Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Poliuretan atau spandex adalah serat sintetik yang mempunyai elastisitas yang
luar biasa. Lebih kuat dan lebih tahan daripada karet. Spandex merupakan kopolimer
dari poliuretan dan poliurea yang diciptakan oleh seorang kimiawan yang bernama
Joseph Shivers di laboratorium Dupont ‘s Benger di Waynesboro, Virginia pada tahun
1959. Di Amerika Utara dan Eropa Poliuretan dikenal dengan nama Elastane. Merk-
merk lainnya yaitu Lycra (Invista, sebelumnya bagian dari DuPont), Elaspan (Invista),
Creora (Hyosung), ROICA dan Dorlastan (Asahi Kasei), Linel (Fillattice), dan ESPA
(Toyobo).

Untuk penggunaan pakaian persentase poliuretan lebih sedikit dari total material
yang digunakan. Di Amerika jarang sekali digunakan untuk pakaian pria. Lebih sering
digunakan untuk pakaian wanita agar lebih membentuk dan pas di badan. Biasanya di
campur dengan persentase yang cukup besar dari produk tekstil lain seperti katun atau
polyester, untuk mengurangi efek kilap.

Serat poliuretan cenderung sulit untuk dilakukan proses pencelupan, namun


karena pada penggunaannya serat poliuretan biasanya dicampur dengan jenis serat lain
maka pencelupan dapat dillakukan menggunakan zat warna yang kompatibel dengan
serat campurannya. Serat poliuretan sering kali dicampur dengan polyester, maka dapat
dicelup dengan zat warna disperse. Penggunaan Serat Poliuretan Biasanya untuk
pakaian yang pemakaianya menginginkan merasa nyaman dan pas di badan, seperti :
baju atletik, aerobic, pakaian olahraga, baju berenang , pakaian selam, netball body
suits(baju jaring), bra, celana ski (ski pants), Legging, pakaian atlet sepeda, sarung
tangan, celana panjang wanita, kaus kaki, popok, skinny jeans, sabuk, pakaian dalam.
Untuk perabotan rumah tangga seperti bantal microbead. Maka dari itu dalam makalah
ini akan dijelaskan mengenai proses pencelupan serat campuran poliuretan
menggunakan zat warna disperse.

1.2 Rumusan Masalah


 Bagaimana sifat serat poliuretan dan zat warna disperse?
 Bagaimana mekanisme pencelupan serat poliuretan dengan zat warna disperse?
 Metode apa yang digunakan untuk mencapai hasil celup yang optimum?
 Bagaimana sifat hasil pencelupan serat poliuretan dengan zat warna disperse?

1.3 Tujuan
 Memahami sifat serat poliuretan dan zat warna disperse
 Memahami mekanisme pencelupan serat poliuretan dengan zat warna disperse.
 Dapat memilih metoda yang tepat untuk proses pencelupan poliuretan dengan zat
warna disperse.
 Mampu memprediksi sifat hasil pencelupan serat poliuretan dengan zat warna
disperse.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Serat Poliuretan


2.1.1 Umum
Serat poliuretan merupakan serat buatan yang menyerupai karet, memiliki
kemampuan mulur dan gaya kembali yang tinggi, disebabkan oleh sifat/struktur
kimianya. Serat poliuretan mempunyai mulur saat putus lebih dari 200% dan cepat
kembali kebentuk semula apabila tegangan dilepaskan sebagai elastomer.
Salah satu produk elastomer yaitu serat “poliuretan”. Poliuretan banyak dipakai
pada dunia tekstil bahkan sampai menjadi merek kaus kaki. Beberapa jenis serat
elastomer yang telah dibuat yaitu Lycra (du Point), Vyrene (U.S.Rubber Co) dan
Dorlastan (Bayer).
2.1.2 Struktur Molekul
Serat poliuretan dibuat dengan mereaksikan 1,4- butandiol dengan
heksametilena di-isosianat pada suhu 195̊C. Reaksi pembuatannya :

Gambar Reaksi Pembentukan Poliuretan


Struktur molekul rantai serat poliuretan terdiri dari:
1. Bagian yang panjang dinamakan bagian yang lunak (soft); sangat fleksibel, elastis
seperti karet, dan tidak kristalin (amorf), biasanya terdiri dari polialkohol. Bagian
yang lunak ini mudah berubah shingga tekanan yang rendah pun dapat
menghasilkan perpanjangan serat yang besar. Berat molekul bagian yang lunak ini
mempengaruhi sifat serat poliuretan. Dengan naiknya berat molekul bagian yang
lunak (pada komposisi bagian yang keras=konstan) menyebabkan gaya elongasi
menurun pada elongasi yang sama.
2. Bagian yang pendek dinamakan bagian yang keras (hard); kaku, kristalin, polar dan
mempunyai kecenderungan untuk saling melekat dengan yang lainnya (mempunyai
daya ikatan antar molekul yang kuat yaitu ikatan hidrogen) sehingga membentuk
jaringan ikatan silang. Bagian ini terdiri dari gugus isosianat dan tidak berubah
selama terjadi deformasi. Bagian yang keras menyebabkan benang berbalik kembali
ke panjang semula ketika tekanan dilepaskan setelah deformasi.

2.1.3 Morfologi

Gambar Penampang Melintang dan Membujur Serat Poliuretan

2.1.4 Sifat-Sifat Poliuretan


 Sifat Fisika:
1. Kekuatan dan mulur
Kekuatan serat poliuretan ± 0,7 g / denier ekiuvalen dengan ± 4 g / denier putus.
Mulur sebelum putus 520 – 610 %.
2. Berat jenis
Berat jenis serat poliuretan adalah 1,0-1,3g/cm3.
3. Moisture Regain
Moisture regain serat poliuretan dalam keadaan standar (27̊C dan RH 67%)
adalah 0,6-1,7%.
4. Elastisitas
Serat poliuretan dapat ditarik 6-7 kali perelaksasi sebelum putus. Serat poliuretan
bisa ditarik 500-700 % dari bentuk asalnya. Penarikan 50% pulih 93,5-96%.
5. Titik leleh
Poliuretan mulai meleleh pada suhu 250 ̊C namun pada suhu 150 ̊C serat
poliuretan mulai menunjukkan perubahan.
6. Ketahanan terhadap sinar
Serat poliuretan mempunyai ketahanan terhadap cahaya yang baik tapdalam
waktu yang lama akan kehilangan sedikit kekuatanya dan sedikitkuning.
7. Pembakaran
Tidak mudah terbakar dan tidak meneruskan pembakaran
8. Stabilitas dimensi
Dapat dicuci berulang kali tanpa mengkeret.
9. Daya lenting (resilience)
Daya lenting dan fleksibilitas serat poliuretan sangat tinggi. Sifat pemulihan
bentuk yang sangat cepat ini memberikan kenampakan yang rata dan rapi pada
kain.

 Sifat Kimia:
1. Pengaruh alkali, kekuatan serat poliuretan akan menurun.
2. Pengaruh asam, pada pH rendah keadaan panas kekuatan akan menurun.
3. Pengaruh zat pelarut, hampir tidak ada pengaruh zat pelarut seperti alkohol, eter,
benzen, asetat, bensin, terhadap serat poliuretan, kecuali dengan dimetil
formamida panas serat poliuretan akan mengembang.
4. Pengaruh terhadap zat pengelantang, serat poliuretan tida kuat terhadap zat
pengelantang yang mengandung khlor.
 Sifat Biologi :
Tahan terhadap keringat, cahaya matahari dan minyak-minyak kosmetik (karet
kurang tahan minyak-minyak).
2.2 Zat Warna Dispersi
Zat warna dispersi adalah zat warna organik yang terbuat secara sintetik. Kelarutannya
dalam air kecil sekali dan larutan yang terjadi merupakan dispersi atau partikel-partikel yang
hanya melayang dalam air.

Zat warna dispersi mula-mula digunakan untuk mewarnai serat selulosa. Kemudian
dikembangkan lagi, sehingga dapat digunakan untuk mewarnai serat buatan lainnya yang lebih
hidrofob dari serat selulosa asetat, seperti serat poliester, poliamida, dan poliakrilat.

Zat warna dispersi merupakan zat warna yang terdispersi dalam air dengan bantuan zat
pendispersi. Adapun sifat-sifat umum zat warna dispersi adalah sebagai berikut:

1. Zat warna dispersi mempunyai berat molekul yang relatif kecil (partikel 0,5-2).
2. Bersifat non-ionik terdapat gugus-gugus fungsional seperti –NH 2, -NHR, dan-OH.
Gugus-gugus tersebut bersifat agak polar sehingga menyebabkan zat warna sedikit
larut dalam air.
3. Kelarutan zat warna dispersi sangat kecil, yaitu 0,1 mg/l pada suhu 80C.
4. Tidak megalami perubahan kimia selama proses pencelupan berlangsung.

Penggolongan Zat Warna Dispersi


Berdasarkan ketahanan sublimasinya, zat warna dispersi dikelompokkan menjadi 4 golongan
yaitu :

1. Golongan A
Zat warna dispesi golongan ini mempunyai berat molekul kecil sehingga sifat
pencelupannya baik karena mudah terdispersi dan mudah masuk ke dalam serat, sedangkan
ketahanan sublimasinya rendah yaitu tersublimasipada suhu 170C. Pada umumnya zat warna
dispersi golongan ini digunakan untuk mencelup serat rayon asetat, tetapi juga digunakan untuk
mencelup poliester pada suhu 100C tanpa penambahan zat pengemban.

2. Golongan B (E)
Zat warna dispersi golongan ini memiliki sifat pencelupan yang baik dengan ketahanan
sublimasi cukup, yaitu tersublim penuh pada suhu 190C. Zat warna golongan B ini sangatbaik
untuk pencelupan poliester baik dengan cara carrier/pengemban pada suhu didih (100C)
maupun cara pencelupan suhu tinggi (130C).

3. Golongan C (SE)
Zat warna dispersi golongan ini mempunyai sifat pencelupan dengan ketahanan sublimasi
tinggi, yaitu tersublim penuh pada suhu 200C, bisa digunakan untuk mencelup cara carrier,
suhu tinggi ataupun cara thermosol.
4. Golongan D (S)
Zat warna dispersi golongan ini mempunyai berat molekul paling besar diantara keempat
golongan lainnnya sehingga mempunyai sifat pencelupan paling jelek karena sukar terdispersi
dalam larutan dan sukar masuk kedalam serat. Akan tetapi, zat warna golonganD ini memiliki
ketahanan sublimasi paling tinggi yaitu tersublimasi penuh pada suhu 210C. zat warna ini
tidak digunakan untuk pencelupan dengan zat pengemban, namun sangat baik apabila
digunakan untuk pencelupan suhu tinggi dan cara thermosol.

Adapun golongan zat warna disperse dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel-1. Golongan Zat Warna Dispersi Berdasarkan Ketahanan Sublimasinya

Bentuk Sumitomo Suhu Suhu Metoda Celup


Kelompok Termosol
molekul BASF sublimasi HT/HP Carrier
Thermosol
A 1700C 1800C 1300C 1000C

B E 1900C 2000C X X V

C SE 2000C 2100C V V V

D S 2100C 2200C V V x

Berdasarkan sturuktur kimianya, zat warna dispersi terbagi menjadi 3 golongan yaitu:

1. Golongan Azo (-N=N-)

O2N N N N
O2N N
H

2. Golongan Antrakuinon
NO2 O OH

OH O NH

3. Golongan Difenil amin

N SO2N
H
NH
Sifat-sifat Umum Zat Warna Dispersi

1. Sifat dasar mempunyai berat molekul yang rendah dengan inti kromofor, diantaranya : azo,
antrakuinon, dan dipenilamina.
2. Meleleh pada temperatur tinggi (lebih besar dari pada 150 0C), kemudian dapat mengkristal
lagi.
3. Sifat dasar adalah non ionic meskipun mempunyai gugus –OH, -NH 2, dan gugus –NHR,
dansebagainya yang bertindak sebagai gugus pemberi  (donor) hydrogen untuk
mengadakan ikatan dengan serat (gugus karbonil).
4. Gugus –OH, -NH2, dan gugus fungsional yang sejenis menyebabkan zat warna dispersi
sedikit larut dalam air (± 0,1 miligram/l), tapi mempunyai kejenuhan yang tinggi pada serat
pada kondisi pencelupan.
5. Penambahan zat pendispersi ke dalam larutan celupnya akan menyebabkan zat warna
dispersi stabil dalam air.
6. Secara relatif kerataan penyerapan zat warna dalam serat adalah tinggi (10 – 50 mg/g serat).

2.3 Mekanisme Pencelupan


Serat spandex memiliki kemampuan dicelup yang baik. Dalam proses
pencelupannya, hampir menyerupai serat nilon dan zat warna yang digunakan dari
golongan yang sama, yaitu zat warna disperse, asam dan kompleks logam. Dalam
penggunaannya serat poliuretan selalu dicampur dengan serat lain (non elastic). Proses
pencelupan poliuretan tergantung pada serat non elastic yang dicampur dengannya,
namun harus dapat dipastikan bahwa suhu dan zat kimia yang digunakan harus sesuai
dengan keberadaan poliuretan. Sama halnya dengan zat warna dan proses yang
ditambahkan harus diseleksi dengan hati-hati untuk meyakinkan bahwa serat
poliuretan juga ikut tercelup.

Metode pencelupan yang digunakan sebaiknya yang memiliki tekanan yang


rendah. Selain itu serat harus mengalami proses pre-set terlebih dahulu untuk
mengurangi perubahan bentuk atau mengkeret dari serat.

Pada proses pencelupannya, serat akan menggembung oleh adanya zat


pengemban (carrier). Kemudian zat warna akan lebih mudah berpenetrasi kedalam
serat yang sudah menggembung oleh carrier. Zat warna akan masuk kedalam serat dan
memposisikan diri menggantikan carrier sehingga zat warna terfiksasi didalam serat
kemudian serat menjadi berwarna. Gugus O- dari serat poliuretan akan berikatan
hydrogen dengan gugus H+ dari zat warna disperse. Dipilih resep dengan zat warna
2% Owf untuk menghasilkan warna yang tua. Hal ini diperlukan karena dalam proses
pencucian reduksi, zat warna akan luntur sebagian sehingga ketuaan warnanya menjadi
turun.

Zat warna disperse memiliki kerataan yang cukup baik dan menghasilkan tingkat
pencelupan yang diharapkan, namun tingkat kelunturan warna tergolong sedang karena
hal ini maka zat warna disperse hanya digunakan untuk warna-warna muda dan sedikit
pucat. Selain itu keberadaannya yang tidak begitu tahan terhadap sublimasi, maka
poliuretan sebaiknya tidak dicelup dengan suhu yang tinggi.

Campuran polyester-poliuretan

Pencampuran polyester-poliuretan bertujuan unutk meningkatkan kenyamanan dari


kain dan memberikan pegangan yang lembut. Pencampuran serat ini sering menimbulkan
masalah dalam hal pencelupan karena pada kondisi normal polyester harus dicelup pada
sushu yang lebih tinggi dari serat poliuretan.

Zat warna disperse merupakan zat warna yang paling banyak digunakan dalam
mencelup campuran serat yang mengandung serat elastomer. Dalam keadaan ini serat
poliuretan sering kali tidak tercelup sehingga dalam memilih zat warna sebaiknya dilakukan
seselektif mungkin. Pencelupan biasanya diikuti pencucian reduksi dengan menggunakan
alkali untuk meningkatkan ketahanan gosok dalam keadaan basah.
Pencelupan polyester-poliuretan dengan melakukan zat warna disperse tanpa bantuan
carrier sebaiknya dilakukan pada suhu 120-125oC dengan waktu maksimum 30 menit. Suhu
awal dan derajat kenaikan suhu tergantung dari jenis polyester dan golongan zat warna yang
dipakai.
BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan bahan


Alat
 Neraca Analitik
 Gelas Kimia 100 mL
 Gelas Ukur 100 mL
 Pipet Ukur 1 mL
 Batang Pengaduk
 Filler
 Mesin HT-Dyeing
 Tabung rapid
Bahan
 Kain Poliuretan
 Zat Warna Dispersi
 Zat pendispersi
 Zat pengemban (Carrier)
 Na2S2O4
 CH3COOH
 NaOH
3.2 Resep

Resep Pencelupan

- Zat warna disperse : 2% owf


- Zat pendispersi : 1 ml/L
- Asam asetat : pH 5
- Carrier : 0,5-1 ml/L
- Vlot : 1:20
- Suhu : 100oC
- Waktu : 45 menit

Resep pencucian reduksi


- Na2S2O4 : 1 g/L
- NaOH : 2 g/L
- Vlot : 1:20
- Suhu : 80oC
- Waktu : 10 menit
3.3 Fungsi zat

FungsiZat:

- Zat warna disperse : berfungsi untuk mewarnai serat poliuretan


- Asam Asetat : memberikan suasana asam pada larutan
- Zat pendispersi : mendispersikan zat warna dalam larutan celup
- Carrier : untuk menggembungkan serat
- Na2S2O4 : untuk menghilangkan carrier dan zat warna disperse yang
tidak terfiksasi kedalam bahan dan hanya menempel dipermukaan
- NaOH : sebagai alkali untuk membantu kerja Na2S2O4

3.4 Diagram alir

Persiapan Alat dan Bahan


Dan Perhitungan Resep

Persiapan Larutan Celup

Proses Pencelupan selama 45


menit pada suhu 100°C

Pencucian Reduksi selama 10


menit pada suhu 80°C

Pembilasan dan Pengeringan

Evaluasi
Ketuaan Warna
Kerataan Warna
3.5 Skema proses

Suhu (oC)
ZW disperse
Zatpendispersi
Asamasetat (pH 5)
Carrier
NaOH
100oC Na2S2O4
100oC
80oC

30oC

10 20 65 75 90 Waktu (menit)
BAB IV

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

 Serat poliuretan dapat dicelup menggunakan zat warna disperse dengan ikatan
hydrogen dan hidrofob antara gugus negative pada serat dan gugus positif dari zat
warna disperse.
 Serat poliuretan tidak tahan pada suhu tinggi maka dipilih metode pencelupan dengan
suhu tidak terlalu tinggi (100˚C) dan menggunakan zat pengemban (carrier) untuk
membantu proses difusinya.
 Hasil celupan serat poliuretan dengan zat warna disperse memiliki sifat sebagai
berikut:
- Hasil celupannya muda karena luntur pada saat pencucian reduksi.
- Ketahanan luntur warna terhadap pencucian baik karena bersifat hidrofob.
- Ketahanan luntur warna terhadap sinar jelek karena ikatan yang terjadi hanya ikatan
hydrogen dan hidrofobik.
DAFTAR PUSTAKA

Ichwan M, dkk., 2017. Bahan Ajar Praktikum Pencelupan 2. Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil:
Bandung.

Ir. Rasjid Djufri, M. Sc; G.A. Kasoenarno, Bk. Teks; Astini Salihima, S. Teks; Arifin Lubis, S.Teks,
“Teknologi Pengelantangan, Pencelupan dan Pencapan“, Institut Teknologi Tekstil, 1973, Bandung.

Kemal, Noerati. 2012. Serat Tekstil2. Bandung: Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil

P. Soeprijono S.Teks, Poerwanti S.Teks, Widayat S.Teks, Jumaeri S.Teks “ Serat- Serat Tekstil
“,Institut Teknologi Tekstil, 1973, Bandung

Shore, John. Colorant and Auxiliaries, volume 2- Auxiliaries.Society of Dyers and Colourists.
Manchester, England : 1990.

https://tekstildeemall.wordpress.com/2010/04/11/poliuretan-lycra-elastane/