Anda di halaman 1dari 4

Standarisasi Kurikulum Ekonomi Islam

Perkembangan yang cepat dari industri keuangan dan perbankan syariah saat ini
membutuhkan Sumber Daya Insani (SDI) profesional dan berkulitas yang mampu
mengetahui tidak hanya tataran konseptual tetapi juga pada tataran praktis tentang
ekonomi keuangan Islam tersebut. Kebutuhan akan Sumber Daya Insani tersebut, sampai
saat ini belum diimbangi dengan supply SDI yang memadai. Pada tataran teoritis dan
konseptual, kita masih merasakan sangat kekurangan pakar yang benar-benar mendalami
sekaligus ilmu ushul fikh, fikih muamalah dan ilmu ekonomi keuangan. Figur seperti ini
benar-benar langka bukan saja bagi masyarakat Islam di Indonesia melainkan juga di
banyak negara termasuk negara lain yang perkembangan ekonomi Islamnya cukup pesat.
Kebanyakan adalah para pakar ekonomi yang fasih berbicara tentang ilmu ekonomi tetapi
awam dalam ushul fiqh atau fiqh muamalah. Sebaliknya banyak pakar yang mahir dalam
Fikih dan Usul Fiqh tetapi buta tentang Ilmu Ekonomi. Persoalan ini memang bukan
hanya persoalan akademik yang pemecahannya harus melibatkan perubahan dalam
pengembangan kurikulum dan silabi pengajaran Ekonomi Islam, akan tetapi juga
persoalan-persoalan birokrasi dan political will, termasuk di dalamnya sistem pendidikan
yang ada. Ketika menjadi persoalan akademik, maka peran perguruan tinggi menjadi
sangat penting dalam pemecahannya. Untuk menghasilkan sumber daya insani yang
berkualitas dan professional, perguruan tinggi tidak saja dituntut menyiapkan
pengembangan kurikulum dan perumusan silabi yang tepat dan memadai, tetapi
bagaimana output lulusannya memiliki basis kompetensi yang baik dan bermutu yang
dibutuhkan pasar.Dengan adanya perubahan-perubahan yang cepat dalam industri
lembaga keuangan Islam yang merupakan bagian integral dari sistem ekonomi Islam itu
sendiri, sudah seyogyanya institusi perguruan tinggi harus mempersiapkan output lulusan
yang mampu menjawab tantangan ini. Lulusan perguruan tinggi harus memiliki kualitas
yang memenuhi kualifikasi sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan industri
keuangan Islam saat ini.Untuk menjawab tantangan kemajuan ekonomi dan keuangan
Islam tersebut, beberapa perguruan tinggi telah membuka program studi ekonomi Islam.
Untuk tingkat S1, misalnya UII Yogyakarta, IAIN Medan, UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta, STAIN Cirebon, Uhamka, UNISBA, Universitas Wahid Hasyim, dll. Selain itu
itu telah banyak pula berdiri Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) seperti STIS
Yogyakarta, STEI SEBI Jakarta, STEI Tazkia Bogor, dan lain-lain. Perguruan Tinggi
tersebut telah berupaya menyediakan kurikulum ekonomi Islam untuk level program
studi sarjana S-1. Untuk tingkat Pascasarjana (S-2 dan S-3) beberapa perguruan tinggi
negeri dan swasta yang membuka Ekonomi Islam antara lain, Universitas Indonesia (UI),
Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Trisakti, UII Jogyakarta, UIN Jakarta,
IAIN Medan, UIN Bandung, UIN Pekanbaru, Universitas Islam Jakarta, Universitas
Paramadina, Universitas Asy-Syafi’iyah, IAIN Jambi, dan banyak lagi yang tidak
disebutkan di sini.
Langkah yang diambil beberapa perguruan tinggi tersebut tentu saja merupakan
hal yang sangat positif di tengah ketiadaan upaya secara sistematis dari pemerintah,
khususnya yang menangani pendidikan tinggi, baik Diknas maupun Depag Namun upaya
pengembangan prodi atau konsentrasi ekonomi Islam secara terpisah (masing-masing)
oleh seluruh Perguruan Tinggi tersebut menimbulkan perbedaan kurikulum yang
diajarkan, padahal konsentarasinya atau prodinya sama, misalnya sama-sama perbankan
syariah atau sama-sama program ekonomi islam di strata dua (S2). Jadi dalam hal ini
belum ada kurikulum standar yang menjadi acuan bersama.
Diduga keras bahwa penyusunan kurikulum ekonomi Islam oleh masing-masing
perguruan tinggi secara sendiri-sendiri dilakukan berdasarkan latar belakang akademik
para pengajarnya semata. Celakanya lagi, kurikulum tersebut kadang disusun oleh yang
bukan ahlinya. Misalnya disusun oleh ahli pendidikan atau ahli ilmu sosial atau
pemikiran Islam. Mereka sama sekali tidak mengetahui memahami ekonomi Islam.
Kalau pun disusun oleh dosen yang bergelar sarjana ekonomi, program studi yang
dibuat kurang diimbangi dengan penelitian dan analisis tentang kebutuhan kompetensi
baik dari sudut perkembangan Ilmu Ekonomi maupun kebutuhan dari intsitusi ekonomi
keuangan ekonomi Islam terhadap lulusan perguruan tinggi.
Karena problem tersebut-lah, maka IAEI (Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia)
menggelar Simposium Kurikulum Nasional pada Februari 2005 yang lalu. Bagi IAEI,
problem di atas sangat mendesak untuk diatasi. Hasil dan rekomendasi Simposium
kurikulum Ekonomi Islam yang dilaksanakan IAEI tersebut perlu kembali
disosialisasikan dan disebarkan, mengingat semakin banyaknya Perguruan Tinggi saat ini
yang telah dan akan membuka program studi ekonomi Islam, baik D3, S1, S2 maupun
S3. Dengan publikasi tulisan ini diharapkan perguruan tinggi-perguruan tinggi tersebut
dapat meujuk kurukulum ekonomi islam yang telah dibahas oleh para pakar dua tahun
yang lalu. Sehingga upaya pembukaan program studi ekonomi Islam menjadi lebih
mudah, karena tersedianya kurukulum standar yang dinamis dan berbasis kompetensi.
Dalam symposium kurikulum ekonomi Islam, tersebut IAEI melakukan kajian,
komparasi dan analisis terhadap kurikulum beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Dari
upaya ini tersusun-lah sebuah kurikulum nasional ekonomi Islam yang dapat menjadi
acuan (standar) yang mampu menjawab tantangan dan kemajuan ekonomi Islam, yaitu
kurikulum ekonomi Islam yang dinamis dan berbasis kompetensi.
Untuk merumuskan kurikulum nasional ekonomi Islam yang standar yang bisa menjadi
acuan perguruan tinggi tersebut, para pakar yang tergabung dalam IAEI baik dari
kalangan akademisi maupun praktisi terlibat aktif pada momentum simposium tersebut.
Dalam simposium itu telah dilakukan analisis komprehensif terhadap kurikulum ekonomi
Islam melalui studi data primer dan studi data sekunder. Jadi, tujuan dilaksanakannya
Simposium Kurikulum Nasional Ekonomi Islam ialah :
<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Mengkaji Kurikulum yang dimiliki beberapa
Perguran Tinggi (PT) dengan cara melakukan studi komparatif dan analisis terhadap isi
kurikulum.
<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Melakukan penyamaan persepsi tentang kurikulum
ekonomi Islam yang dibutuhkan.
<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Mencari dan membentuk kurikulum ekonomi
Islam berbasis kompetemsi yang dinamis yang menjadi acuan secara nasional.
MetodologiKajian kurikulum ini dilakukan dengan analisis yang dianggap layak untuk
memberikan gambaran adanya kebutuhan sebuah kerangka kurikulum Nasional ekonomi
Islam yang dapat menjadi acuan yang jelas bagi perguruan tinggi. Selain itu ruang
lingkup kajian juga memperhatikan setiap fakta dan kondisi yang berkembang baik dari
perguruan–perguruan tinggi yang ingin membuka konsentrasi dan program studi ekonomi
Islam, maupun pihak lain seperti industri keuangan Islam, dan para mahasiswa yang
nantinya akan terjun langsung mengambil bagian dalam perkembangan ekonomi Islam ke
depan.Penelitian awal ini menggunakan metode Metodologi Constructed Logic dengan
menggabungkan penggunaan metode studi komparatif dan analisis isi (kurikulum)
dimana ruang lingkup kajian masih sebatas analisis dan penggunaan data sekunder.
Walaupun demikian metode ini cukup layak dalam memberikan sebuah gambaran awal
akan adanya kebutuhan yang mendesak terhadap realisasi dan tujuan yang ingin dicapai.
Adapun sistematika kajiannya adalah: <!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Studi
Literatur, melalui berbagai buku bacaan dan analisis hasil lokakarya kurikulum yang
pernah dilaksanakan sebelumnya
<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Lokakarya Kurikulum Ekonomi Syariah yang
diselenggarakan Fakultas Ekonomi UI bekerjasama dengan Masyarakat Ekonomi
Syariah (MES) di FEUI Depok.
<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Seminar Program Studi Ekonomi Islam di PTAI
yang diselenggarakan STEI Tazkia bekerjasama dengan Ditperta Depag di Jakarta
<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Melakukan studi komparatif antara kurikulum
yang ada di berbagai PT melalui Lokakarya. Lokakarya ini sendiri dilakukan dengan
sistematika tahapan:
a. Mendengar pandangan ahli (akademisi dan praktisi) tentang pentingnya
standarisasi kurikulum yang dinamis dan berbasis kompetensi.
b. Sidang Komisi. Agar lebih terfokus dalam pembahasannya, sidang komisi dibagi
menjadi 2 bagian yaitu komisi A untuk membahas kurikulum Program Diploma
dan Sarjana (D-3 dan S-1), dan komisi B yang membahas kurikulum Program
Pascasarjana (S-2 dan S-3).
c. Sidang Panel. Sidang panel dilakukan untuk penyeragaman, pemahaman dan
persepsi dari hasil-hasil yang diperoleh dari sidang komisi.
Hasil Simposium dan Rekomendasi Hasil symposium kurikulum ekonomi Islam
tersebut ialah terumuskannya kurikulum ekonomi Islam yang dinamis, berbasis
kompetensi dan diharapkan menjadi standar serta rujukan bagi perguruan tinggi yang
ingin membuka program Studi Ekonomi Islam, baik D3, S1, S2, maupun S3 Simposium
kurukulum Ekonomi Islam tersebut merekomendasikan tiga poin penting :<!–[if !
supportLists]–>1. <!–[endif]–>Perlunya dukungan pemerintah dalam menindak-lanjuti
upaya IAEI dalam penyusnan kurukulum yang berbasis kompetensi dan dinamis, antara
lain dalam penyempurnaan penelitian kurukulum ini. <!–[if !supportLists]–>2. <!–
[endif]–>Kemungkinan pemberian wewenang kepada IAEI sebagai institusi yang
mengkaji kelayakan terhadap pembukaan program studi ekonomi Islam di perguruan
tinggi dalam rangka membantu pemerintah yang berwenang menangani Perguruan
Tinggi. Hal ini dikarenakan IAEI merupakan himpunan para pakar ekonomi Islam yang
dapat melahirkan pemikiran-pemikiran komprehensif tentang penyempurnaan kurikulum
ekonomi Islam. Sedangkan otoritas masih tetap di pihak Dikti DIKNAS dan Depag,
tetapi keputusan-keputusan mereka dilakukan atas saran dari IAEI.<!–[if !supportLists]–
>3. <!–[endif]–>Perlunya mengadakan seminar kurikulum lanjutan baik secara
internasional maupun nasional yang membahas secara detail kurikulum untuk D3, S1, S2
dan S3.Penutup
Saat ini hasil symposium tersebut telah dijadikan rujukan oleh banyak perguruan
Tinggi di Indonesia, baik D3, S1, S2 maupun S3. Hasilnya juga telah diserahkan ke
Departemen Agama Republik Indonesia agar menjadi pertimbangan dan masukan bagi
pemerintah. Ke depan, Departemen Diknas (DIKTI) harus juga menerima hasil
symposium symposium tersebut, mengingat DIKTI selaku pemerintah, memainkan peran
yang sangat strategis dalam pengembangan pendidikan ekonomi Islam di Indonesia.
Selanjutnya, pemerintah hendaknya kembali menggelar seminar kurkulum
ekonomi Islam yang lebih komprehensif dan mendalam agar lebih match dengan
kebutuhan pasar yang semakin berkembang pesat. Selain itu, dari seminar tersebut
diharapkan peran pemerintah (dalam hal ini DIKTI Diknas) lebih berperan dalam
mendukung studi ekonomi Islam di Perguruan Tinggi, tidak saja dalam penyediaan
kurukulum yang standar, tetapi juga kemudahan dalam pemberian izin pembukaan
program studi atau konsentrasi ekonomi Islam serta melahirkan dosen-dosen ekonomi
Islam yang berkualitas.
DIPOSTING OLEH Agustianto | April 1, 2008