Anda di halaman 1dari 30

1

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP KESEMBUHAN KLIEN


GANGGUAN JIWA DI RUMAH SAKIT
JIWA KALAWA ATEI PALANGKA RAYA

Oleh :
Congky
NIM :2017.C.09a.0829

YAYASAN EKA HARAP PALANGKA RAYA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2019/2020
2

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik,
mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat
mengatasi tekanan, dapat bekerja secara pro- duktif, dan kemampuan memberikan kontribusi
untuk komunitasnya. Orang dengan masalah kejiwaan adalah orang yang mempunyai masalah
fisik, mental, sosial, pertumbuhan dan perkem- bangan, dan/atau kualitas hidup sehingga memi-
liki risiko mengalami gangguan jiwa (UU No/18/2014). Gangguan jiwa merupakan salah satu
dari 4 masalah kesehatan utama dinegara maju, modern dan industri. Meskipun gangguan jiwa
tersebut tidak dianggap sebagai gangguan yang menyebabkan kematian secara langsung namun
beratnya gangguan tersebut dalam arti ketidak- mampuan serta identitas secara individu maupun
keluarga akan menghambat pertumbuhan karena mereka tidak produktif dan tidak efisien
(Hawari,2001).
Menurut data WHO (2016), terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang
terkena bipolar, 21 juta terkena skizofrenia, serta 47,5 juta terkena dimensia. Di Indonesia,
dengan berbagai faktor biologis, psikologis dan sosial dengan keanekaragaman penduduk; maka
jumlah kasus gangguan jiwa terus bertambah yang berdampak pada penambahan beban negara
dan penurunan produktivitas manusia untuk jangka panjang. Data Riskesdas 2018 menunjukkan
prevalensi ganggunan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala- gejala depresi dan
kecemasan untuk usia 15 tahun ke atas mencapai sekitar 6.1% dari jumlah penduduk Indonesia.
Sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia mencapai sekitar 400.000 orang
atau sebanyak 1,7 per 1.000 penduduk. Menurut National Alliance of Mental Illness (NAMI)
berdasarkan hasil sensus penduduk Amerika Serikat tahun 2013, di perkirakan 61.5 juta
penduduk yang berusia lebih dari 18 tahun mengalami gangguan jiwa, 13,6 juta diantaranya
mengalami gangguan jiwa berat seperti skizofrenia, gangguan bipolar.
Kepala RS Jiwa Kalawa Atei, Suyuti Syamsul Jumlah pengidap gangguan jiwa di Provinsi
Kalimantan Tengah pada tahun 2018 cukup banyak. Tetapi masalahnya mengatakan, prevalensi
pengidap gangguan jiwa di Bumi Tambun Bungai ini mencapai 2.600 orang. Namun yang
terdata di pihaknya, hanya sekitar 1.200 orang saja.
3

“Orang dengan gangguan jiwa berat di Kalteng ini, kalau bicara prevalensinya ada 2.600
orang. Karena satu per seribu orang, alami gangguan jiwa. Ada 1.200 yang terdaftar di saya.
Berarti ada 1.400 di luar sana, yang berkeliaran di jalan, di tengah masyarakat, yang dipasung,
dan sebagainya.

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penderita kurang perawatan diri di rumah antara lain
pengetahuan, pendidikan, informasi, sosial ekonomi, peran keluarga. (Wawan & Dwi, 2010).
Berdasarkan hasil penelitian (Hasriana, 2013) berasumsi bahwa semakin tinggi pendidikan
seseorang maka semakin baik pula pengetahuan terhadap personal hygiene, sebaliknya semakin
rendah pendidikan seseorang maka semakin kurang pula pengetahuan terhadap personal hygiene.
Keluarga sebagai sumber dukungan sosial dapat menjadi faktor kunci dalam penyembuhan
penderita gangguan jiwa. Walaupun anggota keluarga tidak selalu merupakan sumber
positif dalam kesehatan jiwa, mereka paling sering menjadi bagian penting dalam penyembuhan
(Videbeck, 2008). Keberhasilan perawat di rumah sakit dapat sia-sia jika tidak di teruskan di
rumah yang kemudian mengakibatkan penderita harus di rawat kembali (kambuh).Salah satu
faktor penyebab terjadinya kekambuhan penderita skizofrenia adalah kurangnya peran
serta dukungan sosial yang di berikan keluarga dalam perawatan terhadap anggota keluarga yang
menderita penyakit tersebut. Salah satu penyebabnya adalah karena keluarga yang tidak tahu
cara menangani perilaku penderita di rumah (Friedman, 2010). Disinilah dukungan sosial sangat
di butuhkan dalam mem- berikan perawatan pada penderita skizofrenia, karena dukungan sosial
dari orang lain menjadi sangat berharga dan akan menambah semangat hidupnya.
Untuk itu perlu dilakukan upaya diantaranya program intervensi dan terapi yang
implentasinya yang bukan hanya di rumah sakit tetapi dilingkungan masyarakat (community based
psyciatric services) (Priyanto, 2007). Maka dari itu peran serta keluarga adalah satu usaha untuk
mengurangi angka kekambuhan penderita gangguan jiwa
Oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti tentang “Hubungan Dukungan Keluarga
Dengan Tingkat Kesembuhan Klien Gangguan Jiwa di RSJ Kalawa Atei Palangka Raya
4

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan masalah diatas maka rumusan masalah yang dapat diambil adalah bagaimana
hubungan dukungan Keluarga dan tingkat pengetahuan keluarga terhadap tingkat
kesembuhan pasien yang menagalami gangguan jiwa
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun Tujuan dari Penelitian ini adalah
1) Tujua umum
Mengetahui Hubungan Dukungan Keluarga Terhadap Kesembuhan Klien Gangguan Jiwa
di Rumah Sakit Jiwa Kalawa Atei Palangka Raya.
2) Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi pengetahuan keluarga tentang personal hygene klien dalam merawat
penderita yang mengalami gangguan jiwa.
b. Menganalisa hubungan keluarga serta peran dan dukungan sosial keluarga dalam
merawat klien gangguan jiwa
1.4 Manfaat Penelitian
1) Bagi Perkembangan ilmu Pengetahuan dan teknologi
Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai bahan pengembangan ilmu keperawatan dan
meningkatkan kualitas pendidikan di bagian keperawatan jiwa dan keperawatan
komunitas dalam hal pemberian asuhan keperawatan pada klien dan keluarga gangguan
jiwa
2) Bagi Mahasiswa
Diharapakan Penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber referensi dan informasi bagi
mahasiswa dan dapat menambah wawasan dan pengetahuan mahasiswa , mengenai
program perawatan klien gangguan jiwa beserta keluarganya.
3) Bagi masyrakat
Dapat menambah pengetahuan para keluarga dan masyrakat akan pentingya dukungan
bagi anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa terhadap tingkat
kesembubuhannya.
4) Bagi akademik
5

Diharapkan penelitian ini bermanfaat bagi STIKes Eka Harap Palangka Raya dan dapat
menjadi bahan referensi mahasiswa keperawatan dalam menggali ilmu pengetahun serta
sebagai referensi mahasiswa dalam melakukukan penelitian selanjutnya.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Gangguan Jiwa
2.1.1 Pengertian Gangguan Jiwa
Gangguan jiwa merupakan psikologik atau pola perilaku yang ditunjukkan pada individu
yang menyebabkan distress, menurunkan kualitas kehidupan dan disfungsi. Hal tersebut
mencerminkan
disfungsi psikologis, bukan sebagai akibat dari penyimpangan sosialmaupun konflik dengan
masyarakat (Stuart, 2013). Sedangkan menurut Keliat, (2011) gangguan jiwa merupakan pola
perilaku, sindrom yang secara klinis bermakna berhubungan dengan penderitaan, distress dan
menimbulkan hendaya pada lebih atau satu fungsi kehidupan manusia.
Menurut American Psychiatric Association atau APA mendefinisikan gangguan jiwa pola
perilaku/ sindrom, psikologis secara klinik terjadi pada individu berkaitan dengan distres yang
dialami, misalnya gejala menyakitkan, ketunadayaan dalam hambatan arah fungsi lebih penting
dengan peningkatan resiko kematian, penderitaan, nyeri, kehilangan kebebasan yang penting dan
ketunadayaan (O’Brien, 2013). Gangguan jiwa adalah bentuk dari manifestasi penyimpangan
perilaku akibat distorsi emosi sehingga ditemukan tingkah laku dalam ketidak wajaran. Hal
tersebut dapat terjadi karena semua fungsi kejiwaan menurun (Nasir, Abdul & Muhith, 2011).

Menurut Videbeck dalam Nasir, (2011) mengatakan bahwa kriteria umum gangguan adalah
sebagai berikut :
1. Tidak puas hidup di dunia.
2. Ketidak puasan dengan karakteristik, kemampuan dan prestasi diri.
3. Koping yang tidak afektif dengan peristiwa kehidupan.
4. Tidak terjadi pertumbuhan personal.
Menurut Keliat dkk dalam Prabowo, (2014) mengatakan ada juga ciri dari gangguan jiwa yang
dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut:
6

1. Mengurung diri.
2. Tidak kenal orang lain.
3. Marah tanpa sebab.
4. Bicara kacau.
5. Tidak mampu merawat diri.

2.1.2 Penyebab Gangguan Jiwa


Penyebab ganggua jiwa yang terdapat pada unsur kejiwaan, akan tetapi ada penyebab
utama mungkin pada badan (Somatogenik),di Psike (Psikologenik), kultural (tekanan
kebudayaan) atau
dilingkungan sosial (Sosiogenik) dan tekanan keagamaan (Spiritual).Dari salah satu unsur
tersebut ada satu penyebab menonjol, biasanya tidak terdapat penyebab tunggal, akan tetapi ada
beberapa penyebab pada badan, jiwa dan lingkungan kultural-Spiritual sekaligus timbul dan
kebetulan terjadi bersamaan. Lalu timbul gangguan badan atau jiwa (Maramis, 2009).
Menurut Yusuf, (2015) penyebab gangguan jiwa dipengaruhi oleh faktor-faktor yang saling
mempengaruhi yaitu sebagai berikut:
1. Faktor somatic organobiologis atau somatogenik.
1) Nerofisiologis.
2) Neroanatomi.
3) Nerokimia.
4) Faktor pre dan peri-natal.
5) Tingkat kematangan dan perkembangan organik.
2. Faktor psikologik (Psikogenik).
1) Peran ayah.
2) Interaksi ibu dan anak. Normal rasa aman dan rasa percaya abnormal berdasarkan keadaan
yang terputus (perasaan tak percaya dan kebimbangan), kekurangan.
3) Inteligensi.
4) Saudara kandung yang mengalami persaingan.
5) Hubungan pekerjaan, permainan, masyarakat dan keluarga.
6) Depresi, kecemasan, rasa malu atau rasa salah mengakibatkan kehilangan.
7) Keterampilan, kreativitas dan bakat.
7

8) Perkembangan dan pola adaptasi sebagai reaksi terhadap bahaya.

3. Faktor sosio-budaya (Sosiogenik) :


1) Pola dalam mengasuh anak.
2) Kestabilan keluarga.
3) Perumahan kota lawan pedesaan.
4) Tingkat ekonomi.
5) Pengaruh keagamaan dan pengaruh sosial.
6) Masalah kelompok minoritas, meliputi fasilitas kesehatan dan prasangka, kesejahteraan
yang tidak memadai dan pendidikan.
7) Nilai-nilai.

Dari faktor-faktor ketiga diatas, terdapat beberapa penyebab lain dari penyebab gangguan
jiwa diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Genetika.
Individu atau angota keluarga yang memiliki atau yang mengalami gangguan jiwa akan
kecenderungan memiliki keluarga yang mengalami gangguan jiwa, akan cenderung lebih
tinggi dengan orang yang tidak memiliki faktor genetik (Yosep,2013).
2. Sebab biologik.
1) Keturunan.
Peran penyebab belum jelas yang mengalami gangguan jiwa, tetapi tersebut sangat
ditunjang dengan factor lingkungan kejiwaan yang tidak sehat.
2) Temperamen.
Seseorang terlalu peka atau sensitif biasanya mempunyai masalah pada ketegangan dan
kejiwaan yang memiliki kecenderungan akan mengalami gangguan jiwa.
3) Jasmaniah.
8

Pendapat beberapa penyidik, bentuk tubuh seorang bias berhubungan dengan gangguan
jiwa, seperti bertubuh gemuk cenderung menderita psikosa manik defresif, sedangkan yang
kurus cenderung menjadi skizofrenia.
4) Penyakit atau cedera pada tubuh.
Penyakit jantung, kanker dan sebagainya bisa menyebabkan murung dan sedih. Serta,
cedera atau cacat tubuh tertentu dapat menyebabkan rasa rendah diri (Yosep, 2013).

3. Sebab psikologik.
Dari pengalaman frustasi, keberhasilan dan kegagalan yang dialami akan mewarnai sikap,
kebiasaan dan sifatnya di kemudian hari (Yosep, 2013).
4. Stress.
Stress perkembangan, psikososial terjadi secara terus menerus akan mendukung timbulnya
gejala manifestasi kemiskinan, pegangguran perasaan kehilangan, kebodohan dan isolasi
social (Yosep, 2013).
5. Sebab sosio kultural.
1) Cara membesarkan anak yang kaku, hubungan orang tua anak menjadi kaku dan tidak
hangat. Anak setelah dewasa akan sangat bersifat agresif, pendiam dan tidak akan suka
bergaul atau bahkan akan menjadi anak yang penurut.
2) Sistem nilai, perbedaan etika kebudayaan dan perbedaan sistem nilai moral antara masa
lalu dan sekarang akan sering menimbulkan masalah kejiwaan.
3) Ketegangan akibat faktor ekonomi dan kemajuan teknologi, dalam masyarakat kebutuhan
akan semakin meningkat dan persaingan semakin meningkat. Memacu orang bekerja lebih
keras agar memilikinya, jumlah orang yang ingin bekerja lebih besar sehingga
pegangguran meningkat (Yosep, 2013).
6. Perkembangan psikologik yang salah.
Ketidak matangan individu gagal dalam berkembang lebih lanjut. Tempat yang lemah dan
disorsi ialah bila individu mengembangkan sikap atau pola reaksi yang tidak sesuai, gagal
dalam mencapai integrasi kepribadian yang normal (Yosep, 2013).

2.1.3 Tanda dan Gejala Gangguan Jiwa


Tanda dan gejala gangguan jiwa adalah sebagai berikut :
9

1. Ketegangan (Tension) merupakan murung atau rasa putus asa,cemas, gelisah, rasa lemah,
histeris, perbuatan yang terpaksa (Convulsive), takut dan tidak mampu mencapai tujuan
pikiranpikiran buruk (Yosep, H.Iyus & Sutini,2014).
2. Gangguan kognisi. Merupakan proses mental dimana seorang menyadari, mempertahankan
hubungan lingkungan baik, lingkungan dalam maupun lingkungan luarnya (Fungsi mengenal)
(Kusumawati

Proses kognisi tersebut adalah sebagai berikut:


1) Gangguan persepsi.
Persepsi merupakan kesadaran dalam suatu rangsangan yang
dimengerti. Sensasi yang didapat dari proses asosiasi dan
interaksi macam-macam rangsangan yang masuk.
Yang termasuk pada persepsi adalah
a) Halusinasi
Halusinasi merupakan seseorang memersepsikan sesuatudan kenyataan tersebut tidak
ada atau tidak berwujud.Halusinasi terbagi dalam halusinasi penglihatan, halusinasi
pendengaran, halusinasi raba, halusinasi penciuman, halusinasi sinestetik, halusinasi
kinetic.
b) Ilusi adalah persepsi salah atau palsu (interprestasi) yang salah dengan suatu benda.
c) Derealisi yaitu perasaan yang aneh tentang lingkungan yang tidak sesuai kenyataan.
d) Depersonalisasi merupakan perasaan yang aneh pada dirisendiri, kepribadiannya terasa
sudah tidak seperti biasanya dan tidak sesuai kenyataan (Kusumawati, Farida &
Hartono, 2010).

3. Gangguan sensasi.
Seorang mengalami gangguan kesadaran akan rangsangan yaitu rasa raba, rasa kecap,
rasa penglihatan, rasa cium, rasa pendengaran dan kesehatan (Kusumawati, Farida &
Hartono,2010).
4. Gangguan kepribadian. Kepribadian merupakan pola pikiran keseluruhan, perilaku dan
perasaan yang sering digunakan oleh seseorang sebagai usaha adaptasi terus menerus
10

dalam hidupnya. Gangguan kepribadian misalnya gangguan kepribadian paranoid,


disosial, emosional tak stabil. Gangguan kepribadian masuk dalam klasifikasi diagnose
gangguan jiwa (Maramis, 2009).
5. Gangguan pola hidup
Mencakup gangguan dalam hubungan manusia dan sifat dalamkeluarga, rekreasi,
pekerjaan dan masyarakat. Gangguan jiwatersebut bisa masuk dalam klasifikasi
gangguan jiwa kode V, dalam hubungan sosial lain misalnya merasa dirinya dirugikan
atau dialang-alangi secara terus menerus. Misalnya dalam pekerjaan harapan yang tidak
realistik dalam pekerjaan untuk rencana masa depan, pasien tidak mempunyai rencana
apapun (Maramis, 2009).
6. Gangguan perhatian.
Perhatian ialah konsentrasi energi dan pemusatan, menilai suatu proses kognitif yang
timbul pada suatu rangsangan dari luar (Direja, 2011).

7. Gangguan kemauan.
Kemauan merupakan dimana proses keinginan dipertimbangkanlalu diputuskan sampai
dilaksanakan mencapai tujuan. Bentuk gangguan kemauan sebagai berikut :
1) Kemauan yang lemah (abulia) adalah keadaan ini aktivitasakibat ketidak sangupan
membuat keputusan memulai satu tingkah laku.
2) Kekuatan adalah ketidak mampuan keleluasaan dalam memutuskan dalam mengubah
tingkah laku.
3) Negativisme adalah ketidak sangupan bertindak dalam sugesti dan jarang terjadi
melaksanakan sugesti yang bertentangan.
4) Kompulasi merupakan dimana keadaan terasa terdorong agar melakukan suatu
tindakan yang tidak rasional (Yosep, H. Iyus & Sutini, 2014).

8. Gangguan perasaan atau emosi (Afek dan mood)


Perasaan dan emosi merupakan spontan reaksi manusia yang bila tidak diikuti perilaku
maka tidak menetap mewarnai persepsi seorang terhadap disekelilingnya atau dunianya.
Perasaan berupa perasaan emosi normal (adekuat) berupa perasaan positif (gembira,
bangga, cinta, kagum dan senang). Perasaan emosi negatif berupa cemas, marah, curiga,
11

sedih, takut, depresi, kecewa, kehilangan rasa senang dan tidak dapat merasakan
kesenangan (Maramis, 2009).
Bentuk gangguan afek dan emosi menurut Yosep, (2007) dapat berupa:
1) Euforia yaitu emosi yang menyenangkan bahagia yang berlebihan dan tidak sesuai
keadaan, senang gembira hal tersebut dapat menunjukkan gangguan jiwa. Biasanya
orang yang euforia percaya diri, tegas dalam sikapnya dan optimis.
2) Elasi ialah efosi yang disertai motorik sering menjadi berubah mudah tersinggung.
3) Kegairahan atau eklasi adalah gairah berlebihan disertai rasa damai, aman dan tenang
dengan perasaan keagamaan yang kuat.
4) Eksaltasi yaitu berlebihan dan biasanya disertai dengan sikap kebesaran atau waham
kebesaran.
5) Depresi dan cemas ialah gejala dari ekpresi muka dan tingkah laku yang sedih.
6) Emosi yang tumpul dan datar ialah pengurangan atau tidak ada sama sekali tanda-
tanda ekspresi afektif.

9. Gangguan pikiran atau proses pikiran (berfikir).


Pikiran merupakan hubungan antara berbagai bagian dari pengetahuan seseorang.
Berfikir ialah proses menghubungkan ide,membentuk ide baru, dan membentuk
pengertian untuk menarik kesimpulan. Proses pikir normal ialah mengandung ide, simbol
dantujuan asosiasi terarah atau koheren (Kusumawati, Farida &Hartono, 2010).
Menurut Prabowo, (2014) gangguan dalam bentuk atau proses berfikir adalah sebagai
berikut :
1) Gangguan mental merupakan perilaku secara klinis yang disertai dengan ketidak
mampuan dan terbatasnya pada hubungan seseorang dan masyarakat.
2) Psikosis ialah ketidak mampuan membedakan kenyataan dari fantasi, gangguan
dalam kemampuan menilai kenyataan.
3) Gangguan pikiran formal merupakan gangguan dalam bentuk masalah isi pikiran
formal merupakan gangguan dalam bentuk masalah isi pikiran, pikiran dan proses
berpikir mengalami gangguan.
12

10. Gangguan psikomotor


Gangguan merupakan gerakan badan dipengaruhi oleh keadaan jiwa sehinggga afek
bersamaan yang megenai badan dan jiwa, juga meliputi perilaku motorik yang meliputi
kondisi atau aspek motorik dari suatu perilaku. Gangguan psikomotor berupa, aktivitas
yang menurun, aktivitas yang meningkat, kemudian yang tidak dikuasai, berulang-ulang
dalam aktivitas. Gerakan salah satu badan berupa gerakan salah satu badan berulang-
ulang atau tidak bertujuan dan melawan atau menentang terhadap apa yang disuruh
(Yosep, H. Iyus & Sutini, 2014).
11. Gangguan ingatan.
Ingatan merupakan kesangupan dalam menyimpan, mencatat atau memproduksi isi dan
tanda-tanda kesadaran. Proses ini terdiri dari pencatatan, pemangilan data dan
penyimpanan data (Kusumawati, Farida & Hartono, 2010).
12. Gangguan asosiasi.
Asosiasi merupakan proses mental dalam perasaan, kesan atau gambaran ingatan
cenderung menimbulkan kesan atau ingatan respon atau konsep lain yang memang
sebelumnya berkaitan dengannya. Kejadian yang terjadi, keadaan lingkungan pada saat
itu, pelangaran atau pengalaman sebelumnya dan kebutuhan riwayat emosionalnya
(Yosep, 2007).
13. Gangguan pertimbangan. Gangguan pertimbangan merupakan proses mental dala
membandingkan dan menilai beberapa pilihan dalam suatu kerangka kerja memberikan
nilai dalam memutuskan aktivitas (Yosep, 2007).

2.1.4 Klasisfikasi Gangguan Jiwa


Gangguan jiwa merupakan kumpulan dari keadaan-keadaan yang tidak normal.
Keabnormalan tersebut dapat dibedakan menjadi :

1. Neurosis atau gangguan jiwa.

Neurosis atau gangguan jiwa merupakan gangguan jiwa ditanda dengan kecemasan,
biasanya gejala tidak tenang dan menekan lainnya. Sementara pemeriksaan realitasnya
tetap utuh (O’Brien, 2013). Orang yang terkena neurosis masih merasakan kesukaran,
13

mengetahui serta kepribadiannya tidak jauh dari realitas dan masihhidup dalam kenyataan
pada umumnya (Yosep, H. Iyus & Sutini, 2014).

Neurosis memiliki karakteristik sebagai berikut :

1) uji realitas lengkap.


2) Gejala kelompok yang menganggu dan dikenal sebagai sesuatu yang asing dan tidak
dapat diterima oleh individu.
3) Gangguan cukup lama atau kambuh kembali jika tanpa pengobatan, bukan merupakan
reaksi terhadap stressor, perilaku tidak menganggu normal sosial dan tidak terlihat
adanya penyebab dan faktor organik (Stuart, 2013).
2. Psikosis atau sakit jiwa.

Psikosis atau sakit jiwa merupakan gangguan jiwa yang dapat memnyebabkan individu
mengalami gangguan nyata pada disintegrasi kepribadian berat, pemeriksaan realitas dan
hambatan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari (O’Brien, 2013) Orang yang
terkena psikosis tidak memahami kejadiannya dan perasaan, segi tanggapan, dorongan,
motivasi terganggu, kesukaran-kesukarannya dan tidak ada integritas mereka hidup jauh
dari alam kenyataan (Yosep, H. Iyus & Sutini, 2014).

Psikosis memiliki karakteristik sebagai berikut :

1) Disentegrasi kepribadian.
2) Penurunan bermakna pada tingkat kesadaran.
3) Perilaku agresif.
4) Kesulitan yang besar dalam berfungsi secara adekuat, kerusakan yang nyata atau berat
pada realitas (Stuart, 2013).

Klasifikasi gangguan jiwa menurut PPGDJ dalam Keliat, (2011) adalah sebagai berikut :

1. Gangguan organik dan somatik.

1) Gangguan organik dan somatic (F00 – F09 (Gangguan mental organik), termasuk
gangguan mental simtomatik.
14

2) Gangguan akibat alkohol dan obat atau zat. ( F10 – F19 (Gangguan mental dan
perilaku akibat penggunaan zat Psikoaktif).
2. Gangguan mental psikotik.
1) Sizofrenia dan gangguan yang terbaik. F20 – F29 (Skizofrenia, gangguan skizotipal
dan gangguan waham).
2) Gangguan afektif. F30 – F39 (Gangguan suasana perasaan mood atau afektif).
3. Gangguan neurotik dan gangguan kepribadian

1) Gangguan neurotic F40 – F48 ( Gangguan neurotik, gangguan somatoform dan


gangguan yang berhubungan dengan stres).
2) Gangguan kepribadian dan perilaku masa depan. F50 – F59 (Sindrom perilaku yang
berhubungan dengan gangguan fisiologi dan faktor fisik). F60 – F69 (Gangguan
kepribadian dan perilaku masa dewasa).
4. Gangguan masa kanak, remaja dan perkembangan.
1) F70 – F79 (Retardasi mental).
2) F80 – F89 (Gangguan perkembangan psikologis).
3) F90 – F98 (Gangguan perilaku dan emosional dengan onset).

2.1.5 Jenis Gangguan Jiwa

Berikut ini ialah jenis gangguan jiwa yang sering ditemukan di masyarakat menurut
Nasir, (2011) adalah sebagai berikut:

1. Skizofrenia adalah kelainan jiwa ini menunjukkan gangguan dalam fungsi kognitif atau
pikiran berupa disorganisasi, jadi gangguannya adalah mengenai pembentukan isi serta
arus pikiran.
2. Depresi ialah salah satu gangguan jiwa pada alam perasaan afektif dan mood ditandai
dengan kemurungan, tidak bergairah, kelesuan, putus asa, perasaan tidak berguna dan
sebagainya. Depresi adalah salah satu gangguan jiwa yang ditentukan banyak pada
masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi. Hal ini erat kaitannya dengan ketidak
mampuan, kemiskinan atau ketidaktahuan masyarakat.
15

3. Cemas ialah gejala kecemasan baik kronis maupun akut merupakan komponen utama
pada semua gangguan psikiatri. Komponen kecemasan dapat berupa bentuk gangguan
fobia, panik, obsesi komplusi dan sebagainya.
4. Penyalahgunaan narkoba dan HIV/ AIDS. Di Indonesia penyalah gunaan narkotika
sekarang sudah menjadi ancaman yang sangat serius bagi kehidupan Negara dan bangsa.
Gambaran besarnya masalah pada narkoba diketahui bahwa kasus penggunaan narkoba di
Indonesia pertahunnya meningkat rata-rata 28,95. Meningkatnya dalam penggunaan
narkotika ini juga berbanding lurus dengan peningkatan sarana dan dana. Para ahli
epidemiologi kasus HIV atau AIDS di Indonesia sebanyak 80ribu sampai 120ribu orang
dari jumlah tersebut yang terinfeksi melalui jarum suntik adalah 80%.
5. Bunuh diri, dalam keadaan normal angka bunuh diri berkisaran antara 8-50 per100ribu
orang. Dengan kesulitan ekonomi angka ini meningkat 2 sampai 3 lebih tinggi. Angka
bunuh diri pada masyarakat akan meningkat, berkaitan penduduk bertambah cepat,
kesulitan ekonomi dan pelayanan kesehatan. Seharusnya bunuh diri sudah harus menjadi
masalah kesehatan pada masyarakat yang besar (Nasir, Abdul & Muhith, 2011).

2.2 Konsep Keluarga


2.2.1 Pengertian Keluarga
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan
keterikatan aturan dan emosional dan individu mempunyai peran masing- masing yang
merupakan bagian dari keluarga ( friedman, 2010). Menurut bailon yang di kutip Efendi, F &
Makhfudli (2009)menjelaskan keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam
satu rumah tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan atau adopsi. Mereka saling
berinteraksi satu dengan yang lain, mempunyai peran masing-masing dan menciptakan serta
mempertahankan satu budaya.

Menurut undang-undang no. 10 tahun 1992 tentang perkembangan kependudukan dan


pembangunan keluarga sejahtera, keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri
dari suami isteri atau suami isteri dan anaknya atau, ayah dan anaknya atau ibu dan anaknya
(Setiadi, 2008).
16

2.2.2 Fungsi Keluarga


Secara umum fungsi keluarga (Friedman, 2010) adalah sebagai berikut
1. Fungsi afektif adalah fungsi keluarga yang utama untuk mengajarkan segala sesuatu
untuk mempersiapkan anggota keluarga berhubungan dengan orang lain di luar rumah.
2. Fungsi sosialisasi dan tempat bersosialisasi adalah fungsi mengembangkan dan
tempat melatih anak untuk berkehidupan social sebelum meninggalkan rumah untuk
berhubungan dengan orang lain di luar rumah.
3. Fungsi reproduksi adalah fungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga
kelangsungan keluarga.
4. Fungsi ekonomi yaitu keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara
ekonomi dan tempat untuk mengembangkan kemampuan individu meningkatkan
penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
5. Fungsi keperawatan atau pemeliharaan kesehatan yaitu fungsi untuk memeprtahankan
keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap memiliki produktifitas tinggi. Ini
dikembangkan menjadi tugas di bidang kesehatan.
2.2.3 Konsep Peran Keluarga
Peran keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat, kegiatan yang
berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu. Peran individu dalam keluarga
didasari oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga, kelompok, dan masyarakat (Friedman,
2010)
Menurut Friedman (2010) peran keluarga dapat diklasifikasi menjadi dua kategori, yaitu
peran formal dan peran informal. Peran formal adalah peran eksplisit yang terkadung
dalam struktur peran keluarga. Peran informal bersifat tidak tampak dan diharapkan memenuhi
kebutuhan emosional keluarga dan memelihara keseimbangan keluarga. Berbagai peranan yang
terdapat dalam keluaraga adalah :

1. Peran formal
Peran parental dan pernikahan, diidetifikasi menjadi delapan peran yaitu peran sebagai
provider (penyedia), peran sebagai pengatur rumah tangga, peran perawatan anak,
17

peran sosialisasi anak, peran rekreasi, peran persaudaraan (kindship), peran terapeutik
(memenuhi kebutuhan afektif), dan peran seksual.
2. Peran informal
Terdapat berbagai peran informal yaitu peran pendorong, pengharmonis, insiator-
kontributor, pendamai, pioner keluarga, penghibur, pengasuh keluarga, dan perantara
keluarga.

Sedangkan Effendi (2002) membagi peran keluarga sebagai berikut:

1. Peranan ayah
Ayah sebagai suami dari istri dan anak-anaknya, berperan sebagai pencari nafkah,
pendidik, pelindung, dan pemberian rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai
anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota keluarga masyarakat dari
lingkungannya.
2. Peranan ibu
Ibu sebagai istri dari suami dan anak-anaknya. Mempunyai peranan untuk mengurus
rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai
salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari
lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan
dalam keluarganya.
3. Peranan anak
Anak-anaknya melaksanakan peranan psiko-sosial sesuai dengan tingkat perkembangan
baik fisik, sosial, dan spiritual.
2.2.4 Peranan keluarga dalam memberikan perawatan kesehatan keluarga

Keluarga berperan dalam memberikan perawatan kesehatan yang


terapeutik kepada anggota keluarga yang menderita suatu penyakit. Perawatan adalah
suatu usaha yang berdasarkan kemanusiaan untuk meningkatkan pertumbuhan dan
perkembangan bagi terwujudnya manusia yang sehat seutuhnya (Depkes RI, 2008).
Penelitian dari Prasetyawan (2008) secara umum, penderita yang mendapatkan
perhatian dan pertolongan yang mereka butuhkan dari seseorang atau keluarga
biasanya cenderung lebih mudah mengikuti nasehat medis daripada penderita yang
18

kurang mendapatkan dukungan sosial (peran keluarga). Menurut La, Groca (1998) yang
dikutip oleh Prasetyawan (2008) bahwa keluarga memainkan peranan yang sangat
penting dalam pengelolaan medis pada salah satu anggota keluarga yang sakit.
1. Tujuan perwatan individu dalam konteks keluarga
1) Teratasinya masalah yang dihadapi individu yang ada kaitannya dengan latar
belakang keluarganya.
2) Teratasinya masalah yang dihadapi individu dengan dukungan, bantuan atau
pemeranan keluarga
3) Terlaksananya pemberian asuhan keperawatan yang paripurna kepada sasaran
individu dari keluarganya, sebagai tindak lanjut pelayanan rawat inap maupun
jalan.
4) Meningkatkan kesadaran keluarga dan anggota keluarganya yang belum mencari
pelayanan untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan dasar yang tersedia.
5) Meningkatkan kemampuan individu dan keluarganya dalam mengatasi masalah
kesehatannya secara mandiri.

2. Tugas keluarga di dalam menanggulangi masalah kesehatan


Menurut Bailon dan Maglaya (1978) yang dikutip Efendi, F & Makhfudli (2009)
secara umum keluarga mampu melaksanakan lima tugas kesehatan keluarga, yaitu:
1) Mengenal masalah kesehatan keluarga
Kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan karena tanpa
kesehatan segala sesuatu tidak akan berartidan karena kesehatnlah kadang seluruh
kekuatan sumber daya dan dan keluarga habis. Orang tua perlu mengenal keadaan
kesehatan dan perubahan- perubahan yang dialami keluarga. Perubahan sekecil
apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung menjadi perhatian
keluarga atau orang tua.
2) Memutuskan tindakan kesehatn yang tepat bagi keluarga
Tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari pertolongan yang
tepat sesuai keadaan keluarga , dengan pertimbangan siapa diantara keluarga yang
memepunyai kramampuan memeutuskan untuk menentukan tindakan keluarga.
19

3) Memberi perawatan kepada anggota keluarga yang sakit


Ketika memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang sakit, keluarga harus
mengetahui hal-hal sebagai berikut:
(1) Keadaan penyakit
(2) Sifat dan perkembangan perawat yang diperlukan untuk perawatan
(3) Keberadaan fasilitas yang diperlukan untuk perawatan
(4) Sumber-sumber yang ada dalam keluarga
(5) Sikap keluarga terhadap yang skait

4) Memodifikasi lingkungan rumah yang sehat


Ketika memodifikasi lingkungan rumah yang sehat kepada anggota keluarga yang
sakit, keluarga harus mengetahui hal-hal sebagai berikut:
(1) Sumber-sumber keluarga yang dimiliki
(2) Manfaat pemeliharaan lingkungan
(3) Pentingnya hiegiene sanitasi
(4) Upaya pencegahan penyakit
(5) Sikap atau pandangan keluarga
(6) Kekeompakan antra anggota keluarga
5) Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat
6) Ketika merujuk anggota keluarga ke fasilitas kesehatan, keluarga harus mengetahui
hal-hal berikut ini :
(1) Keberadaan fasilitas kesehatan
(2) Keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh dari fasilitas kesehatan
(3) Tingkat kepercayaan keluarga terhadap petugas dan fasilitas kesehatan
(4) Pengalaman yang kuranmg baik terhadap petugas dan fasilitas kesehatan
(5) Fasilitas kesehatan yang ada terjangkauoleh keluarga
2.2.5 Perubahan Peran Selama Keluarga Sakit
Ada dua tipe perubahan peran yang terjadi akibat hilangnya atau ketidakmampuan
anggota keluarga. Yang pertama, anggota keluarga yang lain memiliki cukup sumber dari dalam
dan luar sehingga mereka mampu melkaukan kewajiban dan tugas-tugas peran dasar dan
20

penting dengan cara fungsional. Yang kedua, anggota keluarga kehilangan sumber dari dalam
dan luar yang diperlukan, sebagai akibatnya, peran dasar dan penting tertentu dalam
keluarga tidak dilakukan atau dilakukan tetapi tidak memuaskan.
2.2.6 Variabel-variabel Yang mempengaruhi struktur Peran
menyangkut struktur kekuasaan keluarga, ada faktor –faktor utama yang mempengaruhiperan-
peran keluarga. Faktor-faktor tersebut menurut Friedman(2010), meliputi: pengaruh kelas
sosial, bentuk keluarga, pengaruh etnik/budaya, pengaruh perkembangan atau siklus hidup,
peristiwa situasional, termasuk perubahan sehat dan sakit
2.3 Konsep Dasar Pengetahuan
2.3.1 Pengertian Pengetahuan
Menurut Budiman (2014) pengetahuan adalah sesuatu yang diketahui berkaitan dengan
proses pembelajaran. Pengetahuan adalah sebagai suatu pembentukan yang terus menerus oleh
seseorang yang setiap saat mengalami reorganisasi karena adanya pemahaman-pemahaman
baru.
Menurut Notoatmodjo (2012) pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah
orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.Penginderaan terjadi melalui
panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan
raba.Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
Menurut Mubarak (2011) pengetahuan adalah kesan di dalam pikiran manusia sebagai hasil
penggunaan panca inderanya. Pengetahuan adalah segala apa yang diketahui berdasarkan
pengalaman yang didapatkan oleh setiap manusia.
Dengan demikan dapat disimpulkan bahwa pengetahuan merupakan segala sesuatu yang
diketahui setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu sehingga
menjadi pedoman dalam membentuk tindakan membentuk tindakan seseorang tersebut.

2.3.2 Jenis Pengetahuan

Menurut Budiman (2014) Pemahaman masyarakat mengenai pengetahuan dalam konteks


kesehatan sangat beraneka ragam.Pengetahuan merupakan bagian perilaku kesehatan.
21

1. Pengetahuan implisit.
Pengetahuan implisit adalah pengetahuan yang masih tertanam dalam bentuk pengalaman
seseorang dan berisi faktor-faktor yang tidak bersifat nyata seperti keyakinan pribadi,
perspektif, dan prinsip. Pengetahuan seseorang biasanya sulit untuk ditransfer ke orang lain
baik secara tertulis ataupun lisan. Pengetahuan implisit sering kali berisi kebiasaan dan
budaya bahkan bisa tidak disadari.Contoh sederhana seseorang mengetahui tentang bahaya
merokok bagi kesehatan, namun ternyata dia merokok.
2. Pengetahuan eksplisit.
Pengetahuan eksplisit adalah pengetahuan yang telah didokumentasikan atau disimpan
dalam wujud nyata, bisa dalam wujud perilaku kesehatan.Pengetahuan nyata
dideskripsikan dalam tindakan-tindakan yang berhubungan dengan kesehatan.Contoh
sederhana yaitu seseorang mengetahui tentang bahaya merokok bagi kesehatan dan
ternyata dia tidak merokok.

2.3.3 Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan

Menurut Budiman (2014) Mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi


pengetahuan adalah sebagai berikut:
1. Pendidikan
Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan
didalam dan diluar sekolah (baik formal maupun nonformal), berlangsung seumur hidup.
Pendidikan adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok
dan juga usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan seseorang, makin
mudah untuk menerima informasi.
2. Informasi atau media massa.
Informasi adalah “that of which one is apprised or told: intelligence, news” (Oxford
English Dictionary, 2010). Kamus lain menyatakan bahwa informasi adalah sesuatu yang
dapat diketahui, namun ada pula yang menekankan informasi sebagai transfer
pengetahuan. Informasi adalah suatu teknik untuk mengumpulkan, menyiapkan,
22

menyimpan, memanipulasi, mengumumkan, menganalisis, dan menyebarkan informasi


dengan tujuan tertentu.
3. Sosial, Budaya, dan Ekonomi
Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa melalui penalaran apakah yang
dilakukan baik atau buruk. Dengan demikian, seseorang akan bertambah pengetahuannya
walaupun tidak melakukan. Status ekonomi seseorang juga akan menentukan tersedianya
suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu sehingga status sosial ekonomi ini
akan mempengaruhi pengetahuan seseorang.
4. Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar individu, baik lingkungan fisik,
biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh terhadap proses masuknya pengetahuan
kedalam individu yang berada dalam lingkungan tersebut. Hal ini terjadi karena adanya
interaksi timbal balik ataupun tidak, yang akan direspon sebagai pengetahuan oleh setiap
individu.
5. Pengalaman
Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk memperoleh kebenaran
pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh dalam
memecahkan masalah yang dihadapi masa lalu. Pengalaman belajar dalam bekerja yang
dikembangkan memberikan pengetahuan dan keterampilan profesional, serta pengalaman
belajar selama bekerja akan dapat mengembangkan kemampuan mengambil keputusan
yang merupakan manifestasi dari keterpaduan menalar secara ilmiah dan etik yang bertolak
dari masalah nyata dalam bidang kerjanya.
6. Usia
Usia mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin bertambah usia akan
semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya sehingga pengetahuan yang
diperolehnya semakin membaik.

2.3.4 Kategori Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2010) membuat kategori tingkat pengetahuan seseorang menjadi


tiga tingkatan yang didasarkan pada nilai persentase yaitu sebagai berikut:
1. Tingkat pengetahuan kategori baik jika nilainya ≥ 75%
23

2. Tingkat pengetahuan kategori cukup jika nilainya 56-74%


3. Tingkat pengetahuan kategori kurang jika nilainya < 55%
Dalam membuat kategori tingkat pengetahuan bisa juga dikelompokkan menjadi dua kelompok
jika yang diteliti masyarakat umum, yaitu sebagai berikut:
1. Tingkat pengetahuan kategori baik jika nilainya > 50%
2. Tingkat Pengetahuan kategori kurang baik jika nilainya ≤ 50%
Namun jika yang diteliti respondennya petugas kesehatan, maka presentasenya berbeda.
Tingkat pengetahuan kategori baik jika nilainya >75%, Tingkat pengetahuan kategori kurang
baik jika nilanya ≤ 75%.
2.3.5 Tahapan pengetahuan di dalam domain kognitif
Menurut Notoatmodjo (2010) Pengetahuanseseorang terhadap objek mempunyai intensitas
atau tingkat yang berbeda-beda. Secara garis besarnya dibagi dalam 6 tingkat pengetahuan yaitu:
1. Tahu (know)
Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta,
gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dan sebagainya.Misalnya ketika seorang
perawat diminta untuk menjelaskan tentang imunisasi campak, orang yang berada pada
tahap ini dapat menguraikan dengan baik dari definisi campak, manfaat imunisasi
campak, waktu yang tepat pemberian campak, dan sebagainya.
2. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang
objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan benar tentang objek yang diketahui,
dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
3. Aplikasi (aflication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi tersebut secara benar.
4. Analisis (analysis)
Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam
komponen-komponen, tetapi masih didalam suatu struktur organisasi, dan masih ada
kaitannya satu sama lain.
5. Sintesis (synthesis)
Sintesis merunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan
bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
24

6. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian
terhadap suatu materi atau objek.

2.3.6 Ciri Ilmu Pengetahuan


Menurut Ihsan (2010) ilmu pengetahuan atau pengetahuan ilmiah mempunyai lima ciri
pokok:
1. Empiris, pengetahuan itu diperoleh pengamatan dan percobaan.
2. Sistematis, berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan pengetahuan
itu mempunyai hubungan ketergantungan dan teratur.
3. Objektif, ilmu berarti pengetahuan itu bebas dari prasangka perseorangan dan kesukaan
pribadi.
4. Analisis, pengetahuan ilmiah berusaha membeda-bedakan pokok persoalannya kedalam
bagian yang terperinci untuk memahami berbagai sifat, hubungan, dan peranan dari
bagian-bagian itu.
5. Verifikasi, dapat diperiksa kebenarannya oleh siapa pun juga.
Adapun menurut Ihsan (2010) menunjukkan bahwa pengertian ilmu mengacu pada tiga
hal, yaitu pokok, proses, dan masyarakat.Ilmu pengetahuan sebagai produk, yaitu pengetahuan
yang telah diketahui dan diakui kebenarannya oleh masyarakat ilmuan.

2.3.7 Cara Memperoleh Pengetahuan


Menurut Notoadmodjo (2010) untuk memperoleh pengetahuan ada dua macam cara, yaitu:
2.3.7.1 Cara memperoleh kebenaran nonilmiah
1. Cara coba salah (trial and error)
Cara coba salah ini dilakukan dengan menggunakan beberapa kemungkinan dalam
mencegah masalah, dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil, dicoba
kemungkinan yang lain. Apabila kemungkinan kedua ini gagal pula, maka dicoba lagi
dengan kemungkianan ketiga, dan apabila kemungkinan ketiga gagal dicoba
kemungkinan keempat dan seterusnya, sampai masalah tersebut dapat dipecahkan.
2. Secara kebetulan
25

Penemuan kebenaran secara kebetulan terjadi karena tidak sengaja oleh orang yang
bersangkutan.
3. Secara kekuasaan atau otoritas
Dalam kehidupan manusia sehari-hari, banyak sekali kebiasaan-kebiasaan dan tradisi-
tradisi yang di lakukan oleh orang, tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan
tersebut baik atau tidak.Kebiasaan-kebiasaan ini biasanya diwariskan turun-temurun dari
generasi ke generasi berikutnya. Pemegangan otoritas, baik pemimpin pemerintah, tokoh
agama, maupun ahli ilmu pengetahuan pada prisipnya mempunyai mekanisme yang sama
dalam penemuan pengetahuan.
4. Berdasarkan pengalaman pribadi
Pengalaman adalah guru yang baik, pepatah ini mengandung maksud bahwa pepatah ini
merupakan sumber pengetahuan.
5. Cara akal sehat (comman sense)
Akal sehat atau (comman sense) kadang-kadang dapat menemukan teori atau kebenaran.
Sebelum ilmu pendidikan berkembang, orang tua jaman dahulu menggunakan cara
hukuman fisik agar anaknya menuruti keinginan orang tuanya. Ternyata ini cara
berkembang menjadi teori, bahwa hukuman adalah metode bagi pendidikan anak.
6. Kebenaran melalui wahyu
Ajaran adalah salah satu kebenaran yang diwahyukan dari Tuhan melalui para nabi.

7. Kebenaran secara intuitif


Kebenaran ini secara intuitif diperoleh manusia secara cepat sekali melalui proses diluar
kesadaran tanpa melalui proses penalaran atau berfikir.
8. Melalui jalan pikiran
Dengan perkembangan kebudayaan umat manusia, cara manusia ikut perkembangan.
9. Induksi
Induksi adalah proses penarikan kesimpulan dimulai dari pertanyaan-pertanyaan khusus
kepertanyaan umum.
10. Deduksi
Deduksi adalah pembuatan kesimpulan dari pertanyaan-pertanyaan yang khusus.
26

2.3.7.2 Cara modern atau cara ilmiah


Cara ini disebuat metode penelitian atau lebih populer disebut metodologi penelitian.
Menurut Karlingger dalam Wibowo (2014) mengutarakan empat cara untuk memperoleh
pengetahuan, yaitu:
1. Method of tenacity
Dimana manusia berpegang teguh terhadap apa yang dianggapnya sebagai kebenaran. Ia
dihadapkan pada pengulangan yang berkali-kali tentang hal yang dianggapnya benar
menyebabkan makin besarnya kepercayaan akan kebenaran tersebut, walaupun mungkin
terdapat fakta-fakta yang bertentangan.
2. Method of authority
Yang didasarkan kepercayaan terhadap otoritas tertentu. Banyak pengetahuan yang kita
peroleh melalui cara ini walaupun cara ini dalam beberapa hal banyak ditentang dan
dipertanyakan orang.
3. Method of intuition
Cara ini disebut juga sebagai apriorimethod dimana mengandalkan proporsi-proporsi yang
kebenarannya dianggap terbukti dengan sendirinya.Kebenaran berdasarkan kecocokan
penalaran dan tidak perlu dengan pengalaman.
4. Method of science
Metode ini dibuat sedemikian rupa sehingga kesimpulan yang dibuat oleh orang yang
berbeda-beda, hasilnya tetap sama. Metode ini memiliki sifat yang tidak dimiliki oleh metode
lain, yaitu mengoreksi sendiri.
2.3.8 Cara Penilaian Pengetahuan
Menurut Notoatmojo (2010) Pengukuran pengetahuan adalah dengan mengajukan pertanyaan-
pertanyaan secara langsung (wawancara) atau melalui pertanyaan-pertanyaan tertulis atau
angket.Pengukuran bobot pengetahuan seseorang ditetapkan menurut hal-hal sebagai berikut:

1. Bobot I:Tahap tahu dan pemahaman.


2. Bobot II:Tahap tahu, pemahaman, aplikasi, dan analisis.
3. Bobot III:Tahap tahu, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
Menurut Arikunto dalam Budiman (2014) pengukuran pengetahuan dapat dilakukan
dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang diukur dari subjek
27

penelitian atau responden.Dalam mengukur pengetahuan harus diperhatikan rumusan kalimat


pertanyaan menurut tahapan pengetahuan.

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian


Menurut Nursalam (2014) Desain penelitian adalah rancangan penelitian yang merupakan
suatu strategi untuk mencapai tujuan dan berperan sebagai pedoman atau penuntun peneliti
pada seluruh proses penelitian
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasional yaitu untuk
mengidentifikasi pengetahuan dan tingkat hubungan keluarga tentang gangguan jiwa serta
mengidentifikasi hubungan pengetahuan serta peran keluarga dengan tingkat kesembuhan
dalam menghadapi anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa di Rumah Sakit Jiwa
Kalawa Atei Palangka Raya
3.2 Kerangka Konsep Penelitian
Kerangka Konsep Dalam Penelitian ini adalah :

Variabel Independen Variabel Dependen

Dukungan Keluarga
1. Dukungan infomasional
2. Dukungan Personal Hygene Tingkat
3. Dukunggan Penilaian Kesembuhan
28

Keterangan :

: Variabel Independen

: Variabel Dependen

3.3 dentitas Variabel


Menurut Nursalam (2014) Variabel adalah perilaku atau karakteristik yang memberikan
nilai beda terhadap sesuatu. Adapun variabel yang diidentifikasi pada penelitian ini adalah:
3.3.1 Variabel Independen
Menurut Nursalam (2014) Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi atau
nilainya menentukan variabel lain. Penelitian ini variabel independennya adalah dukungan
keluarga yang mempengaruhi tingkat kesembuhan pasien yang mengalamai gangguan jiwa di
RSJ Kalawa Atei Palangka Raya (variabel yang mempengaruhi).
3.3.2 Variabel Dependen
Menurut Nursalam (2014) Variabel dependen adalah variabel yang nilainya di pengaruhi
variabel terikat. Variabel terikat adalah faktor yang diamati dan diukur untuk menentukan ada
tidaknya hubungan atau pengaruh dari variabel bebas. Dalam penelitian ini variabel dependennya
adalah Pengetahuan Keluarga dalam merawat pasien yang mengalami gangguan jiwa di RSJ
Kalawa Atei palangka Raya.

3.4 Definisi Operasional


Menurut Nursalam (2014) Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik
yang diamati dari suatu yang didefinisikan tersebut. Karakteristik yang dapat diamati (ukur),
29

dapat diamati artinya memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengkukuran
secara cermat terhadap suatu objek atau penomena yang kemudian dapat diulang oleh orang lain.
Menurut Hidayat (2014) Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara
operasional berdasarkan karakteristik yang diamati, memungkinkan peneliti untuk melakukan
observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena. Definisi
operasional ditentukan berdasarkan parameter yang dijadikan ukuran dalam penelitian.
Sementara cara pengukuran merupakan cara yaitu variabel dapat diukur dan ditentukan
karakteristiknya.

3.5 Hipotesis

Hipotesis adalah suatu pernyataan yang masih lemah yang membutuhkan pembuktian
untuk menegaskan apakah hipotesis dapat diterima atau ditolak, berdasarkan fakta atau data
empiris yang sudah dikumpulkan dalam penelitian atau dengan kata lain hipotesis merupakan
sebuah pernyataan tentang hubungan yang diharapkan antara dua variabel atau lebih yang dapat
dibagi secara empiris. Pada umumnya hipotesis terdiri dari pernyataan terhadap ada atau tidak
adanya hubungan antara dua variabel, yakni variabel bebas atau variabel independen dan
variabel terkait atau variabel dependent (Hidayat, 2011). Hipotesis kerja atau biasa disebut juga
dengan Hipotesis Alternatif (Ha). Hipotesis kerja menyatakan adanya pengaruh antara variabel
x dan y, atau adanya perbedaan antara dua kelompok. Hipotesis Nol (Null Hipotesis) sering juga
disebut hipotesa statistik, karena biasanya dipakai dalam penelitian yang bersifat statistik yaitu
diuji dengan perhitungan statistik. Hipotesis dalam penelitian ini adalah

3.5.1 Hipotesis nol ( Ho)


Tidak ada hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kesembuhan klien gangguan jiwa
di RSJ Kalawa Atei Palanka Raya Provinsi Kalimantan Tengah

3.5.2 Hipotesis Alternatif ( Ha)


Ada Hubungan dukungan Keluarga dengan tingkat kesembuhan klien gangguan jiwa di
RSJ Kalawa Atei Palanka Raya Provinsi Kalimantan Tengah
30