Anda di halaman 1dari 27

Referat

LATIHAN FISIK PADA BIPOLAR

Oleh

Afifah Salshabila Radiandina, S.Ked 04054822022200

Andriani Dwi Puspitasari, S.Ked 04084821921010

Debby Ariansyah, S.ked 04054822022067

Pembimbing

dr. Syarifah Aini, Sp.KJ

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN JIWA

RUMAH SAKIT ERNALDI BAHAR PALEMBANG

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2020

i
HALAMAN PENGESAHAN

Judul Telaah Ilmiah

Latihan Fisik pada Bipolar

Oleh:
Afifah Salshabila Radiandina, S.Ked 04054822022200
Andriani Dwi Puspitasari, S.Ked 04084821921010
Debby Ariansyah, S.ked 04054822022067

Referat ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas dalam mengikuti
Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa Rumah Sakit Ernaldi
Bahar Palembang Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya periode 2 Juni – 18
Juni 2020.

Palembang, Juni 2020

dr. Syarifah Aini, Sp.KJ

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis haturkan kepada Tuhan YME karena atas rahmat
dan berkat-Nya Telaah Ilmiah yang berjudul “Latihan Fisik pada Bipolar” ini
dapat diselesaikan tepat waktu. Telaah Ilmiah ini dibuat untuk memenuhi salah
satu syarat ujian kepaniteraan klinik senior di Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa Rumah
Sakit Ernaldi Bahar Palembang Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.
Penulis juga ingin menyampaikan terima kasih kepada dr. Syarifah Aini,
Sp.KJ. atas bimbingannya sehingga penulisan ini menjadi lebih baik.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kekeliruan dalam
penulisan telaah Ilmiah ini. Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun
sangat penulis harapkan untuk penulisan yang lebih baik di masa yang akan
datang.

Penulis

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.............................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN..............................................................................ii
KATA PENGANTAR..........................................................................................iii
DAFTAR ISI.........................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................3
2.1 Latihan Fisik.....................................................................................3
2.1.1 Definisi..............................................................................3
2.1.2 Fase Latihan Fisik..............................................................3
2.1.3 Jenis Latihan dan Aktivitas Fisik......................................5
2.2 Bipolar..............................................................................................6
2.2.1 Definisi..............................................................................6
2.2.2 Klasifikasi..........................................................................7
2.2.3 Manifestasi Klinis..............................................................8
2.3 Latihan Fisik pada Bipolar...............................................................9
2.3.1 Efek Latihan Aerobik Terhadap Gangguan Bipolar.........10
2.3.2 Mekanisme Latihan Fisik dan Gangguan Bipolar............12
2.3.2 Komplikasi.......................................................................15
BAB III KESIMPULAN....................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................19

iv
BAB I
PENDAHULUAN

Gangguan Bipolar adalah gangguan mood yang bersifat kronik. Gangguan


ini ditandai dengan perubahan afek episode mania/hipomania dan episode depresi
yang terjadi berulang dan terdapat penyembuhan sempurna antar episode.
Gangguan bipolar dihubungan dengan gangguan hingga disabilitas pada aktivitas
penderita, tingkat mortalitas yang tinggi dan peningkatan permintaan pelayanan
kesehatan.1–3
Penelitian epidemiologi oleh Ferari mencatat 32,7 juta kasus gangguan
bipolar secara global pada 1990 dan 48,8 juta pada 2013; setara dengan
peningkatan sebesar 49,1%. Kemudian data WHO tahun 2016 menunjukkan
peningkatan kasus bipolar menjadi 60 juta. Di Indonesia, prevalensi gangguan
mental emosional penduduk umur ≥15 tahun adalah 6% pada tahun 2013 dan naik
menjadi 9,8% pada tahun 2018. Meskipun relatif jarang, gangguan bipolar adalah
penyakit yang melumpuhkan karena terjadi pada onset dini, keparahan dan
kronisitas. Pertumbuhan populasi dan penuaan menyebabkan peningkatan beban
gangguan bipolar dari waktu ke waktu.4–6
Gangguan Bipolar dikaitkan dengan tingginya insiden kondisi medis
seperti kelebihan berat badan / obesitas, diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular
(CVD) dan stroke. Keadaan ini sebagian diakibatkan kurangnya aktivitas fisik,
gaya hidup sedentari serta efek samping obat-obatan. Faktor-faktor risiko ini
menyebabkan tingkat kematian lebih tinggi dan onset yang lebih dini pada
individu dengan gangguan bipolar dibandingkan dengan populasi umum.
Modalitas tatalaksana gangguan bipolar dapat berupa psikofarmaka, maupun
regimen terapi non-farmakologi. Terlepas dari kemajuan terapi psikofarmaka
gangguan bipolar, sebanyak 30-35% pasien gangguan bipolar tidak mencapai
remisi dengan obat-obatkan. Dengan demikian, strategi terapi alternatif yang
menargetkan kesehatan mental dan fisik akan lebih diinginkan. 7–9
Aktivitas fisik merupakan salah satu jenis terapi non-farmalogi gangguan
mental. Olahraga atau aktivitas fisik merupakan intervensi yang hemat biaya dan
mudah disebarluaskan yang mencakup manfaat efek samping minimal dan

1
peningkatan kesehatan fisik dan mental. Selain itu, aktivitas fisik atau olahraga
adalah pilihan terapi non-farmakologi yang baik untuk tatalaksana gangguan afek
depresif berdasarkan penelitian-penilitan sebelumnya. Sehingga peluang aktivitas
fisik sebagai modalitas terapi tambahan bagi gangguan bipolar yang juga memiliki
episode depresif didalamnya.1,10,11
Oleh karena itu, penulisan referat ini bertujuan untuk memaparkan peran
aktivitas fisik sebagai salah satu bentuk terapi non-farmakologi penderita
gangguan bipolar. Penulis berharap materi ini dapat menjadi pertimbangan bagi
praktisi klinis untuk pemberian regimen terapi tersebut dalam membantu
mengurangi dampak komorbiditas fisik, perbaikan gangguan afek dan
meningkatkan kualitas hidup pasien.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Latihan Fisik

2.1.1 Definisi

Aktivitas fisik dapat dianggap sebagai setiap gerakan tubuh yang


dihasilkan oleh otot rangka yang membutuhkan pengeluaran energi Jumlah energi
yang diperlukan untuk mencapai suatu kegiatan dapat diukur dalam kilojoule (kJ)
atau kilokalori (kkal); 4.184 kJ secara fundamental sama dengan 1 kkal (1). Ada
berbagai teknik untuk penilaian aktivitas fisik mulai dari pengamatan perilaku dan
laporan diri hingga sensor gerak. Beberapa aktivitas fisik dapat memiliki sejumlah
hasil fisik yang beragam. Misalnya, berlari dan bersepeda meningkatkan
kebugaran aerobik atau stamina; latihan beban atau menggunakan band resistensi
meningkatkan kekuatan otot; yoga dan latihan peregangan meningkatkan
fleksibilitas dan keseimbangan.12

2.1.2 Fase Latihan Fisik

a. Pemanasan (Warming-up)

Prosedur pemanasan dapat berupa: (1) Aktif pemanasan (active warm-up)


yaitu prosedur mencakup penggunaan keterampilan atau aktivitas yang akan
digunakan dalam latihan atau kompetisi (formal warm-up), serta stretching
dan calisthenics (formal warm- up). (2) Pasif pemanasan ( passive warm-up)
tidak dalam bentuk gerakan. Di sini hanya pemanasan seluruh atau beberapa
bagian tubuh dengan alat diatermi, mandi air panas, pemijatan dan lain-lain.
Di samping itu, Mac Ardle mengklasifikasikan pemanasan dalam kategori: (1)
General pemanasan (general warm-up) yang terdiri dari calisthenics,
stretching, gerak badan yang tidak berhubungan dengan aksi neuromusculer
khusus yang nanti ditampilkan. (2) Spesifik pemanasan (spesific warm-up)
berupa gerakan keterampilan yang sesuai dengan aktivitas yang
sesungguhnya, misalnya melempar bola, menendang bola dan lain-lain. Pada

3
umumnya, latihan pamanasan yang dianjurkan terdiri dari: (1) latihan
peregangan (stretching ecercaise), (2) peregangan dinamis (calisthenics), dan
(3) aktivitas formal.13

b. Pelemasan (Coolling down)

Setelah melakukan latihan, maka perlu melakukan pelemasan yang


difokuskan pada pemulihan otot, dan sebaiknya dilakukan segera setelah
latihan. Prosedur pelemasan yang dianjurkan agar aktivitas pelemasan
dilakukan sepertinya pemanasan hanya dalam bentuk kebalikannya. Jadi
aktivitas formal dilakukan segera setelah latihan/ kompetisi. Misalnya jogging
atau lari dan kemudian dilanjutkan dengan peregangan. Aktivitas bersifat
aerobik tidak keras menaikkan aliran darah ke otot tanpa menghasilkan
tambahan asam laktat. Selanjutnya disusul dengan latihan peregangan dengan
menekan pada gerakan- gerakan yang perlahan dan terkontrol.13

Gambar 1. Fase latihan fisik13

2.1.3 Jenis Latihan dan Aktivitas Fisik

a. Aerobik

4
Dalam jenis aktivitas fisik, otot-otot besar tubuh bergerak berirama untuk
periode waktu yang berkelanjutan. Jalan cepat, berlari, bersepeda, lompat
tali, dan berenang semuanya contoh aktivitas aerobik dan dapat
menyebabkan jantung seseorang berdetak lebih cepat, juga bernafas lebih
keras dari biasanya.14
Aktivitas fisik aerobik memiliki tiga komponen:14
- Intensitas, atau seberapa keras seseorang bekerja untuk melakukan
aktivitas. Intensitas yang paling sering dilakukan adalah intensitas
sedang (setara dengan jalan cepat) dan kuat (setara dengan lari atau
jogging);
- Frekuensi, atau seberapa sering seseorang melakukan aktivitas aerobik;
dan
- Durasi, atau berapa lama seseorang melakukan suatu kegiatan dalam
satu sesi.
b. Penguatan Otot
Jenis kegiatan ini, yang meliputi pelatihan ketahanan dan angkat berat,
menyebabkan otot-otot tubuh bekerja pada kekuatan atau berat yang
diberikan. Kegiatan ini sering melibatkan pengangkatan benda yang relatif
berat. Aktivitas penguatan otot juga dapat dilakukan dengan menggunakan
elastic bands atau berat badan (memanjat pohon atau melakukan push-
up).14
Aktivitas penguatan otot memiliki tiga komponen:14
- Intensitas, atau berapa banyak berat yang digunakan dan berapa
banyak yang dapat diangkat seseorang;
- Frekuensi, atau seberapa sering melakukan aktivitas penguatan otot;
dan
- Set dan pengulangan, atau berapa kali seseorang melakukan aktivitas
penguatan otot, seperti mengangkat beban atau melakukan push-up
(sebanding dengan durasi untuk aktivitas aerobik).

c. Bone-Strengthening Activity

Jenis aktivitas ini menghasilkan kekuatan pada tulang-tulang tubuh yang


mendorong pertumbuhan dan kekuatan tulang. Contoh aktivitasnya

5
termasuk jumping jacks, lari, jalan cepat, dan latihan angkat berat, seperti
yang diilustrasikan oleh contoh-contoh ini, aktivitas ini juga bisa bersifat
aerobik dan penguatan otot.14
d. Balance Activity
Jenis kegiatan ini dapat meningkatkan kemampuan untuk melawan
kekuatan di dalam atau di luar tubuh. Berjalan mundur, berdiri dengan satu
kaki, atau menggunakan papan goyangan adalah beberapa contoh
kegiatan. Penguatan otot-otot punggung, perut, dan kaki juga
meningkatkan keseimbangan.14
e. Fleksibilitas
Jenis-jenis kegiatan ini meningkatkan kemampuan sendi untuk bergerak
melalui berbagai gerakan. Latihan peregangan efektif dalam meningkatkan
fleksibilitas, dan dengan demikian dapat memungkinkan orang untuk lebih
mudah melakukan kegiatan yang membutuhkan fleksibilitas lebih besar.14

2.2 Bipolar

2.2.1 Definisi

Gangguan Bipolar merupakan salah satu diantara gangguan mental


yang serius. Gangguan bipolar sering dikaitkan dengan gangguan yang
memiliki ciri yaitu naik turunnya mood, aktifitas dan energi.15
Kekambuhan sering terjadi dan akan mengganggu fungsi sosial,
pekerjaan, perkawinan bahkan meningkatkan risiko bunuh diri. Keadaan
emosional orang dengan gangguan bipolar ekstrim dan intens yang
terjadi pada waktu yang berbeda, atau bisa disebut mood. Episode ini
dikategorikan sebagai mania, hipomania, episode campuran dan
depresi.16

6
Gambar 2. Siklus suasana hati pasien bipolar17

2.2.2. Klasifikasi

Bipolar tipe I ditandai dengan episode mania berat dan depresi


berat. Gangguan bipolar tipe I ini ketika kondisi mania, penderita ini
sering dalam kondisi “berat” dan berbahaya. Bipolar tipe II, pada kondisi
ini penderita masih bisa berfungsi melaksanakan kegiatan harian rutin.
Tidak separah tipe I. Penderita mudah tersinggung. Kondisi depresinya
berlangsung lebih lama dibandingkan dengan kondisi hipomania-nya.
Kondisi hipomania muncul ketika terjadi kenaikan emosi. Syclothymic
disorder ialah bentuk ringan dari Gangguan jiwa bipolar. Syclothymic
disorder (disebut juga cyclothymia) didefinisikan dengan banyak periode
gejala hipomania dan periode gejala depresi yang berlangsung minimal
selama 2 tahun (1 tahun pada anak-anak dan remaja). Kondisi mania dan
depresi bisa mengganggu, tetapi tidak seberat pada Gangguan Bipolar I
dan Tipe II.18

2.2.3 Manifestasi Klinis

7
Terdapat fluktuasi suasana hati yang berlanjut selama berbulan-
bulan atau setelah satu episode, bisa terjadi bertahun-tahun tanpa
terulangnya jenis apapun.

a. Major Depresive Disorder


Episode depresi mengakibatkan seseorang berdelusi, berhalusinasi,
dan berusaha bunuh diri lebih sering terjadi pada depresi bipolar
daripada depresi unipolar.16 Menurut penelitian National Institute of
Mental Health (NIMH), di Amerika telah kehilangan 44 juta dollar
setahun karena gangguan depresif. Disamping itu gangguan depresif
juga mengganggu kehidupan keluarga. Dan juga dapat menimbulkan
gangguan emosional yang hebat sehingga dapat mengancam
keselamatan diri, orang lain, dan lingkungannya.18

Penderita terkadang memiliki suasana hati yang terus-menerus


tertekan dan kehilangan kegembiraan dalam aktivitas yang biasanya
memberi kesenangan, penurunan atau kenaikan berat badan, insomnia
(yaitu tidur terlalu sedikit) atau hipersomnia (yaitu terlalu banyak),
agitasi psikomotor (yaitu gerakan gelisah) atau retardasi (yaitu
memperlambat gerakan), kehilangan energi, perasaan bersalah,
penurunan konsentrasi, ragu, keputusasaan atau pikiran untuk bunuh diri
yang sengaja maupun tidak di sengaja.16

b. Manic Episode

Manik biasanya dimulai dengan tiba-tiba, dan gejala meningkat


selama beberapa hari. Seperti perilaku aneh, halusinasi, dan delusi
paranoid, terjadinya penurunan produktifitas dimasyarakat. Di luar
rumah sakit, pasien sering kali menggunakan alkohol yang berlebihan.
Kecenderungan untuk melepaskan pakaian di tempat umum,
mengenakan pakaian dan perhiasan dengan warna shining dalam
kombinasi yang freak, dan kurangnya perhatian terhadap hal kecil
(misalnya, lupa menutup telepon). Pasien bertindak impulsif dan pada
saat yang sama merasa memiliki keyakinan dan tujuan.19

8
c. Hypomanic Episode

Episode hipomania tidak ada kerusakan yang nyata dalam fungsi


sosial atau pekerjaan, tidak ada delusi, dan tidak ada halusinasi.
Beberapa pasien mungkin lebih produktif dari biasanya, namun 5%
sampai 15% pasien dapat dengan cepat beralih ke episode manik.20

2.3 Latihan Fisik pada Bipolar

Gangguan bipolar mempengaruhi 1 hingga 1,5% dari populasi


dunia dan terdiri dari episode manik dan depresi berulang, diselingi
dengan periode mood euthymic. Latihan fisik, khususnya latihan aerobik,
diakui dapat memodulasi perilaku afektif pada subjek sehat dengan usaha
intensitas yang sedang, memodifikasi aktivitas otak, mempromosikan
neurogenesis, dan meningkatkan fungsi kognitif.21

Pengurangan gejala yang signifikan ditemukan dengan latihan


aerobik pada pasien bipolar dan efeknya terkait dengan olahraga mulai
ditetapkan dalam literatur.21 Pada penelitian yang dilakukan oleh Ng et al
pada tahun, misalnya, diamati pada 24 pasien yang didiagnosis dengan
BD, dimasukkan dalam kelompok berjalan (usaha tidak terkontrol),
peningkatan Skala Depresi Kecemasan dan Stres (DASS - p=0,005) dan
semua subskala (Depresi p=0,048, Kecemasan p=0,002, dan Stres p=0,01),
dibandingkan dengan 74 pasien bipolar yang tidak berpartisipasi dalam
kelompok berjalan. Dalam hal ini, mekanisme melakukan latihan aerobik
pada gaya hidup pasien dengan bipolar terkait dengan perubahan dalam
respons hormonal, neurotransmiter, seperti monoamina, dan biomarker
fisiologis yang diproduksi oleh otak, seperti brain-derived neurotrophic
factor (BDNF) dan glial cell-derived neurotrophic factor (GDNF).22

Temuan ini sangat menarik karena data menunjukkan bahwa satu


mekanisme potensial untuk menjelaskan peran perlindungan aktivitas fisik

9
untuk fluktuasi suasana hati yang parah mungkin terkait dengan hubungan
antara partisipasi aktivitas fisik dan konektivitas fungsional otak.
Konektivitas fungsional dapat didefinisikan sebagai ketergantungan
temporal dari pola aktivitas neuron dari daerah otak yang dipisahkan
secara anatomis. Sebagai contoh, bukti menunjukkan bahwa kebugaran
kardiorespirasi, yang meningkat setelah adopsi dan pemeliharaan aktivitas
fisik, dikaitkan dengan konektivitas fungsional yang lebih baik antara
berbagai daerah otak.23 Baru-baru ini telah dibuktikan bahwa keadaan
mood bipolar dikaitkan dengan perubahan yang sangat signifikan dalam
konektivitas fungsional ini, dan aktivitas yang berubah dalam jaringan
saraf mungkin merupakan penanda biomarker dari diagnosis BD dan
keadaan mood yang dapat diakses oleh neuromodulasi. dan merupakan
target baru yang menjanjikan untuk penyelidikan ilmiah dan kemungkinan
intervensi klinis.24

2.3.1 Efek Latihan Aerobik Terhadap Gangguan Bipolar

a. Manfaat dan Adaptasi Umum

American College of Sports Medicine (ACSM)


merekomendasikan akumulasi setidaknya 150 menit aktivitas aerobic
sedang (50-55% VO2 dari cadangan-VO2R) mingguan atau 60 menit
aktivitas berat (70-75% VO2R) mingguan. Hasil dari ini diamati,
terutama dalam keadaan fisik, metabolisme dan sistemik,
memberikan efek perlindungan dari faktor-faktor risiko yang terkait
dengan penyakit arteri koroner (profil lipid, kontrol massa tubuh,
perubahan glukosa istirahat dan tekanan darah).25

10
b. Hubungan Antara Latihan dan Gangguan Bipolar

Pada saat ini didapatkan manfaat yang nyata dalam mengendalikan


penyakit bipolar dengan program latihan aerobik. Sebagai contoh, Dodd
dan Berk mengevaluasi efek dari latihan berjalan pada pengobatan akut
bipolar. Penulis menggunakan studi program khusus diet, perilaku sosial
dan kebugaran, yang disebut SHAPE, dengan gangguan kejiwaan yang
berbeda. Dalam program ini, peserta melakukan kegiatan aerobik seperti
berenang dan berjalan, atau latihan kekuatan atau yoga. Kriteria durasi dan
intensitas pelatihan disesuaikan sesuai dengan pengamatan awal keadaan
fisik peserta dan skala evaluasi kemajuan psikiatrik dilakukan.
Pengurangan keparahan gejala, seperti depresi setelah 9 bulan follow up.26

Mekanisme dari berkurangnya keparahan gejala BD dapat


dihubungkan dengan berkurangnya stres dari physiopathology agent’s
characteristics penyakit ini. Stres kronis yang disebabkan oleh
ketidakseimbangan antara sitokin proinflamasi, perubahan kortikosteroid
dan penurunan kadar BDNF, menciptakan lingkungan yang
menguntungkan untuk meningkatkan alostatik dan akibatnya penurunan
neuroplastisitas otak.27

Oleh karena itu, subjek yang berlatih periode latihan yang sesuai
(sekitar 20-30 menit) dapat menghasilkan hasil yang baik terhadap
kecemasan dan pengurangan reaktivitas stres dalam jangka panjang. 28
Stres kronis dianggap sebagai pencetus gangguan mood yang paling besar,
mengingat bahwa sensitivitas yang besar terhadap stres berhubungan
dengan episode berulang. Fakta ini dapat dijelaskan juga oleh modulasi
yang rusak dari sistem monoaminergik, yang dapat diamati pada gangguan

11
kejiwaan yang berbeda. Beberapa teori mendukung kemungkinan
pengaruh mekanisme transportasi dopaminergik atau pengaruh
GABAergik pada karakteristik fisiopatologis BD.29

Konsentrasi kortisol yang tinggi biasanya diatur bersama oleh


konsentrasi BDNF dan keduanya mengikuti pola peningkatan linier. Efek
antidepresan pada ekspresi gen BDNF telah diselidiki secara luas. Secara
umum, telah ditunjukkan bahwa ketika diberikan kepada tikus yang sehat,
beberapa kelas antidepresan, termasuk inhibitor monoamine oksidase,
inhibitor reuptake serotonin selektif, agen trisiklik, inhibitor reuptake
noradrenalin, dan antidepresan noradrenergik dan serotonergik spesifik,
semuanya meningkatkan ekspresi BDNF di otak. Selain itu, beberapa agen
lain yang diketahui memiliki sifat antidepresan juga meningkatkan
ekspresi BDNF di otak tikus. Termasuk α-amino-3-hydroxy-5-methyl-4-
isoxazole propionic acid dan N-methyl-D-aspartate antagonists,
electroconvulsive shock, dan transcranial magnetic stimulation.30

2.3.2 Mekanisme Latihan Fisik dan Gangguan Bipolar

a. Neurogenesis
Satu kemungkinan mekanisme yang diamati pada gangguan
bipolar adalah hubungan sebab akibat dari peningkatan aktivitas fisik dan
neurogenesis. Pada latihan kemungkinan merupakan intervensi pleiotropik
yang melibatkan spektrum luas sistem neurobiologis yang terlibat dalam
neurogenesis dan neuroplastisitas, fungsi transmisi neurotransmisi,
metabolisme, fungsi imun-inflamasi dan respirasi sel. Data menunjukkan
bahwa latihan terstruktur memberikan efek bermanfaat pada jaringan ini
dan oleh karena itu, mampu meningkatkan kesehatan psikiatrik dan
somatik pada gangguan bipolar. Efek menguntungkan dari olahraga pada
kesehatan otak, dengan fokus khusus pada hubungan antara olahraga dan
peningkatan faktor pertumbuhan yang menghasilkan neurogenesis,

12
metabolisme, fungsi vaskular dan neurodegenerasi dan pengurangan
suasana hati yang tertekan.31

Latihan dianggap memastikan peningkatan fungsi otak dengan


meningkatkan plastisitas sinaptik, regulasi faktor pertumbuhan dan
pengurangan faktor risiko perifer dan sentral. Salah satu hal yang
menjelaskan hubungan olahraga dengan neurogenesis adalah BDNF. Up-
regulation dari BDNF hipokampus adalah hasil administrasi antidepresan
kronis serta merupakan salah satu perubahan yang paling kuat,
berkelanjutan dan secara konsisten menunjukkan sebagai hasil latihan.
BDNF adalah anggota keluarga neutropin dan mempromosikan
kelangsungan hidup neuron dan regenerasi dan terlibat sebagai biomarker
aktivitas penyakit pada gangguan psikiatri.31

Setahun terakhir ini, para peneliti lebih lanjut mengklarifikasi jalur


latihan fisik dan BDNF. Secara khusus, mereka menemukan bahwa
FNDC5, protein otot yang baru-baru ini ditemukan, meningkat dengan
latihan ketahanan dalam hippocampus tikus dan bahwa reseptor yang
diaktifkan proliferasi peroksisom (PGC-1α) dan FNDC5 mengatur
ekspresi BDNF di otak. Model ini mengandaikan bahwa olahraga
mengarah pada peningkatan transkripsi PGC-1α dan peningkatan regulasi
Erraα (reseptor nuklir terkait reseptor nuklir) yang diperlukan untuk
menginduksi ekspresi gen FNDC5 dan pada akhirnya, meningkatkan
BDNF. BDNF dan latihan berbagi jalur yang sama dengan antidepresan
yang secara teoritis dapat menyebabkan latihan yang memicu episode
mania potensial. Mendukung teori ini, penelitian pada hewan menemukan
bahwa olahraga juga dapat berdampak pada BDNF dengan meningkatkan
serotonin di korteks frontal dan ventral hippocampus, atau meniru jalur
SSRI.31

13
Gambar 3. Peranan gen BDNF32

b. Endorfin
Mungkin juga bahwa efek menguntungkan dari olahraga pada
mood karena hubungannya dengan endorfin. Teori ini mengusulkan bahwa
olahraga dikaitkan dengan pelepasan opiat endogen termasuk α endorfin
yang meningkatkan suasana hati dan perasaan kesejahteraan. Demikian
pula, hipotesis monoamina menunjukkan bahwa olahraga menghasilkan
peningkatan pelepasan molekul monoamina dopamin, seronon, dan
norepinefrin yang biasanya berkurang pada depresi.31 Penelitian yang
dilakukan oleh Ernst et al. Pada tahun 2006 juga menemukan bahwa
peningkatan endorfin α, BDNF, faktor pertumbuhan endotel vaskular
(VEGF), dan pelepasan serotonin dapat menjelaskan latihan hubungan dan
hasil positif pada suasana hati dan fungsi.33

c. Epigenetik
Di antara jalur latihan hipotesis dan gangguan bipolar ada
epigenetik karena olahraga dapat meningkatkan BDNF melalui mekanisme
ini. Implikasi untuk gangguan bipolar Peningkatan kesehatan somatik dan
psikiatrik untuk pasien dengan gangguan bipolar "Stres yang baik" dari
latihan fisik dapat meningkatkan ekspresi BDNF untuk meningkatkan
neurogenesis, suasana hati membaik, perbaikan gejala suasana hati,
potensi pedang bermata dua untuk pasien yang mengalami mania.

14
Mekanisme epigenetik memfasilitasi ekspresi gen diferensial, yang tunduk
pada pengaruh lingkungan dan telah terlibat dalam patofisiologi gangguan
bipolar. Mekanisme ini dapat memediasi beberapa dampak fisiologis dari
latihan pada jaringan tubuh.34 Perubahan ekspresi gen epigenetik yang
disebabkan oleh "eustress" atau "stres yang baik" dari latihan fisik
tampaknya memiliki efek menguntungkan. Sebagai contoh, BDNF telah
terlibat dalam beberapa gangguan kejiwaan, termasuk gangguan bipolar.
Secara keseluruhan, sangan memungkinkan bahwa beberapa hubungan
yang bermanfaat antara olahraga dan hasil gangguan bipolar dimediasi
oleh mekanisme epigenetik.31

d. Faktor Lain

Latihan meningkatkan pembangkitan energi mitokondria, dan


diketahui bahwa pada depresi, terutama pada depresi bipolar terdapat
penurunan kapasitas biokimia ergonomik mitokondria. Dalam gangguan
bipolar ada peningkatan peradangan dan stres oksidatif, olahraga
mengurangi kedua penanda peradangan sistemik dan stres oksidatif.
Latihan mengurangi kortisol, yang lama dikenal sebagai peningkatan
dalam depresi. Faktor-faktor lain seperti adipokine yang terlibat sebagai
biomarker depresi, dan efek latihan dapat dimediasi oleh adipokin seperti
adiponectin.31

2.3.3 Komplikasi

Dua penelitian memperkirakan insiden gangguan bipolar yang


lebih tinggi pada orang yang mempraktikkan lebih banyak aktivitas fisik.
Penelitian yang dilakukan oleh Strohle et al. pada tahun 2007 yang diikuti
2548 orang selama empat tahun di sebuah komunitas, termasuk 959
dengan gangguan mental dan 39 dengan bipolar. Pada awal, setiap
gangguan mental dikaitkan dengan aktivitas fisik yang tidak teratur (OR
0,69; CI 0,56-0,84, p o 0,05), tetapi tidak pada pasien bipolar (OR 1,23, CI
0,58-2,60, p 4 0,05). Lebih dari 4 tahun, kejadian gangguan mental secara
umum lebih tinggi pada orang dengan olahraga tidak teratur atau tanpa

15
olahraga (OR 0,71, CI 0,53-0,95, p40.05).35 Sebaliknya, mereka yang
melakukan aktivitas fisik secara teratur dikaitkan dengan gangguan bipolar
(OR 10,29, CI 1,36-78,08, po0,05). Dalam sebuah survei dengan 23.505
orang dengan gangguan mental (851 dengan gangguan bipolar), olahraga
yang giat dikaitkan dengan kerentanan terhadap beberapa penyakit mental,
terutama ketergantungan alkohol (OR 1,43, CI 1,12-1,84, po0.05 ) dan
gangguan bipolar II (OR 2,29, CI 1,31-4,02, po0,05).36

Menariknya, beberapa penelitian mengaitkan aktivitas fisik dengan


episode manik. Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Sylvia et al., pada
tahun 2013 yang menunjukkan bahwa kurang olahraga dikaitkan dengan
gejala depresi (po0.001), dan sering berolahraga dengan mania
(p1⁄40.012). Namun, penelitian ini adalah cross-sectional, yang membatasi
kesimpulannya. Temuan ini mungkin dapat dijelaskan karena individu
yang manik cenderung lebih banyak berolahraga. Dalam studi kualitatif,
menyarankan bahwa aktivitas fisik memiliki efek yang berbeda pada
pasien bipolar, tergantung pada tingkat keparahan suasana hati yang
berolahraga. Ini bisa meredakan gejala hipomania dan mencegah
perubahan suasana hati yang parah. Namun, olahraga yang giat dapat
memperburuk mania atau hipomania.36

Selain itu, BAS (behavioural activation system) dianggap terlalu


sensitif pada gangguan bipolar. Dengan demikian, peristiwa yang
berkaitan dengan “mendapatkan” atau gaining rewards, misalnya,
olahraga, dianggap meningkatkan aktivasi BAS. Dalam konteks episode
depresi, peningkatan aktivasi BAS kemungkinan akan meningkatkan
gejala depresi seperti anhedonia. Namun, dalam konteks episode manik,
peningkatan aktivasi BAS dapat memperburuk gejala hipo / manik.36

16
Gambar 4. Efek potensial dari latihan pada BAS (behavioural activation system) di bipolar36

17
BAB III
KESIMPULAN

Gangguan Bipolar adalah gangguan mood yang bersifat kronik. Gangguan


ini ditandai dengan perubahan afek episode mania/hipomania dan episode depresi
yang terjadi berulang dan terdapat penyembuhan sempurna antar episode.
Penyakit ini menimbulkan disabilitas yang besar karena terjadi pada onset dini,
berlangsung kronis berhubungan dengan komorbitas kondisi medis organik yang
menyebabkan tingginya angka mortalitas kasus. Salah satu terapi psikiatri non-
farmakologi yang dapat diberikan dalam penanganan kasus gangguan bipolar
adalah aktivitas fisik.
Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka
yang membutuhkan pengeluaran energi. Beberapa jenis aktivitas fisik yang dapat
dilakukan yaitu latihan aerobik, penguatan otot, penguatkan tulang, latihan
keseimbangan dan latihan fleksibilitas Latihan aerobik merupakan strategi terapi
yang penting dalam mengurangi keparahan symptom gangguan bipolar melalui
perubahan respons hormonal, neurotransmiter, biomarker fisiologis otak dan
pengaruh terhadap neurogenesis otak.

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Melo MCA, Daher EDF, Albuquerque SGC, de Bruin VMS. Exercise in


bipolar patients: a systematic review. J Affect Disord. 2016;198:32-38.

2. Maslim R. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas Dari


PPDGJ III Dan DSM-5. 2nd ed. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa
FK-Unika Atmajaya; 2013.

3. Zannah U, Puspitasari I, Sinuraya RK. Farmakoterapi Gangguan Bipolar.


Farmaka. 2018;16(1):263-277.

4. Ferrari AJ, Stockings E, Khoo J-P, et al. The prevalence and burden of
bipolar disorder: findings from the Global Burden of Disease Study 2013.
Bipolar Disord. 2016;18(5):440-450. doi:10.1111/bdi.12423

5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Hasil Utama Riskesdas 2018.


2018.

6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peran Keluarga Dukung


Kesehatan Jiwa Masyarakat.
https://www.kemkes.go.id/article/print/16100700005/peran-keluarga-
dukung-kesehatan-jiwa-masyarakat.html. Published 2016. Accessed June
10, 2020.

7. Hearing CM, Chang WC, Szuhany KL, Deckersbach T, Nierenberg AA,

19
Sylvia LG. Physical exercise for treatment of mood disorders: a critical
review. Curr Behav Neurosci reports. 2016;3(4):350-359.

8. Thomson D, Turner A, Lauder S, et al. A brief review of exercise, bipolar


disorder, and mechanistic pathways. Front Psychol. 2015;6:147.

9. Bauer IE, Galvez JF, Hamilton JE, et al. Lifestyle interventions targeting
dietary habits and exercise in bipolar disorder: a systematic review. J
Psychiatr Res. 2016;74:1-7.

10. Malhi GS, Byrow Y. Exercising control over bipolar disorder. Evid Based
Ment Health. 2016;19(4):103-105.

11. Souza de Sa Filho A, Marcos de Souza Moura A, Khede Lamego M, et al.


Potential therapeutic effects of physical exercise for bipolar disorder. CNS
Neurol Disord Targets (Formerly Curr Drug Targets-CNS Neurol Disord.
2015;14(10):1255-1259.

12. Westerterp, K. R. 2013. Physical activity and physical activity induced


energy expenditure in humans: measurement, determinants, and effects.
Frontiers in physiology, 4, 90.

13. Bafirman HB, Wahyuri AS. 2018. Pembentukan Kondisi Fisik. Depok:
Rajawali Pers. Hal: 16-20.

14. U.S. Department of Health and Human Services. 2018. Physical Activity

Guidelines for Americans, 2nd edition. Washington, DC: U.S. Department


of Health and Human Services.

15. APA. (2017). What Are Bipolar Disorders? Retrieved from American
Psychiatryc Association: http://www.psychiatry.org/patients-
families/bipolar-disorder/what-are-bipolar-disorders

16. Mintz, David. 2015. Bipolar Disorder: Overview, Diagnostic Evaluation


and Treatment. MD and the Austen Riggs Center

20
17. Videbeck, S.L., 2011. Psychiatric–Mental Health Nursing Fifth Edition.
China: Wolters Kluwer Health & Lippincott Williams & Wilkins.

18. NIMH (National Institute of Mental Health), 2015. Bipolar Disorder in


Adults. United States: Department of Health and Human Service National
Institute of Health.

19. Sadock, B. J., and Sadock, V. A., 2015. Kaplan And Sadock’s Synopsis Of
Psychiatry Eleventh Edition. Wolters Kluwer.

20. Wells, B.G., DiPiro, J.T., Schwinghammer, T.L., and DiPiro, C.V., 2015.
Pharmacotherapy Handbook Ninth Edition. United States: McGraw-Hill
Education.

21. Brummer V, Schneider S, Abel T, Vogt TStruder HK. Brain cortical


activity is influenced by exercise mode and intensity. Med Sci Sports
Exerc 2011; 4310: 1863-72.

22. Ng F, Dodd SBerk M. The effects of physical activity in the acute


treatment of bipolar disorder: a pilot study. J Affect Disord 2007; 1011-3:
259-62.

23. Daumit GL, Dickerson FBAppel LJ. Weight loss in persons with serious
mental illness. N Engl J Med 2013; 3695: 486-7.

24. Brady Jr., R.O., Tandon, N., Masters, G.A., Margolis, A., Cohen, B.M.,
Keshavan, M., Ongu ̈r, D., 2017. Differential brain network activity across
mood states in bipolar disorder. J. Affect. Disord. 207, 367e376.

25. Pearsall R, Smith DJ, Pelosi AGeddes J. Exercise therapy in adults with
serious mental illness: a systematic review and meta-analysis. BMC
Psychiatry 2014; 141: 117.

26. Anticevic A, Brumbaugh MS, Winkler AM, et al. Global prefrontal and
fronto-amygdala dysconnectivity in bipolar I disorder with psychosis
history. Biol Psychiatry 2013; 736: 565-73.

21
27. Matta Mello Portugal E, Cevada T, Sobral Monteiro-Junior R, et al.
Neuroscience of exercise: from neurobiology mechanisms to mental
health. Neuropsychobiology 2013; 681: 1-14.

28. Kunz M, Cereser KM, Goi PD, et al. Serum levels of IL-6, IL-10 and
TNF-alpha in patients with bipolar disorder and schizophrenia: differences
in pro- and anti-inflammatory balance. Rev Bras Psiquiatr 2011; 333: 268-
74.

29. Barbosa IG, Huguet RB, Sousa LP, et al. Circulating levels of GDNF in
bipolar disorder. Neurosci Lett 2011; 5022: 103-6.

30. Dakwar E, Blanco C, Lin KH, Liu SM, Warden D, Trivedi M, et al.
Exercise and mental illness: results from the National Epidemiologic
Survey on Alcohol and Related Conditions (NESARC). J Clin Psychiatry
2012; 737: 960-6.

31. Thomson D., Turner A., Lauder S., Gigler M.E., et al. 2015. A brief
review of exercise, bipolar disorder, and mechanistic pathways. Frontiers
in Psychology. Page: 6-7

32. Groves J. 2007. Is it time to reassess the BDNF hypothesis of depression?.


Molecular Psychiatry. 1079–1088

33. Ernst, C., Olson, A. K., Pinel, J. P., Lam, R. W., and Christie, B. R.
(2006). Antide- pressant effects of exercise: evidence for an adult-
neurogenesis hypothesis? J. Psychiatry Neurosci. 31, 84–92.

34. Barres, R., Yan, J., Egan, B., Treebak, J. T., Rasmussen, M., Fritz, T., et
al. (2012). Acute exercise remodels promoter methylation in human
skeletal muscle. Cell Metab. 15, 405–411. doi:
10.1016/j.cmet.2012.01.001

35. Strohle, A., Hofler, M., Pfister, H., Muller, A.G., Hoyer, J., Wittchen,
H.U., Lieb, R., 2007. Physical activity and prevalence and incidence of

22
mental disorders in adolescents and young adults. Psychol. Med. 37,
1657–1666.

36. Melo M., Daher E.F., Albuquerque S.G., Bruin V.M. 2016. Exercise in
bipolar patients: A systematic review. Department of Medical Sciences,
Universidade Federal do Ceará, Brazil. Page 32-28

23