Anda di halaman 1dari 3

Politik Hukum Ekonomi Syari’ah

Perkembangan industri perbankan dan keuangan syariah di Indonesia dalam satu


dasawarsa belakangan ini mengalami kemajuan yang sangat pesat, seperti perbankan
syariah, asuransi syariah, pasar modal syariah, reksadana syariah, obligasi syariah,
pegadaian syariah, leasing syariah, Baitul Mal wat Tamwil (BMT). Demikian pula di
sektor riil, seperti Hotel Syariah, Multi Level Marketing Syariah, dsb. Akan tetapi
meskipun perkembangan lembaga perbankan dan keuangan syariah demikian cepat,
namun dari sisi hukum atau peraturan perundang-undangan yang mengaturnya masih
jauh tertinggal. Sampai saat ini kita belum memiliki Undang-Undang tentang Sukuk dan
perbankan syariah, meskipun RUU kedua institusi tersebut telah lama disiapkan.
Demikian pula Undang-Undang Asuransi Syariah dan Lembaga Keuangan Mikro Syariah
(BMT), juga belum disentuh sama sekali oleh Undang-Undang, termasuk hukum-hukum
yang berkaitan dengan penyelesaian sengketa bisnis (hukum dagang) syariah.

Urgensi Undang-Undang
Berbagai studi tentang hubungan hukum dan pembangunan ekonomi
menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi tidak akan berhasil tanpa pembaharuan
hukum. Memperkuat institusi-institusi hukum adalah “precondition for economic
change”, “crucial to the viability of new political system”, and “ an agent of social
change”.
Agar hukum dapat berperan dalam pembangunan ekonomi nasional maka hukum
di Indonesia harus memenuhi lima kualitas, yaitu: 1. kepastian (predictability),2.
stabilitas (stability), 3. keadilan (fairness), 4. pendidikan (education), 5. kemampuan
SDM di bidang hukum (special abilities of the lawyer).

Pengertian Politik HukumMenurut Moh.Mahfud MD, politik hukum adalah legal


policy yang akan atau telah dilaksanakan secara nasional oleh Pemerintah Indonesia yang
meliputi: pertama, pembangunan hukum yang berintikan pembuatan dan pembaruan
terhadap materi-materi hukum agar dapat sesuai dengan kebutuhan; kedua, pelaksanaan
ketentuan hukum yang telah ada termasuk penegasan fungsi-fungsi lembaga dan
pembinaan para penegak hukum. Dari pengertian tersebut terlihat politik hukum
mencakup proses pembuatan dan pelaksanaan hukum yang dapat menunjukkan sifat dan
ke arah mana hukum akan dibangun dan ditegakkan.Dengan demikian, politik hukum
adalah arahan atau garis resmi yang dijadikan dasar pijak dan cara untuk membuat dan
melaksanakan hukum dalam rangka mencapai tujuan bangsa dan negara. Politik hukum
merupakan upaya menjadikan hukum sebagai proses pencapaian tujuan negara. Politik
hukum dapat dikatakan juga sebagai jawaban atas pertanyaan tentang mau diapakan
hukum itu dalam perspektif formal kenegaraan guna mencapai tujuan negara.
Pijakan utama politik hukum nasional adalah tujuan negara yang kemudian
melahirkan sistem hukum nasional yang harus dibangun dengan pilihan isi dan cara-cara
tertentu, antara lain memagari hukum dengan program legislasi nasional (Prolegnas).

Politik Hukum Ekonomi SyariahSecara yuridis, penerapan hukum ekonomi syariah di


Indonesia memiliki dasar hukum yang sangat kuat. Ketentuan Pasal 29 ayat (1) yang
dengan tegas menyatakan bahwa Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa, pada
dasarnya mengandung tiga makna, yaitu:
• <!–[if !supportLists]–> <!–[endif]–>Negara tidak boleh membuat peraturan
perundang-undangan atau melakukan kebijakan-kebijakan yang bertentangan
dengan dasar keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa;
• <!–[if !supportLists]–> <!–[endif]–>Negara berkewajiban membuat peraturan
perundang-undangan atau melakukan kebijakan-kebijakan bagi pelaksanaan
wujud rasa keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa dari segolongan pemeluk
agama yang memerlukannya;
• <!–[if !supportLists]–> <!–[endif]–>Negara berkewajiban membuat peraturan
perundang-undangan yang melarang siapa pun melakukan pelecehan terhadap
ajaran agama (paham ateisme).
Dalam pasal 29 ayat (2) UUD 1945 disebutkan bahwa negara menjamin kemerdekaan
tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat
menurut agama dan kepercayaannya itu.
• <!–[if !supportLists]–> <!–[endif]–>Kata “menjamin” sebagaimana termaktub
dalam ayat (2) pasal 29 UUD 1945 tersebut bersifat “imperatif”. Artinya negara
berkewajiban secara aktif melakukan upaya-upaya agar tiap-tiap penduduk dapat
memeluk agama dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu
Sebenarnya, melalui ketentuan pasal 29 ayat (2) UUD 1945, seluruh syariat Islam,
khususnya yang menyangkut bidang-bidang hukum muamalat, pada dasarnya dapat
dijalankan secara sah dan formal oleh kaum muslimin, baik secara langsung maupun
tidak langsung, dengan jalan diadopsi dalam hukum positif nasional Keharusan tiadanya
materi konstitusi dan peraturan perundang-undangan yang bertentangan dengan nilai-nilai
ke-Tuhanan Yang Maha Esa tersebut adalah konsekuensi diterapkannya Prinsip
Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai salah prinsip dasar penyelenggaraan negara
Perkembangan politik hukum ekonomi syariah diawali di bidang perbankan, yaitu dengan
keluarnya UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan yang kemudian diubah dengan UU
No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 7 Tahun
1992.Berdasarkan UU No. 7 Tahun 1992 itu bank syariah dipahami sebagai bank bagi
hasil. Selebihnya bank syariah harus tunduk kepada peraturan perbankan umum yang
berbasis konvensional.Dengan diberlakukannya UU No. 10 Tahun 1998 tentang
Perubahan Atas UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, landasan hukum bank syariah
menjadi cukup jelas dan kuat, baik dari segi kelembagaannya maupun landasan
operasionalnya. Dalam UU ini ‘prinsip syariah’ secara definitif terakomodasi.Eksistensi
bank syariah semakin diperkuat kuat dengan adanya UU No. 23 Tahun 1999 tentang
Bank Indonesia, yang menyatakan bahwa Bank Indonesia dapat menerapkan kebijakan
moneter berdasarkan prinsip-prinsip syariah (Pasal 1 angka 7 dan pasal 11). Kedua UU
tersebut menjadi landasan hukum bagi perbankan nasional untuk menerapkan sistem
perbankan ganda atau dual banking system. Bahkan melalui PBI No. 8/3/PBI/2006 telah
dikeluarkan kabijakan office chanellingDalam pelaksanaannya lebih lanjut, hukum dan
peraturan positif perbankan syariah semakin kuat dengan adanya berbagai Surat
Keputusan Dewan Direksi Bank Indonesia dan PBI serta ditingkatkannya Biro Perbankan
Syariah di BI menjadi Direktorat Perbankan Syariah.
Saat ini ada 2 Rancangan Undang-Undang ekonomi syariah yang akan segera dibahas
dan disahkan DPR,yaitu RUU Tentang Perbankan Syariah dan RUU Sukuk (obligasi
syariah). Dengan disahkannya UU Perbankan Syariah dan obligasi syariah, akan semakin
meneguhkan dilaksanakannya prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa dalam politik hukum
nasional, dan yang lebih penting adalah dapat mendorong pertumbuhan dan kemajuan
ekonomi syariah di Indonesia.

Program Legislasi NasionalMenurut Prof. Dr. A.Gani Abdullah, Kepala Badan


Pembinaan Hukum Nasional, politik hukum yang mengakomodir pembentukan peraturan
perundang-undangan di Indonesia termuat di dalam Program Legislasi Nasional
(Prolegnas). Prolegnas menjadi penting karena menjadi dasar dan awal bagi pembentukan
undang-undang yang hendak dibuat. UU No. 10 Tahun 2004 Tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-undagan (Pasal 15 [1]) menggariskan bahwa “Perencanaan
penyusunan Undang-Undang dilakukan dalam satu Program Legislasi Nasional.
Pengaturan selanjutnya mengenai Prolegnas tertuang di dalam Peraturan Presiden Nomor
61 Tahun 2005 tentang Penyusunan dan Pengelolaan Prolegnas.
Selain itu, untuk membangun kepastian hukum yang lebih mantap di bidang ekonomi
syariah, maka Proglenas perlu mendukung legislasi nasional ekonomi syariah dengan
mengagendakan dan memberikan prioritas perundang-undangan yang berkaitan dengan
ekonomi syariah yang berkembang, seperti asuransi syariah, lembaga keuangan mikro
syariah, pasar modal syariah yang tercakup di dalamnya obligasi dan reksadana syariah,
pembiayaan syariah, pegadaian syariah, dana pensiun syariah.

Peran IAEI Penyusunan RUU-RUU tersebut dapat diprakarsai oleh DPR maupun
pemerintah sesuai dengan prosedur dan mekanisme yang berlaku. Dalam upaya ini
peranan ahli ekonomi Islam melalui organisasi Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) sangat
dibutuhkan untuk memberikan konstribusinya dalam mewujudkan agenda legislasi
nasional ekonomi syariah tersebut.Keterlibatan IAEI dalam menyiapkan draft RUU yang
berkaitan dengan ekonomi syariah sangat urgen, mengingat IAEI adalah wadah dan
kumpulan para pakar dan praktisi ekonomi syariah di Indonesia yang sangat memahami
persoalan-persoalan hukum ekonomi syariah.
DIPOSTING OLEH Agustianto | April 3, 2008