Anda di halaman 1dari 3

Strategi Jitu Meningkatkan Market Share Bank Syari’ah

Sampai saat ini, market share bank syariah di Indonesia, relatif masih kecil,
belum mencapai 2 % dari total asset bank secara nasional. Menurut Siti Fajriyah, salah
seorang Deputi Gubernur Bank Indonesia, jumlah nasabah Bank syariah saat ini, baru
sekitar 3 juta orang. Padahal jumlah umat Islam potensial untuk menjadi customer bank
syariah lebih dari 100 juta orang. Dengan demikian, mayoritas umat Islam belum
berhubungan dengan bank syariah. Sampai tahun 2006, asset bank syariah baru mencapai
Rp 22 triliun.
Banyak faktor yang menyebabkan mengapa umat Islam belum berhubungan
dengan bank-syariah, antara lain Pertama, Tingkat pemahaman dan pengetahuan umat
tentang bank syariah masih sangat rendah. Masih banyak yang belum mengerti dan salah
faham tentang bank syariah dan menggangapnya sama saja dengan bank konvensional,
Bahkan sebagian ustaz yang tidak memiliki ilmu yang memadai tentang ekonomi Islam
(ilmu ekonomi makro;moneter) masih berpandangan miring tentang bank syariah.
Kedua, Belum ada gerakan bersama dalam skala besar untuk mempromosikan bank
syariah. Ketiga, Terbatasnya pakar dan SDM ekonomi syari’ah. Keempat, Peran
pemerintah masih kecil dalam mendukung dan mengembangkan ekonomi syariah.
Kelima, Peran ulama, ustaz dan dai’ masih relatif kecil. Ulama yang berjuang keras
mendakwahlan ekonomi syariah selama ini terbatas pada DSN dan kalangan akademisi
yang telah tercerahkan. Bahkan masih banyak anggota DSN yang belum menjadikan
tema khutbah dan pengajian tentang bank dan ekonomi syariah. Keenam, para akademisi
di berbagai perguruan tinggi, termasuk perguruan Tinggi Islam belum optimal. Ketujuh,
peeran ormas Islam juga belum optimal membantu dan mendukung gerakan bank syariah.
Terbukti mereka masih banyak yang berhubungan dengan bank konvensional.
Kedelapan, dan ini yang paling utama, Bank Indonesia dan bank-bank syariah
belum menemukan strategi jitu dan ampuh dalam memasarkan bank syariah.
Alhamdulillah, stretegi jitu dan sangat ampuh tersebut telah lama kita temukan
dan telah lama terbukti dengan ampuh menggiring dan menyadarkan umat untuk
menabung, mendepositokan uangnya di bank syariah serta bertransaksi perbankan dengan
bank syuariah
Selama ini pendekatan dalam pemasaran masih bersifat konvensional, sehingga
hasilnya tidak optimal. Di masa depan khususnya sejak tahun 2007 mendatang sistem dan
strategi pemasaran bank syariah harus segera diubah, agar market share meningkat drastis
dan bank-bank syariah dibanjiri (antri) oleh umat. Artinya, umat datang berduyun-duyun
ke bank-bank Syariah.
Untuk itu perlu strategi jitu memasarkan bank syariah kepada masyarakat. Pola
dan sistem pemasaran bank syariah selama ini masih belum tepat dan perlu perubahan-
perubahan mendasar. Sistem dan strategi pemasaran bank syariah selama ini belum bisa
membuahkan pertumbuhan cepat atau loncatan pertumbuhan yang memuaskan (quantum
growing) bank syariah. Karena itu tidak aneh jika market share bank syariah masih
berkisar di angka 1,5 %. Padahal bank syariah telah bertkembang pesat sejak tahun 2000.
Bahkan Bank Muamalat telah berkembang sejak tahun 1992.
Oleh karena para praktisi bukan berasal dari latar belakang ulama/da’i, maka
mereka masih banyak yang tidak memahami psikologi dakwah ekonomi syari’ah.
Bayangkan, di Indonesia misalnya jumlah mesjid mencapai 1 juta buah, lebih
banyak dari jumlah desa yang ada di Indonesia. Belum lagi mushalla dan jumlah majlis
ta’lim. Jika semua ustaz yang berkhutbah mengkampanyekan bank syariah secara haqqul
yakin, maka bisa dipastikan lebih seratus juta ummat akan hijrah ke bank syariah. Jika
setiap mesjid diisi 100 orang jamaah, maka 100 juta ummat akan menjadi lahan potensial
untuk bank syariah. Tetapi Bank Indoensia dan bank-bank syariah belum menyadari
potensi ini.
Karena itu saya berulang kali mendesak semua pihak untuk menyadarkan para
ustad dan mengisi atau membekali mereka dengan ilmu ekonomi makro dan ilmu
moneter serta keunggulan-keunggnan ekonomi dan bank syariah. Juga menjelaskan
bagaimana dampak buruk bunga bagi perekonomian dunia dan Indonesia. Meskipun ada
seminar, tulisan dan berbagai penjelasan, namun semua itu belum optimal dan belum
tajam mendoktrin umat secara rasional tentang keunggulan bank syariah dan kezaliman
bank konvensional.
Materi ceramah ulama DSN atau DPS masih banyak yang bersifat emosional
kegamaan. Artinya mengajak umat berbank syariah, karena label syariah. Yang lebih kita
utamakan adalah pendekatan rasional obyektif, bahwa bank syariah tersebut betul-betul
unggul dan menciptakan kemaslahatan umat manusia. Sebaliknya sistem riba telah
menimbulkan kerusakan ekonomi dunia dan masyarakat.
Kita telah melakukan upaya brainwashing para ulama/ustaz dan hasilnya
alhamdulilah dalam waktu bebarapa bulan jamaah dan umat datang berduyun-duyun ke
bank syariah yang menimbulkan antrian panjang di bank syariah, sehingga sebuah kantor
kas saja bisa menjadi terbaik se-Indonesia. Bukti empiris ini telah diuji di berapa kota,
seperti Medan dan Binjei. Para ulama di sebuah kota ditraining dalam bentuk workshop
lalu diminta untuk mendakwahkan keunggulan bank syariah dan dengan penuh keyakinan
yang mendalam mereka menyampaikan keharaman bunga bank konvensikonal. Jika
jamaah setiap mesjid 500 orang dan ustaz yang mendakwahkan ada 200 orang. Maka
sasaran potensial nasabah bank syariah ada 100 ribu orang. Belum lagi dihitung setiap
ustaz memiliki ribuan jamaah pengajian dikali jumlah uztaz yang ribuan juga jumlahnya.
Jika potensi ini digerakkan, maka bank-bank syariah akan tumbuh spektakuler dan dalam
waktu singkat bisa menguasai pasar perbankan nasional.
Sekarang masih ada ustaz yang meragukan keharaman bunga, karena ilmunya
masih terbatas dalam ekonomi Islam. Jangankan mengecap pendidikan S3 dan S2 di
bidang ekonomi Islam, malah sama sekali belum pernah belajar ilmu ekonomi makro,
mikro, moneter dan akuntansi. Mereka belum pernah ditraining dengan modul khusus
yang telah disiapkan untuk membrainwashing para ustaz/ulama.
Untuk itu kita harus menciptakan ustaz/dai/ulama bank syariah yang memiliki
ilmu yang memadai ntuk mendakwahkan bank syariah. Mereka tidak saja bertekad untuk
mengajak umat ke bank syariah, tetapi malah dipastikan membenci seluruh sistem bunga
sebagaimaa mereka membenci kmaksiatan yang ada di bumi ini. Hal itu bisa terwujud
setelah mereka mendapat training jitu. Mereka selama ini masih berhubungan dengan
sistem biunga karena belum memahami ilmu ekonomi monener Islam, 15 keunggulan
bank syariah, perbedaan bunga dan margoin murabaha, bahkan ada yang belum bisa
membedakan bunga dan bagi hasil keahliannya.
DIPOSTING OLEH Agustianto | April 4, 2008