Anda di halaman 1dari 57

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Diare adalah salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian hampir di

seluruh daerah geografis di dunia. Semua kelompok usia biasa diserang oleh

diare, tetapi penyakit berat diare dengan kematian yang tinggi teruama pada

balita. Anak-anak usia dibawah lima tahun (Balita) di negara berkembang rata-

rata mengalami 1,6 sampai 2,3 episode diare pertahun. Kejadian diare tidak

kurang dari satu milyar episode tiap tahun di seluruh dunia, 25-35 juta

diantaranya terjadi di Indonesia. Setiap anak balita mengalami diare dua sampai

delapan kali setiap tahun dengan rata-rata 3,3 kali. Setiap tahun di Indonesia

terdapat 112.000 kasus diare yang mengalami kematian pada semua golongan

umur, pada balita terjadi 55.000 kasus kematian. Periode prevalen diare pada

tahun 2013 (3,5%) lebih kecil dibandingkan dengan hasil riskesdas 2007, untuk

provisi Jawabarat sebesar 5,1% pada seluruh kelompok umur (Riskesdas, 2013).

Di Indonesia diare masih merupakan penyakit endemis dan merupakan penyakit

potensial Kejadian Luar Biasa (KLB) yang disertai dengan kematian. Menurut

survei morbiditas diare tahun 2010 yang dilakukan oleh Subdit Diare,

Departemen Kesehatan, insiden diare di Indonesia tahun 2000-2010 cenderung

naik. Pada tahun 2000, angka kejadian diare adalah 301/1000 penduduk, tahun

2006 naik menjadi 423/1000 penduduk dan tahun 2010 terdapat penurunan
menjadi 411/1000 penduduk. Meskipun angka kejadian diare meurun pada tahun

2010, hal tersebut tidak menunnjukan hal yang signifikan. Data dari profil

kesehatan Kabupaten ........... tahun 2012 dari jumlah penduduk ........... sebanyak

1.547.680 jiwa diperkirakan terjadi kasus diare sebanyak 65.467 kasus dan kasus

diatangani sebanyak 29.660 kasus (45%) (Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat,

2012). Penyakit diare juga masuk ke dalam 10 besar penyakit yang ada di

Puskesmas ............ Jumlah penderita diare tertinggi yaitu di Desa ........... dengan

total penderita tahun 2016 sebanyak 293 kasus yaitu sekitar 40% (laporanan

Bulanan Puskesmas ..........., 2017).

Penyebab diare pada balita tidak dapat dilepaskan dari kebiasaan hidup

sehat dari setiap keluarga. Faktor tersebut meliputi pemberian ASI, makanan

pendamping ASI, penggunaan air bersih, kebiasaan mencuci tangan,

kepemilikan jamban, pengelolaan sampah rumah tangga dan membuang air tinja

bayi dengan benar. Semua itu memberikan kontribusi yang besar terhadap

kesehatan lingkungan keluarga. WHO (World Health Organization),

mendefinisikan diare merupakan penyakit dimana buang air besar dalam bentuk

cair sebanyak 3 kali sehari atau lebih dari normal, terkadang dapat cair dari

biasanya. Diare menyerang anak pada tahun-tahun pertama kehidypannya

dengan prevalensi 5,5%, dan paling tinggi pada periode umur 12-23 bulan

sebanyak 7,6% dan seiring waktu prevalensi akan menurun menjadi 3,0% pada

usia anak 48-59 bulan 9riskesdas, 2013). Penyakit diare merupakan salah satu

penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak diseluruh dunia yang
menyebabkan 3-5 juta kematian setiap tahunnya, mekanisme penularan adalah

tinja-mulut, dengan makanan atau air yang merupakan penghantar untuk

kebanyakan kejadian (Riskesdas, 2013

Ada beberapa faktor yang berkaitan dengan kejadian diare yaitu tidak

memadainya penyediaan air bersih, ait tercemar oleh tinja, kekurangan sarana air

bersih, pembuangan tinja yang tidak higienis, kebersihan perorangan dan

lingkungan yang tidak sehat, pengelolaan sampah rumah tangga, pengolahan dan

penyimpanan makanan tidak semestinya (Antonius, 2014). Sanitasi lingkungan

merupakan kegiatan untuk melindungi kesehatan manusia melalui pengendalian,

pengelolaan dan pencehagan faktor lingkungan yang mengganggu kesehatan.

Penyakit diare umumnya tejadi pada daerah yang memiliki sanitasi lingkungan

yang buruk. Ruang lingkup kesehatan lingkungan tersebut antara lain mencakup

sumber air, kebersihan jamban, pembuangan sampah, kondisi rumah dan

pengelolaan limbah. Lingkungan merupakan segala sesuatu yang mengelilingi

kondisi luar manusia yang menyebabkan penularan penyakit. Kombinasi faktor

perilaku dari masyarakat yang kurang dan lingkungan, yang bila musim hujan

lebat hampir 2/3 wilayah tergenang juga memperburuk sanitasi. Berdasarkan

penelitian Antonius (2014), diketahui bahwa ada hubungan antara sanitasi

lingkungan dengan kejadian diare. Sanitasi lingkungan yang dimaksud dalam

penelitain tersebut meliputi sumber air, jenis jamban, kebersihan jamban,

pengelolaan air limbah dn pembuangan sampah.


Data yang diperoleh dari profil kesehatan Puskesmas ........... tahun 2016,

dari jumlah penduduk sebanyak 22036 jiwa, hanya 29% rumah yang memennuhi

syarat kesehatan, 1179 jiwa yang menggunakan jamban yang memenuhi syarat

kesehatan, dan 48% yang melakukan pengelolaan pembuang sampah yang benar

(Laporan Tahunan Puskesmas ..........., 2016).

Masalah kesehatan seperti halnya diare yang timbul terutama disebabkan

oleh lingkungan yang kurang atau tidak memenuhi syarat kesehatan dan belum

terpenuhinya kebutuhan sanitasi dasar seperti penyediaan air bersih,

pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah dan tinja. Keluarga yang

memilki jamban akan menggunkan jamban sebagai akhir pembuangan tinja dari

keluarganya sehingga mereka tidak akan menularkan bibit penyakit kepada

orang lain, sehingga kepemilikan jamban akan mempengaruhi terjadinya diare,

hal ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh antonius (2014) yang

berjudul faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare, dimana salah

satunya kepemilikan jamban mempengaruhi kejadian diare dengan p value 0,020

dan OR 3.409 yang artinya ada hubungan antara kepemilikan jamban dengan

kejadian diare pada balita dengan OR 3.409 dibandingkan dengan yang memilki

jamban.

Jamban merupakan tempat yang aman dan nyaman digunakan sebagai

tempat buang air besar jamban yang baik adalah jamban yang tinjanya langsung

tergelontor ke dalam lubang tangki di bawah tanah. Dan semua bagian jamban

yang terbuka kearah tinja seperti tempat duduk dan tempat jongkok harus
senantiasa dijaga kebersihannya dan tertutup rapat jika sedang tidak digunakan.

Apabila jamban yang digunakan tidak saniter, maka dapat berpotensi menjadi

tempat perkembangbiakan lalat. Seperti diketahui lalat adalah salah satu vektor

penularan penyakit diare. Lalat yang membawa kuman patogen pada bagian

tubuhnya dapat engkontaminasi makanan atau minuman yang dikonsumsi

manusia (Reeder, 2012).

Sampah secara tidak langsung dapat berpengaruh terhadap kesehatan

manusia, yaitu menjadi media penyakit bawaan vektor. Sampah yang ditimbun

sembarangan dapat menjadi sarang lalat dan tikus.. seperti diketahui lalat adalah

vektor penyakit diare yang penyebaran dan penularannya dilakukan secara

mekanik, yaitu berpindahnya bibit penyakit yang dibawa vektor kepada bahan-

bahan yang digunakan manusia seperti makanan dan minuman (Umiati, 2010).

Data yang diperoleh dari Puskesmas ..........., penyakit diare juga masuk ke

dalam 10 Berdasarkan survey awal yang dilakukan peneliti pada 20 ibu rumah

tangga yang mempunyai balita di Desa ..........., di dapat hasil bahwa hanya 35%

keluarga yang sudah memiliki jamban yang memenuhi syarat kesehatan yaitu

jamban berbentuk leher angsa dengan septic tank. Sebanyak 15% keluraga yang

mengelola sampah dengan benar yaitu membuang sampah pada tempatnya

dengan konstruksi kuat dan tertutup. Belum ada keluarga yang mengelola limbah

cair rumah tangga yaitu limbah masih disalurkan ke sungai dan selokan terbuka.

Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

hubungan kepemilikan jamban keluarga dan pengelolaan sampah dengan


kejadian diare pada balita di Desa ........... Kecamatan Panawangan

kabupaten ........... Tahun 2017.

B. Rumusan Masalah

Data yang diperoleh dari profil kesehatan Puskesmas ........... tahun 2016,

dari jumlah penduduk.sebanyak 20.838 jiwa, hanya 37% rumah yang memenuhi

syarat kesehatan, 985 jiwa yang menggunakan jamban yang memenuhi syarat

kesehatan dan 49% yang melakukan pengelolaan pembuangan sampah yang

benar (Laporan Tahunan Puskesmas Gardujya, 2018). Penyakit diare juga

masuk ke dalam 10 besar penyakit yang ada di Puskesmas ............ Jumlah

penderita diare tertinggi yaitu di Desa ........... dengan total penderita tahun 2018

sebanyak 310 kasus yaitu sekitar 41,15%.

Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah “adakah hubungan jamban keluarga dan pengelolaan

sampah dengan kejadian diare pada balita di Desa ........... Kecamatan

Panawangan kabupaten ........... Tahun 2017?”

C. Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan kepemilikan jamban keluarga dan pengelolaan

sampah dengan kejadian diare pada balita di Desa ........... Kecamatan Panawangan

Kabupaten ........... Tahun 2017.

D. Tujuan Khusus
1. Mendeskripsikan kejadian diare pada balita di Desa ........... Kecamatan

Panawangan Kabupaten ........... tahun 2019.

2. Mendeskripsikan kepemilikan jamban keluarga di Desa ........... Kecamatan

Panawangan Kabupaten ........... tahun 2017.

3. Mendeskripsikan pengelolaan sampah di Desa ........... Kecamatan Panawangan

Kabupaten ........... tahun 2017.

4. Menganalisis hubungan kepemilikan jamban keluarga dengan kejadian diare di

Desa ........... Kecamatan Panawangan kabupaten ........... tahun 2017.

5. Menganalisis hubungan pengelolaan sampah dengan kejadian diare di

Desa ........... Kecamatan Panawangan Kabupaten ........... tahun 2017

E. Ruang Lingkup

1. Lingkup Masalah

Masalah dalam penelitian ini dibatasai pada hubungan kepemilikan jamban

keluarga dan pengelolaan sampah dengan kejadian diare pada balita di

desa ........... kecamatan panawangan kabupaten ........... tahun 2017.

2. Lingkup Metode

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan

pendekatan Cross Sectional.

3. Lingkup Keilmuan

Penelitian ini merupakan bagian dari Ilmu Kesehatan Masyarakat khususnya

kajian mengenai Epidemiologi.

4. Lingkup Tempat
Penelitian dilaksanakan di Desa ........... Kecamatan Panawangan

Kabupaten ............

5. Lingkup Sasaran

Sasaran dalam penelitian ini adalah balita di Desa ........... Kecamatan

Panawangan Kabupaten ............

6. Lingkup Waktu

Penelitian ini dilaksanakan bulan April-Agustus 2017.

F. Manfaat Penelitian

1. Bagi peneliti

Digunakan sebagai sarana untuk menerapkan dan mengembangkan illmu

yang diperoleh di perkuliahan serta untuk menambah pengetahuan dan

memberi pengalaman langsung dalam mengaplikasikan illmu pengetahuan

yag dimiliki.

2. Bagi Keluarga dan Masyarakat

Untuk menambah ilmu pengetahuan keluarga dalam menjalankan perilaku

hidup bersih dan sehat khususnya dalam melakukan penanganan diare.

3. Bagi Puskesmas ...........

Sebagai informasi dan evaluasi pelaksanaan progrram P2M, dimana temuan

ini akan dijadikan indikator bagi petugas Puskesmas dalam meningkatkan

pelayanan kesehatan, meingkatkan aspek edukatif yang ditunjukan kepada

keluarga melalui proses seperti penyuluhan.

4. Bagi Akademis
Dapat dijadikan sebagai bahan informasi untuk kepentingan perkuliahan

maupun sebagai data dasar dalam peneltian di bidang kesehatan lingkungan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

B. Kejadian Diare

1. Pengertian Diare

Diare adalah penyakit yang ditandai bertambahnya frekuensi defekasi lebih

dari biasanya (> 3 kali/hari) disertai perubahan konsistensi tinja(menjadi cair),

dengan atau tanpa darah atau lendir (Suraatmaja, 2007).Menurut WHO (2008),

diare didefinisikan sebagai berak cair tiga kali ataulebih dalam sehari semalam.

Berdasarkan waktu serangannya terbagi menjadidua, yaitu diare akut (< 2

minggu) dan diare kronik (≥ 2 minggu) (Widoyono, 2008).

2. Klasifikasi Diare

Menurut Depkes RI dalam Umiati (2010), jenis diare dibagi menjadi empat

yaitu:

1. Diare akut, yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari (umumnya

kurang dari 7 hari). Akibat diare akut adalah dehidrasi, sedangkan dehidrasi

merupakan penyebab utama kematian bagi penderita diare.

2. Disentri, yaitu diare yang disertai darah dalam tinjanya. Akibat

disentriadalah anoreksia, penurunan berat badan dengan cepat,

kemungkinanterjadinya komplikasi pada mukosa.

3. Diare persisten, yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari secaraterus

menerus. Akibat diare persisten adalah penurunan berat badan dan gangguan

metabolisme.
4. Diare dengan masalah lain, yaitu anak yang menderita diare (diare akutdan

diare persisten), mungkin juga disertai dengan penyakit lain, sepertidemam,

gangguan gizi atau penyakit lainnya.

Menurut Suraatmaja (2007), jenis diare dibagi menjadi dua yaitu:

1. Diare akut, yaitu diare yang terjadi secara mendadak pada bayi dan anak

yang sebelumnya sehat.

2. Diare kronik, yaitu diare yang berlanjut sampai dua minggu atau

lebihdengan kehilangan berat badan atau berat badan tidak bertambah

selama masa diare tersebut.

3. Etiologi Diare

Menurut Widoyono (2008), penyebab diare dapat dikelompokan menjadi:

1. Virus: Rotavirus.

2. Bakteri: Escherichia coli, Shigella sp dan Vibrio cholerae.

3. Parasit: Entamoeba histolytica, Giardia lamblia dan Cryptosporidium.

4. Makanan (makanan yang tercemar, basi, beracun, terlalu banyak lemak,

sayuran mentah dan kurang matang).

5. Malabsorpsi: karbohidrat, lemak, dan protein.

6. Alergi: makanan, susu sapi.

7. Imunodefisiensi.

4. Gejala Diare

Menurut Widjaja (2012), gejala diare pada balita yaitu:

1. Bayi atau anak menjadi cengeng dan gelisah. Suhu badannya pun meninggi.
2. Tinja bayi encer, berlendir, atau berdarah.

3. Warna tinja kehijauan akibat bercampur dengan cairan empedu.

4. Anusnya lecet.

5. Gangguan gizi akibat asupan makanan yang kurang.

6. Muntah sebelum atau sesudah diare.

7. Hipoglikemia (penurunan kadar gula darah).

8. Dehidrasi.

5. Epidemiologi Diare

Epidemiologi penyakit diare, adalah sebagai berikut (Depkes RI, 2008).

1. Penyebaran kuman yang menyebabkan diare biasanya menyebar melaluifecal

oral antara lain melalui makanan atau minuman yang tercemar tinja dan atau

kontak langsung dengan tinja penderita. Beberapa perilaku yang dapat

menyebabkan penyebaran kuman enterik dan meningkatkan risiko terjadinya

diare, antara lain tidak memberikan ASI (Air Susu Ibu) secara penuh 4/6

bulan pada pertama kehidupan, menggunakan botol susu, menyimpan

makanan masak pada suhu kamar, menggunakan air minum yang tercemar,

tidak mencuci tangan dengan sabun sesudah buang air besar atau sesudah

membuang tinja anak atau sebelum makan atau menyuapi anak, dan tidak

membuang tinja dengan benar.

2. Faktor penjamu yang meningkatkan kerentanan terhadap diare. Beberapa

faktor pada penjamu yang dapat meningkatkan beberapa penyakit dan

lamanya diare yaitu tidak memberikan ASI sampai dua tahun, kurang gizi,
campak, immunodefisiensi, dan secara proporsional diare lebih banyak

terjadi pada golongan balita.

3. Faktor lingkungan dan perilaku. Penyakit diare merupakan salah satu

penyakit yang berbasis lingkungan. Dua faktor yang dominan, yaitu sarana

air bersih dan pembuangan tinja. Kedua faktor ini akan berinteraksi dengan

perilaku manusia. Apabila faktor lingkungan tidak sehat karena tercemar

kuman diare serta berakumulasi dengan perilaku yang tidak sehat pula, yaitu

melalui makanan dan minuman, maka dapat menimbulkan kejadian diare.

6. Distribusi Diare

Distribusi penyakit diare berdasarkan orang (umur) sekitar 80% kematian diare

tersebut terjadi pada anak di bawah usia 2 tahun. Data Tahun 2004 menunjukkan

bahwa dari sekitar 125 juta anak usia 0-11 bulan, dan 450 juta anak usia 1-4

tahun yang tinggal di negara berkembang, total episode diare pada balita sekitar

1,4 milyar kali per tahun. Dari jumlah tersebut total episode diare pada bayi usia

di bawah 0-11 bulan sebanyak 475 juta dan anakusia 1-4 tahun sekitar 925 juta

kali per tahun (Amiruddin, 2007).

7. Penularan Diare

Penyakit diare sebagian besar disebabkan oleh kuman seperti virus dan bakteri.

Penularan penyakit diare melalui jalur fekal oral yang terjadi karena:

1. Melalui air yang sudah tercemar, baik tercemar dari sumbernya, tercemar

selama perjalanan sampai ke rumah-rumah, atau tercemar pada saat

disimpan di rumah. Pencemaran ini terjadi bila tempat penyimpanan tidak


tertutup atau apabila tangan yang tercemar menyentuh air pada saat

mengambil air dari tempat penyimpanan.

2. Melalui tinja yang terinfeksi. Tinja yang sudah terinfeksi, mengandung

virus atau bakteri dalam jumlah besar. Bila tinja tersebut dihinggapi oleh

binatang dan kemudian binatang tersebut hinggap dimakanan, maka

makanan itu dapat menularkan diare ke orang yang memakannya

(Widoyono, 2008). Sedangkan menurut (Depkes RI, 2008) kuman penyebab

diare biasanya menyebar melalui fecal oral antara lain melalui makanan

atau minuman yang tercemar tinja dan atau kontak langsung dengan tinja

penderita. Beberapa perilaku yang dapat menyebabkan penyebaran kuman

enterik dan meningkatkan risiko terjadinya diare, yaitu: tidak memberikan

ASI (Air Susu Ibu) secara penuh 4-6 bulan pada pertama kehidupan,

menggunakan botol susu, menyimpan makanan masak pada suhu kamar,

menggunakan air minum yang tercemar, tidak mencuci tangan dengan

sabun sesudah buang air besar, tidak mencuci tangan sesudah membuang

tinja anak, tidak mencuci tangan sebelum atau sesudah menyuapi anak dan

tidak membuang tinja termasuk tinja bayi dengan benar.

8. Penanggulangan Diare

Menurut Depkes RI (2008), penanggulangan diare antara lain:


1. Pengamatan intensif dan pelaksanaan SKD (Sistem Kewaspadaan Dini)

Pengamatan yang dilakukan untuk memperoleh data tentang jumlah

penderita dan kematian serta penderita baru yang belum dilaporkan dengan

melakukan pengumpulan data secara harian pada daerah fokus dan daerah

sekitarnya yang diperkirakan mempunyai risiko tinggi terjangkitnya penyakit

diare. Sedangakan pelaksanaan SKD merupakan salah satu kegiatan dari

surveilance epidemiologi yang kegunaanya untuk mewaspadai gejala akan

timbulnya KLB (Kejadian Luar Biasa) diare.

2. Penemuan kasus secara aktif

3. Tindakan untuk menghindari terjadinya kematian di lapangan karena diare

pada saat KLB di mana sebagian besar penderita berada di masyarakat.

4. Pembentukan pusat rehidrasi

5. Tempat untuk menampung penderita diare yang memerlukan perawatan dan

pengobatan pada keadaan tertentu misalnya lokasi KLB jauh dari puskesmas

atau rumah sakit.

6. Penyediaan logistik saat KLB

7. Tersedianya segala sesuatu yang dibutuhkan oleh penderita pada saat

terjadinya KLB diare.

8. Penyelidikan terjadinya KLB

9. Kegiatan yang bertujuan untuk pemutusan mata rantai penularan dan

pengamatan intensif baik terhadap penderita maupun terhadap faktor risiko.

10. Pemutusan rantai penularan penyebab KLB


11. Upaya pemutusan rantai penularan penyakit diare pada saat KLB diare

meliputi peningkatan kualitas kesehatan lingkungan dan penyuluhan

kesehatan.

9. Pencegahan Diare

Menurut Depkes RI (2000) dalam Umiati (2010), penyakit diare dapat dicegah

melalui promosi kesehatan antara lain:

1. Meningkatkan penggunaan ASI (Air Susu Ibu).

2. Memperbaiki praktek pemberian makanan pendamping ASI.

3. Penggunaan air bersih yang cukup.

4. Kebiasaan cuci tangan sebelum dan sesudah makan.

5. Penggunaan jamban yang benar.

6. Pembuangan kotoran yang tepat termasuk tinja anak-anak dan bayi yang

benar.

7. Memberikan imunisasi campak.

C. Faktor Resiko Kejadian Diare

Secara umum faktor risiko kejadian Diare yang sangat berpengaruh terjadinya

diare yaitu faktor lingkungan (tersedianya air bersih, jamban keluarga,

pembuangan sampah, pembuangan air limbah), perilaku hidup bersih dan sehat,

kekebalan tubuh, infeksi saluran pencernaan, alergi, malabsorpsi, keracunan,

immuno defisiensi serta sebab-sebab lain.

Sedangkan pada balita faktor risiko terjadinya Diare selain faktor intrinsik

dan ekstrinsik juga sangat berpengaruh oleh perilaku ibu dan pengasuh balita
karena balita masih belum menjaga dirinya sendiri dan sangat tergantung pada

lingkungannya, jadi apabila ibu balita atau pengasuh balita tidak bisa mengasuh

balita dengan baik dan sehat maka kejadian Diare pada balita tidak dapat

dihindari.

Penularan penyakit Diare pada balita biasanya melalui jalur fecal oral

terutama karena:

1. Menelan makanan yang terkontaminasi (makanan sapihan dan air).

Dari penelitian Sobel J dkk di Sao Paulo, Brazil ditemukan bahwa mencuci

botol susu bayi dengan air mendidih dapat mencegah diare dengan matched

odds ratio (mOR)=0,60, p=0,026.

2. Kontak dengan tangan yang terkontaminasi

Penelitian di daerah kumuh Karachi, Pakistan menyatakan bahwa program

pemberian sabun gratis pada masyarakat dapat menurunkan 53% kaus diare

pada anak-anak. Selain itu ada pula penelitian yang dilakukan oleh Hutin Y

dkk pada KLB di kota Kano, Nigeria, dimana didapat Age-adjusted odds

ratio (AAOR) untuk mencuci tangan dengan sabun sebelum makan yaitu

sebesar 0,2;95%;CI=0,1-0,6, yang berarti bahwa mencuci tangan dengan

sabun sebelum makan dapat mencegah diare pada anak sebanyak 80%

dibanding yang tidak.

3. Beberapa faktor yang berkaitan dengan peningkatan kuman perut:

a. Tidak memadainya penyediaan air bersih

b. Kekurangan sarana kebersihan dan pencemaran oleh tinja


c. Penyiapan dan penyimpanan makanan tidak secara semestinya

4. Tindakan penyapihan yang jelek (penghentian ASI yang terlalu dini , susu

botol, pemberian ASI yang diselang-seling dengan susu botol pada 4-6 bulan

pertama).

D. Pengelolaan Sampah

1. Pengertian Sampah

Sampah adalah semua jenis bahan padat, termasuk cairan dalam

containeryang dibuang sebagai bahan buangan yang tidak bermanfaat atau

berbagai barang yang dibuang karena berlebihan (Sarudji dan Keman, 2010).

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2012, mengartikan

sampah sebagai sisa kegiatan sehari-hari manuasia atau proses alam yang

berbentuk padat. Sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak terpakai,

tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia.

Berdasarkan batasan-batasan tersebut menunjukkan bahwa sampah merupakan

hasil kegiatan manusia yang dibuang karena sudah tidak berguna (Andani,

2011).

2. Jenis Sampah

Menurut Kusnoputro dan Susanna (2010), sampah padat dibagi beberapa jenis

yaitu sebagai berikut:

a. Berdasarkan at kimia yang terkandung didalamnya:


1) Sampah yang bersifat anorganik, contohnya: logam-logam, pecahan

gelas dan abu

2) Sampah yang bersifat organik, contohnya: sisa-sisa makanan, kertas,

plastik, daun-daunan, sisa sayur-sayuran dan buah-buahan.

b. Berdasarkan dapat tidaknya dibakar:

1) Sampah yang mudah dibakar, contohnya: kertas, karet, plastik, kain-

kain dan kayu

2) Sampah yang tidak dapat terbakar, contohnya: kaleng-kaleng, sisa-sisa

potongan besi, gelas dan abu.

c. Berdasarkan dapat tidaknya membusuk:

1) Sampah-sampah yang tidak membusuk, contohnya: plastik, kaleng-

kaleng, pecahan gelas, karet dan abu.

2) Sampah-sampah yang mudah membusuk, contohnya: potongan-

potongan daging, sisa-sisa makanan, sisa-sisa daun-daunan, buah-

buahan, kertas dan lain-lain.

3. Sumber Sampah

Menurut Chandra (2017), sampah berasal dari beberapa sumber yaitu sebagai

berikut:

a. Permukiman penduduk

Sampah disuatu permukiman biasanya dihasilkan oleh satu atau beberapa

keluarga yang tinggal dalam suatu bangunan atau asrama yang terdapat di

desa atau di kota. Jenis sampah yang dihasilkan biasanya sisa makanan dan
bahan sisa proses pengolahan makanan atau sampah basah (garbage),

sampah kering (rubbish), abu atau sampah sisa tumbuhan.

b. Tempat umum dan perdagangan

Tempat umum adalah tempat yang memungkinkan banyak orang

berkumpul dan melakukan kegiatan, termasuk juga tempat perdagangan.

Jenis sampah yang dihasilkan berupa sisa makanan (garbage), sampah

kering (rubbish), sisa-sisa bahan bangunan, sampah khususu dan terkadang

sampah berbahaya,

c. Sarana layanan masyarakat dan klinik

Saranan layanan yang dimaksud yaitu tempat hiburan dan umum, tempat

parkir, tempat layanan kesehatan misalnya rumah sakit dan Puskesmas,

komplek militer, gedung pertemuan, pantai tempat hiburan dan sarana

pemerintah lainnya. Tempat tersebut biasanya menghasilkan sampah

khusus dan sampah kering.

d. Industri berat dan ringan

Yang termasuk industri berat dan ringan yaitu industri makanan dan

minuman, industri kayu, industri kimia, industri logam, tempat pengolahan

air kotor dan air minum dan kegiatan industri lainnya, baikyang sifatnya

distributif atau proses bahan mentah. Sampah yang dihasilkan dari tempat

ini biasanya sampah basah, sampah kering, sisa-sisa bangunan, sampah

khusus dan sampah berbahaya.

e. Pertanian
Sampah dohasilkan dari lokasi pertanian seperti kebun, ladang atau sawah

sampah yang dihasilkan berupa bahan-bahan makanan yang telah

membusuk, sampah pertanian, pupuk maupun bahan pembasmi serangga

tanaman.

4. Pengelolaan Sampah

Menurut Undang-undang nomor 18 tahun 2008, pengelolaan sampah

adalah kegiatan yang sistematis dan berkesinambungan yang meliputu

pengurangan dan penanganan sampah. Pengelolaan sampah adalah suatu

bidang kegiatan yang berkaitan dengan pengaturan terhadap sumber sampah,

penyimpanan, pengumpulan, pemindahan dan pengangkutan, pengolahan dan

pembuangan sampah dengan suatu cara yang sesuai, baik dari segi kesehatan

masyarakat, ekonomi, teknik, konservasi, estetika dan berbagai pertimbangan

lingkungan lainnya dengan memperhatikan sikap masyarakat (Sarudji dan

Keman, 2010).

Menurut Andini (2017), pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah

sejenis sampah rumah tangga terdiri dari dua hal yaitu pengurangan sampah

dan penanganan sampah. Pengurangan sampah meliputi pembatasan sumber

sampah melalui daur ulang dan pemanfaatan kembali sampah. Sedangkan

kegiatan penanganan sampah meliputi:

a. Pemilihan dalam bentuk pengelompokan pemisahan sampah sesuai dengan

jenis, jumlah dan sifat sampah.


b. Pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari

sumber sampah ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) atau Tempat

Pengelolaan Sampah Terpadu (TPT). TPS adalah tempat sebelum sampah

diangkut ke tempat pendauran ulang, engolahan dan atau tempat

pengolahan sampah terpadu. Sedangkan TPT adalah tempat

dilaksanakannya kegiatan pengumpulan, pemilahan, penggunaan ulang,

pendauran ulang, pengolahan dan pemrosesan akhir sampah.

c. Pengangkutan dalam bentuk membawa sampah dari sumber atau dari

tempat penampungan sampah sementara artau dari Tempat Pengolahan

Sampah Terpadu (TPST) menuju ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

TPA adalah tempat untuk memproses dan mengembalikan sampah ke

media lingkungan secara aman bagi manusia dan lingkungan.

d. Pengolahan dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi dan jumlah

sampah.

e. Proses akhir sampah dalam bentuk pengambilan sampah dan residu hasil

pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman.

Menurut Suyono dan Budiman (2011), pengurangan sampah dilakukan

dengan beberapa cara yaitu:

a. Reuse yaitu pemanfaatan kembali sampah secara langsung tanpa melalui

proses daur ulang misalnya pengumpulan koran bekas, proses ini biasanya

dilakukan oleh para pemulung.


b. Recycling (daur ulang) yaitu pemanfaatan bahan buangan untuk diproses

kembali menjadi barang yang sama atau menjadi bentuk lain. Proses ini

juga biasanya dilakukan oleh para pemulung.

Menurut Neolaka (2018), proses akhir pengolahan sampah dilakukan di

Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) yang dijadikan sebagai Kawasan

Industri Sampah (KIS). Di lokasi TPA juga dilakukan pemisahan sampah dengan

teliti untuk mengetahui perlakuan sampah-sampah tersebut sesuai fungsinya.

Sampah yang berbahaya perlu penanganan secatra khusus. Biasanya sampah

berbahaya penanganannya disesuaikan Undang-undang atau peraturan yang

berlaku. Namun pada sampah yang tidak bisa diolah atau diproses secara khusus

dibuang dengan cara sanitary landfill. Akan tetapi kenyaaan di lapangan yang

terjadi adalah dilakukan dengan cara open dumping.

Menurut Chandra (2017), tahap pemusnahan sampah terdapat beberapa

metode yang dapat digunakan antara lain:

a. Sanitary landfill adalah sistem pemusnahan yang paling baik, dalam

metode ini pemusnahan dilakukan dengan cara menimbun sampah dengan

tanah yang dilakukan selapis demi selapis.

b. Incineration atau insenerasi merupakan metode pemusnahan sampah

dengan cara membakar sampah secara besar-besaran dengan menggunakan

fasilitas pabrik.
c. Composting yaitu pemusnahan sampah dengan cara memanfaatkan proses

dekomposisi zat organik oleh bakteri-bakteri tertentu, proses ini

menghasilkan bahan berupa kompos atau pupuk.

d. Hog feeding yaitu pemberian sejenis garbage kepada hewan ternak (babi)

tetapi perlu diinat bahwa sampah basah tersebut harus diolah terlebih

dahulu (dimasak atau direbus) untuk mencegah penularan penyakit cacing

pita (trichinosis) ke hewan ternak.

e. Discharge to sewers yaitu sampah dihaluskan kemudian dimasukan ke

dalam sistem pembuangan air limbah. Meode ini dapat efektif jika sistem

pembuangan air limbah dilakukan dengan baik.

f. Dumping

Dumping yaitu sampah dibuang atau diletakkan begitu saja di tanh lapang,

jurang atau TPA sampah sampai sampah tersebut penuh dan pembuangan

sampah dipindahkan ke lokasi lain atau TPA yang baru (Chandra, 2017).

Dumping merupakan metode yang paling sederhana dan sering dipakai di

negara berkembang. Biasanya dimanfaatkan untuk menutup tanah, rawa

dan jurang, sampah hanya dibuang dan ditumpuk saja tanpa oenutupan.

Sistem ini terbagi menjadi dua macam yaitu open dumping (penumpukan

terbuka) dan sea dumpng (penumpukan di laut), metode ini menimbulkan

masalah pencemaran.

5. Pengaruh Sampah terhadap Masyarakat dan Lingkungan


Sampah padat yang tidak dikelola dengan baik, hanya dibuang saja akan

menjadi masalah bagi kesehatan masyarakat. Hal ini bisa terjadi karena

sampah tersebut menjadi sarang vektor penyakit. Sampah padat berupa

makanan sangat disukai lalat, lalat akan hinggap dan bahkan bertelur

ditumpukan sampah itu. Apabila sampah mengandung kotoran binatang atau

manusia yang telah terinfeksi, maka lalat yang hinggap pada kotoran dapat

menularkan penyakit. Sampah padat yang kotor dapat menjadi sarang kecoa

seperti halnya dapat menyebarluaskan bibit penyakit (Machfoedz, 2018).

Binatang lain yang senang berkembang biak di dalam sampah padat atau yang

bersembunyi di dalam sampah misalnya kelabang dan luwing yang dapat

menyemprotkan cairan dari mulutnya sampai 75 cm, apabila cairan ini

mengenai mata dapat mengakibatkan buta. Sampah padat yang bertumpuk di

atas tanah yang lembab juga merupakan tempat yang baik bagi cacing-cacing

tertentu yang bisa membahayakan kesehatan seperti halnya cacing cambuk dan

cacing gelang (Machfoedz, 2018).

Menurut Adnani (2011), pengaruh sampah terhadap kesehatan dapat

dikelompokan menjadu dua yaitu:

a. Pengaruh langsung

Pengaruh langsung terhadap kesehatan disebabkan karena adanya kontak

langsung antara anusia dengan sampah tersebut. Misalnya sampah


beracun, sampah yang bersifat korosif terhadap tubuh, sampah

karsinogenik, teratogenik dan sebagainya. Selain itu pula sampah yang

mengandung kuman patogen sehingga dapat menimbulkan penyakit.

Sampah ini berasal dari sampah rumah tangga dan sampah industri.

b. Pengaruh tidak langsung

Pengaruh tidak langsubg umumnya disebabkan oleh adanya vektor yang

membawa kuman penyakit yang berkembang biak di dalam sampah dan

menularkannya kepada manusia. Sampah apabila ditimbun sembarangan

dapat dipakai sarang lalat, nyamuk dan tikus. Lalat merupakan vektor dari

berbagai macam penyakit saluran pencernaan seperti diare, typus, kholera

dan sebagainya. Nyamuk aedes aegypty yang hidup dan berkembang biak

di lingkungan yang pengelolaan sampahnya kurang baik (banyak kaleng

dengan genangan air), sedangkan tikus disamping merusak harta benda

masyarakat juga sering membawa pinjal yang dapat menyebarkan penyakit

pes dan leptospirosis serta penyakit bawaan sampah lainnya seperti

keracunan gas metan (CH4), hidrogen sulfida (H2S) dan sebagainya.

Zat kimia yang dihasilkan sampah berupa gas hidrogen sulfida (H2S) yang

terbentuk akibat adanya penguraian zat-zat organik oleh bakteri. Gas ini

tidak berwarna tetapi mempunyai ciri berbau khas seperti telur busuk dan

merupakan jenis gas beracun. Gas ini bersifat iritan bagi paru-paru dan

efek utamanya melumpuhkan sistem pernafasan. Efek fisik gas H2S

terhadap manusia tergantung dari beberapa faktor diantaranya adalah


lamanya seseorang berada di lingkungan paparan H2S, frekuensi seseorang

terpapar, besarnya konsentrasi H2S dan daya tahan seseorang terhadap

paparan H2S. efek gas K2S berupa gejala sakit kepala atau pusing, batuk,

sesak nafas, kulit terasa perih, kehilangan kemampuan membau. Pada

konsentrasi yang tinggi mengakibatkan kehilangan kesadaran dan bisa

mematikan dalam waktu 30 menit sampai 1 jam pada konsentrasi lebih

dari 700 PPM kehilangan kesadaraan dengan cepat dan berlanjut kematian.

Menurut Kusnoputranto dan Susanna (2010), pengelolaan sampah yang

tidak baik memberikan pengaruh yang besar terhadap lingkungan seperti:

a. Menyebabkan estetika lingkungan menjadi tidak indah dilihat akibat

adanya tumpukan sampah sehingga menganggu kenyamanan

lingkungan masyarakat.

b. Proses pembusukan sampah oleh mikroorganisme menghasilkan gas-

gas tertentu yang dapat menyebabkan timbulnya bau busuk. Apabila

konsentrasi bau busuk sangat tinggi maka dapat menimbulkan

ketidaknyamanan masyarakat.

c. Adanya debu-debu dapat menganggu mata dan pernafasan

d. Resiko terjadinya kebakaran (baik sengaja maupun tidak) dan asap

yang ditimbulkan dapat menganggu pernafasan, penglihatan dan

penurunan kualitas udara. Selain itu berpotensi menyebabkan

kebakaran yang luas dan membahayakan penduduk sekitar.


e. Resiko terjadinya pencemaran udara karena meningkatnya konsentrasi

debu, asap dan gas-gas dari sampah padat yang melewati standar

kualitas udara.

f. Pembuangan sampah ke saluran air akan menyebabkan pendangkalan

saluran dan mengurangi kemampuan daya aliran sungai. Sehingga bila

terjadi hujan dapat menimbulkan banjir. Pembuangan sampah ke dalam

selokan atau badan-badan air akan menyebabkan badan air tersebut

menjadi kotor. Selain itu hasil dekomposisi biologis dari sampah yang

berupa cairan organik dapat mencemari air permukaan ataupun air

tanah menjadi dangkal

g. Dihasilkan asam organik dari sampah yang dibuang ke badan air serta

kemungkinan timbulnya banjir akibat timbunan sampah yang

berpotensi untuk menyebabkan kerusakan fasilitas masyarakat, antara

lain kerusakan jalan, jembatan, saluran air, fasilitas saringan dan

penolahan ai kotor.

6. Hubungan Pengelolaan Sampah dengan Kejadian Diare

Timbulnya penyakit pada masyarakat tertentu pada dasarnya

merupakan hasil interaksi antara penduduk setempat dengan berbagai

komponen di lingkungannya. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat

berinteraksi dengan pangan, udara, air, serangga, tanah dan manusia. Apabila

berbagai komponen lingkungan tersebut mengandung bahan beracun ataupun

bahan mikroba yang memilki potensi timbulnya penyakit, maka manusia akan
jatuh sakit dan menurunkan kualitas sumber daya manusia. Sumber penyakit

atau agen masuk ke dalam tubuh melalui tiga cara yaitu sistem pernafasan,

sistem pencernaan dan melalui permukaan kulit (Achmadi, 2018).

Sistem pencernaan sangat penting dalam menunjang kesehatan, sistem

pencernaan memproses apa yang kita makan dan minum untuk memenuhi

kebutuhan tubuh akan nutrisi dan energi untuk berfungsi dengan baik. Sistem

pencernaan meliputi mulut, kerongkongan, lambung, usus kecil, usus besar

hingga anus. Penyakit dan gangguan sistem pencernaan bervariasi, namun

biasanya memilki gejala yang serupa lalu mengarah ke salah satu jenis

penyakit. Perlu diwaspadai apabila buang air besar yang disertai adanya darah

karena merupakan salah satu gejala penyakit yang lebih serius (Shanty, 2011).

Diare adalah gangguan yang terjadi ketika adanya perubahan

konsistensi feses cair dan buang air besar. Seseorang dikatakan diare apabila

feses cair dan buang air besar lebih dari 3 kali. Diare disebabkan oleh infeksi

mikroorganisme meliputi bakteri, virus, parasit dan protozoa. Diare dapat

mengenai semua kelompok umur dan berbagai golongan sosial, baik negara

maju maupun negara berkembang dan erat hubungannya dengan lingkungan

yang tidak higienes (Depkes RI, 2009).

Menurut Depkes RI (2009), penularan diare dapat terjadi melalui air

yang terkontaminasi bakteri, melalui vektor penyakit, melalui tangan yang

kontak dengan bakteri dan melalui tanah yang terkontaminasi. Faktor resiko

yang paling dominan menimbulkan diare adalah:


a. Sarana air bersih, yaitu semua sarana air bersih yang dipakai sebagai

sumber air yang dipakai sehari-hari oleh masyarakat. Yang perlu

diperhatikan antara lain kualitas jumlah air yang digunakan oleh

masyarakat, kualitas air serta sumber air bersih yang digunakan.

b. Pembuangan kotoran, berupa jamban yang digunakan oleh masyarakat

yang memenuhi syarat antara lain kotoran manusia tidak mencemari

lingkungan, tidak mencemari air dan tanah, tidak terjamah oleh manusia

dan vektor.

c. Pembuangan air limbah yang berasal dari industri dari rumah tangga.

d. Pembuangan sampah apabila pengelolaan sampah tidak memenuhi

persyaratan.

E. Kepemilikan Jamban

Jamban merupakan sarana yang digunakan masyarakat sebagai tempat buang

air besar. Sehingga sebagai tempat pembuangan tinja, jamban sangat potensial

untuk menyebabkan timbulnya berbagai gangguan bagi masyarakat yang ada di

sekitarnya. Gangguan tersebut dapat berupa gangguan estetika, kenyamanan dan

kesehatan. Menurut Notoatmodjo (2010), suatu jamban disebut sehat untuk daerah

pedesaan, apabila memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut:

1. Tidak mengotori permukaan tanah disekeliling jamban tersebut.

2. Tidak mengotori air permukaan di sekitarnya.

3. Tidak mengotori air tanah di sekitarnya.


4. Tidak dapat terjangkau oleh serangga terutama lalat, kecoak, dan binatang-

binatang lainnya.

5. Tidak menimbulkan bau.

6. Mudah digunakan dan dipelihara.

7. Sederhana desainnya.

8. Murah.

9. Dapat diterima oleh pemakainya.

Menurut Entjang (2010), macam-macam kakus atau tempat pembuangan tinja,

yaitu:

1. Pit-privy (Cubluk)

Kakus ini dibuat dengan jalan membuat lubang ke dalam tanah dengan

diameter 80-120 cm sedalam 2,5-8 meter. Dindingnya diperkuat dengan batu

atau bata, dan dapat ditembok ataupun tidak agar tidak mudah ambruk. Lama

pemakaiannya antara 5-15 tahun. Bila permukaan penampungan tinja sudah

mencapai kurang lebih 50 cm dari permukaan tanah, dianggap cubluk sudah

penuh. Cubluk yang penuh ditimbun dengan tanah. Ditunggu 9-12 bulan.

Isinya digali kembali untuk pupuk, sedangkan lubangnya dapat dipergunakan

kembali.

2. Aqua-privy (Cubluk berair)

Terdiri atas bak yang kedap air, diisi air di dalam tanah sebagai tempat

pembuangan tinja. Proses pembusukannya sama seperti halnya pembusukan


tinja dalam air kali. Untuk kakus ini, agar berfungsi dengan baik, perlu

pemasukan air setiap hari, baik sedang dipergunakan atau tidak.

3. Watersealed latrine (Angsa-trine)

Jamban jenis ini merupakan cara yang paling memenuhi persyaratan, oleh

sebab itu cara pembuangan tinja semacam ini yang dianjurkan. Pada kakus ini

closetnya berbentuk leher angsa, sehingga akan selalu terisi air. Fungsi air ini

gunanya sebagai sumbat, sehingga bau busuk dari cubluk tidak tercium di

ruangan rumah kakus.

4. Bored hole latrine

Sama dengan cubluk, hanya ukurannya lebih kecil karena untuk pemakaian

yang tidak lama, misalnya untuk perkampungansementara.

5. Bucket latrine (Pail closet)

Tinja ditampung dalam ember atau bejana lain dan kemudian dibuang di

tempat lain, misalnya untuk penderita yang tidak dapat meninggalkan tempat

tidur.

6. Trench latrine

Dibuat lubang dalam tanah sedalam 30-40 cm untuk tempat penampungan

tinja. Tanah galiannya dipakai untuk menimbuninya.

7. Overhung latrine

Kakus ini semacam rumah-rumahan yang dibuat di atas kolam, selokan, kali

dan rawa.
8. Chemical toilet (Chemical closet).

Tinja ditampung dalam suatu bejana yang berisi caustic soda sehingga

dihancurkan sekalian didesinfeksi. Biasanya dipergunakan dalam kendaraan

umum, misalnya pesawat udara atau kereta api. Dapat pula digunakan dalam

rumah sebagai pembersih tidak dipergunakan air, tetapi dengan kertas (toilet

paper).

Berdasarkan hasil penelitian (Wibowo,2004) jenis tempat pembuangan tinja

yang terbanyak digunakan pada kelompok kasus adalah jenis leher angsa

(68,3%), sedangkan 7,9% menggunakan jenis plengsengan dan 23,8% tidak

memiliki jamban.

F. Prinsip Pengobatan Diare

Intervensi untuk menurunkan angka kematian dan angka kesakitan adalah

melaksanakan tatalaksana penderita diare, yaitu:

1. Mencegah terjadinya dehidrasi

Mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari rumah dengan

memberikan minum lebih banyak dengan cairan rumah tangga yang dianjurkan.

2. Mengobati dehidrasi

Bila terjadi dehidrasi (terutama pada anak), penderita harus segera dibawa ke

petugas kesehatan atau sarana kesehatan untuk mendapatkan pengobatan yang

lebih cepat dan tepat, yaitu dengan oralit.


3. Memberi makanan

Memberikan makanan selama serangan diare sesuai yang dianjurkan dengan

memberikan makanan yang mudah dicerna. Anak yang masih minum ASI harus

lebih sering diberi ASI. Setelah diare berhenti, pemberian makanan diteruskan

selama dua minggu untuk membantu pemulihan berat berat badan anak.

4. Mengobati masalah lain

Apabila diketemukan penderita diare disertai dengan penyakit lain, maka

diberikan pengobatan sesuai anjuran, dengan tetap mengutamakan rehidrasi

(Depkes RI, 2005).


G. Kerangka Teori

Penyebab Penyakit
( Penderita )

Kuman

Makanan

Sumber Air Minum

Kualitas Fisik
Air Bersih

Sanitasi Kejadian
Lingkungan Orang
Diare pada
Kepemilikan Jamban Sehat
Balita

Pengelolaan Sampah

Perilaku

Keterangan : : Tidak ditetiti

: Diteliti
BAB III

KERANGKA KONSEP DEFINISI OPERASIONAL DAN HIPOTESIS

A. Kerangka Konsep

Berdasarkan tinjauan teoritis dari bab II bahwa diare adalah penyakit yang

ditandai bertambahnya frekuensi defekasi lebih dari biasanya (> 3 kali/hari)

disertai perubahan konsistensi tinja(menjadi cair), dengan atau tanpa darah atau

lendir. Banyak faktor penyebab terjadinya diare yaitu salah satunya dari syarat

kepemilikan jamban dan pengelolaan sampah. Berikut di bawah ini adalah

kerangka konsep dari penelitian.

Variabel Bebas

Variabel Terikat
Kepemilikan Jamban

Kejadian Diare pada


Balita
Pengelolaan Sampah
B. Hipotesis Penelitian

1. Ada hubungan antara pengelolaan sampah dengan kejadian diare pada balita di

Desa ........... Kecamatan Panawangan Kabupaten ........... tahun 2017.

2. Ada hubungan antara kepemilikan jamban dengan kejadian diare pada balita di

Desa ........... kecamatan panawangan Kabupaten ........... tahun 2017.

C. Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini adalah:

1. Variabel Bebas (indefendent)

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kepemilikan jamban dan

pengelolaan sampah

2. Variabel Terikat (Defendent)

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kejadian diara pada balita di

wilayah Desa ...........

D. Definisi Operasional

1. Kepemilikan Jamban adalah sarana yang digunakan untuk buang air besar

yang dimiliki oleh responden.

1) Skala pengukuran : Nominal

2) Kategori :

a) Memiliki jamban, jika ada lubang leher angsa dan tangki septik

yang tertutup rapat.

b) Tidak memiliki jamban, jika tidak ada lubang leher

angsa/tangki septik, kotor dan tidak tertutup.


2. Pengelolaan Sampah adalah cara yang digunakan untuk membuang sampah

oleh responden

1) Skala pengukuran : Nominal

2) Kategori :

a) Memiliki pengelolaan sampah (bak sampah), jika memiliki syarat

pengelolaan sampah yaitu reduce, reuse dan recycle

b) Tidak memiliki pengelolaan sampah, jika tidak jika memiliki syarat

pengelolaan sampah yaitu reduce, reuse dan recycle

3. Variabel Terikat

Kejadian diare adalah balita yang menderita diare dengan buang air besar

lembek, cair dan bahkan dapat berupa air saja lebih dari tiga kali sehari dalam 6

bulan terakhir.

a. Skala ukur : Nominal

b. Kategori :

1) Diare, jika mengalami diare dalam 6 bulan terakhir.

2) Tidak diare, jika tidak mengalami diare dalam 6 bulan terakhir

E. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode survey analitik dengan pendekatan

cross sectional. Menurut Notoatmodjo (2002:145) survey analitik cross

sectionalyaitu penelitian untuk mempelajari korelasi antara faktor-faktor risiko

dengan efek, dengan cara pendekatan observasi atau pengumpulan data sekaligus

pada suatu saat. Maksud penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara dua
variabel yang dalam penalitian ini ingin mengetahui hubungan antara kepemilikan

jamban dan pengelolaan sampah dengan kejadian diare pada balita.

F. Populasi Dan Sampel Penelitian

1. Populasi

a. Populasi Target

Populasi target dalam penelitian ini adalah balita yang pernah mengalami

diare pada kelompok usia 1-5 tahun sejumlah 293 balita.

b. Populasi Terjangkau

Populasi terjangkau dalam penelitian ini adalah seluruh penderita diare pada

kelompok usia 1-5 tahun di Desa ........... sejumlah 293 balita.

2. Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh balita yang pernah mengalami diare

pada kelompok umur 1-5 tahun di Desa ............

3. Besaran Sampel

Besaran sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik total sampling yaitu

seluruh ibu yang mempunyai balita umur 1-5 tahun yang pernah mengalami

diare dalam 6 bulan terakhir.

G. Instrumen Penelitian

Menurut Notoatmodjo (2005:48) yang dimaksud dengan instrumen penelitian

adalah alat-alat yang digunakan untuk pengumpulan data. Adapun instrumen yang

digunakan oleh peneliti adalah lembar kuesioner yang ditanyakan kepada ibu yang

mempunyai balita yang pernah menderita diare.


H. Pengelolaan Data

Menurut Budiarto (2003:29) pengolahan data dapat dilakukan melalui

beberapa tahap yaitu:

1. Editing

Yaitu memeriksa data yang telah dikumpulkan baik berupa daftar pertanyaan,

kartu atau buku register.

2. Soring

Yaitu penilaian data dengan memberikan skor pada pertanyaan. Dengan

memberikan 1 pada pertanyaan benar dan 0 pada pertanyaan salah

3. Coding

Yaitu memberikan kode-kode untuk memudahkan Proses Pengolahan data

dengan memberikan angka nol atau satu.

4. Entry

Yaitu data yang telah diberi kode, kemudian dimasukan dalam computer.

5. Tabulasi

Penyusunan data merupakan pengorganisasian data sedemikian rupa agar

dengan mudah dapat dijumlah, disusun, dan didata untuk disajikan dan

dianalisa.

I. Analisis Data

1. Analisis Univariat

Menurut Budiarto (2002) Analisa univariat dilakukan untuk melihat

gambaran masing-masing variabel berdasarkan distribusi frekuensi, dengan cara


merubah frekuensi tiap kelas kedalam bentuk persen ( %). Perubahan menjadi

presentase dilakukan dengan membagi frekuensi (F) dengan hasil jumlah

observasi (N) dan dikalikan 100% dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

f
P= x 100 %
n

Keterangan :

P : Hasil yang dicari ( Prosentase )

F : Frekwensi setiap Kategori

N : Jumlah Responden

Analisa Univariat merupakan analisa yang bertujuan untuk mendeskripsikan

kepemilikan jamban dan pengelolaan sampah dengan kejadian diare pada balita.

2. Analisis Bivariat

Analisa bivariat untuk mencari hubungan variable bebas dengan

variable terikat dengan uji statistik yang disesuaikan dengan skala data yang

ada.Uji statistik yang digunakan adalah ujiChi-Square.

Menurut Budiarto (2001: 213) syarat – syarat uji Chi-Square adalah :

1. Jumlah sampel harus cukup besar untuk meyakinkan kita bahwa terdapat

kesamaan antara distribusi teoretis dengan distribusi sampling chi-square

2. Pengamatan harus bersifat independen (unpaired). Ini berarti bahwa

jawaban satu subjek tidak berpengaruh terhadap jawaban subjek lain atau

satu subjek hanya satu kali digunakan dalam analisis.


3. Pengujian chi-square hanya dapat digunakan pada data deskrit (data

frekuensiatau data kategori) atau data kontinu yang telah dikelompokan

menjadi kategori.

4. Jumlah frekuensi yang diharapkan harus sama dengan jumlah frekuensi

yang diamati.

5. Pada derajat kebebasan sama dengan 1 (tabel 2x2) tidak boleh ada nilai

ekpektasi yang sangatkecil.

Taraf signifikan yang digunakan adalah 95% dengan nilai kemaknaan

5%. Kriteria hubungan berdasarkan nilai p value yang dihasilkan

dibandingkan dengan kemaknaan yang dipilih, dengan criteria sebagai

berikut:

1. Jika p value > 0,05 maka tidak ada hubungan antara kepemilikan jamban

dan pengelolaan sampah dengan kejadian diare pada balita di Desa ...........

tahun 2019.

2. Jika p value < 0,05 maka ada hubungan bermakna antara kepemilikan

jamban dan pengelolaan sampah dengan kejadian diare pada balita di

Desa ........... tahun 2019. (SinggihSantosa, 2000:236)


BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum dan Kependudukan

1. Luas Wilayah

UPTD Puskesmas ........... merupakan salah satu dari 37 Puskesmas yang ada
di wilayah Kabupaten ............ Berdasarkan letak geografisnya UPTD Puskesmas
........... berada di wilayah ........... paling utara yang merupakan wilayah dataran yang
didominasi oleh pegunungan/perbukitan. Sementara berdasarkan letak
astronomisnya UPTD Puskesmas ........... berada pada pada 10.8o 23’ 05.2” Bujur
Timur dan -7o 04’ 40.5” Lintang Selatan
Luas wilayah kerja UPTD Puskesmas ........... sekitar 25,61 km² yang terdiri
dari :
a. Luas daratan : 16,13 km²
b. Luas pesawahan : 9,48 km²
Batas Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ........... adalah sebagai berikut :
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Majalengka
b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Wilayah Kerja Puskesmas Panawangan
c. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Sukamantri
d. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Kuningan
Tabel 3.1
Luas Wilayah Menurut Desa di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ...........
Tahun 2018

Luas Wilayah Persentase


No Desa
(km2) (%)
1 ........... 3,14 12,26
2 Cinyasag 4,80 18,74
3 Sadapaingan 3,13 12,22
4 Jagabaya 4,38 17,10
5 Bangunjaya 3,66 14,29
6 Girilaya 3,19 12,46
7 Mekarbuana 3,31 12,92
Jumlah 25,61
Luas Kecamatan Panawangan 1414,73
Perbandingan dengan Luas
Kecamatan
1,81
Sumber Data : Profil Desa Tahun 2018

Berdasarkan tabel 3.1 menunjukkan, Desa yang wilayahnya paling luas di


Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ........... adalah Desa Cinyasag yaitu seluas 4,80
km², sedangkan Desa yang wilayahnya paling sempit Desa ........... dengan luas 3,14
km². Sementara itu, jika dibandingkan dengan luas Kecamatan Panawangan luas
Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ........... hanya 1,81% dari luas Kecamatan
Panawangan. Artinya luas Wilayah Kerja Puskesmas Panawangan jauh lebih besar
dari luas Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ........... yang keduanya sama-sama berada
di Kecamatan Panawangan.
2. Jumlah Desa, Dusun, RW dan RT
Secara Administratif wilayah Kerja UPTD Puskesmas ........... terdiri dari 7
desa, 25 Dusun, 76 RW dan 199 RT. Secara rinci wilayah administratif UPTD
Puskesmas ........... pada tahun 2017 dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 3.2
Jumlah Dusun, RW dan RT di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ...........
Tahun 2018

Jumlah
No Desa
Dusun RW RT
1 ........... 3 12 31
2 Cinyasag 7 16 49
3 Sadapaingan 4 10 28
4 Jagabaya 3 10 24
5 Bangunjaya 2 6 16
6 Girilaya 3 12 26
7 Mekarbuana 3 10 25
Jumlah 25 76 199
Sumber Data : Profil Desa Tahun 2017

Tabel 3.2 menunjukkan bahwa Desa dengan jumlah Dusun terbanyak adalah
Desa Cinyasag yaitu 7 Dusun, sedangkan Desa dengan jumlah Dusun paling sedikit
adalah Desa Bangunjaya dengan 2 dusun.
3. Keadaan Penduduk
Jumlah Penduduk di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ........... pada Tahun
2018 adalah sebanyak 20.838 jiwa. Secara sebaran jumlah penduduk per desa dapat
dilihat pada tabel berikut :
Tabel 3.3
Jumlah Penduduk di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ...........
Tahun 2018

Jumlah
No Desa
Laki-laki Perempuan Total
1 ........... 1.776 1.752 3.528
2 Cinyasag 2.252 2.635 4.887
3 Sadapaingan 1.408 1.454 2.862
4 Jagabaya 1.575 1.581 3.156
5 Bangunjaya 1.034 1.045 2.079
6 Girilaya 1.109 1.166 2.275
7 Mekarbuana 988 1.063 2.051
Jumlah 10.142 10.696 20.838
Sumber Data : Profil Desa Tahun 2018

Tabel 3.3 menunjukkan bahwa Desa dengan jumlah penduduk terbanyak di


Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ........... pada tahun 2018 adalah Desa Cinyasag
yaitu sebanyak 4.887 jiwa, sedangkan yang paling sedikit adalah Desa Mekarbuana
yaitu sebanyak 2.051 jiwa.
Tabel 3.4
Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur
di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ...........
Tahun 2018

Umur
Laki-laki Perempuan Total %
(Tahun)
0 – 4 745 722 1.467 7
5 – 14 1.670 1.701 3.371 16
15 – 44 4.276 4.615 8.891 43
45 – 64 2.147 2.398 4.545 22
65 + 1.304 1.260 2.564 12
Jumlah 10.142 10.696 20.838
Sumber Data : Profil Desa Tahun 2018
Tabel 3.4 di atas terlihat bahwa jumlah penduduk di Wilayah Kerja UPTD
Puskesmas ........... terbanyak pada kelompok usia 15-44 tahun sebesar 43%. Hal ini
menunjukkan bahwa hampir dari setengah penduduk di Wilayah Kerja UPTD
Puskesmas ........... merupakan penduduk usia produktif.
B. Deskripsi Hasil Penelitian

1. Karakteristik Responden

Tabel 4.1
Distribusi Kelompok Umur Balita di Desa ........... Kecamatan Panawangan
Kabupaten ........... Tahun 2018

Kelompok Umur Balita N F

1-3 tahun 87 49,7

4-5 tahun 88 50,3

Jumlah 175 100

Sumber: Data Primer

Berdasarkan tabel di atas distribusi kelompok umur balita paling banyak

pada kelompok umur 4-5 tahun sejumlah 88 balita (50,3%).

2. Analisis Univariat

a. Diare Pada Balita

Tabel 4.2
Distribusi Balita yang Menderita Diare di Desa ........... Kecamatan
Panawangan Kabupaten ........... Tahun 2019

Diare N F

Diare 132 75,4

Tidak diare 43 24,6

Jumlah 175 100%

Sumber: Data Primer


Berdasarkan tabel 4.2 di atas kelompok balita paling banyak menderita diare

sejumlah 132 balita (75,4%) dan yang tidak menderita diare sejumlah 43 balita

(24,6%).

b. Kepemilikan Jamban

Tabel 4.3
Distribusi Kepemilikan Jamban di Desa ........... Kecamatan Panawangan
Kabupaten ........... Tahun 2019

Kepemilikan Jamban N %

Memiliki Jamban 105 60

Tidak Memiliki Jamban 70 40

Jumlah 175 100

Sumber : Data Primer

Berdasarkan tabel 4.3 di atas kepemilikan jamban di Desa ........... paling

banyak yang memenuhi syarat sebanyak 105 responden (60%).

c. Pengelolaan Sampah

Tabel 4.4
Distribusi Pengelolaan Sampah di Desa ........... Kecamatan Panawangan
Kabupaten ........... Tahun 2019

Pengelolaan Sampah N %

Memiliki 60 34,3

Tidak Memiliki 115 65,7

Jumlah 175 100

Sumber : Data Primer


Berdasarkan tabel 4.4 distribusi pengelolaan sampah di Desa ...........

paling banyak tidak memiliki pengelolaan sampah sebanyak 114 responden

(65,1%)

3. Analisis Bivariat

a. Hubungan Antara Kepemilikan Jamban dengan Kejadian Diare pada

Balita

Tabel 4.5
Hubungan Kepemilikan Jamban dengan Kejadian Diare Pada balita di
Desa ........... Kecamatan Panawangan
Kabupaten ........... Tahun 2018

Kepemilikan Jamban
Total
Kejadian Diare Tidak Memiliki Memilki P OR
n % n % N %
Tidak Diare 9 20,9 34 79,1 43
Diare 61 46,2 71 53,8 132
100 0,006 0,308
Jumlah 70 40 105 60 175

Sumber: data Primer

Berdasarkan tabel 4.5 di atas dapat dilihat bahwa diare lebih banyak

didapatkan pada responden yang memiliki jamban (53,8%) dibandingkan

dengan responden yang tidak memiliki jamban (46,2%).


Hasil uji statistik dengan menggunakan chi-square antara variabel

kepemilikan jamban keluarga dengan kejadian diare diperoleh nila p value

sebesar 0,006. Karena nila p lebih kecil dari α 0,05 (0,006< 0,05 ), maka Ho

ditolak dan Ha diterima. Jadi ada hubungan antara kepemilikan jamban

responden yang mempunyai balita di Desa ........... dengan kejadian diare

pada balita, dengan nilai OR sebesar 0,308 yang artinya bahwa responden

yang tidak memilki jamban beresiko terkena diare sebanyak 0,308 kali

dibandingkan dengan responden yang memiliki jamban.

b. Hubungan Antara Pengelolaan Sampah dengan Kejadian Diare pada

Balita

Tabel 4.6
Hubungan Pengelolaan Sampah dengan Kejadian Diare Pada balita di
Desa ........... Kecamatan Panawangan Kabupaten ........... Tahun
2018

Pengelolaan Sampah
Total
Kejadian Diare tidak memiliki Memilki P OR
n % n % N %
Tidak Diare 18 41,9 25 58,1 43 100
Diare 97 73,5 35 26,5 132 100
0,000 0,260
Jumlah
115 65,7 60 34,3 175 100
Sumber: data Primer

Berdasarkan tabel 4.6 di atas dapat dilihat diare lebih banyak didapatkan

pada responden yang tidak memiliki pengelolaan sampah (73,5%)

dibandingkan dengan responden yang memilki pengelolaan sampah (26,5%).


Hasil uji statistik dengan menggunakan chi-square antara variabel

kepemilikan pengelolaan sampah dengan kejadian diare diperoleh nila p value

sebesar 0,000. Karena nila p lebih kecil dari α 0,05 (0,000< 0,05 ), maka Ho

ditolak dan Ha diterima. Jadi ada hubungan antara pengelolaan sampah

responden yang mempunyai balita di Desa ........... dengan kejadian diare pada

balita dengan nilai OR artinya bahwa responden yang tidak memiliki

pengelolaan sampah beresiko terkena diare sebanyak 0,260 kali dibandingkan

dengan yang memilki pengelolaan sampah.

BAB V

PEMBAHASAN

A. Hubungan Kepemilikan Jamban dengan Kejadian Diare Pada Balita d

Desa ...........

Penyediaan jamban keluarga atau tempat pembuangan tinja juga merupakan

sarana sanitasi yang berkaitan dengan kejadian diare. Jenis tempat pembuangan

tinja yang tidak saniter akan memperpendek rantai penularan penyakit diare.

Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa dari 175 sampel didapatkan

43 orang (24,6%) yang tidak menderita diare dan 132 orang (75,4%) yang

menderita diare, yang masing-masing terdistribusi sebagai berikut: dari 43 sampel

yang tidak menderita diare 9 orang (20,9%) yang tidak memiliki jamban dan 34

orang (79,1%) yang memiliki jamban sedangkan dari 132 sampel yang menderita
diare ada 61 orang (46,2%) yang tidak memiliki jamban dan 71 orang (53,8%)

memiliki jamban. Dari hasil uji bivariat didapatkan nilai p= 0,006 (p<0,05), dengan

demikian dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Menurut

Notoatmodjo (2013), syarat pembuangan kotoran yang memenuhi aturan kesehatan

adalah tidak mengotori permukaan tanah disekitarnya, tidak mengotori air dalam

tanah disekitarnya, dan kotoran tidak boleh terbuka sehingga dipakai sebagai tempat

lalat bertelur atau perkembang biakan vektor penyakit lainnya. Namun pada

kenyataannya masyarakat Desa ........... Kecamatan Panawangan Kabupaten ...........

masih banyak yang belum memilki jamban sehat. Kondisi ini memperparah

terjadinya diare pada masyarakat Desa ............

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Herman (2013) tentang

hubungan sanitasi lingkungan dengan kejadian diare pada masyarakat wilayah kerja

Puskesmas Barangka di Kabupaten Buton. Hasil penelitian menunjukkan

pemanfaatan jamban keluarga mempengaruhi terjadinya diare dengan nilai p value

= 0,002<0,05

Berdasarkan hasil wawancara dengan responden diketahui masih banyak

masyarakat yang belum memilki jamban pribadi, sehingga apabila mereka buang air

besar mereka menumpangdi jamban uamum yang pembuangan tinjanya di masukan

ke kolam ikan. Kemudian bagi masyarakat yang tidak memilki jamban secara tidak

langsung akan menyebabkan masalah lain misalnya tinja anak dan balita mereka

akan dibuang ke pekarangan dekat rumah karena keterbatasan mereka tidak

memilki jamban. Mereka masih beranggapan bahwa tinja anak balita tidak
berbahaya. Padahal menurut Depkes (2015) tinja balita juga berbahaya karena

mengandung virus atau bakteri dalam jumlah besar. Tinja balita juga dapat

menularkan penyakit pada balita itu sendiri dan juga pada orang tuanya. Selain itu

tinja binatang dapat pula menyebabkan infeksi pada manusia.

Tinja yang dibuang di tempat terbuka dapat digunakan oleh lalat untuk

bertelur dan berkembang biak. Lalat berperan dalam penularan penyakit melalui

tinja (fecal borne deases), lalat senang menempatkan telurnya pada kotoran

manusia yang terbuka, kemudian lalat tersebut hinggap dikotoran manusia dan

hinggap pada makanan manusia sehingga masalah diare akan mudah didapatkan.

B. Hubungan Pengelolaan Sampah dengan Kejadian Diare pada Balita di

Desa ...........

Menurut definisi WHO, sampah adalah sesuatu yang idak digunakan, tidak

dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang berasal dari kegiatan manusia

dan tidak terjadi dengan sendirinya. (Chandra, 2012).

Berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan di lapangan diperoleh data dari

175 responden 43 orang (24,6%) tidak mengalami diare dan 132 orang (75,4%)

mengalami diare, dengan distribusi sebagai berikut: dari 43 orang yang tidak diare

18 orang (41,9%) tidak memiliki pengelolaan sampah dan 25 orang (58,1%)

memilki pengelolaan sampah. Pada balita yang menderita diare sebanyak 132

orang, 97 orang (73,5%) tidak memiliki pengelolaan sampah dan 35 orang (26,5%)

memiliki pengelolaan sampah. Dari hasil uji bivariat didapat nilai p value sebesar

0,000 (p<0,05) dpat diartikan bahwa ada hubungan yang signifikan antara
pengelolaan sampah di desa ........... dengan kejadian diare pada balita. Penelitian di

lapangan ditemukan pada masyarakat Desa ........... Kecamatan panawangan

kabupaten ........... kondisi pengelolaan sampah masih kurang baik, dimana sampah

dari hasil rumah tangga dan aktivitas sehari-hari hanya dibuang ke daerah

perkebunan ataupunke sungai. Hal ini dikarenakan tidak adanya pembuangan akhir

yang disediakan oleh pemerintah dan kurangnya penyuluhan tentang pentingnya

sanitasi.

Pencemaran lingkungan akibat perindustrian maupun rumah tangga sangan

merugikan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Melalui kegiatan

perindustrian dan teknologi diharapkan kualitas kehidupan dapat lebih

ditingkatkan. Pengelolaan sampah yang kurang memadai (pembuangan sampah

yang tidak terkontrol) merupakan tempat yang cocok bagi beberapa organisme dan

menarik bagi berbagai binatang seperti lalat dan anjing yang dapat menimbulkan

penyakit.

Hasil uji statistik dengan menggunkan chi-square antara variabel kepemilikan

tempat sampah dengan kejadian diare pada balita diperoleh nila p value sebesar

0,001. Karena nilai p= 0,001 < 0,05, maka Ho ditlak dan Ha diterima. Jadi ada

hubungan antara kepemilkan tempat sampah pada masyarakat Desa ........... dengan

kejadian diare pada balita.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Herman (2013) tentang

“Hubungan Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Diare Pada Balita di Wilayah

Kerja Puskesmas Barangka Kabupaten Buton. Hasil penelitian menunjukkan


kepemilikan sampah dapat mempengaruhi terjadinya diare pada balita dengan nilai

p value 0,001<0,05.

Alur penularan penyakit menjelaskan kotoran (sampah, tinja, kotoran hewan,

air limbah, tanah dan debu) yang masuk ke dalam air sehingga air tersebut menjadi

tercemar itu dikonsumsi oleh manusia maka hal tersebutlah yang akan

menyebabkan sakit perut hingga terjadinya penyakit diare.

C. Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini telah dirancang dan berusaha dilaksanakan dengan sebaik-

baiknya . namun peneliti menyadari banyak kekurangan maupun keterbatasan, baik

dari peneliti sendiri, penggunaan desain penelitian, maupun pelaksanaan di

lapangan. Selain itu banyak faktor penyebab diare balita yang tidak diteliti,

termasuk kualitas fisik air dari segi mikrobiologi yang berperan dalam kejadian

diare. Hal ini disebabkan karena keterbatasan waktu dan biaya.


BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah dikemukakan di atas, maka kesimpulan yang

dapat ditarik yaitu sebagai berikut:

1. Ada hubungan antara kepemilikan jamban dengan kejadian diare pada balita di

Desa ........... Kecamatan Panawangan Kabupaten ........... tahun 2018.

2. Ada hubungan antara pengelolaan smpah dengan kejadian diare pada balita di

Desa ........... Kecamatan Panawangan Kabupaten ........... tahun 2018.

B. Saran
Adapun saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:

1. Diharapkan kepada masyarakat agar membuat jamban dan sarana pembuangan

sampah yang memenuhi syarat kesehatan.

2. Diharapkan kepada pemerintah Desa ........... untuk menganggarkan pembuatan

jamban sehat umum yang dananya dikelola oleh pemerintah Desa setempat.

3. Diharapkan kepada petugas kesehatan agar memberikan penyuluhan kepada

masyarakat tentang pentingnya sanitasi lingkungan (jamban keluarga, dan

pengelolaan sampah) dalam mencagah penyakit menular seperti diare yang

dilakukan secara intensif oleh petugas kesehatan.