Anda di halaman 1dari 8

Author :

Aulia Rahman, S. Ked

Faculty of Medicine – University of Riau

Pekanbaru, Riau

2009

©
0 Files of DrsMed – FK UNRI (http://www.Files-of-DrsMed.tk
PENDAHULUAN

Walaupun mata mempunyai sistem pelindung yang cukup baik seperti


rongga orbita, kelopak, dan jaringan lemak retrobulbar selain terdapatnya refleks
memejam atau mengedip, mata masih sering mendapat trauma dari dunia luar.
Trauma dapat mengakibatkan kerusakan pada bola mata dan kelopak, saraf mata
dan rongga orbita. Kerusakan mata akan dapat mengakibatkan atau memberikan
penyulit sehingga mengganggu fungsi penglihatan.1
Trauma pada mata memerlukan perawatan yang tepat untuk mencegah
terjadinya penyulit yang lebih berat yang akan mengakibatkan kebutaan. Pada
mata dapat terjadi trauma dalam bentuk-bentuk berikut:1
1. Trauma tumpul
2. Trauma tembus bola mata
3. Trauma kimia
4. Trauma radiasi
Trauma pada mata dapat mengenai jaringan di bawah ini secara terpisah
atau menjadi gabungan trauma jaringan mata. Trauma dapat mengenai jaringan
mata: kelopak, konjungtiva, kornea, uvea, lensa, retina, papil saraf optik, dan
orbita.1

1
ANAMNESA
Pada anamnesis kasus trauma mata ditanyakan mengenai proses terjadi
trauma, benda apa yang mengenai mata tersebut, bagaimana arah datangnya benda
yang mengenai mata tersebut apakah dari depan, samping atas, bawah dan
bagaimana kecepatannya waktu mengenai mata. Perlu ditanyakan pula berapa
besar benda yang mengenai mata dan bahan benda tersebut apakah terbuat dari
kayu, besi atau bahan lain. Apabila terjadi penurunan penglihatan, ditanyakan
apakah pengurangan penglihatan itu terjadi sebelum atau sesudah kecelakaan.
Ditanyakan juga kapan terjadinya trauma. Apakah trauma disertai dengan
keluarnya darah dan rasa sakit dan apakah sudah dapat pertolongan sebelumnya.2

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum terlebih dahulu diperiksa, karena 1/3 hingga ½ kejadian
trauma mata bersamaan dengan cedera lain selain mata. Untuk itu perlu
pemeriksaan neurologis dan sistemik mencakup tanda-tanda vital, status mental,
fungsi, jantung dan paru serta ekstremitas. Selanjutnya pemeriksaan mata dapat
dimulai dengan:3,4
1. Menilai tajam penglihatan, bila parah: diperiksa proyeksi cahaya,
diskriminasi dua titik dan defek pupil aferen.
2. Pemeriksan motilitas mata dan sensasi kulit periorbita. Lakukan palpasi
untuk mencari defek pada tepi tulang orbita.
3. Pemeriksaan permukaan kornea : benda asing, luka dan abrasi
4. Inspeksi konjungtiva: perdarahan/tidak
5. Kamera okuli anterior: kedalaman, kejernihan, perdarahan
6. Pupil: ukuran, bentuk dan reaksi terhadap cahaya (dibandingkan dengan
mata yang lain)
7. Oftalmoskop: menilai lensa, korpus vitreus, diskus optikus dan retina.

PROLAPS IRIS
Prolaps iris dapat terjadi saat perforasi kornea akibat beberapa sebab, yaitu
setelah trauma, setelah operasi, akibat perforasi ulkus kornea atau corneal melt.
Prolaps iris merupakan kondisi serius yang jika tidak ditangani dapat

2
menyebabkan infeksi dan hilangnya bola mata. Jika prolaps iris itu tereksposur,
seperti pada laserasi kornea, tindakan bedah segera diperlukan, karena infeksi
dapat menyebar melalui iris menuju bola mata. Jika prolaps iris tertutupi oleh
konjungtiva, misal pada luka post operasi, maka intervensi bedah segera tidak
terlalu diperlukan.5
Iris merupakan jaringan yang sensitif pada mata. Jika terjadi prolaps iris
maka pasien sering mengeluhkan nyeri. Iris dapat mengalami prolaps setelah
operasi (operasi katarak, transplantasi kornea), trauma (laserasi kornea, laserasi
sklera), akibat perforasi ulkus kornea dan corneal melt yang berhubungan dengan
rheumatoid arthritis. 5
Pada prolaps iris perifer, iris akan tampak seperti lempengan jaringan
berwarna, akibat sinekia parsial perifer (gambar 1). Saat prolaps terjadi di sentral
maka seluruh tepi pupil akan prolaps sehingga terjadi sinekia anterior total. Pada
pasien dengan perforasi kornea, prolaps iris akan tereksposur. Tampilan iris dapat
bermacam-macam tergantung dari lamanya prolaps. Pada prolaps iris yang baru
saja terjadi iris masih viable, namun seiring berjalannya waktu iris akan
mengering dan akan menjadi non viable. Saat prolaps iris telah keluar dari luka
pada sklera maka akan tampak seperti massa berwarna yang terletak dibawah
konjungtiva. Pada kasus ini iris akan tetap viable dalam waktu yang lama.5

Gambar 1. Prolaps iris


Dikutip dari kepustakaan 6

IRIDODIALISIS
Iridodialisis adalah keadaan dimana iris terlepas dari pangkalnya sehingga
2
bentuk pupil tidak bulat dan pada pangkal iris terdapat lubang. Saat mata kita
berkontak dengan benda asing, maka mata akan bereaksi dengan menutup kelopak

3
mata dan mata memutar ke atas. Ini alasannya mengapa titik cedera yang paling
sering terjadi adalah pada temporal bawah pada mata. Pada daerah inilah iris
sering terlihat seperti peripheral iris tears (iridodialisis). Saat mata tertekan maka
iris perifer akan robek pada akarnya dan meninggalkan crescentic gap yang
berwarna hitam tetapi reflek fundus masih dapat diobservasi (gambar 2).7

Gambar 2. Iridodialisis
Dikutip dari Kepustakaan 7

Hal ini mudah terjadi karena bagian iris yang berdekatan dengan badan
silier gampang robek. Lubang pupil pada pangkal iris tersebut merupakan lubang
permanen karena iris tidak mempunyai kemampuan regenerasi.2
Trauma tumpul dapat mengakibatkan robekan pada pangkal iris sehingga
bentuk pupil menjadi berubah. Perubahan bentuk pupil maupun perubahan ukuran
pupil akibat trauma tumpul tidak banyak mengganggu tajam penglihatan
penderita. Pasien akan melihat ganda dengan satu matanya. Pada iridodialisis akan
terlihat pupil lonjong. Biasanya iridodialisis terjadi bersama-sama dengan
terbentuknya hifema. Bila keluhan demikian maka pada pasien sebaiknya
dilakukan pembedahan dengan melakukan reposisi pangkal iris yang terlepas.1,2

RUPTUR SKLERA
Ruptur sklera paling sering mengenai lapisan sklera paling tipis yaitu pada
insersi otot ekstra okular (rektus), limbus dan daerah sekitar N.II. Biasa ditandai
dengan perdarahan periokuler dan intraokuler, ketajaman penglihatan sama atau

4
kurang dari kemampuan melihat lambaian tangan, tekanan intraokuler < 5 mmHg,
kedalaman COA asimetris dan atau kesulitan menilai fundus, pada pemeriksaan
slit lamp biomicroscopy tampak kekeruhan vitreus pada sisi yang ruptur dan pada
pemeriksaan tambahan dengan Echography akan tampak vitreus yang inkarserata,
penebalan atau pelepasan retina, kontur sklera yang irreguler, penurunan refleks
sklera, perdarahan episkleral.4,8
Perbaikan terhadap ruptur sklera harus segera dilakukan begitu ditemukan
dengan menjahit sklera. Kemungkinan untuk mengembalikan penglihatan sangat
kurang pada ruptur sklera posterior yang luas, tetapi dengan instrumentasi bedah
dan pemahaman patofisiologi yang lebih baik, memungkinkan untuk
4,8
mempertahankan penglihatan pada derajat tertentu.

KATARAK TRAUMATIK
Katarak akibat cedera pada mata dapat akibat trauma perforasi ataupun
tumpul terlihat sesudah beberapa hari ataupun tahun. Katarak traumatik paling
sering disebabkan oleh cedera benda asing di lensa atau trauma tumpul terhadap
bola mata. Tembakan sering merupakan penyebab, sedangkan penyebab yang
lebih jarang adalah anak panah, batu, pajanan berlebih terhadap panas, sinar X,
dan bahan radioaktif. 1,9
Pasien mengeluhkan penglihatan kabur secara mendadak. Mata menjadi
merah, lensa opak, dan mungkin terjadi perdarahan intraokuler. Apabila humour
aqueus dan korpus vitreum keluar dari mata, mata menjadi sangat lunak.9
Pada trauma tumpul akan terlihat katarak subkapsular anterior ataupun
posterior. Kontusio lensa menimbulkan katarak seperti bintang, dan dapat pula
dalam bentuk katarak tercetak (imprinting) yang disebut cincin Vossius.1
Trauma tembus akan menimbulkan katarak yang lebih cepat, perforasi
kecil akan menutup dengan cepat akibat proliferasi epitel sehingga bentuk
kekeruhan terbatas kecil. Trauma tembus besar pada lensa akan mengakibatkan
terbentuknya katarak dengan cepat disertai dengan terdapatnya masa lensa di
dalam bilik mata depan.1
Pada keadaan ini akan terlihat secara histopatologik masa lensa yang akan
bercampur makrofag dengan cepatnya, yang dapat memberikan bentuk

5
endoftalmitis fakoanafilaktik. Lensa dengan kapsul anterior saja yang pecah akan
menjerat korteks lensa sehingga akan mengakibatkan apa yang disebut sebagai
cincin Soemering atau bila epitel lensa berproliferasi aktif akan terlihat mutiara
Elsching.1
Pengobatan pada katarak traumatik adalah dengan memberikan antibiotik
sistemik dan topikal serta kortikosteroid topikal dalam beberapa hari untuk
memperkecil kemungkinan uveitis. Atropin sulfat 1% sebanyak satu tetes tiga kali
dalam sehari dianjurkan untuk menjaga pupil tetap berdilatasi dan untuk
mencegah pembentukan sinekia posterior.9
Pengobatan katarak traumatik tergantung pada saat terjadinya. Bila terjadi
pada anak sebaiknya dipertimbangkan akan kemungkinan terjadinya ambliopia.
Untuk mencegah ambliopia pada anak dapat dipasang lensa intra okular primer
atau sekunder.1
Pada katarak trauma apabila tidak terdapat penyulit maka dapat ditunggu
sampai mata menjadi tenang. Bila terjadi penyulit seperti glaukoma, uveitis dan
lain sebagainya maka segera dilakukan ekstraksi lensa. Penyulit uveitis dan
glaukoma sering dijumpai pada orang usia tua. Pada beberapa pasien dapat
terbentuk cincin Soemmering pada pupil sehingga dapat mengurangi tajam
penglihatan. Keadaan ini dapat disertai perdarahan, ablasi retina, uveitis atau salah
letak lensa.1

6
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata, Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2005.
259-267.

2. Ilyas S, dkk. Ilmu Penyakit Mata Untuk Dokter Umum dan Mahasiswa
Kedokteran, Edisi Kedua. Jakarta: CV. Sagung Seto. 2002. 263-8

3. Asbury & Sanitato (eds). Trauma Dalam Oftalmologi Umum, Edisi 14,
Vaughan, Asbury, Riordan-Eva (eds). Jakarta: Penerbit Widya Medika. 2000.
380-8.

4. Aaberg & Stenberg (eds). Blunt and Penetrating Ocular Injuries. Dalam:
Vitreoretinal Disease The Essentials, Regillo (ed). New York: Thieme
Medical publisher. 1999. 511-535.

5. Arunagiri G. Iris Prolapse. http://emedicine.medscape.com/article/1209310


[diunduh 15 Januari 2009]

6. Schlote T. Pocket Atlas of Ophthalmology. Stuttgart. Georg Thieme Verlag.


2006.125

7. Galloway, et all. Common Eye Diseases and their Management. Third


Edition. London. Springer-Verlag. 2006. 130

8. Michelson. Globe Rupture. 2007. http;//www.emedicine.com [diunduh 15


Januari 2009]

9. Vaughan DG, Asbury T, Eva RP. Oftalmologi Umum. Edisi ke 14. Jakarta.
Widya Medika. 2000. 180-2

©
7 Files of DrsMed – FK UNRI (http://www.Files-of-DrsMed.tk