Anda di halaman 1dari 5

DIFFERENTIAL DIAGNOSIS

1. Esophageal Perforation
Figure 1. Perforasi esofagus disertai shift mediastinum

Perforasi esophagus paling sering terjadi setelah instrumentasi medis ataupun


operasi paraesofageal, dan setelah peningkatan tekanan intraesofageal yang tiba-tiba
ditambah dengan tekanan intrathoracic negative yang disebabkan oleh penegangan atau
muntah (Boerhaave syndrome).
Pasen mengeluh nyeri dada retrosternal dan nyeri perut atas yang berat. Odinofagi,
takipneu, dispneu, sianosis, demam, dan diikuti dengan shock sesaat setelahnya.
Pemeriksaan fisik biasanya tidak banyak membantu, terutama saat fase awal kelainan.
Emfisema subkutis (krepitasi) adalah penemuan diagnostic yang penting namun tidak
terlalu sensitif. Efusi pleura baik dengan maupun tanpa pneumothorax juga dapat
dijumpai.
Foto Polos Thorax hampir selalu abnormal pada kasus rupture esophagus. Pada fase
awal, diagnosis dapat ditegaskan dengan adanya udara bebas pada mediastinum dan
peritoneum. Selanjutnya, akan terjadi pelebaran mediastinum, emfisema subkutis, dan
efusi pleura dengan ataupun tanpa pneumothorax.
CT Scan dapat memperlihatkan edema dan penebalan dinding esophagus, udara
extraesophageal, cairan periesophageal dengan atau tanpa gelembung udara, pelebaran
mediastinum, serta udara dan cairan pada rongga pleura dan retroperitoneum.
Diagnosa juga dapat dikonfirmasi dengan kontras water-soluble esophagram, yang
akan memperlihatkan lokasi dan luasnya ekstravasasi dari contrast materianal.
2. Giant Bullae

Gejala pasien dan pemeriksaan fisiknya dapat menyerupai pneumothorax. Pasien


juga dapat mengalami dispneu akut karena sebab lainnya (e.g., eksaserbasi PPOK).
Foto Polos Thorax hampir selalu abnormal pada kasus rupture esophagus. Pada fase
awal, diagnosis dapat ditegaskan dengan adanya udara bebas pada mediastinum dan
peritoneum. Selanjutnya, akan terjadi pelebaran mediastinum, emfisema subkutis, dan
efusi pleura dengan ataupun tanpa pneumothorax.
CT Scan dapat memperlihatkan edema dan penebalan dinding esophagus, udara
extraesophageal, cairan periesophageal dengan atau tanpa gelembung udara, pelebaran
mediastinum, serta udara dan cairan pada rongga pleura dan retroperitoneum.
Diagnosa juga dapat dikonfirmasi dengan kontras water-soluble esophagram, yang
akan memperlihatkan lokasi dan luasnya ekstravasasi dari contrast materianal.

3. Lipatan Kulit
Batas pleura yang terlihat lebih lusen jika dibandingkan dengan pneumothorax yang
memiliki garis pleura yang lebih opak. Dapan dilihat tampakannya melebihi kavum
thorax.

4. Overlapping Breast Margin

COMPLICATIONS

1. Haemopneumothorax Spontan
Kurang lebih 5% pasien dengan pneumothorax dengan besamaan akan juga
mengalami haemothorax dengan jumlah darah di rongga pleura. Mekanisme perdarahan
yang dalam HPS meliputi akibat perdarahan pada adhesi vascular apeks antara pleura
visceral dan parietal atau robekan congenital aberrant vessels antara pleura parietal dan
bulla dan paru kolaps, atau karena ruptur dari bulla yang tervaskularisasi. Manifestasi
bergantunf pada jumlah darah yang hilang dalam kelainan ini. Terapi HPS meliputi tube
thoracostomy untuk drainage heamothorax dan untuk re-expansi paru. Apabila re-expansi
paru tidak menghentikan perdarahan, thoracotomy dapat dilakukan.

2. Fistula Bronchopleural
Fistula bronchopleural dapat terjadi pada pasien dengan Pneumothorax Spontan
Primer (3% to 4%), walaupun lebih sering pada pasien dengan Pneumothorax Spontan
Sekunder atau Pneumothorax Traumatik. Kebocoran udara persisten yang terus terjadi
setelah drain untuk pneumothorax adalah tanda awal untuk komplikasi ini. Hal ini dapat
di atasi dengan thoracotomy, menutup fistula dan pleurodesis.

3. Pneumomediastinum
Pneumomediastinum adalah komplikasi yang jaran pada pneumothorax (< 1%).
Tandanya dapat dilihat dari adanya udara bebas dalam mediastinum. Emfisema subkutis
juga sering dihubungkan dengan Pneumomediastinum. Kondisi ini dapat dengan maupun
tanpa signifikansi klinik yang penting. Pneumomediastinum jarang dilaporkan
menyebabkan komplikasi yang serius. (esophageal injuries and injuries in the large
airways)

4. Pneumothorax Kronik (kegagalan paru untuk mengembang)


Pada Pneumothorax, chest tubes digunakan untuk re-expansi paru. Namun dalam
beberapa kasus, prosedur ini gagal. Penebalan korteks pada pleura visceral mencegah re-
ekspannsi paru. Prosedur medis yang dapat dilakukan dapat berupa thoracotomy dan
dekortikation.

DISCUSSION
DAFTAR PUSTAKA

Milisavljević S, Spasić M, Milošević B. Pneumothorax: Diagnosis and treatment. Sanamed.


2015;10(3):221-8.

Lee S, Kim HR, Cho S, et al. Staple line coverage after bullectomy for primary spontaneous
pneumothorax: a randomized trial. Ann Thorac Surg. 2014;98:2005-2011

Giménez A, Franquet T, Erasmus JJ et-al. Thoracic complications of esophageal disorders.


Radiographics. 2002;22 Spec No (suppl 1): S247-58.