Anda di halaman 1dari 3

Epistemologi Ekonomi Islam

Seluruh disiplin ilmu pengetahuan ilmiah mestilah memiliki landasan epistemologis.


Dengan kata lain sebuah ilmu, baru dapat dijadikan sebagai suatu disiplin ilmu jika ia
memenuhi syarat-syarat ilmiah (scientific). Salah satu syarat dalam kajian filsafat adalah
epistemologi. Epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas secara mendalam
segenap proses untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
Epistemologi pada hakikatnya membahas tentang filsafat pengetahuan yang berkaitan
dengan asal-usul (sumber) pengetahuan, bagaimana memperoleh pengetahuan tersebut
(metodologi) dan kesahihan (validitas) pengetahuan tersebut. Ilmu ekonomi Islam
(Islamic economics) sebagai sebuah disiplin ilmu, jelas memiliki landasan epistemologis.
Membahas epistemologi ekonomi Islam berarti mengkaji asal-usul (sumber) ekonomi
Islam, metodologinya dan validitasnya secara ilmiah. Pengertian epistemologi Secara
etimologi, epistemologi berasal dari kata Yunani epiteme dan logos.
Episteme berarti pengetahuan, sedangkan logos berarti teori, uraian atau alasan. Jadi
epistemologi dapat diartikan sebagai teori tentang pengetahuan. 1 Secara terminology,
Dagobert D Renes dalam kamusnya Dictionary of Philosophy, (1971) menjelaskan
bahwa: epistemology is the branch of philosophy which investigates the origin, structure,
methods, and validity of knowledge. (Runes, 1971: 94) Dengan demikian, epistemologi
merupakan salah satu cabang filsafat yang mengkaji secara mendalam dan radikal tentang
asal mula pengetahuan, struktur, metode, dan validitas pengetahuan.
Epistemologi ini pada umumnya disebut filsafat pengetahuan. Dalam bahasa Inggris
dipergunakan istilah theory of knowledge. Istilah epistemologi untuk pertama kalinya
muncul dan digunakan oleh JF Ferrier pada tahun 1854 Dalam pengertian terminologis
ini, Miska Muhammad Amin, mengatakan bahwa epistemologi terkait dengan masalah-
masalah yang meliputi: a) filsafat, yaitu sebagai cabang filsafat yang berusaha mencari
hakekat dan kebenaran pengetahuan, b) metoda, sebagai metoda, bertujuan mengantar
manusia untuk memperoleh pengetahuan, dan c) sistem, sebagai suatu sistem bertujuan
memperoleh realitas kebenaran pengetahuan itu sendiri.
Perspektif Barat Dalam tradisi keilmuan Barat setidaknya ada 3 aliran besar filsafat ilmu,
yaitu, empirisme, rasionalisme dan positivisme. Di era modern empirisme dikembangkan
pada zaman Renaisans dengan tokoh utamanya Francis Bacon (1561-1626). Filsafat
Bacon ini mempunyai peran penting dalam metode induksi dan sistematisasi prosedur
ilmiah, bersifat praktis dan empiris. Aliran ini memberi kekuasaan pada manusia atas
alam melalui penyelidikan ilmiah secara empiris. Rasionalisme Aliran ini menyatakan
bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan
diukur dengan akal. Manusia menurut aliran ini yakni memperoleh pengetahuan melalui
kegiatan akal menangkap objek. Bagi aliran ini kekeliruan pada aliran empirisme, adalah
kelemahan alat indera yang terbatas. Kelemahan itu dapat dikoreksi seandainya akal
digunakan. Rasionalisme tidak mengingkari kegunaan indera dalam memperoleh
pengetahuan, pengalaman indera diperlukan untuk merangsang akal dan memberikan
bahan-bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja. Akan tetapi untuk sampainya
manusia kepada kebenaran diperlukan akal Laporan indera menurut rasionalisme
merupakan bahan yang belum jelas, belum sistimatis atau masih chaos. Bahan
pengalaman inderawi harus dipertimbangkan oleh akal. Akal mengatur dan
mensistimatoisasi pengalaman itu secara logis sehingga terbentuklah pengetahuan.
Metode-positivisme Metode ini dikemukankan oleh August Comte (1798-1857).
Metode ini berpangkal dari gejala yang faktual, yang positif. Ia mengenyampingkan
berbagai persoalan di luar fakta. Karena itu Ia menolak metafisika dan agama. Apa yang
diketahui secara positif adalah segala yang tampak dan segala gejala. Dalam bidang
filsafat ilmu pengetahuan, positivisme terbatas pada gejala-gejala empiris saja
Epistemologi Islam Epistemologi di dalam Islam memiliki beberapa macam antara lain:
(a) perenungan (contemplation) tentang sunnatullah sebagaimana dianjurkan didalam al-
Qur’an, (b) penginderaan ( sensation), (c) tafaqquh (perception, concept), (d) penalaran
(reasoning). Epistemologi di dalam Islam tidak berpusat kepada manusia yang
menganggap manusia sendiri sebagai makhluk mandiri dan menentukan segala-galanya,
melainkan berpusat kepada Allah, sehingga berhasil atau tidaknya tergantung setiap usaha
manusia, kepada iradat Allah. Epistemologi Islam mengambil titik tolak Islam sebagai
subjek untuk membicarakan filsafat pengetahuan, maka di satu pihak epistemologi Islam
berpusat pada Allah, dalam arti Allah sebagai sumber pengetahuan dan sumber segala
kebenaran. Di lain pihak, epistemologi Islam berpusat pula pada manusia, dalam arti
manusia sebagai pelaku pencari pengetahuan (kebenaran). Di sini manusia berfungsi
subyek yang mencari kebenaran. Manusia sebagai khalifah Allah berikhtiar untuk
memperoleh pengetahuan sekaligus memberi interpretasinya. Dalam Islam, manusia
memiliki pengetahuan, dan mencari pengetahuan itu sendiri sebagai suatu kemuliaan.
Ada beberapa perbedaan antara Filsafat Pengetahuan Islam (Epistemologi Islam) dengan
epistemologi pada umumnya. Pada garis besarnya, perbedaan itu terletak pada masalah
yang bersangkutan dengan sumber pengetahuan dalam Islam, yakni wahyu dan ilham.
Sedangkan masalah kebenaran epistemologi pada umumnya menganggap kebenaran
hanya berpusat pada manusia sebagai makhluk mandiri yang menentukan kebenaran.
Epistemologi Islam membicarakan pandangan para pemikir Islam tentang pengetahuan,
dimana manusia tidak lain hanya sebagai khalifah Allah, sebagai makhluk pencari
kebenaran. Manusia tergantung kepada Allah sebagai pemberi kebenaran Menurut
pandangan Syed Nawab Haider Naqvi, ada empat aksioma etika yang mempengaruhi
ilmu ekonomi Islam, yaitu tawhid, keadilan, kebebasan dan tanggung jawab. Pengaruh
asumsi dan pandangan yang dipakai dalam penelitian ekonomi Islam harus terbukti
faktual, berbagai dimensi manusia adalah kenyataan faktual.
Metodologi ekonomi Islam mengungkap permasalahan manusia dari sisi manusia yang
multi dimensional tersebut. Keadaan ini digunakan untuk menjaga obyektivitas dalam
mengungkapkan kebenaran dalam suatu femomena. Sikap ini melahirkan sikap dinamis
dan progressif untuk menemukan kebenaran hakiki. Kebenaran hakiki adalah ujung dari
kebenaran. Sumber ilmu ekonomi Islam Menurut M Akram Khan, sumber pembentukan
ilmu ekonomi Islam adalah: 1. Al-Qur’an 2. As-Sunnah 3. Hukum Islam dan
yurisprudensinya (Ijtihad) 4. Sejarah peradaban umat Islam 5. Berbagai data yang
berkaitan dengan kehidupan ekonomi Sementara itu Masudul Alam Chowdhury,
merumuskan metodologi Islamic Economic dengan istilah shuratic process. Penggunaan
istilah shuratic berasal dari dari kata syura/musyawarah, untuk menunjukkan bahwa
proses ini bersifat konsultatif dan dinamis. Metodologi ini merupakan upaya untuk
menghasilkan ilmu pengetahuan yang bersifat transenden, sekaligus didukung oleh
kebenaran empiris dan rasional yang merupakan tolak ukur utama kebenaran ilmiah saat
ini. Sementara seorang muslim meyakini bahwa kebenaran utama dan mutlak berasal dari
Allah, sedangkan kebenaran dari manusia bersifat tidak sempurna. Akan tetapi manusia
dikaruniai akal dan berbagai fakta empiris di sekitarnya sebagai wahana untuk
memahami kebenaran dari Allah. Perpaduan kebenaran wahyu dan kebenaran ilmiah
akan menghasilkan suatu kebenaran yang memiliki tingkat keyakinan yang tinggi.
Menurut Chouwdhury sumber utama dan permulaan dari segala ilmu pengatahuan
(primordial stock of knowledge) adalah al-Qur’an, sebab ia merupakan kalam Allah.
Pengetahuan yang ada dalam al-Qur’an memiliki kebenaran mutlak (absolute), telah
mencakup segala kehidupan secara komprehensif (complete) dan karenanya tidak dapat
dikurangi dan ditambah (irreducible). Akan tetapi, al-Qur’an pada dasarnya tidak
mengetahui pengetahuan yang praktis, tetapi lebih pada prinsip-prinsip umum. Ayat-ayat
al-Qur’an diimplementasikan dalam perilaku nyata oleh Rasulullah, karena itu as-Sunnah
juga adalah sumber ilmu pengetahuan berikutnya. Al-Qur’an dan Sunnah kemudian dapat
dielaborasi dalam hukum-hukum dengan menggunakan metode epistemological
deduction, yaitu menarik prinsip-prinsip umum yang terdapat dalam kedua sumber
tersebut untuk diterapkan dalam realitas individu. Selanjutnya dalam epistemologi
Ekonomi Islam diperlukan ijtihad dengan menggunakan rasio/akal. Ijtihad terbagi kepada
dua macam, yaitu ijtihad istimbathi dan ijtihad tathbiqi. Ijtihad istimbathi bersifat
deduksi, sedangkan ijtihad tathbiqi bersifat induksi. Dari segi kuantitas orang yang
berijtihad, ijtihad dibagi kepada dua, yaitu ijtihad fardi (individu) dan ijtihad jama’iy
(kumpulan orang banyak). Ijtihad yang dilakukan secara bersama disebut ijma’ dan
dianggap memiliki tingkat kebenaran ijtihad yang paling tinggi. Dalam membicarakan
epistemologi ekonomi Islam, digunakan metode desuksi dan induksi. Ijtihad tahbiqi yang
banyak mengunakan induksi akan menghasilkan kesimpulan yang lebih operasional,
sebab ia didasarkan pada kenyataan empiris. Selanjutnya, dari keseluruhan proses ini –
yaitu kombinasi dari elaborasi kebenaran wahyu Allah dan as- Sunnah dengan pemikiran
dan penemuan manusia yang dihasilkan dalam ijtihad akan menghasilkan hukum dalam
berbagai bidang kehidupan. Jika diperhatikan, maka sesungguhnya Shuratic proses ini
merupakan suatu metode untuk menghasilkan ilmu pengetahuan yang memiliki akar
kebenaran empiris (truth based on empirical process).
DIPOSTING OLEH Agustianto | March 11, 2008