Anda di halaman 1dari 9

Laporan Praktikum Mikrobiologi Farmasi

PENENTUAN ANGKA KUMAN


Nadya Nabilla, Rizka Sri Ambarsari, Surohmi Fitriani, Yuliani, Zella Silfiyani

Fakultas Farmasi - Institut Sains dan Teknologi Nasional

Juni 2020

Abstrak

Penentuan banyaknya mikroba dalam suatu bahan (makanan, minuman, dll) dilakukan untuk
mengetahui sampai seberapa jauh bahan itu tercemar oleh mikroba. Dengan mengetahui
jumlah mikroba, maka dapat diketahui kualitas mikrobiologi dari bahan tersebut. Kandungan
mikroba pada suatu bahan juga sangat menentukan tingkat kerusakannya serta dapat
ditentukan oleh tingkat kelayakan untuk dikonsumsi.
Pendahuluan

Penentuan angka kuman ada 2, yaitu : Cara perhitungan ; langsung


berarti kita dapat mengetahui
1. Penentuan angka kuman dengan
beberapa jumlah mikroba pada
mengukur jumlah sel.
saat dilakukan perhitungan. Hasil
Umumnya untuk organisme unisel
perhitungan secara langsung
bakteri dan khamir. Ada dua cara
menunjukan jumlah mikroba yang
penentuan angka kuman dengan
masih hidup maupun yang sudah
mengukur jumlah sel, yaitu:
mati.
a. Secara langsung (Counting
• Dengan ruang hitung
Chamber)
Yaitu cara mikroskopis disebarkan diatas gelas objek
dengan menggunakan dalam luas tertentu pula
ruang/cawan hitung khusus. (misalnya: 1cm3) lalu
Contoh: Slide Pettrof Hauser preparat olesan difikasi,
Haemocytometer. diwarnai, dihitung dibawah
mikroskop.
Larutan yang akan diperiksa
dimasukan kedalam ruang Dengan mengetahui luas
hitung Haemocytometer yang bidang pandang mikroskop
telah diketahui volumenya. dan jumlah mikroorganisme
Ruang hitung tersebut telah yang ada dibidang tersebut,
terbagi menjadi 9 kotak maka jumlah mikroorganisme
besar. Satu kotak besar terdiri per milimeter sampel dapat
dari 25 kotak sedang yang diketahui.
setiap kotaknya terbagi lagi
b. Secara tidak langsung
menjadi 16 kotak kecil yang
Cara perhitungan tidak
luas maupun volumenya
langsung, hasil perhitungan
sudah ditentukan. Dengan
jumlah mikroba baru dapat
menghitung mikroorganisme
diperoleh kemudian setelah
yang berada dalam kotak-
dilakukan perlakuan terlebih
kotak tersebut dan
dahulu. Hasil perhitungan tidak
mengkalikannya dengan
langsung akan menunjukan
volumenya, maka jumlah
jumlah mikroba yang masih hidup
mikroorganisme permililiter
saja. Adapun caranya :
dapat diketahui
• Menghitung jumlah mikroba
• Metode breed dengan cara
(Total Plate Count = Angka
film organisme dikeringkan,
Lempeng Total)
difiksasi, lalu ditentukan
jumlahnya. Metode penghitungan
koloni pada plate agar (Agar
• Dengan preparat olesan
Plate Count), yaitu metode
(Smear Count)
penemuan angka kuman
Membuat preparat oles
(enumerasi) sel hidup (viable)
dari sejumlah volume tertentu
yang paling umum digunakan.
dari larutan sampel dan
Metode ini didasari oleh 2. Penentuan angka kuman dengan
hubungan teoritis bahwa satu mengukur massa sel
sel bakteri menghasilka satu Digunakan untuk semua tipe
koloni yang tumbuh dalam mikroorganisme termasuk yang punya
plate agar bersesuaian dengan filament (benang- benang panjang) seperti
jumlah bakteri asalnya. jamur yang tidak dapat dihitung dengan
Keterbatasan luar bidang mengukur jumlah sel. Penentuan angka
permukaan plate agar pada kuman dengan mengukur masaa sel dapat
petri menghasilkan prosedur memperkiraan total protoplasma seluler
plate count didahului dengan per milliliter kultur. Metode yang paling
pengenceran sampel. Jumlah umum digunakan adalah :
deret pengenceran dalam Satu
a. Metode perkiraan kimiawi
seri tergantung pada
Dengan mengukur jumlah
kekeruhan sampel awal
senyawa yang karakteristik
semakin keruh sampel
disalam sel. Misalnya : Nitrogen
semakin banyak pengenceran
seluler, protein, fosfor, DNA, dll.
yang diperlukan.
b. Metode dengan mengukur berat
• Memperkirakan jumlah kering sel (miselia)
terkecil mikroba yang ada Dengan cara larutan yang
(MPN = Most Probably diperiksa disentrifuge, kemudian
Number) endapannya dikeringkan untuk
kemudian ditimbang.
• Cara kekeruhan (turbiditas)
c. Metode dengan mengukur volume
Cara perhitungan tidak
sel
langsung dapat digunakan
Dengan mengukur volume
baik untuk bahan padat
total dari endapan sel yang telah
maupun cair. Khusus untuk
disentrifuge
bahan padat maka sebelum
dilakukan perhitungan bahan d. Metode tubidimetrik
itu perlu dilakukan pelarutan
Didasari pada fakta bahwa
atau dibuat suspensi, dengan
suatu cahay bersesuaian dengan
memperhitungkan faktor
total massanya dalam kultur
pengencerannya.
tersebut.
Syarat koloni yang ditentukan untuk setengah cawan dihitung 1 koloni
dihitung

1) Satu koloni dihitung 1 koloni Standar Perhitungan

2) Duakoloni yang bertumpuk dihitung Cawan yang dipilih adalah yang


1 koloni mengandung jumlah koloni 30-300 koloni,
beberapa koloni yang bergabung menjadi
3) Beberapa koloni yang berhubungan
satu koloni dihitung sebagai satu koloni,
dihitung 1 koloni
maupun koloni yang bersekatan. Hasil
4) Dua koloni yang berhimpitan dan yang dilaporkan terdiri dari dua angka
masih bisa dibedakan dihitung 2 yaitu angka pertama didepan koma dan
koloni angka kedua dibelakang koma. Jika angka
5) Koloni yang terlalu besar (lebih ketiga lebih besar dari 5 maka harus
besar dari setengah cawan) tidak dibulatkan satu angka lebih tinggi pada
dihitung angka kedua. Contoh : jika jumlah yang
dibutuhkan 1 ml dan tiap perlakuan
6) Koloni yang besarnya kurang dari
dilakukan 1 kali
Sampel 10-2 10-3 10-4 SPC ( Standar Plate Count)

A 234 28 1 2,2 x 104


B 700 125 10 1,3 x 103

Jika semua pengenceran menghasilkan dilaporkan sebagai kurang dari 30 koloni


angka kurang dari 30 koloni pada cawan dihasilkan faktor pengenceran tetapi
petri maka hanya koloni oengenceran jumlah sebenarnya harus dicantumkan
terendah yang dihitung. Hasilnya dalam tanda kurung.

10-2 10-3 10-4 SPC ( Standar Plate Count)

16 28 1 < 3,0 x 10-5 (1,6 x 10-5)

Jika semua pengenceran menghasilkan tertinggi yang dihitung. Hasilnya

angka lebih dari 300 koloni pada cawan dilaporkan lebih dari sebenarnya harus

petri, maka hanya koloni pada pengenceran dicantumkan dalam tanda kurung.
10-2 10-3 10-4 SPC ( Standar Plate Count)
TBUD TBUD TBUD > 3,0 x 105 (3,6 x 105)

2, tentukan rata-rata dari kedua


Jika semua pengenceran menghasilkan
pengenceran tersebut dengan
range antara 30-300 koloni pada cawan
memperhitungkan pengencerannya. Jika
petri. Perbandingan sel pengenceran
perbandingan antara hasil pengenceran
tertinggi dan terendah dari kedua
tertinggi dan terendah lebih dari 2, maka
pengenceran lebih kecil atau sama dengan
yang dilaporkan hanya hasil yang terkecil.
Sampel 10-2 10-3 10-4 SPC ( Standar Plate Count)
A 293 41 4 3,5 x 104 (Rata2 41.000/29.300 = 1,4 (<2)
B 140 32 2 1,4 x 103 (Rata2 321.000/14.000 = 2,3 (>2)

Jika digunakan dua cawan petri (duplo) duplo tidak memenuhi syarat 30-300
perpengenceran, data yang diambil harus koloni. Berikut contoh duplo dengan
dari kedua cawan tersebut, tidak boleh volume jumlah yang aditumbuhkan 1 ml.
salah satu, meskipun salah satu dari cawan
10-2 10-3 10-4 SPC ( Standar Plate Count)
175 16 4 1,9 x 104
208 17 2 Rata-rata pengenceran 10-2

10-2 10-3 10-4 SPC ( Standar Plate Count)


175 16 4 1,9 x 104
208 17 2 Rata-rata pengenceran 10-2 karena
perbandingan pengenceran 10-2 dan 10-2
= 2,4

10-2 10-3 10-4 SPC ( Standar Plate Count)


290 36 4 3,1 x 104
280 32 2 Rata-rata pengenceran 10-2
karena perbandingan pengenceran
10-2 dan 10-2
= 1,2
Bahan dan Metode
Alat dan bahan
1. Alat
2. Bahan
• Medium petri PCA
• Susu kedelai
• Pipet volume
• Pepaya
• Vortex
• Madu
• Aquadest steril
• Bumbu kacang
• Speader drigalsky
• Jamu
• Bakso
• Sirup
• Sosis

• Nacl
Metode
2. Sample Bahan Cair
1. Sampel Bahan Padat
• Timbang 1 gram sampel cair
• Timbang 1 gram sampel padat
(susu kedelai, madu, jamu, sirup)
(pepaya, bumbu kacang, bakso,
lalu masukan ke dalam aqusdest
sosis) lalu masukan kedalam
steril 9 ml (pengenceran 10-1)
aqusdest steril 9 ml (pengenceran
secara aseptis dan divortex. Lalu
10-1) secara aseptis dan divortex.
diambil 1 ml larutan masukan
Lalu diambil 1 ml larutan
dalam 9 ml aquadest steril yang
masukan dalam 9 ml aquadest
baru (pengenceran 10-2)
steril yang baru (pengenceran 10-
2 • Demikian seterusnya sampai
)
tingkat pengenceran yang
• Demikian seterusnya sampai
diinginkan.
tingkat pengenceran yang
• Dari masing-masing 3
diinginkan.
pengenceran terakhir dipipet 0,1
• Dari masing-masing 3
ml untuk ditanam secara sprade
pengenceran terakhir dipipet 0,1
plate pada medium petri PCA
ml untuk ditanam secara sprade
masing-masing duplo.
plate pada medium petri PCA
• Inkubasi selama 24 jam
masing-masing duplo.
• Hitung jumlah koloni yang
• Inkubasi selama 24 jam
tumbuh dengan satuan CFU
• Hitung jumlah koloni yang
(Coloni Forming Unit)Hitung
tumbuh dengan satuan CFU
jumlah koloni yang tumbuh
(Coloni Forming Unit)
dengan satuan CFU (Coloni
Forming Unit)
Hasil Pengamatan

Jumlah koloni dalam setiap cawan pengenceran


No Sampel 4 CFU(sel/mL)
10 10 4 10 5 10 5 10 6 10 6
1 Susu Kedelai 230 245 134 125 37 43 1,8 x 10 8
2 Pepaya 126 132 47 34 12 10 2,7 x 10 7
3 Madu 145 134 24 336 3 5 1,4 x 10 7
4 Bumbu Kacang TBUD TBUD 336 34 275 267 2,7 x 10 9
5 Jamu 123 110 24 36 11 9 2,3 x 10 7
6 Bakso 150 147 45 54 23 21 3,2 x 10 7
7 Sirup 56 47 12 18 1 2 5,2 x 10 6
8 Sosis 167 189 75 56 23 27 4,4 x 10 7

Pembahasan sama yaitu : Pertama di lakukan adalah


dengan menimbang sampel uji sebanyak 1
Pada praktikum kali adalah
gram, kemudian dilakukan pengenceran
melakukan pengujian dalam penentuan
pertama (10-1) dengan aquadest steril
angka kuman. Penentuan angka kuman
sebanyak 9 ml, secara aseptis dan
dapat di gunakan untuk mengetahui
divortex, kemudian dari hasil pengenceran
sampai seberapa jauh bahan itu tercemar
tersebut di ambil sebanyak 1 ml larutan, di
oleh mikroorganisme, yaitu dengan
lakukan pengenceran kembali (10-2)
mengetahui jumlah mikroba. Dengan
dengan penambahan 9 ml aquadest steril
mengetahui jumlah mikroba, maka dapat
yang baru. Demikian seterusnya sampai
diketahui kualitas mikrobiologi dari bahan
tingkat pengenceran yang diinginkan.
tersebut. Sampel yang digunakan pada
Kemudian dari masing-masing 3
praktikum kali ini adalah berupa bahan
pengenceran terakhir dipipet 0,1 ml untuk
padat dan bahan cair. Bahan padat yang
ditanam secara sprade plate pada medium
digunakan antara lain : pepaya, bumbu
petri PCA , lalu diinkubasi selama 24 jam,
kacang, bakso, sosis, sedangkan bahan cair
setelah itu dapat dihitung jumlah koloni
yang digunakan antara lain : susu kedelai,
yang tumbuh dengan satuan CFU (Coloni
madu, jamu, sirup.
Forming Unit)

Prosedur yang dilakukan untuk


Dari hasil yang di dapat, kemudian
sampel uji berupa bahan padatan dan
dihitung CFU dengan menggunakan range
bahan cair dilakukan dengan cara yang
jumlah koloni sebanyak 30-300 koloni.
Jumlah koloni <30 (dianggap sebagai sedangkan jumlah koloni >300 dianggap
TSUD (terlalu sedikit untuk dihitung), TBUD (terlalu banyak untuk dihitung).

Kriterian Mikrobiologi Dalam Pangan Olahan(BPOM, 2019) & (Nasional, 2009)

Berdasarkan perhitungan CFU yang telah di 10 7 , jamu 2,3 x 10 7 dan sirup 5,2 x
hitung pada sampel padat, di dapatkan 10 6 ,hasil yang paling sedikit adalah pada
angka pada pada sampel pepaya sampel sirup yaitu sebesar 5,2 x 10 6 .
adalah 2,7 x 10 7 , pada bumbu kacang 2,7 Tetapi hasil yang di peroleh pun masih
9 7
x 10 , bakso 3,2 x 10 dan sosis 4,4 x melebihi batas maksimum mikroba yang
10 7 . Dapat dilihat pada bumbu kacang di tetapkan oleh peraturan BPOM dan
menghasilkan angka yang paling besar BSN.
dibandingkan angka sampe yang lain. Dari hasil semua sampel yang telah
Hasil ini merupakan hasil yang melewati di gunakan dan telah di hitung, semua
batas maksimal yang ditetapkan oleh sampel menunjukan hasil yang
BPOM dan BSN dan dapat dikategorikan memperlihatkan bahwa semua sempel
sampel telah tercemar. melebihi batas maksimum yang telah di
Dan untuk hasil perhitungan CFU tetapkan, artinya semua sempel yang di
pada sampel cair didapatkan hasil untuk gunakan pada uji ini masuk dalam
susu kedelai 1,8 x 10 8 , madu 1,4 x kategori tercemar.
Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas x 10 6 . Tetapi semua sampel yang


dapat disimpulkan Pada sampel padat, digunakan dari sampe padat dan cair
bumbu kacang mempunya hasil yang mendapatkan hasil yang melampaui batas
tinggi yaitu bumbu kacang 2,7 x 10 9 , dari kriteria BPOM dan BSN yang berrati
sedangkan pada sampel cair sirup semua samper dikategorikan tercemar.
mempunyai angka yang rendah yaitu 5,2

Daftar Pustaka

1. BPOM. (2019). Peraturan BPOM 3. Saiful Bahri, M. (2020). Penentuan


No. 13 Tahun 2019 Tentang Batas Angka Kuman. Jakarta.
Maksimal Cemaran Mikrobiologi
4. Wulandari, A., Manalu, R. T.,
dalam Pangan Olahan. Jakarta:
Hamida, F., Wenas, D. M., Bahri,
BPOM.
S., & Syafriana, V. (2020). Buku
2. Nasional, B. S. (2009). Batas Penuntun Praktikum Mikrobiologi
Maksimum Cemaran Mikroba Farmasi. Jakarta: FAKULTAS
Dalam Pangan. Standar Nasional FARMASI INSTITUT SAINS
Indonesia. DAN TEKNOLOGI NASIONAL.