Anda di halaman 1dari 85

SEMINAR KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. F


DENGAN CA SERVIK
DI IRNA KEBIDANAN ANAK RSUP DR. M. DJAMIL PADANG

Oleh :

Kelompok M’19 (II)

Rika Syubri Dewi, S.Kep


Meina Mustika Sari, S. Kep
Yolanda Septina Fajri, S.Kep
Yolly Risna Vonika, S. Kep
Silvia Audia Putri, S. Kep

PRAKTEK PROFESI NERS

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS ANDALAS

2019
2
1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kanker merupakan suatu pertumbuhan sel abnormal yang dapat

menyerang organ-organ tubuh. Penyakit kanker rmerupakan kasus terbanyak

kedua yang dapat menyebabkan kematian secara global, yakni 8,8 juta

kematian pada tahun 2015 (WHO, 2017). Menurut WHO, kanker merupakan

salah satu dari empat jenis Penyakit Tidak Menular (PTM) utama. Selain

kanker terdapat penyakit kardiovaskular (penyakit jantung koroner dan

stroke), penyakit pernapasan kronis (asma dan penyakit paru obstruksi

kronis), dan diabetes (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2013).

Pada tahun 2016 di Amerika ditemukan kasus baru kanker sebanyak

1.685.210 kasus dan 595.690 orang meninggal karena kanker atau sekitar

1.630 orang per hari (American Cancer Society,2016). Berdasarkan laporan

dari Institute català d’oncologia (ICO) human papilloma virus (HPV)

information centre (2017) menyatakan bahwa kanker serviks merupakan

kanker ke empat paling umum terjadi pada wanita di seluruh dunia. Kanker

serviks adalah kanker yang disebabkan oleh infeksi human papillomavirus

(HPV) yang merupakan suatu penyakit infeksi menular seksual paling umum

di seluruh dunia, dan merupakan penyebab hampir semua kasus kanker

serviks (World Health Organization [WHO],2017).

Setiap tahun ditemukan kasus baru wanita dengan kanker serviks

sebanyak 527.624 dan setiap tahunnya juga 265.672 wanita didunia

meninggal akibat kanker serviks. Sebanyak 84% dari total kasus baru yang
2

ditemukan didunia terjadi dinegara berkembang (ICO HPV information

centre,2017).

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang di dunia dan kanker

serviks menempati urutan kedua sebagai kanker paling umum yang terjadi

pada wanita di Indonesia. Berdasarkan laporan dari ICO HPV information

centre (2017) menyatakan bahwa estimasi kanker serviks di Indonesia setiap

tahunnya sebanyak 20.928 wanita dan 9.498 meninggal karena penyakit ini.

Berdasarkan laporan yang diperoleh dari Badan Penyelenggara Jaminan

Kesehatan [BPJS] menyatakan bahwa di Indonesia pada tahun 2016 jumlah

kasus kanker serviks sebesar 19.758 kasus.

Prevalensi kanker serviks di Sumatera Barat berada pada posisi ke 8

dari 34 Provinsi di Indonesia yakni sebesar 0,9% atau sekitar 2.285 orang

sudah dideteksi kankers serviks (Data dan Informasi Kementerian Kesehatan

[Infodatin Kemenkes],2015). Provinsi Sumatera Barat mempunyai target pada

tahun 2016 sebanyak 144.453 wanita diwilayah Provinsi Sumatera Barat

harus melakukan pemeriksaan deteksi dini kanker serviks. Namun setelah

dievaluasi,hanya 35.273 orang (24.42%) wanita yang melakukan deteksi dini

kanker serviks, dimana 649 orang (1,84%)diantaranya dinyatakan positif

(Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat [Dinkes Sumbar],2016)

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Sumatera Barat (Riskesdas

Sumbar) (2013) Kota Padang berada di urutan ke lima dengan prevalensi

kanker tertinggi yakni sebesar 2,5 per 1.000 penduduk, hal ini menunjukkan

masih tingginya angka kanker di Kota Padang. Berdasarkan profil kesehatan


3

Sumatera Barat (2014) memaparkan bahwa hasil pemeriksaan deteksi dini

kanker serviks positif tertinggi adalah Kota Padang dengan 50 kasus.

Menurut data yang diperoleh dari Ruangan rawat inap Ginekologi

Onkologi Irna Kebidanan RSUP Dr. M.Djamil Padang pada tahun 2018,

kanker serviks berjumlah 288 kasus. Selama kelompok melakukan asuhan

keperawatan terdapat 25 orang pasien dengan kanker ovarium dari 36 jumlah

pasien. Berdasarkan data diatas maka kelompok tertarik untuk mengambil

judul Asuhan Keperawatan pada Ny. F dengan diagnosa kanker Serviks di

Ruang Onkologi Kebidanan RSUP. Dr. M.Djamil Padang”.

B. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan pada pasien kanker

serviks stadium lanjut di ruangan Ginekologi Onkologi Irna Kebidanan

RSUP Dr.M.Djamil Padang

C. Tujuan khusus
a. Melakukan pengkajian pada Ny.F dengan Kanker Setviks Ginekologi

Onkologi Irna kebidanan RSUP Dr.M.Djamil Padang

b. Menegakkan diagnosa keperawatan pada Ny.F dengan Kanker Serviks

diruang Ginekologi Onkologi Irna kebidanan RSUP Dr.M.Djamil

Padang.

c. Membuat perencanaan keperawatan pada Ny.F dengan Kanker Ovarium

berdasarkan diruang Ginekologi Onkologi Irna kebidanan RSUP

Dr.M.Djamil Padang.
4

d. Melaksanakan implementasi keperawatan pada Ny.F dengan Kanker

Serviks diruang Ginekologi Onkologi kebidanan RSUP Dr.M.Djamil

Padang.

e. Melakukan evaluasi dan dokumentasi asuhan keperawatan pada

Ny.Edengan Kanker Serviks diruang Ginekologi Onkologi kebidanan

RSUP Dr.M.Djamil Padang.


BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Konsep Kanker Serviks
1. Definisi Kanker Serviks

Kanker rahim adalah penyakit kanker yang menyerang rahim dengan pembelahan
sel yang tidak terkendali dan kemampuan sel-sel tersebut untuk menyerang jaringan yang
bersebelahan (invasi) atau dengan migrasi sel ketempat yang jauh (metastasis) (Wuto,
2008 dalam Padila, 2012).
Kanker leher rahim sering juga disebut kanker mulut rahim, merupakan salah satu
penyakit kanker yang paling banyak terjadi pada wanita (Edianto, 2006 dalam Padila,
2012).
Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim
sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak
jaringan normal disekitarnya (FKUI, 1990; FKKP, 1997 dalam Padila, 2012).

2. Anatomi Dan Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita


Menurut Langhorne, Fulton, dan Otto (2011), serviks atau leher rahim adalah
sepertiga lebih rendah dari rahim atau uterus. Tubular serviks memanjang hingga ke
bawah ke bagian atas vagina. Serviks mengelilingi pembukaan disebut lubang serviks,
rahim berbentuk silinder jaringan yang menghubungkan vaginadan uterus. Serviks terbuat
dari tulang rawan yang ditutupi oleh jaringan halus, lembap, dan tebalnya sekitar 1 inci.
Ada dua bagian utama dari serviks, yaitu ektoserviks dan endiserviks.
Bagaian serviks yang dapat dilihat dari luar selama pemeriksaan ginekologi di kenal
sebagai ektoserviks. Pembuka dipusat ektoserviks, dikenal sebagai os eksternal, membuka
untuk memisahkan bagian antara uterys dan vagina. Endoserviks atau kanal endoserviks,
adala sebuah terowongan melalui serviks, dari os eksternal ke dalam uterus.
Selama masa praremaja, endoserviks terletak dibagian serviks (Langhorne, Fulton,
dan Otto, 2011). Pembatasan tumpang tindih antara endosrviks dan ektoserviks di sebut
zona transformasi. Serviks menghasilkan lendir serviks yang konsistensi atau
kekentalannya berubah selama siklus menstruasi untuk mencgah atau mempromosikan
kehamilan.
Zona transformasi dari waktu ke waktu menjadi lebuh rapuh, sel-sel epitel kolumnar
digantikan dengan sel-sel epitel skuamosa. Daerah ini sangat rentan terhadap perubahan
prakanker (displasia) karena tingkat turnover yang tinggi dan tingkat pematangan sel
rendah (Rahayu, 2015).
3. Klasifikasi Kanker Serviks
Mikroskopis
1. Displasia
Displasia ringan terjadi pada sepertiga bagian basal epidermis. Displasia berat terjadi
pada dua pertiga epidermi hampir tidak dapat dibedakan dengan karsinoma insitu.
2. Stadium Karsinoma Insitu
Pada karsinoma insitu perubahan sel epitel terjadi pada seluruh lapisan epidermis
menjadi karsinoma sel skuamosa. Karsinoma insitu yang tumbuh di daerah
ektoserviks, peralihan sel skuamosa kolumnar dan sel cadangan endoserviks.
3. Stadium Karsinoma Mikroinvasif
Pada karsinoma mikroinvasif, disamping perubahan derajat pertumbuhan sel
meningkat juga sel tumor menembus membrana basalis dan invasi pada stoma
sejauh tidak lebih 5mm dari membrana basalis, biasanya tumor ini asimtomatik dan
hanya ditemukan pada skrining kanker.
4. Stadium Karsinoma Invasif
Pada karsinoma invasif perubahan derajat pertumbuhan sel menonjol besar dan
bentuk sel bervariasi. Pertumbuhan invasif muncul diarea bibir posterior atau
anterior serviks dan meluas ketiga jurusan yaitu jurusan formiks posterior atau
anterior, jurusan parametrium dan korpus uteri.
5. Bentuk Kelainan Dalam Pertumbuhan Karsinoma Serviks
Pertumbuhan eksofilik, berbentuk bunga kool, tunbuh kearah vagina dan dapat
mengisi setengah dari vagina tanpa infiltrasi kedalam vagina, bentuk pertumbuhan
ini mudah nekrosis dan perdarahan.
Pertumbuhan endofilik, biasanya dijumpai pada endoserviks yang lambat laun lesi
berubah bentuk menjadi ulkus (Padila, 2012).

Makroskopik
1. Stadium preklinis
Tidak dapat dibedakan dengan servitis kronik biasa
2. Stadium permulaan
Sering tampak sebagian lesi sekitar osteum externum
3. Stadium setengah lanjut
Tengah mengalami sebagian besar atau seluruh bibir porsio
4. Stadium lanjut
Terjadi pengrusakan dari jaringan serviks, sehingga tampaknya seperti ulkus dengan
jaringan yang rapuh dan mudah berdarah (Padila, 2012).
Klasifikasi Ca Serviks berdasarkan Tingkat Keparahannya
1. Stage 0: Ca. Pre invasive
2. Stage 1: Ca. Terdapat pada serviks
3. Stage Ia: disertai inbasi dari stroma yang hanya diketahui secara hispatologi
4. Stage Ib: semua kasus lainnya dari stage I
5. Stage II: sudah menjalar keluar serviks tapi belum sampai kepanggul telah
mengenai dinding vagina. Tapi tidak melebihi dua pertiga bagian proksimal
6. Stage III: sudah sampai dinding panggula dan sepertiga bagian bawah vagina
7. Stage IIIb : sudah mengenai organ-organ lain (Padila, 2012).
4. Etiologi Kanker Serviks
Penyebab kanker serviks belum jelas diketahui namun ada beberapa faktor resiko dan
predisposisi yang menonjol, antara lain :
1. Umur pertama kali melakukan hubungan seksual
Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan seksusal
semakin besar, mendapat kanker serviks. Kawin pada usia 20 tahun dianggap masih
terlalu muda.
2. Jumlah Kehamilan dan Partus
Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus. Semakin sering
partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks.
3. Jumlah Perkawinan
Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan bergant-ganti pasangan
mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kankers serviks ini.
4. Infeksi Virus
Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma (HPV) atau virus
kondiloma akuminata diduga sebagai faktor penyebab kanker serviks.
5. Soal Ekonomi
Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah mungkin
faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas dan kebersihan
perseorangan. Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas
makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh.
6. Hygiene dan Sirkumsisi
Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kanker serviks pada wanita yang
pasangannya belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene penis
tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma.
7. Merokok dan AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim)
Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker, sedangkan pemakaian AKDR
akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi serviks yang
kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus menerus, hal ini dapat
sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks (Padila, 2012).
8. Radioterapi dan Pap Smear
Karsinoma sel skuamosa adalah salah satu akibat tidak efektifnya radioterapi sebagai
pengobatan utama dalam kasus adenocarcinoma. Meningkatnya penggunaan tes Pap
untuk deteksi dini penyakit ini tapi masih merupakan salah satu penyebab utama
morbiditas kanker terkait di negara-negara berkembang karena kurangnya program
skrining (Rubina Mukhtar, 2015).
5. Manifestasi Klinis Kanker Serviks
a. Perdarahan
Sifatnya dapat intermenstruit atau perdarahan kontak, kadang-kadang perdarahan baru
terjadi pada stadium selanjutnya. Pada jenis intraservikal perdarahan terjadi lambat.
b. Biasanya menyerupai air, kadang-kadang timbulnya sebelum ada perdarahan. Pada
stadium lanjut perdarahandan keputihan lebih banyakdisertai infeksi sehingga cairan
yang keluar berbau (Padila, 2012).
Tanda dan Gejala kanker servik menurut Dedeh Sri Rahayu tahun 2015:
a. Keputihan, makin lama makin berbau busuk dan tidak sembuh-sembuh. Terkadang
bercampur darah.
b. Perdarahan kontak setelah senggama merupakan gejala servik 70-85%.
c. Perdarahan spontan: perdarahan yang timbul akibat terbukanya pembuluh darah dan
semakin lam semakin sering terjadi.
d. Perdarahan pada wanita menopause
e. Anemia
f. Gagal ginjal sebagai efek dari infiltrasi sel tumor ke ureter yang menyebabkan
obstruksi total
g. Nyeri
1) Rasa nyeri saat berhubungan seksual, kesulitan atau nyeri dalam berkemih, nyeri
di daerah di sekitar panggul.
2) Bila kanker sudah mencapai stadium III ke atas, maka akan terjadi pembengkakan
di berbagai anggota tubuh seperti betis, paha, dan sebagainya.
Menurut Ricci (2009), tersangka kanker serviks stadium lanjut antara lain
a. Nyeri panggul,
b. Nyeri pinggul,
c. Nyeri kaki,
d. Penurunan berat badan,
e. Anoreksia,
f. Kelemahan dan kelelahan,
(Dedeh Sri Rahayu,2015)
Menurut Rubina Mukhtar tahun 2015 menyatakan bahwa tanda dan gejala Ca. Serviks
adalah perdarahan vagina abnormal seperti pendarahan pasca menopause, menstruasi
tidak teratur, menstruasi berat, metrorhagia menyakitkan, atau perdarahan postcoital.
Keputihan abnormal adalah keluhan utama dari sekitar 10% dari pasien; debit mungkin
berair, bernanah, atau berlendir. Gejala panggul atau nyeri perut dan saluran kencing atau
rektum terjadi dalam kasus-kasus lanjutan. Nyeri panggul mungkin hasil dari loco
penyakit regional invasif atau dari penyakit radang panggul hidup berdampingan.
6. Patofisiologi Kanker Serviks
Bentuk ringan (displasia ringan dan sedang) mempunyai angka regresi yang
tinggi. Waktu yang diperlukan dari displasia menjadi karsinoma insitu (KIS) berkisar
antara 1 – 7 tahun, sedangkan waktu yang diperlukan dari karsinoma insitu menjadi
invasif adalah 3 – 20 tahun.
Proses perkembangan kanker serviks berlangsung lambat, diawali adanya
perubahan displasia yang perlahan-lahan menjadi progresif. Displasia ini dapat muncul
bila ada aktivitas regenerasi epitel yang meningkat misalnya akibat trauma mekanik atau
kimiawi, infeksi virus atau bakteri dan gangguan keseimbangan hormon. Dalam jangka
waktu 7 – 10 tahun perkembangan tersebut menjadi bentuk preinvasif berkembang
menjadi invasif pada stroma serviks dengan adanya proses keganasan. Perluasan lesi di
serviks dapat menimbulkan luka, pertumbuhan yang eksofitik atau dapat berinfiltrasi ke
kanalis serviks. Lesi dapat meluas ke forniks, jaringan pada serviks, parametria dan
akhirnya dapat menginvasi ke rektum dan atau vesika urinaria. Virus DNA ini
menyerang epitel permukaan serviks pada sel basal zona transformasi, dibantu oleh
faktor risiko lain mengakibatkan perubahan gen pada molekul vital yang tidak dapat
diperbaiki, menetap, dan kehilangan sifat serta kontrol pertumbuhan sel normal sehingga
terjadi keganasan (Brunner & Sudart, 2010)
Kanker serviks biasa timbul di daerah yang disebut squamo - columnar junction
(SCJ), yaitu batas antara epitel yang melapisi ektoserviks (porsio) dan endoserviks
kanalis serviks, dimana secara histologik terjadi perubahan dari epitel ektoserviks yaitu
epitel skuamosa berlapis dengan epitel endoserviks yaitu epitel kuboid atau kolumnar
pendek selapis bersilia. Letak SCJ dipengaruhi oleh faktor usia, aktivitas seksual dan
paritas. Pada wanita muda SCJ berada di luar ostium uteri eksternum, sedangkan pada
wanita berusia di atas 35 tahun SCJ berada di dalam kanalis serviks, Oleh karena itu pada
wanita muda, SCJ yang berada di luar ostium uteri eksternum ini rentan terhadap faktor
luar berupa mutagen yang akan displasia dari SCJ tersebut. Pada wanita dengan aktivitas
seksual tinggi, SCJ terletak di ostium eksternum karena trauma atau retraksi otot oleh
prostaglandin.
Pada masa kehidupan wanita terjadi perubahan fisiologis pada epitel serviks,
epitel kolumnar akan digantikan oleh epitel skuamosa yang diduga berasal dari cadangan
epitel kolumnar. Proses pergantian epitel kolumnar menjadi epitel skuamosa disebut
proses metaplasia dan terjadi akibat pengaruh pH vagina yang rendah. Aktivitas
metaplasia yang tinggi sering dijumpai pada masa pubertas. Akibat proses metaplasia ini
maka secara morfogenetik terdapat 2 SCJ, yaitu SCJ asli dan SCJ baru yang menjadi
tempat pertemuan antara epitel skuamosa baru dengan epitel kolumnar. Daerah di antara
kedua SCJ ini disebut daerah transformasi.
Penelitian akhir-akhir ini lebih memfokuskan virus sebagai salah satu factor
penyebab yang penting, terutama virus DNA. Pada proses karsinogenesis asam nukleat
virus tersebut dapat bersatu ke dalam gen dan DNA sel tuan rumah sehingga
menyebabkan terjadinya mutasi sel, sel yang mengalami mutasi tersebut dapat
berkembang menjadi sel displastik sehingga terjadi kelainan epitel yang disebut
displasia. Dimulai dari displasia ringan, displasia sedang, displasia berat dan karsinoma
in-situ dan kemudian berkembang menjadi karsinoma invasif. Tingkat displasia dan
karsinoma in-situ dikenal juga sebagai tingkat pra-kanker. (Sjamsuhidajat,1997 dalam
Prawirohardjo,2010).
Penggunaan
Free Sex Merokok Defisit
Alat
PATHWAY Kontrasepsi perawatan diri
Cedera serviks saat Kekebalan (vulva higiene)
pemasangan tubuh
menurun

Invasi
HPV
Hubungan seksual
Jumlah kelahiran
(< 20 tahun). Infeksi HPV
dan partus

Pertumbuhan sel
Efek anastesi abnormal di labia
Proses Metaplasy
mayora dan
Anastesi Lemah Mitosis sel eksoserviks dan endoserviks minora

Intoleransi Aktivitas Mual,


Histerektomi total Metaplasia
muntah,
skuamosa
Non Kemotera anoreksi
Tindakan pembedahan Ca. Cerviks
Pembedahan pi
Histerektomi Radikal Penurunan BB
Vaskularisasi Menembus sel Merusak struktur
Luka perdarahan jaringan epitel jaringan serviks Risiko
terganggu Struma serviks ketidakseimbangan
Jaringan terbuka Peradangan endoserviks Menginvasi organ nutrisi kurang dari
dan eksoserviks lain kebutuhan tubuh
Risiko Infeksi Nekrosis jaringan Meluas ke
jaringan, Rektum Fistula Uretra Vagina
Keputihan dan bau pembukuh limfe
dan vena Fistula Fistula Fistula
busuk
Rektum rekto vagina
vagina
Dinding
Gangguan konsep Infiltrasi
pembuluh Infiltrasi ke
diri: HDR ke syaraf
terdesak Perdarahan uretra
rektum
Perdarahan spontan Nyeri Gangguan
Akut Eliminasi
Gangguan Perfusi Anemia Trombositopenia Urin
Jaringan
7. Pemeriksaan Penunjang
1. Sitologi/Pap Smear
Keuntungan, murah dapat memeriksa bagian-bagian yang tidakterlihat.
Kelemahan, tidak dapat menentukan dengan tepat lokasinya.
2. Schillentest
Epitel karsinoma serviks tidak mengandung glycogen karena dapat
mengikal yodium. Jika porsio diberi yodium maka epitel karsinoma yang
normal akan berwarna coklat tua, sedang yang terkena karsinoma tidak
berwarna.
3. Koloskopi
Memeriksa dengan menggunakan alat untuk melihat serviks dengan lampu
dan dibesarkan 10-40 kali.
Keuntungan, dapat melihat jelas daerah yang bersangkutan sehingga
mudah untuk melakukan biopsy.
Kelemahan, hanya dapat memeriksa daerah yang terlihat saja yaitu porsio,
sedang kelainan pada skuamosa columnar junction dan intraservikal tidak
terlihat.
1. Kolpomikroskopi
melihat hapusan vagina (Pap Smeardengan pembesaran sampai 200 kali.
2. Biopsi
Biopsy dapat ditemukan atau ditentukan jenis karsinomanya.
3. Konisasi
Dengan cara mengangkat jaringan yang berisi selaput lender serviks dan
epitel gepeng dan kelenjarnya. Konisasi dilakukan bila hasil sitologi
meragukan dan pada serviks tidak tampak kelainan-kelainan yang jelas
(Padila, 2012).
8. Penatalaksanaan Kanker Serviks
a. Irradiasi
1. Dapat dipakai untuk semua stadium
2. Dapat dipakai untuk wanita gemuk tua dan pada medical risk
3. Tidak menyebabkan kematian seperti operasi
b. Dosis
Penyiaran ditunjukkan pada jaringan karsinoma yang terletak diserviks
c. Komplikasi irradiasi
1. Kerentanan kandungan kencing
2. Diarrhea
3. Perdarahan rectal
4. Fistula vesico atau rectovaginasis
d. Operasi
1. Operasi wentheim dan limfaktomi untuk stadium I dan II
2. Operasi schauta, histerektomi vagina yang radikal
e. Kombinasi Irradiasi dan pembedahan
Tidak dilakukan sebagai hal yang rutin, sebab radiasi menyebabkan
bertambahnya vaskularisasi, odema. Sehingga tindakan operasi berikutnya
dapat mengalami kesukaran dansering menyebabkan fistula, disamping itu
juga menambah penyebaran kesistem limfe dan peredaran darah.
f. Cytostatik
Bleomycin, terapi terhadap karsinoma serviks yang radio resisten. 5% dari
karsinoma serviks adalah resisten terhadap radioterapi, dianggap resisten
bila 8-10 minggu post terapi keadaan masih tetap sama (Padila, 2012).
g. Vaksinasi
Vaksinasi HPV dapat memiliki implikasi penting bagi peningkatan
kesehatan perempuan dan menurunkan kematian akibat kanker serviks
(Rubina Mukhtar, 2015).
9. Komplikasi Kanker Serviks
Komplikasinya mencakup infark miokardium, hemoragi, sepsis,
obstruksi perkemihan, pielonefritis, CVA, pembentukan fistula (Sylvia
Anderson Price, 2005).
Nyeri pinggang mungkin merupakan gejala dari hidronefrosis, sering
dipersulit oleh pielonefritis. Nyeri siatik, kaki edema, dan hidronefrosis
hampir selalu dikaitkan dengan keterlibatan dinding panggul luas oleh
tumor. Pasien dengan tumor yang sangat canggih mungkin memiliki
heamaturia atau inkontinensia dari fistula vesikovaginal yang disebabkan
oleh perluasan langsung dari tumor kandung kemih. Kompresi eksternal dari
rektum oleh tumor primer besar dapat menyebabkan sembelit (Rubina
Mukhtar, 2015).

C. Asuhan Keperawatam Pada Klien dengan Kanker Serviks


1. Pengkajian
a. Identitas Klien
Meliputi : nama, umur, pekerjaan, pendidikan, alamat dan medikal record.

b. Keluhan Utama
Keluhan utama yang biasanya dirasakan pasien yaitu merasa nyeri pada
daerah perut perut dan terasa ada massa didaerah abdomen, perdarahan
yang tidak berhenti dan keputihan.
c. Riwayat Kesehatan Klien
1) Riwayat Penyakit Sekarang (RKS)
Keluhan yang dirasakan biasanya adalah nyeri pada daerah abdonmen
bawah, ada pembengkakan pada daerah perut, gangguan miksi dan
penurunan berat badan, perdarahan pasca coitus dan terdapat keputihan
yang berbau tetapi tidak gatal.
2) Riwayat Penyakit Dahulu
Perlu ditanyakan pada pasien dan keluarga, apakah pasien pernah
mengalami hal yang demikian dan perlu ditanyakan juga apakah
pasien pernah menderita penyakit infeksi.
3) Riwayat Keluarga
Apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit seperti ini atau
penyakit menular lain.
4) Riwayat menstruasi
Kapan pertama klien menstruasi (menarche), bagaimana siklusnya,
ada atau tidak nyeri haid (dsiminore), siklus menstruasi, jumlah,
warna, dan bau.
5) Riwayat perkawinan : Berapa kali menikah, dan usia perikahan
6) Riwayat Keluarga Berencana : Apa alat kontrasepsi yang pernah
digunakan.

d. Nutrisi
Pada klien dengan kanker serviks biasanya terjadi penurunan nafsu makan
(anoreksia) sehingga terjadi penurunan berat badan signifikan, penurunan
lemak subkutan, penurunan masa otot, karena intake yang tidak adekuat.
Dari pemeriksaan konjungtiva klien tampak anemis, Hb turun, klien dapat
mengalami anemia
e. Eliminasi
Pada klien dengan kanker ovarium dapat terjadi perubahan defekasi.
Perubahan eliminasi urin misalnya nyeri pada saat berkemih, hematuria.
f. Istirahat dan Tidur
Terdapat perubahan istirahat dan tidur seperti jam kebiasaaan tidur.
Faktor- Faktor yang mempengaruhi tidur misalnya ansietas, nyeri setelah
operasi, keterbatasan, partisipasi dalam hobi dan latihan.

g. Aktivitas dan Latihan


Adanya kelelahan atau keletihan yang disebabkan karena intake makanan
yang kurang akibat penurunan nafsu makan sehingga klien tidak dapay
melakukan aktifitas sehari-hari secara maksimal.
h. Pola Bekerja
Kaji apa pekerjaan klien, berapa jam sehari bekerja dan ada tidaknya
perubahan selama sakit, biasanya klien akan lebih mudah lelah.
i. Genogram
Untuk melihat apakah ada anggota keluarga yang memiliki riwayat
penyakit kanker.
j. Riwayat. Lingkungan
Ada atau tidaknya terpapar radioaktif, atau zat karsinogen.

k. Psikososial
Dalam pemeliharaan kesehatan dikaji tentang pemeliharaan gizi di rumah
dan bagaimana pengetahuan keluarga tentang penyakit kanker serviks.
1) Persepsi diri
Adanya perubahan pada fungsi dan struktur akan menyebabkan
penderita mengalami penderita mengalami gangguan pola
gambaran diri, rasa terisolasi , harga diri rendah, dan mekanisme
koping yang destruktif, kurang percaya diri, perasaan tidak berdaya
dan putus asa, disertai dengan emosi labil dan kesulit an untuk
mengungkapkanna. Selain itu adanya kecemasan terhadap
penyakit yang dideritanya, ekspresi wajah meringis.
2) Pertahanan koping
Lamanya perawatan, perjalan poenyakit, perasaan tidak berdaya
dapat menyebabkan reaksi psikologis yang negatif berupa perasaan
marah, cemas, takut, tidak sabaran dan mudah tersinggung.
3) Sistem nilai dan kepercayaan
Mengkaji pola ibadah klien selama sakit dan keyakinan klien
terhadap agamanya.

L. Pemeriksaan Fisik
a. Pemeriksaan :vital sign ( tekanan darah, nadi, nafas dan suhu), keadaan
umum, BB,TB dan tingkat kesadaran.

1) Kepala
Meliputi warna rambut, kebersihan, apakah klien mengalami
kerontokan rambut, dan apakah ada benjolan pada kepala klien.
2) Wajah
Apakah ada oedema, Ekspresi wajah ibu menahan nyeri (meringis), Raut
wajah pucat.
3) Mata
Meliputi apakaha adaediva anemisema palpebra, konjungtiva anemis atau
tidak, apakah sklera ikterik atau tidak
4) Hidung
Apakah simetris, apakah ada sputum
5) Telinga
Apakah simetris, bersih, apakah ada serumen.
6) Mulut
Apakah Bibir kering, sianosis, mukosa bibir lembab atau tidak, apakah
terdapat lesi atau tidak
7) Leher
Apakah ada pembesaran kelenjer tiroid dan apakah ada pembesaran
kelenjer getah bening.
8) Dada
a) Inspeksi : simetris
b) Perkusi : sonor seluruh lap paru
c) Palpasi : vocal fremitus simetris kanan dan kiri
d) Auskultasi : vesikuler, perubahan tekanan darah
9) Cardiac
a) Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
b) Palpasi : ictus cordis teraba atau tidak, Perubahan denyut nadi
c) Perkusi : pekak
d) Auskultasi : tidak ada bising
10) Abdomen
a) Inspeksi : apakah simetris, apakah ascites, posisi tubuh menahan
rasa nyeri di daerah abdomen.
b) Palapasi :apakah ada nyeri tekan
c) Perkusi : tympani
d) Auskultasi : bising usus normal
11) Genetalia
Inspeksi
a. Ada lesi.
b. Keluarnya cairan encer dari vagina dan berbau busuk.
c. Pendarahan yang terjadi, volume darah yang keluar.
d. Urine bercampur darah (hematuria).
Palpasi
Pembengkakan di daerah uterus yang abnormal
12) Ekstremitas dan Kulit
Apakah ada oedema, Kelemahan pada pasien, Keringat dingin.
13) Pemeriksaan Diagnostik
Menurut Fadilah (2015), pemeriksaan diagnostik yang dilakukan pada
pasien kanker servik, antara lain :
a. Pemeriksaan laboratorium : Hb (biasanya selama operasi
pasien mengalami perdarahan sehingga Hb rendah),
Leukosit (dapat menunjukkan gejala bila adanya infeksi
pada luka post operasi), Trombosit.
b. Pemeriksaan diagnostik : USG, CT-Scan abdomen, CA 125.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1 Perubahan perfusi jaringan berhubungan perifer dengan anemia
trombositopenia.
2 Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual
dan muntah.
3 Nyeri akut berhubungan dengan pertumbuhan jaringan abnormal.
4 Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan port de entrée bakteri.
5 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan paska anastesi.
6 Harga diri rendah berhubungan dengan timbulnya keputihan dan bau.
7 Risiko syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan.
8 Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan fistula pada vagina.
Rencana Asuhan Keperawatan
No NANDA NOC (Kriteria Hasil) NIC
1. Perfusi jaringan a. Status sirkulasi 1. Perawatan sirkulasi
perifer tidak Indicator :  Kaji secara
efektif  Tekanan darah komprehensif
dalam batas normal sirkulasi perifer
 Kekuatan nadi  Evaluasi nadi
dalam batas normal perifer dan
 Tidak ada bunyi hipo edema
jantung abnormal  Inspeksi kulit
 Tidak ada angina dan adanya luka
 AGD dalam batas  Kaji tingkat
normal nyeri
 Tidak ada edema  Monitor status
perifer cairan klien
 Tidak ada acites  Jaga
b. Perfusi keadekuatan
jaringan perifer hidrasi
Indikator:  Monitor hasil
 Pengisian kapiler laboratorium
 Warna kulit normal 2. Manajemen cairan
 Kekuatan fungsi otot  Monitor status
 Kekuatan kulit cairan keluar
 Suhu kulit hangat dan masuk
 Tidak ada nyeri ekstremitas  Catat intake dan
output cairan
klien
 Monitor tanda-
tanda vital
 Monitor status
nitrisi klien
3. Administrasi
Produk darah
 Perintah verity
dokter
 Mendapatkan
informed
consent pasien
 Pastikan bahwa
prodek darah
sudah disiapkan
 Verity pasien
benar, golongan
darah, tipe Rh,
jumlah satuan,
tanggal
kadaluarsa, dan
merekanm per
agen protocol
 Anjurkan
pasien tentang
tanda-tanda
dan gejala dari
reaksi tranfusi
 Merakit sistem
administrasi
dengan filter
yang sesuai
untuk produk
darah dan
status kekebalan
penerima
 Sistem
administrasi
perdana dengan
saline isotonic
 Siapkan pompa
IV disetujui
untuk
pemberian
produk darah
 Hindari tranfusi
lebih dari satu
unit darah pada
satu waktu,
kecuali
diharuskan oleh
kondisi
penerima.
 Monitor TTV
 Pantau reaksi
tranfusi
 Pantau overload
cairan
 Memantau dan
mengatur laju
aliran selama
tranfusi
 Menahan diri
dari pemberian
obat IV atau
cairan, selain
saline isotonic,
kedalam darah
atau produk
darah baris
 Kerangka waktu
dokumen
tranfusi
 Stop tranfusi
jika occuls
reaksi darah dan
menjaga
pembuluh
darah terbuka
dengan saline
 Mendapatkan
sampel darah
dan pertama
dibatalkan
specimen urin
setelah reaksi
tranfusi
2. Ketidakseimban a. 1. Manajemen nutrisi
gan nutrisi Status Aktivitas :
kurang dari nutrisi  Tanyakan jika
kebutuhan Indicator : pasien memiliki
tubuh  Intake nutrisi alergi makanan
 Intake makan dan apapun
minuman  Tentukan,
 Energy bekerjasama
 Masa tubuh dengan diet
sebagai jumlah
 Berat badan
kalori yang
 Tindakan biokimia tepat, dan jenis
b. Status nutrisi : intake gizi yang
makanan dan cairan diperlukan
Indicator : untuk
 Asupan makanan memenuhi
melalui oral persyaratan gizi
 Asupan makanan  Dorong asupan
melalui selang kalori yang
 Asupan cairan tepat bagi
melaui oral c. Control tubuh, jenis dan
berat badan gaya hidup
Indicator :  Dorong
 Monitor berat badan peningkatan
 Menjaga asupan kalori asupan protein,
harian yang optimal zat besi dan
 Keseimbangan latihan vitamin C yang
dengan asupan kalori sesuai
 Berikan
 Mempertahankan pola
makanan
makan
 ringan, bubur
Mempertah dan hambar
ankan yang sesuai
keseimbang  Pastikan bahwa
an cairan diet termasuk
 Mengenali tanda-tanda makanan tinggi
dan gejala ketidak serat untuk
seimbangan elektrolit mencegah
 Mengidentifikasi sembelit
 Sediakan
keadaan emosi yang
pasien dengan
mempengaruhi asupan protein tinggi,
makanan kalori tinggi,
bergizi dari
makan dan
minuman yang
mudah
dikonsumsi
 Sediakan
makanan
pilihan
 Sesuaikan diet
untuk gaya
hidup pasien
yang sesuai
 Pantau rekaman
asupan gizi
konten dan
kalori
 Berikan
informasi
yang tepat
tentang
kebutuhan gizi
 Tentukan
kemampuan
pasien untuk
memenuhi
kebutuhan gizi
 Bantu pasien
menerima
bantuan dari
program gizi
masyarakat
yang sesuai
2. Monitor nutrisi
Aktivitas
 Pantau
kecenderungan
kehilangan
d a n kelebihan
berat badan
 Pantau
lingkungan
ketika makan
 Rencanakan
tindakan dan
prosedur pada
waktu lain
selain waktu
makan
 Pantau kulit
kering,
mengelupas
dengan
pigmentasi
 Pantau turgor
kulit secara
tepat
 Pantau
kekeringan,
rambut tipis
yang mudah
tercabut
 Pantau gusi
bengkak,
karang gigi,
kemunduran
dan
peningkatan
perdarahan
 Pantau mual
dan muntah
 Pantau hasil
laboratorium
 Pantau
pemilihan
makanan dan
aneka pilihan
 Pantau
pertumbuhan
dan
perkembangan
 Pantau level
energy,
kelemahan,
keletihan dan
kekurangan
 Pantau pucat,
kemerahan,
konjungtiva
 Pantau
kemerahan,
bengkak
pecahnya bibir
atau mulut
 Catat adanya
luka, edema,
dan papila
hiperemesis
dan hipertropis
pada lidah dan
kavitas oral
3.
Nyeri Kronik a. Tingkat Kenyamanan a. Manajemen Nyeri
(Comfort Level) (Paint
Definisi :
Management)
Indikator :
Pengalaman
Aktivitas :
sensori dan 1) Nyeri berkurang
emosional yang 2) Kecemasan berkurang 1) Lakukan
tidak 3) Stres berkurang pengkajian
menyenangkan 4) Ketakutan berkurang nyeri secara
akibat kerusakan komprehensif
jaringan aktual b. Kontrol Nyeri (Pain termasuk lokasi,
atau potensial atau Control)
karakteristik,
yang digambarkan Indikator : durasi,
sebagai kerusakan frekuensi,
(International 1) Mampu mengontrol kualitas dan
association for nyeri, (tahu penyebab
faktor
Studi of Pain); nyeri, mampu
presipitasi
awitan yang tiba- menggunakan teknik
2) Observasi
tiba lambat dengan nonfarmakologis untuk
reaksi
intensitas dari mengurangi nyeri,
nonverbal
ringan hingga mancari bantuan)
pasien dari
berat, dengan akhir 2) Melaporkan bahwa ketidaknyamana
yang dapat nyeri berkurang n
diantisipasi atau dengan menggunakan 3) Gunakan teknik
diprediksi dan manajemen nyeri komunikasi
berlangsung <6 3) Mampu mengenali terapeutik untuk
bulan. nyeri, (skala, mengetahui
intensitas, frekuensi, pengalaman
dan tanda nyeri) nyeri pasien
4) Menyatakan rasa
Batasan 4) Kaji kultur yang
nyamanstelah nyeri mempengaruhi
karakteristi :
berkurang respon nyeri
a. Perubahan 5) Tanda-tanda vital
5) Evaluasi
tekanan darah dalam batas normal pengalaman
b. Perubahan nyeri masa
c. Paint Level
frekuensi
Indikator : lampau
jnatung
1) Mealporkan nyeri 6) Evaluasi
c. Melaporkan bersama pasien
berkurang
nyeri secara
verbal 2) Melaporkan lamanya dan tim
d. Mengekspresi nyeri dirasakan kesehatan lain
kan perilaku 3) Tidak mengerang tentang
gelisah, 4) Ekspresi wajah releks ketidakefektifan
merengek, 5) Pasien tidak mondar- konrol nyeri
meringis mandir masa lampau
6) Respiration rate dalam 7) Bantu pasien
e. Gangguan
rentang normal dan keluarga
tidur
7) Blood pressure dalam untuk mencari
f. Laporan
rentang normal dan menemukan
isyarat nyeri
dukungan
8) Kontrol
d. Vital signs lingkungan yng
Indikator : dapat
1) Denyut jantung apikal mempengaruhi
dalam rentang normal nyeri seperti
2) Irama denyut jantung suhu ruangan,
dalam rentang normal pencahayaan,
3) Denyut nadi radial dan kebisingan
dalam rentang normal 9) Kurangi faktor
4) Tekanan Systole dan presipitasi nyeri
Diastole dalam rentang 10) Pilih dan
normal lakukan
penanganan
nyeri
(farmakologi,
nonfarmakologi
, dan
interpersonal)
11) Kaji tipe dan
sumber nyeri
untuk
menentukan
intervensi
12) Ajarkan tentang
teknik
nonfarmakologi
13) Berikan
analgetik untuk
mengurangi
nyeri
14) Evaluasi
keefektifan
kontrol nyeri
15) Tingkatkan
istirahat
16) Kolaborasi
dengan dokter
jika ada keluhan
dan tindakan
nyeri tidak
berhasil
b. Pemberian
Analgetik
Aktivitas :
1) Tentukan lokasi
nyeri,
karakteristik,
kualitas dan
tingkat
keparahan
sebelum
mengobati
pasien
2) Periksa perintah
medis untuk
obat, dosis,
frekuensi yang
ditentukan
analgesik
3) Periksa alergi
obat
4) Evaluasi
kemampuan
pasien untuk
berpartisipasi
dalam
pemilihan
anlgesik, rute,
dan dosis, serta
melibatkan
pasien
5) Pilih analgesik
sesuai atau
kombinasi dari
analgesik ketika
lebih dari satu
yang diresepkan
6) Tentukan
pilihan
analgesik,
berdasarkan
jenis dan
severity rasa
sakit
7) Pantau tanda-
tanda vital
sebelum dan
setelah
pemberian
analgesik
narcotok diatas
dosis
8) Fasilitasi respon
pasien terhadap
analgesik
9) Informasikan
kepada pasien
terkait efek
samping dari
analgesik
10) Evaluasi
efektifitas
analgesik pada
interval yang
sering dan
teratur setelah
pemberian
masing-masing,
terutama setelah
dosis awal
c. Pengurangan
Kecemasan
Aktivitas :
1) Gunakan
pendekatan
yang
menenangkan
pasien
2) Jelaskan
prosedur
pengobatan
pasien, meliputi
sansasi yang
dirasakan
selama prosedur
yang dilakukan
3) Sediakan
informasi
faktual meliputi
diagnosis,
pengobatan, dan
perawatan
pasien
4) Tetap bersama
pasien untuk
mempromosika
n keamanan dan
megurangi rasa
takut
5) Anjurkan
keluarga untuk
tetap bersama
pasien
6) Sediakan objek
yang
menandakan
keamanan
7) Ciptakan
atmosfer untuk
memfasilitasi
kepercayaan
pasien
8) Identifikasi
ketika tingkat
kecemasan
pasien berubah
9) Bantu pasien
untuk
mengidentifikas
i situasi yang
menimbulkan
kecemasan
10) Tentukan
kemampuan
pengambilan
keputusan
pasien
11) Ajarkan pasien
melakukan
teknik relaksasi
4.
Intoleransi a. Energi Conservation a. Energy
Aktivitas Management
Indikator :
Definisi : Aktivitas :
1) Menunjukkan
1) Tentukan
Ketidakcukupan keseimbangan antara
keterbatasan
energi psikologis, aktivitas dengan
pasien terhadap
atau fisiologis istirahat
aktivitas
untuk 2) Menggunakan teknik
2) Tentukan
mempertahankan 3) Mengenali
penyebab lain
atau keterbatasan energi
dari kelelahan
menyelesaikna 4) Menyesuaikan gaya
3) Dodng pasien
aktivitas hidup sesuai tingkat
untuk
kehidupan sehari- energi
mengungkapkan
hari yang harus 5) Mempertahankan gizi
perasaan tentang
atau yang ingin yang cukup
keterbatasannya
dilakukan. 6) Melaporkan aktivitas
4) Observasi nutrisi
yang sesuai dengan
Batasan sebagai sumber
energi.
karakteristik : energi yang
b. Activity Tolerance adekuat
a. Respon 5) Observasi respon
frekuensi Indikator : jantung-paru
jantung terhadap aktivitas
1) Saturasi oksigen saat
abnormal (misalnya
melakukan aktivitas
terhadap takikardia,
membaik/dalam
aktivitas disritmia,
rentang normal
b. Perubahan dispnea, pucat,
2) nadi saat melakukan
EKG yang dan frekuensi
aktivitas dalam rentang
mencerminkan pernafasan)
normal
iskemia
3) tidak sesak napas saat 6) Batasi stimulus
c. Dispnea lingkungan
melakukan aktivitas
setelah (misalnya
4) tekanan darah saat
beraktivitas pencahayaan, dan
melakukan aktivitas
d. Menyatakan kegaduhan)
dalam rentang normal
merasa letih
3) mudah melakukan 7) Dorong untuk
e. Menatakan lakukan periode
ADL
merasa lemah
aktivitas saat
f. Respon pasien memiliki
tekanan darah c. Self Care : ADL banyak tenaga.
abnormal 8) Rencanakan
Indikator : periode aktivitas
terhadap
aktivitas Mampu melakukan ADL saat pasien
secara mandiri (seperti makan, memiliki banyak
memakai baju,toileting, mandi, tenaga
berdandan, menjaga 9) Hindari aktivitas
kebersihan, oral hygiene, selama periode
istirahat
berjalan, berpindah tempat) 10) Dorong pasien
untuk melakukan
aktivitas sesuai
sumebr energi
11) Instruksikan
pasien atau
keluarga untuk
mengenal tanda
dan gejala
kelelahan yang
memerlukan
pengurangan
aktivitas.
12) Bantu pasien atau
keluargauntuk
menentukan
tujuan akhir yang
realistis
13) Evaluasi program
peningkatan
tingkat aktivitas
b. Actifity Therapy
Aktivitas :
1) Kolaborasiken
dengan Tenaga
Rehabilitasi
Medik dalam
merencanakan
proram terapi
yang tepat
2) Bantu pasien
untuk
mengidentifikasi
aktivitas yang
mampu
dilakukan
3) Bantu untuk
memilih
aktivitas
konsisten yang
sesuai dengan
kemampuan
fisik, psikologi
dan social
4) Bantu untuk
mengidentifikasi
dan
mendapatkan
sumber yang
diperlukan
untuk aktiivtas
yang diinginkan
5) Bantu pasien
untuk membuat
jadwal latihan
ulang
6) Bantu pasien
atau keluarga
untuk
mengidentifikasi
kekurangan
dalam
beraktivitas
7) Sediakan
penguat positif
bagi yang aktif
beraktifitas.
8) Bantu pasien
untuk
mengembangka
n motivasi diri
dan penguatan
9) Monitor respon
fisik, emosi,
ssial, dan
spiritual

Implementasi

Implemetasi keperawatan adalah tahap ketika perawat mengaplikasikan rencana

asuhan keperawatan dalam bentuk intervensi keperawatan guna membantu klien

mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Asmadi, 2008). Implementasi keperawatan

terdiri dari beberapa komponen:

a. Tanggal dan Waktu dilakukan implementasi keperawatan

b. Diagnosa keperawatan

c. Tindakan keperawatan berdasarkan intervensi keperawatan

d. Tanda tangan perawat pelaksanaan.


Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan adalah penilaian terakhir keperawatan yang didasarkan pada

tujuan keperawatan yang ditetapkan.Penetapan keberhasilan suatu asuhan keperawatan

didasarkan pada perubahan perilaku dan kriteria hasil yang telah ditetapkan, yaitu

terjadinya adaptasi ada individu (Nursalam, 2008).Evaluasi keperawatan dilakukan

dalam bentuk pendekatan SOAP. Evaluasi keperawatan terdiri dari beberapa komponen

yaitu:
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. F (45 TAHUN)

DENGAN KANKER SERVIK STADIUM II

A. PENGKAJIAN
1. Identitas Diri Klien
Nama :Ny.F
TTL :Jambi 31 Juli 1974
Umur :45 Tahun
No MR :01.04.25.78
Tanggal Masuk :22 Agustus 2019
Penanggung Jawab :Tn A (Suami)
Alamat :Jambi
Pekerjaan :Wiraswasta
Tanggal pengkajian :26 Agustus 2019

2. Data Umum Kesehatan


a. Riwayat Kesehatan Sekarang
1) Keluhan
Pasien masuk Melalui IGD RSUP Dr M.Djamil Padang pada tanggal 22
Agustus 2019 pukul 20.11 WIB. Pasien merupakan rujukan dari rumah
sakit Jambi dengan keluahan mual muntah sejak 3 hari sebelum masuk
rumah sakit, keluar darah berwarna kecoklatan dari kemaluan sejak 2
hari yang lalu.
Pada saat dilakukan pengakajian pada tanggal 26 agustus 2019 jam
11.00 WIB pasien mengatakan nafas terasa sesak, badan terasa lemah
dan letih, serta pegal-pegal, pasien mengatakan nafsu makan menurun
serta mual dan muntah. Pasien mengatakan nyeri di abdomen, nyeri
dirasakan dimuai dari perut bagian bawah, nyeri dirasakan setiap saat,
nyeri timbul ± 4-5 menit, skala nyeri 6.
2) Faktor pencetus
Keluarga mengatakan sebelum masuk rumah sakit pasien mengalami
badan terasa lemah dan letih serta mual dan muntah,nyeri pada bagian
abdomen. Kemudian keluarga membawa pasien ke Rumah sakit di
Jambi lalu di rujuk ke RSUP Dr. Mdjamil Padang.
3) Lamanya keluhan
Keluarga mengatakan pasien baru dibawa ke rumah sakit setelah 3 hari
mengalami badan terasa lelah dan letih,nyeri pada abdomen,nafas terasa
sesak,mual dan tidak nafsu makan.
Masalah Keperawatan :
Ketidakefektifan Pola Nafas
Nyeri Akut
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
b. Riwayat Kesehatan Dahulu
Keluarga mengatakan pasien sudah menderita kanker sejak 8 bulan yang
lalu, pasien sudah pernah di radioterapi sebanyak 28 kali, sebelumnya pasien
sudah pernah di rawat sebanyak 7 kali
c. Riwayat kesehatan keluarga
Pasien mengatakan tidak ada anggota keluarga pasien yang menderita
penyakit kanker servik, ataupun penyakit kanker lainnya seperti kanker
ovarium dan kanker payudara, DM, jantung, hipertensi maupun penyakit
menular.
d. Riwayat menstruasi
Pasien menarche sejak usia usia 12 tahun dengan siklus 28 hari dan teratur.
Lama menstruasi 5 sampai 6 hari. Jumlah normal ( ganti pembalut 2-3 kali ).
Setiap kali menstruasi pasien jarang mengalami nyeri. Namun setelah
menikah pasien juga masih merasakan nyeri saat menstruasi
e. Riwayat perkawinan
Pasien menikah umur 20 tahun dan memiliki 3 orang anak. pasien
melahirkan anaknya degan persalinan normal.
f. Riwayat keluarga berencana
Pasien mengatakan bahwa psien pernah memakai KB Pil dan suntik ±10
tahun.
Masalah Keperawatan : tidak ada masalah
3. Pola Nutrisi
a. BB : 38 Kg
b. TB : 153 Cm
c. Makan dan minum
Sehat : pasien mengatakan nafsu makan biasa dengan komposisi nasi dan
lauk, sayur. Pasien mengatakan jarang mengosumsi buah. Selain itu pasien
rutin mengosumsi makanan yang mengandung penyedap. Pasien
mengatakan minum 7-8 gelas perhari
Sakit : pasien mengatakan saat sakit nafu makan menurun serta mual dan
muntah, pasien mengalami penurunan BB ± 7 Kg selama 3 bulan terakhir.
Pasien mengatakan 5-6 gelas perhari
Masalah keperawatan : ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

4. Eliminasi
a. BAB
Sehat
Frekuensi : 1x/ hari
Waktu :tidak teratur
Konsitensi :padat
Penggunan pencahar :tidak ada
Sakit
Frekuensi : 1 kali sehari
Waktu : tidak menentu
Konsitensi : lembek
Penggunan pencahar : tidak ada
b. BAK
Sehat
Frekuensi :6-8 kai/hari
Jumlah urine :1000 cc/hari
Warna :kuning khas urine
Sakit
Frekuensi : menggunakan kateter
Jumlah urine : 1400 per 24 jam
Warna : kuning pekat

5. Istirahat dan Tidur


Waktu tidur : malam hari
Lama tidur/hari sebelum sakit :7-8 jam/ hari, nyenyak
Lama tidur/hari saat sakit :5-6 jam
Perubahan yang dirasakan saat sakit : tidur terganggu karena nyeri dan
mual
Masalah keperawatan : gangguan pola tidur

6. Aktivitas dan Latihan


Pasien seorang ibu rumah tangga bekerja di rumah dan membersihkan rumah.
Pasien mengatakan bahwa selama sakit, ia serig merasakan nyeri. ADL selama
dirumah sakit dibantu oleh perawat dan keluarga.
Masalah keperawatan : tidak ada
7. Pola bekerja
Jenis pekerjaan : pasien mengatakan bahwa profesi pasien hanyan ibu rumah
tangga
Lama bekerja : tidak ada

8. Genogram

Keterangan

: laki –laki sudah meninggal

: perempuan sudah meninggal

: pasien

: laki-laki

: perempuan

9. Riwayat Lingkungan
Kebersihan : Pasien mengatakan bahwa rumah beserta lingkungan sekitar
rumahnya bersih. Pasien mengatakan bahwa rumahnya terdiri
dari ruang tamu, 43kamar tidur, ruang keluarga, dapur dan 1
kamar mandi. Pasien mengatakan bahwa rumahnya punya
ventilasi dan cukup pencahayaan.
Bahaya : Pasien mengatakan bahwa tidak ada bahaya yang mengancam
disekitar lingkungan rumahnya.
Polusi : Pasien mengatakan bahwa rumahnya tidak langsung
berbatasan dengan jalan raya, namun jarak rumah pasien
dengan jalan raya 200 m.
10. Psikososial
a. Persepsi diri
1) Hal yang sangat dipikirkan pasien saat ini :
Saat ini pasien mengatakan cemas terhadap penyakitnya dan memikirkan
segala pengobatan yang harus ia jalani demi kesembuhannya. Pasien
mengatakan ingin segera sembuh karena keluarga dan anaknya masih
membutuhkannya.
2) Harapan setelah menjalani perawatan
Pasien berharap penyakitnya dapat disembuhkan
b. Pertahanan koping
Pasien yakin penyakitnya dapat disembuhkan dengan berusaha yang
maksimal disertai doa dan dukungan dari keluarga. Pasien mengatakan
bahwa ia bisa kuat bertahan sampai sekarang menjalani tahapan pengobatan
karena adanya dukungan dari keluarga dari orang terderkat pasien
c. Sistem nilai dan kepercayaan
Pasien beragama islam dan ia meyakini bahwa tuhan akan memberinya
kesembuhan. Selama dirawat di rumah sakit pasien mengtakan bahwa ia
tidak pernah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim yaitu
shlat lima waktu.
Masalah keperawatan : tidak ada

B. Pemeriksaan Fisik
TTV : TD : 98/65 mmHg N: 96 x/i P: 26 x/i S: 36,6 oC
Kepala
Inspeksi : kulit kepala tampak bersih, tidak berketombe,tidak ada bekas luka
Palpasi : rambut mudah rontok, tidak ada benjolan

Mata
Inspeksi : simetris kiri dan kanan, konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik,
palpebra tidak edema, reflek cahaya +/+, pupil isokor, ukuran pupil
2/2 mm
Hidung
Inspeksi : simetris kiri dan kanan, bersih, tidak ada massa, tidak ada sekret,
tidak ada polip, tidak ada nyeri tekan
Mulut
Inspeksi :mukosa bibir kering, bibir tampak pucat, tidak ada sianosis
Leher
Palpasi :tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan kelenjar getah bening

Pernafasan :
 Inspeksi : Pergerakan dinding dada simetris kiri = kanan, irama
nafas tidak teratur
 Palpasi : fremitus kiri = kanan
 Perkusi : sonor
 Auskultasi : bunyi nafas vesikuler
Sirkulasi :
 Inspeksi : Sianosis tidak ada
 Palpasi : Akral teraba dingin, CRT kembali < 3 detik
Jantung :
 Inspeksi : Iktus cordis tidak terlihat
 Palpasi : Iktus cordir teraba di RIC V
 Perkusi : Cardiomegali (-)
 Auskultasi : Bunyi jantung normal
Abdomen
 Inspeksi : tidak ada asites, tidak tampak luka bekas operasi,
 Palpasi : nyeri tekan pada bagian abdomen bawah, teraba
padat pada abdomen bagian bawah

 Perkusi : Kuadran kiri : tympani, kuadran kanan :tympani, kuadran


bawah medial: redup.
 Auskultasi : Bising usus 16 x/menit
Genitalia :

Akses BAK : terpasang treeway kateter irigasi Nacl 20 tts/I, warna BAK
kuning kemerahan

Vagina : adanya pengeluaran darah pervaginam, darah berbungkah-


bungkah, erwarna merah hati pekat, dan berbau, pasien terpasang
pembalut.

Ekstremitas :

Ekstremitas atas : edema (-), phlebitis (-), klien terpasang IVFD Nacl 0,9% 20
tetes/menit pada tangan kiri

Ekstremitas bawah : edema (+) kanan dan kiri grade I, varises (-), CRT > 3 detik.
Neurologi : Kesadaran CMC, GCS 15 (E4M6V5),
pupil isokor, refleks cahaya +/+
Muskuloskletal : kekuatan otot 555 555

555 555
C. Pemeriksaan Laboratorium
Hasil Pemeriksaan Hematologi dan Kimia Klinik Tanggal 22 Agustus 2019

No. Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Interpret


asi
1. HB 11,7, gr/dl 12-16 gr/dl ↓
2. Ht 36 % 37-43 % ↓
3. Leukosit 12.640/mm3 5000-10000/mm3

668000/mm3 150.000-
4. Trombosit
400.000/mm3

5. Gula darah
puasa 127 mg/dl < 200 N
sewaktu
6. Total Protein 8,0 g/dl 6,6-8,7 N
Albumin
7. 2,8 g/dl 3,8-5,0
8. Globulin 5,2 g/dl 1,3-2,7
9. Bilirubin 1,6 mg/dl 0,3-1,0
Total
10. Bilirubin 0,9 mg/dl < 0,20 N
Direk
11. Bilirubin 0,7 mg/dl < 0,60 N
Indirek
12. SGOT 20 u/I < 32 N
13. SGPT 16 u/I < 31 N

E. Terapi
Terapi Tanggal
Ciprofloxaxin 2 x 500 mg 26, 27, 28
secara oral
KSR 3 x 1 26, 27, 28
Ceftriaxon 3 x 1 gr IV 26, 27, 28
Vit K 2 x 1 amp (IV) 26, 27, 28
Transamin 3 x 1 amp (IV) 26, 27, 28
Metoclorpamid ( bila mual ) 26, 27, 28
dosis 1 amp
IUVD NaCl 0,9 % 20 tt/i 26, 27, 28
F. Pemeriksaan Diagnostik
1. USG Ginekologi
Uterus : Tidak Metastase

Adneksia :Hipoechoic in homogen

Ginjal : Asites (+)

Liver : hipoechoic ukuran10,45x7,99 cm


Kesimpulan : Ca. Serviks

G. Patologi Anatomik (15-4-2019)


Dalam sediaan jaringan yang terdiri atas proliferasi sel-sel tumor epitel yang
tersusun berkelompok dan ada yang solid infiltratif pada stroma sekitarnya.
Sel-sel intipleomorfik,vesikuler,kromatin, kasar, nukleoli nyata, mitosis
atipik dapat ditemukan. Tampak daerah-daerah mengalami nekrosis serta
sebukan limfosit dan sel plasma peritumoral
Kesimpulan : Carcinoma
H.Analisa data

No Data Masalah Etiologi


1. DS : Ketidakefektifan Nyeri
Pasien mengatakan nafasnya sesak pola nafas
DO :
- FP 26 x/i
- Irama pernapasan tidak
teratur
- Terpasang O2 binasal 3
liter permenit
2. DS : Nyeri Kronis Inflamasi
- Pasien mengatakan nyeri penyakit (kanker
pada perut nya srvik )
- Pasien mengatakan
nyerinya hilang timbul
- PQRST
Profokatif : Pasien mengatakan
nyeri semakin bertambah saat
pasien beraktifitas dan terasa
diremas-remas

Qualitas: pasien mengatakan nyeri


yang dirasakan sedang dan
dipengaruhi oleh perubahan posisi
ataupun aktivitas.

Region: pasien mengatakan nyeri


pada perut mulai dari perut bagian
kanan bawah dan menjalar sampai
kepinggang dan punggung

Skala: pasien mengatakan skala


nyeri 6

Time: pasien mengatakan nyeri


terasa saat berubah posisi ataupun
akan tidur, nyeri terasa ± 4-5
menit, dan nyeri dirasakan hilang
timbul.

DO :
- nyeri hilang timbul
- Pasien tampak meringis
Pasien tampak lemah
- Pasien tampak memegang
perutnya
- TD : 96/68 mmHg, HR : 96
x/I, RR : 26 x/I, S: 36,60C.
DS : Ketidakseimbangan Kurang asupan
- Pasien mengatakan nafsu nutrisi kurang dari makanan
makan menurun kebutuhan tubuh
- Pasin mengatakan mual
- Pasien mengatakan
- mengalami penurunan BB
±7 Kg
-

DO :
- Pasien tampak mual dan
muntah
- Turgor kulit jelek
- Pasien tampak tidak
menghabiskan diit yang
diberikan (nasi dan lauk
tampak bersisa), diit
dihabiskan 30 %.
- BB sehat : 42 Kg
- BB sakit : 38 Kg

I.Diagnosa Keperawatan
a. Ketidakefektifan pola nafas b/d nyeri
b. Nyeri akut b/d agen cedera biologis (penekanan sel syaraf)
c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d kurang
asupan makanan

I. Intervensi Keperawatan

Diagnosa Keperawatan NOC NIC


Ketidakefektifan Pola Setelah dilakukan tindakan Manajemen Jalan Nafas
keperawatan, status 1) Posisikan pasien
nafas
pernafasan pasien normal untuk memaksimalkan
dengan kriteria hasil : ventilasi
1) Frekuensi pernafasan 2) Motivasi pasien untuk
normal bernafas pelan
2) Irama pernafasan normal 3) Monitor status
3) Kedalaman inspirasi pernafasan dan
normal oksigenas
4) Suara auskultasi normal Manajemen Ventilasi
5) Kepatenan jalan nafas Mekanik : Invasif
baik 1) Monitor kondisi yang
mengindikasikan
perlunya dukungan
ventilasi
2) Monitor apakah
terdapat gagal nafas
3) Mulai teknik relaksasi
Bantuan Ventilasi
1) Pertahankan kepatenan
jalan nafas
2) Posisikan pasien untuk
mengurangi dyspnea
3) Ajarkan teknik
pernapasan dengan
tepat
4) Monitor pernapasan
5) Berikan oksigenasi
Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan Manajemen Nyeri
keperawatan, pasien mampu 1) Lakukan pengkajian
mengontrol nyeri dengan nyeri komprehensif
kriteria hasil : yang meliputi lokasi,
a. Tingkat nyeri karakteristik,
1) Mengenali kapan nyeri onset/durasi, frekuensi,
terjadi kualitas, intensitas atau
2) Menggambarkan beratnya nyeri dan
faktor penyebab faktor pencetus
3) Melaporkan perubahan 2) Observasi adanya
terhadap gejala nyeri petunjuk nonverbal
pada profesional mengenai
kesehatan ketidaknyamanan
4) Mengenali apa yang terutama pada mereka
terkait dengan gejala yang tidak dapat
nyeri berkomunikasi secara
5) Melaporkan nyeri yang efektif
terkontrol 3) Gunakan strategi
komunikasi terapeutik
b. Pengetahuan: manajemen 4) Gali pengetahuan dan
nyeri kepercayaan pasien
1) Mengetahui faktor mengenai nyeri
penyebab 5) Gali bersama pasien
2) Mengetahui tanda dan faktor-faktor yang dapat
gejala menurunkan atau
3) Mengetahi efek memperberat nyeri
samping terapeutik 6) Berikan informasi
obat mengenai nyeri seperti
penyebab nyeri, berapa
c. Respon pengobatan lama nyeri akan
1) Pasien mengetahui dirasakan, dan antisipasi
efek sampingnya dari ketidaknyamanan
2) Tidak ada reaksi alergi akibat prosedur
3) Tidak ada efek prilaku 7) Ajarkan prinsip-prinsip
dari pengobatan manajemen nyeri
8) Ajarkan penggunaan
teknik non farmakologi
(terapi relaksasi)
9) Evaluasi keefektifan
dari tindakan pengontrol
nyeri yang dipakai
selama pengkajian nyeri
dilakukan
10) Dukung
istirahat/tidur yang
adekuat untuk
membantu penurunan
nyeri

Pemberian Analgesik
1) Tentukan lokasi,
karakteristik, kualitas
dan keparahan nyeri
sebelum mengobati
pasien
2) Cek perintah
pengobatan meliputi
obat, dosis, dan
frekuensi obat
analgesik yang
diresepkan
3) Cek adanya riwayat
alergi obat
4) Pilih analgesik atau
kombinasi analgesik
yang sesuai ketika lebih
dari satu diberikan
5) Tentukan pilihan obat
analgesik (narkotik,
non narkotik atau
NSAID) berdasarkan
tipe dan keparahan
nyeri
6) Kolaborasi dengan
dokter apakah obat,
dosis, rute pemberian
atau perubahan interval
dibutuhkan, buat
rekomendasi khusus
berdasarkan prinsip
analgesik
7) Monitor tanda vital
sebelum dan setelah
memberikan analgesik
narkotik pada
pemberian dosis
pertama kali atau jika
ditemukan tanda-tanda
yang tidak biasanya
8) Berikan analgesik
tambahan dan atau
pengobatan jika
diperlukan untuk
mengingkatkan efek
pengurangan nyeri
9) Lakukan tindakan-
tindakan untuk
menurunkan efek
samping analgesik
(misalnya: konstipasi
dan iritasi lambung)
10) Evaluasi kefektifan
analgesik dengan
interval yang teratur
pada setiap setelah
pemberian khususnya
setelah pemberian
pertama kali, juga
observasi adanya tanda
dan gejala efek
samping (misalnya:
depresi pernafasan,
mual dan muntah,
mulut kering dan
konstipasi)
11) Dokumentasikan
respon terhadap
analgesik dan adanya
efek samping
12) Evaluasi dan
dokumentasi tingkat
sedasi dari pasien yang
menerima opioid

Manajemen Obat
1) Tentukan obat yang
diperlukan dan kelola
menurut resep dan /
atau protokol
2) Monitor efektifitas cara
pemberian obat yang
sesuai
3) Monitor pasien
mengenai efek
terapeutik obat
4) Monitor tanda dan
gejala toksisitas obat
5) Monitor level serum
darah ( misalnya:
elektrolit, protrombin,
obat-obatan) yang
sesuai
6) Monitor interaksi obat
yang non terpeutik
7) Monitor respon
terhadap perubahan
pengobatan dengan
cara yang tepat

Manajemen Energi
1) Kaji status fisiologis
pasien yang
menyebabkan
kekelahan sesuai
dengan konteks usia
dan perkembangan
2) Anjurkan pasien untuk
mengungkapkan
perasaan secara verbal
mengenai keterbatasan
yang dialami
3) Tentukan persepsi
pasien atau orang
terdekat dengan pasien
mengenai penyebab
kelelahan
4) Perbaiki defisit status
pisiologis (misalnya,
kemoterapi yang
menyebabkan anemia)
sebagai prioritas
pertama
5) Monitor intake/asupan
nutrisi untuk
mengetahui sumber
energi yang adekuat
6) Monitor waktu dan
lama istirahat pasien
7) Kurangi
ketidaknyamanan fisik
yang dialami pasien
yang bisa
mempengaruhi fungsi
kognitif, pemnatauan
diri dan pengaturan
aktivitas pasien
8) Bantu pasien untuk
mengidentifikasi
kegiatan rumah yang
bisa dilakukan oles
keluarga dan teman
dirumah untuk
mencegah/mengatasi
kelelahan
9) Instrusikan pasien atau
keluarga mengenali
tanda dan gejala
kelelahan yang
memerlukan
pengurangan aktivitas
10) Instruksikan pasien
atau keluarga mengenai
stres dan koping
intervensi untuk
mengurangi kelelahan
11) Ajarkan pasien atau
keluarga untuk
menghubungi tenaga
kesehatan jika tanda
dan gejala kelelahan
tidak berkurang
Ketidakseimbangan Setelah dilakukan tindakan Manajemen Gangguan
keperawatan, nafsu makan Makan
nutrisi kurang dari
pasien baik dengan kriteria 1) Kolaborasi dengan tim
kebutuhan tubuh hasil : kesehatan lain untuk
a. Status nutrisi : asupan mengembangkan
makanan dan cairan rencana perawatan
1) Asupan makanan dengan melibatkan
secara oral adekuat pasien dan orang-orang
2) Asupan cairan secara terdekatnya dengan
oral adekuat tepat
3) Asupan cairan IV 2) Kolaborasi dengan tim
adekuat dan pasien untuk
4) Asupan nutrisi mengatur target
parenteral adekuat pencapaian berat badan
5) Tidak ada mual dan jika berat badan pasien
muntah tidak berada dalam
rentang normal
b. Nafsu makan 3) Kolaborasi dengan ahli
1) Peningkatan keinginan gizi dalam menentukan
untuk makan asupan kalori harian
2) Peningkatan yang diperlukan
rangsangan untuk 4) Dorong pasien untuk
makan mendiskusikan
3) Intake makanan makanan yang disukai
adekuat bersama ahli gizi
5) Timbang berat badan
pasien
6) Monitor intake/asupan
dan asupan cairan
secara tepat
7) Monitor asupan kalori
makanan harian
8) Batasi makanan sesuai
dengan jadwal
9) Observasi pasien
selama dan setelah
pemberian
makan/makanan ringan
untuk meyakinkan
bahwa asupan makanan
yang cukup tercapai
dan dipertahankan
10) Beri dulungan
misalnya terapi
relaksasi
11) Batasi aktivitas
fisik sesuai kebutuhan
untuk meningkatkan
berat badan
12) Monitor berat
badan pasien sesuai
secara rutin

Manajemen Nutrisi
1) Tentukan status gizi
pasien
2) Identifikasi alergi dan
intoleransi terhadap
makanan
3) Atur diit yang
diperlukan (rendah
protein, tinggi
karbohidrat, rendah
natrium)
4) Beri obat-obatan
sebelum makan seperti
antiemeik
5) Anjurkan diit pasien
sesuai kebutuhan
6) Monitor kalori dan
asupan nutrisi

Monitor Nutrisi
1) Timbang berat badan
pasien
2) Identifikasi adanya
penurunan berat badan
3) Monitor turgor kulit
4) Monitor adanya mual
muntah
5) Identifikasi perubahan
nafsu makan
6) Monitor pucat pada
konjungtiva
7) Lakukan kemampuan
menelan
8) Tentukan faktor yang
mempengaruhi nutrisi
J. Catatan Perkembangan
Senin/ 26-8-2019

Hari/Tanggal Jam No. Implementasi TTD


Dx
Senin 08:30 1 Morning care : membantu keluarga dalam Rika
pemenuhan kebutuhan kebersihan diri :
26 Agustus
- Mengganti pakaian
2019
- Merapikan tempat tidur

R/ Pasien bersih dan rapi


09.15 1,2,3 Mengukur tanda-tanda vital Rika

R/
- TD : 98/65 mmHg
- N : 96 x/i
- P : 26 x/i
- S : 36,6 OC
09.20 3 Memonitor suhu, warna dan kelembaban Rika
kulit, warna konjungtiva..

R/
- Konjungtiva tidak anemis
- Wajah tidak tampak pucat
- Mukosa bibir lembab
09.30 1 Memonitor pola pernapasan pasien Rika

R/
- FP : 26 x/i
- Tidak ada tarikan dinding dada
- Pola pernapasan tidak teratur
- Memasang oksigen nasal kanul 3 L/i
- Posisi semifowler
10.00 3 Menilaian nyeri secara komprehensif Yoli
R/
- P:
Nyeri pada perutnya
- Q:
Nyeri terasa saat pasien beraktifitas dan
terasa diremas-remas
- R:
Nyeri pada perut mulai dari perut bagian
kanan bawah dan menjalar sampai
kepinggang dan punggung
- S:
Skala nyeri 6 (nyeri sedang).
- T:
Terasa + 4-5 menit.

11.00 3 Memberikan obat secara supositoria untuk Yoli


mengurangi nyeri pasien

R/ Pasien tampak tenang, pasien masih


mengeluh kesakitan di perutnya
11.15 3 Menganjurkan pasien untuk beristirahat Yoli
agar nyeri dan sesak nafas berkurang

R/ keluarga mengikuti arahan yang


diberikan

11.30 1,2,3 Menyarankan keluarga untuk menjaga Yoli


pasien 1 orang bergantian.

R/ 1 keluarga menjaga pasien bergantian

11.45 1,3 Mengukur tanda-tanda vital Rika

R/
- TD : 86/64 mmHg
- N : 112 x/i
- P : 23 x/i
- S : 36,9 OC

12.00 2 Menganjurkan pasien untuk menghabiskan Rika


diit yang diberikan rumah sakit dan makan
selagi makanan masih hangat

R/ Pasien mengatakan nafsu makan berkurang


dan tidak menghabiskan diitnya
12.15 2, 3 Melakukan pemberian injeksi obat secara Yoli
bolus dan pemberian obat oral
Obat injeksi Obat oral
- ceftriaxon Ksr
Ciprofloxaxin
- Transamin
- Vit K
R/ Keluarga dan klien berterima kasih

12.55 3 Menginformasikan pasien tentang Yoli


pentingnya asupan nutrisi.

R/ Keluarga mengatakan BB pasien berkurang


semenjak sakit

13.10 3 Menganjurkan makan sedikit tapi sering serta Yoli


memonitor mual dan muntah pasien.

R/ Pasien mengatakan masih terasa mual dan Yoli


tidak mau melanjutka makan.

14.00 1 Memberikan obati injeksi untuk mengurangi Yoli


mual (metroclopamide 1x1 Amp

14.30 1 Mengatur posisi yang nyaman Yolanda

R/ untuk mengurangi sesak nafas

15.00 1,2,3 Mengganti cairan IUVD Nacl 0,9 % Meina

R/ Pasien dan keluarga berterima kasih

15.30 1 Menganjurkan pasien untuk istirahat Yolan

16.00 2 Mengkaji ketidaknyamanan pasien secara Meina


verbal dan nonverbal

R/ mengetahui apa yang dirasakan pasien


16.30 Mengajarkan pasien teknik non Meina
farmakologi teknik nafas dalam untuk
mengurangi nyeri yang dirasakan klien

R/ Pasien tampak dapat melakukan teknik


nafas dalam
17.00 1,2 Melakukan pemberian injeksi obat secara Yolan
bolus dan pemberian obat oral

- Transamin 3x 1Amp (IV)


- Vit .K 3x 1Amp (IV)KSR 200mg (Po)

- R/ Keluarga dan klien berterima kasih

Meina
Mengukur tanda-tanda vital
17.30 1

R/
- TD: 90/69 mmHg
- N: 102 x/i
- S : 36,7 OC
- P : 22x/i
18.00 3 Menganjurkan pasien menghabiskan diit Yolan
yang diberikan rumah sakit

R/ Keluarga mengatakan pasien hanya


menghabiskan ¼ porsi.

18.30 3 Menganjurkan makan selagi makanan masih Meina


hangat dan makan sedikit-sedikit tapi sering

R/ Pasien mendengarkan arahan perawat

19.00 1 Mengganti cairan infus yang habis dengan Yolan


intravena yaitu IVFD RL

R/memastikan kepatenan jalan cairan

19.00 1,2 Menganjurkan pasien untuk beristirahat dan Meina


membuat pasien merasa nyaman.

R/ keluarga mengatakan pasien sudah tidak


gelisah
20.00 3 Menghitung jumlah intake dan output pada Yolan
pasien.

R/ Intake : 1200 cc
Output: 950 cc
21.00 1 Mengobservasi keadaan pasien Silvia

R/ Pasien tampak masih mengeluh nyeri pada


perutnya
22.00 1,2,3 Menilai keadaan umum serta respon pasien Silvia

R/ Keadaan umum sedang, respon pasien


cukup kooperatif

22.00 1,2 Melakukan pemberian injeksi obat secara Silvia


bolus

- Transamin 3x 1Amp (IV)


- Vit .K 3x 1Amp (IV)
- KSR 200mg (PO)
- Ciprofloxaxin 2 x 500 mg (PO)

23.00 1 Mengganti cairan infus yang habis : IVFD Silvia


NaCl 0,9 % 20 Tts/i

24.00 2 Melakukan pemberian injeksi obat secara Silvia


bolus

- Ceftriaxone 2x1gr (IV)

06.00 1,2 Mengukur tanda-tanda vital Silvia

R/
- TD: 100/60 mmHg
- N: 89 x/i
- S : 37,3 OC
- P : 26 x/i
06.10 3 Menghitung intake output Silvia
Intake : 300 cc
Output : 350 cc
Balance cairan :
06.00 1,2 Mengukur tanda-tanda vital Silvia

R/
- TD: 100/60 mmHg
- N: 89 x/i
- S : 37,3 OC
- P : 26 x/i
06.10 3 Menghitung intake output Silvia
Intake : 300 cc
Output : 350 cc
Balance cairan :
Selasa ,27-08-19

Hari/Tanggal Jam No. Implementasi TTD


Dx
Selasa 08:30 1 Morning care : membantu keluarga dalam Rika
pemenuhan kebutuhan kebersihan diri :
27 Agustus
- Mengganti pakaian
2019
- Merapikan tempat tidur

R/ Pasien bersih dan rapi


09.15 1,2,3 Mengukur tanda-tanda vital Rika

R/
- TD : 100/65 mmHg
- N : 96 x/i
- P : 25 x/i
- S : 36,6 OC
09.20 3 Memonitor suhu, warna dan kelembaban Rika
kulit, warna konjungtiva..

R/
- Konjungtiva anemis
- Wajah tampak pucat
- Mukosa bibir lembab dan tampak pucat
10.00 3 Menilaian nyeri secara komprehensif Yoli
R/
- P:
Nyeri pada perutnya
- Q:
Nyeri terasa saat pasien beraktifitas dan
terasa diremas-remas
- R:
Nyeri pada perut mulai dari perut bagian
kanan bawah dan menjalar sampai
kepinggang dan punggung
- S:
Skala nyeri 6 (nyeri sedang).
- T:
Terasa + 4-5 menit.

11.00 3 Memberikan obat secara supositoria untuk Yoli


mengurangi nyeri pasien

R/ Pasien tampak tenang, pasien masih


mengeluh kesakitan di perutnya
11.15 3 Menganjurkan pasien untuk beristirahat Yoli
agar nyeri dan sesak nafas berkurang

R/ keluarga mengikuti arahan yang


diberikan

11.30 1,2,3 Menyarankan keluarga untuk menjaga Yoli


pasien 1 orang bergantian.

R/ 1 keluarga menjaga pasien bergantian

11.45 1,3 Mengukur tanda-tanda vital Rika

R/
- TD : 100/65 mmHg
- N : 96 x/i
- P : 25 x/i
- S : 36,6 OC

12.00 2 Menganjurkan pasien untuk menghabiskan Rika


diit yang diberikan rumah sakit dan makan
selagi makanan masih hangat

R/ Pasien mengatakan nafsu makan berkurang


dan tidak menghabiskan diitnya
12.15 2, 3 Melakukan pemberian injeksi obat secara Rika
bolus dan pemberian obat oral
Obat injeksi Obat oral
- ceftriaxon Ksr
Ciprofloxaxin
- Transamin
- Vit K
R/ Keluarga dan klien berterima kasih

12.55 3 Menginformasikan pasien tentang Rika


pentingnya asupan nutrisi.

R/ Keluarga mengatakan BB pasien berkurang


semenjak sakit

13.10 3 Menganjurkan makan sedikit tapi sering serta Rika


memonitor mual dan muntah pasien.

R/ Pasien mengatakan masih terasa mual dan Rika


tidak mau melanjutka makan.

14.00 1 Memberikan obati injeksi untuk mengurangi Rika


mual (metroclopamide 1x1 Amp

14.30 1 Mengatur posisi yang nyaman Yolanda

R/ untuk mengurangi sesak nafas

15.00 1,2,3 Mengganti cairan IUVD Nacl 0,9 % Meina

R/ Pasien dan keluarga berterima kasih

15.30 1 Menganjurkan pasien untuk istirahat Yolan

16.00 2 Mengkaji ketidaknyamanan pasien secara Meina


verbal dan nonverbal

R/ mengetahui apa yang dirasakan pasien


16.30 Mengajarkan pasien teknik non Meina
farmakologi teknik nafas dalam untuk
mengurangi nyeri yang dirasakan klien

R/ Pasien tampak dapat melakukan teknik


nafas dalam
17.00 1,2 Melakukan pemberian injeksi obat secara Yolan
bolus dan pemberian obat oral

- Transamin 3x 1Amp (IV)


- Vit .K 3x 1Amp (IV)KSR 200mg (Po)

- R/ Keluarga dan klien berterima kasih

Meina
Mengukur tanda-tanda vital
17.30 1

R/
- TD: 90/69 mmHg
- N: 102 x/i
- S : 36,7 OC
- P : 22x/i
18.00 3 Menganjurkan pasien menghabiskan diit Yolan
yang diberikan rumah sakit

R/ Keluarga mengatakan pasien hanya


menghabiskan ¼ porsi.

18.30 3 Menganjurkan makan selagi makanan masih Meina


hangat dan makan sedikit-sedikit tapi sering

R/ Pasien mendengarkan arahan perawat

19.00 1 Mengganti cairan infus yang habis dengan Yolan


intravena yaitu IVFD RL

R/memastikan kepatenan jalan cairan

19.00 1,2 Menganjurkan pasien untuk beristirahat dan Meina


membuat pasien merasa nyaman.

R/ keluarga mengatakan pasien sudah tidak


gelisah
20.00 3 Menghitung jumlah intake dan output pada Yolan
pasien.

R/ Intake : 1200 cc
Output: 950 cc
21.00 1 Mengobservasi keadaan pasien Silvia

R/ Pasien tampak masih mengeluh nyeri pada


perutnya
22.00 1,2,3 Menilai keadaan umum serta respon pasien Silvia

R/ Keadaan umum sedang, respon pasien


cukup kooperatif

22.00 1,2 Melakukan pemberian injeksi obat secara Silvia


bolus

- Transamin 3x 1Amp (IV)


- Vit .K 3x 1Amp (IV)
- KSR 200mg (PO)
- Ciprofloxaxin 2 x 500 mg (PO)

23.00 1 Mengganti cairan infus yang habis : IVFD Silvia


NaCl 0,9 % 20 Tts/i

24.00 2 Melakukan pemberian injeksi obat secara Silvia


bolus

- Ceftriaxone 2x1gr (IV)

06.00 1,2 Mengukur tanda-tanda vital Silvia

R/
- TD: 100/60 mmHg
- N: 89 x/i
- S : 37,3 OC
- P : 26 x/i
06.10 3 Menghitung intake output Silvia
Intake : 300 cc
Output : 350 cc
Balance cairan :
Rabu,28 – 08 -19

Hari/Tanggal Jam No. Implementasi TTD


Dx
Rabu 08:30 1 Morning care : membantu keluarga dalam Yoli
pemenuhan kebutuhan kebersihan diri :
28 Agustus
- Mengganti pakaian
2019
- Merapikan tempat tidur

R/ Pasien bersih dan rapi


09.15 1,2,3 Mengukur tanda-tanda vital Yoli

R/
- TD : 110/75 mmHg
- N : 96 x/i
- P : 23 x/i
- S : 36,6 OC
09.20 3 Memonitor suhu, warna dan kelembaban Yoli
kulit, warna konjungtiva..

R/
- Konjungtiva anemis
- Wajah tampak pucat
- Mukosa bibir lembab dan tampak pucat
09.30 1 Memonitor pola pernapasan pasien Yoli

R/
- FP : 23 x/i
- Tidak ada tarikan dinding dada
- Pola pernapasan tidak teratur
- Memasang oksigen nasal kanul 3 L/i
- Posisi semifowler
10.00 3 Menilaian nyeri secara komprehensif Yoli
R/
- P:
Nyeri pada perutnya
- Q:
Nyeri terasa saat pasien beraktifitas dan
terasa diremas-remas
- R:
Nyeri pada perut mulai dari perut bagian
kanan bawah dan menjalar sampai
kepinggang dan punggung
- S:
Skala nyeri 6 (nyeri sedang).
- T:
Terasa + 4-5 menit.

11.00 3 Memberikan obat secara supositoria untuk Yoli


mengurangi nyeri pasien

R/ Pasien tampak tenang, pasien masih


mengeluh kesakitan di perutnya
11.15 3 Menganjurkan pasien untuk beristirahat Yoli
agar nyeri dan sesak nafas berkurang

R/ keluarga mengikuti arahan yang


diberikan

11.30 1,2,3 Menyarankan keluarga untuk menjaga Yoli


pasien 1 orang bergantian.

R/ 1 keluarga menjaga pasien bergantian

11.45 1,3 Mengukur tanda-tanda vital Yoli

R/
- TD : 86/64 mmHg
- N : 112 x/i
- P : 23 x/i
- S : 36,9 OC

12.00 2 Menganjurkan pasien untuk menghabiskan Yoli


diit yang diberikan rumah sakit dan makan
selagi makanan masih hangat

R/ Pasien mengatakan nafsu makan berkurang


dan tidak menghabiskan diitnya
12.15 2, 3 Melakukan pemberian injeksi obat secara Yoli
bolus dan pemberian obat oral
Obat injeksi Obat oral
- ceftriaxon Ksr
Ciprofloxaxin
- Transamin
- Vit K
R/ Keluarga dan klien berterima kasih

12.55 3 Menginformasikan pasien tentang Yoli


pentingnya asupan nutrisi.

R/ Keluarga mengatakan BB pasien berkurang


semenjak sakit

13.10 3 Menganjurkan makan sedikit tapi sering serta Yoli


memonitor mual dan muntah pasien.

R/ Pasien mengatakan masih terasa mual dan Yoli


tidak mau melanjutka makan.

14.00 1 Memberikan obati injeksi untuk mengurangi Yoli


mual (metroclopamide 1x1 Amp

14.30 1 Mengatur posisi yang nyaman rika

R/ untuk mengurangi sesak nafas

15.00 1,2,3 Mengganti cairan IUVD Nacl 0,9 % Rika

R/ Pasien dan keluarga berterima kasih

15.30 1 Menganjurkan pasien untuk istirahat Rika

16.00 2 Mengkaji ketidaknyamanan pasien secara Rika


verbal dan nonverbal

R/ mengetahui apa yang dirasakan pasien


16.30 Mengajarkan pasien teknik non Rika
farmakologi teknik nafas dalam untuk
mengurangi nyeri yang dirasakan klien
R/ Pasien tampak dapat melakukan teknik
nafas dalam

17.00 1,2 Melakukan pemberian injeksi obat secara Rika


bolus dan pemberian obat oral

- Transamin 3x 1Amp (IV)


- Vit .K 3x 1Amp (IV)
KSR 200mg (Po)
- R/ Keluarga dan klien berterima kasih

17.30 1 Rika
Mengukur tanda-tanda vital

R/
- TD: 100/70 mmHg
- N: 102 x/i
- S : 36,7 OC
- P : 22x/i
18.00 3 Menganjurkan pasien menghabiskan diit Rika
yang diberikan rumah sakit

R/ Keluarga mengatakan pasien hanya


menghabiskan ¼ porsi.
Menganjurkan makanselagi makanan masih
18.30 3 hangat dan makan sedikit-sedikit tapi sering Rika

R/ Pasien mendengarkan arahan perawat

19.00 1 Mengganti cairan infus yang habis dan Rika


memastikan kepatenan jalan cairan
intravena yaitu IVFD Nacl 0,9 %

19.00 1,2 Menganjurkan pasien untuk beristirahat dan Rika


membuat pasien merasa nyaman

R/ keluarga mengatakan pasien sudah tidak


gelisah.
19.00 1 Mengganti cairan infus yang habis dan Rika
memastikan kepatenan jalan cairan
intravena yaitu IVFD Nacl 0,9 %
19.00 1,2 Menganjurkan pasien untuk beristirahat dan Rika
membuat pasien merasa nyaman

R/ keluarga mengatakan pasien sudah tidak


gelisah.
20.00 3 Menghitung jumlah intake dan output pada Rika
pasien.
R/ Intake : 1100 cc
Output: 850 cc
21.00 1 Mengobservasi keadaan pasien Yolan

R/ Pasien tampak masih mengeluh nyeri pada


perutnya

22.00 1,2,3 Menilai keadaan umum serta respon pasien Meina

R/ Keadaan umum sedang, respon pasien


cukup kooperatif

22.00 1,2 Melakukan pemberian injeksi obat secara Yolan


bolus

- Transamin 3x 1Amp (IV)


- Vit .K 3x 1Amp (IV)
- KSR 200mg (PO)
- Ciprofloxaxin 2 x 500 mg (PO)

23.00 1 Mengganti cairan infus yang habis : IVFD Meina


NaCl 0,9 % 20 Tts/i

06.00 1,2 Mengukur tanda-tanda vital Yolan


R/
- TD: 110/70 mmHg
- N: 89 x/i
- S : 36,3 OC
- P : 22x/i
06.10 3 Menghitung intake output meina
Intake : 800 cc
Output : 450 cc
Balance cairan :
BAB IV
PEMBAHASAN
A. PENGKAJIAN
Pasien masuk Melalui IGD RSUP Dr M.Djamil Padang pada tanggal
22 Agustus 2019 pukul 20.11 WIB. Pasien merupakan rujukan dari rumah
sakit Jambi dengan keluahan mual muntah sejak 3 hari sebelum masuk rumah
sakit, keluar cairan berwarna kecoklatan dari kemaluan sejak 2 hari yang lalu.
Pada saat dilakukan pengakajian pada tanggal 26 agustus 2019 jam 11.00
WIB pasien mengatakan nafas terasa sesak, badan terasa lemah dan letih, serta
pegal-pegal, pasien mengatakan nafsu makan menurun serta mual dan
muntah. Pasien mengatakan nyeri di abdomen, nyeri dirasakan dimuai dari
perut bagian bawah, nyeri dirasakan setiap saat, nyeri timbul ± 4-5 menit,
skala nyeri 6.
Menurut Rubina Mukhtar (2015) menyatakan bahwa tanda dan gejala
Ca. Serviks adalah perdarahan vagina abnormal seperti pendarahan pasca
menopause, menstruasi tidak teratur, menstruasi berat, metrorhagia
menyakitkan, atau perdarahan postcoital. Keputihan abnormal adalah keluhan
utama dari sekitar 10% dari pasien; debit mungkin berair, bernanah, atau
berlendir. Gejala panggul atau nyeri perut dan saluran kencing atau rektum
terjadi dalam kasus-kasus lanjutan. Nyeri panggul mungkin hasil dari loco
penyakit regional invasif atau dari penyakit radang panggul hidup
berdampingan.
Stadium terminal pada kanker secara umum terjadi pada tahap
lanjutan, telah menyebar jauh dan merusak berbagai macam organ dari
fungsinya, bermetastase, menyebabkan kondisi lemah secara umum. Masalah
fisik yang terjadi pada penderita kanker serviks adalah adanya nyeri,
perubahan warna kulit dan konstipasi. Apabila kanker serviks sudah
mengalami progresivitas atau stadium lanjut, maka gejala-gejala yang timbul
antara lain perdarahan setelah melakukan hubungan seksual, perdarahan
spontan yang terjadi di antara periode menstruasi rutin, timbulnya keputihan
yang bercampur darah dan berbau, nyeri panggul dan gangguan atau bahkan
tidak bisa buang air kecil, nyeri ketika berhubungan seksual. (Misgiyanto
&Susilawati, 2014)
Saat pengkajian didapatkan data bahwa Ny. F menarche sejak usia
usia 12 tahun dengan siklus 28 hari dan teratur. Lama menstruasi 5 sampai 6
hari. Jumlah normal ( ganti pembalut 2-3 kali ). Setiap kali menstruasi pasien
jarang mengalami nyeri. Namun setelah menikah pasien juga masih
merasakan nyeri saat menstruasi.
Pasien mengatakan menikah umur 20 tahun dan memiliki 3 orang
anak. pasien melahirkan anaknya degan persalinan normal. Faktor yang
mempengaruhi ca seviks adalah usia pertama kali menikah, aktivitas seksual
yang tinggi dan riwayat berganti pasangan, penggunaan antiseptik, rokok,
paritas, penggunaan kontrasepsi oral dalam jangka waktu lama, dan personal
hygiene yang buruk (Diananda, 2007).
Usia menikah ≤ 20 tahun merupakan faktor yang mempengaruhi
kejadian ca serviks karena sel mukosa belum benarbenar matang untuk
melakukan hubungan seksual sehingga sangat rentan terhadap rangsangan dari
luar. Busmar (1993), mengemukakan bahwa hubungan seksual pada usia
muda akan meningkatkan risiko untuk terkena ca serviks, selain karena masih
berkembangnya sel-sel serviks kemudian dipacu rangsangan dari sel mani
yang berasal dari hubungan seksual. Sel mukosa baru benar-benar matang
umumnya setelah wanita berusia di atas 20 tahun. Apabila sel-sel mukosa
dalam rahim dipaksa untuk menerima rangsangan dari luar, hal ini berisiko
untuk membentuk lesi pra kanker yang bisa menjadi kanker ditambah dengan
zat-zat kimia yang terbawa oleh sperma. Sel mukosa serviks yang tidak siap
menerima rangsangan dari luar bisa berubah sifat menjadi kanker. Selain itu,
sel mukosa yang belum matang dapat tumbuh lebih banyak daripada sel yang
mati apabila terlalu banyak menerima rangsangan dari luar. Pertumbuhan sel
yang tidak seimbang dan abnormal ini akan berubah pula menjadi sel kanker.
Pasien mengatakan bahwa psien pernah memakai KB Pil dan suntik.
Penggunaan kontrasepsi oral selama lebih dari empat tahun akan meningkatkan
risiko ca serviks sebesar 1,5–2,5 kali. Namun, efek dari penggunaan kontrasepsi oral
terhadap ca serviks masih kontroversial karena ada beberapa penelitian yang gagal
menemukan peningkatan risiko pada perempuan pengguna atau mantan pengguna
kontrasepsi oral. Penelitian Wahyuningsih (2014), menemukan bahwa wanita yang
menggunakan pil KB selama ≥4 tahun memiliki risiko 42 kali untuk mengalami
kejadian lesi prakanker serviks dibandingkan wanita yang menggunakan pil KB.
progesteron noretindron. Kontrasepsi ini mengandung dosis estrogen dan
progesteron yang tetap. Penggunaan pil KB berisiko ca serviks karena pemakaian
estrogen yang terkandung dalam pil KB merangsang terjadinya penebalan dinding
endometrium dan dapat merangsang selsel endometrium berubah sifat menjadi sel
kanker (Wahyuningsih, 2014).

Dari semua data yang didapatkan dalam pengkajian pada kasus dengan
pasien kanker seviks sesuai dengan yang terdapat diteori. Faktor pendukung
dalam pengkajian ini, adanya kerja sama antara penulis dengan pasien dam
keluarga sehingga pengkajian dapat berjalan dengan lancer, selain itu
tersedianya buku referensi sebagai acuan penulis yang memudahkan dalam
pengkajian. Selama pengkajian tidak ditemukan adanya faktor penyulit tang
berarti dalam pengkajian. Karena pasien dan keluarga bersifat terbuka dalam
memberikan data.

B. Diganosa
Berdasarkan dari hasil pengkajian diatas , maka diagnosa yang diangkat
adalah Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi, Nyeri
akut berhubungan dengan agen cedera biologis (penekanan sel syaraf) ,
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kurang asupan makanan
1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan nyeri
Diagnosa Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan
hiperventilasi ditegakkan karena pada saat pengkajian didaptkan data
pasien mengatakan Pasien mengatakan sesak nafas, frekuensi pernafasan
26 x/I, rama pernapasan tidak teratur, terpasang O2 binasal 3 liter
permenit
Dalam Nursing Diagnosis Definition And Clasification (NANDA)
didapatkan bahwa dari diagnosis ketidatefektifan pola nafas adalah
inspirasi dan / atau ekspirasi yang tidak member ventilasi adekuat. Kanker
serviks merupakan jenis kanker ginekologis paling sering terjadi pada
wanita (Cunningham 2005). Penderita kanker serviks terutama pada
stadium lanjut mempunyai berbagai keluhan yaitu nyeri panggul,
kelelahan, perdarahan spontan, penurunan nafsu makan, sesak napas,
konstipasi, dan kesulitan berkemih (Dunleavey 2009)
2. Nyeri Kronis berhubungan dengan proses inf;amasi penyakit
(kanker servik) Diagnosis Nyeri Kronis berhubungan dengan proses
inf;amasi penyakit (kanker servik) ditegakkan karena pada saat pengkajian
pasien mengatakan Pasien mengatakan nyeri pada perut bagian bawah,
nyeri semakin bertambah saat pasien beraktifitas dan terasa diremas-
remas, nyeri yang dirasakan sedang dan dipengaruhi oleh perubahan posisi
ataupun aktivitas, nyeri pada perut mulai dari perut bagian kanan bawah
dan menjalar sampai kepinggang dan punggung, skala nyeri 6, nyeri terasa
saat berubah posisi ataupun akan tidur, nyeri terasa ± 4-5 menit, dan nyeri
dirasakan hilang timbul., Pasien tampak meringis Pasien tampak lemah,
Pasien tampak memegang perutnya, TD : 96/68 mmHg, HR : 96 x/I, RR :
26 x/I, S: 36,60C.
Dalam Nursing Diagnosis Definition And Clasification (NANDA)
didapatkan bahwa dari diagnosis nyeri akut adalah pengalaman sensori
dan emosional tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan
jaringan actual dan potensial atau yang digambarkan sebagai kerusakan (
International Assocation For The Study Of Pain ) awitan yang tiba-tiba
atau lamabat dan intesitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat
diantisipasi atau diprediksi.
Menurut International Association for the Study of Pain (IASP), nyeri
didefinisikan sebagai sensor yang tidak menyenangkan dan pengalaman
emosional yang tidak menyenangkan, yang menyertai kerusakan jaringan.
Survei dari Memorial Sloan-Kettering Cancer Center menunjukkan bahwa
nyeri pada penderita kanker biasanya merupakan akibat langsung dari
tumor (75-80% kasus) dan sisanya disebabkan baik oleh karena
pengobatan antikanker (15-19)%) maupun nyeri yang tidak berhubungan
dengan kankernya atau dengan pengobatannya (3-5%). Penderita dengan
nyeri kanker bisa mengalami nyeri akut, intermiten, atau kronik pada
berbagai stadium penyakitnya. Terbanyak adalah nyeri yang berhubungan
dengan kanker bersifat kronik.
Tiga faktor utama yang berperan pada patogenesis nyeri pada
penderita kanker ialah mekanisme nosiseptif, mekanisme neuropati, dan
proses psikologis. Istilah nyeri idiopatik pada umumnya digunakan bila
keluhan nyeri tidak dapat diterangkan secara adekuat dengan proses
patologis, diperkirakan disebabkan oleh proses organik tersembunyi atau
yang lebih jarang lagi oleh proses psikologis. Nyeri nosisepti didefinisikan
sebagai hasil dari aktivasi nosiseptif pada struktur somatik atau visceral.
Biasanya berhubungan erat dengan luasnya kerusakan jaringan dan lokasi.
Nyeri somatik nosiseptif sering dilukiskan sebagai nyeri yang tajam, sakit
berdenyut atau seperti ditekan, sedang nyeri visceral nosiseptif sulit
dilokalisir dan bisa terasa perih atau kram.
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan kurang asupan makanan
Diagnosis Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan kurang asupan makanan ditegakkan karena pada saat
pengkajian pasien mengatakan Pasien mengatakan nafsu makan menurun,
Pasien tampak mual dan muntah, BB : 38 Kg , TB : 153 Cm, Penurunan
BB ± 7 Kg selama 3 bulan terakhir, Turgor kulit jelek, Pasien tampak
tidak menghabiskan diit yang diberikan (nasi dan lauk tampak bersisa),
diit dihabiskan 30 %.
Dalam Nursing Diagnosis Definition And Clasification (NANDA)
didapatkan bahwa dari diagnosis Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh adalah suatu keadaan individu yang mengalami
kekurangan asupan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan metabolic. Dengan
batasan karakteristik yaitu nyeri absomen, penurunan BB 10 % atau lebih
dibawah berat badan ideal, kurang nafsu makan, mual dan muntah,
membrane mukosa pucat.
Seseorang yang divonis kanker akan mengalami ketakutan,
kecemasan, dan stress yang merangsang hormon katekolamin, yaitu
hormone yang dapat menurunkan nafsu makan (anoreksia). Penurunan
nafsu makan diikuti dengan penurunan berat badan drastis yang berujung
pada kejadian kakeksia, yakni ketidakseimbangan antara asupan dengan
kebutuhan zat gizi yang meningkat (Uripi, 2002). Kakeksia yang
berkepanjangan akan menyebabkan malnutrisi. Sebanyak 20–50%
penderita kanker mengalami masalah gizi, salah satunya adalah malnutrisi
(Sutandyo, 2007). Menurut Wilkes (2000) malnutrisi pada penderita
kanker selain akibat penyakit kanker itu sendiri, juga merupakan efek
samping dari terapi medis yang dijalani.
Makanan mempunyai peran penting sejak penderita kanker
didiagnosis, pelaksanaan pengobatan, sampai penyembuhan. Pada
penderita kanker, kebutuhan gizi meningkat akibat proses keganasannya.
Selain itu, pengobatan dengan pembedahan, radioterapi, dan kemoterapi
akan lebih berdaya guna jika penderita dalam keadaan status gizi baik.
Penatalaksanaan makan pada penderita kanker dapat meningkatkan berat
badan dan protein tubuh meskipun tidak dapat mengembalikan status gizi
secara sempurna. Namun, keadaan ini akan menurunkan kerentanan
penderita terhadap infeksi dan mengurangi gejala akibat efek samping
pengobatan sehingga pengobatan dapat berlangsung sampai tuntas.
C. Intervensi dan Implementasi Keperawatan
Rencana keperawatan merupakan pedoman tertulis untuk perawatan
klien. Rencana perawatan terorganisasi sehingga setiap perawat dapat dengan
cepat mengidentifikasi tindakan perawatan yang diberikan. Rencana
asuhan keperawatan yang dirumuskan dengan tepat memfasilitasi
konyuitas asuhan
perawatan dari satu perawat ke perawat lainnya. Sebagai hasil, semua perawat
mempunyai kesempatan untuk memberikan asuhan yang berkualitas tinggi
dan konsisten. Rencana asuhan keperawatan tertulis mengatur pertukaran
informasi oleh perawat dalam laporan pertukaran dinas. Rencana perawatan
tertulis juga mencakup kebutuhan klien jangka panjang (Potter, 2009).
a. Ketidakefektifan pola nafas b.d nyeri
Pada masalah keperawatan ketidakefektifan pola nafas
berhubungan dengan nyeri telah dilakukan tindakan keperawatan terdiri
dari : Memposisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi,
memonitor status pernafasan, memulai teknik relaksasi,
mempertahankan kepatenan jalan nafas ,memonitor pernapasan ,
memasang oksigen binasal kanul, Memonitor TTV.
Ketidakefektifan pola nafas terjadi akibat terganggunya
pertukaran udara sehingga menimbulkan gejala sesak nafas,
penggunaan otot-otot bantu pernapasan, dan dyspnea. Akibat lanjutnya
bisa terjadi gagal nafas karena kurangnya suplai oksigen ke otak, terjadi
hipoksia, sehingga oksigen yang di otak tidak bisa dialirkan ke seluruh
tubuh (Reeder, dkk. 2013). pelaksanaan rencana keperawatan pada
diagnosis keperawatan ini sangat penting untuk mengetahui status
pernapasan pasien, mengetahui adanya gagal nafas, adanya pernapasan
dyspnea, adanya pernapasan cuping hidung dan adanya tarikan dinding
dada. Perubahan-perubahan ini harus selalu dimonitor yang akan
mempengaruhi proses pengobatan selanjutnya,

b. Nyeri kronis berhubungan dengan inflamasi penyakit (kanker Servik)


Masalah kedua adalah nyeri kronis berhubungan dengan inflamasi
penyakit, tujuan yang ingin di capai yaitu melaporkan kenyamanan
dengan kontrol gejala, melaporkan psikologi yang membaik,
mengekspresikan kepuasan dengan lingkungan fisik, mengekspresikan
kepuasan dengan hubungan sosial, mengekspresikan kepuasan spiritual,
dan mengekspresikan keyamanan dengan kontrol nyeri. Intervensi yang
direncanakan berdasarkan NIC adalah manajemen nyeri dan
administrasi analgetik. Implementasi yang dilakukan pada pasien
adalah melakukan pengkajian nyeri secara secara komprehensif,
lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi,
mengobservasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan, menggunakan
teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri
pasien, mengurangi faktor presipitasi nyeri, melakukan penanganan
nyeri farmakologi dan nonfarmakologi, menganjurkan pasien
meningkatkan istirahat, memonitor TTV.
Penanganan nyeri secara non farmakologi yang dilakukan
pada pasien adalah teknik relaksasi nafas dalam. Menurut Huges
dkk (2015) teknik relaksasi melalui olah nafas merupakan salah satu
keadaan yang mampu merangsang tubuh untuk membentuk system
penekan nyeri, disamping itu juga dapat bermanfaat untuk meningkatkan
kemampuan fisik dan keseimbangan tubuh dan pikiran. Hal ini karena,
olah nafas dianggap dapat membuat tubuh menjadi rileks. Sehingga
berdampak pada keseimbangan tubuh dan pengontrolan tekanan darah.
Teknik relaksasi nafas dalam merupakan suatu bentuk asuhan
keperawatan yang dilakukan dengan cara nafas lambat (menahan
inspirasi secara maksimal) dan bagaimana menghembuskan nafas secara
perlahan. Selain dapat mengurangi intensitas nyeri relaksasi nafas dalam
juga dapat meningkatkan ventilasi paru dan meningkatkan oksigenasi
darah. Pada kondisi rileks tubuh akan menghentikan produksi hormone
adrenalin dan semua hormone yang diperlukan saat stress (Smeltzer,
2009)
Menurut Smeltzer and Bare (2009) teknik relaksasi nafas
dalam dapat dipercaya menurunkan intensitas nyeri melalui mekanisme
yaitu dengan merelaksasi otot-otot skelet yang megalami spasme yang
disebabkan oleh peningkatan prostaglandin sehingga terjadi
vasodilatasi pembuluh darah dan akan meningkatkan aliran darah ke
daerah yang mengalami spasme atau iskemik. Teknik relaksasi nafas
dalam mampu merangsang tubuh untuk melepaskan endogen yaitu
endorphin dan empefalin. Teknik relaksasi juga dilakukan dan tidak
memerlukan alat.
Pada Ny. F efek yang dirasakannya setelah melakukan nafas
dalam dan pemberian analgesic menjadi lebih tenang, nyeri berkurang,
dan pola tidur menjadi lebih baik. Pada hasil observasi tampak Ny. F
lebih tenang dan mampu mengenali nyeri serta mampu melakukan
teknik nafas dalam dengan baik.
3. ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d kurang
asupan nutrisi
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan penurunan asupan nutrisi, tujuan yang ingin
dicapai yaitu status nutrisi pasien baik, dan intake nutrisi yang
adekuat agar berat badan terkontrol, maka disusunlah rencana
tindakan manajemen nutrismonitor nutrisi.
Implementasi yang dilakukan adalah dengan mendampingi pasien
pada saat makan dan memberikan motivasi pada pasien untuk
menghabiskan dietnya, menganjurkan pasien untuk meningkatkan
intake oral. Pasien dianjurkan untuk menghabiskan diet secara
bertahap dan tidak sekaligus.Beberapa strategi diperlukan untuk
memenuhi kecukupan nutrisi pada pasien yang sedang menjalani
terapi sehubungan dengan efek samping yang dialami. Sebagian besar
pasien dapat mentoleransi makanan dengan porsi kecil dan sering.
Untuk dapat mencukupi kebutuhan nutrisi pasien di anjurkan
mengkonsumsi makanan/minuman padat kalori. Pada pasien yang
tidak dapat memenuhi kecukupan nutrisi, bila perlu, dapat diberikan
suplementasi diet cair (Indonesia Journal of Cancer, 2016).
Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan asupan
nutrisi pada pasien dengan anoreksia atau cepat merasa kenyang
yaitu, anjurkan pasien makan makanan yang disukai dan dapat
diterima walau tidak merasa lapar, makan lebih banyak bila ada rasa
lapar, hindari minum dekat dengan waktu makan, memotivasi diri
bahwa makan adalah bagian penting dalam program pengobatan,
porsi makan kecil dan diberikan sering (lebih dari tiga kali sehari),
dan makan dalam situasi yang nyaman.

D. Evaluasi
Menurut Wilkinson (2007), secara umum evaluasi di artikan
sebagai proses yang disengaja dan sistematik dimana penilaian dibuat
mengenai kualitas, nilai dan kelayakan dari sesuatu dengan
membandingkan pada kriteria yang diidentifikasi atau standar
sebelumnya. Dalam proses keperawatan, evaluasi adalah suatu aktivitas
yang direncanakan, terus menerus, aktivitas yang di sengaja dimana pasien,
keluarga dan perawat serta tenaga kesehatan profesional lainnya
menentukan.
Evaluasi atau penilaian dilakukan secara terus menerus dan
berkesinambungan dengan cara mengamati langsung perubahan-perubahan
yang terjadi pada pasien, pada prinsipnya tidak semua masalah dapat
teratasi dengan sempurna sesuai dengan tujuan dan kriteria hasil yang
diharapkan, adanya kerja sama yang baik antara tim kesehatan dan
keluarga dalam asuhan keperawatan yang efektif, serta tersedianya
fasilitas yang diperlukan sangat membantu dalam perawatan pasien.
a. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan nyeri. Setelah
dilakukan intervensi didapatkan pada hari rawatan ke empat ny F
tidak memakai oksigen lagi.
b. Nyeri kronis berhubungan dengan inflamasi penyakit sesuai
dengan kriteria hasil yang diharapkan yaitu tanda-tanda vital dalam
batas normal, pasien menyatakan rasa nyaman dan nyeri berkurang,
dan apabila nyeri datang dengan skala sedang pasien sudah dapat
mengatasinya dengan cara nonfarmakologi yaitu dengan teknik
nafas dalam.
c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan kurang asupan nutrisi di dapatkan hasil
evaluasi pasien belum banyak mengalami perubahan pada nafsu
makannya. Sebelumnya pasien nafsu makan menurun dan
mengalami penurunan berat badan + 7 kg, pada hari ketiga
didapatkan bahwa pasien dapat mengahabiskan 1/4porsi dietnya
(MB), dan memakan makanan yang disukainya seperti bubur
kacang hijau. keluarga pasien mengatakan pasien sudah mau
makan makanan diet yang didapat dan mual dan muntah yang
dirasakan ny F sudah mulai berkurang, Selama dirawat pasien
belum mengalami penambahan berat badan dan lingkar lengan.
Intervensi yang diterapkan tetap dilanjutkan.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Dari hasil pengkajian Ny. F (45 tahun) dengan Kanker serviks didapatkan
keluhan nyeri perut bagian bawah, nyeri pada bagian perutnya, Nyeri dirasakan
mulai dari abdomen bagian bawah sampai pinggang dan menjalar kepunggung
seperti di remas – remas dan nyeri bertambah saat melakukan aktifitas dan
merobah posisi. Sebelumnya pasien pernah di radioterapi sebanya 28 kali .
badan terasa lemah, nafsu makan berkurang, dan mengalami penurunan berat
badan + 7 Kg.
2. Diagnosa keperawatan Ny. F dengan Kanker Servik adalah:
Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan nyeri, nyeri kronik b.d inflamasi
penyakit, ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d kurang
asupan makanan ,.
3. Rencana asuhan keperawatan pada Ny. F dengan Kanker Servik adalah
manajemen jalan nafas, manajemen nyeri, dan manajemen nutrisi.
4. Implementasi yang dilakukan pada Ny. F adalah pemberian oksigen,
manajemen nyeri : nafas dalam, pemberian analgesic, pemberian antibiotic,
pengaturan posisi dan teknik nafas dalam, pendidikan kesehatan tentang
pentingnya nutrisi.
5. Hasil evaluasi asuhan keperawatan pada Ny. F dengan Kanker Servik
didapatkan hasil: Hasil evaluasi keperawatan : ketidakefetifan pola nafas b.d
nyeri sudah teratasi , nyeri kronis b.d inflamasi penyakit teratasi sebagian,
ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake nutrisi yang
tidak adekuat teratasi sebagian.
B. Saran
1. Intansi Pendidikan
Penulisan laporan kasus ini dapat memberikan referensi dan masukan tentang
asuhan keperawatan pada pasien dengan masalah ginekologi, khususnya pada
pasien dengan Kanker Servik. Serta dapat menerapkan.
2. Instansi Rumah sakit
Hasil dari penulisan laporan kasus ini dapat menambah wawasan bidan/
perawat dalam pemberian asuhan keperawatan khususnya pada pasien dengan
kanker servik.