Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

TERAPI MODALITAS KELUARGA


Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Keluarga
Dosen :

Kelompok 5 :

Ayu Lestari 2017.C.09a.0827


Bella Novita 2017.C.09a.0828
Congky 2017.C.09a.0829
Hendra 2017.C.09a.0843
Meitri Trolan 2017.C.09a.0853
Mendi 2017.C.09a.0854
Rini 2017.C.09a.0859
Sahrawani j 2017.C.09a.0863
Yevin Adytia. P 2017.C.09a.0869

YAYASAN EKA HARAP PALANGKA RAYA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
TAHUN 2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas karuniaNya
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas Mata Kuliah Metode Penelitian Makalah yang
berjudul “Terapi modalitas keluarga” dapat tersusun hingga selesai. Harapan kami semoga
makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca.

Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam menyusun makalah ini, Oleh karena
itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini kedepannya.

Palangka Raya, 16 Mei 2020

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................................i
DAFTAR ISI....................................................................................................................ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.............................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah........................................................................................................2
1.3 Tujuan Penulisan.........................................................................................................2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian terapi Modalitas Keluarga...........................................................................
2.2 Jenis-Jenis Terapi modalitas keluarga..........................................................................
2.3 Contoh Prosedur Terapi modalitas Keluarga...............................................................

BAB 3 PENUTUP..............................................................................................................
3.1 Kesimpulan....................................................................................................................
3.2 Saran..............................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut Jhonson (1997), kesehatan jiwa merupakan suatu kondisi sehat emosional,
psikologis dan sosial yang terlihat dari hubungan interpersonal yang memuaskan, perilaku dan
koping yang efektif, konsep diri yang positif dan kestabilan emosional. Kesehatan jiwa juga
dapat diartikan sebagai keadaan sejahtera yang dikaitkan dengan kebahagiaan, kegembiraan,
asan, pencapaian, optimisme, dan harapan. Sedangkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
mendefeniskan kesehatan itu sendiri sebagai sehat fisik, mental dan sosial bukan sematamata
keadaan tanpa penyakit atau kelemahan. Jadi Seseorang dapat dianggap sehat jiwa jika mereka
mampu bersikap positif terhadap diri sendiri, memiliki kestabilan emosi, memiliki konsep diri
yang positif dan memiliki rasa bahagia dan puas (Dalam Videbeck, 2008).
Terapi Modalitas merupakan terapi utama dalam keperawatan jiwa. Terapi ini diberikan
dalam upaya mengubah perilaku pasien dari perilaku yang maladaptif menjadi perilaku yang
adaptif ( Prabowo, 2014). Terapi Modalitas adalah terapi dalam keperawatan jiwa, dimana
perawat mendasarkan potensi yang dimiliki pasien sebagai titik tolak terapi atau penyembuhan.
Ada beberapa terapi yang dapat dilakukan oleh perawat pada pasien dengan masalah kejiwaan
yaitu, terapi aktivitas kelompok dan terapi keluarga.
Sedangkan terapi keluarga merupakan suatu psikoterapi modalitas dengan fokus pada
penanganan keluarga sebagai unit sehingga dalam pelaksanaannya terapis membantu keluarga
dalam mengidentifikasi dan memperbaiki keadaan yang maladaptif, kontrol diri pada anggota
yang kurang serta pola hubunganyang tidak konstruktif. Terapi keluarga lebih menggunakan
pendekatan terupeutik untuk melihat masalah individu dalam konteks lingkungan khususnya
keluarga dan proses interpersonal (Prabowo, 2014).
Gangguan jiwa atau penyakit jiwa merupakan penyakit dengan multi kausal, suatu penyakit
dengan berbagai penyebab yang sangat bervariasi. Penyebab gangguan jiwa yang banyak diderita
terjadi karena frustasi, napza (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya), masalah keluarga,
pekerjaan, organik dan ekonomi. Namun jika dilihat dari persentase, penyebab tertinggi yaitu
karena frustasi. Di Indonesia sendiri berdasarkan (Rikesda tahun 2007) bahwa prevelansi
gangguan jiwa berat sebesar 4,6 permil, artinya ada empat sampai lima penduduk dari 1000
penduduk Indonesia menderita gangguan jiwa berat. Angka gangguan jiwa di Indonesia telah
mencapai 10% dari populasi penduduknya.

1.2 Rumusan masalah


1.2.1 Apa pengartian Terapi Modalitas Keluarga?
1.2.2 Apa jenis-jenis Terapi Modalitas Keluarga?
1.2.3 Bagaimana Contoh Prosedur Terapi Modalitas Keluarga?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui pengartian Terapi Modalitas Keluarga.
1.3.2 Untuk mengetahui Terapi Modalitas Keluarga.
1.3.3 Untuk mengetahui Contoh Prosedur Terapi Modalitas Keluarga.

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Terapi Modalitas Keluarga
Terapi Modalitas merupakan terapi utama dalam keperawatan jiwa. Terapi ini diberikan
dalam upaya mengubah perilaku pasien dari perilaku yang maladaptif menjadi perilaku yang
adaptif ( Prabowo,2014).
Terapi modalitas keperawatan jiwa merupakan bentuk terapi non-farmakologis yang
dilakukan untuk memperbaiki dan mempertahankan sikap klien agar mampu bertahan dan
bersosialisasi dengann lingkungan masyarakat sekitar dengan harapan klien dapat terus bekerja
dan tetap berhubungan dengan keluarga, teman, dan sistem pendukung yang ada ketika
menjalani terapi (Nasir dan Muhits, 2011).
Terapi keluarga adalah pendekatan terapeutik yang melihat masalah individu dalam konteks
lingkungan khususnya keluarga dan menitik beratkan pada proses interpersonal.Tetapi keluarga
merupakan intervensi spesifik dengan tujuan membina komunikasi secara terbuka dan interaksi
keluarga secara sehat (Nasir dan Muhits, 2011).
Terapi keluarga merupakan salah satu bentuk psikoterapi kelompok yang berdasarkan pada
kenyataan bahwa manusia adalah mahluk sosial dan bukan suatu mahluk yang terisolir.

2.2 Jenis-jenis Terapi Modalitas Keluarga


2.2.1 Terapi Keluarga “Bowenian” atau Transgenerasional
Menurut pendekatan ini, keluarga dilihat sebagai sebuah unit yang saling tergantung
secara emosional, dengan pola-pola perilaku yang terbentuk seiring perjalanan waktu dan sering
kali diulangi kembali dari generasi ke generasi. Keluarga menciptakan iklim emosional dan pola
perilaku yang akan diduplikat oleh anggota-anggotanya dalam hubungan-hubungan di luar
setting keluarga.
Tujuan utama tipe intervensi ini adalah:
1. Mengurangi tingkat kecemasan keluarga secara keseluruhan, sehingga memungkinkan
anggota-anggotanya untuk berfungsi secara independen dan mengubah perilaku-perilaku
bermasalahnya
2. Mengingkatkan tingkat diferensiasi dasar masing-masing anggota dari kebersamaan
emosional keluarga, proses yang memungkinkan anggota-anggotanya untuk memberikan
respons terhadap berbagai situasi emosional secara lebih efektif. Refleksi diri tentang
keluarganya sendiri merupakan hal yang berguna bagi terapis keluarga.
Teknik-teknik yang digunakan dalam terapi tipe ini adalah:
1. Klien berbicara dengan terapis, bukan dengan sesama anggota keluarga. Ini untuk
menjaga agar reaktivitas emosional tetap rendah.
2. Genograms merupakan peta yang merepresentasikan paling tidak tiga generasi dalam
keluarga.
3. Detriangulating yaitu tetap bersikap objektif dan tidak memihak.
2.2.2 Terapi Keluarga Komunikasi dan Satir
Ciri khas pendekatan ini adalah kenaikan self-esteem anggota keluarga sebagai sarana
untuk mengubah sistem interpersonal keluarga. Pendekatan ini mengasumsikan keberadaan
keterkaitan antara self-esteem dan komunikasi, di mana kualitas yang satu mempengaruhi
kualitas yang lainnya.
Tujuan dari pendekatan ini adalah meningkatkan kematangan keluarga. Tugas terapis
dalam terapi ini sebagai berikut:
1. Memfasilitasi penciptaan harapan dalam keluarga.
2. Memperkuat keterampilan coping pada anggota keluarga dan proses-proses coping dalam
keluarga itu.
3. Memberdayakan setiap individu dalam keluarga itu agar dapat menentukan pilihan dan
bertanggung jawab terhadap pilihan yang diambilnya.
4. Memperbaiki kesehatan masing-masing anggota keluarga dan kesehatan dalam sistem
keluarga itu.
Teknik-teknik yang digunakan dalam pendekatan ini adalah:
1. Kronologi fakta kehidupan keluarga, riwayat keluarga holistik.
2. Metaphor, yaitu diskusi tentang sebuah ide dengan menggunakan analogi.
3. Drama yaitu para anggota keluarga memainkan adegan-adegan yang diambil dari
kehidupan mereka.

2.2.3 Terapi Keluarga Eksperiensial


Pendekatan ini menekankan pada pentingnya mengalami dan mengekspresikan emosi
here-and-now. Tipe terapi ini cenderung menekankan pada promosi proses pertumbuhan alamiah
dalam keluarga, sambil sekaligus memberikan perhatian pada perebutan tipikal antara otonomi
dan interpersonal belonging yang terjadi dalam keluarga. Terapi jenis ini membantu para anggota
keluarga untuk meningkatkan rasa memiliki keluarga, sambil meningkatkan kemampuan
keluarga itu untuk memberikan kebebasan sebagai individu kepada setiap anggotanya.
Terapi ini akan sukses jika dapat mencapai sejumlah tujuan yang satu sama lain saling
berkaitan. Teknik-teknik yang digunakan dalam terapi ini, yaitu:
1. Bergabung, yaitu klinisi menjalin hubungan dengan seluruh anggota keluarga.
2. Pekerjaan rumah. Para anggota keluarga tidak akan membicarakan tentang terapi di sela-
sela sesi.
3. Penggunaan self. Klinisi berhubungan dengan dirinya sendiri dan berbagi dengan
keluarga itu.
2.2.4 Terapi Keluarga Milan
Terapi keluarga Milan melihat bahwa manusia terlibat dalam interaksi-interaksi
resiprokal yang mengakibatkan evolusi berkelanjutan dalam keluarga. Konsekuensinya, masalah
yang tampak dianggap merupakan fungsi keluarga dan bukan sebagai gejala-gejala patologis
yang melekat pada individu tertentu. Biasanya klinisi membantu keluarga menemukan aturan
permainan keluarga itu dan memberdayakan mereka untuk mengubah aturan itu untuk
memperbaiki hasilnya. Terapis berupaya untuk tetap bersikap netral dan memfasilitasi prosesnya
dan bukan menjadi ikut terorganisasi ke dalam sistem keluarga itu.
Teknik-teknik yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Circular questioning, yaitu memungkinkan akses ke persepsi/reaksi anggota-anggota
keluarga.
2. Prescriptions, yaitu instruksi-instruksi paradoksal untuk menangani gejala.
3. Hipotesis, terapis mengusung ide-ide terdidik dalam sesi.

2.2.5 Terapi Keluarga Konstruktivis atau Naratif


Fokus dari pendekatan ini adalah perkembangan makna atau cerita tentang kehidupan
orang dan peran yang dimainkan orang dalam kehidupannya. Cerita-cerita ini menjadi fokus
intervensi. Pengubahan proses-proses evaluasi dan pemaknaan yang dilakukan oleh seluruh
anggota sistem itu, dan sistem itu sendiri, guna memperbaiki fungsi unit keluarga itu secara
keseluruhan dan mengurangi kepedihan dan penderitaan.
Teknik-teknik yang digunakan dalam pendekatan ini adalah:
1. Dekonstruksi, yaitu mengurangi riwayat permasalahan.
2. Rekonstruksi/re-authoring, yaitu proses pengembangan kisah keluarga yang baru.
3. Tim yang melakukan refleksi. Sekelompok professional pengamat mendiskusikan
tentang keluarga itu.
2.2.6 Terapi Keluarga Struktural
Menekankan pentingnya proses daripada isi dan melihat struktur keluarga sebagai
struktur yang terdiri atas sejumlah transaksi komunikasi keluarga
1. Fokus utama: subsistem dan batas-batas yang ada dalam keluarga tersebut. Batas tersebut
dapat bersifat kaku, jelas,kabur.
2. Tujuan utama : mengatasi berbagai masalah dengan mengubah struktur system yang
mendasar
3. Sesi terapi bersifat aktif, penekanan pada proses daripada insight
4. 3 tahap intervensi:
a. Terapis berusaha bergabung dan diakomodasi oleh system keluarga. Terapis harus
menyesuaikan dengan system komunikasi dan persepsi keluarga
b. Pembentukan diagnosis structural dimulai dengan bergabung dengan keluarga
dilanjutkan dengan adanya keterlibatan terapis. Membutuhkan observasi dan
reformulasi hipotesis yang terus menerus
c. Ketika terapi teraputik bergerak maju, terapis berusaha menggunakan intervensi yang
akan menghasilkan restrukturisasi system keluarga
5. Teknik :
a. Mintesis/ imitasi : mengadopsi gaya komunikasi keluarga
b. Mengaktualisasi pola transaksional keluarga : keluarga memainkan adegan interaksi
c. Menandai batas-batas : menguatkan batas-batas yang kabur dan melonggarkan yang
kaku
2.2.7 Terapi Behavioral dan Kognitif-Behavioral
1. Asumsi : perilaku sebagai sesuatu yang dipelajari, menekankan pentingnya konsekuensi
perilaku dalam pemeliharaan dan kemunculan ulang
2. Fokus: fungsi perilaku dan kognisi
3. Goal : mengidentifikasi pola perilaku, pikiran, anteseden, konsekuensi sehingga klinisi
dapat membantu anggota keluarga mempelajari pola perilaku baru yang dapat digunakan
untuk memenuhi kebutuhan
4. Tugas klinisi :
a. mengajari keluarga mengases tindakan, pola pikir dan konsekuensi yang membuat
perilaku mereka bertahan atau duiulangi.
b. Mengganti perilaku tidak efektif dengan perilaku adaptif antara lain dengan
mengajarkan ketrampilan komunikasi, mengatasi masalah, strategi resolusi konflik,
menjalin kontrak, negosiasi, penguatan perilaku sehat, mengurangi perilaki
maladaptive.
5. Teknik :
a. Restrukturisasi kognitif : meningkatkan validitas persepsi dan pemrosesan data
b. Menjalin kontrak, latihan komunikasi
2.2.8 Terapi Keluarga Psikodinamik dan Relasi Objek
1. Fokus : latar belakang intrapsikis dari masing-masing anggota, hubungan di masa lalu,
ingatan serta konflik di awal kehidupan
2. Tujuan : membuat pola-pola tak sadar yang berlaku dalam keluarga menjadi pola-pola
yang disadari.
3. Menggunakan aliansi teraputik, menelaah pertahanan dan resistensi keluarga, membantu
anggota keluarga menginternalisasi objek yang adaptif.
4. Teknik :
a. Empati : memahami berbagai pengalaman dari perspektif keluarga tsb
b. Interpretasi : mengklarifikasi aspek yang tidak disadari
c. Netralitas analitik : terapis mempertahankan sikap mental yang analitik

2.3 Contoh Prosedur Terapi Modalitas Keluarga


2.3.1 Pemberian Terapi Keluarga dalam perawatan klien gangguan jiwa
Keluarga merupakan tempat dimana individu memulai hubungan interpersonal dengan
lingkungannya. Keluarga dipandang sebagai satu sistem sehingga gangguan yang terjadi
pada salah satu anggota dapat mempengaruhi sistem, disfungsi dalam keluarga dapat sebagai
penyebab gangguan.Berbagai pelayanan keperawatan jiwa bukan tempat klien seumur
hidup.Salah satu faktor penyebab gangguan jiwa adalah keluarga tidak tahu cara merawat
klien dirumah. Kenyataannya banyak klien di RSJ yang jarang dikunjungi keluarga,
keluarga tdk mengikuti proses perawatan klien. Tim kesehatan jiwa di RS merasa
bertanggug jawab terhadap upaya penyembuhan klien & jarang melibatkan keluarga. Setelah
sembuh, RS memulangkan klien, beberapa hari, minggu, bulan klien kembali dirawat
dengan alasan perilaku klien tidak bisa diterima oleh keluarga & lingkungan. Hal tersebut
terjadi karena selama dirumah klien tidak boleh keluar & gerak-gerik klien selalu diawasi
dan curigai. Keluarga mempunyai tangung jawab dalam Proskep di RS, persiapan pulang &
perawatan dirumah,Adaptasi klien dengan lingkungan berjalan baik.Terapi keluarga
ADALAH Suatu cara utk menata kembali masalah hubungan antar manusia (Stuart &
Sundeen, 1991)
1. Adapun tujuan dari perawatan tersebut adalah  :
1) Menurunkan konflik kecemasan keluarga
2) Meningkatkan kesadaran keluarga terhadap kebutuhan masing-masing anggota
keluarga.
3) Meningkatkan kemampuan penanganan terhadap krisis.
4) Mengembangkan hubungan peran yang sesuai
5) Membantu keluarga menghadapi tekanan dari dalam maupun dari luar anggota
keluarga.
6) Meningkatkan kesehatan jiwa keluarga sesuai dengan tingkat perkembangan anggota
keluarga.

2. Manfaat Terapi Keluarga untuk Klien dan keluarga


Klien :
1) Mempercepat proses penyembuhan
2) Memperbaiki hubungan interpersonal
3) Menurunkan angka kekambuhan
Keluarga :
1) Memperbaiki fungsi & struktur keluarga
2) Keluarga mampu meningkatkan pengertian terhadap klien sehingga lebih dapat
menerima, toleran & menghargai klien sebagai manusia.
3) Keluarga dpt meningkatkan kemampuan dlm membantu klien dlm proses rehabilitasi
3. Peran Perawat
1) mendidik kembali dan mengorientasikan kembali seluruh anggota keluarga
2) memberikan dukungan kepada klien serta sistem yang mendukung klien untuk
mencapai tujuan dan usaha untuk berubah
3) mengkoordinasi dan mengintegrasikan sumber pelayanan kesehatan
4) memberi penyuluhan, perawatan di rumah, psiko edukasi,dll
4. Aktifitas :
1) Komponen dikdaktik : memberikan informasi & pendkes tentang gangguan jiwa,
sistem keswa & yankep.
2) Komponen ketrampilan : latihan komunikasi, asertif, menyelesaikan konflik,
mengatasi perilaku & stress
3) Komponen emosi : memberikan kesempatan untuk memvalidasi perasaan & bertukar
pengalaman
4) Komponen proses keluarga fokus pada koping keluarga & gejala sisa terhadap
keluarga.
5) Komponen sosial : meningkatkan penggunaan dukungan jaringan formal/informal
untuk klien & keluarga
Selain Peran perawat yang perlu diperhatikan juga adalah bagaimana perawat membantu
serta mendorong keluarga untuk terlibat dalam mencegah klien kambuh. Alasan keluarga
dilibatkan dalam mencegah kekambuhan pada klien adalah :
1) keluarga merupakan tempat individu pertama memulai hubungan interpersonal
dengan lingkungan
2) keluarga merupakan suatu sistem yang utuh dan tidak terpisahkan sehingga jika ada
satu yang terganggu yang lain ikut terganggu
3) keluarga menurut Sullinger(1988) merupakan salah satu penyebab klien gangguan
jiwa menjadi kambuh lagi sehingga diharapkan jika keluarga ikut berperan dalam
mencegah klien kambuh setidaknya membantu klien untuk dapat mempertahankan
derajat kesehatan mentalnya karena keluarga secara emosional tidak dapat
dipisahkan dengan mudah
Peran keluarga dalam terapi itu sendiri adalah :
1) membuat suatu keadaan dimana anggota keluarga dapat melihat bahaya terhadap diri
klien dan aktivitasnya
2) tidak merasa takut dan mampu bersikap terbuka
3) membantu anggota bagaimana memandang orang lain
4) tempat bertanya serta pemberi informasi yang mudah dipahami klien
5) membangun self esteem
6) nenurunkan ancaman dengan latar belakang aturan untuk interaksi
7) menurunkan ancaman dengan struktur pembahasan yang sistematis
8) pendidikan ulang anggota untuk bertanggung jawab
5. Ciri-ciri Fungsional Keluarga
1) Mempertahankan keseimbangan, fleksibel & adaptif perubahan tahap transisi dalam
hidup
2) Problem emosi merupakan bagian dari fungsi tiap individu
3) Kontak emosi dipertahankan oleh tiap generasi & antar keluarga
4) Hubungan antar keluarga yang erat & hindari menjauhi masalah
5) Perbedaan antar anggota keluarga mendorong untuk meningkatkan pertumbuhan &
kreativitas individu.
6) Orang tua & anak hubungan terbuka.

6. Disfungsi Keluarga
1) Tdk memiliki satu atau lebih fungsi keluarga.
2) Ibu yg terlalu melindungi atau ayah yang tidak dirumah.
3) Ayah & ibu yang super, sibuk, pasif dll.
4) Pasangan yang tidak harmonis
7. Harapan:
1) Memberikan stimuli dalam perkembangan individual
2) Menumbuhkan hubungan interpersonal
3) Mengerti tentang kesehatan jiwa & gangguan kesehatan jiwa
4) Mengetahui penyebab gangguan jiwa
5) Mengetahui ciri-ciri gangguan jiwa
6) Mengetahui fungsi & tugas keluarga
7) Upaya pencegahan gangguan jiwa oleh keluarga
8) Upaya perawatan klien gangguan jiwa di RSU dan Puskesmas.

BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Terapi Modalitas merupakan terapi utama dalam keperawatan jiwa. Terapi ini diberikan
dalam upaya mengubah perilaku pasien dari perilaku yang maladaptif menjadi perilaku yang
adaptif ( Prabowo,2014).
Terapi modalitas keperawatan jiwa merupakan bentuk terapi non-farmakologis yang
dilakukan untuk memperbaiki dan mempertahankan sikap klien agar mampu bertahan dan
bersosialisasi dengann lingkungan masyarakat sekitar dengan harapan klien dapat terus bekerja
dan tetap berhubungan dengan keluarga, teman, dan sistem pendukung yang ada ketika
menjalani terapi (Nasir dan Muhits, 2011).
Terapi keluarga adalah pendekatan terapeutik yang melihat masalah individu dalam konteks
lingkungan khususnya keluarga dan menitik beratkan pada proses interpersonal.Tetapi keluarga
merupakan intervensi spesifik dengan tujuan membina komunikasi secara terbuka dan interaksi
keluarga secara sehat (Nasir dan Muhits, 2011).

3.2 Saran
Bagi petugas kesehatan, dalam pemberian asuhan keperawatan untuk pasien dengan
gangguan kejiwaan salah satu cara paling efektif yaitu diberikan terapi keluarga. Namun
sebelum dilakukan terapi tersebut perawat perlu mempelajari konsep dan teori terapi tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Direja, Ade Herman Surya.2011. Buku Ajar : Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Nuha
Medika

Nasir, Abdul Dan Abdul Muhith.2011. Dasar-Dasar Keperawatan Jiwa: Pengantar Dan Teori.
Jakarta: Salemba Medika

Prabowo, Eko.(2014). Konsep Dan Apliikasi : Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Nuha
Medika

Purawaningsih, W & Karlina, I. 2010. Asuhan Keperawatan Jiwa , Yogyakarta: Nuha Medika
Susana, S.A, & Hendarsih, S. 2011. Terapi Modalitas Keperawatan Kesehatan Jiwa, Jakarta:
EGC
Videbeck.S.L.2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC

Yosep.Iyus. 2008. Keperawatan Jiwa. Bandung : Pt Rafika Aditama

Anda mungkin juga menyukai