Anda di halaman 1dari 10

PENTINGNYA MANAJEMEN DISASTER LIMBAH BERACUN BEBAHAYA DALAM

MEMINIMALISIR EFEK NEGATIF YANG DITIMBULKAN DARI PROSES


PEMBANGUNAN DAN INDUSTRI DI INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang

Kesadaran akan pentingnya upaya pengurangan risiko bencana telah mulai muncul pada
dekade 1990-1999 yang dicanangkan sebagai Dekade Pengurangan Risiko Bencana Internasional.
Upaya untuk mengurangi risiko bencana secara sistematik membutuhkan pemahaman dan komitmen
bersama dari semua pihak terkait terutama para pembuat keputusan (decision makers). Dewan
Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam Resolusi Nomor 63 tahun 1999
menyerukan kepada Pemerintah di setiap negara untuk menyusun dan melaksanakan Rencana Aksi
Pengurangan Risiko Bencana Nasional untuk mendukung dan menjamin tercapainya tujuan dan
sasaran pembangunan berkelanjutan. Indonesia sebagai Negara yang memiliki banyak wilayah yang
rawan bencana dan masih dalam proses pembangunan serta sedang menggiatkan kegiatan industri
yang bertujuan meningkatkan taraf ekonomi rakyat. Tentunya menimbulkan efek negatif dari
kegiatan pembangunan tersebut. Masalah limbah beracun berbahaya yang masih belum tertangani
dengan baik membawa dampak destruktif bagi sosial masyarakat dan lingkungan hidup yang pada
akhirnya menimbulkan bencana yang mengerikan bagi kehidupan manusia dan alam.

Sejarah telah mencatat betapa mengerikan Kasus Minamata tahun 1956 yang mengakibatkan
korban manusia yang tidak sedikit disebabkan pembuangan limbah Air Raksa / Merkuri yang
dihasilkan oleh kegiatan industri pupuk urea “Chisso Co Ltd”. Teluk Minamata yang menjadi
sumber kehidupan nelayan dan penduduk sekitartelah berubah menjadi monster yang menakutkan
selain dampaknya merusak ekologi dan ekosistem di teluk tersebut juga membuat banyaknya
berjatuhan korban jiwa dan cacat fisik.

Selain kasus Minamata yang terjadi diluar negeri tersebut tidak menutup kemungkinan hal
tersebut terjadi di Indonesia seperti Kasus Buyat dimana logam – logam berat ( merkuri ) yang
dihasikan dari pembuangan limbah penambangan emas milik PT Newmont Minahasa Raya membuat
seorang penduduk yang bernama Andini Lenzun di Desa Ratatotok Timur , Pantai Buyat Minahasa
Selatan Sulawesi Utara terkena penyakit yang mememiliki ciri yang sama pada Kasus Minamata.
Selain itu pula Sungai Citarum yang berada di Jawa Barat telah mengalami pencemaran yang
dilakukan oleh 217 industri yang berada disepanjang aliran Sungai Citarum. Setiap hari sekitar 1.320
Liter per detik atau setara 270 Ton perhari limbah dibuang ke sungai tersebut sehingga warna sungai
yang dulunya bening pada saat ini telah terlihat hitam dengan bau busuk yang menyengat.

Masyarakat menduduki tempat penting dalam penanggulangan bencana limbah beracun


berbahaya karena masyarakat merupakan subyek, obyek sekaligus sasaran utama upaya pengurangan
resiko bencana. Sebagai subyek masyarakat diharapkan dapat aktif mengakses saluran informasi
formal dan non-formal, sehingga upaya pengurangan risiko bencana secara langsung dapat
melibatkan masyarakat. Pemerintah bertugas mempersiapkan sarana, prasarana dan sumber daya
yang memadai sebagai bentuk memanajemen bencana yang ditimbulkan seperti yang terjadi
paragraph diatas. Dalam rangka menunjang dan memperkuat daya dukung setempat, sejauh
memungkinkan upaya-upaya pengurangan risiko bencana akan menggunakan dan memberdayakan
sumber daya setempat termasuk sumber dana, sumber daya alam, ketrampilan, proses-proses
ekonomi dan sosial masyarakat.

2. Maksud dan Tujuan

a. Maksud

Maksud dari pembuatan makalah ini untuk menyelesaikan tugas yang diberikan dosen
juga menjadi informasi bagi pembaca untuk mengetahui program prioritas yang bersifat lintas
sektor dan lintas wilayah dalam memanage disaster / bencana yang ditimbulkan dari limbah
industri dan proses pembangunan.

b. Tujuan

Tujuan makalah ini pula yaitu untuk mendiskripsikan kebijakan dan pengawasan yang
dilakukan oleh pemerintah dalam pelaksanaan kegiatan pengurangan risiko bencana pada
umumnya dan bencana limbah kimia pada khususnya, sehingga kegiatan pembangunan dapat
berkelanjutan, terarah dan terpadu.

3. Ruang Lingkup

Manajemen Bencana mengakomodasikan kepentingan dan tanggung jawab semua pemangku


kepentingan terkait dan disusun melalui proses koordinasi dan partisipasi . Disaster Manajemen
merupakan landasan, prioritas, aksi serta mekanisme pelaksanaan dan kelembagaan penanganan
bencana khususnya yang ditimbulkan oleh limbah industri dari proses pembangunan dan industri.
4. Permasalahan

Dalam hal penanggulangan bencana, kita memiliki Badan Koordinasi Nasional


Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (Bakornas PBP) yang dibentuk berdasarkan
Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 3 Tahun 2001. Di tingkat Provinsi dibentuk Satuan
Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi yang disingkat
Satkorlak PBP. Di tingkat Kabupaten/Kota dibentuk Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana dan
Penanganan Pengungsi yang disingkat Satlak PBP. Walaupun tugas dan fungsi dari Bakornas,
Satkorlak dan Satlak PBP ini telah jelas diuraikan dalam Keppres tersebut, namun faktanya ketika
terjadi bencana terlihat institusi ini sering "kedodoran". Dirasakan selama ini, pemahaman terhadap
manajemen bencana memang semakin luntur, karena dianggap bukan prioritas dan bencana hanya
datang sewaktu-waktu saja. Dapat dipastikan pemahaman dasar tentang manajemen bencana tidak
dikuasai atau tidak dimengerti oleh banyak kalangan baik birokrat, masyarakat, maupun swasta.

Penanganan bencana selama ini dapat dikatakan "bagaimana nanti saja". Padahal negara kita
adalah negara yang memiliki ancaman bahaya bencana lingkungan hidup yang disebabkan oleh
limbah kimia industri yang berbahaya bagi alam dan manusia dengan klasifikasi sangat bervariasi
dan sangat berat. Suatu ketika bila terjadi bencana dan menelan korban jiwa dan lingkungan hidup ,
kita selalu terkaget-kaget dan mengatakan kecolongan. Pengalaman telah terbukti bencana bahwa
kerusakan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh pengelolaan limbah industri yang menyalahi
prosedur standar tidak menutup kemungkinan akan terjadi seperti di Teluk Minamata Jepang dan
Teluk Buyat Sulawesi Utara .

Melihat kenyataan dan akibat yang ditimbulkan diatas dapat diambil beberapa pokok
permasalahan yang akan penulis coba bahas antara lain :
a. Bagaimana faktor – faktor penyebab bencana lingkungan hidup yang disebabkan oleh
limbah berbahaya beracun yang dihasilkan dari industri dan proses pembangunan di
Indonesia ?
b. Bagaimana kegiatan/aksi yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah pusat dan pemerintah
daerah dalam mengendalikan dan mengurangi resiko bencana yang disebabkan oleh limbah
berbahaya beracun yang dihasilkan dari industri dan proses pembangunan di Indonesia ?
BAB II
PEMBAHASAN
4. Faktor – faktor yang Menyebabkan

Pada umumnya bencana yang disebabkan oleh limbah beracun berbahaya dapat disebabkan
oleh ulah manusia (man-made disaster). Faktor-faktor yang dapat menyebabkan bencana antara
lain:
a. Penurunan kualitas lingkungan (environmental degradation) yang disebabkan oleh proses
pembangunan yang tidak memperhatikan / tidak berwawasan lingkungan ataupun tidak
menggunakan AMDAL dalam pengelolaan limbah hasil kegiatan industri.

b. Kerentanan (vulnerability) yang tinggi dari masyarakat, infrastruktur serta elemen-elemen di


dalam kota/ kawasan industri yang berisiko bencana terhadap lingkungan hidup

Meskipun pembangunan di Indonesia telah dirancang dan didesain sedemikian rupa dengan
memperhatikan dampak potensi kerusakan lingkungan yang minimal, namun proses pembangunan
tetap menimbulkan dampak kerusakan lingkungan dan ekosistem. Pembangunan yang selama ini
bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam (terutama dalam skala besar) menyebabkan
hilangnya daya dukung sumber daya lingkungan ini terhadap kehidupan masyarakat. Dari tahun ke
tahun sumber daya lingkungan hidup di Indonesia semakin berkurangdisebabkan kegiatan industri
yang mengakibatkan kerusakan ekosistem yang secara fisik dan psikis menyebabkan peningkatan
risiko bencana baik di lingkungan makro maupun di lingkungan mikro terhadap dimana manusia
tinggal disekitarnya.

Pada sisi lain laju pembangunan mengakibatkan peningkatan akses masyarakat terhadap ilmu
dan teknologi. Namun, karena kurang tepatnya kebijakan penerapan teknologi, sering terjadi
kegagalan teknologi yang berakibat fatal seperti tidak tertatanya sistem pengelolaan limbah
industri yang pada akhirnya terjadinya wabah penyakit dikarenakan kontaminasi manusia dengan
zat kimia disekitar lokasi pembuangan limbah. Limbah kimia yang dihasilkan dari siklus kegiatan
industridan pembangunan dapat berupa zat padat, zat cair maupun berupa gas.

Limbah kimia yang dihasilkan dari proses pengelolaan limbah yang buruk sedikit demi
sedikit akan bertambah pada suatu komunitas makhluk hidup yang ada di lingkungan tersebut.
Seperti pada sungai / laut yang tercemar oleh limbah merkuri pada ikan tentunya racun limbah
tersebut akan terakumulasi dan apabila dikonsumsi oleh manusia akan masuk dalam tubuh dan
terakumulasi sehingga merusak paru-paru dan ginjal.
Gagalnya sebuah sistem teknologi yang mengakibatkan terjadinya malapetaka teknologi
(technological disaster) selalu bersumber pada kesalahan sistem (system error) yang bersumber
pada desain sistem yang tidak sesuai dengan kondisi di mana sistem itu bekerja. Hal ini terjadi
karena perancangan sistem yang gagal mempertemukan system teknis dan sistem sosial. Hal yang
demikian sering terjadi di Indonesia dan menjadi bencana yang mengakibatkan kerugian jiwa
seperti kecelakaan industri yang mengakibatkan kebocoran gas, keracunan dan pencemaran
lingkungan.

Kemudian dari faktor – faktor yang menyebabkan tersebut diatas selain “man made” yang
dilakukan oleh pihak industry juga disebabkan kurang ketatnya pengawasan yang dilakukan oleh
pemerintah terutama dalam pengawasan pelaksanaan AMDAL yang dimiliki oleh pemilik pabrik.
Otoritas badan pemerintah yang mengurusi lingkungan hidup seperti BAPPEDA kurang efektif
menjalankan tugasnya dalam melakukan upaya pre- emtif dan preventif, ironisnya setelah
pencemaran tersebut telah memakan korban baru kemudian mau bertindak sehingga terkesan
Management Disaster masalah pencemaran limbah yang dilakukan pemerintah terkesan seperti
pemadam kebakaran.

Fungsi Manajemen Bencana pada saat ini belum bersifat kesemestaan, belum melibatkan
semua pihak, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat. Tidak cukup hanya mengandalkan
kemampuan pemerintah saja. Pemerintah memiliki keterbatasan-keterbatasan. Sikap apatis dari
masyarakat masih tetap berperan dalam pembiaran munculnya bencana lingkungan hidup yang
disebabkan oleh limbah berbahaya. Problem Manajemen Disaster masih dianggap oleh sebagian
besar masyarakat merupakan milik pemerintah padahal dalam menghadapi kondisi tersebut semua
pihak harus mampu menjadi pelaku yang setara, semua harus berperan utama, bukan hanya
berperan serta.

Sasaran implementasinya adalah masyarakat mengetahui ancaman bahaya di lingkungan


masing-masing, masyarakat mampu menolong dirinya sendiri dengan tentunya menggunakan
prinsip kebersamaan dan menggunakan sumber daya yang dimilikinya secara maksimal . Jadi back
to basic pelaksanaan manajemen bencana yang berhubungan dengan Lingkungan Hidup yang
tercemar limbah kimia berbahaya adalah " Habluminallah, Habluminannas, Habluminalam".
5. Menghilangkan Faktor Penyebab Kerentanan (vulnerability)

Banyak pihak telah mencoba menyusun siklus manajemen dengan maksud dan tujuan agar
mudah dipahami dan mudah diaplikasikan terutama oleh masyarakat umum. Sebagai contoh pihak
United Nation Development Program (UNDP) dalam program pelatihan manajemen bencana yang
diselenggarakan tahun 1995 dan 2003, menyusun siklus manajemen bencana dalam versi cukup
sederhana. UNDP membagi manajemen bencana menjadi empat tahapan besar. Tahap pertama
kesiapsiagaan (perencanaan siaga, peringatan dini), tahap kedua tanggap darurat (kajian darurat,
rencana operasional, bantuan darurat), tahap ketiga pasca darurat (pemulihan, rehabilitasi,
penuntasan, pembangunan kembali), tahap keempat pencegahan dan mitigasi atau penjinakan.

Pengalaman menunjukkan, dari keempat tahap tersebut justru tahap kedua yaitu tahap
tanggap darurat yang selalu penuh "hiruk pikuk" tetapi koordinasinya sangat lemah. Hal ini
membuktikan bahwa manakala bencana itu terjadi, penanganan bencana selalu dilakukan dalam
suasana kepanikan dan kebingungan. Pada saat tanggap darurat ini nampak ada yang terkaget-
kaget dan merasa kecolongan, ada yang serius, ada yang menjadi "seksi repot", ada yang hanya
menonton saja, bahkan ada yang berpura-pura minta sumbangan tetapi untuk kepentingan pribadi.

Pada tahap ketiga, yaitu pasca darurat, nuansa rehabilitasi dan rekonstruksi mulai berbau
"projek", banyak pihak yang mencari kesempatan dalam kesempitan. Pada tahap keempat, yaitu
pencegahan dan mitigasi, semua pihak mulai melupakan peristiwa bencana yang lalu, hampir
semua tidak peduli lagi harus berbuat apa. Kembali ke tahap pertama, yaitu kesiapsiagaan, bisa
dipastikan semua pihak tidak siap dan tidak siaga, dan bila terjadi bencana, kembali kecolongan,
terkaget-kaget dan panik. Padahal penanganan keempat tahap sejak kesiapsiagaan, tanggap
darurat, pasca darurat, pencegahan dan mitigasi masing-masing memiliki bobot keseriusan yang
sama.

Kelompok masyarakat sebagai pelaku utama manajemen bencana ini harus dapat diupayakan
dari tingkat yang paling kecil yaitu kelompok Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), dusun,
kampung, sampai kelompok yang lebih besar yaitu desa atau kelurahan, kecamatan, bahkan kota
atau kabupaten dimana kegiatan industri tersebut berada. Terus terang, walaupun nantinya undang-
undang kebencanaan ini telah terbit, namun masih perlu adanya prasyarat agar manajemen
bencana berbasis masyarakat ini dapat terealisasi. Prasyarat ini antara lain adanya tokoh penggerak
(dari aktivis atau tokoh setempat), konsep yang jelas, objek aktivitas yang jelas, kohesivitas
masyarakat setempat, bahasa komunikasi kerakyatan yang tepat berbasis kearifan budaya
setempat, dan jaringan informasi yang mudah diakses setiap saat.

Bahan untuk sosialisasi dan pelatihan manajemen kebencanaan lingkungan hidup berbasis
masyarakat ini telah banyak disusun oleh pihak-pihak yang peduli, bentuknya bermacam-macam,
sangat bervariasi. Pada dasarnya kita harus menciptakan bahan sosialisasi dengan bahasa rakyat,
yang mudah dimengerti dan mudah diaplikasikan oleh masyarakat dalam melakukan tahap-tahap
kesiapsiagaan, tanggap darurat, pasca bencana, mitigasi dan pencegahan. Bentuk bahan sosialisasi
berupa daftar pertanyaan atau matrik isian, misalnya, matrik analisis risiko bencana limbah
industri, matrik mengenal ancaman bahaya di lingkungan sekitar kita, matrik mengenal kerentanan
dan kapasitas kemampuan lingkungan terhadap limbah kimia dan proses industri , matrik rencana
operasional dengan kerangka logis setempat. Pengisian daftar pertanyaan atau matrik isian dapat
dilakukan pada saat pelatihan atau lokakarya penanggulangan bahaya limbah kimiawi di setiap RT
atau RW atau desa dimana kegiatan industri tersebut beraktifitas.

Tidak kalah pentingnya adalah pelaksanaan gladi berdasar skenario seolah-olah terjadi
bencana. Gladi ini harus merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh masing-masing
kelompok masyarakat. Lokakarya dan gladi ini adalah bentuk lain dari fungsi kontrol dalam
manajemen bencana berbasis masyarakat. Sering gladi ini tidak serius diikuti oleh berbagai pihak,
padahal gladi adalah bagian penting yang harus diikuti oleh segenap anggota masyarakat agar bila
terjadi bencana maka situasi dapat diatasi tanpa kepanikan. Bagaimanapun juga, gladi tetap harus
dilakukan dengan serius demi keselamatan diri dan semua pihak di kala bencana sebenarnya
datang secara tiba-tiba.

6. Prioritas Penanggulangan Resiko Bencana Limbah Kimia

Pengurangan risiko bencana Limbah Kimia di Indonesia dilakukan dengan


mempertimbangkan aspek berkelanjutan dan partisipasi dari semua pihak terkait. Upaya ini
dilakukan dengan komitmen yang kuat dengan mengedepankan tindakan-tindakan yang harus
diprioritaskan. Penyusunan prioritas ini perlu dilakukan untuk membangun dasar yang kuat dalam
melaksanakan upaya pengurangan risiko bencana Limbah Kimia yang berkelanjutan serta
mengakomodasikan kesepakatan internasional dan regional dalam rangka mewujudkan upaya
bersama yang terpadu.

Lima prioritas pengurangan resiko bencana Limbah Kimia beracun berbahaya yang dilakukan
adalah:

a. Meletakkan pengurangan resiko bencana limbah kimia sebagai sasaran prioritas nasional
maupun daerah yang pelaksanaannya harus didukung oleh kelembagaan yang kuat dalam
merevitalisasi lingkungan yang tercemar limbah.
b. Mengidentifikasi, mengkaji dan memantau risiko bencana limbah kimia serta menerapkan
sistem peringatan dini sebelum kerusakan lingkungan akibat limbah tersebut memba
-hayakan kehidupan manusia

c. Memanfaatkan pengetahuan, inovasi dan pendidikan untuk membangun kesadaran


keselamatan diri dan ketahanan terhadap bencana limbah kimia pada semua tingkatan
masyarakat mulai dari tingkat nasional sampai dengan lingkungan masyarakat yang terkecil

d. Mengurangi faktor-faktor penyebab risiko bencana limbah yang dihasilkan industri dengan
menerapkan, mengawasi dan mengontrol pelaksanaan AMDAL perusahaan.

e. Memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana limbah kimia pada semua tingkatan


masyarakat agar respons yang dilakukan lebih efektif.

Sebagai penerjemahan dari pergeseran paradigma ke arah perlindungan terhadap masyarakat


yang berada disekitar rawan bencana limbah kimia yang dihasilkan industri sebagai bagian dari
pemenuhan hak dasar rakyat, pengurangan risiko bencana limbah kimia industri harus mempunyai
karakteristik sebagai berikut :

a. Menghargai hak untuk hidup dan kehidupan yang bermartabat dan pemerintah bertanggung
jawab memastikan perlindungan dari risiko bencana limbah kimia berbahaya yang sejatinya
terhindarkan.

b . Bertujuan mengurangi faktor-faktor penyebab risiko bencana limbah kimia berbahaya dari
proses-proses pembangunan dan aktifitas industri yang tidak berkelanjutan yang dapat
memperburuk perubahan ketersediaaan daya dukung lingkungan hidup

c. Akuntabel kepada masyarakat berisiko dan atau terkena bencana limbah kimia berbahaya
serta didorong untuk meningkatkan partisipasi, equiti dan keadilan serta dilaksanakan
dengan perspektif kebersamaan

Untuk menjaga akuntabilitas pengurangan risiko bencana limbah kimia hasil kegiatan
industri dalam kebijakan pembangunan, akan dikembangkan indikator pencapaian yang terukur
dan masyarakat sipil akan dilibatkan dalam melakukan pengawasan melalui mekanisme
pemantauan perkembangan tingkat pencemaran lingkungan hidup di semua tataran, mulai dari
pusat sampai ke desa. Tingkat efisiensi dan keberhasilan pelaksanaan pengurangan resiko bencana
limbah kimia berbahaya di Indonesia dapat diukur dari indikator-indikator berikut :

a. Peningkatan jumlah jiwa yang selamat pada kejadian bencana

b. Penurunan jumlah korban yang terluka/cedera akibat bencana

c. Penurunan signifikan persentase masyarakat yang terkena dampak kejadian bencana

d. Persentase jumlah penduduk korban bencana yang dapat dihitung pada waktu tertentu
setelah bencana

e. Kapasitas penanganan tanggap darurat

Komitmen seluruh instansi pemerintah, swasta ( pemilik pabrik ) dan pemangku


kepentingan terkait merupakan suatu hal yang mutlak dibangun dan dibina dalam pelaksanaan
upaya pengurangan risiko bencana limbah kimia. Manajemen penanganan bencana lingkungan
hidup yang disebabkan limbah kimia berbahaya dapat berlanjut berdasarkan prioritas kebutuhan
penanganan bencana dan sesuai kebijakan pemerintah. Diharapkan kegiatan ini akan selalu bisa
diperbarui sesuai dengan perkembangan kebencanaan di Indonesia sampai di tingkat lokal.

BAB III
PENUTUP
7. Kesimpulan dan saran

Seperti yang telah dijelaskan secara panjang lebar diatas dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut bahwasanya bencana yang disebabkan oleh kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh
kontaminasi lingkungan hidup dengan limbah industri umumnya terjadi oleh karena ulah manusia
yang seharusnya bertanggungjawab mengelola limbahnya. Gagalnya sebuah system teknologi
yang dimiliki oleh perusahaan dalam mengolah limbah kimia berbahayanya mengakibatkan
malapetaka teknologi yang menyebabkan kerugian korban jiwa dan penurunan kualitas lingkungan
hidup.

Pemerintah sebenarnya telah menyusun siklus manajemen penanggulangan bencana namun


hal tersebut belum berjalan maksimal karena cenderung bersifat temporer dan sporadis karena
setelah adanya bencana yang disebabkan oleh limbah kimia industri telah memakan korban
barulah pemerintah mau bertindak padahal sebenarnya hal tersebut dapat dicegah kejadiannya bila
pemerintah dapat melakukan pengawasan pelaksanaan AMDAL yang dilakukan perusahaan.

Untuk dapat menghindari kesan / opini yang telah berkembang diatas pemerintah pusat
sampai dengan daerah melakukan upaya positif dengan menerapkan manajemen bencana
( Disaster Management ) yang berjenjang dan berkelanjutan dengan melibatkan seluruh strata
kehidupan masyarakat terutama yang tinggal disekitar lingkungan pabrik yang beraktifitas baik
dalam lingkungan makro maupun lingkungan mikro dengan menerapkan lima prioritas
pengurangan resiko bencana limbah kimia beracun berbahaya seperti yang telah disampaikan
diatas selain itu pula usaha bersama yang dilakukan untuk mengurangi resiko bencana tersebut
perlu dijaga akuntabilitasnya dan membuat parameter terukur dengan menyusun indikator-
indikatornya.

8. Penutup

Demikian Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas yang dberikan oleh Dosen Mata
Kuliah Administrasi Pemerintahan, penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna
maka penulis meminta koreksi, saran dan kritik yang membangun dari para dosen dan pembaca
demi lebih baiknya makalah ini kedepan.