi gula (dalam bentuk permen atau tablet glukosa)
maupun minum jus buah, air gula atau segelas susu. Seseorang yang sering
mengalami hipoglikemia (terutama penderita diabetes), hendaknya selalu
membawa tablet glukosa karena efeknya cepat timbul dan memberikan
sejumlah gula yang konsisten. Baik penderita diabetes maupun bukan,
sebaiknya sesudah makan gula diikuti dengan makanan yang mengandung
karbohidrat yang bertahan lama (misalnya roti atau biskuit).
Jika hipoglikemianya berat dan berlangsung lama serta tidak mungkin untuk
memasukkan gula melalui mulut penderita, maka diberikan glukosa
intravena untuk mencegah kerusakan otak yang serius. Seseorang yang
memiliki resiko mengalami episode hipoglikemia berat sebaiknya selalu
membawa glukagon. Glukagon adalah hormon yang dihasilkan oleh sel
pulau pankreas, yang merangsang pembentukan sejumlah besar glukosa dari
cadangan karbohidrat di dalam hati. Glukagon tersedia dalam bentuk
suntikan dan biasanya mengembalikan gula darah dalam waktu 5-15 menit.
Tumor penghasil insulin harus diangkat melalui pembedahan. Sebelum
pembedahan, diberikan obat untuk menghambat pelepasan insulin oleh
tumor (misalnya diazoksid). Bukan penderita diabetes yang sering
mengalami hipoglikemia dapat menghindari serangan hipoglikemia dengan
sering makan dalam porsi kecil.

2. Penatalaksanaan Medis
Menurut Kedia (2011), pengobatan hipoglikemia tergantung
pada keparahan dari hipoglikemia. Hipoglikemia ringan mudah diobati
dengan asupan karbohidrat seperti minuman yang mengandung glukosa,
tablet glukosa, atau mengkonsumsi makanan rigan.DalamSetyohadi
(2011), pada minuman yang mengandung glukosa, dapat diberikan larutan
glukosa murni 20- 30 gram (1 ½ -  2 sendok makan). Pada hipoglikemia
berat membutuhkan bantuan eksternal, antara lain (Kedia, 2011):
1) Dekstrosa
Untuk pasien yang tidak mampu menelan glukosa oral karena pingsan
kejang, atau  perubahan status mental, pada keadaan darurat dapat
pemberian dekstrosa dalam air pada konsentrasi 50% adalah dosis
biasanya diberikan kepada orang dewasa, sedangkan konsentrasi 25%
biasanya diberikan kepada anak-anak.
2) Glukagon
Sebagai hormone kontra-regulasi utama terhadap insulin, glucagon
adalah pengobatan pertama yang dapat dilakukan untuk hipoglikemia
berat. Tidak seperti dekstrosa,yang harus diberikan secara intravena
dengan perawatan kesehatan yang berkualitas profesional, glucagon
dapat diberikan oleh subkutan(SC)atau intramuscular (IM)injeksi oleh
orang tua atau pengasuh terlatih. Hal ini dapat mencegah keterlambatan
dalam memulai pengobatan yang dapat dilakukan secara darurat.

BAB 3
PEMBAHASAN
3.1 Konsep asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Primer (Primary Survey)
Pemeriksaan fisik berdasarkan prinsip ABCD
1) A (Airway) Kaji adanya sumbatan jalan nafas dan tanda-tanda bila terjadi
hambatan jalan nafas
2)  B (Breathing) Kaji pernafasan klien dengan cara Look, Listen and Feel
a. Look : lihat ada pergerakan dada atau tidak
b. Listen : dengar jika ada suara nafas tambahan (snoring, gargling,
crowing)
c. Feel : rasakan hembusan nafas klien
3) (Circulation) Pada pemeriksaan fisik circulation data yang diperoleh
adalah detak jantung meningkat serta akral dingin dan pucat
4) D (Disability) Kesadaran menurun sampai koma karena otak
kekurangan suplai glukosa. Untuk menilai kesadaran kita juga dapat
menggunakan metode AVPU (Alert, Verbal, Pain, Unresponsive)
dengan cara :
a. A : Korban sadar, jika tidak segera lanjutkan dengan Verbal
b. V : Coba memanggil klien dengan keras di dekat telinga klien,
jika tidak ada respon lanjut ke Pain
c. P : Cobalah beri rangsang nyeri pada pasien, yang paling
mudah adalah menekan bagian putih dari kuku tangan (di pangkal
kuku), selain itu dapat juga dengan menekan bagian tengah tulang
dada (sternum) dan juga areal diatas mata (supra orbital).
d. U : Setelah diberi rangsang nyeri tapi pasien masih tidak
bereaksi maka pasien berada dalam keadaan unresponsive
5) (Exposure)
Pada exposure kita melakukan pengkajian secara menyeluruh,
hipoglikemia lebih sering terjadi pada klien dengan riwayat diabetes
mellitus kita harus mengkaji apakah ada luka/infeksi pada tubuh klien
Pemeriksaan fisik Review of System (ROS)
3) Pernafasan (B1)
4) Kardiovaskuler (B2)
5) Palpitasi, Akral dingin dan pucat, berkeringat meski suhu normal
6)  Persyarafan (B3)
7) Agresif, emosi labil, pusing, penglihatan kabur/ganda, parestesia bibir
dan jari, kejang, penurunan kesadaran-koma
8) Perkemihan (B4) Poliuria pada kasus hipoglikemi akibat diabetes
mellitus
9)  Pencernaan (B5) Rasa lapar timbul akibat efek pelepasan
epinefrin(adrenalin)
10)  Muskuloskeletal dan integument (B6) Kelemahan dan mudah capek
saat melakukan aktivitas
2. Secondary Survey
Primary survey dan resusitasi harus terselesaikan sebelum dilakukan
secondary survey. Jika, selesai dilakukan primary survey kondisi pasien
tidak stabil maka harus dilakukan tahap pengulangan sampai kondisi pasien
stabil.
Riwayat AMPLE membantu rencana perawatan pasien :
1) Allergies
2) Medication
3) Past illness/pregnancy
4) Late Ate or drank
5) Events/ Environment related to the injury

3.2 Anamnesa
1. Identitas
2. Identitas pasien meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan,
pekerjaan, suku/bangsa, alamat, jenis kelamin, status perkawinan, dan
penanggung biaya.
3. Keluhan Utama
4. Biasanya pasien mengeluh pusing, lemah dan penurunan konsentrasi.
5. Riwayat penyakit saat ini
6. Berisi tentang kapan terjadinya hipoglikemia, apa yang dirasakan klien dan
apa saja yang sudah dilakukan untuk mengatasi sakitnya.
7. Riwayat penyakit dahulu
8. Kaji adanya penyakit yag diderita seperti diabetes mellitus, hepatitis, sirosis
hepatis, gagal ginjal dan penyakit lainnya yang berhubungan dengan
hipoglikemia. Kaji riwayat penggunaan obat, konsumsi alcohol, aktivitas
fisik yang dilakukan dan asupan makanan.
9. Riwayat penyakit keluarga
10. Kaji adanya penyakit keluarga yang bisa menimbulkan hipoglikemia seperti
diabetes mellitus, hepatitis
11. Pengkajian bio-psiko-sosio-spiritual
12. Berhubungan dengan perasaan dan emosi yang di alami pasien mengenai
kondisinya.
3.3 Pemeriksaan Diagnostik
Pada pemeriksaan kadar glukosa darah rendah adalah 60mg/dl atau kurang
3.4 Data Fokus

Data Subjektif Data Objektif


1. Klien mengatakan tubuhnya lemas 1. Hasil pemeriksaan GDS : 41
2. Klien mengatakan merasa letih mg/dl
3. Klien merasa tidak enak badan 2. Sebelumnya klien meminum
4. Klien mengatakan pusing metformin dalam dosis yang
5. Klien mengatakan nyeri kepala berlebih
P: Saat beraktivitas 3. TTV :
Q: Terasa senat senut TD : 140/80 mmHg
R: Nyeri di Kepala bagian N   :  102x/menit
tengah (ubun-ubun) RR : 20x/menit
S : Skala 6 S    : 35°S
T : <20 menit  4. Akral dingin
6. Klien mengatakan sering merasa 5. Klien tampak pucat
lapar 6. Klien terbaring lemas
7. Klien mengatakan BB turun 4 kg 7. Mukosa klien kering
dalam satu bulan ini 8. Klien tampak tremor
8. Klien mengatakan mudah lelah 9. BB klien sekarang : 68 kg
9. Klien mengatakan suka terasa BB sebelum : 72 kg
kesemutan pada jari-jari tangan 10. Diagnosa medis :
atau kaki Hipoglikemia
10. Klien mengatakan memiliki
riwayat DM 4 tahun lalu

3.5 Analisa Data


NO DATA FOKUS PROBLEM ETIOLOGI
.
1 DATA Ketidakseimbangan Ketidakmampuan
SUBJEKTIF: nutrisi kurang dari mengabsorpsi
1. Klien kebutuhan tubuh nutrien
mengatakan
sering merasa
lapar
2. Klien
mengatakan BB
turun 4 kg
dalam satu
bulan ini

DATA
OBJEKTIF :
1. Hasil
pemeriksaan
GDS : 41 mg/dl
2. Sebelumnya
klien meminum
metformin
dalam dosis
yang berlebih
dari anjuran
dokter
3. BB klien
sekarang : 68
kg
BB sebelum : 72 kg
2 DATA Nyeri akut Agens cedera
SUBJEKTIF: biologis
1. Klien
mengatakan
pusing
2. Klien
mengatakan
nyeri kepala
P: Saat beraktivitas
Q: Terasa senat
senut
R: Nyeri di Kepala
S : Skala 6
T : <20 menit 

DATA
OBJEKTIF :
1. Klien tampak
pucat
3 DATA Ketidakefektifan Diabetes Militus
SUBJEKTIF: perfusi jaringan
1. Klien perifer
mengatakan
suka terasa
kesemutan pada
jari-jari tangan
atau kaki
2. Klien
mengatakan
memiliki
riwayat DM 4
tahun lalu
DATA OBJEKTIF:
1. TTV klien :
S :35°C
2. Akral klien
dingin
3. Klien tampak
tremor
4 DATA Keletihan Kelesuan
SUBJEKTIF : fisiologis :
1. Klien Hipoglikemia
mengatakan
tubuhnya lemas
2. Klien
mengatakan
merasa letih
3. Klien merasa
tidak enak
badan
4. Klien
mengatakan
mudah lelah

DATA
OBJEKTIF :
1. Klien terbaring
lemas

3.6 Diagnosa Keperawatan


NO DIAGNOSA KEPERAWATAN
1 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d
ketidakmampuan mengabsorpsi nutrien

2 Nyeri akut b.d agens cedera biologis

3 Perfusi Jaringan perifer tidak efektif b.d Diabetes militus

4 Intoleransi aktivitas b.d kelemahan fisiologis : hipoglikemia

3.7 Intervensi keperawatan


DIAGNOSA TUJUAN DAN KRITERIA INTERVENSI
HASIL
Ketidakseimbangan Setelah dilakukan tindakan Mandiri :
nutrisi kurang dari keperawatan selama 2x24 1. Monitor asupan
kebutuhan tubuh b.d jam, diharapkan masalah makanan kalori
ketidakmampuan ketidakseimbangan nutrisi harian
mengabsorpsi kurang dari kebutuhan pada 2. Monitor berat badan
nutrien klien dapat teratasi, dengan klien secara rutin
kriteria hasil : 3. Kaji GDS klien
1. BB klien normal sebelum dan
kembali sesudah 1 jam
2. Hasil GDS normal : pemberian makan
<200 mg/dl 4. Timbang pasien
3. Klien tidak pada jam yang sama
mengonsumsi obat setiap hari
anti diabetes dalam 5. Kaji makanan
dosis berlebih kesukaan pasien,
baik itu kesukaan
pribadi atau yang
dianjurkan budaya
dan agamanya
6. Bantu pasien untuk
makan atau suapi
pasien
7. Ciptakan
lingkungan yang
menyenangkan dan
menenangkan
8. Sajikan makanan
dengan menarik
9. Beri penjelasan
kepada
klien/keluarga klien
dalam mengonsumsi
obat anti diabetes
sesuai dosis yang
dianjurkan
Kolaborasi :
1. Kolaborasi dengan
tim dokter dalam
menentukan dosis
obat antidiabetes
pada klien
2. Kolaborasi dengan
ahli gizi dalam
menentukan asupan
kalori harian yang
diperlukan untuk
mempertahankan
berat badan yang
sudah ditentukan
Nyeri akut b.d agens Setelah dilakukan tindakan Mandiri :
cedera biologis keperawatan selama 2x24 1.      Kaji skala nyeri klien
jam, diharapkan masalah 2.      Berikan lingkungan
nyeri akut pada klien dapat yang tenang
teratasi, dengan kriteria 3.      Atur posisi  tidur
hasil : klien : fowler
1. Klien tidak 4.      Ajarkan teknik
merasakan nyeri di relaksasi nafas dalam
kepala saat 5.      Lakukan pengkajian
beraktivitas nyeri secara komprehensif
2. Klien tidak merasa meliputi : P,Q,R,S dan T
pusing Kolaborasi :
3. Klien tidak merasa 1.     Kolaborasi dengan tim
sakit kepala dokter dalam pemberian
4. Skala nyeri klien 0 obat analgesic
Ketidakefektifan Setelah dilakukan tindakan Mandiri:
perfusi jaringan keperawatan selama 1x24 1. Kaji tingkat
perifer b.d Diabetes jam, diharapakan masalah kesadaran klien
militus ketidakefektifan perfusi (GCS)
jaringan perifer klien dapat 2. Kaji TTV klien
teratasi, dengan kriteria 3. Kaji kadar GDS
hasil : sebelum dan 1 jam
1. TTV dalam batas sesudah pemberian
normal : terapi
TD:120/80 mmHg 4. Pertahankan
N:60-100 x/menit keefektifan jalan
S: 36,5-37,5°C nafas klien
RR:16-24x/menit 5. Berikan posisi
2. Akral klien tidak supinasi
teraba dingin Pada klien
3. Klien tidak 6. Berikan informasi
merasakan kesemutan pada keluarga klien
lagi tentang penyakit
4. Klien tidak tremor dan penanganannya
7. Ajarkan klien senam
diabetes
Kolaborasi:
1. Kolaborasi dengan
tim dokter dalam
pemberian obat
vitamin neurotropik

Intoleransi aktivitas Setelah dilakukan tindakan Mandiri :


b.d kelemahan keperawatan selama 1x24 1. Kaji status fisiologis
fisiologis jam, diharapkan masalah pasien yang
(Hipoglikemia) keletihan pada klien dapat menyebabkan
teratasi, dengan kriteri hasil : kelelahan sesuai
      1.   Klien tidak merasa dengan konteks usia
lemas dan perkembangan
      2.   Klien tidak merasa 2. Kaji TTV klien
letih 3. Batasi aktivitas
      3.   Klien merasa enak secara adekuat
badan 4. Anjurkan klien
      untuk beraktivitas
ringan terlebih
dahulu
5. Beri edukasi kepada
klien/keluarga klien
dengan menjelaskan
hubungan antara
keletihan dan
proses/kondisi
penyakit

Kolaborasi :
1. Kolaborasi dengan ahli
gizi dalam pemberian
asupan makanan yang
berenergi ti
BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Hipoglikemia atau penurunan kadar gula darah merupakan keadaan dimana kadar
glukosa darah berada di bawah normal, yang dapat terjadi karena ketidakseimbangan
antara makanan yang dimakan, aktivitas fisik dan obat-obatan yang digunakan.
Sindrom hipoglikemia ditandai dengan gejala klinis antara lain penderita merasa
pusing, lemas, gemetar, pandangan menjadi kabur dan gelap, berkeringat dingin,
detak jantung meningkat dan terkadang sampai hilang kesadaran (syok hipoglikemia).

4.2 Saran
1. Bagi klien/keluarga
Sebagai bahan acuan bagi klien agar lebih mengetahui tentang hipoglikemia
serta dapat mewaspadai apabila terdapat gejala-gejala klinis yang
menyebabkan terjadinya hipoglikemia.
2. Bagi petugas kesehatan
Diharapkan dapat menambah wawasan dan dapt dijadikan literature dalam
menangani pasien dengan hipoglikemia bagi institusi pendidikan sebagai
bahan acuan untuk menambah ilmu dan wawasan pengetahuan mahasiswa
terhadap penyakit hipoglikemia.
3. Bagi instansi pendidikan
Agar dapat memberikan manfaat bagi lembaga pendidikan,serta dapat
merencanakan kegatan pendidikan dalam konteks asuhan keperawatan
secara menyeluruh,khususnya pada pasien hipoglikemia.
4. Bagi mahasiswa
Menambah ilmu dan wawasan tentang asuhan keperawatan pada pasien
dengan hipoglikemia sebagai syarat untuk memenuhi tugas sebagai
mahasiswa praktik.
DAFTAR PUSTAKA

Kedia, Nitil. 2011. Treatment of Severe Diabetic  Hypoglycemia  With Glucagon: 


an  Underutilized Therapeutic  Approach.  Dove Press Journal
McNaughton,  Candace  D.  2011. Diabetes  in  the  Emergency Department:  Acute 
Care  of Diabetes  Patients.  Clinical Diabetes
RA, Nabyl. 2009. Cara mudah Mencegah Dan Mengobati Diabetes Mellitus.
Yogyakarta : Aulia Publishing
Setiadi 2012. Konsep & Penulisan Asuhan Keperawatan, Yogyakarta: Graha Ilmu.
Setyohadi,  Bambang.  2011. Kegawatdaruratan  Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat
Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam