Anda di halaman 1dari 7

DIAGNOSIS

I.Anamnesis

1. Durasi
2. Progresi
3. Riwayat pengobatan
4. Riwayat keluarga
5. Riwayat kontak, termasuk dengan hewan yang memiliki ruam

II. Presentasi Klinis

1. Distal Lateral Subungual Onychomycosis (DSLO)


Didapatkan bercak putih pada bagian distal atau lateral dari permukaan
bawah kuku atau nail bed,
biasanya dengan batas tegas.
Pada infeksi progresif, kuku
akan berwarna lebih opak,
menebal, retak, rapuh, dan
terangkat akibat hiperkaratosis
pada hiponikium. Apabila kuku
tangan terkena, biasanya kedua
kaki juga kena.
2. White Superficial Onychomycosis (WSO)
WSO memiliki tampakan putih kapur
pada permukaan nail plate yang dapat
dikerok/kikis dengan mudah dengan kuret atau
rotary burr. Terjadi hampir hanya pada kuku kaki
saja, jarang pada kuku tangan.
3. Proximal Subungual Onychomycosis (PSO)
Manifestasi awal berupa kuku bagian proksimal rusak, dan distal masih utuh.
Tidak ada tanda hyperkeratosis subungual pada nail bed.
Sering dihubungkan dengan AIDS dengan penyebaran
hematogen. Lebih sering terjadi pada kuku kaki.

4. Total Dystrophic Onychomycosis (TDO)


Bentuk paling advans dari semua sub-tipe. Terjadi 10-15 tahun setelah
infeksi awal. Terdapat
hyperkeratosis subungual dan
destruksi abnormal dari nail
plate dan ridging dari nail bed.
Memiliki resiko paling tinggi
terjadinya ulkus subungual,
infeksi bakteri sekunder, dan
gangrene pada pasien dengan gangguan vaskuler perifer.

III. Pemeriksaan Penunjang

Anamnesis dan gambaran klinis saja pada umumnya sulit untuk memastikan diagnosis,
maka diperlukan pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis dan mengetahui
penyebab Tinea Unguium.

1. Potassium Hydroxide (KOH) Wet Mount


Pemeriksaan KOH 60%
sensitive tapi tidak dapat
mengindentfikasi spesies.
Namun, jika KOH positif dapat
menyingkirkan kemungkinan
infeksi saprofit.
Sebelum mengambil
specimen, kuku pasien harus
dibersihkan dengan 70% isopropyl alcohol, kemudian sampel subungual debris dan 8-10
potongan kuku dikumpulkan. Guideline yang disarankan untuk dapat melihat pathogen
dari kontaminan: (i) apabila dermatofita diisolasi pada kultur, maka dapat dikatakan
pathogen; (ii) kultur mold ataupun yeast non-dermatofita dikatakan signifikan hanya bila
hifa, spora, atau sel yeast dapat dilihat pada pemeriksaan mikroskopok, dan (iii) adanya
pertumbuhan yang banyak dan berulang darimold non-dermatofita tanpa pertumbuhan
dermatofita secara bersamaan. Kemudian kerokan kuku dimasukkan pada sediaan KOH
20-30% dalam air atau dalam dimetilsulfoksida (DMSO) 36-40% dan biarkan 15-20
menit untuk mempermudah lisis keratin sehingga dapat melihat adanya hifa, pseudohifa,
spora, dan blastospora. Pada gambaran mikroskopik langsung bila penyebabnya elemen
jamur dermatofita maka akan terlihat sebagai dua garis lurus sejajar yang transparan
(double contour) tersusun atas hifa bersepta maupun bercabang, kadang ditemukan
deretan spora di ujung hifa.
2. Kultur

Pemeriksaan biakan atau kultur memiliki sensitifitas yang kurang baik, namun
spesifitas baik. Kultur menggunakan media Agar Sabouraud, juga dikenal sebagai gold
standard dalam menengakkan diagnosis onikomikosis. Agar Sabouraud merupakan
media universal karena dapat digunakan untuk mengisolasi semua jenis jamur.
Penambahan cyclohexidine dan chloramphenicol (+/- gentamycin) dapat meliminasi
kontaminan seperti, mold, yeast, dan bakteri yang membuat media sangat selektif
terhadap dermatofit. Pertumbuhan koloni dapat memakan waktu sekitar 5-7 hari pada
kasus Epidermophyton floccosum. Kultur diinkubasi pada suhu ruangan (20°- 25°C)
selama 4 minggu, jika lebih dari itu dan tidak ada pertumbuhan, dikatakan negative.
Evaluasi pada media biakan adalah morfologi keseluruhan koloni (depan) yaitu warna,
tekstur, topografi dan lamanya tumbuh, lalu bagian sebaliknya (reverse) untuk melihat
ada atau tidaknya pigmen yang khas, dan morfologi mikroskopis yaitu ukuran, bentuk,
topografi dan susunan spora atau konidia (makrokonidia, mikrokonidia), jenis tambahan
seperti hifa.

3. Histopatologi dengan Pewarnaan Periodic Acid-Schiff (PAS)

Merupakan pemeriksaan yang paling sensitive sejauh ini (95%). Bila secara klinis
kecurigaan onikomikosis besar, tetapi hasil sediaan mikroskopik langsung maupun
biakan negatif, pemeriksaan histopatologi dapat membantu. Dapat dilakukan biopsi kuku
atau nail clippings dengan pewarnaan periodic acid-shiff (PAS) untuk membantu
memastikan bahwa jamur terdapat didalam lempeng kuku dan bukan komensal atau
kontaminan diluar lempeng kuku.
Dengan pemeriksaan histopatologi dapat ditentukan apakah jamur bersifat invasif
pada lempeng kuku atau daerah subungual disamping itu kedalaman penetrasi jamur
dapat dilihat. Hifa terlihat di antara lamina kuku yang sejajar dengan permukaan dan
memiliki predileksi pada ventral kuku dan stratum korneum dari dasar kuku. Lapisan
epidermis dapat memberi gambaran spongiosis dan parakeratosis fokal, dan terdapat
respon inflamasi dermal minimal.
Pada WSO, jamur akan terdapat pada daerah permukaan pada bagian dorsal kuku
dan memberi gambaran "organ perforating" dan "eroding fronds" yang khas. Bahan
untuk pemeriksaan histopatologi dapat diperoleh melalui lempeng kuku yang banyak
mengandung debris dan potongan kuku. Bahan pemeriksaan histopatologi dapat langsung
dimasukkan dalam parafin, atau terlebih dahulu dalam larutan formalin 10% semalaman
agar jamur terfiksasi dengan baik, kemudian blok parafin dipotong tipis hingga ketebalan
4 -10 µ dengan menggunakan mikrotom dan dilakukan pewarnaan PAS, dan dapat dilihat
adanya hifa dan atau spora dengan menggunakan mikroskop, polisakarida pada dinding
sel akan berwarna merah terang.

4. Dermatophyte Strip Test (DST)

DST merupakan uji kualitatif untuk mendeteksi antigen dermatofita, objektif,


cepat dan akurat yang dapat digunakan untuk mendiagnosis TUsebagai sarana diagnostic
baru digunakan untuk mendeteksi dermatofita pada kerokan kuku dengan sensitivitas dan
spesifisitas yang sebanding dengan pemeriksaan mikroskopik. Dermatophyte strip test
merupakan uji untuk mendeteksi dermatofita berdasarkan pada konsep lateral flow
immunoassay, yaituterjadiinteraksiimunologiantara antigen spesifik dermatofita berikatan
dengan colloidal gold-labeled antibody Keberadaan dua garis merah pada daerah uji
menunjukkan hasil positif, sedangkan jika ada satu garis merah menunjukkan hasil
negatif. Hasil DST ini dibaca setelah 15 menit.
5. Dermoscopy

Pemeriksaan dengan dermoskopi atau dikenal onikoskopi, prosedur yang mudah


dan cepat, yang dapat membedakan onikolisis pada OSDL dengan onikolisis oleh trauma.
Gambaran onikolisis ditandai dengan pinggir kuku yang iregular atau spike dan garis-
garis longitudinal dari bagian proksimal ke arah distal pada tepi onikolisis, dan perubahan
warna pada kuku.

6. Polymerase Chain Reaction (PCR)


Real-time polymerase chain reaction (PCR) assays sedang dalam perkembangan,
yang dengan bersamaan dapat mendeteksi dan mengidentifikasi dermatofita paling
prevalen langsung pada kuku, kulit dan sampel rambut. Real-time PCR meningkatkan
angka deteksi dermatofita secara signifikan jika dibandingkan dengan kultur. Namun,
PCR juga dapat mendeteksi jamur non-patogen atau mati, yang dapat membatasi
kemampuannya untuk mendeteksi true pathogen.

Beberapa teknik diagnostik lainyang masih dalam investigasi termasuk Restriction Fragment
Length Polymorphism Analysis, Flow Cytometry, And Confocal and Scanning Electron
Microscopy.