Anda di halaman 1dari 6

PROPOSAL KTI

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN


MASALAH ISPA PADA TAHAP PERKEMBANGAN
DENGAN ANAK USIA SEKOLAH

NETI HERLINDA
NIP : P0 5120219106 RPL

POLTEKKES KEMENKES BENGKULU JURUSAN KEPERAWATAN


PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN BENGKULU
TAHUN 2020
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Infeksi pernafasan merupakan penyakit akut yang paling banyak terjadi
pada anak-anak (Wong, 2013). Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
adalah radang akut saluran pernapasan atas maupun bawah yang disebabkan
oleh infeksi jasad renik atau bakteri, virus, maupun reketsia tanpa atau disertai
dengan radang parenkim paru. ISPA adalah masuknya mikroorganisme
(bakteri, virus, riketsi) ke dalam saluran pernapasan yang menimbulkan gejala
penyakit yang dapat berlangsung sampai 14 hari (Sari, 2015).
ISPA merupakan masalah kesehatan yang penting karena menjadi
penyebab pertama kematian balita di negara berkembang. Setiap tahun ada
dua juta kematian balita yang disebabkan oleh ISPA. Pada umumnya, ISPA
merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak-anak. Insiden menurut
kelompok umur balita diperkirakan 0,29 episode per anak/tahun di negara
berkembang dan 0,05 episode per anak/tahun di negara maju. Hal ini
menunjukkan bahwa terdapat 156 juta episode baru di dunia per tahun dimana
151 juta episode (96,7%) terjadi di negara berkembang. Kasus terbanyak
terjadi di India (43 juta), China (21 juta), Pakistan (10 juta) dan Bangladesh,
Indonesia, Nigeria masing-masing 6 juta episode. Dari semua kasus yang
terjadi di masyarakat, 7-13% kasus berat memerlukan perawatan rumah sakit
(Dirjen PP & PL, 2017).
ISPA adalah penyakit saluran pernafasan atas atau bawah, biasanya
menular, yang dapat menimbulkan berbagai spektrum penyakit yang berkisar
dari penyakit tanpa gejala atau infeksi ringan sampai penyakit yang parah dan
mematikan, tergantung pada patogen penyebabnya, faktor lingkungan dan
faktor pejamu. ISPA juga didefinisikan sebagai penyakit saluran pernapasan
akut yang disebabkan oleh agen infeksius yang ditularkan dari manusia ke
manusia. Timbulnya gejala biasanya cepat, yaitu dalam waktu beberapa jam
sampai beberapa hari, gejalanya meliputi demam, batuk dan sering juga nyeri
tenggorok, coryza (pilek), sesak napas, mengi, atau kesulitan bernapas.
World Health Organization (WHO) memperkirakan insidensi ISPA di
negara berkembang dengan angka kematian balita di atas 40 per 1000
kelahiran hidup adalah 15%-20% pertahun pada golongan usia balita. Menurut
WHO ± 13 juta anak balita di dunia meninggal setiap tahun dan sebagian
besar kematian tersebut terdapat di negara berkembang dan ISPA merupakan
salah satu penyebab utama kematian dengan membunuh ± 4 juta anak balita
setiap tahun (WHO, 2018).
ISPA disebabkan oleh virus atau bakteri. Penyakit ini diawali dengan
panas disertai salah satu atau lebih gejala: tenggorokan sakit atau nyeri telan,
pilek, batuk kering atau berdahak. ISPA selalu menduduki peringkat pertama
dari 10 penyakit terbanyakdi Indonesia. Period prevalensi ISPA dihitung
dalam kurun waktu 1 bulan terakhir. Lima provinsi dengan ISPA tertinggi
adalah Nusa Tenggara Timur (41,7%), Papua (31,1%), Aceh (30,0%), Nusa
Tenggara Barat (28,3%), dan Jawa Timur (28,3%). Pada Riskesdas 2013,
Nusa Tenggara Timur juga merupakan provinsi tertinggi dengan ISPA. Period
prevalensi ISPA Indonesia menurut Riskesdas 2018 (25,0%) tidak jauh
berbeda dengan 2013 (25,5%) (Riskesdas, 2018).
Berdasarakan data dari Profil Kesehatan Provinsi Bengkulu tahun 2018
angka kejadian ISPA sebanyak 53.505 kasus. Angka ini meningkat dari tahun
sebelumnya sebanyak 49.205 kasus. Begitu juga dengan kasus ISPA di
wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkulu Selatan dari sepuluh
penyakit terbesar di Bengkulu Selatan, penyakit ISPA selalu menduduki
peringkat teratas setiap tahunnya.
Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian ISPA terbagi atas faktor
instrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor instrinsik yaitu meliputi umur, jenis
kelamin, status gizi, berat badan lahir rendah (BBLR), status imunisasi,
pemberian air susu ibu (ASI), dan pemberian vitamin. Faktor ekstrinsik
meliputi kepadatan tempat tinggal, polusi udara, ventilasi, asap rokok,
penggunaan bahan bakar untuk memasak, penggunaan obat nyamuk bakar,
serta factor ibu baik pendidikan, umur, maupun pengetahuan ibu (Depkes,
2015).
Seiring dengan peningkatan kasus ISPA pada anak maka perlunya
pendidikan kesehatan dan cara merawat untuk mengatasi dan mencegah
terjadinya penyakit ISPA. Tindakan mendidik untuk mencegah timbulnya
penyakit yang sering muncul seperti ISPA perlunya melibatkan peran serta
keluarga dalam memberikan perawatan pada anak (Ardiansyah, 2016).
Pertimbangan di atas tersebut, mendorong peneliti untuk melakukan studi
kasus anak dengan masalah ISPA pada keluarga karena penanganan penyakit
yang tepat di rumah oleh keluarga dapat mengurangi tingkat keparahan dan
mengurangi kematian anak akibat ISPA (Kemenkes, 2010).
Pada konsep keluarga terdapat lima tugas kesehatan keluarga adalah yang
pertama mengenal masalah kesehatan keluarga, anggota keluarga perlu
mengenal keadaan kesehatan dan perubahan-perubahan yang dialami anggota
keluarga. Kedua memutuskan tindakan kesehatan apa yang tepat bagi
keluarga. Ketiga merawat anggota keluarga yang mengalami gangguan
kesehatan. Keempat memodifikasi lingkugan keluarga untuk menjamin
kesehatan keluarga. Kelima yaitu dengan memanfaatkan fasilitas kesehatan di
sekitarnya bagi anggota keluarga (Sudiharto, 2013).
Berdasarkan latar belakang di atas penulis tertarik untuk melakukan studi
kasus “Asuhan Keperawatan Keluarga dengan masalah Infeksi Saluran
Pernapasan Akut (ISPA) Pada Tahap Perkembangan anak dengan usia
sekolah”.

B. BATASAN MASALAH
Adapun batasan-batasan masalah dalam proposal karya tulis ilmiah ini
adalah pemberian asuhan keperawatan keluarga dengan masalah infeksi
saluran pernapasan akut pada Tahap Perkembangan anak dengan usia sekolah
tahun 2020 meliputi tahap pengkajian, penegakan diagnosa keperawatan,
perencanaan keperawatan, implementasi keperawatan, dan evaluasi
keperawatan.
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Dilaksanakannya asuhan keperawatan keluarga dengan masalah infeksi
saluran pernapasan akut pada Tahap Perkembangan anak dengan usia
sekolah.
2. Tujuan khusus
a. Dilaksanakannya pengkajian pada keluarga dengan masalah infeksi
saluran pernapasan akut.
b. Ditegakkannya diagnosa keperawatan pada keluarga dengan masalah
infeksi saluran pernapasan akut.
c. Disusunnya perencanaan asuhan keperawatan pada keluarga dengan
masalah infeksi saluran pernapasan akut.
d. Dilaksanakannya implementasi pada keluarga dengan masalah infeksi
saluran pernapasan akut.
e. Dilakukkannya evaluasi hasil asuhan keperawatan pada keluarga
dengan masalah infeksi saluran pernapasan akut.
f. Terdokumentasikannya asuhan keperawatanpadakeluarga dengan
masalah infeksi saluran pernapasan akut

D. Manfaat Penulisan
1. Bagi Penulis
Diharapkan penulis dapat memahami dan menerapkan asuhan
keperwatan keluarga dengan masalah infeksi saluran pernapasan akut.
Menambah pengetahuan dan pengalaman dalam penerapan asuhan
keperawatan keluarga. Menambah keterampilan dalam memberikan
asuhan keperawatan keluarga.
2. Bagi institusi pendidikan
Sebagai sumber bacaan atau referensi untuk meningkatkan kualitas
pendidikan keperawatan. Sebagai bahan acuan untuk dapat melakukan
penyuluhan pemberian informasi pada masyarakat tentang penyakit
infeksi saluran pernapasan akut.
3. Bagi klien dan keluarga
Bahan masukan bagi klien dalam menghadapi permasalahanya.
Menambah pengetahuan keluarga tentang penyakit, pencegahan dan
menurunkan resiko komplikasi