Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH EKONOMI ISLAM I

PEMIKIRAN EKONOMI ISLAM KONTEMPORER

OLEH: KELOMPOK 4

KETUA: RAFANURI BAYU RAMDANI (A1A017)

ANGGOTA:

1. RINA FITRIANI (A1A017112)


2. SITI KARIMA (A1A017121)
3. SONYA FEBRIANTI (A1A017123)
4. SRI APRIANI (A1A017124)
5. YULANDARI WAHYUNINGSIH (A1A017142)
6. TUTY SILAWATI (A1A017132)
7. MUHAMMAD IRWAN JADID (A1A017092)
8. MUHAMMD REZA ROZIALDI (A1A017093)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MATARAM 2019/2020

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Puji syukur kehadirat Allah SWT.yang telah memberikan banyak nikmat


sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam
selalu tercurahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW. Yang telah membawa kita
dari alam kegelapan menuju alam terang benderang yakni Addinul Islam.

Makalah ini berisi mengenai Pemikiran Ekonomi Islam Kontemporer


yang kami paparkan dari berbagai sumber. Makalah ini kami buat guna memperluas
ilmu kami selaku penulis dan bagi pembaca mengenai hakikat hukum ekonomi dan
sumber hukum ekonomi islam.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan
kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT., untuk itu kami membutuhkan kritik dan
saran yang membangun sehingga dikemudian hari kami dapat memperbaikinya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Mataram, 15 November 2019

KELOMPOK 4
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................... i

DAFTAR ISI.................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN............................................................... 4

1.1. Latar Belakang...................................................................... 4

1.2. Rumusan Masalah................................................................ 5

1.3. Tujuan....................................................................................5

BAB II PEMBAHASAN................................................................ 4

BAB III PENUTUP...................................................................... 32

3.1. Kesimpulan..........................................................................32

DAFTAR PUSTAKA................................................................... 33
BAB I

PENDAHULUAN

1.1LATAR BELAKANG
Pemikiran ekonomi Islam adalah respons para pemikir muslim terhadap tantangan-
tantangan ekonomi pada masa mereka. Pemikiran ekonomi Islam tersebut diilhami dan
dipandu oleh ajaran Al-Quran dan Sunnah juga oleh ijtihad (pemikiran) dan pengalaman
empiris mereka. Pemikiran merupakan sebuah proses kemanusiaan, namun ajaran Al-quran
dan sunnah bukanlah pemikiran manusia. Yang menjadi objek kajian dalam pemikiran
ekonomi Islam bukanlah ajaran Al-quran dan sunnah tentang ekonomi tetapi pemikiran para
ilmuwan Islam tentang ekonomi dalam sejarah atau bagaimana mereka memahami ajaran Al-
Quran dan Sunnah tentang ekonomi. Obyek pemikiran ekonomi Islam juga mencakup
bagaimana sejarah ekonomi Islam yang terjadi dalam praktek historis.

Pemikiran Ekonomi Islam diawali sejak Muhammad SAW ditunjuk sebagai seorang
Rosul.Rosululoh SAW mengeluarkan sejumlah kebijkan yang menyangkut berbagai hal yang
berkaitan dengan masalah kemasyarakatan, selain masalah hukum (fiqih), politik (siyasah),
juga masalah perniagaan atau ekonomi (muamalah).Masalah-masalah ekonomi umat menjadi
perhatian Rosululloh SAW, karena masalah ekonomi merupakan pilar penyangga keimanan
yang harus diperhatikan.Selanjutnya, kebijakan-kebijakan Rosululloh SAW menjadikan
pedoman oleh para Khalifah sebagai penggantinya dalam memutuskan masalah-masalah
ekonomi.Al-Qur’an dan Al-Hadist digunakan sebagai dasar teori ekonomi oleh para khalifah
juga digunakan oleh para pengikutnya dalam menata kehidupan ekonomi negara.

Setelah wafatnya nabi kepemimpinan dipegang oleh Khulafa al Rasyidin, berbagai


perkembangan, gagasan, dan pemikiran muncul pada masa itu.Hal ini tercermin dari
kebijakan-kebijakan yang berbeda antar Khalifah itu sendiri, kebijakan-kebijakan itupun
muncul sebagai akibat dari munculnya masalah-masalah baru.Salah satunya pemenuhan
kehidupan masyarakat di bidang ekonomi sehingga masalah teknis untuk mengatasi masalah-
masalah perniagaan muncul pada waktu itu.Sejumlah aturan yang bersumberkan Al-Qur’an
dan Hadist Nabi hadir untuk memecahkan masalah ekonomi yang ada.Masalah ekonomi
menjadi bagian yang penting pada masa itu.

Setelah perkembangan pemikiran ekonomi islam pasca Rosululloh SAW dan


khulafaurrasyidin, dan setelah adanya pemikiran ekonomi islam klasik kemudian muncullah
konteks pemikiran ekonomi islam kontemporer, pemikiran para sarjana dan Ekonomi muslim
kontemporer berkaitan dengan dengan pemikiran ekonomi islam. Karena banyaknya sarjana
dan ekonom muslim kontemporer.

1.2 Rumusan Masalah


1. Seperti apa pemikiran-pemikiran para tokoh ekonomi islam kontemporer ?
 Muhammad Baqir As-Sadr
 Muhammad Abdul Manan
 Muhammad Nejatullah Siddiqi
 Umer Chapra
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui seperti apa pemikiran-pemikiran para tokoh ekonomi islam
kontemporer ?
 Muhammad Baqir As-Sadr
 Muhammad Abdul Manan
 Muhammad Nejatullah Siddiqi
 Umer Chapra
BAB II

PEMBAHASAN

Pemikiran Ekonomi Islam Kontemporer

A. Muhammad Baqir As- Sadr lahir di Kadhimiyeh, Baghdad pada tahun


1935.
Sebagai keturunan dari keluarga sarjana dan intelektual islam Syi’ah
yang termasyhur. Ia memilih untuk menuntut pengajaran islam tradisional di
hauzah atau sekolah tradisional di Irak. Secara intelekrualitas, Sadr sangat
menonjol sehingga ketika berusia 20 tahun, ia memperoleh derajat mujtahid
mutlaq dan selanjutnya meningkat lagi ke tingkat otoritas tertinggi marja
(otoritas pembeda) (Haneef, 2010).

Meskipun memiliki latar belakang tradisional, Sadr tidak pernah


terpisah dari isu- isu kontemporer. Minat intelektualnya yang tajam
mendorongnya untuk secara kritis mempelajari filsafat kontemporer
ekonomi, sosiologi, sejarah, dan hukum.karyanya, falsafatuna (filsafat kita)
dan iqtishaduna, memberikan suatu kritik yang kompratif terhadap
capitalisme ataupun sosialisme. Pada saat yang sama, kedua karya tersebut
menggambarkan pandangan dunia (world- view) islam dengan garis- garis
besar system ekonomi islam.

Usaha yang di tuangkannya dalam iqtishaduna menyuarakan suatu


filsafat ekonomi pada koleksi hukum legal dan hal itu mencerminkan
kemampuannya dalam memberikan kehidupan pada hukum- hukum yang
tampak mubazir. Di tulis pada 1960-an, iqtishaduna haruslah di pandang
sebagai analisis komprehensif dan perbandingan system ekonomi dari
perspektif islam, yang masih digunakan hingga sekarang.
Menurut Sadr, ekonomi islam adalah cara atau jalan yang dipilih oleh
islam dalam rangka mencapai kehidupan ekonominya dan dalam
memecahkan masalah ekonomi praktis sejalan dengan konsepnya tentang
keadilan. Bagi sadr, islam tidak mengurusi hukum permintaan dan
penawaran (tidak pula) hubungan antara laba dan bunga (tidak pula)
fenomena diminishing returns di dalam produksi yang baginya merupakan
“ilmu ekonomi” (Haneef, 2010).

Dengan demikian, ekonomi islam adalah sebuah doktrin karena ia


membicarakan “semua aturan dasar dalam kehidupan ekonomi dihubungkan
dengan ideologinya mengenai keadilan (social)”. Demikian pula, system
ekonomi islam adalah sebuah doktrin karena menurut sadr, ia berhubungan
dengan pertanyaan “apa yang seharusnya” berdasar pada keyakinan, hukum,
sentiment, konsep dan definisi islam yang di ambil dari sumber- sumber
islam. Dalam doktrin ekonominya, keadilan menempat posisi sentral.
Keadilan merupakan penilaian moral dan tidak dapat di uji sebaliknya, ia
merupakan rujukan atau tolak ukur untuk menilai teori kegiatan,dan keluaran
ekonomi (Haneef,2010).

Sadr melihat system ekonomi islam sebagai bagian dari system


islam secara keseluruhan sehingga harus di pelajari sebagai suatu
“keseluruhan” interdisipliner, bersama seluruh anggota masyarakat yang
merupakan agen system islam itu. Ia menyarankan agar orang memahami
dan mempelajari pandangan dunia islam lebih dahulu jika ingin
mendapatkan hasil yang memuaskan dalam menganalisis system ekonomi
islam dalam pendekatan yang bersifat holistic inilah sadr membahas doktrin
ekonominya.
Pada pemikiran ekonominya, sard membedakan produksi dan
distribusi, tetapi ia melihat hubungan keduanya sebagai persoalan sentral
dalam ekonomi. Jika produksi merupakan proses yang deinamis, yang
berubah seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
distribussi di anggap sebagai bagian dari system social, yaitu bagian dari
hubungan total antarmanusia. Bagi sadr, system social muncul dari
kebutuhan manusia, bukan dari cara- cara produksi. Oleh karena itu, ia
menolak pandangan Marxis mengenai masyarakat dan perubahan yang
menyatakan bahwa dalam masyarakat tersimpan potensi pertentangan kelas.
Meskipun sadr mengakui bahwa pendekatan bersifat hukum, tidak berarti
ekonomi islam itu sama saja dengan fiqh muamalat ataupun hukum- hukum
yang berkaitan dengan kepemilikan. Doktrin ekonomi islam adalah pondasi
terbentuknya hukum- hukum yang berhubungan dengan ekonomi. Hukum-
hukum tersebut di tetapkan dalam semangat dan berkenaan dengan teori
serta konsep yang di wakili oleh doktrin itu (Haneef, 2010).

Dalam hubungan ini, sadr yakni akan adanya suatu system ekonomi
yang telah terbentuk dengan sempurna, meskipun secara eksplisit belum
dinyatakan dalam sumber hukum ekonomi islam (Al- quran, As- Sunnah,
Ijtihad, Ijma dan Qiyas). Oleh karena iyu, sadr mengemukakan gagasannya
berupa proses penemuan. Dalam proses penemuan tersebut, semua hukum
dan aturan ekonomi, bersama sejumlah besar konsep yang berhubungan
dengan ekonomi dan masyarakat, di pelajari bersama dan dipakai untuk
menemukan doktrin ekonomi.

Dengan kata lain, jika hukum- hukum telah dikumpulkan, fondasi


doktrin hukum- hukum itu pun akan ditemukan dalam sumber- sumber
islam. Oleh karena itu, di perlukan ijtihad yang di pandang oleh sadr sangat
penting untuk mengisi celah antara prinsip- prinsip yang bersifat tetap atau
permannen dan hukum- hukum yang bersifat fleksibel, untuk menentukan
batas- batas penyelidikan dan untuk secara teoritis, mengatur hukum dan
konsep dalam suatu keseluruhan yang bertalian secara logis. Semua itu
membentuk wilayah fleksibel dalam ekonomi islam.

Sadr menyatakan bahwa rational economic man tidak cocok dengan


system ekonomi islam. Dalam system ekonomi islam, yang ada adalah
Islamic man, yaitu seorang individu yang merasa sebagai bagian dari
keseluruhan ummah, serta dilandasi oleh roh dan praktik keagamaan. Tidak
seperti rational economic man, Islamic man beriman pada dunia spiritual
atau duniaYang tidak terlihat, dan hal ini telah menjadikannya tidak begitu
melekat pada dunia materi. Islamic man akan selalu di pandu oleh
“pengawas dari dalam”. Ia akan selalu melihat dirinya diawasi oleh Allah
SWT. Sehingga ia akan selalu berhati-hati dalam setiap aktivitas
ekonominya, agar tidak ada satu pun aktivitas ekonominya yang
bertentangan dengan prinsip dan syariat islam. Sadr juga tidak percaya pada
gagasan “ keselarasan kepentingan “ yang menjadi dasar penekanan sistem
kapitalis atau kebebasan individu. Ia tidak mengakui pandangan yang
menyatakan bahwa kesejahteraan publik akan menjadi maksimum jika para
individu diberi kebebasan untuk mengejar kepuasan dan kepentingan
masing-masing sebaliknya, ia melihat hal itu sebagai sumber masalah sosial
ekonomi. Ia lebih memilih bersandar pada agama untuk meyeimbangkan
kesejahteraan individu dan publik, bukan pada pemerintahan. Pasar memiliki
perannya sendiri dan negara pun mempunyai peran sendiri pula. Akan tetapi,
yang lebih penting dari semua itu adalah pengaruh dan petunjuk agama yang
lebih utama dalam sistem ekonomi Sadr.

Implikasi terpenting dari pandangan islam mengenai kebebasan


merupakan konsekuensinya terhadap hak milik. Sadr mencela mereka yang
membandingkan atau merendahkan sistem ekonomi islam terhadap
kapitalisme, sosialisme, ataupun sistem campuran, tanpa lebih dahulu
berusaha memahami pandangan dunia islam dan cara nilai-nilainya
menentukan pandangan islam yang unik mengenai kepemilikan, yakni
kepemilikan oleh pribadi, masyarakat, dan negara yang beroperasi dalam
wilayahnya masing-masing.

Fakta bahwa kepemilikan oleh negara mendominasi sistem ekonomi


islamnya Sadr menunjukkan pentingnya peranan negara. Negara yang
diwakili oleh wali-e amr memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk
menegakkan keadilan. wali-e amr mendapat amanah untuk menciptakan
dinamisme dalam penafsiran teks sesuai dengan situasi kontemporer. Hal itu
dapat dicapai melalui berbagai fungsi (Haneef,2010), yaitu:

1. Distribusi sumber daya alam kepada para individu didasarkan pada


kemauan dan kapasitas kerja mereka;
2. Implementasi aturan agama dan hukum terhadap penggunaan sumber
daya.
3. Menjamin keseimbagan sosial.

Adapun mengenai implementasi zakat, Sadr memandangnya sebagai


kewajiban negara. Ia juga membahas khums (yang sebagaimana zakat
jugamerupakan fixed taxes ), fai’ dan anfal, demikian juga pajak lain yang
dapat dipungut dan dibelanjakan untuk maksud-maksud pengentasan
kemiskinan dan untuk menciptakan keseimbangan sosial. Distribusi (dengan
hak kepemilikan) menempati sebagian besar pemikiran ekonomi islam Sadr.
Hampir sepertiga dari bukunya, iqtishaduna, membahas distribusi dan
kepemilikan. Sadr membagi pembahasannya menjadi dua bagian, yaitu
distribusi sebelum produksi (pre-production distribution) dan sesudah
produksi (post- production distribution). Sadr menjelaskan secara terperinci
hal tersebut didasarkan pada ajaran atau hukum yang berhubungan dengan
kepemilikan dan distributive rights.
Menurut Haneef (2010), beberapa pemikiran Sadr berkaitan dengan
distribusi, yaitu sebagai berikut.

1. Kepemilikan oleh negara adalah jenis kepemilikan yang paling sering


meskipun hak pakai dapat diperoleh dari negara.
2. Kepemilikan swasta hanya diizinkan dalam sejumlah kecil keadaan,
yaitu :
a. Tanah yang digarap di rumah penduduk yang menerima islam secara
sukarela (melalui dakwah);
b. Ditetapkan dalam perjanjian;
c. Mineral tersembunyi yang memerlukan usaha untuk mendapatkannya,
dan hanya sejauh mineral yang digali serta di seluas area petambangan;
d. Sumber daya lain, yaitu melalui kerja atau tenaga kerja orang.
3. Kepemilikan swasta hanyalah terbatas pada hak pakai, prioritas
penggunaan, dan hak untuk mencegah orang lain memakai barang yang
sedang dimiliki oleh orang lain.
4. Untuk mineral dan air, individu diperkenankan untuk menggunakan apa
yang mereka perlukan.
Ada dua hal yang dapat dikemukakan berkaitan dengan pandangan Sadr
mengenai kepemilikan dan hubungannya distributive rights. Pertama,
masalah relevansi, kategorisasi Sadr didasarkan pada masa lampau, masa-
masa perluasan islam, sehingga kategorisasi tersebut dapat dikatakan
tertinggal zaman. Masalah kedua yang lebih penting adalah berhubungan
dengan ukuran tanah yang dipakai. Secara sederhana, teorinya memiliki
aspek positif dan negatif. Sisi negatifnya menyatakan bahwa “tanpa kerja,
tidak ada hak untuk kepemilikan harta oleh swasta atau pribadi”. Sisi positif
menyatakan akibat logisnya, yaitu tenaga kerja adalah satu-satunya sumber
bagi terjadinya hak milik dalam hal sumber daya alam. Lebih jauh, ia
menyatakan bahwa tenaga kerja yang dilibatkan itu harus merupakan suatu
karakter ekonomi.
Secara umum, pemikiran ekonomi Sadr mencakup hal berikut;

1. Ekonomi islam adalah sebuah doktrin karena ia membicarakan semua


aturan dasar dalam kehidupan ekonomi dihubungkan dengan ideologinya
mengenai keadilan (sosial).
2. Agama menjadi sandaran untuk menyeimbangkan kesejahteraan individu
dan publik, bukan pada pemerintahan.
3. Individu dalam sistem ekonomi islam adalah islamic man, yang
orientasinya tidak hanya kehidupan duniawi, tetapi juga kehidupan
spiritual.
4. Negara yang diwakili oleh wali-e amr memiliki tanggung jawab yang
lebih besar untuk menegakkan keadilan.
5. Zakat bersama instrumen fiskal lainnya dipergunakan untuk
mengentaskan kemiskinan dan menciptakan keseimbangan sosial.
6. Distribusi terbagi atas distribusi sebelum produksi (pre-production
distribution) dan sesudah produksi (post- production distribution).

B. Muhammad Abdul Mannan

Muhammad Abdul Mannan lahir di Bangladesh pada tahun 1938.


Setelah menerima gelar master di bidang ekonomi dari Universitas Rasjshahi
pada1960, ia bekerja di berbagai kantor ekonomi pemerintah di pakistan.
Pada 1970 ia pindah ke Amerika Serikat dan di sana ia mendaftarkan diri di
Michigan State University untuk program M.A (Economics). Pada 1973 ia
lulus program Doktor dari universitas yang sama, dalam bidang minat
beberapa bidang ekonomi, seperti ekonomi pendidikan, ekonomi,
pembangunan, hubungan industrial dan keuangan. Setelah mendapatkan
gelar Doktor, Mannan mengajar di Papua Nugini dan Pada 1978 ia ditunjuk
sebagai profesor di International Centre for Reserch in Islamic Economics di
Jeddah (kini bernama Centre for Reserch in Islamic Economics).
Selama 30 tahun kariernya, Mannan berperan dalam sejumlah besar
organisasi pendidikan dan ekonomi. Pada 1970 ia menerbitkan buku
utamanya yang pertama, yaitu Islamic Economics:Theory and Practice.Buku
ini dipandang oleh kebanyakan mahasiswa dan sarjana ekonomi Islam
sebagai buku teks pertama ekonomi Isalm. Untuk sumbangannya bagi
pembangunan ekonomi Islam, Mannan dianugerahi Highest Academic
Award of Pakistan pada 1974, yang bagi Mannan setara dengan hadiah
Pulitzer (Haneef,2010)

Mannan mendefinisikan ekonomi Islam sebagai ilmu sosial yang


mempelajari masalah-masalah ekonomi bagi suatu masyarakat yang diilhami
oleh nilai-nilai Islam.Ekonomi Islam berhubungan dengan produksi,
distribusi, dan konsumsi barang serta jasa dalam kerangka (suatu)
masyarakat Islam yang di dalamnya jalan hidup Islam ditegakkan
sepenuhnya.Ekonomi Islam merupakan studi tentang (masalah-masalah
ekonmi dari) setiap individu dalam masyarakat yang memiliki kepercayaan
terhadap nilai-nilai kehidupan Islami, yakni homo Islamicus.Dihadapkan
pada masalah “kelangkaan” bagi Mannan, sama saja artinya dengan
kelangkaan dalam ekonomi Barat, pilihan individu terhadap alternatif
penggunaan sumber daya saling berbeda, dipengaruhi oleh keyakinannya
terhadap nilai-nilai Islam. Dengan demikian, yang membedakan system
ekonomi Islam dari system ekonomi lain adalah sifat motivasional yang
mempengaruhi pola, struktur, arah dan komposisi produksi, distribusi, dan
konsumsi (Haneef,2010).

Landasan teoritis Mannan berisi sejumlah asumsi dasar. Manusia Islam


(Islamic Man) yang dimaksud ialah seseorang yang menginginkan
bersatunya ekonomi dan moral yang maksimum, dianggap bersifat
individualistik, tetapi sekaligus kooperatif dan bertanggung jawab secara
sosial. Bagaimana kontradisksi yang sedemikian jelas ini dipecahkan,
tidaklah jelas.Ia juga tidak percaya pada harmony of interests, yang
menjamin terbentuknya pasar seperti yang dikemukakan oleh Adam Smith.
Dalam model eklektik itu ia menyimpulkan bahwa perekonomian Islam
diharapkan akan bekerja pada perpotongan antara sistem pasar dan
perencanaan terpusat, yaitu menggabungkan yang terbaik antara keduanya
(Haneef,2010).

Mannan juga menolak materialism historis dan percaya bahwa hal itu
merupakan “versi moral dan spiritual” dari manusia yang memadukan
kegiatan ekonomi, sosial, politik, dan biologis, yaitu berlawanan dengan
determinasi ekonomi Marxisme. Ia melihat adanya kebutuhan terhadap
perubahan menuju yang lebih baik dan menyatakan bahwa hanya ekonomi
Islam yang dapat memberikan perubahan tersebut karena nilai-nilai etika dan
kemampuan motivasional yang dimilikinya. Ia juga menyebarkan gagasa
mengenai perlunya membebaskan diri sendiri dari paradigma kaum
neoklasik positivis, dengan menyatakan bahwa observasi harus ditunjukkan
kepada dan dilengkapi dengan data historis dan data “wahyu”.

Mannan mendukung pandangan yang menyatakan bahwa kepemilikan


absolut terhadap segala sesuatu hanyalah ada pada Allah SWT.Sebagai wakil
amanah (khalifah-Nya) di muka bumi, manusia diharuskan menggunakan
semua sumber daya yang telah disediakan untuk kebaikan dan
kemaslahatannya. Kepemilikan individu dikenal dan dilindungi dalam Islam,
tetapi legitimasi kepemilikan bergantung pada kewajiban moral, agama, dan
kemasyarakatan individu yang bersangkutan, selama tidak terjadi eksploitasi
ataupun pencabutan atas hak pihak lain. Setiap orang memiliki hak yang
sama mengenai sumber-sumber produktif yang tersedia, dan setiap orang
memiliki hak yang sama untuk “berpartisipasi” dalam proses produksi, serta
tidak ada sebagian pun dari masyarakat yang boleh diabaikan dalam proses
distribusi. Penguasaan kekayaan fungsional dibernarikan dan mendorong
penggunaan modal secara produktif dan menguntungkan.

Mannan menyusun aturan berkaitan dengan kepemilikan individu dalam


sistem ekonomi Islam, yaitu:
1. Tidak boleh ada aset yang menganggur. Setiap aset harus dimanfaatkan
secara terus-menerus;
2. Pembayaran zakat diwajibkan apabila telah memenuhi syarat;
3. Penggunaan yang menguntungkan atau penggunaan untuk kegiatan yang
menguntungkan;
4. Penggunaan aset tidak boleh untuk hal-hal yang dapat membahayakan,
baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain;
5. Kepemilikan kekayaan secara sah;
6. Penggunaan yang seimbang;
7. Keuntungan dari penggunaan yang benar serta tidak diperkenankan
konsentrasi kekayaan kepada sekelompok masyarakat;
8. Penerapan hukum Islam tentang warisan.

Negara boleh intervensi dalam perekonomian apabila terdapat


pelanggaran terhadap berbagai aturan tersebut. Akan tetapi, ia tidak
menyebutkan apakah individu yang melanggar masih boleh memegang hak
kepemilikannya “dengan saksi hukum” ataukah ia harus kehilangan haknya.

Kemudian, berkaitan dengan mekanisme pasar, Mannan tidak yakin jika


mechanism pasar saja sudah cukup untuk menentukan semua harga dan
jumlah output, khusunya jika berhubungan dengan pemberian bagi si miskin.
Disebabkan oleh konsep permintaan efektif yang mendasari mekanisme
pasar, ketidakmerataan pendapatan dan kekayaan pasti akan menyebabkan
kegagalan mekanisme pasar dalam penyediaan kebutuhan dasar untuk
kepentingan permintaan si kaya. Mannan mengemukakan konsep kebutuhan
efektif untuk menggantikan konsep permintaan efektif.Peranan negara
adalah merestrukturisasi pola dan organisasi produksi yang menurut Mannan
(1984) mencakup hal-hal berikut:
1. Peekanan pada kerja sama dan persaingan yang diawasi;
2. Penekanan pada bagi-hasil dan partisipasi berkeadilan untuk
menggantikan bunga;
3. Kebijakan moneter dan fiskal yang terdefinisikan dengan jelas demi
stabilisasi;
4. Kebijakan upah yang bagus;
5. Memajukan integrasi ekonomi antarnegara Muslim;
6. Perlindungan umum atas kegiatan ekonomi;
7. Penyediaan kebutuhan dasar bagi semua orang.

Pemerintah harus mengambil peran penting dalam perekonomian karena


alokasi sumber daya tidak dapat diserahkan pada kebebasan individu dalam
kaitannya pencapaian kesejahteraan bersama.Dengan mendukung kontrol
dan pengawasan, Mannan menyatakan bahwa keadilan lebih penting
daripada efisiendi, terutama jika berhubungan dengan kebutuhan
dasar.Berkaitan dengan instrument fiskal dalam perekonomian, Mannan
menganggap zakat sebagai poros keuangan negara Islam. Zakat merupakan
Sumber utama penerimaan yang tidak dipandang sebagai “pajak”, tetapi
lebih sebagai kewajiban agama karena kedudukannya sebagai salah satu
rukun islam. Zakat merupakan sebuah elemen dalam sosialisme islam yang
digagasnya.Mannan memandang bahwa “keterlibatan islam yang bersifat
pragmatis dan realitas bagi si miskin adalah sangat tulus sehingga distribusi
pendapatan menjadi pusat berputarnya pola dan organisasi produksi dalam
suatu negara islam.” Mannan menambahkan bahwa “pertimbangan
distributiflah yang harus mempengaruhi prioritas produksi barang dan jasa
sehingga ia juga menjadi indicator konsumsi.”

Berkaitan dengan produksi dalam islam, menurut mannan, tujuan


perusahan bukan hanya maksimalisasi keuntungan, melainkan juga harus
memperhatikan moral, sosial, dan kendala institusional. Perusahan tidak lagi
dipandang hanya sebagai pemasok komoditas, tetapi juga sebagai penjaga
bersama (yaitu bersama pemerintah) bagi kesejahtraan ekonomi dan
masyarakat. Proses produksi menurut Mannan (1984) adalah usaha kerja
sama antara para anggota masyarakat untuk menghasilkan barang dan jasa
bagi kesejahtraan ekonomi dimsyarakat. Nilai persaudaraan, jika
diaplikasikan kedalam lingkungan ekonomi, akan melahirkan lingkungan
kerja sama dn bukan persaingan; penyebaran lebih luas dan bukan
konsentrasi ataupun eksploitasi sumber daya alam (manusia) lebih lanjut.
Akhirnya menurut Mannan, produksi merupakan proses sosial. Dalam proses
sosial ini ia menetapkan keputusan produksi tidak seperti pendekatan
neoklasik yang memandang keduanya secara terpisah.

Mannan setuju dengan gagasan pembagian kerja dan spesialisasi untuk


memproduksi secara efisien dan adil, tetapi secara konstan menekankan
perlunya humanisasi proses produksi.Secara umum, pemikiran ekonomi
yang disampaikan oleh M.A. Mannan adalah sebagai berikut:

1. perekonomian islam diharapkan akan bekerja pada perpotongan


antara sistem pasar dan perencanaan terpusat.
2. kepemilikan absolute terhadap segala sesuatu hanyalah ada pada
Allah sebagai wakil amanah (khalifahnya) dimuka bumi, manusia
diharuskan menggunakan semua sumber daya yang telah
disediakan untuk kebaikan dan kemaslahatannya.
3. pemerintah harus mengambil peran penting dalam perekonomian
karena alokasi sumber daya tidak dapat diserahkan pada
kebebasan induvidu dalam kaitannya dalam pencapaian
kesejahtraan bersama.
4. proses produksi merupakan usaha kerja sama antara para anggota
masyarakat untuk menghasilkan barang dan jasa bagi
kesejahteraan ekonomi di masyarakat.
C. Muhammad Nejatullah Siddiqi

Muhammd Nejatullah Siddqi lahir di Gorakhpur, India pada tahun


1931.Ia memperoleh pendidikan awalnya di Darsagh jama’at-i-islami,
Ranput, dan pendidikan universitasnya di Muslim University, Aligarh. Ia
mulai menulis tentang islam dan ekonomi islam ketika belum ada literature
tentang hal tersebut. Kontribusinya pada jurnal- jurnal di pertengahan tahun
lima puluhan yang diterbitkan dalam karya karya awalnya dalam ekonomi
islam, yaitu some aspect of the Islamic Economy (1970) dan The Economic
Enterprise in islam (1972) (Haneef, 2010).

Kombinasi antara pendidikan barat dan islam terlihat dalam karya- karya
berikutnya. Meskipun mengakui berbagai pendekatan pada ekonomi islam,
ia telah memilih untuk memakai pendekatan yang menggunakan alat- alat
analisis yang ada khususnya dari mazhab sintetis neoklasik – Keynesian
tetapi tetap konsisten dengan nilai nilai islam, prinsip hukum dan fiqih.
Kelaporannya dalam ekonomi islam selama bertahun tahun
menempatkannya sebagai salah satu otoritas dalam ekonomi islam, mewakili
pemikiran ekonomi islam mainstream saat ini. Karir akademiknya bermula
di Universitas Aligarh terutama sat dia di tunjuk sebagai professor dan
kepala Departement of Islamic Studies, kemudian sebagai reader in
ecomocsvdi universitas yang sama. Pada khir tahun 70-an ia bergabung
dengan King Abdul Aziz University di Jeddah dan menjadi salah satu
pelopor yang mendirikan international center for research in Islamic
economics (Haneef, 2010).

Siddiqi melihat kegiatan ekonomi sebagai aspek budaya yang muncul


dari pandangan dunia (wolrd-view ) seseorang. Pandangan dunia seseorang
itulah yang menentukan pencarian ekonomi orang itu bukan sebaliknya.
Kemudian bagi siddiqi ekonomi islam itu modern dengan memanfaatkan
teknik produksi terbalik dan metode organisasi yang ada. Sifat islamnya
terletak pada basis hubungan antar manusia, selain pada sikap dan kebijakan
sosial yang membentuk sistem tersebut. Cirri utama yang membedakan
perekonomian islam dan sistem ekonomi modern adalah dalam kerangka
islam, “kemakmuran dan kesejahtraan ekonomi merupakan sarana untuk
mencapai tujuan spiritual dan moral.” Oleh karena itu siddiqi mengusulkan
memodifikasi teori neoklasik konvensional dan peralatannya untuk
mewujudkan perubahan dalam orientasi nilai, penataan kelembagaan dan
tujuan yang hendak ingin dicapai. (Haneef,2010).

Siddiqi menyetujui bahwa Alquran dan sunnah hanya memberikan


prinsip dasar yang berhubungan dengan kegiatan ekonomi. Semua prinsip
tersebut berpontensi untuk diperluas menurut waktu, tempat, dan
lingkungan. Ia menekankan agar kita tidak bersikap dogmatis dan hendaknya
menyadari bahwa dapat saja ada pendirian atau solusi lain yang digunakan di
masyarakat lain dan hal itu wajar dan dapat diterima dengan syarat prinsip
prinsip inti dalam Al quran dan sunnah tetap di ikuti. Inilah yang dinamakan
dengan nilai universalitas dalam ekonomi islam. Ilmu ekonomi harus terbuka
untuk menerima kontribusi dari disiplin lain. Ilmu pengetahuan ataupun seni
harus bergandeng tangan dalam membentuk ilmu ekonomi dan visi islam
tentang kehidupan yang baik. Dengan demikiian, menurut siddiqi ekonomi
islam harus bersifat multidispliner dan sekaligus interdispliner.

Siddiqi memandang pemenuhan kebutuhan ekonomi sebagai sarana


untuk mencapai tujuan hidup yang lebih besar. Ia merupakan sarana untuk
mencapai perdamain, kebebasan dari rasa lapar, dan rasa takut serta
penguasaan oleh siapa pun selain Allah SWT serta sarana bagi terwujudnya
hubungan persaudaraan yang saling mencintai dengan orang lain dan secara
umum bagi terwujudnya kehidupan yang dirida Allah SWT. Dan mencapai
sukses (falah) dunia dan akhirat yng hanya dapat terwujud jika kegiatan
ekonomi ditentukan oleh moralitas dan spritualitasdan bahwa keuntungan
ekonomi bukanlah merupakan biaya untuk mewujudkan nilai nilai moral dan
spiritual.
Ada dua hal penting dalam dlam pendekatan umum siddiqi dalam ilmu
ekonomi. Pertama penerimaannya terhadap teori neoklasik dan alat alat
analisisnya, sekalipun ia melakukan modifikasi terhadap asumsi, norma
perilaku Dan tujuan untuk menggambarkan perspektif islam. Pendekatan
siddiqi yang kedua bahwa ekonomi islam merupakan agen islamisasi. Hal ini
berarti bahwa mendasarkan teori secara keseluruhan pada obeservasi saja
tidak dapat diterima. Hipotesis yang didasarkan pada pemahaman yang benar
terhadap sumber-sumber Islam, jika dalam observasi terbukti keliru, tidak
boleh dianggap keliru karena terdapat kebenaran yang lebih besar dalam
sumber hipotesis, yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah (Haneef,2010).

Nilai-nilai yang terdapat pada Al-Qur’an dan Sunnah telah memberikan


paradigma yang jelas bagi ekonomi Islam.Paradigma Qur’ani memberikan
sebagian dari asumsi dasar bagi pendekatan Siddiqi.Manusia ekonomi yang
rasional (rational economic man) seperti diajukan oleh ekonomi neoklasik
adalah suatu khayalan yang tidak pula dikehendaki.Yang paling tepat
diterapkan dalam sistem ekonomi Islam adalah manusia Islam (rational
man).Seorang Muslim dalam beraktivitas ekonomi tidak hanya
mementingkan dirinya sendiri, tetapi harus pula peduli terhadap
kesejahteraan orang lain sehingga meningkatkan kerja sama dan kebajikan.
Kerja yang dilakukan dipandang sebagai suatu kewajiban dan ibadah
seorang individu dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya dan keluarganya
serta sebagai sarana ibadah kepada Allah SWT.

Menurut Siddiq (1978) dalam Haneef (2010), ciri-ciri sistem ekonomi Islam
adalah sebagai berikut;

1. Meskipun kepemilikan mutlak adalah milik Allah SWT., dalam Islam


diperkenankan kepemilikan pribadi. Seiap individu diperkenankan untuk
memiliki sesuatu, tetapi kepemilikan ini dibatasi oleh kewajiban dengan sesame
dan batasan-batasan moral yang diatur oleh prinsip-prinsip syariat.
2. Kebebasan untuk berusaha dan berkreasi sangat dihargai, tetapi tetap
memerlukan batasan-batasan agar tidak merugikan pihak lain, dalam hal ini
kompetisi yang berlangsung harus persaingan sehat. Oleh karena itu, dalam
ekonomi Islam hak atas kekayaan intelektual (HAKI) sangat dihargai agar setiap
individu dapat menunjukkan kreativitas terbaik dari potensi dirinya.
3. Usaha gabungan (joint enterprise) harus menjadi landasan utama dalam bekerja
sama, yaitu sistem bagi hasil dan sama-sama menanggung risiko yang munkin
timbul diterapkan. Transaksi yang berpotensi menimbuklan pemerasan atau
eksploitasi terhadap salah satu pihak perlu dihindari dalam ekonomi Islam.
Penerapan prinsip bagi hasil akan menjadikan kerja sama yang saling
menguntungkan di antara pihak yang bekerja sama karena kesetaraan posisi
dalam kerja sama.
4. Konsultasi dan musyawarah harus menjadi landasan utama dalam pengambilan
keputusan publik. Setiap keputusan yang dihasilkan harus berdasarkan
konsensus publik agar tidak terjadi keputusan yang hanya memberikan
keuntungan kepada sekelompok golongan dengan mengorbankan masyarakat
yang lebih banyak.
5. Negara bertanggung jawab dan mempunyai kekuasaan utama mengatur individu
dalam setiap keputusan dalam rangka mencapai tujuan Islam. Fungsi regulator
yang terdapat pada negara menjadikan negara sebagai salah satu faktor vital
dalam perekonomian suatu negara. Negara harus mengmbil peran penting dalam
menyejahterakan umat.

Berbeda dengan Mannan, yang mengkritik ekonomi konvnsional karena


memperlakukan distribusi sebagai perluasan dari teori harga.Siddiq merasa tidak
puas karena ekonomi konvensional memperlakukan distribusi sebagai
konsekuensi konsumsi dan prosuksi.Oleh karena itu, distribusi semua
determinan dari ketimpangannya, harus dipelajari dan dikoreksi ‘dari
sumbernya”, bukan sekadar mengatakan seperti yang terjadi dalam ekonomi
konvensional, terutama neoklasik. Distribusi pendapatan dan kekayaan awal
yang tidak seimbang dan tidak adil merupakan salah satu situasi yang menjadi
jalan bagi berlakunya campur tangan negara, selain pemenuhan kebutuhan dan
mempertahankan praktik-praktik pasar yang jujur (Haneef,2010).

Analisis Siddiq sebenarnya lebih banyak dilandaskan pada analisis


neoklasik yang dimodifikasi (Haneef,2010). Modifikasi tersebut pada dasarnya
terjadi dalam dua wilayah, yaitu asumsi perilaku yang melahirkan Islamic man
dan upaya memasukkan pertimbangan fiqh ke dalam analisisnya.

Secara umum, pandangan M.N.Siddiqi terhadap system ekonomi Islam


adalah sebagai berikut.

1. Kegiatan ekonomi sebagai sebuah aspek budaya yang muncul dari pandangan
dunia (world-view) seseorang. Pandanga dunia seseorang itulah yang
menentukan pencarian ekonomi orang itu, bukan sebaliknya.
2. Nilai-nilai yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah telah memberikan
paradigma yang jelas bagi ekonomi Islam.
3. Ekonomi Islam harus bersifat multidisipliner sekaligus interdisipliner.
4. Pemenuhan kebutuhan ekonomi sebagai sarana untuk mencapai tujuan hidup
yang lebih besar. Tujuan yang lebih besar adalah mencari rida Allah dan
mencapai sukses (falah) di dunia dan akhirat.
5. Distribusi pendapatan dan kekayaan awal yang tidak seimbang dan tidak adil
sebagai salah satu situasi yang menjadi jalan bagi berlakunya campur tangan
negara.
D. Monzer Kahf

Buku Kahf, The Islamic Economy:Analytical Study of the Functioning of


The Islamic Economic System, yang diterbitkan pada tahun 1978 merupakan
salah satu referensi ekonomi silam yang menganalisis pengaruh suatu lembaga
Islam tertentu terhadap besaran ekonomi, seperti tabungan, investasi, konsumsi,
dan pendapatan. Karyanya itu merupakan permulaan “analisis matematika”
dalam ekonomi Islam, yaitu sesuatu yang telah memberikan dorongan kepada
para ahli ekonomi Islam yang cenderung matematis saat ini (Haneef,2010).

Kahf memandang ekonomi sebagai bagian dari agama.Karena setiap


definisi berkaitan dengan kpercayaan dan perilaku manusia, perilaku ekonomi
harus merupakan salah satu aspek agama. Sejauh yang menyangkut Islam, hai
ini didukung oleh kenyataan bahawa Al-Qur’an dan Sunnah Nabi -yang
merupakan sumber ajaran dan hukum Islam- mengandung nilai dan norma
ekonomi. Lebih jauh, menurut Kahf, sebagian besar warisan fiqh, yang diambil
dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, juga berisi bentuk dan legalitas transaksi
ekonomi.

Kahf tidak mengusulkan definisi formal bagi ekonomi Islam. Akan


tetapi, karena ilmu ekonomi berhubungan dengan perilaku manusia dalam hal
produksi, distribusi, dan konsumsi, ekonomi Islam menurut Kahf dapat dilihat
sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan ekonomi yang dipelajari dengan
berdasar pada paradigma (yakni aksioma, sistem nilai, dan etika Islam sama
dengan studi ekonomi kapitalisme dan ekonomi sosialisme.

Menurut Kahf, kita harus membebaskan disiplin ekonomi dari segala


postulat yang sarat nilai budaya asing serta menggantikannya dengan tata nilai
Islam. Para sarjana Islam harus mampu mengemukakan norma universal yang
berkaitan dengan perilaku ekonomi manusia berdasarkan Al-Qur’an dan As-
Sunnah, yang menurutnya lebih mampu menjelaskan perilaku manusia karena
sumbernya adalah Allah SWT. Dengan alasan itu, Khaft menginginkan ilmu
ekonomi yang didasarkan pada pandangan Islam mengenai manusia dan
prinsip/norma perilaku diajukan sebagai ilmu ekonomi universal bagi semua
orang.

Menurut Kahf (1987), tidak ada perbedaan antara ekonomi Islam dan
ekonomi konvensional sejauh menyangkut isu-isu metodologis, seperti
penggunaan logika matematika dan empirisme, yang menurutnya dapat dipakai
oleh siapa pun, meskipun ekonomi Islam harus tetap memiliki suatu filosofi
yang berbeda dan khas dengan aksioma dan nilai.

Dalam mengusulkan “ilmu ekonomi berdasarkan paradigma Islam”


sebagai suatu disiplin universal, Kahf berbeda dengan ahli ekonomi Islam lain
pada umumnya. Baginya, ekonomi Islam dapat diterapkan pada non-Muslim jika
mereka bersedia menerima normaperilaku yang didasarkan pada filosofi dan
prinsip system ekonomi Islam. Implikasinya sangat jelas.Pertama manusia Islam
(Islamic Man) tidak harus seorang Muslim.Kedua, ekonomi Islam dapat pula
diterapkan tanpa harus memiliki suatu sistem yang sepenuhnya Islam dalam
prkatiknya, yang penting ekonomi Islam itu berfungsi (Haneef,2010).

Berkaitan dengan tujuan sistem ekonomi Islam, Kahf menekankan


pencapaian falah (yaitu sukses di dunia dan di akhirat), sebagai tujuan utama,
tidak hanya bagi individu dalam tindakan mereka, tetapi juga masyarakat dalam
organisasi dan tujuannya.Di samping tujuan ini, tujuan lain, seperti efisiensi,
pertumbuhan, dan keadilan semuanya sesuai dengan sistem ekonomi Islam
dengan syarat didasarkan pada dan ditafsirkan di dalam paradigm Islam.Kahf
melihat sistem ekonomi Islam sebagai bagian dari sistem sosial secara
keseluruhan.Oleh karena itu, harus mampu memberikan sumbangsih dalam
memajukan nilai-nilai moral, seperti persaudaraan, kejujuran, dan keadilan.

Kahf mendukung diperlukannya ijtihad.Pertama dan terutama, terdapat


kebutuhan untuk memformulasikan prinsip dan aturan umum yang dapat ditarik
dari Al-Qur’an dan As-Sunnah melalui tafsir, qiyas, dan pandangan serta
rasionalitas umum.Kedua, akhli ekonomi Islam harus merujuk pada fiqh agar
mampu menarik institusi dan alat yang memadai dari prinsip umum.Ketiga,
penggunaan studi-studi empiris untuk menguji teori dan untuk mengoreksi
kekurangan yang mungkin timbul di dalamnya, tidak untuk mendominasi
ataupun mendiktekan pemberian bentuk konstruksi teoritisnya (Haneef,2010).

Asumsi dasar dalam kerangka teoritis yang diajukan oleh Monzer Kahf
(1987) adalah sebagai berikut.

1. Dunia beserta segala sesuatu di dalamnya merupakan milik Allah SWT.


Manusia merupakan khalifah atau wali amanat dari Allah SWT. yang bertugas
untuk menjalankan atau melaksanakan semua perintah-Nya dan harus mengikuti
hukum-Nya. Dengan demikian, manusia memiliki implikasi dalam hal
kepemilikan, sedangkan kepemilikan absolut hanya milik Allah SWT.
2. Tuhan adalah Maha Esa maka hanya ada satu hukum yang harus diikuti, yaitu
syariat Islam. Hal ini memiliki implikasi pada cara agen harus mengatur sistem
ekonomi dan semua institusinya yang hendak ditetapkan. Ekonomi Islam
menjadi ekonomi tauhid sehingga setiap agen ekonomi selalu merasa diawasi
oleh Allah SWT. Dengan demikian, dalam setiap perilakunya, ia akan sangat
berhati-hati, terutama jika berhubungan dengan hak orang lain.
3. Karena dunia ini hanya sementara, dan hari kiamat sebagai hari pengadilan
diterima sebagai suatu realitas, tindakan manusia tidak hanya didasarkan pada
keuntungan di dunia ini, tetapi juga kebaikan di akhirat. Oleh karena itu,
sekalipun aturan maksimisasi dapat tetap diterapkan, fungsi yang
dimaksimumkan hendaklah mencakup unsur-unsur tersebut.

Kahf melihat peranan yang sangat positif dari negara sehingga ia tidak
setuju untuk membiarkan kekuatan pasar sepenuhnya melakukan keputusan-
keputusan alokatif dan distributif. Jenis struktur pasar ini ia sebut free
cooperation, yang menggambarkan dua tema utama sistem ekonomi Islam, yaitu
kebebasan dan semangat kerja sama. Sesuai dengan landasan atau pilar sistem
ekonomi Islam, individu dan negara menerika asumsi Dasar yang menurut Kahf
menjunjung tinggi nilai kesamaan, persaudaraan, tanggung jawab,akuntabilitas
penuh semangat, perbaikan, perdamain dan kerja sama. Harus ada batas
minimum dan standar hidup dan Negara memikul tanggung jawab ini.
Kahf (1978) memandang positif peran pemerintah dalam perencanaan dan
kebijakan.Ia pun tiga tujuan pemerintah, yaitu sebagai berikut.

1. Maksimisasi tingkat penggunaan sumber daya. Karena semua sumber daya


bersumber dari Allah SWT, untuk kepentingan manusia, jika manusia tidak
memanfaatkannya secara tepat, ia akan di nilai tidak bersyukur.
2. Minimisasi kesenjangan dalam distribusi pendapatan. Hal ini harus menjadi tujuan
Negara sehingga kesenjangan yang lebar di masyarakat di minimisasi. Sekalipun
kita tetap harus mengingat bahwa ada perbedaan kemampuan antar orang.
Pemerintah harus mampu memberikan kesempatan yang sama untuk dan
penyediaan kebutuhan dasar yang sama kepada semua orang.
3. Regulasi agen ekonomi untuk menjamin di tegakkannya aturan permainan tepat
dalam perekonomian.

Khaf mengajukan karakteristik kepemilikan dalam system ekonomi


islam sebagai berikut (Haneef, 2010)

1. Hak memiliki didasarkan pada, kesempatan untuk memanfaatkannya. Dengan


kata lain, kerja atau kesempatan untuk memanfaatkan adalah unsur yang
menyebabkan seseorang boleh memiliki suatu barang. Khaf menekankan bahwa
hak kita untuk memiliki itu adalah mengenai pemanfaatannya, bukan
kepemilikannya semata-mata.
2. Tidak dipenuhinya fungsi ekonomi sesuatu hak milik atau di alihkannya
penggunaan suatu barang pada maksud-maksud nonekonomis akan
mengakibatkan dikuranginya hak milik sejajar dengan kedhaliman yang
dilakukan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya penggunaan hak milik secara
tepat.
3. Hak memiliki dibatasi oleh umur pemiliknya, yaitu terikat oleh hokum waris
yang telah menetapkan cara pembagian harta warisan kepada orang-orang
tertentu.
4. Barang-barang tertentu, seperti sumber daya alam, tidak dapat dimiliki secara
pribadi, tetapi milik masyrakat secara keseluruhan. Pemerintah memainkan
peran utama sebagai penyedia dan dalam redistribusi terutama dalam hokum
zakat dan hokum waris.

Khaf meregukan free enterprise market system Barat dan Centrally


planned economies “ Negara –negara sosialis model alokasi dalam
perekonomian islam. Ia mengusulkan free cooperation yang membahas
hubungan individu masyrakat-negara dalam perekonomian Islam dan cara
kebebasan, kerja sama, dan pemerintah harus dilihat berdasarkan rules of the
game islam. Khaf tidak percaya bahwa semua itu dapat diserahkan pelaksaannya
kepada individu seperti yang ditekankan oleh gagasan invisible hand.Dengan
demikian, pemerintah memainkan peran yang menonjol dan disengaja dipasar.
Secara lebiih spesifik, menurut khaf Negara memiliki peran berikut
(haneef,2010)
1. Redistribusi melalui pengenaan zakat , hokum waris, distribusi yang benar untuk
baranag konsumsi, dan mengarahkan tenaga kerja antar industry.
2. Penetapan standar hidupminimum sesuai dengan tingkat pembangunan dan
lingkungan. Pemerintah memiliki kewajiban untuk menjamin bahwa setiap
anggota masyarakat dapat terpenuhi kebutuhan dasarnya sehingga dapat hidup
layak maka harus ada semacam system jaminan social
3. Penyediaan utilitas public, yang merupakan tugas utama pemerintah. Penyediaan
fasilitas public yang tidak mampu disediakan oleh swasta merupakan kewajiban
dari pemerintah.
4. Penyelia dan pengendali. Tugas pemerintah untuk menjamin tegaknya aturan
permainan yang adil dalam perekonomian.

Secara umum, pandangan monzer khaf mengenai system ekonomi Islam adalah
sebagai berikut.

1. Ekonomi sebagai suatu bagian dari agama. Oleh karena itu setiap definisi
berkaitan dengan kepercayaan dan perilaku manusia maka perilaku ekonomi
harus merupakan salah satu aspek agama.
2. Pencapaian falah (yaitu sukses di dunia dan akhirat) sebagai tujuan utama, tidak
hanya bagi individu dalam tindakan mereka, tetapi juga masyrakat dalam
organisasi dan tujuannya. Disamping tujuan ini,
E. Umer chapra

Umer chapra lahir pada tanggal 1 Februari 1933 di Pakistan.


Umer ialah penasihat riset di institut pelatihan dan riset islam (IRTI)
tentang IDB di jeddah. Sebelum itu ia bekerja di agen moneter saudi
arabia (SAMA) di riyadh selama hampir 35 tahun dan akhirnya
mengundurkan diri sebagai penasihat ekonomi senior. Ia juga telah
memberikan kuliah secara luas di sejumlah universitas dan institut
profesional di negara-negara berbeda

Umer Chapra menerbitkan 11 buku,60 karya ilmiah ,9 resensi


buku serta artikel lepas diberbagai jurnal dan media masa. Buku
pertamanaya, towards a just monetary system, di anggap oleh profesor
rodney wilson dari Universitas Durham, Inggris, “sebagai persentasi
terbai terhadap teori moneter Islam sampai saat ini” dalam bulletin of the
british society of middle eastern studies (2/1958, pp, 224-5). Buku ini
salah satu fondasi intelektual dalam subjek ekonomi islam dan pemikiran
ekonomi muslim modern.

Buku keduanya, Islam and the economic


challenge,dideklarasikan oleh ekomom besar Amerika, Profesor Kenneth
Boulding, dalam resensi pepublikasiannya, sebagai analisis brilian dala
kebaikan serta kecacatan kapitalisme,sosialisme, dan Negara maju.
Kanneth juga menilai buku ini sebagai kontribusi penting dalam
pemahaman Islam bagi kaum Muslim ataupun non-Muslim. Buku ini
telah ditulis dengan sangat baik dan menawarkan keseimbangan
literatural sintesis dalam ekonomi islam kontemporer. Profesor Timur
Kuran dari Universitas South Carolina, me-review buku ini dalam
journal of Economic Literatur untuk American Economic
Assosiation.Buku ini menonjol sebagai eksposisi yang jelas dari
keterbukaan pasar ekonomi Islam.Kritiknya terhadap sistem ekonomi
yang ada diungkap dengan pintar dan disertai dengan dokumentasi yang
baik. Profesor Kuran merekomendasikan buku ini sebagai panduan
sempurna dalam pemahana ekonomi islam.

Berkat konribusinya yang beragam bagi ekonomi Islam dan peran


yang begitu besar dalam pengembangan subjek ini.Umer Chapra
menerima hadiah (medali) pada tahun 1990 dari IDB dalam bidang
ekonomi Islam dan King Faisal Internasional Prize dalam bidang kajian
Islam.

Menurut Umer Chapra, Ilmu ekonomi konvensional yang selama


ini mendominasi pemikiran ilmu ekonomi modern telah menjadi disiplin
Ilmu yang sangat maju, bahkan terdepan.dampak yang lebih
mengagumkan lagi dari akselerasi perkembangan di negara-negara
industri Barat adalah tersedianya sumber-sumber kajian yang
substansional bagi para pakar untuk untu membantu program riset
mereka. Berbeda dengan Ilmu ekonomi Islam, ilmu ekonomi dengan
perspektif Islam ini baru menikmati kebangkitannya pada tiga atau empat
dekade yang telah menagalami tidur panjang beberapa abad.Hal ini
disebabkan disebabkan sebagian besar negara muslim adalah negara
miskin dengan tingkat pembangunan ekoomi rendah.

Islam, sebagaiman di uraikan oleh Chapra, merumuskan sistem


ekonomi yang berbeda dengan sistem-sistem yang berlaku. Ia memiliki
akar dalam syariah yang menjadi sumber pandangan dunia,sekaligus
tujuan-tujuan dan sterateginya. Berda dengan sistem-sistem dunia yang
berlaku saat ini, tujuan-tujuan Islam (maqashid asy-syari’ah) bukan
semata-mata bersifat materi,melainkan didasarkan pada konsepnya
mengenai kesejahteraan manusia (falah) dan kehidupan yang baik (hayat
thayyibah),yang memberikan nilaisangat penting bagi persaudaraan da
keadilan sosio-ekonomi dan menuntut kepuasan yang seimbang,baik
dalam kebutuhan materi maupun rohani dari seluruh umat manusia.
Chapra (2000) mengurakan elemen strategis islam dalam
pembangunan ekonomi, yaitu sebagai berikut:

1. Penyaringan yang merata atas klaim yang berlebihan: selain mekanisme


harga, islam menawarkan moral sebagai filter untuk mengubah skala
preferensi manusia untuk mengikuti prioritas prioritas social.
2. Memotivasi individu untuk melayani kepentingan social seiring dengan filter
moral meskipun ketika berbuat demikian merugikan kepentingan sendiri.
Maslahat individu dapat dipenuuhi dengan nafsu kelakuannya, tetapi
maslahat diakhirat tidak akan dipenuhi kecuali dengan berperilaku yang
tidak merugikan orang lain. Gagasan mengenai pertanggungjawaban di
depan allah dapat menjadi motivasi kuat bagi individu untuk mematui nilai
moral dan mencegah mereka mengikuti nafsu melebihi bats norma social dan
kesejahteraan.
3. Restrukturisasi sosio ekonomi: bertujuan menciptakan situasi yang kondusif
bagi penerapan nilai nilai tersebut.
4. Peran Negara
5. untuk menciptakan restrukturisasi ekonomi terebut.

Chapra (2000) juga menguraikan tindakan kebijakan yang dapat dilakukan di


lakukan dalam suatu pembnagunan, yaitu sebagai berikut:

1. Memberikan kenyaman pada factor manusia, berupa motivasi dann kemampuan.


Motivasi terdiri atas keadilan sosioekonomi dan transformasi moral. Keadilan
sosioekonomi beripa:
a) peningkatan kualitas penduduk pedesaan,
b) reformasi perburuan,
c) imbalan yang adil bagi deposan dan pemegang saham minoritas, d) keadilan
bagi produsen, eksportir, dan konsumen.
2. Mengurangi konsenstrasi kepemilikan, dengan jalan: a) reformasi pertahanan
dan pembangunan pedesaan, b) pengembangan industry mikro dan kecil, c)
kepemilikan yang lebih luas dan control perusahaan, d) pengaktifan zakat dan
system warisan islam, e) restrukturisasi system keuangan.
3. Restrukturisasi ekonomi, berupa: a) mengubah prefensi konsumen, b) reformasi
keuangan pemerintah, c)restrukturisasi iklim berinvestasi, d) produksi yang
didasarkan pada kebutuhan, e) pendekatan baru bagi pengangguran.
4. Restrukturisasi finansial
5. Perencanaan kebijakan strategis.

Selanjutnya, berkaitan dengan system moneter, Umer Chapra berpendapat dalam


perekonomian islam, permintaan terhadap uang lahir terutama motif transaksi dan
tindakan berjaga jaga. Permintaan spekulasi pada dasaranya didorog oleh fluktuasi
suku bunga perekonomian kapitalis, yang menyebabkan perubahan terus menerus
dalam jumlah uang yang di pegang oleh public.

Variable yang akan digunakan dalam kebijakan moneter yang di formulasikan


dalam perekonomian islam merupakan cadanggan uang (stock of money).
Tujuannya menjamin bahwa ekspansi tidak bersifat “kurang mencukupi” atau
“berlebihan”, tetapi cukup untuk sepenuhnya mengeksploitasi kapasitas
perekonomian untuk menyuplai barang dan jasa bagi kesejahteraan luas. Strategi ini
mengakui bahawa pentingnya mengatur pertumbuhan suplai uang untuk mengelola
perekonomian secara baik.
Untuk menjamin bahwa pertumbuhan moneter “mencukupi” dan tidak
“berlebihan”, pemerintah perlu memonitor secara hati hati tiga sumber utama
ekspansi moneter. a) membiayai defisit anggaran pemerintah dengan meminjam
dari bank central, b) ekspansi deposito melalui penciptaan kredit pada bank bank
komersial, c) bersifat eksternal, yaitu menguangkan surplus neraca pembayaran luar
negeri
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pemikiran Ekonomi Islam Kontemporer diisi dan dipengaruhi oleh pemikiran-
pemikiran para tokoh ekonomi islam kontemporer seperti Muhammad Baqir As-Sadr,
Muhammad Abdul Manan, Muhammad Nejatullah Siddiqi, dan Umer Chapra. Sejatinya
Pemikiran ekonomi Islam Kontemporer ialah respons para pemikir muslim terhadap
tantangan-tantangan ekonomi pada masa mereka. Pemikiran tersebut diilhami dan
dipandu oleh ajaran Al-Quran dan Sunnah juga oleh ijtihad (pemikiran) dan pengalaman
empiris mereka.
DAFTAR PUSTAKA

PENGANTAR EKONOMI SYARIAH TEORI DAN PRAKTIK

M.NUR RIANTO AL ARIF, PROF.

Dr. H. M. AMIN SUMA, S.H., M.A., M.M