Anda di halaman 1dari 3

“UU Perbankan Syariah Multiplier Effect Pemberantasan KKN”

Kehadiran UU Perbankan Syariah bukan hanya sekedar kepentingan dari praktisi


perbankan syariah saja, akan tetapi memiliki multiplier effect pada pemberantasan
Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Sebab, kata Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli
Ekonomi Islam Indonesia (IAEI), Agustianto, karena dalam penerapan sistem perbankan
syariah akan mengurangi dana-dana yang tidak sah seperti pemberian ”fee” pada proyek-
proyek dan pembangunan yang akrab diterima oleh Kepala Daerah.
Maka dari itu, kehadiran UU Perbankan Syariah harus disambut antusias oleh masyarakat
baik akademisi, pemerintah dan ulama untuk mensosialisasikannya. Nah, realisasi apa
yang diinginkan oleh Sekjen IAEI tersebut, Agus Yuliawan, pkesinteraktif.com,
mewawancarainya berikut petikannya:
Apa komentar Anda terkait akan disahkannya UU Perbankan Syariah oleh
Pemerintah dan DPR-RI besok?
Dengan kelahiran UU Perbankan Syariah yang telah dinantikan sejak 7 tahun yang lalu,
telah membawa angin segar bagi tercapainya target akselerasi perbankan syariah 5% yang
ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI). Hal ini berarti ada kepastian hukum
terselenggaranya operasional perbankan syariah di Indonesia dan hal-hal yang bersifat
spesifik seperti masalah perpajakan, dana-dana asing,pengadilan dan masalah produk
perbankan syariah. Luar biasa lagi dalam UU ini nantinya akan diturunkan lagi menjadi
peraturan pemerintah.
Apa urgensi lahirnya UU Perbankan Syariah tersebut bagi perkembangan
perbankan syariah kedepan, masalahnya tanpa UU perbankan syariah, bank
syariah di Indonesia bisa berjalan.
Aspek regulasi merupakan sesuatu yang sangat penting apalagi regulasi perbankan
syariah di Indonesia dalam lahirnya UU Perbankan Syariah ini merupakan logika
terbalik, dimana lembaga perbankannya sudah berdiri dahulu baru UU-nya menyusul.
Hal ini sangat berbeda yang terjadi di negara-negara lainnya seperti Malaysia dan
Bahrain dimana sebelum berdiri bank syariah dibuat dahulu UU-nya. Inilah uniknya
perbankan syariah di Indonesia, jika diluar negeri lebih dipengaruhi oleh kebijakan
pemerintah, bila di Indonesia lebih dipengaruhi oleh masyarakat. Saya yakin di Indonesia
lebih kuat dibandingkan dengan negara lainnya, karena dimasyarakat akar rumput
terutama para akademisi dan pegiat ekonomi syariah telah terbangun dalam
mengembangkan ekonomi syariah. Apakah itu menyangkut tentang regulasi yang spesial
atau tidak. Perlu kita ketahui tanpa regusi perbankan syariah yang spesial, sesungguhnya
bank syariah sudah berjalan meskipun dalam perjalanannya tertatih-tatih. Maka perlu
dicatat munculnya UU Perbankan Syariah saya rasa belum cukup, harus ada kebijakan
khususnya Pemerintah Daerah (Pemda).
Mengapa harus Pemda?
Karena disana ada penempatan dana, proyek-proyek itu harus diberikan peluang yang
sama bagi perbankan syariah, kalau perlu ada keterpihakan pada perbankan syariah.
Kenapa? Karena perbankan syariah menerapkan transparasi, keadilan, anti riba. Mengapa
harus Pemda, terus terang hingga saat ini banyak Kepala Daerah (Bupati dan Walikota)
jika mendapatkan dana ingin mendapatkan ”fee” tertentu secara gelap kerekeningnya.
Saya rasa itu yang tidak terjadi di syariah, karena akan mengurangi dana-dana yang tidak
sah. Jadi, sekali lagi pemberlakuan UU Perbankan Syariah memiliki multi player effect
terhadap pengurangan pembrantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Untuk itu
UU ini perlu disosialisasikan oleh pemerintah secara luas.
Munculnya UU Perbankan Syariah apakah ”kado” buat umat Islam?
Ini bukan hanya kemenangan umat Islam saja—tapi adalah hak umat Islam yang sudah
lama ditunggu-tunggu oleh umat Islam. Sesungguhnya umat Islam sudah lama
seharusnya diberikan undang-undang tersebut. Jadi, jangan semacam hadiah yang
menggembirakan umat Islam tapi adalah hak umat Islam.
Artinya perjuangan ini telah lama diidamkan oleh umat sebelum kemerdekaan juga
kan?
Iya dan itu dilakukan secara bertahap. Perlu kita pahami ini bukan kemenangan umat
Islam tapi adalah kemenangan bangsa dalam menyelamatkan ekonomi dari krisis. Masih
segar ingatan kita, ketika pemerintah mengeluarkan UU no 10 tahun 1998 tentang dual
banking system, alasan pemerintah adalah salah satu penyehatan perbankan syariah
adalah mengeluarkan kebijakan pendirian perbankan syariah. Mengapa? Karena
sumbangan dari perbankan syariah seperti obligasi dan macam-macam, karena perbankan
syariah tahan terhadap krisis ekonomi.
Dalam UU Perbankan Syariah, menurut Anda dalam UU tersebut apa yang masih
mengganjal?
Saya rasa sudah tertampung semua, seperti masalah pajak berganda, pengadilan dan lain-
lain sudah tertampung semuanya. Maka dari itu lahirnya UU Perbankan Syariah itu perlu
ditindak lanjuti dengan peraturan-peraturan yang lainya.
Dengan lahirnya, UU Perbankan Syariah apa peran IAEI?
Bagi IAEI dengan dikeluarkannya UU Perbankan Syariah ini berdampak pada
pengembangan pendidikan. Ini sangat jelas dampaknya. Dengan adanya perkembangan
perbankan syariah, IAEI mengamati selama dua tahun pertumbuhannya sangat signifikan.
Bisa dicek di seluruh Universitas Negeri Islam (UIN) telah menyelenggarakan program
pendidikan ekonomi syariah, termasuk Universitas Indonesia dan Perguruan Tinggi (PT)
lainya. Saat ini kami berjuang keras dan telah menyurati seluruh perguruan tinggi baik
swasta dan negeri untuk membuka program ekonomi syariah. Beberapa (PT) yang tidak
agamis juga kini membuka program tersebut, seperti di Sekolah Tinggi Ekonomi dan
Perbankan Nasional (STIE Peruanas). Ternyata antusiasnya sangat luar biasa.
Sebagai Pakar Ekonomi Syariah, UU Perbankan Syariah ini mampukah
mendorong pertumbuhan perbankan syariah?
Sebenarnya terkait dengan pertumbuhan perbankan syariah, munculnya UU ini tidak
begitu signifikan karena tanpa UU Perbankan Syariah, bank syariah di Indonesia bisa
berkembang. Tapi sebagai negara berlandaskan hukum semua aktivitas harus dilindungi
oleh payung UU, karena tanpa UU yang spesifik bila ada permasalahan dan kegoncangan
dalam mengoperasikan perbankan syariah, akan menjadi kendala bagi kamajuan bank
syariah. Sekali lagi munculnya UU Perbankan Syariah sebagai pilar yang terbaik bagi
pengembangan bank syariah kedepan.
Bagaimana dengan Unit Usaha Syariah (UUS) dampakan dari UU tersebut, apakah
akan lebih cepat menjadi Bank Umum Syariah (BUS)?
Saya rasa itu menjadi keharusan bagi UUS dengan UU tersebut mempercepat
kemandiriannya dan berubah menjadi BUS. Strategi itu yang harus dilakukan oleh BUS
agar ia tidak dikebiri oleh induknya.
Munculnya bank syariah ada semangat idealisme yang diemban, yaitu mengentaskan
kemiskinan? Apakah lahirnya UU Perbankan Syariah ini “tanda besar” bank syariah
untuk lebih agresif dalam mengentaskan program kemiskinan.
Itu tahapan saja. Yang jelas dengan adanya UU Perbankan Syariah perhatian bank syariah
terhadap kelompok miskin menjadi perioritas dimasa depan. Maka dari itu volunteer
sektor perlu mendapatkan perhatian seperti zakat, infaq dan shodaqoh dan pembiayaan-
pembiayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah perlu juga diperhatikan.
Apa harapan Anda dengan lahirnya UU Perbankan?
Seharusnya lahirnya UU Perbankan Syariah ini disambut oleh segenap masyarakat baik
akademisi, pemerintah dan ulama untuk bagaimana merealisasikannya dan
mensosialisasikannya. UU Perbankan Syariah ini memberikan spirit bagi bank-bank
syariah di daerah seperti Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS). (Agus.
pkesinteraktif.com)
Dimuat di situs PKESInteraktif.com pada 16 Juni 2008
DIPOSTING OLEH Agustianto | June 17, 2008