Anda di halaman 1dari 3

Reformulasi Fiqh Muamalah di Era Modern

Oleh : Agustianto
Perkembangan sains dan teknologi modern telah menimbulkan dampak besar terhadap
kehidupan manusia, termasuk terhadap kegiatan ekonomi bisnis, seperti tata cara
perdagangan melalui e-commerce, system pembayaran dan pinjaman dengan kartu kredit,
sms banking, ekspor impor dengan media L/C, dsb.
Demikian pula perkembangan lembaga-lembaga perbankan dan keuangan mengalami
kemajuan yang sangat pesat, seperti mortgage, leasing, mutual fund, capital market,
pasar uang, sampai kepada, instrumen pengendalian moneter oleh bank sentral, exchange
rate, waqf saham, MLM, jaminan fiducia dalam pembiayaan, jaminan resi gudang, dsb.
Produk-produk perbankan syariah juga harus dikembangkan secara inovatif, agar bisa
memenuhi kebutuhan pasar. Semua ini menjadi tantangan bagi pakar syariah.
Oleh karena perubahan sosial dalam bidang muamalah terus berkembang cepat, akibat
dari akselerasi globalisasi, maka pengajaran fiqh muamalah tidak cukup secara a priori
bersandar (merujuk) pada kitab-kitab klasik semata, karena formulasi fiqh muamalah
masa lampau sudah banyak yang mengalami irrelevansi dengan konteks kekinian.
Rumusan-rumusan fiqh muamalah tersebut harus diformulasi kembali agar bisa
menjawab segala problem dan kebutuhan ekonomi keuangan modern.

Rumusan fiqh muamalah yang “lengkap”, berlimpah dan mendatail yang terdapat dalam
kitab-kitab fiqh klasik, sebagian besarnya merupakan hasil ijtihad para ulama terdahalu
dalam memecahkan dan menjawab tantangan dan problematika ekonomi di zamannya.
Tentunya formulasi fiqh mereka banyak dipengaruhi atau setidaknya diwarnai oleh situasi
dan kondisi sosial ekonomi yang ada pada zamannya. Karena itu terdapat kaedah populer
Dengan demikian, konsep-konsep dan formulasi fiqh klasik tersebut perlu diapresiasi
secara kritis sesuai konteks zaman, tempat dan situasi, kemudian dikembangkan sesuai
dengan perkembangan zaman dengan menggunakan ijtihad kreatif dalam koridor syariah.
Reformulasi fiqh muamalah untuk menjawab tantangan modernitas yang sangat
kompleks dewasa ini harus dengan memperhatikan beberapa point penting berikut .

Pertama, Menggunakan ilmu ushul fiqh, qawaidh fiqh, falsafah hukum Islam, dan ilmu
tarikh tasyri. Disiplin-disiplin ilmu ini mesti dikuasai oleh ahli ekonomi Islam, apalagi
para anggota Dewan Syariah Nasional dan dosen pascasarjana ekonomi Islam yang
membidangi materi fiqh muamalah dan ushul fiqh. Saat ini masih banyak anggota
Dewan Syariah Nasional yang tidak memiliki latar beLakang ilmu-ilmu syariah yang
memadai, sehingga keterbatasan keilmuan syariah menjadi hal yang lumrah, Hal ini
dikarenakan ada di antara mereka ada yang tidak berlatar belakang pendidikan ilmu
syariah. Menurut KH. Ma’rif Amin pada Studium general di Pascasarjana UI, rekruitmen
anggota tersebut mirip dengan perekrutan TNI di tahun 1945. Meskipun demikian, upaya
DSN dan kinerjanya harus diacungi jempol dalam mengeluarkan fatwa-fatwa. Namun, di
masa depan kita mengharapkan para anggota Dewan Syariah benar-benar fiqur yang
handal dan ahli (expert) dalam ilmu-ilmu syariah dan memahami dengan baik masalah
ekonomi keuangan kontemporer. Ilmu-ilmu syariah yang harus dimiliki Dewan Syariah
Nasional, ,meliputi ilmu ushul fiqh, qawa’id fiqh, tarikh tasyrik, falsafah tasyrik dan
maqashid syariah, penguasaan bahasa Arab, menguasai ayat-ayat dan tafsir tentang
ekonomi dan keuangan, demikian pula hadits-hadits tentang ekonomi, dan sebaiknya
menguasai pemikiran ekonomi para ilmuwan Islam klasik. Untuk menguasai ilmu ushul
fiqh saja, menurut Ibnu Taymiyah paling tidak harus dibaca dan ditelaah 100 buku/kitab
tentang ilmu ushul fiqh, termasuk muqaranah mazahib fil ushul fiqh. Selain itu, ahli
ekonomi syariah harus menguasai ratusan qaidah-qaidah fiqh ekonomi terapan. Kitab
Undang-Undang Majallah al-Ahkam al-‘Adliyah dari Khilafah Turki Usmani yang berisi
100 qaidah fiqh ekonomi sangatlah tidak memadai, karena terlalu bercorak Hanafi
centris. Padahal terdapat ratusan qaidah lain dari mazhab yang lain. Karena itu perlu
banyak membaca literature Arab tentang qaidah-qaidah fiqh ini. Ilmu tarikh tasyrik dan
falsafah tasyri’ juga mesti dimiliki para ulama ekonomi syariah. Kalau tidak, akan
menimbulkan kekakuan dalam menjawab persoalan ekonomi. Lebih jauh, ulama
sekarang harus juga belajar ilmu ekonomi mikro dan makro, akuntansi dan teknik
perbankan dan keuangan. Tanpa ilmu ekonomi makro, pemahaman tentang riba pasti
tidak tepat dan jauh dari sempurna. Untuk menghasilkan fiqur ahli seperti ini, dibutuhkan
universitas (pendidikan tinggi) mulai dari S1 sampai S3 yang secara khusus mendalami
ilmu-ilmu ekonomi syariah. Keahlian khusus tersebut lebih akan bisa menghasilkan
ulama yang lebih kredibel, jika sejak usia dini (misalnya ibtidaiyah) telah bergelut dengan
disiplin ilmu-ilmu syariah di atas. Melalui pendidikan di S1, S2 dan S3, pemahaman ilmu
ekonomi modern dan perbankan bisa seimbang dengan ilmu-ilmu syariah. Apalagi ketika
di level tsanawiyah sudah dijarkan materi ekonomi dan perbankan Islam.
Kedua, Dalam reformulasi fiqh muamalah, maslahah menjadi pedoman dan acuan, sesuai
dengan kaedah
‫متى وجدت المصلحة فثم شرع الله‬
“Di mana ada kemaslahatan di situ ada syariah
Ketiga, khazanah pemikiran muamalah klasik masih banyak yang
relevan diterapkan untuk zaman modern dewasa ini, maka produk
pemikiran fiqh tyersebut perlu dipelihara dan dipertahankan, sesuai
dengan kaedah.
‫المحافظة على القديم الصالح و الخذ بالجديد الصلح‬

Memelihara konsep lama yang mengandung kemaslahatan (masih relevan) dan


mengambil sesuatu yang baru yang lebih maslahah
Keempat, berijtihad secara kolektif (ijtihad jama’iy). Saat ini tidak zamannya lagi
berijtihad secara individu. Untuk memecahkan dan menjawab persoalan ekonomi
keuangan kontemporer, para ahli harus berijtihad secara jamaah (kolektif). Ijtihad
berjamaah (jama’iy) dilakukan oleh para ahli dari berbagai disiplin ilmu. Dalam kondisi
sekarang bentuk ijtihad ini semakin dibutuhkan, mengingat terpisahkannya disiplin
keilmuan para ahli. Ada ulama ahli syariah di satu pihak dan di pihak lain ada ahli /
praktisi ekonomi yang bukan ahli syariah. Di zaman yang serba dharurat ini, disparitas
keilmuan masih ditolerir pada lembaga MUI seperti DSN. Kedua komponen tersebut
disatukan dalam ijtihad jama’iy. Di masa depan, disparitas keilmuan tersebut semakin
mengecil dan akan dihilangkan dengan berkembangnya pendidikan Tinggi di S1 sampai
S3 jurusan ekonomi Islam. Kembali kepada ijtihad jama’iy, kedudukannya sangat kuat,
apalgi bila dibandingkan dengan ijtihad individu (fardy). Jika lembaga ijtihad kolektif
dikolektifkan lagi pada lembaga di atasnya yang lebih besar, maka kedudukannya dalam
syariah semakin kuat dan mengikat umat, sekalipun namanya fatwa. Misalnya. Organisasi
Muhammadiyah memiliki lembaga fatwa Majlis Tarjih atau Nahdhatul Ulama memiliki
Majma’ Buhuts. Masing-masing mereka berijtihad secara kolektif. Selanjutnya di
lembaga fatwa MUI mereka berijtihad secara kolektif lagi.Hal ini dikarenakan MUI
merupakan kumpulan berbagai ormas Islam yang memiliki dewan fatwa. Dengan
demikian terjadi dua kali ijtihad kolektif. Bahkan hasil ijtihad tersebut dapat
dikolektifkan lagi secara internasional, seperti Rabitah Alam al-Islamy, Organisasi
Konferensi Islam, dsb. Keputusan ijtihad secara internasional dapat disebut sebagai
ijma’. Apalagi ijtihad kolektif itu dilakukan berkali-jkali oleh semua ulama dan majma’
buhuts, tentu eksistensi ijma’nya tidak diragukan, seperti ijma’nya para ulama tentang
keharaman bunga uang. Keputusan ijtihad kolektif seperti itu memiliki kekuatan
mengikat yang tidak bisa ditawar-tawar. Keputusan itu bisa menjadi rujukan, dalil dan
sumber hukum Islam.
(Penulis adalah Sekjen Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia dan Dosen Ushul Fiqh
Ekonomi dan Fiqh Muamalah (for Islamic Banking and Finance) pada Pascasarjana UI,
Program Magister IEF S2 Universitas Trisakti, Program Magister Manajemen
Perbankan dan Keuangan Islam Universitas Paramadina dan Univ. Az-Zahro, UIN Syarif
Hidayatullah dan UHAMKA)