Anda di halaman 1dari 59

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah profesi bagi pegawai negeri
dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang bekerja pada
instansi pemerintah. Undang-Undang No.5 Tahun 2014 Pasal 63 ayat
(3) dan ayat (4) tentang Aparatur Sipil Negara menerangkan bahwa
Instansi Pemerintah untuk wajib memberikan Pendidikan dan
Pelatihan terintegrasi bagi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) selama
satu tahun masa percobaan. Merujuk Peraturan Pemerintah Nomor 11
Tahun 2017 tentang Manajemen PNS, PNS wajib menjalani masa
percobaan yang dilaksanakan untuk membangun moral, kejujuran,
semangat nasionalisme dan kebangsaan, karakter kepribadian yang
unggul dan bertanggung jawab, dan memperkuat profesionalisme
serta kompetensi bidang.
Karakter PNS profesional dibentuk dari sikap dan perilaku
disiplin PNS, nilai-nilai dasar profesi PNS, dan pengetahuan tentang
kedudukan dan peran PNS dalam NKRI serta mengusai tugasnya
sehingga mampu melaksanakan tugas dan perannya secara
profesional sebagai pelayan publik. Untuk merealisasikan hal tersebut,
diperlukan sebuah penyelenggaraan pelatihan yang inovatif dan
terintegrasi.
Peraturan Lembaga Administrasi Negara (LAN) Nomor 12 Tahun
2018 tentang Pedoman Penyelenggaraan Latihan Dasar Golongan III
mengatur penyelenggaraan pelatihan yang memadukan pembelajaran
klasikal dan non-klasikal di tempat pelatihan dan di tempat kerja.
Sehingga, memungkinkan peserta mampu menginternalisasi,
menerapkan, dan mengaktualisasikan, serta membuatnya menjadi
kebiasaan (habituasi), dan merasakan manfaatnya, sehingga terpatri
dalam dirinya sebagai karakter PNS yang profesional sesuai bidang
tugas.

1
Agenda habituasi memfasilitasi peserta untuk melakukan proses
aktualisasi melalui pembiasaan diri terhadap kompetensi yang telah
diperoleh melalui mata diklat yang telah dipelajari. Aktualisasi tersebut
disesuaikan dengan nilai dasar ANEKA dan mata diklat lain, tugas
pokok dan fungsi serta visi dan misi unit kerja, kegiatan yang sehari-
hari dilakukan di unit kerja, modifikasi agar terjadi peningkatan kualitas
pelayanan dan dapat juga berupa inovasi yang sebelumnya belum
pernah dilakukan.
UPTD Puskesmas Doro II merupakan fasilitas kesehatan tingkat
pertama yang melayani masyarakat sekitar mulai dari pelayanan
promotif, preventif, kuratif hingga rehabilitatif. Untuk mewujudkan visi
misi UPTD Puskesmas Doro II diperlukan suatu sistem pengelolaan
sumber daya yang efektif, efisien dan bermutu. Dokter sebagai
petugas kesehatan ikut berperan penting dalam meningkatkan
kualitas UPTD Puskesmas Doro II. Selain memberikan pelayanan
kesehatan yang komprehensif dan berkesinambungan terhadap
masyarakat, dokter juga merupakan penanggungjawab pelayanan
puskesmas di bidang Upaya Kesehatan Perseorangan (UKP). Dengan
kata lain, dokter berperan penting dalam mengendalikan sistem
pelayanan internal puskesmas.
Pelayanan kesehatan membutuhkan pengelolaan yang kompleks
dan kerjasama semua tim internal maupun eksternal puskesmas.
Sumber Daya Manusia (SDM) berhubungan dengan kualitas
pelayanan. Minimnya jumlah SDM UPTD Puskesmas Doro II
menyebabkan belum optimalnya kualitas pelayanan dan penemuan
kasus dilakukan secara pasif saja. Selain itu, cakupan wilayah UPTD
Puskesmas Doro II yang luas dan akses transportasi yang buruk
merupakan salah satu kendala dalam memberikan pelayanan
kesehatan.
Terkait itu, timbul beberapa permasalahan di UPTD Puskesmas
Doro II yaitu rendahnya cakupan penemuan Orang Terduga
Tuberkulosis di Wilayah UPTD Puskesmas Doro II, belum optimalnya

2
pelayanan kesehatan umum di UPTD Puskesmas Doro II, masih
tingginya prevalensi Hipertensi di UPTD Puskesmas Doro II,
peningkatan prevalensi Demam Berdarah Dengue (DBD) di Wilayah
UPTD Puskesmas Doro II dan belum optimalnya pelayanan
puskesmas keliling di wilayah UPTD Puskesmas Doro II. Sehingga
harus dilakukan identifikasi, analisa dan kemampuan berpikir kreatif
untuk menciptakan suatu sistem pengelolaan pelayanan kesehatan
yang efektif dan efisien.

B. Identifikasi Isu, Dampak Jika Isu Tidak Diselesaikan, Dan


Rumusan Masalah
1. Identifikasi Isu, Dampak jika Isu Tidak Diselesaikan
Rancangan Aktualisasi disusun bedasarkan beberapa isu yang
ditemukan di Instansi tempat bekerja. Isu-isu tersebut menjadi
rancangan dasar aktualisasi yang bersumber pada Agenda Ketiga
Pelatihan Dasar CPNS yaitu Whole Of Goverment (WOG),
Manajemen ASN dan Layanan Publik. Isu tersebut ditampilkan
pada Tabel 1.1.

Tabel 1.1. Identifikasi Isu dikaitkan dengan Agenda Ketiga Pelatihan Dasar
CPNS.

N Sumber Kondisi yang


Identifikasi Isu Kondisi Saat Ini
o Isu Diharapkan
1. Rendahnya Pelayanan Belum optimalnya Upaya penemuan
cakupan publik, upaya penemuan Orang Terduga
penemuan Orang Whole Of Orang Terduga TB TB dilaksanakan
Terduga Goverment baik secara pasif secara pasif
Tuberkulosis (TB) ( penemuan di maupun aktif
di Wilayah UPTD Puskesmas) maupun sesuai standar
Puskesmas Doro aktif (penemuan oleh mutu pelayanan.
II Masyarakat).

2. Belum optimalnya Pelayanan Pasien dengan Tersedianya Alat


pelayanan publik keluhan sakit telinga pemeriksaan
kesehatan umum tertentu dirujuk ke telingan
di UPTD faskes lanjutan untuk (Otoskop* dan
Puskesmas Doro mendapatkan THT set**) di
II tindakan, karena Pelayanan
tidak tersedia alat Kesehatan Umum
pemeriksaan.

3
N Sumber Kondisi yang
Identifikasi Isu Kondisi Saat Ini
o Isu Diharapkan
3. Belum optimalnya Pelayanan Sistem pelayanan Tersedianya SDM
pelayanan Publik, pusling yang belum yang kompeten,
Puskesmas Whole Of efektif efisien. sarana prasarana
Keliling (Pusling) Goverment Belum tersedianya yang mendukung
di wilayah UPTD , pemeriksaan penegakan
Puskesmas Doro Manajeme laboratorium dasar diagnosis dan
II. n ASN (kadar Gula darah, sistem pelayanan
asam urat, yang efektif
kolesterol,dan efisien.
Hemoglobin) saat
kegiatan pusling.

4. Meningkatnya Pelayanan Masyarakat belum Masyarakat dapat


prevalensi publik, menerapkan perilaku mencegah
Demam Berdarah Whole Of Pemberantasan penularan DBD
Dengue (DBD) di Goverment Sarang Nyamuk secara aktif
Wilayah UPTD (PSN) secara aktif. dengan cara
Puskesmas Doro menerapkan
II pada Bulan perilaku PSN.
April 2019

5. Masih tingginya Pelayanan Belum ada Pasien Hipertensi


prevalensi publik perubahan yang memahami
Hipertensi di signifikan terhadap pentingnya
UPTD hasil pengelolaan perubahan gaya
Puskesmas Doro pasien dengan hidup dan minum
II Hipertensi obat rutin,
sehingga dapat
dicapai tekanan
darah yang stabil.

*otoskop: alat pemeriksaan telinga


**THT set: alat-alat medis untuk melakukan pemeriksaan dan tindakan di telinga
(Sumber: data dielaborasi penulis, 2019)

a. Analisis Kriteria Isu Menggunakan Analisis APKL (Aktual,


Problematik, Kekhalayakan dan Layak)
Analisis isu bertujuan untuk menetapkan kualitas isu dan
menentukan prioritas isu yang perlu diangkat untuk diselesaikan
melalui gagasan kegiatan yang dilakukan. Analisis isu dilakukan
dengan pendekatan APKL (Aktual, Problematik, Kekhalayakan
dan Layak) yaitu memperhatikan tingkat aktual, problematik,
kekhalayakan dan layak dari isu-isu yang ditemukan di
lingkungan unit kerja. Setelah diperoleh analisis APKL, maka

4
dipilih isu yang menjadi prioritas utama yang selanjutnya akan
diidentifikasi.
Berikut ini beberapa isu yang ada di UPTD Puskesmas
Doro II, yang akan ditentukan kelayakannya menggunakan
metode APKL (Tabel 1.2).

Tabel 1.2. Penetapan Isu dengan Metode APKL

Kriteria Keterangan
No Identifikasi Isu
A P K L
1. Rendahnya cakupan + + + + Memenuhi syarat
penemuan Orang
Terduga Tuberkulosis di
Wilayah UPTD
Puskesmas Doro II.

2. Belum optimalnya + + - + Tidak Memenuhi


pelayanan kesehatan syarat
umum di UPTD
Puskesmas Doro II.

3. Belum optimalnya + + + + Memenuhi syarat


pelayanan Puskesmas
Keliling (Pusling) di
wilayah UPTD
Puskesmas Doro II.

4. Meningkatnya prevalensi + + + + Memenuhi syarat


Demam Berdarah Dengue
(DBD) di Wilayah UPTD
Puskesmas Doro II pada
Bulan April 2019.

5. Masih tingginya + + - - Tidak Memenuhi


prevalensi Hipertensi di syarat
UPTD Puskesmas Doro
II.

(Sumber: data dielaborasi penulis, 2019)

b. Analisis Prioritas Isu Menggunakan USG (Urgency,


Seriousness, dan Growth )
Bedasarkan analisis APKL seperti tabel diatas, terdapat tiga
isi utama yang memenuhi syarat, diantaranya :
1. Rendahnya cakupan penemuan Orang Terduga Tuberkulosis
di Wilayah UPTD Puskesmas Doro II.

5
2. Belum Optimalnya Pelayanan Puskesmas Keliling di Wilayah
UPTD Puskesmas Doro II.
3. Meningkatnya Prevalensi Demam Berdarah Dengue (DBD) di
Wilayah UPTD Puskesmas Doro II pada Bulan April 2019.

Dari analisis APKL didapatkan isu yang memenuhi kriteria,


isu-isu tersebut dianalisis lebih lanjut dengan mengunakan
analisis data USG (Urgency, Seriousness, Growth). Analisis
USG digunakan untuk menentukan prioritas isu melalui tingkat
kegawatan, keseriusan dan pertumbuhan suatu isu tersebut.
Untuk parameter dalam menentukan prioritas USG mengunakan
skala likert. Hasil analisis USG terkait isu-isu di UPTD
Puskesmas Doro II disajikan dalam Tabel 1.3.

Tabel 1.3. Analisis Isu dengan Metode USG

Kriteria Total Peringkat


No Isu
U S G
1. Rendahnya cakupan 5 4 5 14 1
penemuan Orang Terduga
Tuberkulosis di Wilayah UPTD
Puskesmas Doro II.

2. Belum Optimalnya Pelayanan 4 3 2 9 3


Puskesmas Keliling di Wilayah
UPTD Puskesmas Doro II.

3 Meningkatnya Prevalensi 5 3 4 12 2
Demam Berdarah Dengue
(DBD) di Wilayah UPTD
Puskesmas Doro II pada
Bulan April 2019.

(Sumber: data dielaborasi penulis, 2019)

Bedasarkan tabel penetapan Isu USG tersebut, Isu mengenai


“Rendahnya Cakupan Penemuan Orang Terduga
Tuberkulosis di Wilayah UPTD Puskesmas Doro II” layak
untuk diselesaikan dengan skor 14.

6
2. Dampak Isu Jika Tidak Terselesaikan
Dampak dari isu terpilih apabila tidak dilaksanakan tersaji
dalam Tabel 1.4.

Tabel 1.4. Dampak Isu Jika Tidak Terselesaikan

Sumber Isu Identifikasi Isu Dampak


Pelayanan Rendahnya cakupan 1. Tidak terkendalinya penyebaran
Publik, Whole penemuan Orang Tuberkulosis dan berisiko menjadi
of Goverment Terduga Tuberkulosis kebal/ resisten terhadap obat.
di Wilayah UPTD 2. Meningkatnya angka kesakitan
Puskesmas Doro II akibat Tuberkulosis.
3. Penderita Tuberkulosis tidak
mendapatkan penatalaksanaan
sesuai standar.
4. Kematian akibat komplikasi
Tuberkulosis.

(Sumber: Data dielaborasi penulis, 2019)

3. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka selanjutnya akan
dituliskan rumusan masalah dalam rancangan aktualisasi ini.
Setelah melalui tahap analisis dengan metode USG, maka dapat
diidentifikasi isu yang menjadi prioritas, yaitu Rendahnya Cakupan
Penemuan Orang Terduga Tuberkulosis di Wilayah UPTD
Puskesmas Doro II. Berdasarkan latar belakang dan hasil
identifikasi isu yang telah diperoleh, maka rumusan masalah
rancangan aktualisasi ini adalah sebagai berikut: Bagaimana
upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan cakupan
penemuan Orang Terduga Tuberkulosis di Wilayah UPTD
Puskesmas Doro II dengan mengaktualisasikan nilai-nilai
ANEKA?

4. Tujuan
Tujuan rancangan aktualisasi adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan cakupan penemuan Orang Terduga Tuberkulosis
di Wilayah UPTD Puskesmas Doro II

7
2. Terlaksananya 6 (enam) kegiatan aktualiasi pemecahan isu
dengan menerapkan nilai-nilai Akuntabilitas, Nasionalisme,
Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti Korupsi.
3. Tersusunnya Standar Operasional Prosedur (SOP) Triase
Pasien Batuk di Loket Pendaftaran
4. Terlaksananya pemeriksaan terhadap Orang Terduga
Tuberkulosis dalam memberikan pelayanan kesehatan umum
5. Terlaksananya integrasi inovasi Taksi TB (Temukan Riak Atasi
Tuberkulosis) dengan Program Kelompok Peduli TB.
6. Terlaksananya pembinaan tekhnis mengenai SOP Triase
Pasien Batuk dan Integrasi Taksi TB.
7. Terlaksananya monitoring dan evaluasi Penerapan SOP Triase
Pasien Batuk.
8. Terlaksana penyuluhan tentang Penatalaksanaan Tuberkulosis
di Masyarakat.

5. Manfaat
a. Bagi Peserta Pelatihan Dasar CPNS
a. Penulis bisa memahami dan menjalankan perannya dalam
lingkup kegiatan sehari-hari menggunakan nilai-nilai dasar
ASN yang telah didapatkan selama mengkuti inclass
Pendidikan dan Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil.
b. Memahami, menginternalisasi dan mengaktualisasi
keterkaitan prinsip Manajemen ASN, Pelayanan Publik dan
Whole of Government.

b. Bagi Instansi
a. Terwujudnya visi dan misi UPTD Puskesmas Doro II.
b. Tercapainya target capaian penemuan Orang Terduga
Tuberkulosis di Wilayah UPTD Puskesmas Doro II.

8
c. Bagi Pihak Lain
Masyarakat mendapatkan pelayanan prima sebagai wujud
aktualisasi nilai dasar ANEKA dan membantu meningkatkan
kualitas pelayanan kesehatan.

9
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Sikap Perilaku Bela Negara


1. Wawasan Kebangsaan dan Nilai-Nilai Bela Negara
Pemahaman dan pemaknaan wawasan kebangsaan dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan bagi aparatur,
pada hakikatnya terkait dengan pembangunan kesadaran
berbangsa dan bernegara yang berarti sikap dan tingkah laku PNS
harus sesuai dengan kepribadian bangsa dan selalu mengaitkan
dirinya dengan cita-cita dan tujuan hidup bangsa Indonesia.
Kesadaran bela negara merupakan upaya untuk
mempertahankan negara dari ancaman yang dapat mengganggu
kelangsungan hidup bermasyarakat yang berdasarkan atas cinta
tanah air. Selain itu menumbuhkan rasa patriotisme dan
nasionalisme di dalam diri PNS. Upaya bela negara selain sebagai
kewajiban dasar juga merupakan kehormatan bagi setiap warga
negara yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran, penuh
tanggung jawab dan rela berkorban dalam pengabdian kepada
negara dan bangsa.
2. Analisa Perubahan Lingkungan Kontemporer
Isu kontemporer tersebut merujuk pada hal yang sedang
berlangsung sampai sekarang. Perubahan lingkungan kontemporer
membahas mengenai konsep perubahan dan perubahan
lingkungan strategis. Analisa Perubahan lingkungan strategis
bertujuan untuk membangun kesadaran menyiapkan diri dengan
memaksimalkan berbagai potensi modal insani yang dimiliki.
Sehingga PNS dapat mengidentifikasi isu-isu kritikal dan
melakukan analisis isu-isu kritikal menggunakan kemampuan
berpikir kritis. Dengan begitu PNS dapat mengambil keputusan
yang terbaik dalam tindakan profesionalnya.

10
3. Kesiapsiagaan Bela Negara
Pasal 27 dan Pasal 30 UUD Negara RI 1945
mengamanatkan kepada semua komponen bangsa berhak dan
wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara dan syarat-syarat
tentang pembelan negara. Dalam hal ini setiap PNS sebagai bagian
dari warga masyarakat tertentu memiliki hak dan kewajiban yang
sama untuk melakukan bela negara sebagaimana diamanatkan
dalam UUD Negara RI 1945 tersebut.
Kesiapsiagaan bela negara merupakan aktualisasi nilai-nilai
bela negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara sesuai peran dan profesi warga negara, demi menjaga
kedaulatan negara, keutuhan wilayah dan keselamatan segenap
bangsa dari segala bentuk ancaman.
Kesiapsiagaan bela negara merupakan kondisi warga
negara yang secara fisik memiliki kondisi kesehatan, keterampilan
dan jasmani yang prima serta secara kondisi psikis yang memiliki
kecerdasan intelektual, dan spiritual yang baik, senantiasa
memelihara jiwa dan raganya, memiliki sifat-sifat disiplin, ulet, kerja
keras, dan tahan uji, merupakan sikap mental dan perilaku warga
negara yang dijiwai oleh kecintaan kepada NKRI yang berdasarkan
Pancasila dan UUD NRI 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup
berbangsa dan bernegara. Oleh sebab tiu dalam pelaksanaan
latihan dasar bagi CPNS dibekali dengan latihan-latihan seperti :
1. Kegiatan olah raga dan kesehatan fisik;
2. Kesiapsiagaan dan kecerdasan mental;
3. Kegiatan baris-berbaris, apel, dan tata upacara;
4. Keprotokolan;
5. Kegiatan ketangkasan dan permainan.

B. Nilai Dasar PNS

11
Ada lima (5) nilai dasar profesi PNS, yaitu akuntabilitas,
nasionalisme, etika publik, komitmen mutu, dan antikorupsi. Lima nilai
dasar yang biasa disingkat ANEKA ini merupakan modal awal PNS
dalam menjalankan tugasnya. Sebelum mengimplementasikan nilai
dasar PNS, ada satu tahap yang dilalui yaitu tahap internalisasi.
Internalisasi merupakan proses pemahaman atas nilai yang
terkandung dari masing-masing poin ANEKA yaitu :
1. Akuntabilitas 
Akuntabilitas merupakan kesadaran adanya tanggung jawab
dan kemauan untuk bertanggung jawab. PNS memiliki tugas pokok
fungsi yang wajib untuk dijalankan. Setiap PNS hendaknya sadar
akan tugasnya. Tidak hanya sekadar sadar. Mereka juga harus
bertanggung jawab atas apa yang telah dilaksanakan. Sebagai abdi
masyarakat, PNS memiliki tanggung jawab yang besar. Maka tidak
salah jika setiap PNS melakukan perencanaan yang matang
sebelum melaksanakan tugasnya. Adanya transparansi juga
penting untuk dilaksanakan. Tanpa transparansi PNS akan
kesulitan dalam menjalankan tugas. Ada 9 (sembilan) nilai-nilai
akuntabilitas antara lain :
a Kepemimpinan
Lingkungan yang akuntabel tercipta dari atas ke bawah dimana
pimpinan memainkan peranan yang penting dalam menciptakan
hal tersebut.
b Transparansi
Transparansi dapat diartikan sebagai keterbukaan atas semua
tindakan dan kebijakan yang dilakukan oleh individu maupun
kelompok / institusi.
c Integritas
Integritas mempunyai makna konsistensi dan keteguhan yang
tak tergoyahkan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan
keyakinan.
d Tanggung jawab

12
Tanggung jawab merupakan kesadaran manusia akan tingkah
laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak
disengaja. Tanggung jawab juga dapat berarti berbuat sebagai
perwujudan kesadaran akan kewajiban.
e Keadilan
Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai
sesuatu hal, baik menyangkut benda maupun orang.
f Kepercayaan
Rasa keadilan membawa pada sebuah kepercayaan.
Kepercayaan ini akan melahirkan akuntabilitas.
g Keseimbangan
Pencapaian akuntabilitas dalam lingkungan kerja, diperlukan
adanya keseimbangan antara akuntabilitas dan kewenangan,
serta harapan dan kapasitas. Selain itu, adanya harapan dalam
mewujudkan kinerja yang baik juga harus disertai dengan
keseimbangan kapasitas sumber daya dan keahlian (skill) yang
dimiliki.
h Kejelasan
Fokus utama untuk kejelasan adalah mengetahui kewenangan,
peran dan tanggung jawab, misi organisasi, kinerja yang
diharapkan organisasi, dan sistem pelaporan kinerja baik individu
maupun organisasi.
i Konsistensi
Konsistensi adalah sebuah usaha untuk terus dan terus
melakukan sesuatu sampai pada tercapainya tujuan akhir (LAN,
2015).

2. Nasionalisme
Nasionalisme merupakan sikap yang meninggikan bangsanya
sendiri dan pandangan tentang rasa cinta terhadap bangsa dan
negara. Dengan nasionalisme yang kuat, maka setiap PNS
memiliki orientasi berpikir mementingkan kepentingan publik,

13
bangsa, dan negara. Nasionalisme merupakan pandangan atau
paham kecintaan manusia Indonesia terhadap bangsa dan tanah
airnya yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila. PNS dapat
mempelajari bagaimana aktualisasi sila demi sila dalam Pancasila
agar memiliki karakter yang kuat dengan nasionalisme dan
wawasan kebangsaannya.

Ada lima indikator dari nilai-nilai dasar nasionalisme yang


harus diperhatikan, yaitu :

a. Sila Pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa


1) Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan
ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
2) Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan
Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan
kepercayaannya masing-masing menurut dasar
kemanusiaan yang adil dan beradab.
3) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan
bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut
kepercayaan yang berbedabeda terhadap Tuhan Yang
Maha Esa.
4) Membina kerukunan hidup di antara sesama umat
beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha
Esa.
5) Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi
manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
6) Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan
menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan
kepercayaannya masing-masing.
7) Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain
b. Sila Kedua : Kemanusiaan yang adil dan beradap

14
1) Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan
harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang
Maha Esa.
2) Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan
kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan
suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin,
kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
3) Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
4) Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa
selira.
5) Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang
lain.
6) Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
7) Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
8) Berani membela kebenaran dan keadilan.
9) Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari
seluruh umat manusia.
10) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan
bekerjasama dengan bangsa lain.
c. Sila Ketiga : Persatuan Indonesia
1) Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta
kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai
kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan
golongan.
2) Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan
bangsa apabila diperlukan.
3) Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
4) Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan
bertanah air Indonesia.
5) Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

15
6) Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka
Tunggal Ika.
7) Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan
bangsa.
d. Sila Keempat : Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
1) Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap
manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan
kewajiban yang sama.
2) Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
3) Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan
untuk kepentingan bersama.
4) Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh
semangat kekeluargaan.
5) Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang
dicapai sebagai hasil musyawarah.
6) Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima
dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
7) Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di
atas kepentingan pribadi dan golongan.
8) Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai
dengan hati nurani yang luhur.
9) Keputusan yang diambil harus dapat
dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang
Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia,
nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan
persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
10) Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang
dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.
e. Sila Kelima : Keadilan sosial bagi seluruh Indonesia

16
1) Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang
mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan
kegotongroyongan.
2) Sikap adil terhadap sesama.
3) Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
4) Menghormati hak orang lain.
5) Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat
berdiri sendiri.
6) Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang
bersifat pemerasan terhadap orang lain.
7) Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat
pemborosan dan gaya hidup mewah.
8) Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan
atau merugikan kepentingan umum.
9) Suka bekerja keras.
10) Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat
bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.
11) Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan
kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

3. Etika Publik
Etika publik yaitu pembelian pelayanan kepada masyarakat
Seorang PNS harus mampu memberi pelayanan yang ramah
selama menjalankan tugasnya. Dalam kondisi apapun, PNS tidak
boleh terlihat sombong, angkuh, galak, apalagi tidak sopan. Nilai-
nilai dasar pada etika publik antara lain :
a. Kebersamaan: dapat diartikan bagaimana individu menciptakan
rasa kebersamaan untuk menjalankan pelayanan kepada
pelanggan.
b. Empati: dapat diartikan bagaimana individu memberikan rasa
empati kepada pelanggan tentang masalah/kesulitan yang
dihadapi.

17
c. Kepedulian: dapat diartikan bagaimana individu peduli terhadap
kesulitan pelnggan dan mencoba mencari solusinya.
d. Kedewasaan: dapat diartikan bagaimana individu berpilaku
dewasa sesuai tugas/tupoksinya.
e. Orientasi organisasi: dapat diartikan bagaimana individu
memperhatikan orientasi dalam berperilaku kepada pelanggan.
f. Respek: dapat diartikan bagaimana individu berperilaku sopan
dan santun saat memberikan pelayanan.
g. Kebajikan: dapat diartikan bagaimana individu berberilaku baik
sesuai dengan norma yang berlaku saat melayani pelanggan.
h. Integritas: dapat diartikan bagaimana kesesuaian perkataan dan
perbuatan individu.
i. Inovatif: dapat diartikan bagaimana individu berinovasi dalam
memberikan pelayanan.
j. Keunggulan: dapat diartikan bagaimana individu memiliki
keunggulan tersendiri ketika memberikan pelayanan.
k. Keluwesan: dapat diartikan bagaimana individu berperilaku
luwes saat melayani.
l. Kearifan: dapat diartikan bagaimana individu bijaksana sesuai
dengan situasi dan kondisi saat melayani.

4. Komitmen Mutu
Komitmen mutu yaitu sikap menjaga efektivitas dan efisiensi
mutu. Ada empat indikator dari nilai – nilai dasar komitmen mutu
yang harus diperhatikan, yaitu :
a. Orientasi mutu: orientasi mutu berkomitmen untuk senantiasa
melakukan pekerjaan dengan arah dan tujuan untuk kualitas
pelayanan sehingga pelanggan menjadi puas dalam pelayanan.
b. Efektif dan efisien: efektif dapat diartikan sejauh mana dapat
mencapai tujuan yang ditetapkan, atau berhasil mencapai
apapun yang coba dikerjakan. Efektivitas organisasi tidak hanya
diukur dari performans untuk mencapai target (rencana) mutu,

18
kuantitas, ketepatan waktu, dan alokasi sumber daya, melainkan
juga diukur dari kepuasan dan terpenuhinya kebutuhan
pelanggan. Sedangkan efisien dapat diartikan jumbah sumber
daya yang digunakan untuk mencapai tujuan. Efisiensi
ditentukan oleh berapa banyak bahan baku, uang dan manusia
untuk mencapai tujuan.
c. Inovasi: Inovasi dalam layanan publik harus mencerminkan hasil
pemikiran baru yang konstruktif, sehingga akan memotivasi
setiap individu untuk membangun karakter dan mindset baru
sebagai aparatur penyelenggara pemerintahan, yang diwujudkan
dalam bentuk profesionalisme layanan publik yang berbeda
dengan sebelumnya, bukan sekedar menjalankan atau
menggugurkan tugas rutin.
d. Adaptasi: dapat diartikan bagaimana pegawai mengadaptasi dari
program atau organisasi lain untuk meningkatkan mutu
organisasinya.
e. Pelayanan sepenuh hati: dapat diartikan bagaimana pegawai
memberikan pelayanan sepenuh hati kepada pelanggan.
f. Perbaikan berkelanjutan: dapat diartikan bagaimana
pegawai/organisasi melakukan suatu perbaikan setelah melihat
situasi dan kondisi yang ada di unit kerjanya.

5. Anti Korupsi
Kata korupsi berasal dari bahasa latin yaitu Corruptio yang
artinya kerusakan, kebobrokan dan kebusukan. Korupsi dikatakan
sebagai kejahatan yang luar biasa karena dampaknya yang luar
biasa yaitu mampu merusak tatanan kehidupan dalam ranah
pribadi, keluarga, masyarakat maupun ranah kehidupan yang lebih
luas lagi.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama dengan pakar
telah melakukan identifikasi nilai – nilai dasar anti korupsi. Ada 9
(sembilan) nilai – nilai anti korupsi yang harus diperhatikan, yaitu :

19
a. Jujur
Kejujuran merupakan nilai dasar yang menjadi landasan utama
bagi penegakan integritas diri. Seseorang yang dapat berkata
jujur dan transparan serta tidak berdusta baik terhadap diri
sendiri maupun orang lain, sehingga dapat membentengi diri dari
perbuatan curang.
b. Peduli
Adanya kepedulian terhadap orang lain menjadikan seseorang
memiliki rasa kasih sayang antar sesama. Pribadi dengan jiwa
sosial yang tinggi tidak akan tergoda untuk memperkaya diri
sendiri dengan cara yang tidak benar.
c. Mandiri
Kemandirian membentuk karakter pada diri seseorang untuk
tidak mudah bergantung kepada pihak lain. Pribadi yang mandiri
tidak akan menjalin hubungan dengan pihak-pihak yang tidak
bertanggung jawab demi mencapai keuntungan sesaat.
d. Disiplin
Disiplin adalah kunci keberhasilan semua orang. Seseorang
yang mempunyai pegangan kuat terhadap nilai kedisiplinan tidak
akan terjerumus dalam kemalasan yang mendambakan
kekayaan dengan cara yang mudah.
e. Tanggung Jawab
Pribadi yang utuh dan mengenal diri dengan baik akan
menyadari bahwa keberadaan dirinya di muka bumi adalah untuk
melakukan perbuatan baik demi kemaslahatan sesama manusia.
Dengan kesadaran seperti ini maka seseorang tidak akan
tergelincir dalam perbuatan tercela dan nista.
f. Kerja Keras
Individu beretos kerja akan selalu berupaya meningkatkan
kualitas hasil kerjanya demi terwujudnya kemanfaatan publik
yang sebesar-besarnya.
g. Sederhana

20
Pribadi yang berintegritas tinggi adalah seseorang yang
menyadari kebutuhannya dan berupaya memenuhi
kebutuhannya dengan semestinya tanpa berlebih-lebihan.
h. Berani
Seseorang yang memiliki karakter kuat akan memiliki keberanian
untuk menyatakan kebenaran dan menolak kebathilan.
i. Adil
Pribadi dengan karakter yang baik akan menyadari bahwa apa
yang dia terima sesuai dengan jerih payahnya. Adil merupakan
kemampuan seseorang untuk memperlakukan orang lain sesuai
dengan hak dan kewajibannya.

C. Kedudukan dan Peran PNS


Kedudukan ASN dalam NKRI yaitu:
1. Pegawai ASN berkedudukan sebagai Aparatur Negara.
2. Pegawai ASN melaksanakan Kebijakan yang ditetapkan oleh
Pimpinan Instansi Pemerintah serta harus bebas dari pengaruh dan
Intervensi semua Golongan serta Parpol.
3. Pegawai ASN dilarang menjadi anggota dan/atau pengurus partai
politik.
4. Kedudukan ASN berada di Pusat, Daerah dan Luar Negeri, namun
demikian Pegawai ASN merupakan satu kesatuan.
ASN berfungsi, bertugas dan berperan untuk melaksanakan
kebijakan yang dibuat oleh pejabat pembina kepegawaian sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Untuk itu ASN
harus mengutamakan kepentingan publik dan masyarakat luas dalam
menjalankan fungsi dan tugasnya tersebut. Harus mengutamakan
pelayanan yang berorientasi pada kepentingan publik.
Bagian Ketiga Peran Pasal 12 Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara,
pegawai ASN berperan sebagai perencana, pelaksana, dan
pengawas pemerintahan dan penyelenggaraan pembangunan tugas

21
umum nasional melalui pelaksanaan kebijakan dan pelayanan publik
yang profesional, bebas dari intervensi politik, serta bersih dari praktik
korupsi, kolusi, dan nepotisme. Setiap kegiatan yang dilakukan PNS
pasti terdapat konsekuensi baik berupa penghargaan maupun
sanksi,semestinya sebagai PNS kita tidak boleh melalaikan kewajiban
kita di kantor. Dengan adanya Peraturan Pemerintah nomor 53 tahun
2010 tentang Disiplin PNS dalam pasal 3 dijelaskan tentang kewajiban
selaku PNS sebagai berikut:
1. Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan
Republik Indonesia, dan Pemerintah;
2. Menaati segala ketentuan peraturan perundang-undangan;
3. Melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada PNS
dengan penuh pengabdian, kesadaran, dan tanggung jawab;
4. Menjunjung tinggi kehormatan negara, Pemerintah, dan martabat
PNS;
5. Mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan sendiri,
seseorang, dan/atau golongan;
6. Memegang rahasia jabatan yang menurut sifatnya atau menurut
perintah harus dirahasiakan;
7. Bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk
kepentingan negara;
8. Melaporkan dengan segera kepada atasannya apabila
mengetahui ada hal yang dapat membahayakan atau merugikan
negara atau Pemerintah terutama di bidang keamanan, keuangan,
dan materiil;
9. Masuk kerja dan menaati ketentuan jam kerja;
10. Mencapai sasaran kerja pegawai yang ditetapkan;
11. Menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara
dengan sebaik-baiknya;
12. Memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat;
13. Membimbing bawahan dalam melaksanakan tugas;

22
14. Memberikan kesempatan kepada bawahan untuk
mengembangkan karier; dan
15. Menaati peraturan kedinasan yang ditetapkan oleh pejabat yang
berwenang.

1. Manajemen ASN
Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk
menghasilkan pegawai ASN yang profesional, memiliki nilai dasar,
etika profesi, bebas dari intervensi politik, bersih dari praktek
korupsi, kolusi dan nepotisme. Manajemen ASN meliputi
Manajemen PNS dan Manajemen PPPK. PNS diangkat oleh
pejabat pembina kepegawaian untuk menduduki suatu jabatan
pemerintahan dan memilili nomor induk pegawai nasional.
Sementara itu, PPPK diangkat oleh pejabat pembina kepegawaian
berdasarkan perjanjian kerja sesuai dengan kebutuhan instansi
pemerintah untuk jangka waktu tertentu.
Manajemen ASN diselenggarakan berdasarkan Sistem Merit.
Manajemen ASN meliputi penyusunan dan penetapan kebutuhan;
pengadaan; pangkat dan jabatan; pengembangan karier; pola
karier; promosi; mutasi; penilaian kinerja; penggajian dan
tunjangan; penghargaan; disiplin; pemberhentian; jaminan pensiun
dan jaminan hari tua; dan perlindungan (LAN, Manajemen Aparatur
Sipil Negara, 2014).

2. Pelayanan Publik
LAN (1998), mengartikan pelayanan publik sebagai segala
bentuk kegiatan pelayanan umum yang dilaksanakan oleh Instansi
Pemerintahan di Pusat dan Daerah, dan di lingkungan
BUMN/BUMD dalam bentuk barang dan /atau jasa, baik dalam
pemenuhan kebutuhan masyarakat. Dalam UU No. 25 tahun 2009
tentang Pelayanan Publik, Pelayanan Publik adalah kegiatan atau
rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan

23
pelayanan sesuai dengan Peraturan perundang-undangan bagi
setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau
pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara
Pelayanan Publik.
Barang/jasa publik adalah barang/jasa yang memiliki rivalry
(rivalitas) dan excludability (ekskludabilitas) yang rendah.
Barang/jasa publik yang murni yang memiliki ciri-ciri: tidak dapat
diproduksi oleh sektor swasta karena adanya free rider problem,
non-rivalry, dan non-excludable, serta cara mengkonsumsinya
dapat dilakukan secara kolektif. Perkembangan paradigma
pelayanan: Old Public Administration (OPA), New Public
Management (NPM) dan seterusnya menjadi New Public Service
(NPS).
Sembilan prinsip pelayanan publik yang baik untuk
mewujudkan pelayanan prima adalah: partisipatif, transparan,
responsif, non diskriminatif, mudah dan murah, efektif dan efisien,
aksesibel, akuntabel, dan berkeadilan.
Fundamen Pelayanan Publik:
a. Pelayanan publik merupakan hak warga negara sebagai amanat
konstitusi
b. Pelayanan publik diselenggarakan dengan pajak warga negara
c. Pelayanan publik diselenggarakan dengan tujuan untuk
mencapai hal-hal strategis untuk memajukan bangsa di masa
yang akan datang
d. Pelayanan publik tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan-
kebutuhan warga negara tetapi juga untuk proteksi.

3. Whole of Government
Whole of Goverment (WoG) merupakan suatu pendekatan
penyelenggaraan pemerintah yang menyatukan upaya-upaya
kolaboratif pemerintahan dari keseluruhan sektor dalam ruang
lingkup koordinasi yang lebih luas guna mencapai tujuan-tujuan

24
pembangunan kebijakan, manajemen program, dan pelayanan
publik. Oleh karena itu WoG dikenal sebagai pendekatan
interagency, yaitu pendekatan dengan melibatkan sejumlah
kelembagaan yang terkait urusan-urusan yang relevan (Suwarno &
Sejati, 2016).
WoG dipandang sebagai metode suatu instansi pelayanan
publik bekerja lintas batas atau lintas sektor guna mencapai tujuan
bersama dan sebagai respon terpadu pemerintah terhadap isu-isu
tertentu (Shergold & lain-lain, 2004).
Alasan penerapan WoG dalam sistem aparatur sipil
Indonesia adalah:
a. Adanya faktor-faktor eksternal seperti dorongan publik dalam
mewujudkan integrasi kebijakan, program pembangunan dan
pelayanan agar tercipta penyelenggaraan pemerintahan lebih
baik, selain itu perkembangan teknologi informasi, situasi dan
dinamika kebijakan yang lebih kompleks juga mendorong
pentingnya WoG.
b. Faktor-faktor internal dengan adanya fenomena ketimpangan
kapasitas sektoral sebagai akibat dari adanya nuansa kompetisi
antar sektor dalam pembangunan.
c. Keberagaman latar belakang nilai, budaya, adat istiadat, serta
bentuk latar belakang lainnya mendorong adanya potensi
disintegrtasi bangsa.

25
BAB III

DESKRIPSI UNIT ORGANISASI

A. Profil Organisasi
1. Gambaran Umum
Berdasarkan Undang – Undang Dasar 1945 Pasal 28 B,
bahwa setiap orang berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan
berkembang serta perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
Pembangunan kesehatan adalah integral dari pembangunan
nasional. Untuk tercapainya keberhasilan pembangunan nasional
tersebut diperlukan kebijakan pembangunan kesehatan yang lebih
dinamis dan proaktif dengan melibatkan semua sektor terkait,
pemerintah, swasta, dan masyarakat.
Peraturan Menteri Kesehatan No. 75 tahun 2014
menyebutkan bahwa Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas)
sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama
memiliki peranan penting dalam sistem kesehatan nasional,
khususnya subsistem upaya kesehatan. Pelayanan kesehatan
adalah suatu tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan
upaya pelayanan kesehatan baik promotif, preventif, kuratif
maupun rehabilitatif, yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah
daerah dan/atau masyarakat.
UPTD Puskesmas Doro II berada di Desa Larikan dan berdiri
sejak Mei 2005. Pada mulanya merupakan Puskesmas Pembantu
(Pustu) dari Puskesmas Perawatan Doro I. Perkembangan bidang
kesehatan pada wilayah Kecamatan Doro dan luasnya wilayah
cakupan Puskesmas Doro I menyebabkan perlu ditingkatkan
statusnya dari Pustu menjadi Puskesmas Induk, yaitu UPTD
Puskesmas Doro II. Hal ini berdasarkan Keputusan Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten Pekalongan Nomor : 440 / 11 / 2005,
terhitung sejak 1 April 2005.
Luas wilayah kerja UPTD Puskesmas Doro II Kabupaten

26
Pekalongan adalah 32,85 km2 terdiri daerah dengan dataran tinggi
dan dataran sedang dengan ketinggian sekitar 500–1300 m di atas
permukaan laut. Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Doro II
Kabupaten Pekalongan merupakan termasuk dalam wilayah
Pemerintahan Kecamatan Doro yang terdiri 6 desa. Desa–desa
yang termasuk dalam wilayah kerja UPTD Puskesmas Doro II
Kabupaten Pekalongan adalah Desa Pungangan, Desa Sidoharjo,
Desa Rogoselo, Desa Harjosari, Desa Larikan dan Desa
Sawangan.
Desa Pungangan dan Desa Sidoharjo dikategorikan sebagai
desa terpencil karena topografi desa berada di dataran tinggi, jauh
dari ibukota Kecamatan maupun Kabupaten. Transportasi umum
masih terbatas dan jalan desa berupa pengerasan tanah yang
hanya dapat dilalui dengan kendaraan roda 2. Hal ini menyebabkan
jangkauan pelayanan kesehatan masih terbatas pada beberapa
wilayah dukuh dan desa.

2. Visi, Misi, dan Nilai Organisasi


a. Visi
UPTD Puskesmas Doro II mempunyai visi yaitu “Menjadi
Puskesmas yang berkualitas untuk Masyarakat UPTD
Puskesmas Doro II yang sehat”.
b. Misi
Dalam rangka mewujudkan visi tersebut di atas, UPTD
Puskesmas Doro II memiliki misi yaitu:
1) Memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu sesuai
prosedur yang terstandarisasi
2) Meningkatkan kualitas dan derajat kesehatan masyarakat
melalui pemberdayaan masyarakat
3) Menyelenggarakan pelayanan administrasi yang berkualitas.

27
c. Nilai
Santun : sopan dalam tutur kata dan perilaku
Empati : melayani dengan sepenuh hati
Handal : memberikan pelayanan dengan profesional
Adil : memberikan pelayanan yang merata dan tidak
membedakan
Teladan : menjadi panutan masyarakat dalam berperilaku sehat.

3. Struktur Organisasi dan Job Deskripsi


a. Struktur Organisasi
Struktur Organisasi UPTD Puskesmas Doro II tercantum di
Gambar 1.

28
STRUKTUR ORGANISASI UPTD PUSKESMAS DORO II

Gambar 3.1. Bagan Struktur Organisasi UPTD Puskesmas Doro II


29
4. Deskripsi Sumber Daya Manusia(SDM), Sarana dan Prasarana
serta Sumber Daya Lain
a. Deskripsi SDM
Sumber Daya Manusia di UPTD Puskesmas Doro II tercantum
di Tabel 3.1.

Tabel 3.1. Komposisi SDM UPTD Puskesmas Doro II


STATUS PEGAWAI
NO TENAGA JUMLAH
PNS CPNS BLUD
1 Dokter Umum 2 1 - 3
2 Dokter Gigi - - - 0
3 Perawat 4 2 1 7
4 Perawat Gigi 1 - - 1
5 Bidan 8 - 2 10
6 Asisten Apoteker 1 - - 1
7 Analis Kesehatan 1 - - 1
8 Nutrisionis 1 - - 1
9 Sanitarian - - - 0
10 Penyuluh Kesehatan 1 - - 1
11 Administrasi 3 - - 3
12 Penata Keuangan - 1 - 1
13 Rekam Medis 1 - - 1
14 Supir 1 - - 1
15 Jaga malam/ - - 3 3
Kebersihan
(Sumber: Profil UPTD Puskesmas Doro II, 2019)

b. Sarana dan Prasarana


Sarana dan prasarana di UPTD Puskesmas Doro II tercantum
di Tabel 3.2.

Tabel 3.2. Sarana dan Prasarana UPTD Puskesmas Doro II

NO SARANA DAN PRASARANA JML

1 Pos Kesehatan Desa (PKD) 6 Pos


2 Posyandu 33 Pos
3 Kader Posyandu 131 orang
4 Ambulance 2 unit
5 Kendaraan roda 2 4 unit
(Sumber: Profil UPTD Puskesmas Doro II, 2019)

30
B. Tugas Jabatan Peserta Latsar
Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor:
139/KEP/M.PAN/11/2003 tentang Jabatan Fungsional Dokter dan
Angka Kreditnya menerangkan bahwa dokter adalah Pegawai Negeri
Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab dan hak secara penuh oleh
pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan pelayanan
kesehatan kepada masyarakat pada sarana pelayanan kesehatan.
Dokter memiliki tugas pokok memberikan pelayanan kesehatan pada
sarana pelayanan kesehatan berupa tindakan promotif, preventif,
kuratif dan rehabilitatif untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat, serta membina peran serta masyarakat dalam rangka
kemandirian di bidang kesehatan kepada masyarakat.
Rincian kegiatan penulis sebagai calon Dokter Ahli Pertama
yang tercantum dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur
Negara Nomor: 139/KEP/M.PAN/11/2003 merupakan Tugas Pokok
Jabatan, yaitu:
1. Melakukan pelayanan medik umum rawat jalan tingkat pertama
2. Melakukan tindakan medik sederhana
3. Melakukan pelayanan dan konsultasi KIA/KB
4. Melakukan dan menerima konsultasi pasien dan masyarakat
5. Menerima dan melakukan rujukan
6. Melakukan pengujian kesehatan, otopsi dan visum
7. Melaksanakan penyuluhan kepada masyarakat dan anak sekolah
8. Melakukan pembinaan teknik kepada pelaksana kesehatan
9. Melakukan tugas jaga/P3K
10. Membuat catatan medik rawat jalan
11. Membuat rencana kerja tahunan
12. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan

Selain itu, penulis juga memiliki Tugas Tambahan Jabatan yaitu:


1. Penanggungjawab Pelayanan Upaya Kesehatan Perorangan
2. Membuat rencana kerja harian setiap bulan

31
3. Menjadi anggota organisasi profesi IDI
4. Menghadiri rapat/seminar/lokarkaya pelatihan/profesi

C. Role Model

Gambar 3.2. dr.Lie Agustinus Dharmawan, Ph.D, Sp.B, Sp.BTKV

Tokoh yang menjadi role model bagi penulis adalah dr.Lie


Agustinus Dharmawan, Ph.D, Sp.B, Sp.BTKV. Pria kelahiran Padang,
16 April 1946, ini merupakan lulusan University Hospital Jerman dan
Free University Berlin. Beliau merupakan sosok yang sangat
menginspirasi penulis di bidang kesehatan.
Beliau seorang keturunan tionghoa berkebangsaan Indonesia.
Kecintaan dan kepeduliannya terhadap masyarakat indonesia
dibuktikan dengan mendirikan yayasan doctorSHARE, dan Rumah
Sakit Apung (RSA) yang memberikan pelayanan kesehatan secara
gratis dan cuma-cuma kepada masyarakat di daerah miskin dan
terpencil di indonesia yang tidak terjangkau oleh pelayanan
kesehatan secara reguler.
Dibawah yayasan doctorSHARE dan Rumah Sakit Apung
(RSA), dr.Lie Agustinus Dharmawan, Ph.D, Sp.B, Sp.BTKV
memberikan pelayanan medis diatas kapal motor (KM). Beliau telah
banyak melakukan pengobatan pembedahan tanpa membeda-
bedakan suku bangsa di berbagai penjuru nusantara, seperti di
kepulauan kei maluku, pulau panggang, bangka tengah, ketapang dan

32
pontianak, bali, nusa tenggara timur dan lain-lain. Beliau sangat
memiliki integritas yang tinggi dibuktikan dengan minat dan antusias
pasien ketika beliau datang ke suatu daerah.
Dr. Lie banyak mencetuskan program yang inovatif untuk
menyelesaikan beberapa masalah kesehatan dengan cepat dan tepat
sasaran. Prestasi besar yang pernah beliau lakukan adalah
mewujudkan mimpi yang mustahil yaitu membangun rumah sakit
apung yang sangat inovatif dan satu-satunya RS apung di indonesia,
didalamnya terdapat bilik-bilik diperuntukan untuk pasien-pasien rawat
inap ataupun pasien-pasien pasca operasi, beliau membangun RS
Apung ini dengan biaya sendiri dan mandiri. Beliau sangat
menekankan pada kualitas pelayanan kesehatan pasien serta tidak
membedakan Suku, Ras, dan Agama. Semua pasien memiliki Hak
yang sama. Beliau sangat ramah kepada pasien-pasien nya dan
melayani pasien dengan sepenuh hati sehingga beliau dijuluki ”the
smiling doctor”.
Nilai -nilai yang terdapat pada role model :
1. Nasionalisme: Kecintaan dan kepeduliannya terhadap masyarakat
indonesia (sila ke 3), tidak membedakan suku,ras, dan agama (sila
ke 1, sila ke 2), Semua pasien memiliki Hak yang sama (sila ke 2)
2. Komitmen Mutu: Inovatif, sepenuh hati, efektif dan efisien (tepat
sasaran)
3. Anti korupsi: Kemandirian, daerah miskin dan terpencil di
indonesia (kepedulian)
4. Etika Publik: Ramah (kebajikan)
5. Akuntabilitas: Kepemimpinan, Integritas

33
BAB IV
RANCANGAN KEGIATAN AKTUALISASI

A. Rencana Kegiatan Aktualisasi di Unit Kerja


1. Unit kerja : UPTD Puskesmas Doro II
2. Identifikasi Isu
a. Rendahnya cakupan temuan Orang Terduga Tuberkulosis di
Wilayah UPTD Puskesmas Doro II (Sumber: Pelayanan Publik,
WOG).
b. Belum optimalnya pelayanan kesehatan umum di UPTD
Puskesmas Doro II (Sumber: Pelayanan Publik).
c. Masih tingginya prevalensi Hipertensi di UPTD Puskesmas
Doro II (Sumber: Pelayanan Publik, WOG, Manajemen ASN).
d. Peningkatan prevalensi Demam Berdarah Dengue (DBD) di
Wilayah UPTD Puskesmas Doro II pada bulan April 2019
(Sumber: Pelayanan Publik, WOG).
e. Belum optimalnya pelayanan puskesmas keliling di wilayah
UPTD Puskesmas Doro II (Sumber: Pelayanan Publik).
3. Isu yang Diangkat
Rendahnya cakupan temuan Orang Terduga Tuberkulosis di
Wilayah UPTD Puskesmas Doro II (Sumber: Pelayanan Publik,
WOG)
4. Gagasan Pemecahan Isu
Peningkatan cakupan temuan Orang Terduga Tuberkulosis di
Wilayah UPTD Puskesmas Doro II.
Kegiatan yang Akan Dilaksanakan
a. Membuat SOP Triase Pasien Batuk di Loket Pendaftaran
(Sumber: SKP)
b. Melakukan pemeriksaan terhadap Orang Terduga Tuberkulosis
dalam memberikan pelayanan kesehatan umum (Sumber:
SKP)

34
c. Mengintegrasikan inovasi Taksi TB (Temukan Riak Atasi
Tuberkulosis) dengan Program Kelompok Peduli TB (Sumber:
Inovasi)
d. Melakukan pembinaan tekhnis mengenai SOP Triase Pasien
Batuk dan Integrasi Taksi TB (Sumber: SKP)
e. Monitoring dan Evaluasi Penerapan SOP Triase Pasien Batuk
(Sumber: SKP)
f. Mengadakan penyuluhan tentang Penatalaksanaan
Tuberkulosis di Masyarakat (Sumber: SKP)

Selanjutnya dilakukan kegiatan pemecahan isu yang terkait


dengan visi misi dan tata nilai UPTD Puskesmas Doro II serta
menerapkan nilai ANEKA dalam setiap pelaksanaannya. Hal ini
dapat dilihat di Tabel 4.1.

35
Tabel 4.1. Rencana Kegiatan Aktualisasi

Output/ Hasil Kontribusi terhadap Visi Penguatan Nilai


No Kegiatan Tahapan Kegiatan Nilai – Nilai Dasar
Kegiatan Misi Organisasi Organisasi

1 Membuat SOP 1. Mencari 1. Diperoleh 1.Akuntabilitas: sesuai pedoman


Membuat SOP Triase Membuat SOP
Triase Pasien referensi dalam referensi Triase (Integritas) Pasien Batuk mendukung Triase Pasien Batuk
Batuk di Loket pembuatan Pasien Batuk 2.Komitmen mutu: teliti
Visi UPTD Puskesmas memberikan
Pendaftaran SOP Triase yang sesuai (Orientasi mutu) Doro II, yaitu: Menjadi penguatan nilai
Pasien Batuk standar 3.Anti korupsi: mandiri Puskesmas yang UPTD Puskesmas
(Sumber : SKP) berkualitas untuk Doro II yaitu:
Saya mencari referensi untuk Masyarakat UPTD Santun, Empati dan
membuat SOP Triase Pasien Puskesmas Doro II yang Handal
Batuk secara mandiri dengan Sehat.
teliti, serta berpedoman pada Selain itu, juga
standar mutu pelayanan. mendukung Misi UPTD
Puskesmas Doro II nomor
2. Membuat draft 2. Terbentuk Draft 1.Akuntabilitas: 1, yaitu: memberikan
rancangan SOP SOP Triase Kejelasan,Tanggung jawab pelayanan kesehatan
Triase Pasien Pasien Batuk 2.Komitmen Mutu: orientasi yang bermutu sesuai
Batuk mutu, efektif dan efiien prosedur yang bermutu.
3.Nasionalisme: menggunakan dan Misi nomor 3, yaitu:
Bahasa Indonesia (sila ke-3) menyelenggarakan
pelayanan administrasi
Saya membuat draft SOP yang berkualitas
Triase Pasien Batuk
menggunakan bahasa
indonesia dengan penuh
tanggung jawab dan
menerapkan prinsip kejelasan,

36
Output/ Hasil Kontribusi terhadap Visi Penguatan Nilai
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Nilai – Nilai Dasar
Kegiatan Misi Organisasi Organisasi

efektif, efisien dan orientasi


mutu.
3. Berkonsultasi 3. Diperoleh 1.Akuntabilitas:
dengan Atasan persetujuan Kejelasan, transparansi
tentang SOP Atasan untuk 2.Etika Publik:
Triase Pasien menerapkan Sopan santun, respek,
Batuk SOP Triase mendengarkan dengan baik,
Pasien Batuk memahami maksud (empati)
3.Nasionalisme:
Menggunakan Bahasa
indonesia (sila ke-3), Diskusi
mencapai sepakat (sila ke-4)
4.Komitmen Mutu:
Orientasi mutu

Saya berkonsultasi dengan


sikap sopan santun dan
menyampaikan usulan
menggunakan Bahasa
Indonesia yang baik dengan
jujur dan jelas kepada Atasan.
Jika terdapat perbedaan
pendapat, maka saya akan
mendengarkan saran Atasan
dengan baik dan berusaha
memahami maksud beliau.
Selanjutnya, dilakukan diskusi

37
Output/ Hasil Kontribusi terhadap Visi Penguatan Nilai
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Nilai – Nilai Dasar
Kegiatan Misi Organisasi Organisasi

dengan sopan untuk mencapai


kata sepakat, dengan tetap
mempertimbangkan mutu SOP.

4. Membuat SK 4. Terbentuk SK 1. Akuntabilitas:


Kepala Kepala Kejelasan, bertanggung jawab
Puskesmas Puskesmas 2. Etika Publik:
mengenai mengenai Sopan santun
penerapan Penerapan SOP
SOP Triase Triase Pasien Saya akan menyampaikan
Pasien Batuk Batuk maksud tujuan saya kepada
Kepala Tata Usaha dengan
sopan santun dan jelas.
Kemudian, Saya dengan
bertanggung jawab
menyerahkan draft SOP yang
telah disetujui Kepala
Puskesmas kepada Kepala TU
untuk kemudian dibuatkan SK
Penerapan SOP Triase Pasien
Batuk.

2 Melakukan 1. Memastikan 1. Identitas Orang 1.Etika Publik: Melakukan pemeriksaan Melakukan


pemeriksaan identitas Orang Terduga TB sesuai Sopan santun, sesuai norma terhadap Orang Terduga pemeriksaan
terhadap Orang Terduga TB dengan Identitas di (kebajikan) TB dalam memberikan terhadap Orang
Terduga TB Buku Rekam 2.Komitmen Mutu: pelayanan kesehatan Terduga TB dalam
dalam Medik. teliti (Orientasi mutu) umum mendukung Visi memberikan

38
Output/ Hasil Kontribusi terhadap Visi Penguatan Nilai
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Nilai – Nilai Dasar
Kegiatan Misi Organisasi Organisasi

memberikan Saya akan menyapa pasien dan juga Misi UPTD pelayanan
pelayanan dengan sopan dan ramah dan Puskesmas Doro II nomor kesehatan umum
kesehatan memperlakukan pasien sesuai 1, yaitu: memberikan memberikan
umum. norma yang berlaku, lalu pelayanan kesehatan penguatan nilai
memastikan dengan teliti yang bermutu sesuai UPTD Puskesmas
(Sumber : SKP) identitas pasien sesuai dg buku prosedur yang bermutu. Doro II yaitu:
RM yang diberikan. Santun, Empati,
Handal, dan Adil.
2. Melakukan 2. Diperoleh 1.Akuntabilitas:
anamnesis keluhan dan Kepercayaan
riwayat penyakit 2.Etika Publik:
Orang Terduga Sopan santun, empati,
TB. kepedulia, respek
3.Komitmen Mutu:
Komunikasi efektif

Saya akan menanyakan


keluhan pasien dan riwayat
penyakitnya dengan sopan dan
mengedepankan sikap
kepedulian, empati dan
prinsip komunikasi efektif.
Selanjutnya, saya akan
memberikan rasa percaya
terhadap pasien dengan cara
memberi tahu pasien bahwa
pembicaraan kita kedepannya

39
Output/ Hasil Kontribusi terhadap Visi Penguatan Nilai
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Nilai – Nilai Dasar
Kegiatan Misi Organisasi Organisasi

merupakan suatu rahasia.

3. Meminta izin 3. Izin dari Orang 1. Akuntabilitas:


untuk Terduga TB Kepercayaan, kejelasan
melakukan untuk melakukan 2. Etika Publik:
pemeriksaan pemeriksaan Sopan santun, respek,
fisik terhadap fisik. keluwesan
Orang Terduga 3. Nasionalisme:
TB Tidak membedakan (Sila ke-3)
4.Komitmen Mutu:
Profesional (Orientasi mutu)

Sebelum meminta izin, saya


akan menanamkan rasa
percaya terhadap pasien
dengan cara menjelaskan
prosedur pemeriksaan dengan
jelas, melakukan pemeriksaan
dengan profesional dan tanpa
membeda-bedakan. Setelah
pasien memahami prosedur
pemeriksaan, maka saya akan
meminta izin dengan sopan
dan mengucapkan terimakasih
setelah mendapat izin.
4. Melakukan 4. Terlaksana 1. Akuntabilitas:
pemeriksaan pemeriksaan fisik Sesuai standar kompetensi

40
Output/ Hasil Kontribusi terhadap Visi Penguatan Nilai
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Nilai – Nilai Dasar
Kegiatan Misi Organisasi Organisasi

fisik terhadap (keseimbangan), Integritas.


Orang Terduga 2.Etika Publik:
TB Sopan santun, respect,
keluwesan
3.Nasionalisme:
Memperhatikan HAM (Sila ke-2)
4.Komitmen Mutu:
Efektif, efisien, sepenuh hati,
sesuai standar (Orientasi mutu)

Saya melakukan pemeriksaan


fisik dengan sepenuh hati dan
sesuai standar kompetensi
saya. Saya akan menerapkan
sistem pemeriksaan yang
efektif efisien dan
menjunjung HAM sehingga
dapat dilakukan dengan cepat
dan mengurangi rasa tidak
nyaman pasien. Setelah
pemeriksaan selesai, saya akan
mengucapkan terimakasih
dan mempersilahkan pasien
duduk kembali dengan sopan.
5. Menulis laporan 5. dokumentasi 1.Akuntabilitas:
hasil hasil Sistematis (Kejelasan)
pemeriksaan di pemeriksaan 2.Komitmen Mutu:

41
Output/ Hasil Kontribusi terhadap Visi Penguatan Nilai
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Nilai – Nilai Dasar
Kegiatan Misi Organisasi Organisasi

Rekam Medis terhadap Orang sesuai SOP (Orientasi mutu)


Terduga TB. 3.Anti-korupsi :
Jujur, Berani, tanggung jawab

Saya akan menulis hasil


pemeriksaan fisik tersebut
dengan jujur di Buku RM
pasien secara sistematis dan
sesuai SOP. Saya berani
bertanggungjawab terhadap
hasil pemeriksaan tersebut.

3 Mengintegrasika 1. Mencari 1. Referensi 1.Akuntabilitas: sesuai pedoman Mengintegrasikan inovasi Mengintegrasikan


n inovasi Taksi referensi Prosedur Inovasi (Integritas) Taksi TB dengan program inovasi Taksi TB
TB (Temukan prosedur Taksi TB 2.Komitmen mutu: teliti Kelompok Peduli TB dengan program
Tiak Atasi TB) inovasi Taksi (Orientasi mutu) mendukung Visi dan juga Kelompok Peduli TB
dengan program TB 3.Anti korupsi: mandiri Misi UPTD Puskesmas memberikan
Kelompok Doro II nomor 2, yaitu: penguatan nilai
Peduli TB Saya mencari referensi untuk meningkatkan kualitas UPTD Puskesmas
membuat Inovasi Taksi TB dan derajat kesehatan Doro II yaitu:
(sumber: secara mandiri, mengacu masyarakat melalui Santun, Empati,
Inovasi) pada konsensus, kebijakan pemberdayaan Handal, dan Adil.
dan peraturan pemerintah masyarakat.
yang berlaku dengan cermat
dan teliti.
2. Membuat draft 2. Draft rancangan 1.Akuntabilitas:Kejelasan,
rancangan Inovasi Taksi TB Tanggung jawab

42
Output/ Hasil Kontribusi terhadap Visi Penguatan Nilai
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Nilai – Nilai Dasar
Kegiatan Misi Organisasi Organisasi

inovasi Taksi 2.Komitmen Mutu: orientasi


TB mutu, efektif dan efiien
3.Nasionalisme: menggunakan
Bahasa Indonesia (sila ke-3)

Saya membuat draft rancangan


Inovasi Taksi TB menggunakan
Bahasa Indonesia yang baik
dengan penuh tanggung
jawab dan menerapkan prinsip
kejelasan, efektif efisien, dan
orientasi mutu.

3.Berkoordinasi 3. Terciptanya 1. Akuntabilitas:


dengan kerjasama yang Transaparansi, jelas
Pemegang optimal dengan 2. Etika Publik:
Program TB pemegang Sopan santun, mendengarkan
program TB. dengan baik, memahami
maksud (empati)
3. Nasionalisme:
Diskusi mencapai sepakat (sila
ke-4)
4. Komitmen Mutu:
Orientasi mutu

Saya berbicara dengan sikap


sopan santun dan

43
Output/ Hasil Kontribusi terhadap Visi Penguatan Nilai
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Nilai – Nilai Dasar
Kegiatan Misi Organisasi Organisasi

menyampaikan maksud dengan


jujur (transparan) dan jelas
kepada Pemegang Program
TB. Jika terdapat perbedaan
pendapat, maka saya akan
mendengarkan dengan baik
dan berusaha memahami
maksud beliau. Selanjutnya,
dilakukan diskusi dengan
sopan untuk mencapai kata
sepakat, dengan tetap
mempertimbangkan mutu
inovasi tersebut.

4. Berkonsultasi 4. Persetujuan 1.Akuntabilitas:


dengan Atasan Atasan untuk Transparansi, jelas
tentang mengintegrasika 2.Etika Publik:
Integrasi inovasi n inovasi Taksi Sopan santun, mendengarkan
Taksi Tb TB dengan dengan baik, memahami
dengan Kelompok Peduli maksud (empati)
Kelompok TB 3.Nasionalisme:
Peduli TB Diskusi mencapai mufakat (sila
ke-4)
4.Komitmen Mutu:
Orientasi mutu

Saya berbicara dengan sikap

44
Output/ Hasil Kontribusi terhadap Visi Penguatan Nilai
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Nilai – Nilai Dasar
Kegiatan Misi Organisasi Organisasi

sopan santun dan


menyampaikan usulan dengan
jujur dan jelas kepada Atasan.
Jika terdapat perbedaan
pendapat, maka saya akan
mendengarkan dengan baik
dan berusaha memahami
maksud beliau. Selanjutnya,
dilakukan diskusi dengan
sopan untuk mencapai kata
sepakat, dengan tetap
mempertimbangkan mutu
inovasi tersebut.

4 Melakukan 1. Berkonsultasi 1. Ditetapkannya 1.Akuntabilitas: Melakukan pembinaan Melakukan


pembinaan dengan atasan jadwal Pembinaan Kejelasan, transparansi tekhnis mengenai SOP pembinaan tekhnis
tekhnis untuk menetapkan Tekhnis SOP 2.Etika Publik: Triase Pasien Batuk mengenai SOP
mengenai SOP jadwal Pembinaan Triase Pasien Sopan, santun, mendukung Visi dan juga Triase Pasien Batuk
Triase Pasien Tekhnis SOP Batuk 3.Nasionalisme: Misi UPTD Puskesmas memberikan
Batuk Triase Pasien Diskusi mencapai msepakat Doro II nomor 1 dan 3. penguatan nilai
Batuk (Sila ke-4). UPTD Puskesmas
(Sumber :SKP) Doro II yaitu:
Saya berbicara dengan sikap Santun, Handal dan
sopan santun dan Teladan.
menyampaikan maksud dengan
jelas kepada Atasan.
Selanjutnya, dilakukan diskusi

45
Output/ Hasil Kontribusi terhadap Visi Penguatan Nilai
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Nilai – Nilai Dasar
Kegiatan Misi Organisasi Organisasi

penetapan jadwal secara


transparan untuk mencapai
kata sepakat.

2. Menyusun surat 2.Surat undangan 1.Akuntabilitas:


undangan Pembinaan Kejelasan, transparansi
Pembinaan Tekhnis SOP 2. Komitmen Mutu:
Tekhnis SOP Triase Pasien Teliti (orientasi mutu)
Triase Pasien Batuk
Batuk Saya membuat surat undangan
Pembinaan Tekhnis dengan
jelas dan teliti. Selanjutnya,
Saya akan menyerahkan surat
tersebut ke Pegawai TU untuk
diberi Nomor Surat. Surat
tersebut akan saya tempel di
Papan Pengumuman sehingga
dapat di lihat oleh semua
pegawai.
3. Melakukan 3.Tenaga kesehatan 1. Akuntabilitas:
pembinaan tekhnis memahami Kejelasan, transparansi
tentang SOP penerapan SOP 2. Etika Publik:
Triase Pasien Triase Pasien Sopan, santun,
Batuk Batuk 3. Komitmen Mutu:
Sepenuh hati, komunikasi
efektif

46
Output/ Hasil Kontribusi terhadap Visi Penguatan Nilai
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Nilai – Nilai Dasar
Kegiatan Misi Organisasi Organisasi

Saya akan melakukan


pembinaan tekhnis dengan
sepenuh hati. Saya akan
memberikan materi dengan
jelas, mudah dipahami dan
mengedepankan komunikasi
efektif dalam prosesnya.

5 Monitoring dan 1. Mencari referensi 1. Referensi 1.Akuntabilitas: sesuai pedoman Melakukan pembinaan Melakukan
Evaluasi metode metode (Integritas) tekhnis mengenai SOP pembinaan tekhnis
Penerapan SOP monitoring dan monitoring dan 2.Komitmen mutu: teliti Triase Pasien Batuk mengenai SOP
Triase Pasien evaluasi program evaluasi program (Orientasi mutu) mendukung Visi dan juga Triase Pasien Batuk
Batuk 3.Anti korupsi: mandiri Misi UPTD Puskesmas memberikan
Doro II nomor 1 dan 3. penguatan nilai
(Sumber: SKP) Saya mencari referensi untuk UPTD Puskesmas
monitoring dan evaluasi Doro II yaitu:
program secara mandiri, Santun, Handal dan
mengacu pada standar Teladan.
akreditasi yang berlaku dengan
cermat dan teliti.

2. Membuat draft 2. Draft monitoring 1.Akuntabilitas:Kejelasan,


metode dan evaluasi Tanggung jawab
monitoring dan program 2.Komitmen Mutu: orientasi
evaluasi program mutu, efektif dan efiien
3.Nasionalisme: menggunakan
Bahasa Indonesia (sila ke-3)

47
Output/ Hasil Kontribusi terhadap Visi Penguatan Nilai
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Nilai – Nilai Dasar
Kegiatan Misi Organisasi Organisasi

Saya membuat draft monitoring


dan evaluasi program dengan
penuh tanggung jawab,
menggunakan Bahasa
Indonesia yang baik dan
menerapkan prinsip kejelasan,
efektif efisien, dan orientasi
mutu. Saya membuat form
monitoring berupa checklist
agar mudah dipahami.

3. Berkonsultasi 3. Persetujuan 1.Akuntabilitas:


dengan Atasan Atasan mengenai Transparansi, jelas
mengenai metode moitoring 2.Etika Publik:
metode dan evaluasi Sopan santun, mendengarkan
monitoring dan program. dengan baik, memahami
evaluasi program maksud (empati)
3.Nasionalisme:
Diskusi mencapai mufakat (sila
ke-4)
4.Komitmen Mutu:
Orientasi mutu

Saya berkonsultasi dengan


sikap sopan santun dan

48
Output/ Hasil Kontribusi terhadap Visi Penguatan Nilai
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Nilai – Nilai Dasar
Kegiatan Misi Organisasi Organisasi

menyampaikan usulan dengan


jujur dan jelas kepada Atasan.
Jika terdapat perbedaan
pendapat, maka saya akan
mendengarkan saran Atasan
dengan baik dan berusaha
memahami maksud beliau.
Selanjutnya, dilakukan diskusi
dengan sopan untuk mencapai
kata sepakat, dengan tetap
mempertimbangkan mutu SOP.

4. Melakukan 4. Terlaksananya 1.Akuntabilitas: Kepemimpinan,


monitoring dan monitoring dan Tanggung jawab
evaluasi evaluasi 2.Nasionalisme:
penerapan SOP penerapan SOP Tanpa membedakan (sila ke-3)
Triase Pasien Triase Pasien 3.Komitmen Mutu:
Batuk Batuk Orientasi mutu

Saya akan memberikan tugas


monitoring kepada petugas
loket pendaftaran. selanjutnya,
saya akan melakukan evaluasi
dengan penuh tanggung
jawab, tanpa membedakan,
dan sesuai dengan
kompetensi saya.

49
Output/ Hasil Kontribusi terhadap Visi Penguatan Nilai
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Nilai – Nilai Dasar
Kegiatan Misi Organisasi Organisasi

6. Melakukan 1. Berkonsultasi 1. Jadwal 1. Akuntabilitas: Melakukan pembinaan Melakukan


penyuluhan dengan atasan Penyuluhan Kejelasan, transparansi tekhnis mengenai SOP pembinaan tekhnis
Penatalaksanaa mengenai Penatalaksanaan 2. Etika Publik: Triase Pasien Batuk mengenai SOP
n Tuberkulosis penyuluhan Tuberkulosis di Sopan, santun, mendukung Visi dan juga Triase Pasien Batuk
di Masyarakat Penatalaksanaan Masyarakat 3. Nasionalisme: Misi UPTD Puskesmas memberikan
Tuberkulosis di Diskusi mencapai msepakat Doro II nomor 2. penguatan nilai
(Sumber : SKP) Masyarakat (Sila ke-4). UPTD Puskesmas
Doro II yaitu:
Saya berbicara dengan sikap Santun, Empati,
sopan santun dan Handal, Adil dan
menyampaikan maksud dengan Teladan.
jelas kepada Atasan.
Selanjutnya, dilakukan diskusi
penetapan jadwal secara
transparan untuk mencapai
kata sepakat.

2. Menyusun surat 2. Surat undangan 1.Akuntabilitas:


undangan Penyuluhan Kejelasan, transparansi
Penyuluhan 2.Komitmen Mutu:
Teliti

Saya membuat surat undangan


Penyuluhan dengan jelas dan
teliti. Selanjutnya, Saya akan
menyerahkan surat tersebut ke
Pegawai TU untuk diberi Nomor

50
Output/ Hasil Kontribusi terhadap Visi Penguatan Nilai
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Nilai – Nilai Dasar
Kegiatan Misi Organisasi Organisasi

Surat. Selanjutnya, disebarkan


ke Kepala Desa di Wilayah
UPTD Puskesmas Doro II.

3. Melakukan 3. Masyarakat 1.Akuntabilitas:


Penyuluhan memahami Kejelasan, transparansi
Penatalaksanaan prosedur 2.Etika Publik:
Tuberkulosis di penatalaksanaan Sopan, santun,
Masyarakat Tuberkulosis. 3.Komitmen Mutu:
Sepenuh hati, komunikasi
efektif

Saya akan melakukan


penyuluhan dengan sepenuh
hati. Saya akan memberikan
materi dengan jelas, mudah
dipahami dan mengedepankan
komunikasi efektif dalam
prosesnya.

51
B. Jadwal Rancangan Aktualisasi
Kegiatan aktualisasi akan dilaksanakan di UPTD Puskesmas Doro II pada tanggal 31 Mei 2019 sampai dengan
tanggal 9 Juli 2019. Kegiatan-kegiatan aktualisasi akan di jabarkan dalam timeline kegiatan seperti pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2. Jadwal Rancangan Aktualisasi


Minggu ke/ Bulan Bukti Kegiatan
Mei Juni Juli
No. Kegiatan
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3
31 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 2 3 4 5 6 7 8 9
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0
Referensi, draft penyusunan
Membuat SOP
SOP, Hasil persetujuan
Triase Pasien
1. X X X X O O O O Atasan, draft SK,
Batuk
pengesahan SK, dan foto
(Sumber: SKP)
Kegiatan
Melakukan
pemeriksaan
terhadap Orang
Terduga
Buku RM Orang Terduga TB,
Tuberkulosis
2. X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X O O O O Foto kegiatan.
dalam
memberikan
pelayanan
kesehatan umum
(Sumber: SKP)
Mengintegrasikan Referensi, draft penyusunan
inovasi Taksi TB
Inovasi Taksi TB, Hasil
dengan program
Kelompok Peduli koordinasi dengan
3. X X X X O O O O
TB pemegang program TB,
Hasil persetujuan Atasan,
(Sumber: Inovasi)
dan foto Kegiatan
4. Melakukan X X X O O O O Hasil persetujuan Atasan,

52
pembinaan
tekhnis mengenai Surat Undangan, Absen
SOP Triase Kegiatan, Notulensi, dan foto
Pasien Batuk kegiatan
(Sumber:SKP)

Monitoring dan
Referensi, persetujuan
Evaluasi
Atasan, lembar monitoring,
5. penerapan SOP X X X X X X O O O O
hasil evaluasi dan foto
Triase Pasien
kegiatan
Batuk

Mengadakan
penyuluhan Hasil persetujuan Atasan,
tentang Surat Undangan, Absen
6. X X X O O O O
Penatalaksanaan Kegiatan, Notulensi, dan foto
Tuberkulosis di kegiatan
Masyarakat

(Sumber: data dielaborasi penulis, 2019) Keterangan: Hari libur XXPelaksanaan Kegiatan O Penyusunan Laporan

53
C. Antisipasi dan Strategi Menghadapi Kendala
Kegiatan aktualisasi nilai-nilai dasar ASN akan dilaksanakan pada
tanggal 31 Mei 2019 hingga 9 Juli 2019 pada institusi tempat kerja.
Dalam pelaksanaannya dimungkinkan terjadinya kendala-kendala
yang berisiko menghambat kegiatan yang telah direncanakan menjadi
kurang optimal. Oleh karena itu diperlukan antisipasi untuk
menghadapi kendala-kendala tersebut, sehingga dampak yang
menghambat kegiatan tersebut dapat diminimalisir. Antisipasi dalam
menghadapi kendala-kendala selama aktualisasi dijelaskan lebih
lanjut pada tabel 4.3.

Tabel 4.3 Antisipasi dan Strategi Menghadapi Kendala

Kendala yang Antisipasi dan Strategi


No Kegiatan
dihadapi menghadapi kendala

1 Membuat SOP Kesulitan menemukan Melakukan telaah literatur


Triase Pasien standar yang sesuai. lebih dalam dan studi banding
Batuk untuk membuat inovasi SOP
Terbaru.

2 Melakukan Pasien tidak kooperatif Memberikan penjelasan yang


pemeriksaan selama prosedur mudah dimengerti mengenai
terhadap Orang pemeriksaan. prosedur pemeriksaan, serta
Terduga menjelaskan betapa
Tuberkulosis pentingnya keterbukaan dan
dalam kejujuran dalam proses
memberikan penanganan keluhan pasien.
pelayanan
kesehatan umum

3 Mengintegrasikan Para kader Kelompok Membuat komitmen kerjasama


inovasi Taksi TB Peduli TB kurang
dengan program berpartisipasi aktif
Kelompok Peduli
TB

4 Melakukan Sulitnya menemukan Menyusun jadwal dengan


pembinaan tekhnis jadwal yang tepat memperhatikan kegiatan
mengenai SOP untuk pembinaan masing-masing petugas,
Triase Pasien tekhnis kemudian membuat komitmen
Batuk pelaksanaan pembinaan
tekhnis.

5 Monitoring dan Belum pahamnya Menjelaskan kembali dengan


Evaluasi petugas mengenai sabar tentang penerapan SOP
penerapan SOP penerapan SOP tersebut
Triase Pasien
Batuk

54
Kendala yang Antisipasi dan Strategi
No Kegiatan
dihadapi menghadapi kendala

6 Mengadakan Masyarakat kurang Melakukan penyuluhan


penyuluhan berpartisipasi dengan dengan menyajikan materi
tentang baik dalam semenarik mungkin
Penatalaksanaan penyuluhan
Tuberkulosis di
Masyarakat

(Sumber: data dielaborasi penulis, 2019)

55
BAB V
PENUTUP

Langkah awal dari implementasi aktualisasi adalah rancangan aktuali


sasi. Rancangan ini memetakan isu yang yang terjadi serta kegiatan seba
gai jawaban isu yang akan diaktualisasikan di tempat kerja. Isu tersebut
merupakan ketimpangan dalam penerapan prinsip Pelayanan Publik,
Whole of Government atau Manajemen ASN. Isu yang penulis dapatkan
dari lingkungan kerja adalah rendahnya cakupan temuan Orang Terduga
Tuberkulosis di Wilayah UPTD Puskesmas Doro II, belum optimalnya
pelayanan kesehatan umum di UPTD Puskesmas Doro II, masih tingginya
prevalensi Hipertensi di UPTD Puskesmas Doro II, peningkatan prevalensi
Demam Berdarah Dengue di Wilayah UPTD Puskesmas Doro II pada
bulan April 2019 dan belum optimalnya pelayanan puskesmas keliling di
wilayah UPTD Puskesmas Doro II.
Penetapan isu tersebut melalui serangkaian analisa APKL dan USG.
Sehingga ditetapkan satu isu prioritas yaitu “Rendahnya cakupan
penemuan Orang Terduga Tuberkulosis di Wilayah UPTD Puskesmas
Doro II”.
Selanjutnya, dilakukan kegiatan yang menerapkan nilai dasar PNS a
ntaranya Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan A
nti Korupsi untuk menyelesaikan isu tersebut. Rencana kegiatan yang
akan penulis lakukan adalah membuat SOP Triase Pasien Batuk di Loket
Pendaftaran, melakukan pemeriksaan terhadap Orang Terduga
Tuberkulosis dalam memberikan pelayanan kesehatan umum,
mengintegrasikan inovasi Taksi TB (Temukan Riak Atasi Tuberkulosis)
dengan Program Kelompok Peduli TB, melakukan pembinaan tekhnis
mengenai SOP Triase Pasien Batuk dan Integrasi Taksi TB, monitoring
dan Evaluasi Penerapan SOP Triase Pasien Batuk serta mengadakan
penyuluhan tentang Penatalaksanaan Tuberkulosis di Masyarakat.
Kegiatan ini sangat penting dilakukan untuk menyelesaikan isu.
Apabila tidak terlaksana maka akan menimbulkan penyebaran

56
tuberkulosis yang tidak terkendali, meningkatnya angka kesakitan akibat
Tuberkulosis, penderita Tuberkulosis tidak mendapatkan penatalaksanaan
sesuai standar dan kematian.
Pentingnya penyusunan rancangan aktualisasi dan habituasi ini
diharapkan dapat menjadi pedoman dalam pelaksanaan kegiatan.
Kegiatan-kegiatan tersebut kemungkinan mengalami kendala sehingga
rancangan kegiatan ini tidak dapat direalisasikan secara optimal atau tidak
tercapai aktualisasinya. Oleh sebab itu Penulis berharap agar rancangan
aktualisasi di UPTD Puskesmas Doro II bisa berjalan sebagaimana jadwal
dan tahapan yang telah disusun dengan dukungan segenap pihak.

57
DAFTAR PUSTAKA

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 Tentang


Aparatur Sipil Negara
Keputusan Menteri Pendayagunaan Apratur Negara Nomor:
139/KEP/M.PAN/11/2003 tentang Jabatan Fungsional Dokter dan
Angka Kreditnya.
Lembaga Administrasi Negara. 2014 Aktualisasi Nilai-Nilai Dasar Profesi
Pegawai Negeri Sipil.
Modul Penyelenggaraan Perdana Pendidikan dan Pelatihan Calon
Pegawai Negeri Sipil Prajabatan Golongan III. Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara. (2015). Nasionalisme. Modul Pendidikan
dan Pelatihan Prajabatan Golongan II dan III. Jakarta : Lembaga
Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara. (2015).Etika Publik. Modul Pendidikan dan
Pelatihan Prajabatan Golongan II dan III. Jakarta : Lembaga
Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara. (2015).Komitmen Mutu. Modul Pendidikan
dan Pelatihan Prajabatan Golongan II dan III. Jakarta : Lembaga
Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara. (2015). Anti Korupsi. Modul Pendidikan
dan Pelatihan Prajabatan Golongan II dan III. Jakarta : Lembaga
Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara. (2017). Modul Pelatihan Dasar Calon PNS
Pelayanan Publik. Jakarta : Lembaga Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara. (2017). Modul Pelatihan Dasar Calon PNS
Manajemen Aparatur Sipil Negara. Jakarta : Lembaga Administrasi
Negara.
Lembaga Administrasi Negara. (2017). Modul Pelatihan Dasar Calon PNS
Whole of Goverment. Jakarta : Lembaga Administrasi Negara.

58
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

a. Identitas Diri

1. Nama dr. Resti Fratiwi Fitri


2. Formasi Jabatan Dokter Umum
3. NIP 19920607 201902 2 009

4. Tempat, Tanggal Sungai Penuh, 7 Juni 1992


Lahir
5. Alamat Rumah Jl. Raya Karanganyar no.10,
Kec.Karanganyar, Kab.
Pekalongan
6. Nomor HP 081271327676
7. Alamat Kantor Jl. Raya Larikan, Kec. Doro,
Kab. Pekalongan
8. Alamat e-mail restifratiwifitri@gmail.com

b. Riwayat Pendidikan

Nama Sekolah Tahun Lulus Jurusan

TK Pertiwi Sungai Penuh 1998 -

SD Negeri 6/III Aur Duri 2004 -

SMP Negeri 9 Sungai Penuh 2007 -

SMA Negeri 2 Sungai Penuh 2010 IPA

Universitas Lampung 2014 S1 Kedokteran Umum

Universitas Lampung 2016 Profesi Dokter

59